TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Satu acara di sebuah televisi Jepang, Senin (1/9/2014) pukul 22.20 malam cukup mengagetkan karena menyajikan gambar Joko Widodo (Jokowi) dan sudah tertulis sebagai Presiden Republik Indonesia.
Navigator acara menyatakan, Jokowi berusaha untuk membenahi transportasi Jakarta yang sangat macet saat ini dan tercatat kemacetan Jakarta nomor dua terparah di dunia setelah Bangkok. Demikian ungkap TV Tokyo kemarin.
Pada acara dengan tema Ajia Nayamimasu Dai Juutai (pengalaman macet luar biasa di Asia), sistem transportasi Jepang ternyata menjadi terkenal di sana, antara lain di Indonesia dan di Bangladesh. Di Indonesia khususnya pengguna kereta api dari Jepang ber AC yang diambil dari kereta bekas jalur Saikyo Line di Tokyo menghubungkan dengan daerah Saitama. Sedangkan di Bangladesh dengan penggunaan kartu elektronik sebagai pembayaran tiket bus buatan badan kerja sama internasional Jepang (JICA).
"Enak sekali sejuk, tak perlu lagi naik mobil, transportasi seperti ini dibutuhkan di Jakarta," ungkap para penumpang yang diwawancarai televisi tersebut berada di dalam kereta api Jabodetabek yang ber-AC, sejuk. Gerbong kereta tersebut bekas kereta Saikyo Line di Tokyo-Saitama.
"Apabila dia (Jokowi) presiden nantinya tampaknya rencana pembenahan kemacetan di Jakarta khususnya akan berjalan lancar, dan mudah-mudahan perkeretaapian berjalan dengan lancar," papar Yoshiyuki Yamaguchi, profesor Rikkyo University sebagai navigator acara tersebut bersama Shelly, artis Jepang.
Pembuatan jalur kereta api dan stasiun kereta api menurutnya adalah "Machi Zukuri" atau pembuatan sebuah kota. Ada stasiun kereta api, biasanya akan muncul lokasi hunian, toko, tempat penginapan, taman hiburan dan sebagainya.
Pihak televisi mencoba pula membandingkan siang hari pukul 13.26 antara penggunaan kereta api dan penggunaan mobil dari stasiun kereta api Manggarai Pasar Rumput menuju stasiun Juanda, Gambir Monas. Ternyata dengan kereta api hanya 13 menit dan berkendaraan mobil menghabiskan waktu 45 menit, berarti tiga kali lipat hanya dalam jarak sekitar 6 kilometer tersebut.
Akibat kemacetan luar biasa di Jakarta itu, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 870 miliar yen per tahun.
"Jumlah uang yang sangat besar dan sangat mubazir akibat kemacetan di Jakarta tersebut bukan?" tambah sang profesor itu lagi.
Seorang administrator East Japan Railways, Ishikawa pun cukup kaget ketika melihat pekerja kereta api hanya pakai sandal dan tidak pakai helmet saat pekerjaan perawatan kereta api di pusat perawatan perkeretaapian di Jakarta.
"Mungkin budaya berbeda ya. Kalau kita di Jepang sudah pasti pakai sepatu dan sepatu khusus untuk pekerjaan ini," ujarnya.
"Kami memang menargetkan penjualan kereta bekas ke Asia Tenggara karena ke negara maju biasanya mereka sudah mapan dan sudah memiliki sistem serta transportasi dengan baik," kata seorang pimpinan JE East Railways, Nishiyama.
Direktur Utama PT KCJ Tri Handoyo juga muncul di acara televisi dan berkomentar bahwa saat ini sudah 800 kereta api dari Jepang dimasukkan ke Indonesia.
"Kita sangat butuh kereta api Jepang dan masih butuh 600 kereta api lagi," paparnya.
Tahun ini sekitar 450.000 orang per hari dan tahun 2018 diperkirakan sedikitnya mencapai 1,8 juta orang berpindah menggunakan kereta api per harinya di Jabodetabek saja.
