Tampilkan postingan dengan label lintas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lintas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

Kemacetan Jakarta sudah sulit terurai

Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan kemacetan di Jakarta sulit terurai. Tercatat kemacetan di ibu kota negara ini, berdasarkan data Direktorat BTSP Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, volume to capacity (VC) ratio mencapai 0,85 persen. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.

Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 kilometer per jam. Saat ini, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.

"Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjalan itu," katanya saat acara 'Diskusi mengenai ERP' di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10).

Selain Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Di luar jawa, daerah yang bakal macet parah, du Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. "Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia," jelas dia.

Kemacetan di DKI Jakarta, kata dia, semakin semrawut. Jakarta jadi satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih. "Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu," ungkapnya.

Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia menurut Kementerian Perhubungan.

1. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
2. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
3. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
4. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
6. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
7. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
9. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
11. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73

Sumber : http://www.merdeka.com/uang/kemacetan-jakarta-sudah-sulit-terurai.html

Kamis, 28 Maret 2013

Penghapusan KRL Ekonomi tak sejalan dengan program Jokowi

Rencana penghapusan KRL Ekonomi yang akan dilaksanakan oleh PT KAI pada 1 April 2013 banyak menuai protes. Hal itu dinilai karena tidak ada sosialisasi dan transparasi dari PT KAI.

Anggota Persatuan Penumpang dan Pengguna Jasa Angkutan KRL Ekonomi, Anto menuding keputusan PT KAI tidak sejalan dengan semangat Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). Semangat Jokowi yang dimaksud adalah program mengatasi kemacetan ibu kota Jakarta dengan solusi transportasi massal.

"Kalau dihapus (KRL Ekonomi), apakah siap jika nanti Jakarta diserbu dengan kendaraan pribadi?" ujar Anto di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Rabu (27/3).

Padahal, menurut Anto, pemerintah sampai saat ini masih mempunyai kewajiban untuk memberikan subsidi kereta ekonomi. Oleh karena itu, apresiasi seharusnya diberikan kepada PT KAI dalam rangka meningkatkan pelayanan kenyamanan dan keamanan.

"Tapi ini malah terkesan malah meninggalkan," katanya.

Anto menyarankan harusnya PT KAI berkoordinasi dengan pemerintah untuk melakukan upaya pembenahan dan terkait penghapusan KRL ekonomi tersebut.

"Jangan sampai adanya pencampuradukan antara kendala teknis yang menjadi penghambat seperti keterbatasan kereta dan suku cadang," katanya.

Sebelumnya, PT KAI (Persero) tidak mengoperasikan KRL Non AC atau KRL ekonomi untuk lintas Serpong dan Bekasi. PT KAI Commuter Jabodetabek beralasan penghapusan kereta ekonomi ini untuk meningkatkan pelayanan dan menghindari kecelakaan penumpang.

"Kondisi KRL yang sudah tidak layak guna sangat berbahaya dan berisiko tinggi pada keselamatan dan keamanan penumpang pada perjalanan kereta api," kata Manager Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa dalam keterangan pers tertulis kepada redaksi merdeka.com, Senin (25/3).

Untuk mengisi kekosongan jadwal perjalanan dan mengganti perjalanan KRL Non AC tersebut maka jumlah perjalanan KRL AC Commuter Line akan ditingkatkan dengan penambahan dua rangkaian KRL AC Commuter Line baru untuk lintas Bekasi dan dua rangkaian KRL AC Commuter Line baru untuk lintas Serpong.

"Banyaknya gangguan yang terjadi pada KRL Non AC tersebut juga kerap mengganggu kenyamanan perjalanan KRL secara keseluruhan dan sangat berdampak pada pelayanan KRL untuk penumpang," tambah Eva.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/penghapusan-krl-ekonomi-tak-sejalan-dengan-program-jokowi.html

Kamis, 29 November 2012

Sistem pelat genap-ganjil untuk atasi macet Jakarta

Kemacetan merupakan salah satu penyakit Jakarta yang sudah kronis. Untuk itu pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mencari cara mengatasi kemacetan di Ibu Kota.

Salah satu kebijakan yang akan diberlakukan dan telah dikaji ialah sistem genap-ganjil. Sistem tersebut sudah menjadi wacana sejak beberapa waktu lalu dan akan segera direalisasikan.

"Kita sudah lakukan rapat dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, ada dua yang dikaji untuk pembatasan kendaraan, yakni sistem gelap-terang dan genap-ganjil," ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Dwi Sigit Nurmantyas, saat dihubungi, Rabu (28/11).

