Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2015

Jakarta Tidak Tenggelam Perlahan

Apabila penurunan tanah Jakarta terus berlanjut, petaka banjir yang menenggelamkan seisi Jakarta di masa depan adalah sebuah keniscayaan.

“Ya, memang perubahan iklim mengakibatkan naiknya permukaan laut. Namun, masalah terbesar bagi Jakarta adalah ancaman tenggelam,” ujar Jan Jaap Brinkman. “Banjir bandang pada 2007 lalu benar-benar tak terduga. Hari itu, tak ada sedikitpun awan di langit.”

Jan Jaap Brinkman merupakan ahli hidrologi dan pakar penurunan lahan dari Deltares Institute, Belanda.

Saat banjir terjadi, Brinkman merupakan salah seorang anggota konsorsium yang terdiri atas beberapa lembaga penelitian asal Belanda. Mereka diminta oleh pemerintah Indonesia untuk memberi solusi untuk mempertahankan dan memulihkan jalur-jalur air yang tersedia, tak lama besrelang setelah banjir musiman tahun 2007.

Lagi-lagi, ibukota dihantam air. Namun, kali ini, air datang dari laut. Banjir kali itu berdampak pada lebih dari 2,6 juta orang. 340 ribu terpaksa mengungsi. Sebanyak 70 orang meninggal, dan menyebarnya penyakit berakibat pada lebih dari 200 ribu orang.

Kerugian ekonomi dan finansial akibat bencana tersebut diperkirakan sebesar 900 juta dollar Amerika. Brinkman, bersama tim penelitinya, menemukan bahwa banjir besar dari laut bisa dikalkulasi secara rinci dan diperkirakan menggunakan siklus bulan. Banjir macam ini terjadi 18-19 tahun sekali. Pasang naik luar biasa selanjutnya diperkirakan terjadi tahun 2025.

Sementara itu, permukaan lahan Jakarta menurun drastis. Penurunan ini berkisar antara 7,5 hingga 25 cm setiap tahun. Air dari laut pun akan masuk ke kota, dan 40 persen ibukota memang hitungannya sudah berada di bawah permukaan laut. Jadi, titik terendah kini terletak di kota, dan bukanlah di laut. “Bayangkan bila lahan Jakarta terus menurun seperti sekarang. Seberapa hebat bencana yang akan ditimbulkan banjir besar selanjutnya?”

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/jakarta-tenggelam-tidak-perlahan

Rabu, 18 Februari 2015

Fitri: Kenapa Jakarta Tetap Banjir? Inilah Hasil Studi dari Rotterdam...

KOMPAS.com — Belum ada resep yang tepat dan cepat mengatasi banjir di Jakarta. Berbagai upaya terus ditempuh oleh Pemerintah Provinsi DKI dan Pemerintah Indonesia.

Hal itulah yang membuat Fitri Wiyati tertarik mengikuti Dutch Training and Exposure Program (Dutep) Rotterdam–Jakarta. Staf Dinas Tata Air DKI Jakarta itu mengikuti pelatihan tersebut selama tiga bulan di Rotterdam Waterboard, Delfland, Belanda, sebagai kerja sama antara Pemerintah Belanda dan Indonesia untuk melatih kemampuan pengawai Provinsi DKI Jakarta.

Dikelola oleh Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia, Dutep merupakan program kerja sama yang melibatkan multistakeholder institusi Belanda dan Indonesia. Program bertujuan untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan pegawai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang manajemen air, serta perencanaan dan tata kelola kota. Di situlah Fitri bersama teman-temannya memperdalam ilmu manajemen air, khususnya cara mengatasi banjir sebagai musibah yang kerap melanda dan terus mengancam warga Ibu Kota.

Selama di Belanda, Fitri mengaku belajar langsung dengan para pakar manajemen air dan tata ruang kota. Dia kerap melakukan field trip untuk melihat langsung infrastruktur pengendali banjir di Belanda yang 50 persen tanahnya berada di bawah permukaan air laut.

"Field trip zandmotor salah satu yang paling mengesankan saya. Zandmotor atau motor pasir merupakan sebuah metode inovatif untuk menjaga pantai. Caranya adalah membangun semenanjung dan mendepositkan sejumlah besar pasir. Angin akan meniup dan menyebarkan pasir secara alami ke sepanjang pantai hingga pantai tersebut menjadi lebih luas. Kawasan ini menjadi tempat rekreasi yang menarik," tutur Fitri, Jumat (13/2/2015).

Fitri mengatakan, kunci utama mengatasi banjir adalah niat. Dia akui, sebenarnya Pemerintah Provinsi DKI sudah merumuskan kebijakan dan rencana strategis untuk mengatasi banjir. Akan tetapi, rencana-rencana itu belum dijalankan dengan baik dan konsisten.

