Liputan6.com, Jakarta - Di persimpangan jalan yang cukup luas, biasanya terdapat markah berbentuk persegi berwarna kuning yang letaknya di ruas pertemuan antara persimpangan. Meskipun penting, masih sedikit pengguna jalan yang tahu fungsinya.
Kotak kuning yang dinamakan Yellow Box Junction (YBJ) ini adalah markah jalan yang bertujuan mencegah kepadatan lalu lintas di jalur dan berakibat pada tersendatnya arus kendaraan di jalur lain yang tidak padat.
Sebagaimana menurut laman TMC Polda Metro yang dilansir Kamis (30/7/2015), dengan YBJ, diharapkan kepadatan di persimpangan tidak terkunci, terutama saat jam-jam puncak kepadatan lalu lintas seperti jam pulang kerja.
Sebagaimana yang mahfum diketahui, banyak pengendara kendaraan bermotor tetap menerobos lampu merah saat antrean kendaraan di depannya belum terurai. Padahal, perilaku seperti itu justru akan memperparah kemacetan karena jalanan `terkunci`.
Jadi, meskipun lampu lalu lintas sudah hijau, pengguna jalan yang belum masuk YBJ harus berhenti jika ada kendaraan lain yang masih ada di dalam ruas YBJ. Kendaraan di belakang baru bisa lewat YBJ saat semua kendaraan di dalam YBJ sudah keluar.
YBJ ini merupakan markah yang bersifat global. Artinya, peraturan ini juga diterapkan di tempat-tempat lain. Di Indonesia, salah satu ruas jalan yang menggunakan YBJ adalah di persimpangan lampu merah depan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Sumber : http://otomotif.liputan6.com/read/2282557/wilayah-yang-haram-dimasuki-kendaraan-di-jakarta
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label jam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Agustus 2015
Wilayah yang `Haram` Dimasuki Kendaraan di Jakarta
Label:
jalan
,
jalur
,
jam
,
junction
,
kendaraan
,
kendaraan bermotor
,
kepadatan
,
kuning
,
lalu lintas
,
laman
,
lampu merah
,
mahfum
,
markah
,
markah jalan
,
pengguna
,
persimpangan
,
ruas
,
tempat
,
ybj
Jumat, 05 Juni 2015
Kecepatan Berkendara di Jakarta Tinggal 5 Km Per Jam
JAKARTA, KOMPAS.com — Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini kecepatan rata-rata berkendara di Jakarta pada pagi hari di hari kerja hanya berkisar 5 kilometer per jam. Kondisi itu telah berlangsung sejak empat tahun terakhir, tepatnya sejak 2011.
Berdasarkan data tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari Pasar Minggu ke Manggarai mencapai sekitar 95 menit karena kecepatan berkendaranya hanya 6,1 km per jam.
"Sedangkan dari Cilandak ke Monas waktu tempuh bisa sampai 100 menit karena kecepatan kendaraan cuma 9,4 kilometer per jam," tutur Manajer Proyek MRT untuk sesi jalan layang dari PT MRT Jakarta, Heru Nugroho, dalam seminar tentang pembangunan MRT Jakarta, di Jakarta, Kamis (4/6/2015).
Menurut Heru, kecepatan berkendara di Jakarta pada pagi hari di hari kerja yang ada saat ini telah jauh menurun dibanding sekitar 1-2 dekade yang lalu.
Sebab, kata dia, data BPS menyebutkan, pada tahun 2000, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 16 kilometer per jam dengan waktu tempuh 36 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 19 kilometer per jam dengan waktu tempuh 49 menit.
"Pada tahun 1985, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 26 kilometer per jam dengan waktu tempuh 22 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 24 kilometer per jam dengan waktu tempuh 38 menit," kata dia.
Heru mengatakan, semakin menurunnya kecepatan berkendara di Jakarta merupakan dampak dari semakin meningkatnya jumlah dan penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini yang menjadi penyebab utama terjadinya kemacetan lalu lintas.
Atas dasar itu, kata dia, pengembangan transportasi massal merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak kemacetan di Jakarta. Salah satunya adalah dengan membangun layanan MRT yang proyek pembangunannya saat ini masih tengah berjalan dan diprediksi mulai beroperasi paling lambat pada 2018.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/04/11193151/Kecepatan.Berkendara.di.Jakarta.Tinggal.5.Km.Per.Jam
Berdasarkan data tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari Pasar Minggu ke Manggarai mencapai sekitar 95 menit karena kecepatan berkendaranya hanya 6,1 km per jam.
"Sedangkan dari Cilandak ke Monas waktu tempuh bisa sampai 100 menit karena kecepatan kendaraan cuma 9,4 kilometer per jam," tutur Manajer Proyek MRT untuk sesi jalan layang dari PT MRT Jakarta, Heru Nugroho, dalam seminar tentang pembangunan MRT Jakarta, di Jakarta, Kamis (4/6/2015).
Menurut Heru, kecepatan berkendara di Jakarta pada pagi hari di hari kerja yang ada saat ini telah jauh menurun dibanding sekitar 1-2 dekade yang lalu.