Sumber : http://www.tribunnews.com/internasional/2014/09/02/tv-jepang-soroti-kemacetan-jakarta-jokowi-diminta-benahi-perkeretaapian
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 September 2014
TV Jepang Soroti Kemacetan Jakarta, Jokowi Diminta Benahi Perkeretaapian
Label:
acara
,
bekas
,
jabodetabek
,
jakarta
,
jepang
,
jokowi
,
kemacetan
,
kereta
,
kereta api
,
navigator
,
pakai
,
perkeretaapian
,
railways
,
saikyo
,
sejuk
,
stasiun kereta api
,
televisi
,
tokyo
,
transportasi
Selasa, 27 Agustus 2013
Ide-ide Segar Siswa Seputar Sampah Jakarta
JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak usia sekolah, generasi muda bangsa yang suatu hari nanti akan menjadi pemimpin harus memiliki pola pikir yang dapat mengurangi kerusakan alam di masa mendatang. Untuk itulah, forum Aeon Asia Eco-Leaders diadakan.
Forum ini diadakan untuk menumbuhkan kepedulian kaum muda pada isu-isu lingkungan hidup. Bentuk kepedulian tersebut akan dirumuskan dalam satu solusi yang nantinya dipresentasikan kepada pemerintah setempat guna memberikan masukan dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Forum tersebut untuk kali pertama digelar di Indonesia. Kegiatan yang dimulai sejak Senin (19/8/2013) hingga Selasa (27/8/2013) ini diisi berbagai kegiatan dan melibatkan siswa-siswi SMA dari enam negara peserta, yakni Indonesia, Jepang, China, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Puncak acara digelar pada Sabtu (24/8/2013) malam di Hotel Borobudur, Jakarta.
Setelah melakukan riset singkat, mendapat masukan dari pemerintah lokal, serta mengunjungi lokasi-lokasi terkait tema, para siswa peserta akan merumuskan beberapa jalan keluar yang bisa dilakukan pemerintah setempat dalam rangka menanggulangi masalah lingkungan di kotanya. Khusus untuk forum kali ini di Jakarta, para siswa-siswi SMA dari enam negara tersebut membahas solusi penanganan dan pengelolaan sampah.
Seorang peserta dari Jakarta yang bersekolah di SMA Al-Azhar 1 Kebayoran, Khansaa' Ziz Fathima, mengungkapkan bahwa yang paling penting dipahami adalah kesadaran dari diri tentang apa itu sampah.
"Sampah itu bisa berguna, tapi bisa membahayakan. Kita cari cara agar sampah itu bisa dipergunakan," ujar Khansaa.
Pada Aeon Asia Eco Leaders ini Khansaa bergabung dalam satu kelompok bernama Kelompok B dengan Ardhana Tahariza Syarif (Indonesia), Li Yue Lin (China), Ren Jia Wei (China), Haruna Yurugi (Jepang), Yuka Shiotsuki (Jepang), Nur Aresya Natasya Binti Abdul Qahhar (Malaysia), Narikun Ketprapakorn (Thailand), dan Ngo Dang Hoan Thien (Vietnam). Khansaa dan teman-teman di kelompoknya mengusulkan cara penanggulangan sampah dengan tiga pendekatan, yaitu public awareness, pemerintahan, dan cara-cara khusus mengolah sampah.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Joni Tagor mengungkapkan dukungannya pada ide-ide segar dari siswa-siswi ini. Ia tidak mengelak bahwa masih banyak masalah harus dihadapi Pemprov DKI Jakarta seputar sampah.
"Kendala yang kita hadapi adalah kemampuan mereka (penduduk miskin DKI Jakarta) membayar, kaitan dengan mengolah sampah, memilah sampah dari awal, kemudian bagaimana mengolah lebih lanjut," ujar Joni.
Dia menekankan, sudah seharusnya tiap-tiap rumah tangga dan perusahaan yang menghasilkan sampah bertanggung jawab pada sampahnya sendiri. Dalam skala terkecil, tiap-tiap rumah tangga seharusnya memilah sampah sebelum sampai pada pengolahan sampah pusat.