"Belanda benar-benar punya niat dan tekad menjalankan program water management. Apa yang telah diatur oleh pemerintah dalam rencana strategis dan kebijakan strategis diimplementasikan dengan serius," kata Fitri.

Minim pengawasan

Letak Jakarta sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Rotterdam. Kedua kota itu dikelilingi banyak sungai dan beberapa tempat lebih rendah dari permukaan air laut. Akan tetapi, Rotterdam mampu menjaga daratannya tetap kering dan tidak tergenang air.

"Banjir 50 cm saja di Belanda sudah dianggap aib oleh pemerintahnya," kata Fitri.

Saat ini, Pemerintah DKI Jakarta masih fokus mengalirkan air hujan secepat mungkin ke laut. Padahal, menurut Fitri, kapasitas sungai dan drainase tidak mencukupi untuk mengalirkan air hujan dengan cepat ke laut.

Fitri mengatakan, sungai-sungai yang ada di Jakarta masih harus diperlebar lagi. Bahkan, kanal di Belanda lebih besar dari Sungai Ciliwung.

Dia menyarankan Pemprov DKI Jakarta mewajibkan pengembang apartemen atau mal untuk membuat green roof. Green roof adalah atap sebuah bangunan yang sebagian atau seluruhnya ditutupi dengan vegetasi dan media tumbuh, ditanam di atas membran anti-air.

"Itu juga termasuk lapisan tambahan seperti penghalang akar dan drainase sebagai sistem irigasi. Pemerintah Rotterdam malah memberikan insentif bagi siapa saja yang memiliki green roof karena green roof dapat menahan air hujan yang jatuh ke atap rumah melalui akar-akar tanaman sehingga aliran air ke pipa talang jadi berkurang," papar Fitri.

Konsep sumur resapan yang digagas oleh Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sangat efektif. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta harus secara konsisten mewajibkan pengembang membuat sumur resapan bagi siapa saja yang mengajukan izin pembangunan gedung.

Kekurangan Pemprov DKI Jakarta selama ini, lanjut Fitri, adalah minimnya pengawasan. Banyak sumur resapan telah digali, tetapi belum tentu sesuai dengan kedalaman dan material sumur resapan yang dibutuhkan. Untuk itulah, Pemprov DKI harus lebih meningkatkan lagi pengawasan.

"Yang tak kalah penting adalah keterlibatan warga DKI Jakarta untuk mengurangi dampak banjir yang dirasa masih sangat kurang. Masih banyak warga Jakarta membuang sampah ke sungai sehingga menghambat aliran air, berbeda dengan warga Belanda. Warga Belanda begitu aktif ikut serta menjaga lingkungannya dan mendukung program pemerintah dalam rangka mengurangi banjir," ucap Fitri.

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2015/02/16/11173351/Fitri.Kenapa.Jakarta.Tetap.Banjir.Inilah.Hasil.Studi.dari.Rotterdam

Selasa, 25 Maret 2014

Belanda siap hadirkan megaproyek atasi banjir Jakarta

Den Haag (ANTARA News) - Pemerintah Belanda punya analisis begini: pada 1990 sebanyak 12 persen kawasan Jakarta Utara di bawah permukaan air laut dan pada 2010 telah menjadi 58 persen.

Kemudian diperkirakan pada 2030 akan lebih dari 90 persen wilayah Jakarta Utara berada di bawah permukaan air laut.

"Perlu strategi delta untuk menyelamatkan Jakarta," kata Guru Besar Urban Water Universitas Rotterdam Prof Piet Dircke.

Piet bersama Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda Melanie Henrietta Schultz van Haagen-Maas Geesteranus dan para petinggi negeri kerajaan itu menjelaskan kepada Wakil Presiden Boediono saat mengunjungi bendungan raksasa Maeslantkering Barrier di Pelabuhan Rotterdam, Minggu (23/3). Bangunan itu mampu menghalau air laut saat pasang atau badai sehingga tak menembus daratan.

Negeri Belanda atau kata Netherland berarti tanah yang rendah karena seluruh daratan negeri itu berada di bawah permukaan air laut.

Banjir bandang telah berkali-kali dialami Belanda seperti pada tahun 1215 membuat sekitar 360 ribu rakyatnya tewas, lalu selang bertahun-tahun terjadi lagi hingga banjir besar pada 1950-an yang amat menyengsarakan rakyatnya.

Pengalaman buruk itu membuat Belanda pada 1991 menjalankan strategi yang mereka sebut sebagai strategi delta yakni membangun bangunan raksasa yang mampu menghalau masuknya air laut ke daratan dan bangunan itu diresmikan oleh Ratu Beatrix saat itu pada 1997.