Sebab, kata dia, data BPS menyebutkan, pada tahun 2000, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 16 kilometer per jam dengan waktu tempuh 36 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 19 kilometer per jam dengan waktu tempuh 49 menit.
"Pada tahun 1985, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 26 kilometer per jam dengan waktu tempuh 22 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 24 kilometer per jam dengan waktu tempuh 38 menit," kata dia.
Heru mengatakan, semakin menurunnya kecepatan berkendara di Jakarta merupakan dampak dari semakin meningkatnya jumlah dan penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini yang menjadi penyebab utama terjadinya kemacetan lalu lintas.
Atas dasar itu, kata dia, pengembangan transportasi massal merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak kemacetan di Jakarta. Salah satunya adalah dengan membangun layanan MRT yang proyek pembangunannya saat ini masih tengah berjalan dan diprediksi mulai beroperasi paling lambat pada 2018.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/04/11193151/Kecepatan.Berkendara.di.Jakarta.Tinggal.5.Km.Per.Jam
Kamis, 30 April 2015
Pengendara Go-Jek Terpusat di Ibu Kota, Sulit Didapatkan di Luar Jakarta
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelanggan di luar Jakarta yang ingin mencoba jasa transportasi Go-Jek akan sedikit kesulitan. Sebab, pengendara atau driver Go-Jek banyak bekerja di wilayah Jakarta, terutama Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.
Kompas.com sempat mencoba melakukan pemesanan jasa Go-Jek melalui aplikasi dari daerah Tangerang, tepatnya di Jalan Anyelir Raya, Kecamatan Periuk. Pemesanan dilakukan pada pukul 09.30 WIB, Selasa (28/4/2015).
Namun setelah menunggu hampir satu jam lamanya, belum ada konfirmasi maupun notifikasi yang melaporkan bahwa sudah ada driver yang menjemput. Sampai Kompas.com harus menelepon call center Go-Jek, di mana nomor tersebut tertera di dalam aplikasinya.
"Mohon ditunggu, Pak. Biasanya driver terdekat akan datang setengah jam dari waktu order," kata petugas call center tersebut.
Tidak beberapa lama setelah dihubungi oleh call center, nomor yang sama, yakni petugas call center, kembali menghubungi.
Petugas itu menginformasikan bahwa driver terdekat sedang ada tugas dan belum bisa dipastikan kapan bisa melaksanakan orderan lain.
"Mohon maaf, untuk wilayah Tangerang, Serpong, dan BSD, memang sedikit driver kita. Kalau ada yang lewat sana kebetulan baru bisa kita layani. Rata-rata di Jakarta," tutur petugas itu.
Akhirnya Kompas.com pun membatalkan pemesanan jasa transportasi itu.
Kondisi Go-Jek yang sulit ditemui di Tangerang dan daerah luar Jakarta lainnya juga diakui oleh salah satu driver, Muhammad Nizar (47).
"Kalau buat di luar Jakarta sedikit sekali. Orang kita kebanyakan di Jakarta. Driver-nya ada tiga ribu orang," ujar Nizar.
Pengakuan Nizar pun dialami oleh Kompas.com yang mencoba kembali memesan jasa Go-Jek di bilangan Jakarta Barat.
Tanpa harus menunggu lama, yakni tidak sampai setengah jam, driver pun datang lalu mengantar sampai tempat tujuan seperti yang telah dipesan sebelumnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/04/29/08410031/Pengendara.Go-Jek.Terpusat.di.Ibu.Kota.Sulit.Didapatkan.di.Luar.Jakarta
Kompas.com sempat mencoba melakukan pemesanan jasa Go-Jek melalui aplikasi dari daerah Tangerang, tepatnya di Jalan Anyelir Raya, Kecamatan Periuk. Pemesanan dilakukan pada pukul 09.30 WIB, Selasa (28/4/2015).
Namun setelah menunggu hampir satu jam lamanya, belum ada konfirmasi maupun notifikasi yang melaporkan bahwa sudah ada driver yang menjemput. Sampai Kompas.com harus menelepon call center Go-Jek, di mana nomor tersebut tertera di dalam aplikasinya.
"Mohon ditunggu, Pak. Biasanya driver terdekat akan datang setengah jam dari waktu order," kata petugas call center tersebut.
Tidak beberapa lama setelah dihubungi oleh call center, nomor yang sama, yakni petugas call center, kembali menghubungi.
Petugas itu menginformasikan bahwa driver terdekat sedang ada tugas dan belum bisa dipastikan kapan bisa melaksanakan orderan lain.
"Mohon maaf, untuk wilayah Tangerang, Serpong, dan BSD, memang sedikit driver kita. Kalau ada yang lewat sana kebetulan baru bisa kita layani. Rata-rata di Jakarta," tutur petugas itu.
Akhirnya Kompas.com pun membatalkan pemesanan jasa transportasi itu.
Kondisi Go-Jek yang sulit ditemui di Tangerang dan daerah luar Jakarta lainnya juga diakui oleh salah satu driver, Muhammad Nizar (47).