Sigit mengatakan, untuk sistem gelap-terang akan sulit diterapkan karena adanya masalah beda persepsi antara petugas dengan pemilik kendaraan mengenai warna. Selain itu, banyaknya kendaraan yang sudah dimodifikasi sehingga memiliki beberapa kombinasi warna juga menjadi salah satu faktor sulitnya diterapkan sistem tersebut.

Sementara itu, tutur Sigit, sistem genap-ganjil lah yang saat ini akan diprioritaskan oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI. Sistem genap-ganjil dinilai lebih mudah dipahami dan tidak akan terdapat perbedaan persepsi.

"Kita optimis bisa memberlakukan sistem itu, kalau didukung oleh masyarakat pasti akan berjalan lancar. Nanti kami akan kaji, sosialisasi dan terakhir uji coba, rencananya bulan Januari akan kita sosialisasi," ujar Sigit.

Ketentuan dalam sistem genap-ganjil ini yakni, setiap hari pelat mobil yang digunakan harus selalu berbeda angka digitnya, misalnya hari Senin digit genap, kemudian Selasa digit ganjil, dan begitu seterusnya.

"Penentuan genap dan ganjilnya ditentukan dari dua angka paling belakang pelat. Misal, pelat mobil saya B 12 VII, berarti genap. Atau misal B 2533 SFA, nah itu berarti ganjil karena dua angka dibelakangnya 33," kata Sigit.

Untuk pengawasannya, pihak kepolisian lah yang nantinya akan mengawasi langsung. Ruas jalan yang sudah ada jalur Buswaynya pun dijadikan prioritas pemberlakuan sistem ini.

"Jadi masyarakat yang punya ganjil, saat hari genap ya naik Busway," kata Sigit.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/sistem-pelat-genap-ganjil-untuk-atasi-macet-jakarta.html

Selasa, 02 Oktober 2012

Kemacetan Lalu Lintas Harus Segera Diakhiri

PEMENANG tender proyek angkutan masal (Mass Rapid Transit – MRT) untuk koridor (jalur) selatan – utara Jakarta, sudah diumumkan baru-baru ini. Dengan demikian, maka pembangunan fisik untuk koridor itu sudah bisa segera dimulai. Sehingga, kemacetan lalu lintas di Ibukota negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, harus segera diakhiri. Mudah-mudahan tidak ada istilah mangkrak, seperti halnya proyek monorel, yang dulu diagung-agungkan Gubernur Sutiyoso dan wakilnya, Fauzi Bowo ketika itu.

Kini proyek MRT yang direncanakan sepanjang 110,8 kilometer, akan dilaksanakan pada masa jabatan gubernur baru, Joko Widodo. Yakni pembangunan koridor selatan – utara, dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan sampai Kampung Bandan, Jakarta Barat, sepanjang 23,8 kilometer (km), dilaksanakan dalam dua tahap. Sedangkan koridor timur-barat sepanjang 87 km dari Cikarang (Bekasi) sampai ke Balaraja (Tangerang), dilaksanakan kemudian. Proyek ini dibiayai dengan dana pinjaman dari luar negeri (Jepang), ditambah dana anggaran dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Rencananya seluruh proyek ini selesai tahun 2027.

Namun, sambil menunggu tahun 2027, tentu upaya pemecahan kemacetan lalu lintas di Jakarta harus dilakukan. Selain membangun infrastruktur baru untuk mengimbangi volume kendaraan, harus pula dikurangi laju pertumbuhan kendaraan pribadi. Tetapi seperti dikatakan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto, belum lama ini, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta, perlu dilakukan langkah radikal.

Salah satu usul UKP4 sebagai langkah radikal, adalah menambah jumlah angkutan umum reguler sejenis bus Mayasari Bhakti, sebanyak 40.000 unit. Operasional bus ini diharapkan mengurangi jumlah perjalanan hingga 30 persen atau setara dengan 7,5 juta pengguna kendaraan pribadi. Pengadaan bus ini dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. Investasi yang dibutuhkan Rp 600 juta per unit, atau seluruhnya sekitar Rp 25,5 triliun. Pengadaan bus direncanakan dilakukan oleh pihak swasta.

Namun, syarat lainnya, pemerintah juga harus menganggarkan perbaikan prasarana angkutan umum sebanyak Rp 19 triliun. Yakni meliputi penyediaan jalan yang memadai, halte dan perangkat lain yang dibutuhkan untuk memperlancar operasional bus. Angka anggaran ini, jauh di bawah alokasi pemerintah untuk subsidi BBM yang sudah mencapai Rp 137 triliun.