Kini pemerintah Belanda selalu menganggarkan sedikitnya satu miliar Euro per tahun untuk "management water" atau pengelolaan air agar terbebas dari ancaman banjir.

Kemampuan menjalankan strategi delta dalam mengatasi banjir itulah yang akan dibagi kepada pemerintah Indonesia khususnya di Jakarta, Ibu Kota Indonesia, yang belum terlepas dari bencana banjir.

Bahkan Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda Melanie Henrietta Schultz van Haagen-Maas Geesteranus akan berkunjung ke Jakarta pada 30 Maret - 4 April 2014.

Melanie menyatakan bahwa penduduk Jakarta yang padat membutuhkan bangunan yang mampu melindungi dari ancaman banjir.

"Saya akan datang ke Jakarta bersama 18 perusahaan yang memiliki andil dan pengalaman untuk mengatasi banjir. Saya yakin dan tidak dapat menunggu waktu untuk ke Jakarta," kata Melanie.

Michiel de Lijster dari Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda menambahkan bahwa Melanie datang ke Indonesia menyampaikan rencana induk (master plan) "National Capital Integrated Coastal Development" (NCICD).

Lijster menceritakan bahwa kerja sama antara Belanda dan Indonesia mengenai pengelolaan air sebenarnya telah berlangsung puluhan tahun namun masih sebatas wacana dan belum dapat dilakukan secara teknis operasional.

Banjir besar di Jakarta pada 2007, katanya, menggerakkan pemerintah kedua negara untuk mewujudkan kerja sama yang lebih kongkret.

"Kedua negara membuat tim bersama mulai lihat strategi hingga detilnya dan pada 2010 mulai disusun rencana induk penanggulangan banjir atau NCICD itu," katanya.

Ia mengatakan perlu badan pelaksana di bawah Presiden, yang khusus menangani permasalahan banjir dan pengelolaan air. Badan pelaksana ini pula yang membuat regulasi, mencari pembiayaan, dan struktur pembangunan megaproyek itu.

Lijster mengatakan pembangunan bangunan yang mampu mengawasi banjir di Jakarta membutuhkan biaya besar mencapai miliaran dolar AS.

"Belanda amat yakin bila Indonesia telah memiliki bangunan seperti Maeslantkering Barrier dapat mengatasi persoalan banjir," katanya.

Melalui NCICD itu, pemerintah Belanda akan membangun dinding laut (sea wall) dan bendungan raksasa di Jakarta serta membuat kanal-kanal untuk mengatasi banjir.

Atas pertanyaan pihak Belanda, Wapres menjelaskan mengenai keputusan Indonesia untuk tidak memperpanjang Perjanjian Investasi Bilateral (Bilateral Investment Treatie) dengan Belanda yang akan berakhir pada Juni 2015.

Kebijakan ini tidak hanya berlaku bagi Belanda, namun bagi semua negara, dimana Indonesia memiliki perjanjian investasi bilateral yang akan berakhir.

Indonesia akan membuat "template" perjanjian investasi yang baru yang disesuaikan dengan perkembangan situasi terkini.

Wakil Presiden menginformasikan kepada PM Belanda Mark Rutte mengenai kunjungannya ke bendungan raksasa Maeslantkering Barrier di Rotterdam.

PM Belanda menekankan kembali kesiapan Belanda untuk saling berbagi pengalaman dan meningkatkan kerja sama di bidang manajamen air sebagaimana yang telah dibahas dengan Presiden Yudhoyono saat PM Belanda berkunjung ke Indonesia pada November 2013.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/425775/belanda-siap-hadirkan-megaproyek-atasi-banjir-jakarta

Jumat, 31 Mei 2013

Ternyata, Stasiun Jakarta Kota Pernah Jadi yang Terbesar se-ASEAN

Jakarta - 88 Tahun yang lalu, Stasiun Jakarta Kota dibangun untuk merayakan 50 tahun kereta api di Hindia Belanda. Siapa sangka, stasiun yang kini jadi salah satu bangunan bersejarah ini pernah jadi yang terbesar di ASEAN.

Kawasan Kota Tua Jakarta memang banjir akan bangunan kuno yang penuh sejarah. Salah satu yang bersejarah adalah Stasiun Jakarta Kota atau yang disebut juga sebagai Beos. Ternyata, stasiun yang satu ini pernah jadi yang terbesar se-ASEAN.

"Dahulu, Stasiun Jakarta Kota jadi yang terbesar pada masanya," ujar pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali dalam bincang bersama detikTravel, Selasa (28/5/2013).

