KOMPAS.com - Waze memiliki cara baru untuk menginformasikan kemacetan di sebuah kota. Kini, layanan peta digital tersebut mulai menggunakan Twitter untuk menginformasikan lalu lintas yang tidak biasa di beberapa kota besar dunia, termasuk Jakarta.
Waze menamakan program informasi lalu lintas melalui Twitter ini sebagai Waze Unusual Traffic.
Seperti KompasTekno kutip dari The Next Web, Kamis (30/4/2015), pengguna Twitter bisa mengikuti atau follow beberapa akun Waze dari beberapa kota besar untuk mendapatkan informasi kemacetan tersebut.
Kicauan-kicauan dari akun Twitter tersebut akan terdiri dari foto dari situasi lalu lintas saat itu, penyebab kemacetan (jika ada), gambar situasi dari pengguna Waze, dan sebuah tautan yang berisi jalur alternatif untuk menghindari kemacetan.
Sudah ada lebih dari 50 akun Waze Unusual Traffic yang tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar dari akun tersebut mencakup kota-kota besar di AS.
Menariknya, kota Jakarta sudah masuk ke daftar tersebut. Menurut penelusuran KompasTekno, akun Waze Unusual Traffic untuk kota Jakarta bisa diakses melalui @WazeTrafficJKT.
Akun ini sendiri tampaknya baru mulai beroperasi. Jumlah kicauannya, hingga berita ini ditulis, baru berjumlah 345 tweet. Followernya pun baru menyentuh angka 599.
Selain itu, belum ada logo centang berwarna biru, yang menandakan bahwa akun Twitter ini masih belum diakui menjadi official account.
Selama ini, pengguna sebenarnya sudah bisa memantau kemacetan langsung melalui aplikasi Waze. Melalui program Unusual Traffic, layanan yang telah dimiliki oleh Google tersebut terlihat ingin menyebarkan informasi dengan lebih luas lagi dengan memanfaatkan media sosial.
Informasi yang disebarkan melalui akun Twitter tersebut memang hanya terbatas di beberapa kota besar saja. Akan tetapi, informasi tersebut tentunya bisa sangat berharga apabila seorang pengguna sedang mengunjungi kota.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2015/04/30/15172077/Waze.Laporkan.Kemacetan.Jakarta.di.Twitter
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label traffic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traffic. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Mei 2015
Waze Laporkan Kemacetan Jakarta di Twitter
Label:
akun
,
besar
,
centang
,
informasi
,
jakarta
,
kemacetan
,
kicauan
,
kompastekno
,
kota
,
lalu lintas
,
layanan
,
pengguna
,
situasi
,
tautan
,
traffic
,
twitter
,
unusual
,
waze
,
wazetrafficjkt
Selasa, 21 April 2015
KAA, Warga Jakarta: Haduh, Gimana Gue Berangkat Kerja?
TEMPO.CO, Jakarta - Eva Lisa, 24 tahun, geleng-geleng kepala setelah membaca berita di media online, televisi, dan cetak mengenai peralihan arus lalu lintas dalam rangka pengamanan Peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang akan dilakukan di Jakarta Convention Center, Senayan. "Haduh, gimana nanti gue berangkat kerja?" kata Eva yang berkantor di kawasan Tosari, Jakarta Pusat, Minggu, 19 April 2015.
Eva khawatir perjalanan ke kantor akan tersendat karena polisi membuat beberapa skenario rekayasa lalu lintas di sejumlah jalan protokol. Menurut wanita yang tinggal di Ciledug ini, setiap hari dia melewati JCC, tempat pelaksanaan peringatan KAA pada 22-23 April 2015, menuju Tosari. "Nanti mutar ke mana? Pasti orang pakai jalan alternatif. Jadi padat semua," katanya.
Pernyataan senada disampaikan Ryan Yoga, 25 tahun, yang bekerja di kawasan Kapten Tendean. Jalan itu juga menjadi jalur alternatif arus kendaraan dari Mampang menuju Rasuna Said. "Harus berangkat lebih pagi atau siap-siap lebih lama di dalam kendaraan," kata Ryan. "Belum lagi ada pembangunan jalan layang."
Sebelumnya, Kepala Subdirektorat Pendidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Warsinem, mengatakan selain rekayasa lalu lintas, akan ada pengalihan jalan di mana tamu kenegaraan itu menginap.