Pada proses tersebut, menurut dia, warga dapat meraih keuntungan secara ekonomi dengan menjual kembali sampah yang bisa didaur ulang. Pemilahan sampah, terutama sampah yang bisa didaur ulang, bisa dimulai dari satuan terkecil kependudukan, yaitu keluarga atau rumah tangga. Dengan begitu, di masa mendatang, pemerintah setempat dapat berkonsentrasi pada pengolahan sampah yang bersifat limbah tidak bernilai ekonomis, bahkan limbah berbahaya.
Adapun forum Aeon Asia Eco-Leaders diadakan oleh Aeon 1% Club, yaitu bagian dari perusahaan asal Jepang, Aeon. Kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan Aeon. Setiap perusahaan yang merupakan bagian dari Aeon akan menyumbangkan 1 persen dari laba sebelum pajaknya untuk digunakan pada gerakan-gerakan konservasi lingkungan dan kegiatan sosial yang berfokus pada tiga pilar, yaitu kegiatan konservasi lingkungan, kebudayaan internasional, pertukaran inter-personal, dan pengembangan sumber daya manusia, serta promosi kebudayaan regional dan masyarakat.
Selain diikuti oleh siswa-siswi SMA, Aeon Asia Eco-Leaders juga memiliki program yang akan diikuti oleh mahasiswa. Program tersebut rencananya akan diadakan pada November 2013 mendatang.
Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/08/26/1747350/Ide-ide.Segar.Siswa.Seputar.Sampah.Jakarta?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Forum ini diadakan untuk menumbuhkan kepedulian kaum muda pada isu-isu lingkungan hidup. Bentuk kepedulian tersebut akan dirumuskan dalam satu solusi yang nantinya dipresentasikan kepada pemerintah setempat guna memberikan masukan dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Forum tersebut untuk kali pertama digelar di Indonesia. Kegiatan yang dimulai sejak Senin (19/8/2013) hingga Selasa (27/8/2013) ini diisi berbagai kegiatan dan melibatkan siswa-siswi SMA dari enam negara peserta, yakni Indonesia, Jepang, China, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Puncak acara digelar pada Sabtu (24/8/2013) malam di Hotel Borobudur, Jakarta.
Setelah melakukan riset singkat, mendapat masukan dari pemerintah lokal, serta mengunjungi lokasi-lokasi terkait tema, para siswa peserta akan merumuskan beberapa jalan keluar yang bisa dilakukan pemerintah setempat dalam rangka menanggulangi masalah lingkungan di kotanya. Khusus untuk forum kali ini di Jakarta, para siswa-siswi SMA dari enam negara tersebut membahas solusi penanganan dan pengelolaan sampah.
Seorang peserta dari Jakarta yang bersekolah di SMA Al-Azhar 1 Kebayoran, Khansaa' Ziz Fathima, mengungkapkan bahwa yang paling penting dipahami adalah kesadaran dari diri tentang apa itu sampah.
"Sampah itu bisa berguna, tapi bisa membahayakan. Kita cari cara agar sampah itu bisa dipergunakan," ujar Khansaa.
Pada Aeon Asia Eco Leaders ini Khansaa bergabung dalam satu kelompok bernama Kelompok B dengan Ardhana Tahariza Syarif (Indonesia), Li Yue Lin (China), Ren Jia Wei (China), Haruna Yurugi (Jepang), Yuka Shiotsuki (Jepang), Nur Aresya Natasya Binti Abdul Qahhar (Malaysia), Narikun Ketprapakorn (Thailand), dan Ngo Dang Hoan Thien (Vietnam). Khansaa dan teman-teman di kelompoknya mengusulkan cara penanggulangan sampah dengan tiga pendekatan, yaitu public awareness, pemerintahan, dan cara-cara khusus mengolah sampah.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Joni Tagor mengungkapkan dukungannya pada ide-ide segar dari siswa-siswi ini. Ia tidak mengelak bahwa masih banyak masalah harus dihadapi Pemprov DKI Jakarta seputar sampah.
