Tampilkan postingan dengan label bentuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bentuk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Qlue dan CROP: Dua Aplikasi Jakarta Smart City Saling Sinergi

Jakarta, Selular.ID – Program Jakarta Smart City tak bisa lepas dari ekosistem pengelolanya agar berjalan optimal, mulai dari masyarakat, aparat/petugas, hingga pemerintah pusat. Keberhasilan rantai sistem “kota pintar” ini sejatinya bertumpu pada dua jenis aplikasi mobile berbasis Android, yakni Qlue dan Cepat Respons Opini Publik (CROP).

Qlue merupakan aplikasi yang berperan sebagai wadah penampung segala kepentingan warga, sedangkan CROP merupakan aplikasi yang hanya diperuntukkan bagi aparat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan aparat Kepolisian dalam mengakomodir konten dari Qlue. Bangganya, kedua aplikasi tersebut besutan developer lokal, TerraLogic.

Qlue sebenarnya mengadopsi bentuk jejaring sosial, bukan hanya aplikasi satu arah. Di sini, warga dapat menyampaikan aspirasi pengaduan real time, melaporkan semua kejadian di sekitar, hingga mem-follow teman-teman layaknya jejaring sosial lain. “Paling sering sih tentang jalanan rusak, penumpukan sampah, dan macet. Sehari paling banyak pernah mencapai 200 sampai 300 laporan,” ujar M. Wahyu Firdiansyah, Marketing & Promotion TerraLogic, kepada Selular.ID.

Laporan disampaikan tidak hanya dalam bentuk tulisan tetapi juga foto. Laporan dari masyarakat kemudian dipetakan secara digital dan terintegrasi dengan dashboard smartcity.jakarta.go.id. TerraLogic sendiri merupakan partner Google dalam hal enterprise dan maps di Indonesia, sehingga perusahaan dengan mudah dapat menarik data pemetaan. “Kita tarik data dari Waze,” tambah Paulus Chandra, Account Manager TerraLogic.

Khusus CROP, aplikasi ini hanya bisa diunduh dan diinstal oleh seluruh aparat Pemprov DKI di smartphone mereka, terutama lurah dan camat. Jadi alur pelaporan di mulai dari postingan di Qlue, kemudian sampai ke Pemerintah Pusat, dan dari Pemerintah baru disalurkan ke lurah dan camat melalui CROP.

Saat ini, baik Qlue maupun CROP, baru bisa dinikmati oleh pengguna Android. Namun, TerraLogic berjanji bakal menyediakan fasilitas serupa untuk pemakai iOS dalam waktu dekat. “Masih kita develop, mungkin dua bulan ke depan sudah tersedia untuk iOS,” ucap Wahyu.

Sumber : http://selular.id/apps/2015/02/qlue-dan-crop-dua-aplikasi-jakarta-smart-city-saling-sinergi/

Senin, 28 April 2014

Awasi Kerja Pemerintah Jakarta dengan Aplikasi "Mobile"

KOMPAS.com - Lomba pembuatan aplikasi Hackathon Jakarta atau #HACKJAK resmi bergulir pada Sabtu (26/4/2014). Sebanyak 4 aplikasi pemenang utama akan mendapat hadiah berupa uang, namun perjalanan tidak berhenti disitu.

Pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Southeast Asia Technology and Transparency (SEATTI) selaku penyelenggara berharap kegiatan ini bisa membuahkan aplikasi mobile yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, terkait pemantauan data transportasi umum darat dan data anggaran DKI Jakarta tahun 2014.

"Hal ini sesuai dengan arahan pak Wakil Gubernur (Basuki Tjahaja Purnama), agar masyarakat ikut mengawasi. Citizen watch akan lebih efektif dibanding hanya kami saja," ujar Kepala UPT PIPP Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Setiaji, ketika ditemui di sela-sela kegiatan.

Kendati bentuk akhir aplikasi buatan para peserta masih belum jelas benar sebelum akhir kompetisi pada Minggu (27/4/2014) siang ini, Setiaji mengaku sudah memiliki gambaran mengenai aplikasi yang diharapkan bakal tercipta.

"Kami ingin yang bentuknya mobile agar masyarakat bisa mudah menggunakan sambil jalan. Jadi, ketika misalnya menemukan proyek yang janggal, bisa langsung dipotret dan dilaporkan. Kami ingin early warning system untuk proyek-proyek yang ada di DKI," katanya.

Setiaji juga berharap akan muncul aplikasi yang bisa mendorong masyarakat untuk lebih banyak memakai angkutan umum, misalnya dengan menyediakan informasi tentang trayek-trayek yang ada agar diketahui masyarakat.

Open Government

Data transportasi umum dan APBD DKI Jakarta 2014 yang dijadikan tema besar dalam #HACKJAK, lanjut Setiaji, diberikan pada peserta dalam bentuk application programming interface (API) agar bisa dimanfaatkan dalam aplikasi masing-masing.

Dua jenis data tersebut merupakan bagian dari 63 Open Data yang dirilis oleh pihak Pemprov DKI dalam rangka transparansi kerja pemerintah.

"Sebenarnya ada macam-macam data yang dibuka, ada soal pariwisata dan lain-lain, namun kami ambil dua dulu. Alasannya karena anggaran itu jantung dari semuanya," kata Program Manager SEATTI Shita Laksmi, menjelaskan alasan di balik pemilihan jenis Open Data untuk #HACKJAK.

