TEMPO.CO , Depok - Sebanyak 28 armada Transjabodetabek siap beroperasi di Kota Depok, pekan ini. Untuk tahap awal, rencananya bus tersebut bakal beroperasi dari Terminal Depok sampai PGC Cililitan.
Kepala Seksi Angkutan Dalam Kota Dinas Perhubungan Akhmat Zaini mengatakan, Sabtu sore, Transjabodetabek sudah diluncurkan di Jakarta. Di Depok, dalam beberapa hari ke depan, bus Transjabodetabek sudah bisa beroperasi.
"Tapi sementara dengan armada 28 baru bisa melayani sampai PGC Cililitan. Nunggu armada tambahan baru bisa melayani sampai Terminal Grogol," kata Zaini, Minggu, 23 Agustus 2015.
Adapun rute Transjabodetabek dari Depok dimulai dari Terminal Terpadu Depok, Jalan Juanda, Tol Cijago-Jagorawi, ke luar Universitas Kristen Indonesia, lalu masuk jalur Transjakarta. Untuk sarana dan prasarana, untuk sementara digunakan yang sudah ada lebih dulu lantaran belum ada pembangunan baru.
Headway Transjabodetabek pada jam sibuk adalah setiap 7 menit dan di luar jam sibuk 15 menit. Jam operasional Transjabodetabek adalah pukul 05.00-22.00 WIB. "Penambahan armada diperkirakan akhir tahun ini atau awal tahun depan sebanyak 25 bus Transjabodetabek," ujarnya.
Salah satu kewajiban yang diberikan Kementerian Perhubungan kepada Dishub Kota Depok adalah kepastian soal standar pelayanan minimal headway Transjabodetabek yang sudah ditetapkan Kementerian. Secara teknis, Transjabodetabek berada di bawah Kementerian Perhubungan. Namun, secara usaha dipegang PPD, yang menjadi bagian dari badan usaha milik negara.
Untuk tahap awal ini, penumpang naik dan turun di Terminal Depok, Jalan Kedondong Pesona Khayangan, Juanda di Sugutamu dan Saminten, serta Pelni, yang sudah dipasangi rambu shelter. "Kami akan sediakan 14 halte di Depok. Empat di Margonda dan sepuluh di Jalan Juanda," ujarnya.
Endah Pangestuti, 23 tahun, menyambut positif rencana pengoperasian armada Transjabodetabek. Perempuan yang bekerja di Jakarta ini mengaku memang selalu menggunakan kendaraan umum untuk menuju tempat kerjanya.
"Ya mudah-mudahan bisa lebih cepat dengan adanya Transjabodetabek ini. Tapi seharusnya ada jalannya sendiri kayak jalur bus Transjakarta, agar enggak macet," ujarnya.
Transjabodetabek merupakan inisiatif dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Pembentukan badan layanan usaha (BLU) angkutan umum perkotaan untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) ini menjadi salah satu solusi dalam mengatasi kepadatan lalu lintas di jalan raya Ibu Kota yang terus tumbuh pesat.
Sumber : http://metro.tempo.co/read/news/2015/08/24/083694414/dari-depok-kini-bisa-naik-transjabodetabek-ke-jakarta
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label cililitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cililitan. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Agustus 2015
Dari Depok, Kini Bisa Naik Transjabodetabek ke Jakarta
Label:
armada
,
awal
,
bus
,
cililitan
,
depok
,
headway
,
jalan
,
jam sibuk
,
juanda
,
kementerian
,
kota
,
perhubungan
,
pgc
,
tahap
,
terminal
,
transjabodetabek
,
transjakarta
,
usaha
,
zaini
Selasa, 11 Desember 2012
Sembilan Ton Sampah di Cililitan Terbengkalai
SAMPAH di lokasi saringan sampah otomatis Kali Baru, Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur, dibiarkan menggunung. Sedikitnya, sembilan ton sampah dibiarkan menumpuk sejak 15 November 2012. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan sampah-sampah tersebut menjadi biang penyakit warga sekitar.