"Kendala yang kita hadapi adalah kemampuan mereka (penduduk miskin DKI Jakarta) membayar, kaitan dengan mengolah sampah, memilah sampah dari awal, kemudian bagaimana mengolah lebih lanjut," ujar Joni.
Dia menekankan, sudah seharusnya tiap-tiap rumah tangga dan perusahaan yang menghasilkan sampah bertanggung jawab pada sampahnya sendiri. Dalam skala terkecil, tiap-tiap rumah tangga seharusnya memilah sampah sebelum sampai pada pengolahan sampah pusat.
Pada proses tersebut, menurut dia, warga dapat meraih keuntungan secara ekonomi dengan menjual kembali sampah yang bisa didaur ulang. Pemilahan sampah, terutama sampah yang bisa didaur ulang, bisa dimulai dari satuan terkecil kependudukan, yaitu keluarga atau rumah tangga. Dengan begitu, di masa mendatang, pemerintah setempat dapat berkonsentrasi pada pengolahan sampah yang bersifat limbah tidak bernilai ekonomis, bahkan limbah berbahaya.
Adapun forum Aeon Asia Eco-Leaders diadakan oleh Aeon 1% Club, yaitu bagian dari perusahaan asal Jepang, Aeon. Kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan Aeon. Setiap perusahaan yang merupakan bagian dari Aeon akan menyumbangkan 1 persen dari laba sebelum pajaknya untuk digunakan pada gerakan-gerakan konservasi lingkungan dan kegiatan sosial yang berfokus pada tiga pilar, yaitu kegiatan konservasi lingkungan, kebudayaan internasional, pertukaran inter-personal, dan pengembangan sumber daya manusia, serta promosi kebudayaan regional dan masyarakat.
Selain diikuti oleh siswa-siswi SMA, Aeon Asia Eco-Leaders juga memiliki program yang akan diikuti oleh mahasiswa. Program tersebut rencananya akan diadakan pada November 2013 mendatang.
Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2013/08/26/1747350/Ide-ide.Segar.Siswa.Seputar.Sampah.Jakarta?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Label:
aeon
,
asia
,
china
,
didaur
,
eco-leaders
,
forum
,
jakarta
,
jepang
,
joni
,
kegiatan
,
khansaa
,
lingkungan
,
lingkungan hidup
,
rumah tangga
,
sampah
,
siswa-siswi
,
sma
,
terkecil
,
tiap-tiap
Senin, 17 Juni 2013
Jepang & AS Lebih Banyak Mobil Pribadi, Tapi Kenapa Tidak Macet?
Liputan6.com, Jakarta : Meningkatnya jumlah mobil di Indonesia terutama Jakarta dituding sebagai penyebab utama macet parahnya di jalanan. Benarkah kemacetan terjadi karena jumlah mobil di Indonesia sudah kebanyakan?
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro membantah bila meningkatnya jumlah kendaraan roda empat sebagai penyebab kemacetan di Jakarta.
"Jangan kontradiktifkan jumlah mobil dengan kemacetan di Jakarta, tapi harusnya antara kemacetan dengan trafik. Karena jumlah mobil itu per kapita," tegas dia di Jakarta, seperti ditulis Sabtu (15/6/2013).
Jumlah mobil di Indonesia, lanjut Bambang, masih terbilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang apabila dihitung dari jumlah mobil per kapita.
"AS dan Jepang itu jumlah mobil per kapitanya jauh lebih besar dari Indonesia. Tapi kenapa dua negara itu tidak semacet Indonesia? Ya karena transportasi publiknya bagus. Pakai mobil terus menerus kan karena masyarakat tidak ada pilihan," tukasnya.
Karena trasportasi publik yang memadai itulah, menurut Bambang, masyarakat Jepang dan AS punya pilihan untuk berkendaraan selain mobil pribadi. Hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, yang mana transportasi publik sangat sedikit dan tidak nyaman.
