WowKeren.com - Salah satu personil baru JKT48, Haruka Nakagawa, cukup terkejut melihat kondisi Jakarta. Haruka atau yang akrab disapa Harugon tersebut kaget ketika melihat situasi banjir yang melanda Jakarta.
"Saya belum pernah lihat yang seperti itu di Jepang," kata Haruka usai debut dengan penampilan setlist "Aturan Anti Cinta" di teater JKT48, Jakarta, Rabu (26/12) malam. "Saat pertama lihat hujan deras hingga jadi banjir, saya pun berkata 'Sugoi! Sugoi!' (luar biasa! luar biasa!)."
Haruka bersama temannya, Aki Takajo, ditransfer dari AKB48 sejak 2 November lalu. Saat ini mereka masih menyesuaikan diri untuk bisa akrab dengan personil JKT48. Haruka dan Aki juga berjanji akan bekerja keras terutama dalam menguasai bahasa Indonesia.
"Semangat ya! Kami akan berusaha tampil dengan baik," kata Haruka. "Awalnya saya merasa deg-degan jauh dari rumah. Ada tembok bahasa jadi susah komunikasi. Tapi semua baik, dukung saya."
"Deg-degan dan nervous. Tapi kita latihan sama member," kata Aki. "Mereka mendukung saya, dicoba dan akhirnya saya merasa senang." (wk/ri)
Sumber : http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00029694.html
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Desember 2012
Kamis, 26 April 2012
Pakar: budaya Betawi tidak akan punah
Jakarta (ANTARA News) - Antropolog Universitas Indonesia dan pakar kebudayaan Betawi Prof Yasmine Z Shahab mengatakan kebudayaan Betawi tidak akan punah, hanya akan berubah atau muncul dengan wajah baru.
"Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli," kata Prof Yasmine pada acara bincang-bincang bertajuk "Betawi Punya Gaye, Inspirasi Warisan Budaya Jakarta Asli" di Jakarta, Rabu.
Ia mencontohkan, Lenong saat ini muncul dengan wajah baru. Namun versi asli kesenian asli Betawi itu masih tetap ada.
Menurut Yasmine, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena berada di Jakarta, pusat pemerintahan yang menjadi tempat berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Kesadaran orang Betawi akan identitas budayanya, kata dia, akan membuat budaya Betawi akan menjaga kelestarian budaya Betawi.
"Jadi tidak usah takut budaya Betawi akan hilang yang akan adalah berubah. Kalau orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli," katanya. (D016)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/307817/pakar-budaya-betawi-tidak-akan-punah
"Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli," kata Prof Yasmine pada acara bincang-bincang bertajuk "Betawi Punya Gaye, Inspirasi Warisan Budaya Jakarta Asli" di Jakarta, Rabu.
Ia mencontohkan, Lenong saat ini muncul dengan wajah baru. Namun versi asli kesenian asli Betawi itu masih tetap ada.
Menurut Yasmine, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena berada di Jakarta, pusat pemerintahan yang menjadi tempat berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Kesadaran orang Betawi akan identitas budayanya, kata dia, akan membuat budaya Betawi akan menjaga kelestarian budaya Betawi.
"Jadi tidak usah takut budaya Betawi akan hilang yang akan adalah berubah. Kalau orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli," katanya. (D016)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/307817/pakar-budaya-betawi-tidak-akan-punah
Label:
bahasa
,
jakarta
,
kebudayaan
,
orang
,
yasmine
Senin, 19 Maret 2012
Dialek Jakarta Asli dan Umum
DALAM Yavanologi 1985, Muhadjir menyatakan 40% dari kosakata dialek Jakarta berasal dari bahasa Jawa. Wayan Bawa (1981) mengemukakan, sekitar 25% dialek Jakarta berasal dari kosakata bahasa Bali, terutama pada kata-kata yang berakhiran in. Jauh sebelumnya, van der Tuuk berpendapat, dialek Jakarta merupakan sejenis "bahasa Bali rendah".
Sebaliknya A. Teeuw (1961) dan Hans Kähler (1966) menyatakan, dilihat dari kosakatanya dialek Jakarta adalah sejenis dialek Melayu dengan unsur-unsur dari Bali, Jawa, Sunda, Arab, Cina, Belanda, Portugis, dan Inggris (Abdul Chaer, "Dialek Jakarta: Siapa Punya", 1986). Contohnya beken, permak, onderdil, dan persekot (Belanda); apdol, waris, dan tapsir (Arab); serta hoki, jigo, dan loteng (Cina).
