Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun data bencana banjir, longsor, gempa dan puting beliung yang terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. Data tersebut dihimpun mulai 1 Januari hingga 27 November 2014.
Dari total jumlah orang yang tewas selama 2014 ini sebanyak 355 orang, provinsi yang paling banyak korban tewas dan hilang adalah Provinsi DKI Jakarta. Hingga saat ini, warga yang tewas akibat bencana banjir di Jakarta mencapai 21 orang. Sedangkan tahun lalu mencapai 48 orang meninggal dunia akibat banjir.
"Kebanyakan itu terpeleset dan kesetrum listrik. Jadi yang jadi korban tewas banjir bukan warga yang ada di bantaran sungai, tetapi para pendatang atau orang yang ingin nonton banjir,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNBP, dalam acara Launching Buku Infografis Provinsi Wilayah di Hotel Four Season, Jakarta, Kamis (27/11).
Setelah Jakarta, posisi kedua provinsi yang jumlah korban bencana terbanyak berada di Provinsi Jawa Tengah sekitar 15 orang dan Provinsi Jawa Barat sekitar sembilan orang. Sedangkan Kabupaten/Kotamadya yang paling banyak terjadi bencana banjir, adalah Bandung, Jakarta Timur dan Garut. Sementara provinsi dengan kejadian bencana banjir terbanyak ada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Untuk bencana longsor, provinsi dengan kejadian bencana tanah longsor terbanyak ada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Provinsi dengan korban terbanyak akibat bencana tanah longsor tercatat di ketiga provinsi tersebut. lalu Kabupaten/Kota dengan kejadian terbanyak berada di Cianjur, Ciamis dan Bogor.
“Selama tahun 2014, Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan daerah yang paling banyak terjadi bencana. Kondisi ini berkorelasi dengan jumlah penduduk yang besar di tiga provinsi tersebut,” ujarnya.
BNPB telah menghimpun data selama tahun 2014 terjadi 1.136 kejadian bencana banjir, longsor dan puting beliung. Dampaknya 355 orang tewas, lebih 1,7 juta jiwa mengungsi dan menderita, lebih dari 25.000 rumah rusak.
Sumber : http://www.beritasatu.com/aktualitas/228479-pada-2014-korban-tewas-akibat-banjir-jakarta-tertinggi-seindonesia.html
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label korban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korban. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 November 2014
Pada 2014, Korban Tewas Akibat Banjir Jakarta Tertinggi se-Indonesia
Jumat, 17 Januari 2014
Ini 5 banjir besar yang pernah melumpuhkan Jakarta
Merdeka.com - Kemarin Jakarta kembali dikepung banjir setelah hujan lebat mengguyur Ibu Kota selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, debit air di 13 sungai yang membelah-belah Jakarta meluber dan merendam sejumlah pemukiman dengan ketinggian mencapai 4 meter lebih.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, mencatat setidaknya 2.466 orang mengungsi, dan 4 di antaranya meninggal. Mereka berasal dari 175 rukun warga di 33 kelurahan. Sementara data Polda Metro Jaya menyebut jumlah pengungsi lebih besar lagi, mencapai 10.523
Banjir di Jakarta ini memang terjadi sejak lama. Ada beberapa catatan banjir besar pernah melanda Ibu Kota ini, misalnya banjir pada 2007 silam, yang menelan korban jiwa hingga 80 orang. Banjir waktu itu juga melumpuhkan Jakarta.
Selain banjir pada 2007, jauh sebelum itu sebenarnya Jakarta juga pernah mengalami banjir tak kalah hebatnya. Berikut ini 5 banjir besar yang pernah terjadi di Ibu Kota:
1. Banjir Jakarta pada 1918
Merdeka.com - Banjir pada 1918 di Jakarta ini juga melumpuhkan Batavia. Gubernur Jenderal Batavia Jan Pieterszoon Coen, sampai menunjuk arsitek khusus untuk menangani banjir ini. Banjir waktu itu merendam permukiman warga karena limpahan air dari sungai Ciliwung, Cisadane, Angke dan Bekasi.
Akibat banjir, sarana transportasi, termasuk lintasan trem listrik terendam air. Dua lokomotif cadangan dikerahkan untuk membantu trem-trem yang mogok dalam perjalanan. Banjir pada tahun itu merupakan yang terparah dalam dua dekade terakhir.
2. Banjir hebat pada 1979
Merdeka.com - Banjir besar juga pernah melanda DKI Jakarta pada era Gubernur Tjokropranolo. Banjir pada 1979 di Jakarta menggenangi wilayah pemukiman dengan luas mencapai 1.100 hektare. Banjir yang disebabkan hujan lokal dan banjir kiriman itu merendam pemukiman penduduk.
Sebelum tahun itu, banjir sebenarnya juga terjadi. Misalnya pada 1876 dan 1918, banjir pernah sampai merendam rumah penduduk, termasuk bekas benteng VOC di Pasar Ikan. Tapi banjir pada 1979, jauh lebih besar dengan jangkauan lebih luas.
3. Banjir Jakarta pada 1996
Merdeka.com - Pada 6-9 Januari 1996, Jakarta terendam setelah hujan dua hari. Sebulan kemudian, 9-13 Februari 1996, tiga hari hujan lebat dengan curah lima kali lipat di atas normal, merendam Jakarta setinggi 7 meter.
Akibat banjir, 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban mencapai 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan mencapai USD 435 juta. Banjir 2007 ini juga sampai ke pemukiman elite Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara yang pada waktu itu sedang dalam proses pembangunan.
4. Banjir besar pada 2007
Merdeka.com - Banjir Jakarta 2007, terjadi pada era Gubernur Sutiyoso. Bencana banjir waktu itu menjadi salah satu yang terburuk. Bayangkan, 60 persen wilayah DKI terendam air dengan kedalaman mencapai 5 meter lebih di beberapa titik.
Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang tak tertampung.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.
Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan Rp 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.
5. Banjir tewaskan 20 orang pada 2013
Merdeka.com - Banjir besar di Jakarta yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada Januari hingga Februari 2013 lalu. Bencana itu menyebabkan 20 korban meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Banjir ini terjadi pada era Gubernur DKI Joko Widodo.
Waktu itu, banjir sampai melumpuhkan pusat kota. Air menggenangi kawasan Sudirman, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) akibat tanggul Kali Cipinang, di dekat HI.
Diperkirakan banjir menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun. Sementara pengusaha, melalui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya kerugian ekonomi lebih dari Rp 1 triliun.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-5-banjir-besar-yang-pernah-melumpuhkan-jakarta.html
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, mencatat setidaknya 2.466 orang mengungsi, dan 4 di antaranya meninggal. Mereka berasal dari 175 rukun warga di 33 kelurahan. Sementara data Polda Metro Jaya menyebut jumlah pengungsi lebih besar lagi, mencapai 10.523
Banjir di Jakarta ini memang terjadi sejak lama. Ada beberapa catatan banjir besar pernah melanda Ibu Kota ini, misalnya banjir pada 2007 silam, yang menelan korban jiwa hingga 80 orang. Banjir waktu itu juga melumpuhkan Jakarta.
Selain banjir pada 2007, jauh sebelum itu sebenarnya Jakarta juga pernah mengalami banjir tak kalah hebatnya. Berikut ini 5 banjir besar yang pernah terjadi di Ibu Kota:
1. Banjir Jakarta pada 1918
Merdeka.com - Banjir pada 1918 di Jakarta ini juga melumpuhkan Batavia. Gubernur Jenderal Batavia Jan Pieterszoon Coen, sampai menunjuk arsitek khusus untuk menangani banjir ini. Banjir waktu itu merendam permukiman warga karena limpahan air dari sungai Ciliwung, Cisadane, Angke dan Bekasi.