Berdasarkan data Ward's, AS memiliki jumlah mobil terbanyak di dunia sebanyak 239,8 juta unit pada tahun 2010. Tingkat kepemilikan kendaraan per kapita di AS juga yang tertinggi di dunia, yaitu 769 kendaraan per 1000 orang, sehingga satu mobil untuk setiap 1,3 orang.
Sementara Jepang mempunyai 73,9 juta unit kendaraan pada tahun 2010, dan menjadi pasar kendaraan terbesar kedua di dunia sampai tahun 2009.
Sedangkan di Indonesia, sejak Januari sampai April 2012 ini, kendaraan yang membebani jalanan Jakarta sudah mencapai 13,35 juta kendaraan terdiri dari motor 9,86 juta unit, mobil 2,54 juta unit, mobil beban 581,29 ribu unit, dan bus 363,71 unit.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/614030/jepang-as-lebih-banyak-mobil-pribadi-tapi-kenapa-tidak-macet
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro membantah bila meningkatnya jumlah kendaraan roda empat sebagai penyebab kemacetan di Jakarta.
"Jangan kontradiktifkan jumlah mobil dengan kemacetan di Jakarta, tapi harusnya antara kemacetan dengan trafik. Karena jumlah mobil itu per kapita," tegas dia di Jakarta, seperti ditulis Sabtu (15/6/2013).
Jumlah mobil di Indonesia, lanjut Bambang, masih terbilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang apabila dihitung dari jumlah mobil per kapita.
"AS dan Jepang itu jumlah mobil per kapitanya jauh lebih besar dari Indonesia. Tapi kenapa dua negara itu tidak semacet Indonesia? Ya karena transportasi publiknya bagus. Pakai mobil terus menerus kan karena masyarakat tidak ada pilihan," tukasnya.
Karena trasportasi publik yang memadai itulah, menurut Bambang, masyarakat Jepang dan AS punya pilihan untuk berkendaraan selain mobil pribadi. Hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, yang mana transportasi publik sangat sedikit dan tidak nyaman.
Berdasarkan data Ward's, AS memiliki jumlah mobil terbanyak di dunia sebanyak 239,8 juta unit pada tahun 2010. Tingkat kepemilikan kendaraan per kapita di AS juga yang tertinggi di dunia, yaitu 769 kendaraan per 1000 orang, sehingga satu mobil untuk setiap 1,3 orang.
Sementara Jepang mempunyai 73,9 juta unit kendaraan pada tahun 2010, dan menjadi pasar kendaraan terbesar kedua di dunia sampai tahun 2009.
Sedangkan di Indonesia, sejak Januari sampai April 2012 ini, kendaraan yang membebani jalanan Jakarta sudah mencapai 13,35 juta kendaraan terdiri dari motor 9,86 juta unit, mobil 2,54 juta unit, mobil beban 581,29 ribu unit, dan bus 363,71 unit.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/614030/jepang-as-lebih-banyak-mobil-pribadi-tapi-kenapa-tidak-macet
Rabu, 30 Januari 2013
Macet, Jadi Hambatan Perusahaan Logistik Jepang di Jakarta
TRIBUNNEWS.COM - Macet dan sumber daya manusia jadi hambatan perusahaan logistik Jepang. Olehkarena itu mereka berharap kemacetan dapat diatasi segera dan pendidikan kepada karyawannya akan menjadi perhatian perusahaan, termasuk pengiriman stafnya ke Jepang.
"Seorang staf kami setingkat Asisten Manajer akan dikirimkan ke Jepang mungkin dalam waktu tak lama lagi, untuk kami didik lebih lanjut di Jepang mengenai sistem dan know-how Perusahaan," papar Hisashi Kitazawa, Manager Global Business Development Vantec Corporation, khusus kepada Tribunnews.com di kantornya, Selasa(29/01/2013) sore, di Tokyo, Jepang.
Bukan hanya pendidikan saja, Kitazawa melihat kemacetan di Jakarta menjadi hambatan bagi usahanya karena menjadi tidak bisa diprediksi kapan barang dapat didistribusikan, tiba di tempat tujuan. Maka pelayanan pun menjadi buruk.