Dalam kesempatan berbeda Kahumas PT KAI Daops I, Sukendar Mulya mengatakan ada 13 peron di Stasiun Jakarta Kota. Tak heran jika stasiun ini jadi yang terbesar pada masanya. Hingga kini pun, stasiun ini masih jadi yang tersibuk di Jakarta.

"Ada 580 KRL bolak-balik setiap harinya, dan mengangkut sekitar 13 ribu penumpang per hari," kata Sukendar kepada detikTravel, Selasa (28/5).

Ini terjadi karena stasiun yang juga merupakan cagar budaya ini merupakan stasiun paling ujung. Semua tujuan berakhir dan berawal di stasiun ini. Anda bisa merasakan keramaiannya saat pagi atau sore hari.

Dibangun pada tahun 1925, stasiun ini memiliki gaya yang menurut Asep cukup unik dan mewakili zamannya. Memang pada masa itu, pembangunan di sekitar Jakarta yang dulu disebut Batavia memiliki gaya yang sama yaitu Art Deco.

"Bentuk stasiun ini senada seperti yang ada di negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis dan Belanda," lanjut Sukendar.

Tidak seperti bangunan tradisional umum yang ada di Indonesia, Stasiun Jakarta Kota memiliki arsitektur yang berbeda. Kembali kepada Asep, dia mengatakan hal itu bisa dilihat dari pilar-pilarnya dan garis-garis lurus baik yang horizontal ataupun yang vertikal.

Untuk ukuran bangunan kuno, stasiun yang selesai pada tahun 1929 ini termasuk yang masih awet. Meski sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan, tapi bangunan utamanya masih terbilang kokoh.

Ditambah dengan konstruksinya yang anti gempa. Karena, menurut Asep, tiang-tiang di sana menggunakan sistem engsel. Jadi walaupun terkena getaran, tidak akan mudah rubuh.

Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/05/30/143351/2260390/1383/ternyata-stasiun-jakarta-kota-pernah-jadi-yang-terbesar-se-asean?991104topnews

Selasa, 22 Januari 2013

Bagi Jakarta, Banjir Seolah Menjadi Takdir

KOMPAS.com - Jan Pieterszoon Coen memimpikan duplikat Amsterdam di Belanda ketika meminta Simon Stevin merancang sebuah kota di muara Sungai Ciliwung yang sering kebanjiran pada 1619. Kota yang dibangun di atas reruntuhan Jayakarta itu dikelilingi parit-parit, tembok kota, lengkap dengan kanal.

Dengan kanal-kanal itu, Coen berharap bisa mengatasi banjir, sekaligus menciptakan sebuah kota yang menjadi lalu lintas pelayaran, sebagaimana kota-kota di Belanda. Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok dialihkan dan digantikan sebuah terusan lurus, Kali Besar, memotong kota menjadi dua bagian.

Namun, impian Coen hanya bertahan singkat. Kota Batavia, yang dibangun Coen, memang sempat dijuluki ”Venesia dari Timur”. Namun, tak lama kemudian, pertumbuhan kota tak terkendali, rumah-rumah yang ada sempit dan berimpit. Endapan lumpur yang memampetkan terusan berbau busuk dan menjadi sarang malaria.

Riwayat banjir

Banjir ternyata tak terbendung. Hanya tiga tahun sejak dibangun, tahun 1621, Batavia kebanjiran. Banjir juga terjadi pada 1654 dan sejak itu terus membesar. Kota yang dirancang Coen ini perlahan ditinggalkan.

Menurut catatan Restu Gunawan, sejarawan yang meneliti riwayat banjir Jakarta sejak zaman kolonial hingga sekarang, pada akhir abad ke-18, terjadi perpindahan besar-besaran penduduk Batavia ke daerah yang lebih tinggi dan sehat di selatan, yaitu Weltevreden.

Weltevreden yang semula hutan dan rawa-rawa lantas berkembang pesat. Apalagi 1807, Herman Willem Daendels membangun pusat pemerintahan ibu kota koloni Belanda di Asia di Weltevreden. Awalnya, Daendels hendak membangun pusat pemerintahan di Semarang atau Surabaya. Karena alasan biaya, dia membangun di Weltevreden. Pada 1830, ibu kota Hindia Belanda resmi pindah ke Weltevreden, sekitar Lapangan Banteng saat ini.

Daerah ibu kota itu kemudian berkembang pesat. Namun, banjir tak beranjak pergi. Menurut Restu, 1 Januari 1892, Weltevreden kebanjiran. Seperti ditulis koran Siang Po, banjir terjadi setelah turun hujan lebat selama delapan jam. Curah hujan yang tercatat di Batavia saat itu 286 milimeter. Sebagai catatan, ketinggian curah hujan saat itu jauh lebih tinggi dibandingkan curah hujan rata-rata selama dua hari terakhir, 40-100 mm, yang menyebabkan banjir besar di Jakarta. Artinya, faktor perubahan cuaca boleh diabaikan sebagai penyebab banjir Jakarta.

