Tampilkan postingan dengan label utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label utara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2015

Hujan Deras, Jakarta Utara Dikepung Genangan Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (22/1/2015) malam hingga Jumat (23/1/2015) pagi mengakibatkan genangan banjir di sejumlah wilayah.

Berdasarkan informasi yang dilansir TMC Polda Metro Jaya, Jumat dini hari, wilayah yang tergenang dengan ketinggian bervariasi antara 10-50 cm sebagian besar terjadi di wilayah Jakarta Utara.

Berikut lokasi banjir di Jakarta sejak Jumat dini hari:
- Pukul 03.23 banjir 20-30 cm di Jalan Raya Caplin, komplek Taman Asri Ciledug, Tangerang.
- Pukul 03.14 banjir 20-30 cm di sekitar Wisma Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
- Pukul 03.29 banjir 30-50 cm di wilayah Kebon Bawang, Jakarta Utara.
- Pukul 03.32 banjir 35-45 cm di Simpang Lima Jalan Raya Plumpang-Semper, Jakarta Utara. Bagi kendaraan sejenis sedan/sepeda motor disarankan agar tidak melintas.
- Pukul 03.47 banjir 20-30 cm di Komplek ex Gaya Motor Cilincing, Jakarta Utara.
- Pukul 03.48 banjir 30-40 cm di wilayah Warakas, Jakarta Utara.
- Pukul 03.49 banjir 20-30 cm di Jalan Kangkung, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
- Pukul 03.50 banjir 30 cm di Kawasan Kalibaru RT. 001/012 Cilincing, Jakarta Utara.
- Pukul 03.55 banjir di Jalan Tipar Selatan 12, Semper Barat, Jakarta Utara.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/01/23/07200441/Hujan.Deras.Jakarta.Utara.Dikepung.Genangan.Banjir

Jumat, 16 Januari 2015

Jakarta Utara Jadi "Pilot Project" Pengolahan Sampah Hasilkan Listrik

Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat mencanangkan wilayah kota administrasi Jakarta Utara sebagai lokasi pilot project pengolahan limbah sampah menjadi energi listrik.

“Jakarta Utara itu sebuah kota yang memiliki posisi sangat strategis, karena pintu masuk dari darat, laut dan udara melewati kota tersebut, makanya tidak elok apabila orang yang masuk melihat wilayah Utara yang kumuh,” ujar Djarot, Kamis (15/1), saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Walikota Jakarta Utara.

Menurut Djarot agar wilayah di Jakarta Utara terlihat bersih maka harus dibenahi sistem pengolahan sampahnya yang selama ini menggunakan sanitary land fill. “Sistem tersebut sudah sangat ketinggalan dan tidak cocok untuk wilayah di DKI karena membutuhkan lahan dengan luas ratusan hektare," katanya.

Djarot mengungkapkan, pengolahan sampah menjadi tenaga listrik tersebut menggunakan teknologi terbaru dari Italia dan Inggris yang hanya membutuhkan luas lahan 2-2,5 hektare. “Teknologi ini membutuhkan sampah sebanyak 400 ton untuk bisa menghasilkan 6-8 Megawatt, saat ini sedang kami bangun dan jajaki lokasi tempatnya bekerja sama dengan pihak ketiga,” ujarnya.

Listrik yang didapatkan dari pengolahan sampah tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengaliri Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) milik Pemprov DKI, sedangkan abunya dapat digunakan untuk campuran semen dan pembuatan paving block. “Jakarta Utara kita pilih sebagai lokasi pertama yang dicanangkan untuk penerapan sistem tersebut karena produksi sampahnya termasuk yang terbesar di Jakarta,” kata Djarot.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas kebersihan Jakarta Utara Bondan Dyah Ekowati, mengatakan siap untuk mendukung program tersebut. “Kami saat ini akan meningkatkan rit perjalanan truk sampah yang kami miliki dari satu rit menjadi dua rit,” ujar Dyah.

Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/240893-jakarta-utara-jadi-pilot-project-pengolahan-sampah-hasilkan-listrik.html

Selasa, 14 Oktober 2014

Gundukan Sampah dan Bau Menyengat di Waduk Pluit

JAKARTA, KOMPAS.com - Tepi Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, kini dipenuhi sampah dari berbagai jenis. Sampah itu termasuk hasil pembersihan waduk tersebut.

Alat berat yang beroperasi, membawa sampah dari tengah waduk dan diletakan di tepi waduk. Hal tersebut tentu mengganggu pemandangan dan kenyaman pengunjung. Selain itu, tumpukan sampah itu menimbulkan bau tidak sedap yang menyengat.

Mulai dari Pos Polisi Waduk Pluit sampai Jalan Muara Baru, hamparan sampah terlihat jelas. Wujudnya mulai dari plastik, kayu, gabus, sampai dengan eceng gondok, mengotori tepian taman.

Solihin (40), warga RT 19 RW 17, Waduk Pluit itu merasa terganggu dengan adanya gundukan sampah ini. "Memang mengganggu sih buat pengunjung sini. Karena bau lumpur ini kan dari sampah," kata Solihin, saat ditemui di sekitar waduk, Senin (13/10/2014).

Menurut Solihin, sampah itu memang berasal dari pembersihan perairan waduk. Menurutnya, sekitar dua kali sekali, sampah-sampah dari pembersihan waduk di angkat petugas kebersihan.

"Yang ini memang pas dibersihin saja kayak gini. Kayaknya nunggu kering baru diangkatin. Soalnya sampahnya masih ada airnya kan, jadi berat," ujar Solihin.

Pengunjung taman Waduk Pluit, Wiwin (21), berharap penanganan sampah dapat lebih baik dari saat ini. Ia tidak setuju bila sampah dari perairan waduk ditumpuk di sekitar taman.

"Seharusnya ditumpuk satu tempat, kalau jejer begini kan jadi jelek. Bau lagi. Harapannya bisa diangkutin cepat, jangan didiemin gitu sampai numpuk panjang," ujar remaja asal Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara itu.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/13/1558022/Gundukan.Sampah.dan.Bau.Menyengat.di.Waduk.Pluit

Rabu, 01 Oktober 2014

Biopori, Minimalisir Banjir dan Genangan Air

TANJUNG PRIOK (Pos Kota) - Guna mengantisipasi banjir maupun genangan air, di pesisir utara Jakarta berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara. Salah satunya dengan memperbanyak lubang biofori, bukan hanya itu, pemerintah juga meminta kepada warganya yang mempunyai lahan kosong atau halaman rumah diusulkan agar dibuatkan lubang biofori.

Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono menjelaskan, pembuatan lubang biofori merupakan teknologi tepat guna untuk meminimalisir banjir dan genangan air. “Dengan adanya lubang biofori dirumah maka dapat meningkatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman dan dapat mengatasi menipiskan resapan air tanah” ujarnya.

Heru Budi Hartono berharapan Pemko Jakarta Utara nantinya di setiap kecamatan memiliki 7 Ribu lubang biofori pertahun. Jika itu terlaksana maka Jakarta Utara akan memiliki 42 Ribu lubang Biofori.

“Saya yakin jika setiap tahun wilayah Jakarta Utara memiliki 42 ribu lubang biofori kedepan tidak akan terjadi banjir. Maka dari itu saya berharap semua lapisan masyarakat untuk mendukung program ini,” harap Heru Budi Hartono.