Beberapa jalan protokol dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, jalur di sejumlah hotel yang menjadi tempat tamu KAA menginap, serta JCC, akan disterilkan atau dilakukan buka-tutup. "Di setiap persimpangan atau traffic light di jalan itu, kendaraan akan diberhentikan sejauh 20 meter dari traffic light," ujarnya, Sabtu, 18 April 2015.
Beberapa jalan dari atau ke JCC, Hotel Borobudur, Kuningan, Semanggi, dan Sudirman, juga akan diberlakukan buka-tutup. "Sifatnya situasional, kalau Semanggi padat, kami tutup," ujarnya.
Ada juga jalan yang akan ditutup yakni dari Gerbang Pemuda ke arah Hotel Mulia tidak dapat memutar di TVRI. "Akan dialihkan naik flyover atau melewati DPR," kata Warsinem.
Menurut dia, jika Jalan Gatot Subroto (Semanggi) tidak bergerak, kendaraan akan dialihkan ke arah Blok M dan melewati Jalan Asia Afrika. Kendaraan dari Cawang menuju Pancoran atau Semanggi, juga diimbau untuk melewati Jalan Otista.
Warsinem meminta masyarakat yang ke arah Semanggi, Senayan, SCBD, dan Gatot Subroto untuk melewati Casablanka. "Atau bisa berangkat lebih awal sebelum jam 06.00 atau lebih siang setelah jam 10.00," ujarnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/04/19/078658928/KAA-Warga-Jakarta-Haduh-Gimana-Gue-Berangkat-Kerja
Eva khawatir perjalanan ke kantor akan tersendat karena polisi membuat beberapa skenario rekayasa lalu lintas di sejumlah jalan protokol. Menurut wanita yang tinggal di Ciledug ini, setiap hari dia melewati JCC, tempat pelaksanaan peringatan KAA pada 22-23 April 2015, menuju Tosari. "Nanti mutar ke mana? Pasti orang pakai jalan alternatif. Jadi padat semua," katanya.
Pernyataan senada disampaikan Ryan Yoga, 25 tahun, yang bekerja di kawasan Kapten Tendean. Jalan itu juga menjadi jalur alternatif arus kendaraan dari Mampang menuju Rasuna Said. "Harus berangkat lebih pagi atau siap-siap lebih lama di dalam kendaraan," kata Ryan. "Belum lagi ada pembangunan jalan layang."
Sebelumnya, Kepala Subdirektorat Pendidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Warsinem, mengatakan selain rekayasa lalu lintas, akan ada pengalihan jalan di mana tamu kenegaraan itu menginap.
Beberapa jalan protokol dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, jalur di sejumlah hotel yang menjadi tempat tamu KAA menginap, serta JCC, akan disterilkan atau dilakukan buka-tutup. "Di setiap persimpangan atau traffic light di jalan itu, kendaraan akan diberhentikan sejauh 20 meter dari traffic light," ujarnya, Sabtu, 18 April 2015.
Beberapa jalan dari atau ke JCC, Hotel Borobudur, Kuningan, Semanggi, dan Sudirman, juga akan diberlakukan buka-tutup. "Sifatnya situasional, kalau Semanggi padat, kami tutup," ujarnya.
Ada juga jalan yang akan ditutup yakni dari Gerbang Pemuda ke arah Hotel Mulia tidak dapat memutar di TVRI. "Akan dialihkan naik flyover atau melewati DPR," kata Warsinem.
Menurut dia, jika Jalan Gatot Subroto (Semanggi) tidak bergerak, kendaraan akan dialihkan ke arah Blok M dan melewati Jalan Asia Afrika. Kendaraan dari Cawang menuju Pancoran atau Semanggi, juga diimbau untuk melewati Jalan Otista.
Warsinem meminta masyarakat yang ke arah Semanggi, Senayan, SCBD, dan Gatot Subroto untuk melewati Casablanka. "Atau bisa berangkat lebih awal sebelum jam 06.00 atau lebih siang setelah jam 10.00," ujarnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/04/19/078658928/KAA-Warga-Jakarta-Haduh-Gimana-Gue-Berangkat-Kerja
Label:
april
,
arah
,
buka-tutup
,
eva
,
gatot
,
hotel
,
jalan
,
jalan protokol
,
jcc
,
kaa
,
kendaraan
,
lalu lintas
,
light
,
rekayasa
,
ryan
,
semanggi
,
subroto
,
tosari
,
traffic
,
warsinem
Rabu, 22 Oktober 2014
Dengan ERP Kemacetan Ibukota Berkurang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan hingga saat ini masih mencari cara agar mengurangi kemacetan di kota Jakarta. Salah satu hal yang akan dilakukan dengan melakukan Electronic Road Pricing (ERP).