Kepala Operator Saringan Sampah Otomatis Kali Baru, Iwan Maulana, mengatakan, kondisi tersebut terjadi lantaran tidak adanya petugas yang mengangkut sampah-sampah tersebut. Dirinya sudah melaporkan hal ini kepada Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, namun belum juga ada tanggapan.
"Biasanya petugas yang mengangkat sampahnya adalah UPT Alkal. Cuma yang saya dengar sekarang tugas dan kewenangannya sudah dipindah ke kontraktor lain. Tapi saya juga bingung kenapa sudah sekitar tiga minggu ini tidak ada petugas yang mengangkatnya," ujarnya.
Akibatnya, Iwan mengaku selama sekitar tiga minggu ini bekerja sendiri mengangkat sampah-sampah yang tersangkut sekitar saringan sampah otomatis Kali Baru, di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) Cililitan itu. Selanjutnya, sampah-sampah itu terpaksa menumpuk di tempat penampungan di sekitarnya.
Tampak sampah-sampah tersebut kebanyakan berupa limbah rumah tangga berjenis plastik. Ada pula batang pohon dan dedaunan, ban bekas, peti telur, sayur-mayur, dan lain sebagainya.
"Kalau masih basah tumpukan sampah terlihat meninggi, ini karena sudah kering jadinya terlihat agak menurun. Kalau dihitung-hitung totalnya sekarang ada sekitar sembilan ton," ujarnya.
Sementara Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyayangkan terbengkalainya penanganan sampah di kali tersebut. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran ada tumpang tindih pertanggungjawaban masalah sampah.
"Saat ini tanggung jawabnya ada di mana-mana. Ada Dinas Pertamanan mengurusi sampah di taman, PU mengurusi sampah di kali, ada juga Dinas Kebersihan, ini kan overlaping namanya. Malahan pernah saat saya mintai tanggung jawab ada yang bilang itu bukan tanggung jawabnya," kata Jokowi di Ciracas, Senin (10/12).
Dia berencana pada tahun 2013 akan merombak sistem penanganan sampah. Yakni dengan menugaskan Dinas Kebersihan DKI Jakarta sebagai penanggung jawab masalah kebersihan baik di darat, air, maupun di taman.
"Tahun depan saya akan perintahkan yang pegang hanya Dinas Kebersihan, baik itu sampah yang ada di sungai, di taman, sampah yang ada di mana pun dia yang tanggung jawab," tegasnya.(dni/jpnn)
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/12/11/149989/Sembilan-Ton-Sampah-di-Cililitan-Terbengkalai-
Kepala Operator Saringan Sampah Otomatis Kali Baru, Iwan Maulana, mengatakan, kondisi tersebut terjadi lantaran tidak adanya petugas yang mengangkut sampah-sampah tersebut. Dirinya sudah melaporkan hal ini kepada Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, namun belum juga ada tanggapan.
"Biasanya petugas yang mengangkat sampahnya adalah UPT Alkal. Cuma yang saya dengar sekarang tugas dan kewenangannya sudah dipindah ke kontraktor lain. Tapi saya juga bingung kenapa sudah sekitar tiga minggu ini tidak ada petugas yang mengangkatnya," ujarnya.
Akibatnya, Iwan mengaku selama sekitar tiga minggu ini bekerja sendiri mengangkat sampah-sampah yang tersangkut sekitar saringan sampah otomatis Kali Baru, di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) Cililitan itu. Selanjutnya, sampah-sampah itu terpaksa menumpuk di tempat penampungan di sekitarnya.
Tampak sampah-sampah tersebut kebanyakan berupa limbah rumah tangga berjenis plastik. Ada pula batang pohon dan dedaunan, ban bekas, peti telur, sayur-mayur, dan lain sebagainya.
"Kalau masih basah tumpukan sampah terlihat meninggi, ini karena sudah kering jadinya terlihat agak menurun. Kalau dihitung-hitung totalnya sekarang ada sekitar sembilan ton," ujarnya.
Sementara Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) menyayangkan terbengkalainya penanganan sampah di kali tersebut. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran ada tumpang tindih pertanggungjawaban masalah sampah.