Akibat banjir, sarana transportasi, termasuk lintasan trem listrik terendam air. Dua lokomotif cadangan dikerahkan untuk membantu trem-trem yang mogok dalam perjalanan. Banjir pada tahun itu merupakan yang terparah dalam dua dekade terakhir.
2. Banjir hebat pada 1979
Merdeka.com - Banjir besar juga pernah melanda DKI Jakarta pada era Gubernur Tjokropranolo. Banjir pada 1979 di Jakarta menggenangi wilayah pemukiman dengan luas mencapai 1.100 hektare. Banjir yang disebabkan hujan lokal dan banjir kiriman itu merendam pemukiman penduduk.
Sebelum tahun itu, banjir sebenarnya juga terjadi. Misalnya pada 1876 dan 1918, banjir pernah sampai merendam rumah penduduk, termasuk bekas benteng VOC di Pasar Ikan. Tapi banjir pada 1979, jauh lebih besar dengan jangkauan lebih luas.
3. Banjir Jakarta pada 1996
Merdeka.com - Pada 6-9 Januari 1996, Jakarta terendam setelah hujan dua hari. Sebulan kemudian, 9-13 Februari 1996, tiga hari hujan lebat dengan curah lima kali lipat di atas normal, merendam Jakarta setinggi 7 meter.
Akibat banjir, 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban mencapai 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan mencapai USD 435 juta. Banjir 2007 ini juga sampai ke pemukiman elite Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara yang pada waktu itu sedang dalam proses pembangunan.
4. Banjir besar pada 2007
Merdeka.com - Banjir Jakarta 2007, terjadi pada era Gubernur Sutiyoso. Bencana banjir waktu itu menjadi salah satu yang terburuk. Bayangkan, 60 persen wilayah DKI terendam air dengan kedalaman mencapai 5 meter lebih di beberapa titik.
Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang tak tertampung.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.
Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan Rp 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.
5. Banjir tewaskan 20 orang pada 2013
Merdeka.com - Banjir besar di Jakarta yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada Januari hingga Februari 2013 lalu. Bencana itu menyebabkan 20 korban meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Banjir ini terjadi pada era Gubernur DKI Joko Widodo.
Waktu itu, banjir sampai melumpuhkan pusat kota. Air menggenangi kawasan Sudirman, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) akibat tanggul Kali Cipinang, di dekat HI.
Diperkirakan banjir menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun. Sementara pengusaha, melalui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya kerugian ekonomi lebih dari Rp 1 triliun.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-5-banjir-besar-yang-pernah-melumpuhkan-jakarta.html
Selasa, 10 Desember 2013
Sebelum Tertabrak "Commuter Line" Truk Tangki Terjebak Macet di Pintu Perlintasan
Jakarta - Truk tangki B 9265 SEH yang mengangkut 24 Kiloliter premium milik PT Pertamina diduga tertabrak Commuter Line KA 1131 jurusan Serpong-Tanah Abang, lantaran lajunya tertahan sepeda motor di depannya yang terjebak macet saat melintasi pintu perlintasan Bintaro Permai, Pondok Betung, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan kronologi kejadian berawal saat truk tangki melintas di pintu perlintasan kereta Bintaro Permai atau Pos 57 A.
"Sesampainya diperlintasan rel, tanda lonceng (sirine) berbunyi. Namun, kendaraan truk tangki tidak bisa melaju dikarenakan macet. Didepannya, ada sepeda motor," ujar Rikwanto kepada Beritasatu.com, Senin (9/12).
Dikatakan Rikwanto, saat truk tangki terjebak macet datang kereta dari arah barat dan menabrak bagian belakang kiri truk.
"Akibat tabrakan itu, truk terdorong sekitar 20 meter. Selanjutnya, kereta terguling ke kiri dan truk tangki terbakar hingga hangus," ungkapnya.
Menurut Rikwanto, anggota yang mendapat laporan langsung menuju TKP dan mengevakuasi korban meninggal serta luka-luka.
"Korban luka langsung dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk menjalani perawatan. Sementara, korban meninggal dibawa ke RS Polri Kramat Jati," bilangnya.
Menurut Rikwanto, pasca kejadian, pihaknya mengamankan tujuh orang saksi untuk dimintai keterangan.
"Ada tujuh orang saksi dan langsung dilakukan pemeriksaan. Saksi terdiri dari satu penjaga palang pintu, pembantu penjaga palang pintu perlintasan, empat saksi yang melihat langsung di TKP, dan satu pengendara motor di depan truk tangki," tandasnya.
Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/154580-sebelum-tertabrak-commuter-line-truk-tangki-terjebak-macet-di-pintu-perlintasan.html
Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan kronologi kejadian berawal saat truk tangki melintas di pintu perlintasan kereta Bintaro Permai atau Pos 57 A.
"Sesampainya diperlintasan rel, tanda lonceng (sirine) berbunyi. Namun, kendaraan truk tangki tidak bisa melaju dikarenakan macet. Didepannya, ada sepeda motor," ujar Rikwanto kepada Beritasatu.com, Senin (9/12).
Dikatakan Rikwanto, saat truk tangki terjebak macet datang kereta dari arah barat dan menabrak bagian belakang kiri truk.
"Akibat tabrakan itu, truk terdorong sekitar 20 meter. Selanjutnya, kereta terguling ke kiri dan truk tangki terbakar hingga hangus," ungkapnya.
Menurut Rikwanto, anggota yang mendapat laporan langsung menuju TKP dan mengevakuasi korban meninggal serta luka-luka.
"Korban luka langsung dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk menjalani perawatan. Sementara, korban meninggal dibawa ke RS Polri Kramat Jati," bilangnya.
Menurut Rikwanto, pasca kejadian, pihaknya mengamankan tujuh orang saksi untuk dimintai keterangan.
"Ada tujuh orang saksi dan langsung dilakukan pemeriksaan. Saksi terdiri dari satu penjaga palang pintu, pembantu penjaga palang pintu perlintasan, empat saksi yang melihat langsung di TKP, dan satu pengendara motor di depan truk tangki," tandasnya.
Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/154580-sebelum-tertabrak-commuter-line-truk-tangki-terjebak-macet-di-pintu-perlintasan.html
Label:
aeon
,
bintaro
,
kejadian
,
kereta
,
kiri
,
korban
,
macet
,
palang pintu
,
penjaga
,
perlintasan
,
permai
,
pesanggrahan
,
pintu
,
rikwanto
,
rumah sakit
,
saksi
,
sepeda motor
,
tkp
,
truk
,
truk tangki
Senin, 12 Agustus 2013
BPBD DKI: Banjir dan Kebakaran Warnai Lebaran di Jakarta
Liputan6.com, Jakarta : Di tengah kegembiraan merayakan Idul Fitri 1434 Hijriah, warga Ibukota dilanda musibah banjir dan kebakaran di sejumlah wilayah di Jakarta. Badan Penanggulangan Bencana DKI Data DKI Jakarta merangkum bencana yang terjadi pada masa liburan panjang dan cuti bersama Lebaran mulai 3-10 Agustus 2013.