"Penerapan Electronic Road Pricing (ERP) kemungkinan bisa mengurangi kemacetan di Jakarta," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kemenhub, Elly Adriani Sinaga, Selasa (21/10/2014).
Elly memaparkan ERP saat ini sudah masuk ke dalam program jangka panjang, karena tercantum dalam Peraturan Pemerintah. Dalam peraturan tersebut ERP bertujuan untuk mengendalikan lalu lintas.
"Setiap daerah di Indonesia khususnya Jakarta sangat diperlukan manajemen kebutuhan lalu lintas atau traffic demand management (TDM)," ungkap Elly.
Meski ada ERP, Elly menilai infrastruktur transportasi dan jalanan juga harus mendukung untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Hal yang dibutuhkan selain ERP adalah angkutan umum dengan unit yang banyak.
"Penerapan ERP juga harus diimbangi dengan fasilitas kepada para masyarakat agar penerapan tersebut benar-benar terealisasi dengan baik," papar Elly.
Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/21/dengan-erp-kemacetan-ibukota-berkurang
"Penerapan Electronic Road Pricing (ERP) kemungkinan bisa mengurangi kemacetan di Jakarta," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kemenhub, Elly Adriani Sinaga, Selasa (21/10/2014).
Elly memaparkan ERP saat ini sudah masuk ke dalam program jangka panjang, karena tercantum dalam Peraturan Pemerintah. Dalam peraturan tersebut ERP bertujuan untuk mengendalikan lalu lintas.
"Setiap daerah di Indonesia khususnya Jakarta sangat diperlukan manajemen kebutuhan lalu lintas atau traffic demand management (TDM)," ungkap Elly.
Meski ada ERP, Elly menilai infrastruktur transportasi dan jalanan juga harus mendukung untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Hal yang dibutuhkan selain ERP adalah angkutan umum dengan unit yang banyak.
"Penerapan ERP juga harus diimbangi dengan fasilitas kepada para masyarakat agar penerapan tersebut benar-benar terealisasi dengan baik," papar Elly.
Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/21/dengan-erp-kemacetan-ibukota-berkurang
Label:
adriani
,
demand
,
electronic
,
elly
,
erp
,
jakarta
,
jangka panjang
,
kemacetan
,
kemenhub
,
lalu lintas
,
pemerintah pusat
,
penerapan
,
peraturan pemerintah
,
perhubungan
,
pricing
,
road
,
tdm
,
traffic
,
tribunnews
Rabu, 30 Juli 2014
Lebaran, Sebagian Jalan Jakarta Malah Macet Total
TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah jalan di Jakarta macet total pada hari kedua Idul Fitri. "Berdasarkan pada laporan yang diterima dari petugas di lapangan, yang menjadi titik kemacetan parah terutama merupakan wilayah di sekitar tempat rekreasi," ujar petugas Traffic Management Center Polda Metro, Brigadir Satrio, saat dihubungi Tempo, Selasa, 29 Juli 2014.