Sementara itu, Koramil Koja, Jakarta Utara saat ini sedang menggalak program pembuatan biofori sebanyak 7 Ribu. Sumur resapan di bangun disejumlah lahan kosong yang ada di wilayah tersebut.

Pembangunan ini dilakukan karena 70 persen wilayah Koja berada di permukaan air laut sehingga jika terjadi hujan pasti akan menimbulkan genangan dan banjir.

“Saat ini kami sedang giat-giatnya melakukan pembuatan lubang biofori. Kami berharap kedepan wilayah Koja tidak rawan banjir lagi,”kata Danramil Koja Kapten (Inf) Tri Edi S.

Pembuatan biofori ini kata Tri Edi sudah dilaksanakan sejak bulan lalu. Ia juga bekerja sama dengan masing-masing kelurahan. ” Jadi setiap kelurahan sudah memiliki titik lubang biofori. Sudah 6 ribu lubang serapan yang kami buat” katanya.

Lokasi titik lubang biofori baru itu ada di Stadion Rawabadak, Islamic Center, Jalan Mundu, Kantor Disnakertrans Jakut dan Kampung Rawa Indah dan lokasi lainnya.

Sumber : http://poskotanews.com/2014/09/30/biophori-minimalisir-banjir-dan-genangan-air/

Senin, 15 September 2014

Lebaran Betawi Dimulai, Monas Banjir Makanan Betawi

JAKARTA - Lebaran Betawi tahun 2014 hari ini resmi dibuka menu makanan khas Betawi pun menjadi primadona di even tahunan ini.

Lebaran Betawi yang berlangsung mulai hari ini hingga Minggu, 14 September besok diadakan di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Berbagai menu makanan tradisional disajikan oleh 44 peserta yang berasal dari seluruh kecamatan di Ibu Kota ini. Sindonews yang datang ke lokasi tadi siang, melihat berbagai stan dari lima Pemkot dan satu kabupaten.

Di stan Kepulauan Seribu yang terkenal dengan wisata air menempatkan manekin dengan perlengkapan menyelam di depan gerbang saat orang ingin masuk melihat apa saja di dalam 'A Thousand Islands' tersebut.

Di stan ini kita bisa menikmati makanan khas asli Kepulauan Seribu yang tak kalah enaknya dari makanan khas Jepang. Sashimi merupakan makanan khas Kepulauan Seribu yang berasal dari bahan baku berupa ikan bawal putih diberi cocolan kecap asin dan wasabi.

Sementara di stan Jakarta Utara, stand ini mengambil konsep rumah jagoan Betawi yakni Si Pitung. "Selamat datang di kediaman Pitung" adalah slogan wilayah Jakarta Utara yang terpampang saat pintu masuk.

Wali Kota Jakarta Utara Heru Budi Hartono menuturkan, Jakarta Utara juga memiliki makanan khas yakni telor bebek rasa udang.

"Gak cuman itu kita juga ada tempo doeloe, rumah pitung, yang intinya ini lebaran jadi kita hadirkan makanan gratis kepada warga yang pengen lihat kedalam," ujarnya ditemui di stan Pemkot Jakarta Utara, Sabtu (13/9/2014).

Lain Jakarta Utara, kini lain lagi di Jakarta Selatan tepatnya di stan kecamatan Kebayoran Lama ada soto Betawi Haji Rifo, putu mayang, kue abuk, kue talam udang.

"Ya pokoknya kita hadirkan semua makanan khas disini," ujar Wakil Camat Kebayoran Lama, Endang Efendi.

Sumber : http://metro.sindonews.com/read/901130/31/lebaran-betawi-dimulai-monas-banjir-makanan-betawi

Senin, 21 Juli 2014

Tol JORR W2 Utara operasi, macet di tol dalam kota bisa menurun

Merdeka.com - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto direncanakan akan meresmikan pengoperasian tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) west 2 (JORR W2) Utara ruas Ciledug-Ulujami, pagi ini. Pengoperasin tol sepanjang 2,1 kilometer tersebut diyakini dapat mengurangi sekitar 20 persen-25 persen kemacetan di tol dalam kota.

"Kita berharap volume lalu lintas 75.000 kendaraan per hari di awal-awal, ya sekitar 2 atau 3 bulan. Setelah itu bisa lebih besar," kata Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga David Wijayatno kepada merdeka.com, Minggu (20//7) malam.

Tarif tol tersebut ditetapkan Rp 8.500. "Kalau masuk lewat kebon jeruk hanya bayar Rp 8.500 sudah bisa menikmati JORR W2 utara plus JORR. Jadi bisa keluar sampai kampung rambutan, Cikunir atau Jati Asih dikenakan tarif sama," jelas David.

Dampak dari pengoperasian ruas Ciledug-Ulujami, Jasa Marga mengubah tarif Golongan I pada tol JORR. Seperti:

Serpong-Pondok Aren dan sebaliknya Rp 5.000

Serpong-Ulujami dan sebaliknya Rp 7.500

Serpong-JORR dan sebaliknya Rp 16.000

Serpong-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 18.000

Pondok Aren-Ulujami dan sebaliknya Rp 2.500

Pondok Aren-JORR dan sebaliknya Rp 11.000

Pondok Aren-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 13.000

Ulujami-JORR dan sebaliknya Rp 8.500

Ulujami-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500.

JORR-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500

Sumber : http://www.merdeka.com/uang/tol-jorr-w2-utara-operasi-macet-di-tol-dalam-kota-bisa-menurun.html

Kamis, 10 April 2014

Hancurkan Eceng Gondok, DKI Akan Beli Alat Seharga Rp2 Miliar

VIVAnews - Wali Kota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono, mengatakan pihaknya akan segera mendatangkan alat penghancur eceng gondok yang akan digunakan di beberapa waduk di Jakarta Utara salah satunya di Waduk Pluit dan Waduk Taman Bersih Manusiawi Berwibawa (BMW).

Menurut Heru, alasan didatangkannya mesin penghacur eceng gondok itu karena selama ini pengerukan yang menggunakan backhoe dinilai tidak maksimal dan malah menghabiskan anggaran yang sangat besar. Kata dia, apabila membeli alat pengeruk itu hanya membutuhkan anggaran Rp1 miliar sampai Rp2 miliar.

"Di Waduk Pluit saya mau beli mesin pengelolaan eceng gondok. Sekarang itu kan duitnya ada, alatnya juga ada. Tapi yang jadi masalah itu tidak ada itu kemauannya saja," kata Heru di Balai Kota Jakarta, Kamis, 10 April 2014.

Disampaikan Heru, saat ini eceng gondok di beberapa waduk di Jakarta pertumbuhannya sangat cepat sekali. Untuk dua minggu saja sudah tumbuh kembali. Selain menghabiskan biaya yang sangat besar, pengerjaan secara manual membutuhkan waktu yang sangat lama.

"Ini kan sudah tahun 2014 masa mau bolak-balik narikin terus, mau sampai kapan narikin terus. Terus saya diributin masyarakat banyak yang komplain karena banyak eceng gondok. Jadi kami harus mikir dong gimana caranya biar tidak ada eceng gondok di Waduk Pluit dan waduk lainnya," kata Heru.

Menurut Heru, pengadaan untuk alat pengeruk eceng gondok tersebut menang belum dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Daerah (APBD) 2014. Tetapi menurutnya, salah satu solusinya bisa meminta kepada swasta baik itu sebagai kewajiban dari pengembang maupun Corporate Social Responsibility (CSR).

