Tampilkan postingan dengan label underpass. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label underpass. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

Atasi Macet, DKI Tambah Ruas Jalan

JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta berencana menambah ruas jalan di Ibu Kota. Kebijakan ini sebagai solusi menekan angka kemacetan yang semakin parah.

Kebijakan ini diambil setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bertemu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago kemarin. Ahok menuturkan, dalam pertemuan itu Andrinof meminta dia segera melakukan proses pembayaran utang kepada masyarakat dalam bentuk menambah ruas jalan guna mengatasi kemacetan yang kerap mengganggu aktivitas.

”Ya kita tambah pembangunan jalan layang, underpass , menambah rasio jalan, termasuk jalan inspeksi sungai,” kata Ahok di Kantor KementerianPPN/ Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin. Menurut Ahok, berdasarkan hasil pertemuan dengan Andrinof, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) akan membantu Pemprov DKI Jakarta membangun flyover dan underpass.

Misalnya untuk penambahan rute busway koridor XIII (Ciledug-Blok M) yang akan dilanjutkan hingga Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kementerian PU-Pera membangun jalan tembusan atau underpass dari Kuningan ke Jalan Kapten Tendean. ”Intinya tahun ini kami akan menambah rasio jalan, khususnya 15 koridor busway dan jalan inspeksi,” katanya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan, pemerintah pusat mendukung penuh upaya Pemprov DKI Jakarta mendorong masyarakat menggunakan transportasi massal. Namun, dia berharap Ahok juga tidak lupa membayar utang kepada warga Jakarta. ”Saya ingatkan tetap bayar utang yakni menambah jalan umum. Bentuknya bisa underpass atau flyover,” katanya.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal mengatakan, tahun ini pihaknya hanya akan mengerjakan penambahan ruas jalan layang busway koridor XIII (Ciledug- Blok M). Sementara pembangunan underpass dan flyover difokuskan pada pembebasan lahannya terlebih dahulu di antaranya Pulogebang, Permata Hijau, dan Kuningan.

”Rawa Jati hingga Pasar Minggu juga akan dibuat jalan tembus. Kami fokus pembebasan lahan terlebih dahulu seperti jalan inspeksi, termasuk enam jalan tol dalam kota yang dibangun pemerintah pusat,” paparnya. Pembangunan fisik busway koridor XIII mulai dilakukan April mendatang. Saat ini masih dilakukan rancang desain hingga tiga bulan mendatang. Proses lelang telah selesai.

Hanya, pembangunan tidak dapat langsung dilakukan karena pemenang tender harus merancang desain terlebih dahulu. Pembangunan fisik busway dibagi menjadi delapan paket pengerjaan. Di sepanjang koridor ini terdapat 12 halte dengan anggaran Rp2,5 triliun. Rinciannya Rp200 miliar untuk biaya konsultan perencanaan, desain awal, dan konsultan manajemen. Pembangunan fisik Rp2,3 triliun.

Biaya pembangunan menggunakan anggaran tahun jamak (multiyears ). Busway dengan model jalan layang ini ditargetkan beroperasi 2016. Jalan layang yang dibangun memiliki panjang 9,4 kilometer yang terbentang dari Ciledug hingga Jalan Kapten Tendean, lebar 9 meter, dan tinggi sekitar 12-20 meter. Di bagian lain, Pemkot Jakarta Pusat mempercepat pembangunan jalan inspeksi.

Pembangunan jalan alternatif dinilai bisa mengurai kemacetan di Ibu Kota. Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, beberapa jalan inspeksi yang belum dapat ditembus yakni pinggir Kali Ciliwung dari Tugu Tani ke Jalan Raden Saleh. Kemudian pinggir Kanal Banjir Kanal Barat (KBB) dari Roxy hingga Jalan Tenaga Listrik, Tanah Abang.

Menurutnya, jalan inspeksi terbukti bisa menjadi alternatif bagi sebagian pengendara. Ini terlihat dari pengoperasian jalan inspeksi di Kemayoran yang bisa tembus ke Jalan Raya Sunter. ”Kemudian jalan dari Sunter menuju Pengadilan Negeri Jakarta Utara,” tuturnya. Mangaramengatakan, pihaknya sudah menginventarisasi masalah di lapangan salah satunyakesediaanwargapindah.

Masalah selanjutnya adalah pencahayaan setelah dilakukan pembebasan. Jika pencahayaan tidak maksimal, setelah dibebaskan lahan akan ditinggali lagi. Kemudian koordinasi dengan instansi terkait. ”Saat ini pengerjaan jalan sepanjang Roxy-Tanah Abang sudah selesai. Sisi sebelah kanan juga akan dijadikan jalan inspeksi,” sebutnya.

Untuk kawasan Tugu Tani hingga Jalan Raden Saleh, masalah yang cukup menyulitkan adalah pembebasan tempat ibadah karena urusan administrasinya harus sampai ke Kementerian Agama. ”Selain masjid, kendala di kawasan tersebut masih ada pom bensin dan hotel,” ujarnya.