Demikian pernyataan tertulis Kepala Seksi Informatika, BPBD DKI, Bambang Surya Putra yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Minggu (11/8/2013).
Bambang menuturkan banjir di Jakarta dimulai dari tingginya curah hujan pada 3 - 4 Agustus 2013 di Selatan Jakarta yaitu pada kawasan tangkapan air (catchment area) pada hulu sungai Ciliwung sehingga mengakibatkan banjir 1 meter lebih. Banjir itu meliputi Kampung Melayu (47 RT), Bidara Cina (20 RT), Cililitan (2 RT), Cawang (28 RT) dan Bukit Duri (2 RT).
"Namun, warga masih dapat bertahan di rumahnya masing-masing dan tidak dilaporkan terdapat pengungsi," imbuh Bambang.
Pada 7 Agustus 2013, Bambang menambahkan, Posko Dinas PU melaporkan terjadi peningkatan tinggi muka air pada beberapa pintu air akibat tingginya curah hujan yaitu Pesanggrahan mencapai 300 cm (siaga 2) dan Depok (siaga 3). Lalu, diikut juga oleh Kali Krukut (siaga 3) dan Angke (siaga 3). Kondisi tersebut menimbulkan genangan banjir yang cukup tinggi yaitu:
1. Kp. Melayu ketinggian banjir 30–300 cm, 53 RT tergenang, 7.728 warga terdampak, 136 orang terpaksa mengungsi di Masjid Attawabin
2. Bidara Cina banjir setinggi 50–150 cm, 20 RT tergenang, 2.182 warga terdampak, pengungsi tidak ada.
3. Pondok Pinang banjir setinggi 20–250 cm , 2 RT tergenang, 597 warga terdampak, 100 orang mengungsi.
4, Pondok Labu banjir sekitar 30–100 cm, 1 RT tergenang, 230 warga terdampak, dan tidak ada pengungsi.
5. Ulujami banjir setinggi 50–200 cm, 5 RT tergenang, 2.931 warga terdampak, 400 orang mengungsu di Sasana Krida
6. Bintaro banjir sekitar 50–100 cm, 20 RT tergenang, 2.873 warga terdampak dam 200 orang mengungsi di Posko RW12 & Masjid Al Mariyah
Banjir tersebut yang terjadi mulai 7 Agustus itu berangsur surut seluruhnya 10 Agustus 2013 lalu. 1 Korban M Nafisumur (38) meninggal dunia dan ditemukan di Kali Krukut.
"Keluarga korban telah diberikan santunan dari Dinas Sosial DKI Jakarta. Jadi total warga yang terdampak banjir 16.541 orang dengan jumlah pengungsi sebanyak 836 jiwa," kata Bambang.
Kebakaran
Bambang menambahkan Kebakaran juga kerap terjadi mulai 3-11 Agustus 2013 dan telah terjadi 28 kali kebakaran. Menimbulkan 4 orang korban jiwa antara lain 3 orang meninggal pada kebakaran di Jalan Tanah Koja, Jakut, pada 8 Agustus 2013 yaitu Dina Yulianti (12), MohFadli (10), dan Doni (4).
"Sedangkan 1 orang, yakni Bapak Abuna meninggal akibat serangan jantung saat kebakaran di Jalan Sinar Budi Jembatan 2m Jakarta Utara.
Adapun korban luka ringan akibat terbakar sebanyak 4 orang," jelas Bambang.
Ia menambahkan kebakaran tersebut mengakibatkan 152 bangunan terbakar , 121 KK atau sebanyak 509 jiwa kehilangan tempat tinggal. Bantuan yang hingga saat ini masih dibutuhkan adalah pakaian seragam sekolah dan buku-buku pelajaran. Hal tersebut telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan.
Namun, jika ada warga masyarakat yang bersimpati dapat menyampaikan bantuan langsung kepada korban," imbuh Bambang.
Dari data kebakaran yang ada, Bambang menjelaskan sebanyak 92,86% kebakaran disebabkan korsleting listrik, 3.57% diakibatkan api rokok, dan 3.57% diakibatkan oleh tabung gas yang meledak.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/662749/bpbd-dki-banjir-dan-kebakaran-warnai-lebaran-di-jakarta
Demikian pernyataan tertulis Kepala Seksi Informatika, BPBD DKI, Bambang Surya Putra yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Minggu (11/8/2013).
Bambang menuturkan banjir di Jakarta dimulai dari tingginya curah hujan pada 3 - 4 Agustus 2013 di Selatan Jakarta yaitu pada kawasan tangkapan air (catchment area) pada hulu sungai Ciliwung sehingga mengakibatkan banjir 1 meter lebih. Banjir itu meliputi Kampung Melayu (47 RT), Bidara Cina (20 RT), Cililitan (2 RT), Cawang (28 RT) dan Bukit Duri (2 RT).
"Namun, warga masih dapat bertahan di rumahnya masing-masing dan tidak dilaporkan terdapat pengungsi," imbuh Bambang.
Pada 7 Agustus 2013, Bambang menambahkan, Posko Dinas PU melaporkan terjadi peningkatan tinggi muka air pada beberapa pintu air akibat tingginya curah hujan yaitu Pesanggrahan mencapai 300 cm (siaga 2) dan Depok (siaga 3). Lalu, diikut juga oleh Kali Krukut (siaga 3) dan Angke (siaga 3). Kondisi tersebut menimbulkan genangan banjir yang cukup tinggi yaitu:
1. Kp. Melayu ketinggian banjir 30–300 cm, 53 RT tergenang, 7.728 warga terdampak, 136 orang terpaksa mengungsi di Masjid Attawabin
2. Bidara Cina banjir setinggi 50–150 cm, 20 RT tergenang, 2.182 warga terdampak, pengungsi tidak ada.
3. Pondok Pinang banjir setinggi 20–250 cm , 2 RT tergenang, 597 warga terdampak, 100 orang mengungsi.
4, Pondok Labu banjir sekitar 30–100 cm, 1 RT tergenang, 230 warga terdampak, dan tidak ada pengungsi.
5. Ulujami banjir setinggi 50–200 cm, 5 RT tergenang, 2.931 warga terdampak, 400 orang mengungsu di Sasana Krida
6. Bintaro banjir sekitar 50–100 cm, 20 RT tergenang, 2.873 warga terdampak dam 200 orang mengungsi di Posko RW12 & Masjid Al Mariyah
Banjir tersebut yang terjadi mulai 7 Agustus itu berangsur surut seluruhnya 10 Agustus 2013 lalu. 1 Korban M Nafisumur (38) meninggal dunia dan ditemukan di Kali Krukut.
"Keluarga korban telah diberikan santunan dari Dinas Sosial DKI Jakarta. Jadi total warga yang terdampak banjir 16.541 orang dengan jumlah pengungsi sebanyak 836 jiwa," kata Bambang.
Kebakaran
Bambang menambahkan Kebakaran juga kerap terjadi mulai 3-11 Agustus 2013 dan telah terjadi 28 kali kebakaran. Menimbulkan 4 orang korban jiwa antara lain 3 orang meninggal pada kebakaran di Jalan Tanah Koja, Jakut, pada 8 Agustus 2013 yaitu Dina Yulianti (12), MohFadli (10), dan Doni (4).
"Sedangkan 1 orang, yakni Bapak Abuna meninggal akibat serangan jantung saat kebakaran di Jalan Sinar Budi Jembatan 2m Jakarta Utara.
Adapun korban luka ringan akibat terbakar sebanyak 4 orang," jelas Bambang.