"Memang belum dianggarkan. Kalau DKI tidak mau nganggarin saya minta beberapa pengusaha suruh beli. Pokoknya disuruh nyumbang untuk masyarakat," ujar dia.

Heru menjelaskan, ini dilakukan agar masyarakat bisa melihat alat untuk penghancur eceng gondok tersebut. Rencananya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tanggal 1 Juni 2014 mendatang akan membawa alat itu dari China. Tetapi hanya untuk contoh saja.

Ke depannya apabila memang alat itu efektif dan bisa mengurangi eceng gondok maupun sampah yang ada di Jakarta Utara maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mendatangkan produk Sumitomo dari Jepang atau produk dengan merek lainnya dari Jerman.

"Kalau untuk sementara akan didatangkan dulu dari China, tapi nanti ke depannya saya bilang sama orang Jepang. Ternyata Sumitomo produksi. Dari perusahaan jerman produksi," katanya.

Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/495674-hancurkan-eceng-gondok--dki-akan-beli-alat-seharga-rp2-miliar

Kamis, 13 Maret 2014

Kementerian PU Setengah Hati Perbaiki Jalan Rusak

BERITAJAKARTA.COM — 12-03-2014 13:20
Masih tingginya intensitas hujan yang menguyur kawasan Jakarta dan sekitarnya, menyebabkan sejumlah jalan yang sudah diperbaiki kembali berlubang. Seperti di Jakarta Utara, beberapa ruas jalan utama yang termasuk kategori jalan nasional kembali berlubang. Selain membahayakan keselamatan pengendara bermotor, banyaknya lubang juga menambah kemacetan.

Sejak mulai tergenangnya sebagian wilayah Jakarta Utara akibat hujan besar pada 17 Januari lalu, sebanyak 2.564 titik jalan menjadi rusak dan berlubang. Walaupun sudah diperbaiki, beberapa titik yang berada di jalan nasional, seperti, Jl Cakung Cilincing, Jl Perintis Kemerdekaan, Jl Yos Sudarso dan RE Martadinata kembali berlubang.

Hal itu karena penanganan pemerintah pusat hanya setengah hati dengan melakukan penambalan darurat saja . Sedangkan perbaikan permanen hanya dapat dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) selaku pihak yang berwenang.

"Kita hanya dapat melakukan penanganan darurat, dengan menutup lubang saja. Sedangkan untuk perbaikan permanen merupakan kewenangan kementerian PU," kata Sugoro Sinaga, Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Suku Dinas (Sudin) Pekerjaan Umum (PU) Jalan Jakarta Utara, Rabu (12/3).

Berbeda dengan jalan yang di bawah kewenangan Dinas PU DKI Jakarta dan Sudin PU Jalan Jakut, penanganan terhadap jalan yang kerap tergenang dan rusak, dilakukan perbaikan permanen. Di Jakarta Utara, sudah ada tiga ruas jalan yang dibetonisasi, yakni Jl Gunung Sahari, Jl Raya Plumpang, dan Jl Sunter Permai Raya.

Kepala Dinas PU DKI, Manggas Rudi Siahaan menegaskan, selain karena terkendala faktor cuaca yang belum menentu, pihaknya kesulitan memperbaiki jalan di Jakarta Utara karena terdapat sejumlah jalan nasional. Hal itu menyebabkan pihaknya tidak dapat melakukan perbaikan permanen karena di luar wewenangnya. "Sampai saat ini masih terus berkoordinasi dengan kementerian. Kita sudah mendorong agar dilakukan percepatan perbaikan," kata Manggas.

Namun, menurut Manggas, pihak Kementerian PU sendiri masih terkendala penganggaran. Sehingga perbaikan permanen sejumlah jalan nasional kemungkinan tidak dapat dilakukan pada tahun ini. "Seperti Jl Yos Sudarso, mereka bilang anggaran baru ada tahun depan. Tetap akan kita lakukan penanganan darurat terhadap lubang yang ada di jalan agar tidak menimbulkan korban," tandasnya.

Sumber : http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=58604

Senin, 16 September 2013

Warga Jakarta Belum Dukung Gerakan Bersih Jokowi

JAKARTA, KOMPAS.com — Sepekan sejak Gerakan Jakarta Bersih dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, tumpukan sampah masih terlihat di permukaan sejumlah sungai dan waduk di Jakarta, Minggu (15/9). Tempat dan armada pembuangan sampah serta kesadaran warga dinilai masih kurang.

Tumpukan sampah antara lain terlihat di Waduk Rawabadak di Koja, Jakarta Utara. Sampah plastik, potongan kayu dan bambu, serta bungkus bahan keperluan sehari-hari, seperti sabun, sampo, dan pasta gigi, mengapung dan menumpuk di sisi selatan waduk.

Sampah juga terlihat di Kali Sunter yang mengalir di sisi barat Jalan Danau Sunter Barat di perbatasan Pademangan dan Tanjung Priok. Sejumlah petugas memungut dengan tongkat penyaring, tetapi jumlah sampah jauh lebih banyak.

Deni Irawan, Kepala Operator Penyaring Sampah Kali Sunter Kresek di Koja, Jakarta Utara, mengatakan, produksi sampah rata-rata 14 meter kubik per hari dalam sepekan terakhir. Angka itu sama dengan rata-rata produksi sebelum pencanangan Gerakan Jakarta Bersih.

”Ada (sampah) kiriman dari hulu. Kebanyakan sisa barang-barang kebutuhan rumah tangga, seperti bungkus sampo dan sabun. Jumlahnya belum berkurang,” kata Deni.

Sugiman, operator pompa di rumah pompa Ancol Timur, berpendapat, jumlah sampah yang mengalir masih relatif sama.

Armada kurang

Sebagian warga, kata Ketua RT 004 RW 001 Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Muhamad Kartono (58), masih membuang sampah sembarangan. Sampah-sampah itu terbawa ke got dan saluran air.

Sementara itu, sampah tak langsung terangkut karena armada kurang. Dia mencontohkan, produksi sampah dari pasar dan permukiman di RT 004 yang mencapai delapan gerobak (sekitar 8 meter kubik) per hari.

”Hanya satu truk yang beroperasi dalam sehari. Saat truk rusak mesin, sampah tak terangkut,” ujarnya.

Dengan demikian, selain mengurangi produksi sampah di tingkat rumah tangga, ujar Kartono, pemerintah juga perlu menambah armada untuk memperlancar proses pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara Zainuri mengatakan, sampah masih menjadi perhatian karena belum seluruhnya tertangani. Dia memperkirakan, dari sekitar 1.200 ton sampah Jakarta Utara per hari, baru sekitar 720 ton yang terangkut karena keterbatasan personel dan truk pengangkut.

”Total ada sekitar 120 truk yang tersebar di enam kecamatan di Jakut. Kapasitas angkutnya 3-4 ton per hari sehingga ada sampah-sampah yang tak terangkut. Petugas telah berupaya, tetapi belum sebanding dengan produksi sampah,” ujarnya.

Selain armada yang kurang, pengangkutan sampah juga terkendala kemacetan dari dan menuju TPA di Bantar Gebang, Bekasi. Menurut Zainuri, satu truk rata-rata hanya bisa satu rit, padahal sebelumnya bisa 2-3 rit.