"Saat ini tanggung jawabnya ada di mana-mana. Ada Dinas Pertamanan mengurusi sampah di taman, PU mengurusi sampah di kali, ada juga Dinas Kebersihan, ini kan overlaping namanya. Malahan pernah saat saya mintai tanggung jawab ada yang bilang itu bukan tanggung jawabnya," kata Jokowi di Ciracas, Senin (10/12).
Dia berencana pada tahun 2013 akan merombak sistem penanganan sampah. Yakni dengan menugaskan Dinas Kebersihan DKI Jakarta sebagai penanggung jawab masalah kebersihan baik di darat, air, maupun di taman.
"Tahun depan saya akan perintahkan yang pegang hanya Dinas Kebersihan, baik itu sampah yang ada di sungai, di taman, sampah yang ada di mana pun dia yang tanggung jawab," tegasnya.(dni/jpnn)
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/12/11/149989/Sembilan-Ton-Sampah-di-Cililitan-Terbengkalai-
Label:
cililitan
,
dinas
,
dki
,
iwan
,
jakarta
,
jokowi
,
kali
,
kebersihan
,
lantaran
,
otomatis
,
penanganan
,
petugas
,
sampah
,
sampah-sampah
,
saringan
,
taman
,
tanggung
,
tanggung jawab
Selasa, 09 Oktober 2012
Habis Banjir, "Terbit" Tumpukan Sampah
JAKARTA, KOMPAS.com - Permasalahan di Jakarta semakin bertumpuk. Paskabanjir akibat luapan Kali Baru yang terjadi di Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2012) malam hingga Senin (8/10/2012) pagi, timbul permasalahan baru. Sampah tampak menumpuk di pintu air dan di pipa saluran air yang melintang di kali tersebut.
Berdasarkan pantauan, berbagai jenis sampah mulai dari sampah plastik, kayu, sisa-sisa makanan hingga kasur saling menumpuk di kali yang memiliki hulu di Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat tersebut.
Tumpukan sampah itu tertahan di pipa saluran air yang melintang di atas kali. Sebab permukaan air kali telah mencapai ketinggian yang sama dengan pipa itu.
Tumpukan berbagai jenis sampah tersebut pun mengakibatkan pemandangan tak sedap sepanjang mata memandang. Tak hanya itu, sampah-sampah itu pun menyebabkan bau tak sedap sehingga mengundang lalat untuk hinggap.
Sampah, rupanya tak hanya menumpuk di Kali Baru, namun juga di Jl Raya Condet, jalan yang Senin pagi digenangi air luapan kali. Serbagai jenis sampah tampak berserakan di jalan yang di sisi-sisinya terdapat deretan toko parfum.
Mulyadi (51), salah seorang warga mengatakan, tumpukan sampah tersebut merupakan sisa dari banjir yang menggenangi permukiman. Banjir yang diakibatkan luapan volume air Kali Baru itu, telah terjadi setidaknya sejak tiga hari belakangan.
"Banjir pertama Sabtu malam. Terus yang kedua ya tadi malam sampai pagi, tingginya sekitar 30 centimeter. Waktu banjir, sampah-sampahnya masuk ke rumah. Pas sudah surut ya numpuk di sini," ujar Mulyadi saat ditemui Kompas.com, Senin (8/10/2012) sore.
Menurut Mulyadi, meluapnya volume air di kali itu lantaran hujan yang terjadi di wilayah Bogor, atau yang kerap disebut banjir kiriman. Oleh sebab itu, volume air di kali tersebut pun turut meningkat.
Namun, kondisi itu pun di perparah oleh masyarakat sepanjang kali yang membuang sampah sembarangan di kali tersebut.
"Ini kali kan panjang. Orang dari Pasar Kramat Jati, dari mana lagi enggak tau. Mereka main buang sampah saja ke kali. Ya jadi begini lah," sesalnya.