Ia menambahkan kebakaran tersebut mengakibatkan 152 bangunan terbakar , 121 KK atau sebanyak 509 jiwa kehilangan tempat tinggal. Bantuan yang hingga saat ini masih dibutuhkan adalah pakaian seragam sekolah dan buku-buku pelajaran. Hal tersebut telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan.
Namun, jika ada warga masyarakat yang bersimpati dapat menyampaikan bantuan langsung kepada korban," imbuh Bambang.
Dari data kebakaran yang ada, Bambang menjelaskan sebanyak 92,86% kebakaran disebabkan korsleting listrik, 3.57% diakibatkan api rokok, dan 3.57% diakibatkan oleh tabung gas yang meledak.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/662749/bpbd-dki-banjir-dan-kebakaran-warnai-lebaran-di-jakarta
Selasa, 19 Maret 2013
Waspada, Perampok Sembunyi di Bagasi Taksi
TEMPO.CO, Jakarta -- Polisi menangkap tiga orang pelaku perampokan taksi. Perampokan yang terjadi pada Jumat, 8 Maret 2013 lalu ini tergolong nekat. Dua orang pelaku bersembunyi di dalam bagasi taksi Pratama warna putih tersebut. Mereka menodong korban Lani Sawarno dan Flora Waas dari belakang dan menggasak harta korban.
"Satu jam kami sembunyi di dalam bagasi," kata pelaku, Aryo, pada Senin, 18 Maret 2013. Dia bersama rekannya, Rahman dan Rusdi, mengaku sudah memodifikasi bagasi agar muat dua orang.
Pengap? Tentu saja. Satu jam mereka ada di bagasi yang lebih kecil dari tubuh mereka. Saat memperagakan pun, Aryo dan Rahman harus meringkuk di dalam bagasi sempit tersebut. Mereka tampak kepayahan. "Pengap sekali," ujar Aryo.
Mereka memodifikasi bagasi setelah keluar dari pool taksi Pratama yang ada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hanya butuh waktu sejam untuk mengosongkan bagasi dan mengendorkan kursi belakang.
Aryo mengaku terpaksa ikut ajakan Rusdi. Lelaki ini punya lima istri dan tiga anak. "Makanya saya mau ikut," ujar Aryo sambil menahan kesakitan. Ketiga pelaku ini ditembak polisi di kaki saat akan ditangkap. Kala itu mereka mencoba kabur.
Rusdi, sopir asli taksi ini, mengaku tergiur ajakan kedua rekannya tersebut. Alasannya sama , penghasilan dia sebagai sopir taksi kurang untuk memenuhi nafkah istri yang tengah hamil tujuh bulan dan seorang putranya.
Rusdi mengaku baru sebulan jadi sopir taksi. Sebelumnya dia adalah sopir angkot di Bandung jurusan Cileunyi-Cililin. Namun, penghasilannya dirasa kurang sehingga dia kemudian banting setir menjadi sopir taksi.
Parahnya, setelah jadi sopir taksi pun, dia lebih suka foya-foya. Uang hasil rampok ini juga dipakai untuk judi dan menikmati hiburan malam.
Otak dari perampokan ini, Rahman, mengaku baru saja keluar dari Lembaga Permasyarakatan Cipinang. Dia sempat terjerat kasus perampokan. "Saya baru sebulan bebas," ujarnya. Dia lebih memilih diam menahan sakit karena timah panas di kakinya.
Kejadian ini bermula saat Lani dan Flower, dua karyawati yang bekerja di kawasan Sudirman, Thamrin, Jakarta Pusat, akan pulang kerja menuju rumah mereka di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur dan Pancoran, Jakarta Selatan. Mereka menunggu taksi di sekitar Bunderan Hotel Indonesia, saat itu pukul 22.30 WIB malam.
"Saat itu, keadaan sedang macet dan antrean taksi cukup panjang. Akhirnya, kami cari taksi di luar," ujar Lani. Kemudian, taksi yang disopiri Rusdi lewat. Mereka pun naik. Awalnya, dua wanita ini sudah tidak nyaman karena bau rokok dan kacanya gelap.
Benar saja tidak berapa lama saat keduanya menaiki taksi tersebut, tiba-tiba sang sopir mengunci pintu dengan central lock. "Dari belakang ada yang dorong-dorong dari sandaran jok belakang," ujar Lina. Panik, mereka menahan agar tidak terjerembab.
Namun, Lina melanjutkan, sopir taksi menyabetkan gergaji tipis kecil ke arah keduanya. Sabetan itu mengenai tangan Lina. Dia menjerit. Kedua pelaku yang bersembunyi di taksi muncul dan langsung melakban mulut mereka. Tangan keduanya juga diikat.
Mereka diancam akan dibunuh. Pelaku pun melucuti perhiasan korban. Dia juga meminta korban menyerahkan PIN ATM. Korban yang ketakutan menyerah.
Diajak berputar-putar, kedua korban diturunkan di tempat sepi. "Belakangan kami tahu itu daerah Kalideres," katanya. Mereka ditolong pengendara.
Kepala Satuan Reserse Mobile Direktorat Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan mengatakan akan memanggil pemilik taksi. "Kami akan selidiki apakah mereka tahu taksinya sudah dimodif atau tidak," katanya. Waspada kejahatan perampokan di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/03/18/064467789/Waspada-Perampok-Sembunyi-di-Bagasi-Taksi
"Satu jam kami sembunyi di dalam bagasi," kata pelaku, Aryo, pada Senin, 18 Maret 2013. Dia bersama rekannya, Rahman dan Rusdi, mengaku sudah memodifikasi bagasi agar muat dua orang.
Pengap? Tentu saja. Satu jam mereka ada di bagasi yang lebih kecil dari tubuh mereka. Saat memperagakan pun, Aryo dan Rahman harus meringkuk di dalam bagasi sempit tersebut. Mereka tampak kepayahan. "Pengap sekali," ujar Aryo.
Mereka memodifikasi bagasi setelah keluar dari pool taksi Pratama yang ada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hanya butuh waktu sejam untuk mengosongkan bagasi dan mengendorkan kursi belakang.
Aryo mengaku terpaksa ikut ajakan Rusdi. Lelaki ini punya lima istri dan tiga anak. "Makanya saya mau ikut," ujar Aryo sambil menahan kesakitan. Ketiga pelaku ini ditembak polisi di kaki saat akan ditangkap. Kala itu mereka mencoba kabur.
Rusdi, sopir asli taksi ini, mengaku tergiur ajakan kedua rekannya tersebut. Alasannya sama , penghasilan dia sebagai sopir taksi kurang untuk memenuhi nafkah istri yang tengah hamil tujuh bulan dan seorang putranya.
Rusdi mengaku baru sebulan jadi sopir taksi. Sebelumnya dia adalah sopir angkot di Bandung jurusan Cileunyi-Cililin. Namun, penghasilannya dirasa kurang sehingga dia kemudian banting setir menjadi sopir taksi.
Parahnya, setelah jadi sopir taksi pun, dia lebih suka foya-foya. Uang hasil rampok ini juga dipakai untuk judi dan menikmati hiburan malam.
Otak dari perampokan ini, Rahman, mengaku baru saja keluar dari Lembaga Permasyarakatan Cipinang. Dia sempat terjerat kasus perampokan. "Saya baru sebulan bebas," ujarnya. Dia lebih memilih diam menahan sakit karena timah panas di kakinya.