Saat mencanangkan Gerakan Jakarta Bersih, Jokowi memaparkan, ada sekitar 6.000 ton atau setara 1.200 truk sampah di Jakarta per hari. Dari jumlah itu, sekitar 2.000 ton di antaranya berada di selokan dan sungai. Bersama grup band Slank, dia mengajak warga untuk tidak buang sampah ke sungai lagi.

Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat, sampai Februari 2013, tempat penampungan sementara (TPS) sampah di Jakarta hanya 191. Padahal, idealnya setiap RW harus memiliki TPS.

Saat ini ada 141 sungai di Jakarta dengan total panjang 413 kilometer. Lalu, ada 29 waduk dengan total luas 391 hektar dan saluran mikro atau selokan kota dengan total panjang 16.000 kilometer. Sebagian lokasi itu menjadi tempat pembuangan sampah bagi sebagian warga DKI Jakarta.

Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono berharap warga tidak membuang sampah ke sungai lagi. Dia mengajak warga dan aparat terlibat dalam bersih-bersih rutin di tingkat kelurahan dan kecamatan.

Pada kegiatan pungut sampah yang digelar serentak di enam kecamatan di Jakarta Utara, pekan lalu, terkumpul 151 ton sampah.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/16/0712509/Warga.Jakarta.Belum.Dukung.Gerakan.Bersih.Jokowi

Rabu, 04 September 2013

Usulan Jokowi soal ganti nama Jalan Merdeka dinilai pemborosan

Gubernur DKI Jakarta Jokowi sempat mendatangi MPR untuk membahas perubahan nama Jalan Medan Merdeka Utara diganti Jalan Bung Karno dan Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan Bung Hatta. Jokowi mengaku, usulan itu hanya sebagai bentuk penghargaan atas jasa perjuangan Soekarno dan M Hatta.

"Ya ini kan penghargaan jasa proklamator kan, kemudian Bung Hatta juga," ujar Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (3/9) kemarin.

Jokowi mengaku tidak ada desakan dari PDIP soal usulan nama tersebut. Dia menegaskan, usulan itu murni untuk menghargai jasa kedua proklamator tersebut.

"Ya kan kalau pakai nama Bung Karno saya kira pas, dan kemudian direspons oleh panitia 17 untuk itu," terangnya.

Usulan Jokowi ini pun segera menuai pro dan kontra. Mungkinkah ini usulan Jokowi untuk merebut simpati di 2014?

Hal itu belum terjawab, namun demikian banyak yang menilai usulan mantan wali kota Solo itu tidak realistis. Jokowi dinilai hanya melakukan pemborosan.

Tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) AP Batubara menyatakan tidak setuju dengan wacana penggantian nama jalan protokol di sekitar Monas Jakarta dengan nama Bung Karno, Bung Hatta. Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP AP menyebut nama Jalan Medan Merdeka Utara, Selatan, Barat dan Timur, sudah permanen serta masyarakat se-Indonesia dan dunia sudah mengetahui, sehingga tidak perlu diganti.

"Penggantian nama jalan itu hanya pemborosan anggaran pemerintah dan swasta, karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk mengganti alamat papan nama, kop suarat, alamat kantor, pemilik KTP," kata AP Batubara yang akrab disapa 'AP' itu seperti dikutip Antara, Rabu (4/9).

AP menilai, bahwa usulan penggantian nama jalan protokol di sekitar Monas terlalu mengada-ada, karena masih banyak pekerjaan yang harus ditangani. Selain itu, penggantian nama akan menimbulkan polemik di masyarakat, sedangkan bagi Proklamator Indonesia Soekarno-Hatta, namanya sudah digunakan untuk nama Bandara Soekarno-Hatta dan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

AP juga mengingatkan kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo agar tidak mengusulkan penggantian nama jalan protokol itu, karena masih banyak pekerjaan penting yang harus selesaikan di Jakarta, seperti mengatasi kemacetan lalu lintas, banjir, sampah dan penyediaan sarana angkutan umum bagi warga.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Secara pribadi, Ahok mengaku kurang setuju dengan ide Gubernur Jokowi tersebut.

"Saya pribadi sih lebih suka Merdeka Utara, Timur, Barat dan Selatan. Itu kan lebih mudah ngafalnya. Langsung tahu posisi. Terus kalau ngomong mau ke Merdeka Utara, tinggal nyebrang ke Merdeka Selatan kan lebih enak, orang lebih hafal kan," ujar Ahok di Balai kota Jakarta, Selasa (3/9).

Ahok beranggapan jika ada usulan nama Soekarno-Hatta tidak masalah. Tetapi, jika Suharto diusulkan juga, justru dia mempertanyakan kenapa nama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, BJ Habbie tidak sekalian diikutsertakan.

"Makanya bisa jadi masalah juga. Ada kajian lah. Kalau saya pribadi sih, lebih suka Medan Merdeka Barat, Utara, Timur dan Selatan, itu lebih gampang hafalnya yah. Merdeka-merdeka itu kan ada artinya itu di situ," tegasnya.

Lalu apakah usulan ini yang dianggap pemborosan ini akan direalisasikan?

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/usulan-jokowi-soal-ganti-nama-jalan-merdeka-dinilai-pemborosan.html

Rabu, 21 Agustus 2013

Jokowi Jadikan Waduk Ria Rio "Lebih" dari Waduk Pluit

JAKARTA, KOMPAS.com — Program penataan waduk di Jakarta terus digenjot Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Usai Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dimulai, target selanjutnya adalah Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur.

Waduk Ria Rio direncanakan memiliki banyak kelebihan ketimbang Waduk Pluit. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memastikan, waduk yang berada persis di sebelah timur perempatan Cempaka Putih itu mulai ditata pada September 2013 yang akan datang. Jokowi ingin kawasan tak terurus itu menjadi tempat penampungan air, ruang terbuka hijau (RTH), ruang aktivitas publik, sekaligus menjadi ladang bisnis Pemprov DKI.

"Nanti di sini akan jadi taman. Tapi, ada sisi bisnis yang dikerjakan Jakpro. Ada gedung serbagunanya," ujar Jokowi saat berkunjung ke kawasan Waduk Ria Rio pada Senin (19/8/2013) siang.

Tak hanya gedung serbaguna yang akan berdiri di sisi timur, sisi yang saat ini masih berdiri 500 kepala keluarga, di sisi selatan waduk, akan dibangun hotel bintang empat.

Berbeda dengan Waduk Pluit yang tidak mengakomodasi sisi bisnis sama sekali, keberadaan gedung serbaguna dan hotel di Waduk Ria Rio dibangun mengingat lokasi waduk strategis. Selain terletak di perbatasan Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat, kawasan itu sering dilintasi oleh masyarakat pengguna kendaraan.

Meski demikian, Jokowi menegaskan, keberadaan gedung serbaguna dan hotel bukan tujuan utama Pemprov DKI. Namun, target utamanya adalah RTH yang dapat diakses warga dengan gratis, sedangkan gedung serbaguna dan hotel dibangun untuk mencari keuntungan, menyelaraskan fungsi sosial dengan bisnis tanpa mengganggu satu sama lain.

"Jakarta butuh ruang publik dalam rangka membangun konektivitas sosial warga. Ingat, ini bukan ruang bisnis ya," lanjut politisi PDI-Perjuangan itu.