Sistem Kontrak

Sejumlah kontrak juga harus dilakukan untuk menjamin pendapatan operator (swasta), untuk pengadaan armada bus dan pelayanan yang prima bagi penumpang bus. Bus dioperasikan dengan sistem kontrak, dan harus sudah meninggalkan sistem setoran. Sehingga, kinerja operator dinilai dari ketepatan kedatangan bus di setiap halte yang dilayani di rute masing-masing.

Apabila proyek pengadaan 40.000 bus ini terlaksana, maka perjalanan bus bisa meningkat 20 kilometer per jam dalam kurun waktu dua tahun. Saat ini kecepatan perjalanan bus hanya berkisar 5-10 kilometer per jam. Namun di sisi lain, pemerintah perlu membatasi laju kepemilikan kendaran pribadi.

Selain proyek MRT dan penambahan armada bus reguler, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga telah menginstruksikan PT Adhi Karya untuk meneruskan proyek monorel yang mangkrak. Rupanya yang membangun tonggak-tonggak monorel yang terbengkalai selama ini adalah BUMN Adhi Karya yang belum dibayar oleh PT Jakarta Monorel. PT Adhi Karya pun telah mempersiapkan dana Rp 3,7 triliun untuk mewujudkan proyek monorel itu bekerja sama dengan PT Industri Kereta Api dan PT Len Industri yang akan membuat kereta dan sistem elektrifikasinya.

Memang, harapan besar digantungkan pimpinan baru Jokowi-Ahok untuk merealisasikan kelancaran lalu lintas di Jakarta. Antara lain, menyempurnakan sistem bus pengumpan bagi bus transjakarta, dan pengadaan areal parkir (park and ride) yang cukup, sehingga para pengguna kendaraan pribadi berkurang dan mudah meninggalkan kendaraan di tempat parkir untuk beralih ke bus transjakarta atau kereta rel listrik. ***

Sumber : http://www.tubasmedia.com/berita/kemacetan-lalu-lintas-harus-segera-diakhiri/

Rabu, 15 Agustus 2012

Monorel dan MRT Dibangun, Bisakah Jakarta Bebas Macet?

Jakarta - PT Adhi Karya Tbk berencana melanjutkan pembangunan Jakarta Link Transportation (monorel) yang sempat tertunda. Pembangunan moda transportasi massal ini diharapkan mampu mengurai kemacetan di Jakarta. Apakah efektif?

Pengamat transportasi dari Transportation Research Group FTSL-ITB Harun al Rasyid Lubis mengatakan, rencana pembangunan monorel yang direncanakan mulai dibangun 2013 memperoleh keraguan dapat mengatasi kemacetan Jakarta dalam waktu singkat.

"Sulit, tidak bisa dadakan," ungkap Harun kepada detikFinance, Selasa (14/8/2012).

Selain meragukan pembangunan monorel, Harun juga menyangsikan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang direncanakan akan mampu mengangkut hingga 1.500 penumpang dalam sekali angkut.

"MRT yang sedang mau dibangun 15 km atau nambah 8 km lagi ke kota tidak akan menyelesaikan kemacetan, bila tidak didukung dengan upaya-upaya lain, seperti pengendalian tata ruang, disiplin berlalu lintas dan pembatasan lalu lintas," sambungnya.

Harun menilai, langkah terdepan yang harus dilakukan mengurai kemacetan di Jakarta adalah meningkatkan kapasitas dan pelayanan commuter line (KRL).

"Harapan terdepan adalah meningkatkan kapasitas dan pelayanan KA (kereta api) Jabodetabek, itu pun tidak selesai-selesai, sudah 30 tahun karena tidak ada kepemimpinan dalam implementasi masterplan yang sudah ada," tutup Harun.

Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/08/14/145047/1991176/4/monorel-dan-mrt-dibangun-bisakah-jakarta-bebas-macet?9911012

Kamis, 26 Juli 2012

Setiap hari, 6 ribu kendaraan baru perparah macet Jakarta

Makin hari kemacetan di Jakarta semakin parah. Hal ini tidak sebanding dengan pertumbuhan ruas jalan.

Salah satu penyebab kemacetan karena dewasa ini warga semakin mudah memperoleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Berbagai perusahaan leasing pun turut membuka jalan dengan menawarkan down payment (DP) dengan angsuran yang rendah. Alhasil, masyarakat kalangan menengah ke atas semakin sulit merubah kebiasaan untuk beralih ke angkutan umum.

Kabag Pembinaan Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto pun membenarkan lalu lintas Jakarta kini semakin kacau. Tak hanya di ruas-ruas jalan protokol, jalan lingkungan pun kemacetan sudah tak bisa dihindari.

"Iya memang benar, sekarang masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum," kata Budiyanto saat dihubungi saat dihubungi wartawan, Kamis (26/7).