Kejadian ini bermula saat Lani dan Flower, dua karyawati yang bekerja di kawasan Sudirman, Thamrin, Jakarta Pusat, akan pulang kerja menuju rumah mereka di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur dan Pancoran, Jakarta Selatan. Mereka menunggu taksi di sekitar Bunderan Hotel Indonesia, saat itu pukul 22.30 WIB malam.
"Saat itu, keadaan sedang macet dan antrean taksi cukup panjang. Akhirnya, kami cari taksi di luar," ujar Lani. Kemudian, taksi yang disopiri Rusdi lewat. Mereka pun naik. Awalnya, dua wanita ini sudah tidak nyaman karena bau rokok dan kacanya gelap.
Benar saja tidak berapa lama saat keduanya menaiki taksi tersebut, tiba-tiba sang sopir mengunci pintu dengan central lock. "Dari belakang ada yang dorong-dorong dari sandaran jok belakang," ujar Lina. Panik, mereka menahan agar tidak terjerembab.
Namun, Lina melanjutkan, sopir taksi menyabetkan gergaji tipis kecil ke arah keduanya. Sabetan itu mengenai tangan Lina. Dia menjerit. Kedua pelaku yang bersembunyi di taksi muncul dan langsung melakban mulut mereka. Tangan keduanya juga diikat.
Mereka diancam akan dibunuh. Pelaku pun melucuti perhiasan korban. Dia juga meminta korban menyerahkan PIN ATM. Korban yang ketakutan menyerah.
Diajak berputar-putar, kedua korban diturunkan di tempat sepi. "Belakangan kami tahu itu daerah Kalideres," katanya. Mereka ditolong pengendara.
Kepala Satuan Reserse Mobile Direktorat Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan mengatakan akan memanggil pemilik taksi. "Kami akan selidiki apakah mereka tahu taksinya sudah dimodif atau tidak," katanya. Waspada kejahatan perampokan di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/03/18/064467789/Waspada-Perampok-Sembunyi-di-Bagasi-Taksi
Selasa, 22 Januari 2013
Seminggu Terjang Jakarta, Banjir Renggut 26 Korban Jiwa
Jakarta, GATRAnews- Banjir yang melanda kota metropolitan, Jakarta merenggut puluhan korban jiwa. Dari data kepolisian Polda Metro Jaya sejak Selasa (15/1) sampai Senin (21/1) hari ini tercatat banjir telah merenggut sebanyak 26 korban jiwa. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan korban yang meninggal lebih didominasi karena tenggelam dan terseret banjir. "Macam-macam ya penyebabnya dari 23 kejadian ada 26 yang meninggal. Korban didominasi karena tenggelam dan terseret arus air baru kemudian karena tersetrum," jelasnya kepada wartawan.
Berikut data-data korban yang berhasil dicatat pihak kepolisian:
1. Raif Anjar Agasi (13) warga Gang Anggur VI, Tanjung Duren, Jakbar meninggal akibat mandi di kali saat banjir kemudian korban terbawa arus.
2. Mujiyo (43) korban tersengat listrik saat memperbaiki instalasi listrik di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.
3. Muhammad Haikal (2), korban terjatuh dari tempat tidur di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar, saat itu rumahnya terendam banjir 1 meter, korban tenggelam dan tewas.
4. Sanin (68), korban pulang mencari rumput di areal persawahan ang sat itu banjir setinggi 1,7 meter. Korban yang menggunakan perahu dari gabus tiba-tiba terjatuh dan tenggelam. Korban ditemukan tewas di Kampung Banteng RT 02/01 Desa Pasir Munceng, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tengerang.
5. Santan (60), korban sedang menggembala kerbau di pinggir sungai Cimanceri, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang sedang dalam keadaan meluap (banjir), kemudian korban jatug dan terbawa arus.
6. Karno (35), korban bermaksud menyebrang kali di Jalan J RT 06/10 Kebon Baru, Tebet, Jaksel ke wilayah timur pada saat banjir kemudian terbawa arus dan diemukan mati.
7. Omang (62) korban ditemukan warga dalam keadaan tewas di sungai Cibeet Bojongmangu Kab Bekasi dikarenakan korban hanyut terbawa arus saat menyebrangi sungai di Kampung Cibarengkok RT 05/03 Tanjung Sari, Kab Bogor.
8. Andi Alias Abi (17) korban sedang mandi di Kali Spion RT 03/03, Gondrong, Cipondoh, Kota Tangerang yang sedang banjir kemudian korban tenggelam, korban ditemukan satu hari kemudian.
9. Suharyanto bin Tagam (55), korban ditemukan MD oleh istrinya diduga tersengat listrik dari rumah korban di Jalan Kayu Mas Timur Nomor 20 RT 04/03 Pulogadung Jaktim.
10. Riko (6), korban bersama dua orang anak lainnya main dipinggir kali yang banjir di Kali Cilangkap Setu RT 04/04 Setu Cipayung Jaktim kemudian korban terpleset dan terbawa arus, sampai saat ini korban belum ditemukan.
11. Solahudin (35), Korban tewas tersetrum saat menolong saksi (Adilia) di Jalan Gang 20 RT 05/05 Kelurahan Kalibata, Pancoran, Jaksel.
12. Abdul Arif Agus (34), karyawan UOB yang ditemukan tim SAR dalam keadaan MD dengan hidung mengeluarkan darah akibat terjebak di basement yang terendam banjir.
13. Hendro Suwono (68), korban terjebak macet karena adanya banjir di Depan RS Pluit Jalan Pulit Jaya VIII penjaringan jakut. Kemudian korban menghentikan mobil tanpa mematikan mesin, karena terlalu banyak menghirup gas C02 korban kehilangan kesadaran dan meninggal. Istri korban yang berada dalam satu mobil, masih dalam proses penyelematan.
14. Uidn Wahyudin (34), korban meninggal dunia akibat tenggelam di rumahnya di RT 08/08 Kedaung, Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.
15. Handoko Waluyo (60), korban ditemukan meninggal terapung di Jalan Baldongan RT 06/01 Tambora, Jakbar, diduga korban tewas terperosok ke saluran pembuangan air yang cukup dalam.
16. Rudi Tiono (43), korban dalam keadaan lumpuh dan kurang waras, korban ditemukan mengambang di air tertutup kasur di dalam rumahnya di Perum Daan Mogot Estate Blok Fa 4/4 RT 04/15 Cengkareng Timur, Jakbar.
17. Muhayaolloh (15), korban bersama empat teman berenang di Kali Spion Ampera Depan Masjid Al Huston Poris Jaya, Batu Ceper, Kota Tangerang yang saaat itu banjir, korban kemudian terbawa arus dan tenggelam.
18. Asep Saipul Bahri (19), korban bermaksud menyebrangi sungai di Kampung Busuk RT 03/05 Pasirbanjir Cikarang Pusat, Bekasi Kabupaten, yang banjir dengan cara berenang, namun korban terseret arus dan meninggal.
19. Kasim (48), Nanang (21), Suratman (25), Rudi (22), saat itu korban kebanjiran dan listrik padan kemudian menyalakan genset dan para korban ditemukan dilantai atas dalam keadaan MD diduga keracunan asap genset, TKP Taman Permata Indah 1 Blok PN 3A RT 14/07 Penjagalan Jakut.
20. MR X korban ditemukan mengambang di kolam ikan milik Sukiman di Jalan YDPP Selatan, Nomor A2, RT 006/002 Cilandak Jaksel.