SEATTI adalah sebuah inisiatif yang mendukung penggunaan teknologi untuk transparansi di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Transparansi tersebut antara lain diwujudkan lewat akses terbuka dan pemanfaatan atas Open Data.

Meski terbuka, Open Data tidak begitu saja memberikan manfaat pada masyarakat. "Tantangannya adalah memberikan kegunaan pada Open Data. Salah satu kritik atas Open Data adalah banyak yang bisa melihat tapi tak ada yang bisa memakai. Kami ingin ada keterlibatan dari warga negara," kata Shita.

Dengan merangkul para developer untuk membuat aplikasi seputar Open Data, diharapkan data-data terbuka itu kemudian akan bisa diakses dan memberi manfaat secara langsung untuk masyarakat. Bentuknya bisa bermacam-macam, lanjut Shita, seperti misalnya aplikasi anti-macet untuk pengguna jalan.

"Begitu Pemprov DKI menyatakan keterbukaan dengan Open Data, kami langsung mendekati. Mumpung Indonesia sedang disorot sebagai pimpinan Open Government Partnership (Aliansi Pemerintahan Terbuka), kita bisa sekalian tunjukkan," kata Shita.

Bantu sosialisasi

Shita menjelaskan bahwa pihaknya akan mendampingi developer dan aplikasi hingga diunggah ke internet. "Setelah itu, pengelolannya beralih ke Pemprov DKI," katanya.

Soal ini, Setiaji mengatakan bahwa pihaknya siap mensosialisasikan aplikasi dan layanan yang menjadi pemenang kompetisi #HACKJAK agar diketahui dan aktif digunakan oleh masyarakat.

"Kami punya berbagai acara seperti PRJ (Pekan Raya Jakarta) bulan Juni mendatang, bisa disosialisasikan di situ. Kemudian nanti akan kami bawa ke konferensi regional Open Government Partnership di Bali, 6-7 Mei," ujar Setiaji.

Terkait laporan dari publik yang akan masuk lewat aplikasi, Setiaji mengaku pihaknya telah memiliki mekanisme untuk mengelola feedback masyarakat. "Sudah ada tim ROP, Respons Opini Publik, bekerjasama dengan UKP4 dan beroperasi sejak 2011," jelasnya.

#HACKJAK sendiri merupakan ajang pertama di mana Pemerintah DKI Jakarta menyediakan data terbuka untuk dipakai dalam sebuah hackathon. Kompetisi yang diikuti oleh 200 orang developer ini diharapkan bisa ikut mendorong institusi-institusi pemerintah dan daerah-daerah lain di Indonesia untuk melakukan hal serupa dalam pemanfaatan Open Data.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2014/04/27/0935462/Awasi.Kerja.Pemerintah.Jakarta.dengan.Aplikasi.Mobile

Senin, 29 Juli 2013

Setelah Thamrin-Sudirman, 1.000 Bangku Taman Akan Dipasang Lagi

Liputan6.com, Jakarta : Setelah memasang 344 unit bangku taman di sepanjang jalan Sudirman- MH. Thamrin- Medan Merdeka, Dinas Pertamanan DKI Jakarta akan kembali mendatangkan 1.000 bangku taman yang akan disebar di beberapa titik ruang publik di DKI Jakarta.

"Kemarin 334 sudah dipasang, secara bertahap akan datang lagi sebanyak 1.000 bangku," ujar Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Widyo Dwiyono, di Jakarta, Minggu, (28/7/2013).

Widyo mengatakan, nantinya, bangku-bangku itu akan ditempatkan di sejumlah pedestarian jalan- jalan di Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Selatan, yang menjadi tempat keramaian dan ruang publik.

"Akan dipasang di Jalan Gajah Mada, Jalan Majapahit, Jalan Pemuda, di sekitar Senayan dan juga ruang publik lain seperti taman-taman yang menjadi ruang terbuka," jelas dia.

Apakah bentuk kursi yang akan didatangkan itu sama seperti 344 kursi yang telah terpasang, Widyo mengiyakan. Namun ia masih enggan menyampaikan seperti apa bentuk bangku itu dan di mana barang itu diproduksi.

"Kalau bentuk bangkunya agak berbeda. Inovasi baru pokoknya. Nanti baru disampaikan. Tapi pastinya sudah dibicarakan dan didiskusikan mengenai bahan dan bentuknya seperti apa nanti," ucap dia.

Widyo mengungkapkan sama seperti bangku-bangku yang telah terpasang saat ini, bangku itu didapat bukan dari APBD, tapi dari sumbangan beberapa perusahaan. Pengadaan bangku-bangku itupun disebut oleh Widyo langsung dari Jokowi dan bukan melalui dinas pertamanan.

"Itu masuknya dari Pak Gubernur langsung, bukan dari Dinas. Kalau saya hanya diperintahkan untuk menentukan di mana saja lokasi-lokasi pemasangan bangku itu," tutur dia.

Pantauan Liputan6.com, selain dipasang di pedestarian Jalan Thamrin- Sudirman dan Medan Merdeka, bangku- bangku taman juga sudah terpasang di Jalan Ridwan Rais, Kebon Sirih, dan sekitar Jalan Menteng.

Selain itu, bangku juga terpasang di sejumlah ruang publik dan taman, seperti Taman Suropati, jalan teras kering Banjir Kanal Timur (BKT) dan di lokasi pembangunan taman Waduk Pluit. (Ali)

Sumber : http://news.liputan6.com/read/651446/setelah-thamrin-sudirman-1000-bangku-taman-akan-dipasang-lagi