Satrio menuturkan jalan-jalan utama menuju Ancol, Ragunan, dan Taman Mini dalam kondisi padat merayap. Akun Twitter resmi TMC Polda Metro mencuit, belasan ribu kendaraan yang memenuhi jalan menuju Taman Margasatwa Ragunan menyebabkan kemacetan. Belasan ribu kendaraan itu terdiri atas 2.000 kendaraan roda empat dan lebih dari 10 ribu sepeda motor. (Baca juga: Mulai 1 Agustus, Transjakarta Berlakukan E-Ticket)
Kemacetan tidak hanya terjadi di ruas jalan yang menuju area rekreasi, tapi juga di jalan bebas hambatan. Seperti yang dilansir di linimasa Traffic Management Center Polda Metro, mobil-mobil di jalan tol dalam kota Cawang menuju Taman Mini padat merayap. Sedangkan arus lalu lintas di Jalan Tol Kebon Jeruk menuju arah Tomang mengalami penumpukan kendaraan. (Baca juga: Lebaran, Transjakarta Buka Trayek Harmoni-Ancol)
Penumpukan kendaraan di beberapa wilayah Ibu Kota yang terjadi hari ini diprediksi akan terus berlangsung selama beberapa hari ke depan. "Ini akan kami antisipasi. Baru kembali normal hari Minggu mendatang," ujar Satrio. (Baca juga: Membludak, Pengunjung ke Puncak Monas Dibatasi)
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/07/29/083596323/Lebaran-Sebagian-Jalan-Jakarta-Malah-Macet-Total
Satrio menuturkan jalan-jalan utama menuju Ancol, Ragunan, dan Taman Mini dalam kondisi padat merayap. Akun Twitter resmi TMC Polda Metro mencuit, belasan ribu kendaraan yang memenuhi jalan menuju Taman Margasatwa Ragunan menyebabkan kemacetan. Belasan ribu kendaraan itu terdiri atas 2.000 kendaraan roda empat dan lebih dari 10 ribu sepeda motor. (Baca juga: Mulai 1 Agustus, Transjakarta Berlakukan E-Ticket)
Kemacetan tidak hanya terjadi di ruas jalan yang menuju area rekreasi, tapi juga di jalan bebas hambatan. Seperti yang dilansir di linimasa Traffic Management Center Polda Metro, mobil-mobil di jalan tol dalam kota Cawang menuju Taman Mini padat merayap. Sedangkan arus lalu lintas di Jalan Tol Kebon Jeruk menuju arah Tomang mengalami penumpukan kendaraan. (Baca juga: Lebaran, Transjakarta Buka Trayek Harmoni-Ancol)
Penumpukan kendaraan di beberapa wilayah Ibu Kota yang terjadi hari ini diprediksi akan terus berlangsung selama beberapa hari ke depan. "Ini akan kami antisipasi. Baru kembali normal hari Minggu mendatang," ujar Satrio. (Baca juga: Membludak, Pengunjung ke Puncak Monas Dibatasi)
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/07/29/083596323/Lebaran-Sebagian-Jalan-Jakarta-Malah-Macet-Total
Label:
center
,
harmoni-ancol
,
jalan
,
jalan tol
,
kemacetan
,
kendaraan
,
management
,
metro
,
padat
,
petugas
,
polda
,
ragunan
,
rekreasi
,
ribu
,
satrio
,
taman
,
tempo
,
traffic
,
transjakarta
Selasa, 10 September 2013
Mengubah Wajah Terminal Jakarta Jadi Kelas Berbintang
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali membuat gebrakan. Setelah penataan para pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Tanah Abang, penertiban warga Waduk Ria Rio, Waduk Pluit, dan yang lain; kini muncul program revitalisasi terhadap 18 terminal bus di Jakarta.
Gubernur DKI Joko Widodo menjelaskan, revitalisasi itu telah masuk tahap detail engineering design (DED). Rencananya, tahap lelang konstruksi proyek akan masuk pada awal tahun. Selanjutnya adalah groundbreaking dan diperkirakan akan rampung dua tahun lagi, yakni pada 2016.
"Konsepnya masuk ke terminal tuh kayak masuk hotel bintang lima," ujarnya di Balaikota DKI Jakarta, Senin (9/9/2013).
Jokowi mengatakan, proyek yang perencanaannya dimulai sejak tahun 2011 tersebut awalnya telah memiliki desain bangunan terminal, dengan gaya modern. Jokowi pun memberi sentuhan kolonial pada eksterior bangunan terminal. Adapun interiornya campuran modern dan gaya khas Betawi.
"Yang modern itu cepat ganti-ganti terus. Dikit-dikit mediterania, nanti ganti lagi. Kalau arsitek kolonial itu kan tidak, lebih abadi," lanjut Jokowi.
Tiga konsep terminal
Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono menjelaskan, pihaknya menyiapkan tiga konsep terminal yang akan direvitalisasi. Pertama, mezanine concept, yakni pergerakan orang atau penumpang di lantai terpisah dan tak ada area persilangandengan angkutan umum.