21. MR X korban ditemukan warga dipinggir kali Ciliwung saat membersihkan rumah pasca banjir di Jalan Bina Marga RT 003/07 Pancoran Jaksel.
22. Tri santoso (34) Warga Jalan Kud RT 10/17 Sukmajaya Cilodong, Depok Jabar, dan Tito (30), warga Klender Jakti. Dua orang ini adalah korban selamat di basement UOB. (WFz)
Sumber : http://www.gatra.com/nusantara/nasional/23433-seminggu-terjang-jakarta,-banjir-renggut-26-korban-jiwa.html
Berikut data-data korban yang berhasil dicatat pihak kepolisian:
1. Raif Anjar Agasi (13) warga Gang Anggur VI, Tanjung Duren, Jakbar meninggal akibat mandi di kali saat banjir kemudian korban terbawa arus.
2. Mujiyo (43) korban tersengat listrik saat memperbaiki instalasi listrik di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.
3. Muhammad Haikal (2), korban terjatuh dari tempat tidur di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar, saat itu rumahnya terendam banjir 1 meter, korban tenggelam dan tewas.
4. Sanin (68), korban pulang mencari rumput di areal persawahan ang sat itu banjir setinggi 1,7 meter. Korban yang menggunakan perahu dari gabus tiba-tiba terjatuh dan tenggelam. Korban ditemukan tewas di Kampung Banteng RT 02/01 Desa Pasir Munceng, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tengerang.
5. Santan (60), korban sedang menggembala kerbau di pinggir sungai Cimanceri, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang sedang dalam keadaan meluap (banjir), kemudian korban jatug dan terbawa arus.
6. Karno (35), korban bermaksud menyebrang kali di Jalan J RT 06/10 Kebon Baru, Tebet, Jaksel ke wilayah timur pada saat banjir kemudian terbawa arus dan diemukan mati.
7. Omang (62) korban ditemukan warga dalam keadaan tewas di sungai Cibeet Bojongmangu Kab Bekasi dikarenakan korban hanyut terbawa arus saat menyebrangi sungai di Kampung Cibarengkok RT 05/03 Tanjung Sari, Kab Bogor.
8. Andi Alias Abi (17) korban sedang mandi di Kali Spion RT 03/03, Gondrong, Cipondoh, Kota Tangerang yang sedang banjir kemudian korban tenggelam, korban ditemukan satu hari kemudian.
9. Suharyanto bin Tagam (55), korban ditemukan MD oleh istrinya diduga tersengat listrik dari rumah korban di Jalan Kayu Mas Timur Nomor 20 RT 04/03 Pulogadung Jaktim.
10. Riko (6), korban bersama dua orang anak lainnya main dipinggir kali yang banjir di Kali Cilangkap Setu RT 04/04 Setu Cipayung Jaktim kemudian korban terpleset dan terbawa arus, sampai saat ini korban belum ditemukan.
11. Solahudin (35), Korban tewas tersetrum saat menolong saksi (Adilia) di Jalan Gang 20 RT 05/05 Kelurahan Kalibata, Pancoran, Jaksel.
12. Abdul Arif Agus (34), karyawan UOB yang ditemukan tim SAR dalam keadaan MD dengan hidung mengeluarkan darah akibat terjebak di basement yang terendam banjir.
13. Hendro Suwono (68), korban terjebak macet karena adanya banjir di Depan RS Pluit Jalan Pulit Jaya VIII penjaringan jakut. Kemudian korban menghentikan mobil tanpa mematikan mesin, karena terlalu banyak menghirup gas C02 korban kehilangan kesadaran dan meninggal. Istri korban yang berada dalam satu mobil, masih dalam proses penyelematan.
14. Uidn Wahyudin (34), korban meninggal dunia akibat tenggelam di rumahnya di RT 08/08 Kedaung, Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.
15. Handoko Waluyo (60), korban ditemukan meninggal terapung di Jalan Baldongan RT 06/01 Tambora, Jakbar, diduga korban tewas terperosok ke saluran pembuangan air yang cukup dalam.
16. Rudi Tiono (43), korban dalam keadaan lumpuh dan kurang waras, korban ditemukan mengambang di air tertutup kasur di dalam rumahnya di Perum Daan Mogot Estate Blok Fa 4/4 RT 04/15 Cengkareng Timur, Jakbar.
17. Muhayaolloh (15), korban bersama empat teman berenang di Kali Spion Ampera Depan Masjid Al Huston Poris Jaya, Batu Ceper, Kota Tangerang yang saaat itu banjir, korban kemudian terbawa arus dan tenggelam.
18. Asep Saipul Bahri (19), korban bermaksud menyebrangi sungai di Kampung Busuk RT 03/05 Pasirbanjir Cikarang Pusat, Bekasi Kabupaten, yang banjir dengan cara berenang, namun korban terseret arus dan meninggal.
19. Kasim (48), Nanang (21), Suratman (25), Rudi (22), saat itu korban kebanjiran dan listrik padan kemudian menyalakan genset dan para korban ditemukan dilantai atas dalam keadaan MD diduga keracunan asap genset, TKP Taman Permata Indah 1 Blok PN 3A RT 14/07 Penjagalan Jakut.
20. MR X korban ditemukan mengambang di kolam ikan milik Sukiman di Jalan YDPP Selatan, Nomor A2, RT 006/002 Cilandak Jaksel.
21. MR X korban ditemukan warga dipinggir kali Ciliwung saat membersihkan rumah pasca banjir di Jalan Bina Marga RT 003/07 Pancoran Jaksel.
22. Tri santoso (34) Warga Jalan Kud RT 10/17 Sukmajaya Cilodong, Depok Jabar, dan Tito (30), warga Klender Jakti. Dua orang ini adalah korban selamat di basement UOB. (WFz)
Sumber : http://www.gatra.com/nusantara/nasional/23433-seminggu-terjang-jakarta,-banjir-renggut-26-korban-jiwa.html
Rabu, 07 November 2012
Cara Unik Jokowi Pimpin Simulasi Banjir
JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memiliki cara tersendiri dan unik dalam menggelar apel atau pengarahan gubernur. Kesan formal tidak tampak terlihat. Justru yang muncul kesan komunikatif dan santai.
Hal ini tampak apel siaga banjir yang digelar di Monas pada Selasa (6/11/2012) pagi. Jokowi dengan gayanya yang santai, langsung menginstruksikan peserta apel untuk menggelar simulasi daripada harus panjang lebar mendengarkan instruksi yang memakan waktu berjam-jam.
Dalam Apel tersebut, Jokowi meminta beberapa personel dari Tim Reaksi Cepat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) Jaya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan simulasi penanganan banjir dan evakuasi korban banjir.
Hanya tujuh menit Jokowi menyampaikan arahan. Setelah itu, dia meminta empat personel tim reaksi cepat Satpol PP untuk maju ke depan melakukan evakuasi korban banjir.
"Saya mau minta tim reaksi cepat Satpol PP empat orang ke depan. Nanti kalau ada banjir larinya secepat sekarang ini ya," kata Jokowi kepada petugas Satpol PP itu. Kemudian, Jokowi langsung memimpin roleplay tersebut.
"Ayo coba, kalau ada banjir di Bukit Duri, kemudian ada korban pingsan di pinggir kali. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jokowi kepada empat petugas Satpol PP tersebut.