Setahun kemudian, banjir lebih besar melanda. Hampir seluruh kota terendam. Kampung Pluit Belakang, Sawah Besar, Kandang Sapi, Pasayuran, Kebon Jeruk, Kemayoran Wetan, dan Sumur Batu terendam air hingga 1 meter. Banjir memicu wabah kolera sehingga banyak warga meninggal.

Restu juga mencatat, Batavia kembali kebanjiran pada 1895, 1899, 1904, dan 1909. Pemerintah kolonial dinilai gagal mengatasi banjir. Pada 19 Februari 1909, koran de Locomotief menulis berita berjudul ”Batavia Onder Water”, pelesetan dari singkatan BOW (Burgelijke den Openbare Werken), kantor yang menangani sarana dan prasarana pemerintah, termasuk pengairan.

Sejak itu, banjir di Batavia terus meluas seiring pembengkakan jumlah penduduk. Januari 1918, Batavia dilanda banjir hebat sehingga melumpuhkan aktivitas kota selama sebulan. ”Belanda coba mengatasi banjir dengan membangun kanal dan pintu air,” kata Restu.

Peninggalan itu, antara lain, Kanal Banjir Kalimalang, pintu air Matraman, dan pintu air Karet. Kanal Banjir Kalimalang, menurut Restu, bisa menyelamatkan kawasan Menteng dan sekitarnya yang dihuni kalangan elite Belanda dari banjir tahun 1923. Namun, permukiman pribumi di Batavia tetap banjir.

Sistem kanal tidak bisa mengatasi banjir besar yang melanda Batavia pada 1932 dan 1933. ”Kanal itu dibangun bukan untuk menyelesaikan seluruh banjir Jakarta, hanya beberapa kawasan saja, karena air pasti meluber ke daerah lain yang lebih rendah,” kata Restu.

Dari dulu, kanal tidak memberi jaminan, apalagi Kanal Barat yang dirancang Herman van Broeen tahun 1923 dan baru dibuat pada 1973. Proyek itu sudah ketinggalan 50 tahun. Adapun Kanal Timur dibangun pada 2006. ”Sistem Kanal Banjir Kalimalang yang dibuat ketika penduduk Jakarta masih di bawah 800.000 orang saja tidak bisa mengatasi banjir. Anehnya, kita sekarang masih mengandalkan kanal, bahkan mau membangun deep tunnel,” ungkapnya.

Restu mengatakan, kegagalan sistem kanal yang dirintis Belanda karena topografi Jakarta yang datar dan tingginya tingkat sedimentasi.

Cekungan banjir

Ahli geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jan Sopaheluwakan, mengatakan, banjir Jakarta tak akan bisa diselesaikan dengan sistem kanal karena geologis Jakarta sebenarnya cekungan banjir. Sebaliknya, kawasan utara sekitar Ancol dan Teluk Jakarta mengalami pengangkatan karena proses tektonik. Akibatnya, air dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta tidak bisa mengalir lancar ke laut dan kerap terjebak di cekungan besar Jakarta.

”Itu sebabnya, Teluk Jakarta tidak bisa membentuk delta, seperti Delta Mahakam di Kalimantan. Endapan kasar yang dibawa sungai-sungai mengendap di cekungan Jakarta sehingga tidak sampai ke laut dan membentuk delta,” katanya.

Teluk Jakarta, menurut Sopaheluwakan, adalah tinggian lokal, sementara dari Pantai Teluk ke arah darat (ke selatan) adalah kawasan rendahannya. Dataran rendahan (cekungan) ini dibatasi tinggian Ciputat. Jadi, dari barat Ciputat hingga Teluk Jakarta ibarat sebuah mangkuk raksasa. Jakarta tepat berada di tengah mangkuk itu sehingga secara geomorfologi disebut ”dataran banjir Jakarta”.

Cekungan Jakarta, menurut Sopaheluwakan, terbentuk dari tanah sedimen muda sangat tebal tetapi belum terkonsolidasi. Akibatnya, secara geologis, tanah di Jakarta perlahan turun. Penurunan tanah di Jakarta diperparah pengambilan air tanah secara besar-besaran. ”Penurunan tanah di Jakarta bervariasi di beberapa tempat, 4-20 sentimeter per tahun,” katanya.