Lebih bagus dari Waduk Pluit

Terletak di Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, waduk 9 hektar yang memiliki kawasan seluas 25 hektar itu tampak tidak terurus. Di barat, selatan, dan utara dipenuhi ilalang dan pohon. Permukaan air waduk pun rata dipenuhi tanaman eceng gondok, nyaris seperti bukan waduk.

Sesuai desain, sisi barat akan dijadikan sentra bisnis. Sisi utara akan dibangun RTH dengan beragam fasilitas, mulai dari taman osmosis, amfiteater, hutan kota, dan taman pasif. Sisi timur akan dibangun gedung serbaguna yang menghadap ke waduk dengan amfiteater di depannya serta akan dibangun taman pasif serta arena olahraga.

"Ini akan jauh lebih bagus dari Waduk Pluit, yakin. Karena ini kan terletak di dalam kota. Tamannya lebih, ada kawasan bisnis. Pasti bagus," ujarnya.

Kawasan Waduk Ria Rio akan dibangun empat instansi. Sisi barat, timur, utara akan dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Sisi selatan akan dikerjakan PT Jakarta Propertindo. Adapun normalisasi waduk akan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Anggaran penataan menggunakan APBD DKI dengan total senilai Rp 1 triliun.

Lebih mudah merelokasi warga?

Beberapa waktu lalu, Jokowi mengungkapkan optimismenya mampu merelokasi 500 kepala keluarga yang bermukim di sisi timur waduk. "Waduk Pluit yang tujuh ribuan KK saja bisa, apalagi ini yang cuma ratusan. Saya yakin bisa," ujarnya kala itu.

Dalam penataan waduk, Jokowi pun memulainya dari sisi selatan, barat, dan utara terlebih dahulu. Sisi timur yang masih berpenduduk tidak diusik untuk sementara waktu. Entah mengapa Jokowi memilih kebijakan itu, ia enggan menjelaskannya.

"Sisi yang ada masyarakatnya tunggu. Jangan kita bicarakan dulu. Yang penting itu dimulai, dimulai, kalau ndak dimulai-mulai ya gimana," lanjutnya.

Warga di sekitar waduk akan mendapat ruang kerahiman Rp 1 juta. Namun, Jokowi menampik kabar tersebut. Menurutnya, pihaknya belum menyentuh soal kompensasi untuk warga.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/20/0752040/Jokowi.Jadikan.Waduk.Ria.Rio.Lebih.dari.Waduk.Pluit

Jumat, 08 Maret 2013

Tanggul raksasa dibangun, nelayan akan direlokasi

JAKARTA. Pemerintah Daerah DKI Jakarta berencana merelokasi para nelayan di pantai Utara Jakarta terkait pembangunan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall (GSW). Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sharif Cicip Sutardjo, mengungkapkan pihaknya tengah berkordinasi dengan Pemda DKI terkait hal tersebut.

Sharif bilang, Pemda DKI sudah memiliki solusi terkait nasib para nelayan tersebut. Namun menurutnya hal tersebut masih harus dibicarakan kembali secara khusus dengan dengan Gubernur DKI, Joko Widodo. "Ada ongkosnya untuk relokasi dan segala macam," ujar Sharif, ditemui di istana Wakil Presiden.

Adapun ground breaking pembangunan proyek tersebut akan dimulai pada tahun 2014 mendatang. Sebelumnya, Pemerintah setuju untuk mempercepat pelaksanaan proyek pembangunan tanggul raksasa, atau Giant Sea Wall (GSW) di Pantai Utara Jakarta menjadi tahun 2014. Dalam rencana semula, proyek pembangunan tersebut seharusnya baru dimulai pada tahun 2020.

Untuk membangun proyek tersebut, Kementerian Keuangan menganggarkan dana sebesar Rp 300 triliun. Proyek Tanggul Laut Raksasa yang memiliki panjang 40 kilometer sedianya akan dibangun di sepanjang Pantai Utara Jakarta untuk selain sebagai penahan arus rob air laut dan banjir juga akan digunakan untuk tempat penyimpanan air bersih sebagai sumber air baku.

Sumber : http://nasional.kontan.co.id/news/tanggul-raksasa-dibangun-nelayan-akan-direlokasi/2013/03/07

Selasa, 12 Februari 2013

Buang Sampah Sembarangan, KTP Bakal Ditahan!

JAKARTA- Bagi Anda yang sering membuang sampah sembarangan, sebaiknya hentikan mulai sekarang. Bila nekat membuang sampah sembarangan, KTP Anda akan ditahan.

Lurah Rawa Badak Utara, Suranta mengatakan telah menahan belasan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik warga lantaran tertangkap tangan membuang sampah sembarangan di wilayah Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara.

Suranta menambahkan, selama sepekan terakhir ini, pihaknya berhasil menahan 12 KTP warga yang membuang sampah sembarangan. Tujuh KTP ditahan karena membuang sampah di Jl Cipeucang 5 RW 02 atau di atas Kali Pinang perbatasan Lagoa dan Koja, dan lima KTP ditahan karena membuang sampah di Jl Inspeksi Kali Sunter Sisi Timur RW 08 dan 09.

"Kedua lokasi tersebut dinilai rawan membuang sampah sembarangan, sehingga kami fokus di kedua titik itu. Kebanyakan warga yang ditahan KTP-nya warga Lagoa, Rawabadakutara, Tuguutara, dan bahkan ada yang KTP Sukabumi karena dia mengontrak disini. Mereka kebanyakan buang sampah rumah tangga, seperti plastik, karung, dan kasur," Ujar Suranta kepada wartawan, Senin (11/2/2013).

Lebih lanjut dia menuturkan, sebelum menahan KTP tersebut, pihaknya telah mensosialisasikan melalui rapat warga agar kedua lokasi itu bebas dari sampah dan dilarang membuang sampah sembarangan dengan mengarahkan warga membuang sampah di TPS Rawabadakutara. Sebab, bila ditemukan warga yang membuang sampah sembarangan, petugas akan menahan KTP-nya.

"Itu sudah kami rapatkan larangan membuang sampah. Kemarin sudah kami bersihkan lagi, tapi masih ada yang buang sampah, makanya KTP-nya ditahan biar mereka jera," tuturnya.

Dirinya menegaskan dalam upaya menahan KTP warga itu, pihaknya mengerahkan sejumlah personel dari Satpol PP maupun staf kelurahan dengan memakai seragam yang ditutupi jaket di kedua titik tersebut. Setelah kedapatan warga yang membuang sampah sembarangan, petugas langsung mengejar dan menangkap pelaku itu.

"Kalau belum tau adanya sosialisasi ini, mungkin kami berikan teguran dan membuang sampah itu ke tempat sampah. Tapi, yang sering ketahuan membuang sampah, akan kami tahan KTP-nya," tegasnya.

Suranta mengungkapkan setelah menahan KTP tersebut, warga dapat mengambil KTP itu di kantor kelurahan Rawabadakutara dengan syarat membuat surat pernyataan yang diketahui oleh RT, RW, dan LMK ditempat merek tinggal.

"Kami akan kembalikan KTP-nya, tapi kami juga kasih pengertian agar mereka tidak lagi membuang sampah. Ini kan ada efek jeranya," Ungkapnya.

Dengan kejadian itu, Suranta mengklaim dalam upayanya menahan KTP milik warga, ternyata mendapatkan dukungan positif dari warga. Dikarenakan, kedua lokasi tersebut kini sampahnya berkurang dan perilaku warga membuang sampah menjadi lebih baik.