Kepala Sudin Perhubungan Jakarta Pusat Muslim mengatakan, untuk mengurai kemacetan dalam tiga bulan ini, pihaknya melakukan sterilisasi di Roxy dan Tanah Abang. Dua kawasan tersebut menjadi lokasi parkir liar terbanyak. ”Termasuk angkot ngetem ,” ujarnya. Dia menambahkan, maraknya parkir liar karena kawasan tersebut merupakan pusat perekonomian sehingga untuk penataan pihaknya tidak mungkin bekerja sendiri. Perlu dukungan dari kelurahan dan kecamatan setempat.

Sumber : http://www.koran-sindo.com/read/947169/149/atasi-macet-dki-tambah-ruas-jalan-1420603519

Kamis, 06 Maret 2014

Pengendara di Bawah Ancaman Lubang Jalan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puluhan mobil pribadi dan angkutan umum berjalan pelan selepas fly over Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Mobil-mobil itu harus mengantre lantaran jalanan di underpass bypass menuju Pasar Gembrong, Jakarta Timur, rusak parah.

Jalan di underpass itu bergelombang. Aspal jalan banyak yang mengelupas, sehingga banyak krikil yang betebaran. Jalan yang licin memaksa mobil-mobil dan pengendara sepeda motor memperlambat laju kendaraan, sehingga antrean kendaraan mencapai puluhan meter. Parahnya, antrean jalan juga terjadi di arah sebaliknya, yakni dari Pom Bensin Pasar Gembrong hingga Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Timur.

Kemacetan itu diperparah karena Jalan Kampung Melayu Kecil, Bukit Duri Tanjakan, menuju Kuningan dan Dr Saharjo sedang dalam perbaikan. Iwan, salah satu pengendara, mengaku kesal lantaran jalan tersebut belum diperbaiki sejak musim hujan pada Desember 2013.

Jalan rusak juga tersebar di sekitar Jalan Dewi Sartika menuju Kampung Melayu dan Matraman. Di tempat langganan banjir itu juga belum ada tanda-tanda perbaikan jalan. Dari data yang diterima ROL dari Dinas Pekerjaan Umum untuk wilayah kota administrasi Jakarta Timur, titik jalan rusak sebanyak 3.548 yang terdiri atas 142 lokasi, DPU juga mencatat sudah memperbaiki jumlah titik jalan rusak sebanyak 3.479 titik.

"Jika ngebut, kalau tidak celaka, ya motor rusak," kata seorang pengendara motor, Anton, kepada ROL di Mampang, Selasa (4/2).

Pria yang hampir setiap hari melewati Jalan Mampang Pramatan itu mengeluhkan rusaknya jalan. Bukannya diperbaiki, kata Anton, jalan yang rusak malah semakin bertambah.

Pantauan ROL di sepanjang Jalan Mampang Prapatan arah Kuningan, terlihat lubang-lubang dengan ukuran bervariasi. Tak heran jika kemacetan terjadi di sejumlah titik lantaran para pengendara melambatkan laju kendaraanya.

"Kalau jam kerja bisa pelan-pelan, untuk ngindarin lubang. Tapi, kalau sepi bahaya juga yang ngebut," kata Rony, tukang ojek yang biasa mangkal di depan Hotel Maharani, Mampang.

Saat hujan, titik jalan yang berlubang itu akan tertutup air dan menggenang, sehingga berbahaya bagi pengendara. Sedangkan, saat cuaca terik, lubang-lubang itu akan mengeluarkan krikil kecil, sehingga membuat jalan terasa licin dan penuh debu.

Kemacetan di DKI juga tidak sepenuhnya karena lubang jalan, seperti yang terjadi di traffic light Asemka, Jakarta Barat. Guna menghindari kemacetan panjang, Direktorat Lalu Lintas melakukan rekayasa di Asemka sejak 26 Februari 2014. Memasuki Selasa (4/3), uji coba tersebut dinilai sukses. "Sirkulasinya bagus kok," kata Kepala Bagian Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budianto, Selasa (4/3).

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/03/05/n1ys9q-pengendara-di-bawah-ancaman-lubang-jalan

Jumat, 22 Februari 2013

Tiga Moda Transportasi untuk Atasi Kemacetan Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perhubungan EE Mangindaan akan terus mengutamakan tiga moda transportasi untuk mengatasi kemacetan di DKI Jakarta. Saat ini, pemerintah sedang berusaha mengembangkan sistem transportasi tersebut.

"Ada tiga moda transportasi yang akan kita optimalkan, yaitu kereta api, kerja sama dengan daerah penyangga, serta monorel atau mass rapid transit (MRT)," kata Mangindaan saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (21/2/2013).

Menurut Mangindaan, sistem transportasi yang selama ini ada memang harus dioptimalkan untuk bisa mengurangi kemacetan Ibu Kota. Sebab, bila harus menambah moda transportasi, belum tentu ini akan menyelesaikan masalah utama tersebut.

Sistem transportasi pertama yang bisa dilakukan adalah pengembangan kereta api. Moda ini akan tetap dipertahankan karena bisa mengangkut penumpang lebih banyak. Namun, sampai saat ini setidaknya ada 15 titik pelintasan kereta api yang menyebabkan kemacetan khususnya di jam-jam sibuk.