Kondisi tanah yang secara geologis merupakan cekungan menyebabkan pada masa lalu sebagian kawasan Jakarta berupa rawa-rawa yang dikepung sungai-sungai. Sebagian dataran yang kering pada musim kemarau menjadi daerah parkir air waktu banjir. ”Di masa kolonial, daerah luapan banjir dinyatakan sebagai daerah parkir air dan dinyatakan sebagai daerah pertanian dan kawasan hijau. Pemanfaatannya untuk kawasan terbangun maksimal 5 persen dari luas tanah,” kata Restu.

Sejak 1960-an, kawasan parkir air diuruk. Sebagai contoh, kawasan Tebet yang sebenarnya adalah luapan banjir Sungai Ciliwung, kawasan Mampang yang merupakan luapan banjir Sungai Krukut, dan Kebayoran Lama yang merupakan luapan banjir Sungai Grogol.

Ancaman banjir di Jakarta bertambah parah seiring perubahan kawasan dataran tinggi yang mengelilingi cekungan menjadi pusat permukiman baru. Waduk-waduk dan rawa-rawa yang banyak di pinggiran Jakarta kini dikeringkan dan dijadikan hunian. Akibatnya, kawasan untuk resapan air justru mengirim lebih banyak air permukaan ke Jakarta.

Sopaheluwakan menyarankan, untuk mengurangi banjir Jakarta, kota ini harus menambah kawasan resapan dan mengembalikan fungsi tempat parkir air. ”Gambir ke selatan harus ada lebih banyak ruang terbuka hijau dan situ-situ untuk menyerap air. Ini dimungkinkan dengan merevisi total tata ruang yang ada. Lahan terbuka diperbanyak dan pembangunan dilakukan ke atas,” katanya.

Kawasan penyangga juga harus dihijaukan kembali. Tidak boleh lagi menghabisi lahan di Tangerang, Bogor, dan sekitarnya untuk hunian.

Sejarah mencatat banjir sudah mengakrabi Jakarta sejak awal pendirian kota ini. Yang jadi masalah, warga kota tidak beradaptasi dengan banjir dan masih bermimpi menyelesaikan banjir ”hanya” dengan kanal-kanal dan deep tunnel. ”Jika takut banjir, jangan bangun rumah di bantaran sungai atau bekas situ. Boleh saja bangun rumah di sana, tetapi berbentuk rumah panggung atau rumah terapung, seperti di Sumatera dan Kalimantan,” kata Restu.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2013/01/18/09141229/Bagi.Jakarta.Banjir.Seolah.Menjadi.Takdir

Rabu, 27 Juni 2012

Dulu Trem, Sekarang Busway Menyusuri Jakarta

Jakarta Transportasi massal sejak dulu memegang peranan penting di Jakarta. Di tahun 1950-an trem listrik menjadi andalan warga Ibukota untuk melakukan mobilitas di tengah kota. Seiring waktu berlalu, angkutan ini mati. Hingga bertahun-tahun kemudian munculah bus besar yang berjalan di jalur khusus, busway.

Di buku 'Jakarta 1950-an, Kenangan Semasa Remaja' karya Firman Lubis, trem listrik beroperasi di beberapa jalur utama Ibukota. Masyarakat umum banyak menggunakan jasa angkutan umum peninggalan kolonial Belanda ini.

Sebenarnya angkutan ini sudah ada di Batavia (nama Jakarta kala itu) sejak pertengahan 1800 hingga 1900-an. Mulanya trem kuda yang mampu mengangkut 40 orang hadir pada 1869. Keberadaan trem kuda ditulis dalam buku 'Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi' karya Alwi Shahab.

Tiga hingga empat kuda dikerahkan untuk menarik trem ini. Trem juga dilengkapi dengan terompet yang akan dibunyikan oleh kusir sebagai klakson. Untuk bisa menikmati perjalanan trem kuda ini, penumpang harus membayar 10 sen. Waktu operasinya kala itu adalah pukul 05.00-20.00 WIB.

Seiring perkembangan teknologi, keberadaan trem kuda lantas digantikan dengan trem uap yang muncul sekitar 1881. Lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap menggantikan keberadaan kuda yang menarik trem sehingga memiliki rute yang lebih panjang.

Kala itu trem uap melintas dari Pasar Ikan sampai Jatinegara. Pasar Baru, Gunung Sahari, Kramat, Salemba, dan Matraman adalah kawasan yang dilintasi alat transportasi ini.

Kemudian pada 1900, teknologi terbaru ditemukan sehingga meminggirkan trem uap dan menggantikannya dengan trem listrik. Pada 1950-an ada sekitar 5 lin (dari bahasa belanda lijn yang berarti lintasan) di Jakarta. Lin-lin itu antara lain melintasi Kampung Melayu, Jalan Cut Mutia, Jalan Tanah Abang Raya (sekarang Jalan Abdul Muis), Harmoni, dan Pasar Ikan.