Budiyanto menambahkan, setiap harinya Ditlantas Polda Metro menerbitkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) hingga enam ribu lebih. Dengan jumlah STNK yang paling banyak terbit adalah untuk kendaraan roda dua.

"Seribu roda empat dan lima ribu roda dua," tambahnya.

Ditlantas Polda Metro Jaya pun akan berusaha membujuk warga untuk bisa beralih ke kendaraan umum seperti Transjakarta.

"Fungsi busway itu kan salah satunya agar masyarakat beralih untuk menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi, jadi bisa mengurangi kemacetan," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Wahyono, beberapa waktu lalu.

Salah satu langkah untuk mengurangi kemacetan di Jakarta yang tengah dikaji Ditlantas adalah terus berupaya melakukan sterilisasi jalur bus Transjakarta dan meninggikan separator 50 sentimeter agar tidak ada lagi yang menerobos jalur khusus itu.

"Jadi kan kalau separator tinggi tidak ada yang menerobos masuk jalur busway, nah kan ruas jalan di sampingnya terjadi penumpukan kendaraan pribadi. Mudah-mudahan melihat jalur pribadi yang macet sedangkan jalur busway tidak, jadi masyarakat akan beralih untuk menggunakan angkutan umum lagi," terang Wahyono.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/setiap-hari-6-ribu-kendaraan-baru-perparah-macet-jakarta.html

Senin, 23 Juli 2012

METRO 3 Pola Kemacetan Jakarta Selama Ramadan

VIVAnews - Polda Metro Jaya sudah memprediksi majunya waktu kemacetan saat bulan Ramadan. Hal itu menyesuaikan dengan waktu masuk dan pulang para pekerja. Karena itu polisi menurunkan personel di lapangan lebih cepat dari jadwal biasanya.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Dwi Sigit Nurmantyas, menjelaskan selama ini memang sudah ada pembagian tugas di lapangan. Namun, dengan adanya majunya jam macet maka pembagian tugas juga kembali diubah.

Sigit menambahkan, ada tiga shift untuk petugas berjaga dalam mengatur lalu lintas Jakarta. Seluruh personel disebar di beberapa lokasi yang dinilai rawan kemacetan.

"Tidak ada perubahan, namun beberapa lokasi yang dinilai rawan menimbulkan simpul baru kemacetan akan ditempatkan personel. Dalam melakukan penjagaan ini, kami mengharapkan masyarakat juga mengerti akan pentingnya disiplin berlalulintas," ujar Sigit kepada VIVAnews, Senin 23 Juli 2012.

Menurutnya, ada tiga pola kemacetan saat bulan Ramadan, minggu pertama masyarakat akan berbondong-bondong pulang ke rumah pada jam yang sama sehingga kepadatan akan melanda Jakarta.

Pekan kedua, biasanya warga akan melakukan acara buka bersama sehingga parkir restoran akan penuh. Akibatnya kendaraan tumpah ke jalan yang berimbas dengan menyempitnya jalan.

Minggu ketiga, tepatnya menjelang Idul Fitri, masyarakat akan menyerbu pusat-pusat perbelanjaan. "Sehingga kemacetan akan terjadi pada jalan menuju atau yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan," Sigit menjelaskan.

Sumber : http://us.metro.news.viva.co.id/news/read/337786-3-pola-kemacetan-jakarta-selama-ramadan

Selasa, 17 Juli 2012

Perubahan Jam Macet Jakarta Saat Ramadan

VIVAnews - Polisi memprediksi kemacetan di Jakarta akan berubah pada saat bulan Ramadan. Sebab kantor-kantor memberikan kelonggaran waktu masuk dan pulang kerja untuk karyawannya.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Dwi Sigit Nurmantyas, mengungkapkan biasanya kemacetan sewaktu berangkat kerja tidak terlalu signifikan. Yang berubah justru jam pulang kerja.

"Kemacetan bergeser menyesuaikan adanya perubahan jam pulang kerja selama bulan puasa," ujar Sigit kepada VIVAnews. Menurutnya, jalanan Jakarta akan sedikit berkurang kepadatannya pada saat jam makan siang.

Kepala Bagian dan Pembinaan Operasional Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Budiyanto, menambahkan kemacetan pulang kerja yang biasanya dimulai pada pukul pukul 17.00 WIB akan bergeser ke pukul 16.00 WIB. Kemacetan di Jakarta dan sekitarnya terjadi lebih awal karena warga pulang lebih cepat untuk buka puasa.

Dan kalau biasanya pukul 18.00 WIB jalan dipenuhi kendaraan. Pada bulan Ramadan ini tidak terlalu padat. "Diperkirakan macet mencair pada pukul 19.30 WIB yang sebelumnya jam 22.00 WIB baru mencair," jelas Budi.