Banjir yang terjadi Senin pagi terjadi di dua RT, yaitu RT 01 dan RT 03, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur. Tak hanya menggenangi rumah warga, air yang berwarna kecokelatan itu juga menggenangi dua jalan, yaitu Jl Raya Bogor dan Jl Raya Condet.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/09/06161769/Habis.Banjir.Terbit.Tumpukan.Sampah
Berdasarkan pantauan, berbagai jenis sampah mulai dari sampah plastik, kayu, sisa-sisa makanan hingga kasur saling menumpuk di kali yang memiliki hulu di Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat tersebut.
Tumpukan sampah itu tertahan di pipa saluran air yang melintang di atas kali. Sebab permukaan air kali telah mencapai ketinggian yang sama dengan pipa itu.
Tumpukan berbagai jenis sampah tersebut pun mengakibatkan pemandangan tak sedap sepanjang mata memandang. Tak hanya itu, sampah-sampah itu pun menyebabkan bau tak sedap sehingga mengundang lalat untuk hinggap.
Sampah, rupanya tak hanya menumpuk di Kali Baru, namun juga di Jl Raya Condet, jalan yang Senin pagi digenangi air luapan kali. Serbagai jenis sampah tampak berserakan di jalan yang di sisi-sisinya terdapat deretan toko parfum.
Mulyadi (51), salah seorang warga mengatakan, tumpukan sampah tersebut merupakan sisa dari banjir yang menggenangi permukiman. Banjir yang diakibatkan luapan volume air Kali Baru itu, telah terjadi setidaknya sejak tiga hari belakangan.
"Banjir pertama Sabtu malam. Terus yang kedua ya tadi malam sampai pagi, tingginya sekitar 30 centimeter. Waktu banjir, sampah-sampahnya masuk ke rumah. Pas sudah surut ya numpuk di sini," ujar Mulyadi saat ditemui Kompas.com, Senin (8/10/2012) sore.
Menurut Mulyadi, meluapnya volume air di kali itu lantaran hujan yang terjadi di wilayah Bogor, atau yang kerap disebut banjir kiriman. Oleh sebab itu, volume air di kali tersebut pun turut meningkat.
Namun, kondisi itu pun di perparah oleh masyarakat sepanjang kali yang membuang sampah sembarangan di kali tersebut.
"Ini kali kan panjang. Orang dari Pasar Kramat Jati, dari mana lagi enggak tau. Mereka main buang sampah saja ke kali. Ya jadi begini lah," sesalnya.
Banjir yang terjadi Senin pagi terjadi di dua RT, yaitu RT 01 dan RT 03, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur. Tak hanya menggenangi rumah warga, air yang berwarna kecokelatan itu juga menggenangi dua jalan, yaitu Jl Raya Bogor dan Jl Raya Condet.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/09/06161769/Habis.Banjir.Terbit.Tumpukan.Sampah
Label:
bogor
,
cililitan
,
jakarta
,
jalan
,
jenis
,
malam
,
melintang
,
menggenangi
,
permasalahan
,
volume
Rabu, 25 Juli 2012
Nasib "Romusa" Cililitan
KOMPAS.com — "Sering kali kau merendahkanku, melihat dengan sebelah bola matamu, aku bukan siapa-siapa." Lirik lagu salah satu kelompok musik terkenal Ibu Kota tersebut mengalir sumbang, dipadu genjrengan gitar kecil milik Diwa Pinasdi (15).
Menjelang adzan maghrib, remaja putus sekolah itu masih saja mengamen di salah satu ruas jalan di persimpangan Cililitan, Jakarta Timur.
"Ngamen sejak kelas 2 SD. Ya pengin aja. Penginnya keluar rumah aja," ujarnya saat ditemui pada Senin (23/7/2012) malam.
Senada dengan anak jalanan kebanyakan, Diwa berasal dari keluarga romusa. "Rombongan orang susah," ujarnya santai disertai sesungging senyum. "Kakak saya satu, satpam, adik dua masih kecil-kecil," katanya.
Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan umum 06 jurusan Pasar Rebo-Cililitan, sementara sang ibu hanya ibu rumah tangga biasa.
Selain mengamen, Diwa mengaku kerap jadi "atlet lari" dadakan ketika berhadapan dengan Satpol PP. "Lumayan, biar bapak enggak berat-berat amat. Gua kan bisa makan sendiri," ujarnya.