Demikian pula pengemudi truk dari luar Vantec yang dipakai, tidak sedikit yang bermasalah dengan manner mereka, misalnya tidak mematuhi peraturan lalu lintas, kelakuan saat deliver barang ke konsumen yang kurang baik, dan sebagainya, yang kesemuanya itu semakin memperburuk citra Perusahaan, tekannya lagi.
Vantec yang baru membuka perusahaan di Indonesia pertama kali bulan Januari ini, dengan nama VIL atau PT Vantec Indomobil Logistics (80 persen saham Vantec Corporation dan 20 persen saham grup Indomobil, PT IMG Sejahtera Langgeng), memiliki kantor lokasi di Purwakarta dekat dengan pabrik mobil Nissan. Didirikan dengan modal Rp 57,57 miliar di atas tanah seluas 42.600 meter persegi.
"Secara keseluruhan memang masih banyak yang harus dibenahi di Indonesia misalnya infrastruktur jalanan, pelabuhan dan sebagainya. Namun dibandingkan 15 tahun lalu tentu saat ini Indonesia sudah sangat baik dan berbeda. Hanya saja di bandara Soekarno Hatta kami masih sering terhambat masuk, antre sangat panjang dan lama tak seperti di Vietnam atau bahkan Myanmar kami kaget juga proses imigrasi di bandara bisa cepat sehingga nyaman rasanya masuk ke sana."
Saat ini sekitar 90 persen memang masih melayani customer mobil Nissan karena Vantec memang memiliki history yang sangat dalam dengan Nissan, dulunya adalah anak usaha Nissan tapi mulai tahun 2000 berdiri sendiri sebagai perusahaan independen.
Saat ini VIL memiliki sekitar 20 staf atau karyawan dan sekitar empat tahun lagi diperkirakan sekitar 50 karyawan yang nantinya kemungkinan bisa melonjak menjadi 150 karyawan, "Semua tergantung kepada perkembangan bisnis yang kami lakukan di Indonesia. Semua karyawan tetap, ada pula yang kontrak sedikit," tambahnya.
Kitazawa juga melihat, VIL bukan untuk saat ini saja, "Kami melihat dalam 10 tahun ke depan Indonesia akan sangat hebat akan sangat sibuk dan perekonomian maju dengan pesat. Karena itu kami masuk sejak sekarang. Kalau menunggu sampai 10 tahun nanti, pasti terlambat sekali kami akan kehilangan bisnis," ungkapnya lagi.
Perusahaan logistik besar Vantec memang memiliki sistem kerja sendiri yang diciptakan sendiri untuk bisa mencapai sistem Just in Time. Semua itu dilakukan di Jepang dan diharapkan juga bisa dilakukan di Indonesia nantinya. Namun dengan peraturan atau hukum di Indonesia di mana pengangguran atau transportasi barang ke tempat berbagai customer-nya harus dilakukan oleh perusahaan tersendiri, Vantec merasa agak kesulitan karena tak dapat mengontrol pengemudi truk pengantar barang yang bersangkutan. Sedangkan apabila membentuk perusahaan khusus pengangkutan tersebut, maksimal saham hanya boleh 49 persen.
"Kalau membentuk perusahaan baru, kami ingin maksimal mayoritas kalau membentuk perusahaan transportasi seperti itu, lagi pula saat ini mungkin masih nmembutuhkan perusahaan transportasi semacam itu, jadi kami menyewa dari perusahaan pengangkutan dari luar. Tetapi tampaknya bermasalah dengan dengan manner para pengemudinya setelah kami perhatikan saat ini."