Polda juga mengimbau pengelola pusat belanja tidak membiarkan parkir liar beroperasi. Itu supaya tidak memperparah kemacetan. (umi)

Sumber : http://us.metro.news.viva.co.id/news/read/335935-perubahan-jam-macet-jakarta-saat-ramadan

Senin, 16 Juli 2012

Hari Pertama Sekolah, Jakarta Macet Parah

VIVAnews - Arus lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya terpantau padat pagi ini, Senin 16 Juli 2012. Tingginya volume kendaraan menjadi penyebab beberapa ruas jalan utama mengalami kemacetan parah. Petugas TMC Polda Metro Jaya, Briptu Arief, mengatakan tingginya volume kendaraan pagi ini juga disebabkan para murid kembali masuk sekolah di tahun ajaran baru.

Dia menyebut, kendaraan dari arah Cengkareng menunju Grogol padat mulai dari Jembatan Gantung. Kemudian lalu lintas di Kalimalang Raya tersendat di kedua arus. "Lanjut dari Kalibata arah Pancoran padat merayap," kata Arif kepada VIVAnews.

Buncit Raya arah Mampang padat begitu juga arah Ragunan. "Sudirman ke arah Bundaran HI macet," ucap dia. Flyover Kampung Melayu arah Casablanca padat hingga Mal Ambassador. Kemacetan diperparah oleh adanya penyempitan jalan akibat pembangunan jalan layang.

Selanjutnya perempatan Gunung Sahari arah Kemayoran macet akibat imbas rambu lalu lintas. Kepadatan juga terpantau di Terminal Kampung Ramputa dari arah Pasar Rebo.

Sementara itu beberapa ruas tol menuju Ibukota juga mengalami kemacetan. Seperti disampaikan petugas Jasa Marga, Ika, untuk saat ini Tol Dalam Kota padat dari Gerbang Cillitan dan Halim.

Kendaraan yang menuju Grogol tersendat sampai keluar Kuningan. Arah sebaliknya macet dari Grogol sampai Slipi. Di ruas Tol Jagorawi padat mulai dari Taman Mini sampai Cililitan. " Macet dari Km 05-Km 00," kata Ika.

Sedangkan di Tol Wiyoto Wiyono, macet arah Tanjung Priok sampai Kebon Kanas. Lanjut selepas Kebon Nanas hingga pintu keluar tol Rawamangun macet karena ada bus Mayasari yang mogok. Kemudian untuk yang keluar Gedong padat mulai dari Ancol.

Tol Cikampek macet dari Jati Bening sampai Halim. Untuk Tol Tangerang arah Jakarta macet dari sekitaran Kembangan sampai Tomang. Ruas JORR, macet mulai Bambu Apus sampai keluar Gedong. Lalu kisaran veteran padat sampai Km 16 sebelum Pondok Ranji padat karena ada kecelakaan tunggal mobil Kijang. (ren)

Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/335703-hari-pertama-sekolah--jakarta-macet-parah

Kamis, 31 Mei 2012

Ngatasi Macet Dalam Sekejap? Mimpi Kali Ye...

INILAH.COM, Jakarta - Tak disangkal, kemacetan Jakarta terancam kian parah bila tak segera diantisipasi. Namun upaya mengatasi kemacetan tidaklah bisa instan. Banyaknya faktor penyebab yang membuat kemacetan sulit diurai.

Lepas subuh, Iskandar melaju dengan mobilnya dari rumahnya di kawasan Bekasi Timur. Langsung masuk tol Jakarta – Cikampek, lanjut ke jalan tol lingkar dalam, keluar di gerbang tol Tegal Parang, berbelok ke kawasan Kuningan, tempatnya berkantor sebagai staf senior di sebuah kantor pengacara.

Toh Iskandar mengaku tak setiap hari menggunakan mobil ke kantornya. Alasannya, kemacetan Jakarta bertambah parah. “Kalau tak mau mengemudi sendiri, mobil dititipkan di parkiran di Bulak Kapal, sambung bus kota AC. Atau sesekali dititipkan di Stasiun Bekasi, sambung KRL ke Kota dan lanjut bus TransJakarta, kalau memang ada agenda pekerjaan di Kota, Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman,” terangnya.

Kenyataan memang menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta kian hari kian bertambah lama. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas PMJ) menyebut, jika beberapa tahun lalu kepadatan lalu lintas sudah terurai sekitar pukul 21.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 23.00 WIB. Ditlantas PMJ memperkirakan, bila tidak segera diatasi maka dalam beberapa waktu mendatang, bisa saja kemacetan baru terurai lepas tengah malam.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tak menampik bila kemacetan saat ini menjadi salah satu persoalan utama di Ibukota. Namun demikian dikatakan pria berkumis yang akrab disapa Bang Foke ini, upaya untuk mengatasinya bukan tak dilakukan. Hanya saja, semua tidak bisa diselesaikan instan karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.