"Alhamdulillah ternyata mendapat respon positif dari warga. Memang harus begitu pak, saya senang biar kota Jakarta Utara bersih, rapih, dan tidak berantakan," ungkapnya.

Kegiatan ini dilakukan hingga warga benar-benar tidak membuang sampah sembarangan. Namun, khusus anak yang dibawah umur hanya mendapat teguran agar tidak buang sampah sembarangan.

"Kami tidak memberikan denda, hanya KTP saja yang ditahan. Itu pun mereka cukup kerepotan, karena KTP merupakan identitas penduduk yang harus dibawa kemana-mana," pungkasnya. (ugo)

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2013/02/11/500/760214/buang-sampah-sembarangan-ktp-bakal-ditahan

Rabu, 16 Januari 2013

JAKARTA BANJIR: Pengungsi Capai 6.101 Orang, Inilah Wilayah yang Terendam Banjir

JAKARTA–Sedikitnya 6.101 orang mengungsi ke sejumlah tempat, karena rumahnya di kawasan Jakarta Timur terendam banjir luapan Sungai Ciliwung yang tercatat hingga Selasa (15/1/2013) sekitar pukul 20.00 WIB hingga pagi ini, Rabu (16/1/2013).

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan data sementara ada sebanyak 50 kelurahan di kawasan tersebut terendam banjir.

Beberapa wilayah yang terendam banjir di Jakarta adalah sebagai berikut:

A. Jakarta Timur
- Daerah yang terendam banjir adalah Kecamatan Jatinegara (Kelurahan Bidara Cina dan Kampung Melayu), Kec Kramat Jati (Kel Cawang dan Cililitan).

B. Jakarta Selatan
- Banjir menggenangi Kecamatan Tebet (Kelurahan Bukit Duri dan Kebon Baru), - Kecamatan Pancoran (Kel Rawajati), Kecamatan Pasar Minggu (Kelurahan Pejaten Timur dan Cilandak Timur), Kecamatan Kebayoran Lama (Kelurahan Pondok Pinang dan Kebayoran Lama Utara), Kecamatan Pesanggrahan (Kelurahan Petukangan Selatan, Bintaro, Ulujami dan Cipulir), Kecamatan Cilandak (Kelurahan Cilandak Barat dan Kelurahan Pondok Labu), Kecamatan Kebayoran Baru (Kelurahan Petogogan), dan Kecamatan Jagakarsa (Kelurahan Tanjung Barat).

C. Jakarta Pusat
- Banjir di 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Galur, Kecamatan Johar Baru, dan di Kelurahan Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, serta di Kelurahan Cideng di Kecamatan Gambir.

D. Jakarta Barat
- Banjir terjadi di Kecamatan Kebon Jeruk (Kelurahan Kedoya Utara, Duri Kepa dan Sukabumi Selatan), Kecamatan Kembangan (Kelurahan Kembangan Utara, Joglo dan Meruya), Kecamatan Grogol Petamburan (Kelurahan Grogol, Tomang, Tanjung Duren Selatan, Tanjung Duren Utara, Jelambar, Jelambar Baru, dan Wijaya Kusuma), Kecamatan Cengkareng (Kelurahan Kapuk, Cengkareng Timur, Duri Kosambi, Cengkareng Barat, Kedaung Kaliangke dan Rawa Buaya).

E. Jakarta Utara
- Banjir terjadi di Kecamatan Kelapa Gading (Kelurahan Kepala Gading Timur dan Pegangsaan Dua), Kecamatan Tanjung Priok (Kelurahan Tanjung Priok, Sunter Agung dan Kebon Bawang), KecamatanPademangan (Kelurahan Pademangan Barat), Kecamatan Penjaringan (Kelurahan Penjaringan, Pejagalan, Kamal Muara, Kapuk Muara dan Pluit).

Sumber : http://www.solopos.com/2013/01/16/jakarta-banjir-ribuan-orang-mengungsi-368938

Selasa, 19 Juni 2012

Awas! Tiang Penyangga Tol Tanjung Priok-Pluit Keropos

JAKARTA, Kompas.com - Beberapa tiang penyangga jalan tol Tanjung Priok-Pluit yang berlokasi di wilayah RW 07 dan 08, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, kondisinya memprihatinkan. Pantauan Kompas.com, Senin (18/6/2012), terlihat setidaknya lima tiang dengan diameter 40 cm yang kondisinya keropos parah hingga terlihat kerangka besinya.

Belasan tiang juga berpotensi mengalami pengeroposan. Selain itu juga terdapat tiang yang menghitam akibat pembakaran sampah.

Warga RT 13/08 Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jaya (52) menduga, tiang-tiang tersebut terlihat keropos akibat kualitas semen yang kurang baik. Ia memperlihatkan saat mencopot serpihan retakan semen dan batu di salah satu tiang penyangga.

"Nah ini lihat batu-batu pada copot, memang campuran semen, pasir sama batunya jelek," ujarnya.

Jaya menambahkan, sebelum dilapisi beton, tiang asli jalan tol tersebut dianggap tidak tahan panas. "Dulu saat belum dilapisi, warga membakar sampah di sekitar kolong jembatan, sehingga tiang-tiang jalan tol tersebut banyak yang retak," paparnya.

Keroposnya tiang-tiang penyangga tersebut membuat warga khawatir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. "Ya, khawatir, tapi mau bagaimana lagi. Kalau ambruk memang mungkin tidak, tapi kalau lama-lama kan berbahaya juga," ungkap Jaya.

Jaya juga menjelaskan, warga sudah melaporkan ke pihak kelurahan. Selain itu juga diakui pernah ada petugas yang melakukan pantauan ke lokasi tersebut. "Ada petugas yang datang dan mengecek kondisi tiang-tiang. Tetapi hanya difoto dan sampai sekarang belum ada tindak lanjut dan perbaikan," jelasnya.

Sementara itu, Lurah Papanggo, Sutardjo mengatakan, pihak kelurahan sudah mengetahui adanya pengeroposan tiang-tiang tersebut, dan sudah melaporkan secara lisan kepada Camat Tanjung Priok, dan akan dikoordinasikan kepada PT Citra Manggala Nusapala Persada (PT CMNP) sebagai pengelola agar segera diperbaiki.

"Ini bukan kewenangan swasta yaitu PT CNMP sebagai pengelola jalan tol tersebut. Sudah dikoordinasikan dengan camat, semoga ditanggapi dan segera diperbaiki," ujarnya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/06/18/17591713/Awas.Tiang.Penyangga.Tol.Tanjung.Priok-Pluit.Keropos

Rabu, 30 Mei 2012

Tahun 2025 Jakarta Masih Akan Tergenang

ADELAIDE, KOMPAS.com- Di tahun 2025, sebagian besar wilayah Jakarta Utara akan tergenang sekitar 80 sampai 100 sentimeter di atas tanggul penahan rob yang masih ada sekarang. Demikian penjelasan seorang mahasiswa program Doktor asal Indonesia Evi Sofiyah dalam diskusi akademik baru-baru ini di Universitas Adelaide.

Di tahun 2025 atau 2026, akan terjadi fenomena siklus gelombang bulan (moon tidal cycle) yang terjadi dalam siklus 18.6 tahun sekali. Ketika itu gelombang pasang dari laut akan mencapai titik tertinggi ditambah dengan penurunan permukaan tanah, dan banjir kiriman.