Segelas teh manis dicampur es ditenggaknya. Menyegarkan kerongkongan yang dipakainya untuk jual suara, sejak pukul 09.00 pagi. Sejenak, gitar kecil yang dibelinya sendiri itu disandarkan di taman kecil di persimpangan Cililitan, tempat ia biasa mangkal bersama belasan remaja dan anak seprofesi.
Ketika ditanya sampai kapan akan mengamen, dia sedikit tersentak dan diam. "Maunya sampai dapat kerja. Kerja dagang aja di pasar induk," lanjut remaja yang semula bercita-cita sebagai pilot tersebut.
Rentan berhadapan dengan hukum
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, anak dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, seperti Diwa, rentan terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum.
Dengan latar belakang demikian, terlebih pengawasan orangtua lemah, sang anak menghadapi tantangan hidup sendirian.
Berdasarkan data yang dimilikinya, setidaknya tercatat 788 kasus anak berhadapan dengan hukum. Sebanyak 759 anak laki-laki, sementara 29 perempuan dengan klasifikasi usia paling banyak antara 13 tahun dan 17 tahun dan sebanyak 9 orang berusia 6-12 tahun.
"Kasus yang paling banyak 312 kasus, disusul kekerasan 128 kasus, senjata tajam 119 kasus, narkoba 79 kasus, perjudian 37 kasus, pelecehan seksual 24 kasus, pembunuhan 6 kasus, dan penculikan 2 kasus," paparnya.
Untuk pengamen jalanan, ia setuju dengan langkah pemerintah dengan melakukan langkah represif, memasukkan anak-anak jalanan ke panti dinas sosial.
Menurut Arist, langkah tersebut tidaklah masalah, asalkan, pembinaan di dalam panti tersebut benar-benar dilakukan secara serius.
"Ya harus dibina sesuai spesifikasi mereka. Jangan malah dipidana. Kalau dipidana, mereka akan belajar kriminal lebih canggih lagi," lanjutnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/24/17322062/Nasib.Romusa.Cililitan
Menjelang adzan maghrib, remaja putus sekolah itu masih saja mengamen di salah satu ruas jalan di persimpangan Cililitan, Jakarta Timur.
"Ngamen sejak kelas 2 SD. Ya pengin aja. Penginnya keluar rumah aja," ujarnya saat ditemui pada Senin (23/7/2012) malam.
Senada dengan anak jalanan kebanyakan, Diwa berasal dari keluarga romusa. "Rombongan orang susah," ujarnya santai disertai sesungging senyum. "Kakak saya satu, satpam, adik dua masih kecil-kecil," katanya.
Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan umum 06 jurusan Pasar Rebo-Cililitan, sementara sang ibu hanya ibu rumah tangga biasa.
Selain mengamen, Diwa mengaku kerap jadi "atlet lari" dadakan ketika berhadapan dengan Satpol PP. "Lumayan, biar bapak enggak berat-berat amat. Gua kan bisa makan sendiri," ujarnya.
Segelas teh manis dicampur es ditenggaknya. Menyegarkan kerongkongan yang dipakainya untuk jual suara, sejak pukul 09.00 pagi. Sejenak, gitar kecil yang dibelinya sendiri itu disandarkan di taman kecil di persimpangan Cililitan, tempat ia biasa mangkal bersama belasan remaja dan anak seprofesi.
Ketika ditanya sampai kapan akan mengamen, dia sedikit tersentak dan diam. "Maunya sampai dapat kerja. Kerja dagang aja di pasar induk," lanjut remaja yang semula bercita-cita sebagai pilot tersebut.
Rentan berhadapan dengan hukum
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, anak dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, seperti Diwa, rentan terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum.
Dengan latar belakang demikian, terlebih pengawasan orangtua lemah, sang anak menghadapi tantangan hidup sendirian.