“Jadi kalau ada orang yang menyebut ada solusi instan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, saya kira orang itu perlu belajar lebih lanjut soal transportasi umum megapolitan,” kata Fauzi Bowo

Setuju atau tidak, untuk mengatasi kemacetan memang bukan pekerjaan gampang. Bagaimanapun Jakarta tak bisa berjalan sendiri, tanpa mengacuhkan daerah-daerah yang menjadi penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap kebijakan yang akan diberlakukan, harus memperhitungkan dukungan dari daerah-daerah penyangga tersebut, beserta yang bisa ditimbulkan.

Adalah kenyataan lain kalau sebagian warga yang beraktivitas di Jakarta, justru tinggal di Bodetabek yang menjadi daerah sub-urban. Keberadaan mereka inilah yang setiap harinya mewarnai pergerakan dan perjalanan, terutama pada pagi dan sore hari.

Data dari Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI) Commuter Survey tahun 2010, menyebut, setidaknya ada 1.105.000 perjalanan ulang-alik ke Jakarta dari Tangerang dan Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok dan Bogor, Kabupaten Depok, ataupun Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2002, sebanyak 743.000 perjalanan.

Dari survei yang sama, moda transportasi yang digunakan warga adalah 48,7% sepeda motor. Padahal sewindu sebelumnya, baru 21,2% saja warga yang menggunakan sepeda motor, sementara bus kota dan angkutan umum masih mendominasi hingga 38,3%. Pada tahun 2010 berdasar survei tersebut, pengguna bus kota dan angkutan umum anjlok jadi 13,5%.

Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar, untuk kembali memaksa masyarakat beralih menggunakan bus kota dan angkutan umum. Diperlukan konsep angkutan umum terintegrasi antara DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyangga. Hal yang sebenarnya sudah lama diupayakan, namun baru dapat diwujudkan saat ini melalui Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway.

Sebagai gubernur, Bang Foke—demikian Fauzi Bowo sering disapa-- sendiri menyadari tidak mudah menata kembali keberadaan angkutan umum di Ibukota. Meski demikian ia menegaskan, akan terus fokus pada perbaikan dan revitalisasi angkutan umum serta membuat semuanya terintegrasi, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. [mah]

Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1866045/ngatasi-macet-dalam-sekejap-mimpi-kali-ye

Selasa, 22 Mei 2012

Macet DKI, Contra Flow Berlaku Selama 1 Tahun

VIVAnews - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Jasa Marga telah melakukan uji coba contra flow di kilometer 3+050 hingga 6+800 Tol Dalam Kota dari arah Cawang selama 14 hari sejak 1 Mei 2012 lalu. Polisi menilai masyarakat antusias dengan salah satu cara mengatasi kemacetan di tol itu.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Dwi Sigit Nurmantyas, mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi, pihaknya akan memberlakukan sistem contra flow selama satu tahun.

"Hingga tol JORR W II selesai dibangun, kalau sudah jadi kan bisa mengatasi kemacetan. Dari situ akan kami evaluasi lagi apakah masih perlu dilanjutkan atau tidak," ujar Sigit kepada VIVAnews, Senin 21 Mei 2012.

Kesepakatan lain dalam pemberlakuan sistem tersebut, lanjut Sigit, yakni lawan arus tidak diberlakukan saat akhir pekan dan ketika hujan datang. Menurut dia, contra flow tidak berlaku saat hujan guna meminimalisir kecelakaan.

Selain itu, kata Sigit, jarak contra flow juga akan diperpanjang hingga 7 kilometer dari semula 5 kilometer. Tepatnya dari kilometer 1+600 hingga kilometer 8+600.

"Dengan jarak 5 kilometer saja, kepadatan kendaraan sudah berkurang 25 persen yang sebelumnya kami perkirakan 20 persen akhirnya meningkat. Mudah-mudahan dengan diperpanjang jarak hingga 7 Km bisa lebih banyak menarik kendaraan," kata Sigit. (umi)

Sumber : http://metro.vivanews.com/news/read/315292-jarak-contra-flow-diperpanjang-jadi-7-km

Rabu, 18 April 2012

Genangan Air Perparah Kemacetan di Jakarta

JAKARTA (Suara Karya): Hujan lebat disertai angin kencang kembali melanda wilayah DKI Jakarta, Selasa (17/4) sore. Genangan di jalan raya muncul di banyak lokasi akibat saluran air (drainase) yang tidak berfungsi. Pohon tumbang yang terjadi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan di Jalan Raya Joglo (tidak jauh dari menara TVRI), Jakarta Barat, membuat arus lalu lintas menjadi macet.