Evi Sofiyah meralat pemberitaan sebelumnya bahwa sebagian wilayah Jakarta akan tergenang satu meter di atas tanggul raksasa yang rencananya akan dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta.

Data yang dia sampaikan dalam paparan pada diskusi ilmiah itu dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Belanda, JanJaap Brinkman (Deltares) dan Marco Hartman (HKV consultants) yang dipublikasikan tahun 2008.

Fenomena siklus gelombang bulan ini terakhir kali terjadi bulan November 2007 dimana banjir menewaskan 18 orang dan 300.000 orang terkena dampaknya.

Walaupun sudah ada rencana membangun dinding raksasa guna melindungi Jakarta dari genangan air dari laut, menurut kajian Evi Sofiyah, hal tersebut tidak akan memecahkan masalah Jakarta dari genangan air.

Evi sekarang sedang mengambil program doktor di Departemen Kependudukan, Geografi, dan Lingkungan di Universitas Adelaide.

Menurut kajiannya, berbagai penelitian ilmiah yang sudah dilakukan dan juga sumber data dari media massa, Evi Sofiyah mengatakan bahwa sampai tahun 2016, daerah Jakarta Utara akan tergenang secara berkala.

Menurut laporan koresponden Kompas di Adelaide, L. Sastra Wijaya, Evi Sofiyah juga mengkaji berbagai dampak dari tindakan manusia terhadap lingkungan di seputar Teluk Jakarta. Salah satu usaha yang sedang dilakukan oleh berbagai pihak adalah melakukan reklamasi guna membangun dinding raksasa tersebut.

Menurut Evi, mengutip situs pemerintah Belanda, dinding raksasa yang dibangun ini sepanjang 36 kilometer dan dibangun 2 kilometer dari garis pantai, dan menurut keterangan dari Gubernur DKI sekarang Fauzi Bowo, dinding itu akan selesai sekitar 15 sampai 20 tahun dari sekarang.

Namun, menurut Evi Sofiyah, pembuatan dinding raksasa ini tidak akan menyelesaikan masalah tergenangnya kota Jakarta, bila tidak disertai usaha lain. "Dinding raksasa itu menahan gelombang dari laut. Tetapi Jakarta juga mendapat banjir kiriman dari belakang dan juga menurunnya permukaan tanah dari tahun ke tahun. Jadi kalau tidak ada upaya yang lebih sinergis untuk mengatasi masalah ini, persoalannya tidak akan terselesaikan." kata Evi Sofiyah.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/29/11235031/Tahun.2025.Jakarta.Masih.Akan.Tergenang

Kamis, 24 Mei 2012

Pemprov DKI Akan Normalisasi Sejumlah Sungai

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menormalisasi sejumlah sungai, anak sungai dan saluran di Jakarta. Hal tersebut disampaikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam acara Program Percepatan Pemberdayaan Masyarakat di lingkungan permukiman Kali Kresek, Lagoa, Koja, Jakarta Utara, Rabu (23/5/2012).

Salah satu kali yang akan dilakukan normalisasi adalah Kali Kresek di Koja, Jakarta Utara. Kali tersebut rencananya akan dikeruk untuk mengurangi sejumlah genangan di Kecamatan Koja, karena hingga saat ini masih ada sejumlah genangan di beberapa titik di antaranya di sekitar Kelurahan Lagoa dan di Jalan Kramat Jaya. Genangan saat hujan biasanya mencapai 30 cm.

Fauzi Bowo mengatakan, pengerukan Kali Kresek akan dilaksanakan pada tahun ini. Saat ini normalisasi sedang di lakukan di hulu Kali Sunter. "Kali Kresek masuk ke dalam program pengerukan sungai dan anak sungai. Secara keseluruhan Kali Sunter akan dikeruk. Saat ini yang sedang dikerjakan di hulu Kali Sunter. Sedangkan untuk pengerukan Kali Kresek masih dalam proses tender" ujarnya.

Kali Kresek merupakan muara dari Kali Sunter. Setelah dikeruk diharapkan kali tersebut akan mempunyai kapasitas seperti dahulu. "Ini merupakan proyek setelah Kanal Banjir Timur. Setelah adanya pengerukan sejumlah sungai tersebut, nanti warga yang berada di sekitarnya tidak akan mengalami banjir lagi," kata Fauzi.

Untuk menormalisasi sungai tersebut, anggaran yang akan dikeluarkan sebanyak Rp 1 triliun. Anggaran tersebut berasal dari Bank Dunia. "Untuk program tersebut, ada yang dikerjakan oleh pemerintah daerah dan ada juga yang pemerintah pusat," ujar Fauzi.

Wali Kota Jakarta Utara, Bambang Sugiono mengatakan, selain adanya pengerukan Kali Kresek, juga akan dilakukan pengerukan di Waduk Koja, serta pembangunan pintu air dan pompa air. "Dengan adanya proyek tersebut akan mengurangi genangan di Koja, bahkan yang ada di Kramat Jaya," paparnya.

Lurah Lagoa, Sri Suhartini menjelaskan, Kali Kresek memiliki panjang sekitar 800 meter yang melintasi di dua kelurahan yaitu Kelurahan Lagoa dan Kelurahan Koja. Jika hujan deras terjadi akan menimbulkan genangan setinggi 20 cm di sekitar wilayah Kelurahan Koja, di antaranya di Jl Mindi, Jl Muncang, dan Jl Kramat Jaya. "Namun genangan tersebut hanya terjadi paling lama satu jam," ujarnya.

Sri Suhartini menyambut baik dengan adanya pengerukan Kali Kresek tersebut. Ia berharap dengan pengerukan tersebut genangan di wilayahnya akan berkurang. "Saya berharap masyarakat bisa terus menjaga kebersihan di sekitar Kali Kresek," katanya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/23/18041112/Pemprov.DKI.Akan.Normalisasi.Sejumlah.Sungai

Selasa, 20 Maret 2012

Nikmati Suasana Hutan di Pinggiran Jakarta

LELAH melihat hutan beton yang menjulang atau kesemrawutan lalu lintas, arahkan kendaraan ke Kampus Universitas Indonesia, Depok, atau tengoklah Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Embusan angin menyejukkan dan suara gemeresik daun dari pohon-pohon tinggi terdengar. Sesekali kicau burung menyahuti.

Hemmm, segarnya…. Menikmati suasana itu serasa berada di lokasi nun jauh di pedalaman Indonesia. Padahal, tempat ini tidak jauh dari kota Jakarta. Lokasinya berada di hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) yang membentang antara Depok dan Jakarta Selatan.

Sajian alam inilah yang mengundang banyak orang mendatangi hutan UI. Salah satu titik pertemuan para penikmat suasana hutan kota di utara Fakultas Teknik UI. Dari area ini, mereka masuk hutan dengan beragam kepentingan. Sebagian bersepeda, berjalan-jalan saja, joging, atau memancing di danau tepian hutan.

Walau berbeda kegiatan menikmati suasana hutan kota, satu kesan yang mereka rasakan, yaitu kedamaian menyatu dengan alam.

Nur Halim, pegawai PT Pertamina, sangat menggemari suasana tersebut. Setiap ada keinginan, terutama selepas kerja, dia bisa mengunjungi hutan UI, seperti yang dilakukan pada Kamis (15/3/2012) sore. Dengan seragam kantor masih melekat di tubuhnya, dia melintasi jalan tanah menantang di Trek Mangkuk.