Menurut Chaer, istilah dialek Jakarta sangat kompleks. Di dalamnya terkandung pengertian berbagai macam ragam bahasa yang diperbedakan secara sosial, regional, dan etnis. Dialek Melayu Jakarta mempunyai dua subdialek. Pertama, Dialek Jakarta Asli (DJA), yang diturunkan secara langsung dari Dialek Melayu Jakarta. Kedua, Dialek Jakarta Umum (DJU), yang diturunkan melalui bahasa Indonesia.
Namun batas antara DJA dan DJU sangat kabur. Penutur DJA akan menolak kalau kata-kata seperti jigo dan apdol disebut sebagai kata-kata dialek Jakarta. Sebaliknya para penutur DJU akan menerima kata-kata tersebut sebagai kosakata dialek Jakarta. Karena itu kosakata yang dimiliki DJA jauh lebih sedikit dibandingkan DJU. Jumlah kosakata DJA tidak akan bertambah selama para penuturnya menutup diri terhadap pengaruh dari luar. Sedangkan kosakata DJU akan semakin bertambah sesuai dengan perkembangan budaya dalam masyarakat Jakarta.
Sulitnya, kata Chaer, kita tidak tahu pasti asal-usul kosakata dalam dialek Jakarta. Umpamanya kata babi dalam dialek Jakarta, terdapat juga dalam bentuk dan makna yang sama dalam bahasa Jawa, Madura, dan Batak. Lantas dari manakah asal kata babi itu, kita sulit menjawabnya. Ada kemungkinan hanya kebetulan belaka, menyerap dari bahasa lain, dan sama-sama berasal dari bahasa sumber yang lebih tua. Seyogyanya ada penelitian kebahasaan, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai dialek Jakarta ini.
Sumber : http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2012/03/16/10064390/Dialek.Jakarta.Asli.dan.Umum
Sebaliknya A. Teeuw (1961) dan Hans Kähler (1966) menyatakan, dilihat dari kosakatanya dialek Jakarta adalah sejenis dialek Melayu dengan unsur-unsur dari Bali, Jawa, Sunda, Arab, Cina, Belanda, Portugis, dan Inggris (Abdul Chaer, "Dialek Jakarta: Siapa Punya", 1986). Contohnya beken, permak, onderdil, dan persekot (Belanda); apdol, waris, dan tapsir (Arab); serta hoki, jigo, dan loteng (Cina).
Menurut Chaer, istilah dialek Jakarta sangat kompleks. Di dalamnya terkandung pengertian berbagai macam ragam bahasa yang diperbedakan secara sosial, regional, dan etnis. Dialek Melayu Jakarta mempunyai dua subdialek. Pertama, Dialek Jakarta Asli (DJA), yang diturunkan secara langsung dari Dialek Melayu Jakarta. Kedua, Dialek Jakarta Umum (DJU), yang diturunkan melalui bahasa Indonesia.
Namun batas antara DJA dan DJU sangat kabur. Penutur DJA akan menolak kalau kata-kata seperti jigo dan apdol disebut sebagai kata-kata dialek Jakarta. Sebaliknya para penutur DJU akan menerima kata-kata tersebut sebagai kosakata dialek Jakarta. Karena itu kosakata yang dimiliki DJA jauh lebih sedikit dibandingkan DJU. Jumlah kosakata DJA tidak akan bertambah selama para penuturnya menutup diri terhadap pengaruh dari luar. Sedangkan kosakata DJU akan semakin bertambah sesuai dengan perkembangan budaya dalam masyarakat Jakarta.
Sulitnya, kata Chaer, kita tidak tahu pasti asal-usul kosakata dalam dialek Jakarta. Umpamanya kata babi dalam dialek Jakarta, terdapat juga dalam bentuk dan makna yang sama dalam bahasa Jawa, Madura, dan Batak. Lantas dari manakah asal kata babi itu, kita sulit menjawabnya. Ada kemungkinan hanya kebetulan belaka, menyerap dari bahasa lain, dan sama-sama berasal dari bahasa sumber yang lebih tua. Seyogyanya ada penelitian kebahasaan, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai dialek Jakarta ini.
Sumber : http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2012/03/16/10064390/Dialek.Jakarta.Asli.dan.Umum
Label:
bahasa
,
bertambah
,
diturunkan
,
jakarta
,
melayu
Langganan:
Postingan
(
Atom
)