Konsep ini akan diterapkan di terminal tipe A, terminal yang melayani antarkota antarprovinsi, yakni Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pulogadung, Terminal Rawamangun di Jakarta Timur, dan Terminal Kalideres di Jakarta Barat. Kedua, pedestrian crossing concept, yakni pergerakan orang atau penumpang berada di satu level atau sebidang dengan angkutan umum dan jalur pergerakan penumpang menggunakan zebra cross.
Konsep ini akan diterapkan di terminal tipe B, terminal yang melayani rute dalam kota, yakni Terminal Muara Angke dan Terminal Tanjung Priok di Jakarta Utara; Terminal Ragunan dan Terminal Pasar Minggu di Jakarta Selatan; Terminal Kota; Terminal Tanah Merdeka di Jakarta Barat; dan Terminal Klender di Jakarta Timur.
Ketiga, combination concept, yakni kombinasi antara mezanine concept dan pedestrian crossing concept dalam satu terminal. Konsep ini diterapkan di Terminal Manggarai dan Terminal Lebak Bulus di Jakarta Selatan; Terminal Grogol di Jakarta Barat; Terminal Pinang Ranti dan Terminal Kampung Melayu di Jakarta Timur; dan Terminal Senen di Jakarta Pusat.
"Semuanya ada flow penumpang dan flow angkutannya. Ada terminal kedatangan, ada terminal keberangkatan. Terarah dan teratur. Penumpang yang melanggar flow itu ditangkap," ujarnya.
Tak hanya itu, sisi bisnis di setiap terminal pun akan dikembangkan melalui interaksi masyarakat, yakni dengan membuka food court serta ruang terbuka hijau di terminal tersebut. Pristono ingin aktivitas masyarakat dapat menuai keuntungan.
Pristono menjelaskan, dari ke-18 terminal yang akan direvitalisasi, hanya 15 yang menggunakan APBD. Tiga lainnya tidak karena tiga terminal itu saat ini bekerja sama dengan pihak swasta. Tiga terminal itu adalah Terminal Lebak Bulus (dijadikan Depo MRT), Terminal Blok M (PT Langgeng Ayom Lestari), dan Terminal Cililitan (PT PGC).
Pasti ada perlawanan
Pristono yakin revitalisasi 18 terminal bus di Ibu Kota menuai perlawanan dari penghuni terminal. Pihak pertama yang diprediksinya melakukan penentangan adalah pedagang kaki lima yang ada di dalam terminal bus. Ia pun mengambil antisipasi. "Kita ubah mind set-nya. Kalau selama ini kualitas jalanan, sekarang enggak boleh lagi, harus ada mutu," ujarnya.
Pristono mengaku maklum jika ada perlawanan. Namun, yang paling penting adalah penjelasan kepada pedagang itu. Terminal bus dengan konsep yang baru tetap akan mengakomodasi pedagang. Namun, hal itu tetap melalui tahap seleksi. Hanya pedagang yang memiliki komitmen untuk menjaga mutu daganganlah yang dapat bertahan.
Traffic management construction
Revitalisasi 18 terminal itu rencananya dibangun mulai awal tahun 2014. Kini, langkah tersebut masih dalam tahap lelang. Adapun target penyelesaian proyek dengan total nilai Rp 1,7 triliun tersebut ditargetkan rampung dalam dua tahun, yakni pada 2016.
Pristono pun menyadari, saat pembangunan dilaksanakan, hal tersebut akan berdampak pada lingkungan sekitar. Misalnya, kemacetan dan polusi udara. Ia pun telah menyiapkan traffic management construction untuk mengatasinya.
"Traffic management construction itu rencana arus lalu lintas saat pembangunan. Jadi, walau dibangun, arus lalu lintasnya tetap berjalan biasa," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/10/0757245/Mengubah.Wajah.Terminal.Jakarta.Jadi.Kelas.Berbintang
Gubernur DKI Joko Widodo menjelaskan, revitalisasi itu telah masuk tahap detail engineering design (DED). Rencananya, tahap lelang konstruksi proyek akan masuk pada awal tahun. Selanjutnya adalah groundbreaking dan diperkirakan akan rampung dua tahun lagi, yakni pada 2016.
"Konsepnya masuk ke terminal tuh kayak masuk hotel bintang lima," ujarnya di Balaikota DKI Jakarta, Senin (9/9/2013).