Bersama puluhan penggemar sepeda lain, Nur menikmati suasana hutan kota UI. ”Susah mencari tempat seperti ini,” katanya.

Tahun 2006, dia dan sesama penggemar sepeda di komunitas Rombongan Anak Mangkuk (Roam) UI membuat jalur bersepeda mini down hill sepanjang 300 meter. Lantaran salah satu ruasnya berbentuk seperti mangkuk, jalur ini dikenal dengan Trek Mangkuk.

Meski pendek, Trek Mangkuk sering kali memakan korban. Sudah biasa pengguna sepeda jatuh terpelanting, menabrak pohon, atau keluar lintasan. Namun, hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan ingin menjajal lagi.

Hampir setiap hari trek ini dipakai orang, terutama sore hari selepas melakukan aktivitas sekolah, kuliah, atau bekerja. ”Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar,” ujar Koordinator Roam UI Adrian Bachrumsyah.

Lokasi Trek Mangkuk berada di utara Fakultas Teknik UI. Tidak hanya itu, di dalam hutan kota UI terbentang Trek Nyamuk sepanjang 3,2 kilometer. Rute Trek Nyamuk berputar-putar di dalam hutan, melipir di tepi danau, dan kembali lagi ke dalam hutan. Lantaran berputar-putar, lintasan itu disebut Trek Nyamuk. ”Tidak semua orang dapat menguasai trek ini. Jika tidak paham, akan terus berputar di dalam hutan,” tutur Adrian.

Murah

Menikmati hutan UI tidak selalu dengan alat dan biaya tinggi. Salah satunya dilakukan Yopi (60) yang menyambangi hutan UI bersama cucunya, Ridwan (10), Patrisia (7), dan Angel (3). Dia menggelar tikar di antara pepohonan dekat Stadion UI. Tempatnya sejuk, tanahnya berbentuk lereng, dan rumputnya terpangkas rata.

Berbekal makanan yang dibawa dari rumah, Yopi menikmati Minggu (11/3/2012) pagi hingga siang itu bersama cucu-cucunya.

Kakek yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini merasakan kenikmatan suasana alami di antara pohon yang menjulang tinggi. Dia tidak khawatir dengan keamanan cucu-cucunya. Semuanya terlihat di depan mata.

Dia memilih pergi ke hutan UI sebagai pilihan agar cucu-cucunya tidak bosan.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI Tarsoen Waryono mengatakan, saat ini belum ada upaya untuk mengomersialkan hutan. Pemanfaatan untuk kepentingan rekreasi dan olahraga tidak dipungut biaya. Rencana untuk mengembangkan konsep agrowisata sudah dirancang sebelumnya.

Sementara ini, UI baru menyediakan lokasi berkemah di sekitar kantor resimen mahasiswa. Namun, pengunjung yang ingin menginap dapat singgah di Wisma Makara yang memiliki 67 kamar, ruang pertemuan, tempat makan, dan ruang serbaguna.

Wisma ini berada di sisi utara wilayah kampus, secara administratif masuk wilayah Jakarta Selatan, berdampingan dengan asrama mahasiswa. Jika beruntung, Anda dapat menempati kamar dengan pemandangan langsung ke arah hutan dan danau UI.

Hutan kota di Kampus UI terletak di lahan seluas 90 hektar. Di dalamnya terdapat 130 jenis pohon dari rencana pengembangan 800 jenis. Di kawasan dalam hutan terdapat penangkaran rusa, jalur sepeda, jalur lintas alam, dan danau.

Tidak semua hutan di UI dapat diakses karena benar-benar berupa hutan dengan semak-semak tinggi dan pohon yang rapat. Kawasan ini dapat dijangkau melalui Jalan Raya Pasar Minggu dari arah Jakarta, sedangkan dari arah Bogor dapat melewati Jalan Raya Margonda.

Bogor

Lebih ke selatan, Anda bisa memilih Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Susuri tepian danau di pengujung hutan, lalu masuk lebih dalam ke hutan yang teduh ini. Sesap keheningan dan ketenangannya sebelum melihat rusa-rusa timor.

Hujan baru saja mereda suatu pagi pada awal Maret. Udara di sekitar Hutan Penelitian Dramaga di Kecamatan Bogor Barat ini semakin sejuk. Sinar matahari yang malu-malu muncul usai hujan, memantul dari tepian permukaan Situ Gede yang beriak. Rumput di perbatasan hutan dan danau basah.

Lima remaja perempuan duduk di sebatang sisa pohon tumbang, sesekali tertawa di sela percakapan mereka. Tak jauh dari sana, laki-laki dan perempuan duduk di bangku di antara dua pohon, menghadap ke arah Situ Gede, asyik bercengkerama. Beberapa warung di sekitar mereka masih tutup, membuat suasana benar-benar tenang.

”Saya baru sekali ini datang, dan memang suasananya nyaman. Benar-benar kembali ke alam,” tutur Diana (15), seorang dari lima remaja putri yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah membuat videoklip untuk mata pelajaran Seni dan Budaya SMA.

Hutan Penelitian Dramaga berada di perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Hutan ini berada di ujung Kecamatan Bogor Barat yang berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor). Jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Dari Bogor hanya diperlukan waktu 15-30 menit saja berkendara, bisa melalui jantung kota atau memutar lewat Jalan Soleh Iskandar mengarah ke Taman Yasmin dan Terminal Bubulak.

Luas hutan yang dikelola oleh Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan ini sekitar 60 hektar. Awalnya, kawasan hutan ini adalah perkebunan karet sebelum dijadikan hutan penelitian pada tahun 1956.

Namun, belasan tahun terakhir, 11 hektar di antaranya dimanfaatkan oleh Center for International Forestry Research. Kementerian Kehutanan juga membuat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) di kawasan ini dengan jumlah populasi saat ini sekitar 40 ekor.

Untuk jalur yang paling ringan, Anda bisa memarkir kendaraan di samping Kelurahan Situ Gede, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Situ Gede, masuk ke kawasan hutan. Anda bisa langsung mengunjungi penangkaran rusa atau berjalan di sekitar kawasan hutan.

”Kalau masuk ke dalam hutan, sebaiknya hati-hati dengan ular. Untuk mengelilingi kawasan hutan ini setidaknya dibutuhkan 30 menit sampai satu jam jalan kaki. Ada jalan setapak yang menjadi pemisah antarpetak,” tutur Zaenal, penanggung jawab Hutan Penelitian Dramaga.

Pengunjung perorangan bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun, Zaenal meminta pengunjung tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak tanaman atau membuang sampah sembarangan.

Untuk rombongan cukup besar, ia menyarankan agar sepekan sebelumnya melayangkan surat ke Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan di Gunung Batu, Kota Bogor. Jika membutuhkan petugas untuk mengantar berkeliling atau menjelaskan soal hutan itu, bisa juga mengajukan permintaan ke Puslitbang.

Tak perlu pemandu jika Anda sekadar ingin mencari ketenangan. Carilah tempat duduk, lalu tutup mata Anda, hirup kesegaran udaranya, serta rasakan angin yang bertiup dan suara daun di pohon yang digoyang angin. Curi ketenangan hutan ini untuk mengisi jiwa Anda sebelum kembali menghadapi hutan beton.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/03/20/0855332/Nikmati.Suasana.Hutan.di.Pinggiran.Jakarta