"Kami sarankan ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk membuat underpass di pelintasan tersebut. Sebab, ini wewenang pemerintah daerah. Ini setidaknya akan membantu kelancaran kereta api," tuturnya.

Kedua, bekerja sama dengan daerah penyangga, yaitu Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Sebab, setiap hari ada sekitar 20.000 kendaraan yang masuk ke DKI Jakarta pada jam kerja.

"Seharusnya mereka bisa parkir di tempat penyangga, lalu mereka naik kereta api ke kota. Jadi, orang tidak akan stres karena macet, bisa hemat BBM, dan waktu tempuh bisa dikurangi," ujarnya.

Ketiga, pembangunan monorel dan MRT. Sistem transportasi ini masih dirapatkan saat ini. Harapannya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa segera dapat memutuskan sistem transportasi yang tepat untuk mengatasi kemacetan Ibu Kota tersebut.

"Jadi konsepnya memang harus multimoda. Ini akan menekan kemacetan Ibu Kota," katanya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/21/18070557/Tiga.Moda.Transportasi.untuk.Atasi.Kemacetan.Jakarta

Rabu, 16 Mei 2012

Underpass dan Flyover Bukan Jaminan Jakarta Bebas Macet

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dengan adanya upaya pembangunan underpass dan flyover di jalan-jalan nasional di DKI Jakarta, tidak menutup kemungkinan terjadi kemacetan dimana-mana. Mengingat intensitas dan volume kendaraan di Jakarta semakin melonjak.

Hal ini mengakibatkan kemacetan yang selalu menjadi keluhan warga Jakarta. Dirjen Bina Marga Joko Murjanto mengaku sendiri kalau kemacetan khususnya di ibukota memang sulit ditangani.

"Kemacetan semua sudah angkat tangan Bina Marga. Kita sudah enggak mungkin tangani sendiri," ujar Djoko kepada wartawan, di kantornya, Jakarta, Selasa (15/5/2012).

Dalam penjelasannya, Joko mengatakan pula, dibangunnya flyover atau underpass tidak menjamin bisa mengurangi kemacetan. Pasalnya jumlah jalan yaang akan dibangun tidak setara dengan jumlah mobil yang akan dibeli warga Jakarta nantinya.

"Kita buat flyover, sehari dua hari, besoknya macet lagi. Jalan jadi satu mobil tambah banyak lagi,"ungkap Joko.

Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/05/15/underpass-dan-flyover-bukan-jaminan-jakarta-bebas-macet

Kamis, 08 Maret 2012

Underpass Blok M-Sudirman Operasi Pekan Depan

VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meninjau kesiapan operasional terowongan atau underpass di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.

Rencananya, underpass dari arah Blok M menuju Sudirman itu akan dibuka pada Senin, 12 Maret 2012 mendatang, pada pukul 06.00 pagi.

"Laporan yang saya terima semua sudah sesuai rencana, sudah diujicoba. Yang terakhir perlu waktu untuk memasang tanda-tanda lalu lintas dan sosialisasi khususnya untuk penyeberang jalan," kata Fauzi Bowo di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Maret 2012.

Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, menuturkan nantinya Pemprov DKI akan membangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) untuk mempermudah dan menjamin keselamatan pejalan kaki. JPO ini akan dibangun pada Mei 2012 dan ditargetkan selesaikan November 2012.

"JPO nanti menyusul karena baru diusulkan dalam tahun anggaran ini. Itu akan menghubungkan antara sisi barat-timur. Sekaligus akses yang menghubungkan dua bangunan utama Mabes Polri," jelasnya.

Underpass ini satu paket dengan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari-Blok M.

"Direncanakan flyover untuk dua arah. Ini untuk traffic yang keluar. Apabila dibutuhkan kita bisa konversikan satu jurusan untuk dua arah," ujarnya.

Pembangunan paket JLNT dan underpass ini, menurut Foke akan menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI guna mengurangi kemacetan dengan memisah simpang sebidang, menjadi simpang tidak sebidang.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan dengan adanya underpass di depan lapangan Mabes Polri ini, maka JPO sangat dibutuhkan untuk memudahkan penyeberang jalan. Sebelum JPO selesai dibangun, maka pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan sementara waktu diarahkan ke persimpangan jalan.

"Akan ada zebra cross di empat ruas jalan. Dengan adanya underpass, masalah yang paling riskan adalah pada penyeberang jalan. Maka ini akan diselesaikan dengan membangun JPO pertengahan tahun ini," kata dia.

Pristono menjelaskan, dengan dibukanya underpass ini, maka lalu lintas akan lebih efisien. Lampu lalu lintas di perempatan Mabes Polri akan lebih sedikit waktunya, sehingga dapat dialihkan untuk yang lainnya.

"Simpang ini terkenal dengan antrean lalu lintas yang panjang. Yang kita harus hati-hati adalah adanya pertemuan dua arus menuju arah Blok M," tuturnya. (umi)

Sumber : http://metro.vivanews.com/news/read/294173-underpass-blok-m-sudriman-dibuka-pekan-depan