Jokowi mengatakan, proyek yang perencanaannya dimulai sejak tahun 2011 tersebut awalnya telah memiliki desain bangunan terminal, dengan gaya modern. Jokowi pun memberi sentuhan kolonial pada eksterior bangunan terminal. Adapun interiornya campuran modern dan gaya khas Betawi.
"Yang modern itu cepat ganti-ganti terus. Dikit-dikit mediterania, nanti ganti lagi. Kalau arsitek kolonial itu kan tidak, lebih abadi," lanjut Jokowi.
Tiga konsep terminal
Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono menjelaskan, pihaknya menyiapkan tiga konsep terminal yang akan direvitalisasi. Pertama, mezanine concept, yakni pergerakan orang atau penumpang di lantai terpisah dan tak ada area persilangandengan angkutan umum.
Konsep ini akan diterapkan di terminal tipe A, terminal yang melayani antarkota antarprovinsi, yakni Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pulogadung, Terminal Rawamangun di Jakarta Timur, dan Terminal Kalideres di Jakarta Barat. Kedua, pedestrian crossing concept, yakni pergerakan orang atau penumpang berada di satu level atau sebidang dengan angkutan umum dan jalur pergerakan penumpang menggunakan zebra cross.
Konsep ini akan diterapkan di terminal tipe B, terminal yang melayani rute dalam kota, yakni Terminal Muara Angke dan Terminal Tanjung Priok di Jakarta Utara; Terminal Ragunan dan Terminal Pasar Minggu di Jakarta Selatan; Terminal Kota; Terminal Tanah Merdeka di Jakarta Barat; dan Terminal Klender di Jakarta Timur.
Ketiga, combination concept, yakni kombinasi antara mezanine concept dan pedestrian crossing concept dalam satu terminal. Konsep ini diterapkan di Terminal Manggarai dan Terminal Lebak Bulus di Jakarta Selatan; Terminal Grogol di Jakarta Barat; Terminal Pinang Ranti dan Terminal Kampung Melayu di Jakarta Timur; dan Terminal Senen di Jakarta Pusat.
"Semuanya ada flow penumpang dan flow angkutannya. Ada terminal kedatangan, ada terminal keberangkatan. Terarah dan teratur. Penumpang yang melanggar flow itu ditangkap," ujarnya.
Tak hanya itu, sisi bisnis di setiap terminal pun akan dikembangkan melalui interaksi masyarakat, yakni dengan membuka food court serta ruang terbuka hijau di terminal tersebut. Pristono ingin aktivitas masyarakat dapat menuai keuntungan.
Pristono menjelaskan, dari ke-18 terminal yang akan direvitalisasi, hanya 15 yang menggunakan APBD. Tiga lainnya tidak karena tiga terminal itu saat ini bekerja sama dengan pihak swasta. Tiga terminal itu adalah Terminal Lebak Bulus (dijadikan Depo MRT), Terminal Blok M (PT Langgeng Ayom Lestari), dan Terminal Cililitan (PT PGC).
Pasti ada perlawanan
Pristono yakin revitalisasi 18 terminal bus di Ibu Kota menuai perlawanan dari penghuni terminal. Pihak pertama yang diprediksinya melakukan penentangan adalah pedagang kaki lima yang ada di dalam terminal bus. Ia pun mengambil antisipasi. "Kita ubah mind set-nya. Kalau selama ini kualitas jalanan, sekarang enggak boleh lagi, harus ada mutu," ujarnya.
Pristono mengaku maklum jika ada perlawanan. Namun, yang paling penting adalah penjelasan kepada pedagang itu. Terminal bus dengan konsep yang baru tetap akan mengakomodasi pedagang. Namun, hal itu tetap melalui tahap seleksi. Hanya pedagang yang memiliki komitmen untuk menjaga mutu daganganlah yang dapat bertahan.
Traffic management construction
Revitalisasi 18 terminal itu rencananya dibangun mulai awal tahun 2014. Kini, langkah tersebut masih dalam tahap lelang. Adapun target penyelesaian proyek dengan total nilai Rp 1,7 triliun tersebut ditargetkan rampung dalam dua tahun, yakni pada 2016.
Pristono pun menyadari, saat pembangunan dilaksanakan, hal tersebut akan berdampak pada lingkungan sekitar. Misalnya, kemacetan dan polusi udara. Ia pun telah menyiapkan traffic management construction untuk mengatasinya.