Karena itu Kitazawa melihat butuhnya kesabaran lebih lanjut untuk berbisnis di Indonesia dalam waktu mendatang. Di Jepang sendiri dan di Thai serta negara lain di Asia Vantec memiliki perusahaan sendiri transportasi sehingga tidak bermasalah dalam pengantaran barang ke customer-nya.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2013/01/29/macet-jadi-hambatan-perusahaan-logistik-jepang-di-jakarta
"Seorang staf kami setingkat Asisten Manajer akan dikirimkan ke Jepang mungkin dalam waktu tak lama lagi, untuk kami didik lebih lanjut di Jepang mengenai sistem dan know-how Perusahaan," papar Hisashi Kitazawa, Manager Global Business Development Vantec Corporation, khusus kepada Tribunnews.com di kantornya, Selasa(29/01/2013) sore, di Tokyo, Jepang.
Bukan hanya pendidikan saja, Kitazawa melihat kemacetan di Jakarta menjadi hambatan bagi usahanya karena menjadi tidak bisa diprediksi kapan barang dapat didistribusikan, tiba di tempat tujuan. Maka pelayanan pun menjadi buruk.
Demikian pula pengemudi truk dari luar Vantec yang dipakai, tidak sedikit yang bermasalah dengan manner mereka, misalnya tidak mematuhi peraturan lalu lintas, kelakuan saat deliver barang ke konsumen yang kurang baik, dan sebagainya, yang kesemuanya itu semakin memperburuk citra Perusahaan, tekannya lagi.
Vantec yang baru membuka perusahaan di Indonesia pertama kali bulan Januari ini, dengan nama VIL atau PT Vantec Indomobil Logistics (80 persen saham Vantec Corporation dan 20 persen saham grup Indomobil, PT IMG Sejahtera Langgeng), memiliki kantor lokasi di Purwakarta dekat dengan pabrik mobil Nissan. Didirikan dengan modal Rp 57,57 miliar di atas tanah seluas 42.600 meter persegi.
"Secara keseluruhan memang masih banyak yang harus dibenahi di Indonesia misalnya infrastruktur jalanan, pelabuhan dan sebagainya. Namun dibandingkan 15 tahun lalu tentu saat ini Indonesia sudah sangat baik dan berbeda. Hanya saja di bandara Soekarno Hatta kami masih sering terhambat masuk, antre sangat panjang dan lama tak seperti di Vietnam atau bahkan Myanmar kami kaget juga proses imigrasi di bandara bisa cepat sehingga nyaman rasanya masuk ke sana."
Saat ini sekitar 90 persen memang masih melayani customer mobil Nissan karena Vantec memang memiliki history yang sangat dalam dengan Nissan, dulunya adalah anak usaha Nissan tapi mulai tahun 2000 berdiri sendiri sebagai perusahaan independen.
Saat ini VIL memiliki sekitar 20 staf atau karyawan dan sekitar empat tahun lagi diperkirakan sekitar 50 karyawan yang nantinya kemungkinan bisa melonjak menjadi 150 karyawan, "Semua tergantung kepada perkembangan bisnis yang kami lakukan di Indonesia. Semua karyawan tetap, ada pula yang kontrak sedikit," tambahnya.
Kitazawa juga melihat, VIL bukan untuk saat ini saja, "Kami melihat dalam 10 tahun ke depan Indonesia akan sangat hebat akan sangat sibuk dan perekonomian maju dengan pesat. Karena itu kami masuk sejak sekarang. Kalau menunggu sampai 10 tahun nanti, pasti terlambat sekali kami akan kehilangan bisnis," ungkapnya lagi.
Perusahaan logistik besar Vantec memang memiliki sistem kerja sendiri yang diciptakan sendiri untuk bisa mencapai sistem Just in Time. Semua itu dilakukan di Jepang dan diharapkan juga bisa dilakukan di Indonesia nantinya. Namun dengan peraturan atau hukum di Indonesia di mana pengangguran atau transportasi barang ke tempat berbagai customer-nya harus dilakukan oleh perusahaan tersendiri, Vantec merasa agak kesulitan karena tak dapat mengontrol pengemudi truk pengantar barang yang bersangkutan. Sedangkan apabila membentuk perusahaan khusus pengangkutan tersebut, maksimal saham hanya boleh 49 persen.