Berdasarkan data yang dimilikinya, setidaknya tercatat 788 kasus anak berhadapan dengan hukum. Sebanyak 759 anak laki-laki, sementara 29 perempuan dengan klasifikasi usia paling banyak antara 13 tahun dan 17 tahun dan sebanyak 9 orang berusia 6-12 tahun.
"Kasus yang paling banyak 312 kasus, disusul kekerasan 128 kasus, senjata tajam 119 kasus, narkoba 79 kasus, perjudian 37 kasus, pelecehan seksual 24 kasus, pembunuhan 6 kasus, dan penculikan 2 kasus," paparnya.
Untuk pengamen jalanan, ia setuju dengan langkah pemerintah dengan melakukan langkah represif, memasukkan anak-anak jalanan ke panti dinas sosial.
Menurut Arist, langkah tersebut tidaklah masalah, asalkan, pembinaan di dalam panti tersebut benar-benar dilakukan secara serius.
"Ya harus dibina sesuai spesifikasi mereka. Jangan malah dipidana. Kalau dipidana, mereka akan belajar kriminal lebih canggih lagi," lanjutnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/24/17322062/Nasib.Romusa.Cililitan
Label:
arist
,
berhadapan
,
cililitan
,
orang
,
persimpangan
,
salah
Selasa, 24 Juli 2012
Bocah Bertarung Hidup di Gemerlapnya Jakarta
Jakarta Tak semua anak bisa merayakan peringatan Hari Anak Nasional. Febry (15) salah satunya. Remaja ini harus bertarung hidup ditengah gemerlapnya Jakarta dengan mengamen.
Selama bertahun-tahun Febry harus merasakan teriknya matahari dan tebalnya asap knalpot demi melanjutkan hidupnya. Dia biasa mengamen di sekitar Cililitan, Jakarta Timur. Meski begitu ia masih menyimpan harapan untuk dapat bersekolah.
"Saya juga inginnya bisa sekolah, ingin meneruskan cita-cita saya sebagai TNI supaya bisa melindungi rakyat dan banggain orangtua saya," ujar Febry saat ditemui detikcom di seputaran Pusat Grosir Cililitan (PGC), Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7/2012).
Febry mengaku setiap harinya ia berangkat dari kontrakannya di daerah Condet sejak pukul 06.00 WIB kemudian memutari kawasan PGC. Terkadang ia harus mengamen di beberapa angkutan umum jurusan Pasar Minggu dan kembali ke PGC menjelang petang.
Tak berhenti di situ, Febry masih terus mengamen hingga pukul 22.00 WIB di kawasan pusat perbelanjaan tersebut. Penghasilannya sehari rata-rata berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
"Tapi kalau sekarang lagi sepi, enggak macet," kata Febry yang mengaku hari ini hanya mendapatkan Rp 8.000," ujarnya..
Tak berapa lama adzan Maghrib berkumandang, Febry pun lekas meminta izin untuk membeli semangkuk Soto Ayam untuk berbuka puasa dengan hasil ngamennya tadi. Rupanya satu mangkuk Soto itu tak hanya dinikmati oleh Febry sendiri. Ia bersama kawan-kawan pengamen lainnya ikut mengeroyok semangkuk Soto Ayam yang terlihat masih panas itu.
"Dulu saya sempat tidak ngamen karena dimarahi orangtua," cerita Febry usai berbuka puasa. Ia pun sempat ikut orang lain berjualan buah Duren.
"Kadang kalau lagi sepi saya melamun suka kangen kumpul bareng anak-anak jalanan lain, karena disitu saya merasakan senang maupun susah," sambungnya.
Selama menjadi pengamen, Febry mengaku belum pernah terjaring razia penertiban oleh Satpol PP. Namun adiknya yang juga seorang pengamen sudah pernah terjaring razia sebanyak 4 kali. Untuk membebaskan adiknya, Febry harus merogeh kocek yanng cukup dalam.
"Terakhir saya tebus bayar Rp 200.000. Adik saya juga cerita kalau ada pengamen yang meninggal di panti di daerah Cipayung karena sakit. Tapi orangtuanya tidak tahu akhirnya dikubur massal gitu saja," kata Febry yang menyesalkan kejadian tersebut.