"Traffic management construction itu rencana arus lalu lintas saat pembangunan. Jadi, walau dibangun, arus lalu lintasnya tetap berjalan biasa," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/10/0757245/Mengubah.Wajah.Terminal.Jakarta.Jadi.Kelas.Berbintang
Label:
bus
,
concept
,
construction
,
dki
,
flow
,
jakarta
,
jokowi
,
konsep
,
management
,
modern
,
penumpang
,
pergera
,
perlawanan
,
pristono
,
revitalisasi
,
tahap
,
terminal
,
traffic
Kamis, 20 Juni 2013
No sweat in Jakarta's 'macet'
ENDLESS TRAFFIC: Despite the gridlock, life goes on in this ever busy city
TRAFFIC jams are synonymous with Jakarta, Indonesia's capital. Locally termed macet, it is among the first encounters that leave a lasting impression on visitors as they move around the metropolitan city of more than 10 million people.
The number of vehicles on the highways, streets and even back alleys would leave many shaking their heads in wonder, but what is even more fascinating is how the people go about their daily affairs without batting an eyelid, despite the gridlock.
Unlike other metropolitan cities, which see a gridlock only during the morning and evening peak hours, Jakarta's macet lasts a whole day. It starts as early as 6am and continues until 11pm daily. The situation eases somewhat during the weekends.
About the only time the city is devoid of cars is during the annual Hari Raya Aidilfitri exodus, when most make their way home to the provinces.
Despite the presence of the Jakarta Inner Ring Road Expressway to ease commuters entering the city centre, the macet remains a part and parcel of daily travel. Buses, private vehicles and taxis add to the endless sea of vehicles clogging the streets of Jakarta.
The infamous macet, has, however, seen the authorities and individuals coming up with innovative ways of daily travel.
In 2011, the Transjakarta Busway was introduced to speed up public transportation and enable commuters to get to their destination fast via dedicated bus lanes, which connect the city centre to the outer regions such as Tangerang, Bekasi, Depok, Bojonggede, Bogor and Serpong.
Bajaj, or the three-wheeled Indonesian version of Thailand's tuk-tuk, is another way of getting around in Jakarta.
But one of the fastest ways to move around Jakarta is via the ojek, or motorcycle-taxi. Travelling in a four- or three-wheeled vehicle from Jakarta to the east, west, south, north and central would take between two and three hours, but with the ojek, which speedily weaves in and around the vehicles and gets one to his destination in almost half the time.
The gridlock has also seen numerous entrepreneurs taking to the street selling their wares at strategic junctions of the city. One does not have to leave the comfort of one's vehicle as the traders manoeuvre Jakarta's maze of streets.
Out of the blue, a trader will weave in an out of the stagnant traffic selling bottles of mineral water, toys, magazines, books, snacks and even inflatable beds -- meaning you can get everything while being stranded in Jakarta's macet.
Besides the traders, you also see get to see the handicapped literally using their "arms and limbs", or lack of them, to earn a living on the busy streets.
Then, there are the "traffic coordinators", who suddenly turn up at crucial junctions to "direct" the traffic flow. As soon as they are done, they approach a motorist, with their palms up, for a token.
For Jakarta and its citizens, necessity is the mother of invention, for they have managed to create a life despite the complexities of modern life.
Sumber : http://www.nst.com.my/opinion/columnist/no-sweat-in-jakarta-s-macet-1.303614
TRAFFIC jams are synonymous with Jakarta, Indonesia's capital. Locally termed macet, it is among the first encounters that leave a lasting impression on visitors as they move around the metropolitan city of more than 10 million people.
The number of vehicles on the highways, streets and even back alleys would leave many shaking their heads in wonder, but what is even more fascinating is how the people go about their daily affairs without batting an eyelid, despite the gridlock.
Unlike other metropolitan cities, which see a gridlock only during the morning and evening peak hours, Jakarta's macet lasts a whole day. It starts as early as 6am and continues until 11pm daily. The situation eases somewhat during the weekends.
About the only time the city is devoid of cars is during the annual Hari Raya Aidilfitri exodus, when most make their way home to the provinces.
Despite the presence of the Jakarta Inner Ring Road Expressway to ease commuters entering the city centre, the macet remains a part and parcel of daily travel. Buses, private vehicles and taxis add to the endless sea of vehicles clogging the streets of Jakarta.