Lalu lintas di Tol Tomang arah Kebon Jeruk juga macet. Penyebabnya karena genangan setinggi 20 cm di Km 2. "Imbas kemacetan dari Harmoni arah Tomang dan dari arah Semanggi ke Senayan," kata Hadiman, warga Jalan Cipinang Muara I, Pondok Bambu, Jakarta Timur, yang terjebak berjam-jam di daerah tersebut.

Kemacetan terjadi sejak sore hari bertepatan dengan jam pulang kerja. Imbas kemacetan itu pun merembet ke mana-mana. Jalur ke arah Bandara Soekarno-Hatta pun mengalami kemacetan parah.

Begitu juga di sebelah timur Jakarta, kendaraan roda empat dan dua dari Bekasi menuju Jakarta, baik yang melewati jalan arteri maupun tol, bergerak tersendat. Di tol, dari Bekasi menuju Jakarta, pengendara harus menahan rasa kesal karena terjebak macet berjam-jam.

"Saya dari Bekasi Timur ke Mampang di Jakarta Selatan makan waktu dua jam. Di Bekasi tidak hujan, tapi di Jakarta ternyata hujan sehingga menimbulkan kemacetan yang berdampak sampai Bekasi," kata Ruslan, salah seorang warga Bekasi yang berkantor di Jakarta Selatan.

Pengendara yang memilih jalur luar tol, mulai dari Semanggi hingga ke arah Slipi, mendapati arus lalu lintas yang sangat padat. Pasalnya, banyak kendaraan yang melambatkan lajunya akibat genangan. "Derasnya hujan dan angin kencang membuat jarak pandang pengendara menjadi terbatas," kata petugas TMC Polda Metro Jaya, Aiptu Kasno, kemarin.

Kasno mengatakan, hujan deras turun di kawasan Depok, Bintaro, Jagakarsa, Ragunan, Cilandak, Pasar Minggu, Mampang, Pondok Indah, Ciputat, Kuningan. Di Lebak Bulus ada pohon angsana yang tumbang, mengakibatkan lalu lintas di kawasan itu tersendat.

Angin kencang mengakibatkan pohon beringin tumbang tidak jauh dari menara TVRI, di Jalan Joglo Raya, Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Tak ada korban dalam peristiwa itu. Namun, tumbangnya pohon yang melintang di jalan membuat arus lalu lintas di kawasan tersebut macet parah.

Jatmiko (45), warga RT 02/06, Kelurahan Joglo, mengungkapkan, tumbangnya pohon beringin setinggi tujuh meter hingga tercabut dari akarnya itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. "Melihat kondisi tumbangnya pohon beringin tersebut, kemungkinan karena usianya sudah tua dan banyak akarnya yang sudah lapuk. Jadi, ketika hujan disertai angin kencang, akar pohon itu tak dapat menahan beban pohon hingga tumbang dan menutup Jalan Joglo Raya," katanya.

Wakil Camat Kembangan, Edy Mulyanto, mengatakan, pihak Kelurahan Joglo dibantu petugas Satpol PP berhasil menyingkirkan pohon itu dengan peralatan seadanya, seperti gergaji kayu dan golok. Keterbatasan alat membuat proses evakuasi berjalan lambat hingga berdampak pada macetnya arus lalu lintas dari arah Joglo menuju Cileduk dan sebaliknya.

"Demi mempercepat proses evakuasi, Sudin Pertamanan Jakarta Barat bekerja ekstra keras. Besarnya pohon beringin tersebut, diperlukan gergaji mesin untuk memotongnya. Tapi yang jelas, tidak ada korban saat pohon tersebut tumbang," ucapnya menegaskan.

Sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat juga tergenang 10 cm-15 cm. Akibatmya, arus lalu lintas tersendat karena banyak kendaraan, terutama kendaraan roda dua, berusaha menghindari genangan air.

Pengamatan Suara Karya di lapangan, genangan terjadi di Jalan KH Mas Mansyur, Jalan Letjen Suprapto, Jalan Bendungan Hilir Raya, Jalan Rasuna Said, Kuningan tepatnya depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jalan Pejompongan. Arus lalu lintas di wilayah itu macet parah karena kejadian tersebut saat jam pulang kantor.