Febry sendiri berharap ada perubahan perilaku Satpol PP dalam menertibkan para pengamen. "Jangan dipukul, kan bisa bilang baik-baik jangan ngamen, kita juga mengerti," pinta Febry.
Di Hari Anak Nasional ini, Febry berharap bisa mencicipi kebahagian seperti yang dirasakan anak-anak lain. "Berkumpul bersama keluarga, mendapat pelukan dan kasih sayang orangtua. Tapi itu tidak mungkin karena saya bekerja untuk membantu orang tua saya," tutupnya dengan pandangan mata nerawang jauh ke depan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/07/24/065020/1972933/10/bocah-bertarung-hidup-di-gemerlapnya-jakarta?9911012
Selama bertahun-tahun Febry harus merasakan teriknya matahari dan tebalnya asap knalpot demi melanjutkan hidupnya. Dia biasa mengamen di sekitar Cililitan, Jakarta Timur. Meski begitu ia masih menyimpan harapan untuk dapat bersekolah.
"Saya juga inginnya bisa sekolah, ingin meneruskan cita-cita saya sebagai TNI supaya bisa melindungi rakyat dan banggain orangtua saya," ujar Febry saat ditemui detikcom di seputaran Pusat Grosir Cililitan (PGC), Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7/2012).
Febry mengaku setiap harinya ia berangkat dari kontrakannya di daerah Condet sejak pukul 06.00 WIB kemudian memutari kawasan PGC. Terkadang ia harus mengamen di beberapa angkutan umum jurusan Pasar Minggu dan kembali ke PGC menjelang petang.
Tak berhenti di situ, Febry masih terus mengamen hingga pukul 22.00 WIB di kawasan pusat perbelanjaan tersebut. Penghasilannya sehari rata-rata berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
"Tapi kalau sekarang lagi sepi, enggak macet," kata Febry yang mengaku hari ini hanya mendapatkan Rp 8.000," ujarnya..
Tak berapa lama adzan Maghrib berkumandang, Febry pun lekas meminta izin untuk membeli semangkuk Soto Ayam untuk berbuka puasa dengan hasil ngamennya tadi. Rupanya satu mangkuk Soto itu tak hanya dinikmati oleh Febry sendiri. Ia bersama kawan-kawan pengamen lainnya ikut mengeroyok semangkuk Soto Ayam yang terlihat masih panas itu.
"Dulu saya sempat tidak ngamen karena dimarahi orangtua," cerita Febry usai berbuka puasa. Ia pun sempat ikut orang lain berjualan buah Duren.
"Kadang kalau lagi sepi saya melamun suka kangen kumpul bareng anak-anak jalanan lain, karena disitu saya merasakan senang maupun susah," sambungnya.
Selama menjadi pengamen, Febry mengaku belum pernah terjaring razia penertiban oleh Satpol PP. Namun adiknya yang juga seorang pengamen sudah pernah terjaring razia sebanyak 4 kali. Untuk membebaskan adiknya, Febry harus merogeh kocek yanng cukup dalam.
"Terakhir saya tebus bayar Rp 200.000. Adik saya juga cerita kalau ada pengamen yang meninggal di panti di daerah Cipayung karena sakit. Tapi orangtuanya tidak tahu akhirnya dikubur massal gitu saja," kata Febry yang menyesalkan kejadian tersebut.
Febry sendiri berharap ada perubahan perilaku Satpol PP dalam menertibkan para pengamen. "Jangan dipukul, kan bisa bilang baik-baik jangan ngamen, kita juga mengerti," pinta Febry.
Di Hari Anak Nasional ini, Febry berharap bisa mencicipi kebahagian seperti yang dirasakan anak-anak lain. "Berkumpul bersama keluarga, mendapat pelukan dan kasih sayang orangtua. Tapi itu tidak mungkin karena saya bekerja untuk membantu orang tua saya," tutupnya dengan pandangan mata nerawang jauh ke depan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/07/24/065020/1972933/10/bocah-bertarung-hidup-di-gemerlapnya-jakarta?9911012
Langganan:
Postingan
(
Atom
)