Kemudian, keempat petugas Satpol PP itu melakukan pertolongan pertama kepada salah satu petugas kebersihan Monas yang berakting menjadi korban banjir Bukit Duri. Setelah itu, korban banjir itu diangkat oleh keempat petugas itu dan ditidurkan di atas trotoar.
Setelah puas 'bermain-main' dengan Satpol PP, Jokowi kemudian meminta dua petugas dari PLN dan dua petugas PDAM Jaya untuk maju ke depan menghadapnya. Dia juga menanyakan apa yang dilakukan PLN dan PDAM Jaya bila terjadi banjir di Kampung Melayu.
"Coba PLN dan PDAM, kalau ada banjir di Kampung Melayu, apa yang akan dilakukan PLN?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.
Petugas PLN itu pun kemudian memperagakan dengan berbicara di HT.
"Itu kamu ngapain itu?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.
"Sedang di-calling ke wilayah untuk matikan aliran listrik," jawab petugas PLN.
"Kalau digantikan ada ganti gensetnya tidak?" tanya Jokowi.
"Ada gardu bergeraknya, Pak," jawab petugas PLN.
Selanjutnya, Jokowi bertanya kepada petugas PDAM terkait response time PDAM.
"Kalau PDAM apa yang dilakukan kalau banjir? Langsung bawa air atau koordinasi? Berapa menit air datang ke lokasi?" tanya Jokowi.
Petugas PDAM itu menjawab, response time mereka tiba di lokasi adalah sekitar tiga puluh menit. Jokowi pun meyakini PDAM kembali dengan nada sedikit mengancam, namun santai.
"Setengah jam? Bener ya, saya cek betul setengah jam. Saya catet ini. Setengah jam harus sampai di lokasi. Saya catet lho, hati-hati lho ya," kata Jokowi.
Setelah itu, giliran personel Tagana dan Dinas PU DKI dipanggil ke hadapannya. Pertanyaan yang sama pun dilontarkan oleh Jokowi kepada keempat petugas DPU DKI.
"Bagaimana kalau ada banjir?" tanya Jokowi.
"Evaluasi dan mencatat informasi," kata petugas Tagana itu.
Kemudian, Jokowi bertanya kepada Dinas PU DKI dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya. "Apa yang akan dilakukan saat banjir?" tanya Jokowi.
Petugas Dinas PU DKI menjawab akan melakukan koordinasi. Mendengar jawaban itu, Jokowi terdiam sebentar. Ia pun mengatakan, apabila banjir, petugas itu harus langsung bergerak jangan hanya sekadar mengumpulkan informasi.
"Kalau banjirnya datang tidak usah mengumpulkan informasi. Langsung saja bergerak cepat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Koordinasi nanti kalau akan memberikan arahan apa yang dibutuhkan. Nanti kalau saya tanya lagi, jangan dijawab koordinasi lagi lho ya," kata Jokowi.
Kemudian, petugas Dinas PU DKI langsung menjawab akan menyediakan pompa.
"Nah, itu jawaban yang dari tadi saya tunggu-tunggu," kata Jokowi yang disambut tawa peserta apel.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/06/21182425/Cara.Unik.Jokowi.Pimpin.Simulasi.Banjir
Hal ini tampak apel siaga banjir yang digelar di Monas pada Selasa (6/11/2012) pagi. Jokowi dengan gayanya yang santai, langsung menginstruksikan peserta apel untuk menggelar simulasi daripada harus panjang lebar mendengarkan instruksi yang memakan waktu berjam-jam.
Dalam Apel tersebut, Jokowi meminta beberapa personel dari Tim Reaksi Cepat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) Jaya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan simulasi penanganan banjir dan evakuasi korban banjir.
Hanya tujuh menit Jokowi menyampaikan arahan. Setelah itu, dia meminta empat personel tim reaksi cepat Satpol PP untuk maju ke depan melakukan evakuasi korban banjir.
"Saya mau minta tim reaksi cepat Satpol PP empat orang ke depan. Nanti kalau ada banjir larinya secepat sekarang ini ya," kata Jokowi kepada petugas Satpol PP itu. Kemudian, Jokowi langsung memimpin roleplay tersebut.
"Ayo coba, kalau ada banjir di Bukit Duri, kemudian ada korban pingsan di pinggir kali. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jokowi kepada empat petugas Satpol PP tersebut.
Kemudian, keempat petugas Satpol PP itu melakukan pertolongan pertama kepada salah satu petugas kebersihan Monas yang berakting menjadi korban banjir Bukit Duri. Setelah itu, korban banjir itu diangkat oleh keempat petugas itu dan ditidurkan di atas trotoar.
Setelah puas 'bermain-main' dengan Satpol PP, Jokowi kemudian meminta dua petugas dari PLN dan dua petugas PDAM Jaya untuk maju ke depan menghadapnya. Dia juga menanyakan apa yang dilakukan PLN dan PDAM Jaya bila terjadi banjir di Kampung Melayu.
"Coba PLN dan PDAM, kalau ada banjir di Kampung Melayu, apa yang akan dilakukan PLN?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.
Petugas PLN itu pun kemudian memperagakan dengan berbicara di HT.
"Itu kamu ngapain itu?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.
"Sedang di-calling ke wilayah untuk matikan aliran listrik," jawab petugas PLN.
"Kalau digantikan ada ganti gensetnya tidak?" tanya Jokowi.
"Ada gardu bergeraknya, Pak," jawab petugas PLN.
Selanjutnya, Jokowi bertanya kepada petugas PDAM terkait response time PDAM.
"Kalau PDAM apa yang dilakukan kalau banjir? Langsung bawa air atau koordinasi? Berapa menit air datang ke lokasi?" tanya Jokowi.
Petugas PDAM itu menjawab, response time mereka tiba di lokasi adalah sekitar tiga puluh menit. Jokowi pun meyakini PDAM kembali dengan nada sedikit mengancam, namun santai.
"Setengah jam? Bener ya, saya cek betul setengah jam. Saya catet ini. Setengah jam harus sampai di lokasi. Saya catet lho, hati-hati lho ya," kata Jokowi.
Setelah itu, giliran personel Tagana dan Dinas PU DKI dipanggil ke hadapannya. Pertanyaan yang sama pun dilontarkan oleh Jokowi kepada keempat petugas DPU DKI.
"Bagaimana kalau ada banjir?" tanya Jokowi.
"Evaluasi dan mencatat informasi," kata petugas Tagana itu.
Kemudian, Jokowi bertanya kepada Dinas PU DKI dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya. "Apa yang akan dilakukan saat banjir?" tanya Jokowi.
Petugas Dinas PU DKI menjawab akan melakukan koordinasi. Mendengar jawaban itu, Jokowi terdiam sebentar. Ia pun mengatakan, apabila banjir, petugas itu harus langsung bergerak jangan hanya sekadar mengumpulkan informasi.
"Kalau banjirnya datang tidak usah mengumpulkan informasi. Langsung saja bergerak cepat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Koordinasi nanti kalau akan memberikan arahan apa yang dibutuhkan. Nanti kalau saya tanya lagi, jangan dijawab koordinasi lagi lho ya," kata Jokowi.
Kemudian, petugas Dinas PU DKI langsung menjawab akan menyediakan pompa.