Kasatlantas Polres Jakarta Pusat, AKBP I Gusti Ketut Suarta, mengatakan, lalu lintas tersendat karena di sejumlah jalan raya terjadi genangan, namun tidak menyebabkan kemacetan panjang. "Volume kendaraan bertambah saat jam pulang kantor," katanya. (Yon Parjiyono)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=301394

Senin, 09 April 2012

LSI : publik inginkan Gubernur DKI mampu atasi 3 hal

Jakarta (ANTARA News) - Hasi survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru menunjukkan sebagian besar publik (responden) Jakarta menginginkan Gubernur DKI ke depan mampu mengatasi tiga hal penting, yaitu masalah banjir, sampah dan kemacetan lalu lintas.

Direktur Citra Komunikasi-LSI Toto Izul Fatah kepada pers di Jakarta, Minggu, mengatakan, dari 440 responden yang disurvei menunjukkan 65,3 persennya menginginkan Gubernur DKI ke depan mampu mengatasi banjir, sampah dan macet; hanya 8,9 persen responden yang menginginkan mengatasi pendidikan, kesehatan dan keamanan; sedang 15,8 persen responden tidak menjawab.

Survei Cikom-LSI tentang opini publik DKI menghadapi Pilkada DKI itu dilakukan pada 26 Maret--1 April 2012 dengan jumlah responden 440 orang, menggunakan metode "multistage random sampling" berupa wawancara, tatap muka responden memakai kuesioner dan tingkat kesalahan (margin of error) sekitar 4,8 persen.

Toto mengatakan, dalam survei itu ditemukan bahwa mayoritas pemilih Jakarta (52,6 persen responden) tidak percaya masalah banjir, sampah dan macet dapat diatasi selama lima tahun ke depan; hanya 34,7 persen responden yang percaya bahwa tigal hal tersebut dalam dapat diatasi dalam lima tahun ke depan; sedang 12,7 persen responden tidak menjawab.

Survei tersebut juga menguji dukungan publik atas enam pasangan calon gubernur yang mendaftar di KPUD DKI, yaitu pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli mendapat dukungan 49,1 persen responden; disusul Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama (14,4 persen); Hidayat Nur Wahid-Didik J Rahbini (8,3 persen); Faisal Basri-Biem Benjamin sebanyak 5,8 persen.

Kemudian pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono sebanyak 3,9 persen responden ; Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria sebanyak 1,2 persen responden; sedang 17,4 persen responden menyatakan masih belum memutuskan.

Toto menjelaskan, dari analisis survei tersebut diprediksikan pasangan Fauzi-Nara potensial akan menang satu putarna pada Pilkdada DKI Juli 2012. "Hanya butuh tambahan 1 persen saja, pasangan ini memenuhi syarat menang satu putaran (50 persen + 1)," katanya.

Menurut Toto, ada empat alasan penyebab dukungan responden yang besar terhadap pasangan Fauzi-Nachrowi, pertama, Fauzi Bowo sudah dikenal oleh pemilih Jakarta atau sebanyak 98,4 persen reponden menyatakan pernah mengenal nama Fauzi, hanya 1,4 persen responden yang tidak mengenal dan 0,2 responden tidak menjawab.

Kedua, figur Fauzi Bowo paling disukai oleh publik Jakarta terbukti sebanyak 79,1 persen responden menyatakan suka; 10,6 persen tidak suka dan 10,3 persen tidak menjawab; ketiga masyarakat merasa puas terhadap kinerja Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI atau sebesar 55,2 persen responden menyatakan puas atas kinerjanya, hanya 41,6 persen yang menyatakan kurang puas dan 3,2 persen tidak menjawab.

Keempat, survei itu menunjukkan dalam menangani masalah banjir dan sampah, penilaian publik masih berimbang, namun dalam penyelesaian kemacetan lalu lintas, publik (responden) masih kurang puas atas Gubernur Fauzi Bowo.

Kendati demikian, Fauzi Bowo masih dipercaya lebih mampu mengatasi banjir, sampah dan kemacetan lalu lintas oleh sebanyak 38,2 persen responden; disusul Joko Widodo (13,3 persen); Hidayat Nur Wahid (10,9 persen); Faisal Basri (7,4 persen); Alex Noerdin (5,6 persen); Hendardji Soepandji (4,1 persen) dan 20,5 persen tidak menjawab.

Toto memprediksikan, pasangan Fauzi-Nachrowi akan menempati urutan pertama dalam Pilkada 11 Juli 2012, dengan syarat tidak ada "blunder" dari pihak Fauzi-Nachrowi dan tidak ada langkah-langlah yang "dahsyat" dari kompetitornya.

Cikom-LSI akan mengadakan survei setelah KPUD DKI meresmikan nama calon peserta Pilkada DKI pada pertengahan Mei 2012.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/305239/lsi--publik-inginkan-gubernur-dki-mampu-atasi-3-hal