Pool dan bengkel besar trem listrik berada di Jalan Kramat Raya yang berada di seberang Gedung CTC. Namun kemudian tempat ini digunakan sebagai pool bus PPD.

Operasi trem ini kemudian dihentikan pada 1959. Tidak jelas mengapa pengoperasian alat transportasi ini dihentikan. Firman Lubis yang merupakan anak Betawi menduga trem sulit dioperasikan atau karena tidak ada dana untuk merawat dan meremajakannya.

Trem yang dulu pernah menderu di Ibukota tak ada lagi sisanya. Jalan khusus trem pun sepertinya sudah tertutup aspal jalanan. Bekas rel trem listrik pernah ditemukan saat dilakukan penggalian pinggir jalan daerah kota pada 2006 guna peremajaan kawasan Kota Tua. Hanya itu saja, tiang penyangga kabel listrik pun kini hanya tinggal cerita.

Firman Lubis menyayangkan hilangnya trem dari Ibukota. Sebab trem merupakan alat transportasi yang praktis dan bebas polusi. Di banyak kota besar di Eropa saja trem listrik menjadi transportasi umum yang diandalkan.

Puluhan tahun kemudian, lahirlah busway di Jakarta. Busway merupakan jalan khusus bagi bus TransJakarta, yang menjadi bagian dari sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit di Jakarta. Ide pembangunan bus ini muncul pada 2001 dengan mengadopsi sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

15 Januari 2004 merupakan hari bersejarah busway, karena saat itulah pertama kali busway dioperasikan. Koridor I yang melayani Blok M - Kota menjadi satu-satunya area yang dilayani busway kala itu. Sejumlah masalah pun membayangi keberadaan busway, misalnya saat atap salah satu bus menghantam terowongan rel kereta api dan masalah teknis lainnya.

Sejumlah koridor kemudian ditambah untuk melayani mobilitas warga Jakarta. Hingga bulan keenam 2012 ini, sudah ada 11 koridor yang dioperasikan. Meski sudah 8 tahun beroperasi di Jakarta, namun masih ada masalah yang kerap mendera. Misalnya soal keluhan busway yang tidak steril, terkadang penumpang harus menunggu lama datangnya bus, atau terlalu berdesakannya penumpang di dalam bus.

Kendati sudah ada busway namun kemacetan masih menjadi masalah klasik Ibukota. Para cagub-cawagub DKI yang akan berkontestasi pada 11 Juli mendatang pun berlomba-lomba menyampaikan rencana solusi mengatasi kemacetan Ibukota. Mari kita tunggu 'obat manjur' gubernur-wagub DKI terpilih nantinya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/06/26/133223/1951068/10/dulu-trem-sekarang-busway-menyusuri-jakarta?9922032

Rabu, 30 Mei 2012

Tahun 2025 Jakarta Masih Akan Tergenang

ADELAIDE, KOMPAS.com- Di tahun 2025, sebagian besar wilayah Jakarta Utara akan tergenang sekitar 80 sampai 100 sentimeter di atas tanggul penahan rob yang masih ada sekarang. Demikian penjelasan seorang mahasiswa program Doktor asal Indonesia Evi Sofiyah dalam diskusi akademik baru-baru ini di Universitas Adelaide.

Di tahun 2025 atau 2026, akan terjadi fenomena siklus gelombang bulan (moon tidal cycle) yang terjadi dalam siklus 18.6 tahun sekali. Ketika itu gelombang pasang dari laut akan mencapai titik tertinggi ditambah dengan penurunan permukaan tanah, dan banjir kiriman.

Evi Sofiyah meralat pemberitaan sebelumnya bahwa sebagian wilayah Jakarta akan tergenang satu meter di atas tanggul raksasa yang rencananya akan dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta.

Data yang dia sampaikan dalam paparan pada diskusi ilmiah itu dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Belanda, JanJaap Brinkman (Deltares) dan Marco Hartman (HKV consultants) yang dipublikasikan tahun 2008.

Fenomena siklus gelombang bulan ini terakhir kali terjadi bulan November 2007 dimana banjir menewaskan 18 orang dan 300.000 orang terkena dampaknya.

Walaupun sudah ada rencana membangun dinding raksasa guna melindungi Jakarta dari genangan air dari laut, menurut kajian Evi Sofiyah, hal tersebut tidak akan memecahkan masalah Jakarta dari genangan air.

Evi sekarang sedang mengambil program doktor di Departemen Kependudukan, Geografi, dan Lingkungan di Universitas Adelaide.

Menurut kajiannya, berbagai penelitian ilmiah yang sudah dilakukan dan juga sumber data dari media massa, Evi Sofiyah mengatakan bahwa sampai tahun 2016, daerah Jakarta Utara akan tergenang secara berkala.