"Nah, itu jawaban yang dari tadi saya tunggu-tunggu," kata Jokowi yang disambut tawa peserta apel.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/06/21182425/Cara.Unik.Jokowi.Pimpin.Simulasi.Banjir
Label:
bukit
,
empat
,
korban
,
menggelar
,
mengumpulkan
,
perusahaan
,
response
,
tanya
Selasa, 23 Oktober 2012
Kali Ciliwung Meluap
Warga: Kalau Banjir 2 Meter Itu Masih Biasa
INILAH.COM, Jakarta - Meski ratusan rumah warga yang tinggal di kawasan Kampung Pulo, Kampung Melayu tepatnya bantaran Kali Ciliwung terendam banjir hingga setinggi 100-120 sentimeter, para warga belum ada yang mengungsi. Mereka masih menetap di rumah tinggalnya yang kebanyakan berlantai dua.
Menurut warga, banjir akibat luapan air Kali Ciliwung sudah menjadi langganan warga Kampung Pulo. Untuk mengantisipasinya, kebanyakan bangunan warga yang berjarak 5-15 meter dari bibir Kali Ciliwung memiliki lebih dari 1 lantai.
"Warga sini sudah langganan banjir semua. Makanya kalau banjir setinggi 1 sampai 2 meter itu masih dianggap biasa," kata Faisal (35) warga RW 03 Kampung Melayu, Senin (22/10/2012).
Dari informasi yang dihimpun, ada 6 RW dan 34 RT di Kampung Melayu yang terendam banjir dengan ketinggian 100-120 sentimeter. Dan ratusan kepala keluarga korban banjir hingga kini belum ada yang mengungsi.
Berdasarkan catatan di Kelurahan Kampung Melayu menyebutkan banjir di lingkungan RW 01 menggenangi 4 RT, di RW 02 ada 7 RT, di RW 03 ada 14 RT, di RW 04 ada 1 RT, RW 05 ada 2 RT dan RW 07 ada 6 RT yang terendam banjir.
Hingga kini para warga masih mengandalkan perahu karet untuk hilir mudik dari rumah tinggalnya ke dataran lebih tinggi. Sehingga warga korban banjir masih bisa melakukan aktivitas sekolah maupun bekerja.
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1918488/warga-kalau-banjir-2-meter-itu-masih-biasa
Menurut warga, banjir akibat luapan air Kali Ciliwung sudah menjadi langganan warga Kampung Pulo. Untuk mengantisipasinya, kebanyakan bangunan warga yang berjarak 5-15 meter dari bibir Kali Ciliwung memiliki lebih dari 1 lantai.
"Warga sini sudah langganan banjir semua. Makanya kalau banjir setinggi 1 sampai 2 meter itu masih dianggap biasa," kata Faisal (35) warga RW 03 Kampung Melayu, Senin (22/10/2012).
Dari informasi yang dihimpun, ada 6 RW dan 34 RT di Kampung Melayu yang terendam banjir dengan ketinggian 100-120 sentimeter. Dan ratusan kepala keluarga korban banjir hingga kini belum ada yang mengungsi.
Berdasarkan catatan di Kelurahan Kampung Melayu menyebutkan banjir di lingkungan RW 01 menggenangi 4 RT, di RW 02 ada 7 RT, di RW 03 ada 14 RT, di RW 04 ada 1 RT, RW 05 ada 2 RT dan RW 07 ada 6 RT yang terendam banjir.
Hingga kini para warga masih mengandalkan perahu karet untuk hilir mudik dari rumah tinggalnya ke dataran lebih tinggi. Sehingga warga korban banjir masih bisa melakukan aktivitas sekolah maupun bekerja.
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1918488/warga-kalau-banjir-2-meter-itu-masih-biasa
Label:
kebanyakan
,
korban
,
langganan
,
melayu
,
meter
,
tinggalnya
Rabu, 04 April 2012
Banjir Mengepung Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Senin (2/4) hingga kemarin menyebabkan banjir di sebagian wilayah Jakarta. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, tidak ada korban jiwa dalam banjir di Jakarta, kali ini.
"Tidak ada korban jiwa dari banjir tersebut. Ratusan rumah terendam banjir, sebagian masyarakat mengungsi dan kemacetan parah terjadi di beberapa tempat," katanya dalam pesan singkatnya, Rabu (4/4) pagi.
Banjir tersebut terjadi akibat luapan Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan Kali Krukut dan menggenangi wilayah di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Tangerang. Ketinggian banjir mencapai 1,5 meter. "Sedangkan sebagian masyarakat terendam akibat luapan Kali Ciliwung," katanya.
Di Jakarta Timur banjir terjadi di Kecamatan Pasar Rebo (Kelurahan Kali Sari dan Cijantung) dan Kecamatan Jatinegara (Kelurahan Kampung Melayu). Di Jakarta Selatan terjadi di Kecamatan Pesanggrahan (Kelurahan Cipedak dan Ulujami), serta Kecamatan Kebayoran Baru (Kelurahan Petogogan).
Kemacetan parah terjadi di beberapa tempat Di Kecamatan Pesanggrahan dan Kebayoran baru akibat 6 RW yang terendam dengan pengungsi 850 jiwa, karena tergenang banjir setinggi 30-150 cm. Sementara di wilayah Kampung Melayu, wilayah terkena banjir RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05, RW 07, warga terdampak 1.068 KK dengan ketinggian genangan 20-100 cm.
Posko Banjir dan tempat pengungsian untuk mengantisipasi banjir sejak kemarin pagi sudah disediakan di aula berkapasitas 500 jiwa dan beberapa tenda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta bersama Sudinkes dan Dinas Suku Dinas PU Jaktim sudah siap di lokasi.
Sumber : http://www.republika.co.id//berita/nasional/umum/12/04/04/m1xgiq-banjir-mengepung-jakarta
"Tidak ada korban jiwa dari banjir tersebut. Ratusan rumah terendam banjir, sebagian masyarakat mengungsi dan kemacetan parah terjadi di beberapa tempat," katanya dalam pesan singkatnya, Rabu (4/4) pagi.
Banjir tersebut terjadi akibat luapan Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan Kali Krukut dan menggenangi wilayah di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Tangerang. Ketinggian banjir mencapai 1,5 meter. "Sedangkan sebagian masyarakat terendam akibat luapan Kali Ciliwung," katanya.
Di Jakarta Timur banjir terjadi di Kecamatan Pasar Rebo (Kelurahan Kali Sari dan Cijantung) dan Kecamatan Jatinegara (Kelurahan Kampung Melayu). Di Jakarta Selatan terjadi di Kecamatan Pesanggrahan (Kelurahan Cipedak dan Ulujami), serta Kecamatan Kebayoran Baru (Kelurahan Petogogan).
Kemacetan parah terjadi di beberapa tempat Di Kecamatan Pesanggrahan dan Kebayoran baru akibat 6 RW yang terendam dengan pengungsi 850 jiwa, karena tergenang banjir setinggi 30-150 cm. Sementara di wilayah Kampung Melayu, wilayah terkena banjir RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05, RW 07, warga terdampak 1.068 KK dengan ketinggian genangan 20-100 cm.
Posko Banjir dan tempat pengungsian untuk mengantisipasi banjir sejak kemarin pagi sudah disediakan di aula berkapasitas 500 jiwa dan beberapa tenda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta bersama Sudinkes dan Dinas Suku Dinas PU Jaktim sudah siap di lokasi.
Sumber : http://www.republika.co.id//berita/nasional/umum/12/04/04/m1xgiq-banjir-mengepung-jakarta
Label:
jakarta
,
kebayoran
,
kecamatan
,
kemacetan
,
korban
,
masyarakat
,
penanggulangan
,
pesanggrahan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)