The infamous macet, has, however, seen the authorities and individuals coming up with innovative ways of daily travel.
In 2011, the Transjakarta Busway was introduced to speed up public transportation and enable commuters to get to their destination fast via dedicated bus lanes, which connect the city centre to the outer regions such as Tangerang, Bekasi, Depok, Bojonggede, Bogor and Serpong.
Bajaj, or the three-wheeled Indonesian version of Thailand's tuk-tuk, is another way of getting around in Jakarta.
But one of the fastest ways to move around Jakarta is via the ojek, or motorcycle-taxi. Travelling in a four- or three-wheeled vehicle from Jakarta to the east, west, south, north and central would take between two and three hours, but with the ojek, which speedily weaves in and around the vehicles and gets one to his destination in almost half the time.
The gridlock has also seen numerous entrepreneurs taking to the street selling their wares at strategic junctions of the city. One does not have to leave the comfort of one's vehicle as the traders manoeuvre Jakarta's maze of streets.
Out of the blue, a trader will weave in an out of the stagnant traffic selling bottles of mineral water, toys, magazines, books, snacks and even inflatable beds -- meaning you can get everything while being stranded in Jakarta's macet.
Besides the traders, you also see get to see the handicapped literally using their "arms and limbs", or lack of them, to earn a living on the busy streets.
Then, there are the "traffic coordinators", who suddenly turn up at crucial junctions to "direct" the traffic flow. As soon as they are done, they approach a motorist, with their palms up, for a token.
For Jakarta and its citizens, necessity is the mother of invention, for they have managed to create a life despite the complexities of modern life.
Sumber : http://www.nst.com.my/opinion/columnist/no-sweat-in-jakarta-s-macet-1.303614
Jumat, 04 Januari 2013
VVIP Melintas, Tol Jagorawi Arah Jakarta Macet 17 Kilometer
Jakarta - Bagi anda yang biasa menggunakan ruas Tol Jagorawi ke arah Jakarta, ada baiknya mengambil alternatif jalan lainnya. Pasalnya, VVIP melintas menuju arah Jakarta dan berdampak kepada kemacetan yang mencapai 17 kilometer.
Menurut salah seorang petugas Jasa Marga Traffic Information Center (JMTIC), Dilla, antrean kendaraan dari Bogor menuju Jakarta terjadi sejak pukul 07.00 WIB.
"Imbas perjalanan VVIP yang mengarah ke dalam kota," kata Dilla saat dihubungi detikcom, Jumat (4/1/2013). Petugas tidak menyebutkan siapa VVIP yang dimaksudnya itu.
Selain itu, kegiatan buka tutup jalur di interchange Cawang diberlakukan. Ini dilakukan terkait aktivitas sterilisasi perlintasan yang akan digunakan VVIP itu.
"Ada sterilisasi dan jalur diberlakukan buka tutup," katanya.
Sumber : http://news.detik.com/read/2013/01/04/073148/2132822/10/vvip-melintas-tol-jagorawi-arah-jakarta-macet-17-kilometer?9911012
Menurut salah seorang petugas Jasa Marga Traffic Information Center (JMTIC), Dilla, antrean kendaraan dari Bogor menuju Jakarta terjadi sejak pukul 07.00 WIB.
"Imbas perjalanan VVIP yang mengarah ke dalam kota," kata Dilla saat dihubungi detikcom, Jumat (4/1/2013). Petugas tidak menyebutkan siapa VVIP yang dimaksudnya itu.
Selain itu, kegiatan buka tutup jalur di interchange Cawang diberlakukan. Ini dilakukan terkait aktivitas sterilisasi perlintasan yang akan digunakan VVIP itu.
"Ada sterilisasi dan jalur diberlakukan buka tutup," katanya.
Sumber : http://news.detik.com/read/2013/01/04/073148/2132822/10/vvip-melintas-tol-jagorawi-arah-jakarta-macet-17-kilometer?9911012
Label:
antrean
,
arah
,
buka
,
cawang
,
detikcom
,
imbas
,
information
,
interchange
,
jagoraw
,
jakarta
,
jalur
,
jmtic
,
marga
,
perlintasan
,
petugas
,
sterilisasi
,
traffic
,
tutup
,
vvip
Langganan:
Postingan
(
Atom
)