"Kalau membentuk perusahaan baru, kami ingin maksimal mayoritas kalau membentuk perusahaan transportasi seperti itu, lagi pula saat ini mungkin masih nmembutuhkan perusahaan transportasi semacam itu, jadi kami menyewa dari perusahaan pengangkutan dari luar. Tetapi tampaknya bermasalah dengan dengan manner para pengemudinya setelah kami perhatikan saat ini."
Karena itu Kitazawa melihat butuhnya kesabaran lebih lanjut untuk berbisnis di Indonesia dalam waktu mendatang. Di Jepang sendiri dan di Thai serta negara lain di Asia Vantec memiliki perusahaan sendiri transportasi sehingga tidak bermasalah dalam pengantaran barang ke customer-nya.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2013/01/29/macet-jadi-hambatan-perusahaan-logistik-jepang-di-jakarta
Label:
barang
,
customer-
,
indomobil
,
indonesia
,
jepang
,
karyawan
,
kitazawa
,
manner
,
nissan
,
pengemudi
,
perusahaan
,
sebaga
,
staf
,
transportasi
,
tribunnews
,
vantec
,
vil
Jumat, 11 Januari 2013
Tim Bersama Dibentuk Kaji Pembangunan Deep Tunnel Jakarta
JAKARTA, Jaringnews.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sepakat membentuk tim bersama untuk mengkaji rencana pembangunan terowongan multiguna (Multi Purposes Deep Tunnel). Rencananya deep tunnel teknologinya akan meniru Jepang. Menteri PU Djoko Kirmanto mengatakan itu di Jakarta.
Keberadaan tim bersama itu penting untuk mengkaji lebih jauh dari keberadaan deep tunnel itu nanti. Sebab tidak semua deep tunnel berhasil mengatasi banjir.
“Di Malaysia ada yang kurang optimum, tetapi di Jepang efektif,” jelas Direktur Jenderal Sumber Daya Air Mohammad Hasan.
Salah satu permasalahan yang yang akan dikaji tim bersama ialah sistem pembuangan endapan dalam terowongan. Berbeda dengan Jepang yang air banjirnya relatif bersih, menurutnya banjir di Jakarta selalu dipenuhi sampah dan lumpur.
Hasan meyakini, pembangunan deep tunnel layak secara ekonomi. Hal itu didasari besarnya kerugian ekonomi yang terjadi setiap kali banjir di Jakarta. Dia mencontohkan, banjir besar pada 2007 yang menimbulkan kerugian ekonomi hampir Rp6,5 triliun.
Sumber : http://jaringnews.com/ekonomi/investasi/31733/tim-bersama-dibentuk-kaji-pembangunan-deep-tunnel-jakarta
Keberadaan tim bersama itu penting untuk mengkaji lebih jauh dari keberadaan deep tunnel itu nanti. Sebab tidak semua deep tunnel berhasil mengatasi banjir.
“Di Malaysia ada yang kurang optimum, tetapi di Jepang efektif,” jelas Direktur Jenderal Sumber Daya Air Mohammad Hasan.
Salah satu permasalahan yang yang akan dikaji tim bersama ialah sistem pembuangan endapan dalam terowongan. Berbeda dengan Jepang yang air banjirnya relatif bersih, menurutnya banjir di Jakarta selalu dipenuhi sampah dan lumpur.
Hasan meyakini, pembangunan deep tunnel layak secara ekonomi. Hal itu didasari besarnya kerugian ekonomi yang terjadi setiap kali banjir di Jakarta. Dia mencontohkan, banjir besar pada 2007 yang menimbulkan kerugian ekonomi hampir Rp6,5 triliun.
Sumber : http://jaringnews.com/ekonomi/investasi/31733/tim-bersama-dibentuk-kaji-pembangunan-deep-tunnel-jakarta
Label:
banjir
,
deep
,
ekonomi
,
hasan
,
jakarta
,
jaringnews
,
jepang
,
keberadaan
,
kerugian
,
kirmanto
,
lebih jauh
,
multiguna
,
optimum
,
purposes
,
rencana
,
sumber daya
,
terowongan
,
tim
,
tunnel
Langganan:
Postingan
(
Atom
)