Menurut laporan koresponden Kompas di Adelaide, L. Sastra Wijaya, Evi Sofiyah juga mengkaji berbagai dampak dari tindakan manusia terhadap lingkungan di seputar Teluk Jakarta. Salah satu usaha yang sedang dilakukan oleh berbagai pihak adalah melakukan reklamasi guna membangun dinding raksasa tersebut.

Menurut Evi, mengutip situs pemerintah Belanda, dinding raksasa yang dibangun ini sepanjang 36 kilometer dan dibangun 2 kilometer dari garis pantai, dan menurut keterangan dari Gubernur DKI sekarang Fauzi Bowo, dinding itu akan selesai sekitar 15 sampai 20 tahun dari sekarang.

Namun, menurut Evi Sofiyah, pembuatan dinding raksasa ini tidak akan menyelesaikan masalah tergenangnya kota Jakarta, bila tidak disertai usaha lain. "Dinding raksasa itu menahan gelombang dari laut. Tetapi Jakarta juga mendapat banjir kiriman dari belakang dan juga menurunnya permukaan tanah dari tahun ke tahun. Jadi kalau tidak ada upaya yang lebih sinergis untuk mengatasi masalah ini, persoalannya tidak akan terselesaikan." kata Evi Sofiyah.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/29/11235031/Tahun.2025.Jakarta.Masih.Akan.Tergenang

Jumat, 27 April 2012

Dari Zaman Meneer, Jakarta Sudah Banjir

BANJIR yang saban tahun menggenangi Jakarta, ternyata sudah berlangsung sejak berabad-abad. Berbagai upaya sudah ditempuh, namun nampaknya air bah belum mau enyah.

Affan masih belum melupakan peristiwa banjir besar di Jakarta, tahun 2007 lalu. Lelaki muda asal Bintaro ini susah payah meninggalkan rumahnya untuk bisa bekerja di kantornya, kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

“Capek-capek berjuang melewati banjir dari rumah, eh sampai kantor malah lebih parah lagi. Nggak bisa masuk karena kawasan Dukuh Atas waktu itu dah kayak danau. Mau pulang lagi, juga susah,” ujarnya, mengenang kondisi saat itu.

Banjir besar di Jakarta bukan sekali itu saja terjadi. Sebelumnya, tahun 2002, Ibukota juga pernah dikepung banjir. Kenyataan ini pada akhirnya menimbulkan pendapatan orang tentang siklus banjir lima tahunan.

Dari zaman Belanda

Sah saja kalau kemudian banyak pihak berpendapat soal adanya siklus banjir besar lima tahunan. Namun yang pasti, sesungguhnya banjir di Ibukota bukanlah masalah baru.

Bahkan pada masa kolonial dulu, para meneer di pemerintahan kolonial sudah dipusingkan dengan banjir dan tata kelola air Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia. Mereka juga membangun sistem pengendalian banjir dengan membuat banyak kanal.

Toh itu nggak mampu membendung air bah yang datang tanpa bisa dicegah pada tahun 1621. Akibatnya, sebagian besar Batavia kebanjiran. Ini banjir besar pertama yang dilaporkan terjadi di Jakarta pada masa kolonial. Banjir yang terjadi tentu saja merisaukan dewan kota yang kemudian memulai pembuatan sistem pengendalian. Bahkan mulai tahun 1913, pemerintah kolonial mengalokasikan dana 2 juta gulden untuk proyek mengatasi banjir.

Van Breen, meneer Belanda yang jadi ‘mandor’ proyek ini kemudian menggagas pembuatan kanal di bagian barat pintu air Manggarai sampai Muara Angke. Selain itu perubahan tata lahan kebun teh di kawasan Puncak, diantisipasi dengan mengubah area persawahan menjadi situ-situ.

Urusan Bersama

Hingga kini upaya untuk membebaskan Jakarta dari banjir terus dilakukan. Berbagai rencana dan pekerjaan telah dijalankan. Terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan dibantu Pemerintah Pusat, membangun kanal banjir timur.

Meski belum memuaskan, tapi upaya tersebut telah membuahkan hasil. Setidaknya sampai awal tahun 2012 Jakarta belum tergenang banjir bandang, dan semoga saja tidak.

Memang sih, di beberapa tempat tetap saja terjadi banjir hingga memaksa warga untuk mengungsi. Kenyataan ini pada sisi lain menyiratkan, mengatasi banjir bukan semata-mata urusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Warga Ibukota juga diharapkan mengambil peran serta. Mari.. [mah]

Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1855039/dari-zaman-meneer-jakarta-sudah-banjir