"Kalau buat di luar Jakarta sedikit sekali. Orang kita kebanyakan di Jakarta. Driver-nya ada tiga ribu orang," ujar Nizar.
Pengakuan Nizar pun dialami oleh Kompas.com yang mencoba kembali memesan jasa Go-Jek di bilangan Jakarta Barat.
Tanpa harus menunggu lama, yakni tidak sampai setengah jam, driver pun datang lalu mengantar sampai tempat tujuan seperti yang telah dipesan sebelumnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/04/29/08410031/Pengendara.Go-Jek.Terpusat.di.Ibu.Kota.Sulit.Didapatkan.di.Luar.Jakarta
Rabu, 01 April 2015
Jasa Marga: Jakarta Macet Tak Ada Obatnya
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Umum PT Jasa Marga Tbk Adityawarman memprediksi kemacetan di DKI Jakarta akan semakin menjadi-jadi. Bahkan, Aditya mengakui kemacetan takkan bisa terobati meskipun Jasa Marga membangun banyak ruas jalan tol di Jakarta sekalipun.
“Ada dua juta mobil baru setiap tahunnya, sedangkan jalan tol berapa yang baru?” ujar dia kepada Tempo, Jumat, 27 Maret 2015. Adityawarman mengatakan sekarang ini secara teori, volume kendaraan yang bisa ditampung jalan tol hanya 150 ribu kendaraan, sedangkan kendaraan yang ternyata melintas sebanyak 500 ribu unit.
Kepadatan lalu lintas Ibu Kota akan diperparah dengan selesainya proyek jalan tol Cikampek-Palimanan yang akan dibuka tahun ini. Jalan tol tersebut, ujar Adityawarman, dapat mempersingkat waktu tempuh menuju Jalur Pantura dari lima-enam jam menjadi 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 80 km/per jam.
Selanjutnya, gaji baru fantastis pegawai Pemda DKI Jakarta yang akan diterapkan tahun 2015 ini juga akan ikut andil. “Makin banyak yang beli mobil nanti,” kata dia.
Menurut Adityawarman, fungsi jalan yang sesungguhnya adalah sebagai pelancar sirkulasi kendaraan. Kelancaran sirkulasi sangat berpengaruh terhadap jumlah volume kendaraan yang melewatinya.
“Perlu ada dorongan membangun potensi moda transportasi selain kendaraan pribadi, kalau hanya mengandalkan jalan tol takkan bisa mengatasi kemacetan,” kata Adityawarman.
Karena itu, dirinya menyatakan mendukung dan siap membantu pemerintah pusat maupun Pemerintah DKI Jakarta dengan rancangan moda transportasi massal seperti MRT dan LRT.
Selain itu, Jasa Marga juga tetap akan menggenjot target 1.000 kilometer jalan tol baru yang dimandatkan Presiden Jokowi kepada Kementerian Pekerjaan Umum.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/03/28/083653653/Jasa-Marga-Jakarta-Macet-Tak-Ada-Obatnya
“Ada dua juta mobil baru setiap tahunnya, sedangkan jalan tol berapa yang baru?” ujar dia kepada Tempo, Jumat, 27 Maret 2015. Adityawarman mengatakan sekarang ini secara teori, volume kendaraan yang bisa ditampung jalan tol hanya 150 ribu kendaraan, sedangkan kendaraan yang ternyata melintas sebanyak 500 ribu unit.
Kepadatan lalu lintas Ibu Kota akan diperparah dengan selesainya proyek jalan tol Cikampek-Palimanan yang akan dibuka tahun ini. Jalan tol tersebut, ujar Adityawarman, dapat mempersingkat waktu tempuh menuju Jalur Pantura dari lima-enam jam menjadi 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 80 km/per jam.
Selanjutnya, gaji baru fantastis pegawai Pemda DKI Jakarta yang akan diterapkan tahun 2015 ini juga akan ikut andil. “Makin banyak yang beli mobil nanti,” kata dia.
Menurut Adityawarman, fungsi jalan yang sesungguhnya adalah sebagai pelancar sirkulasi kendaraan. Kelancaran sirkulasi sangat berpengaruh terhadap jumlah volume kendaraan yang melewatinya.
“Perlu ada dorongan membangun potensi moda transportasi selain kendaraan pribadi, kalau hanya mengandalkan jalan tol takkan bisa mengatasi kemacetan,” kata Adityawarman.
Karena itu, dirinya menyatakan mendukung dan siap membantu pemerintah pusat maupun Pemerintah DKI Jakarta dengan rancangan moda transportasi massal seperti MRT dan LRT.
Selain itu, Jasa Marga juga tetap akan menggenjot target 1.000 kilometer jalan tol baru yang dimandatkan Presiden Jokowi kepada Kementerian Pekerjaan Umum.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/03/28/083653653/Jasa-Marga-Jakarta-Macet-Tak-Ada-Obatnya
Label:
adityawarman
,
dimandatkan
,
dki
,
jakarta
,
jalan tol
,
jam
,
jasa
,
kemacetan
,
kendaraan
,
marga
,
moda
,
mrt
,
pelancar
,
ribu
,
sirkulasi
,
takkan
,
tempo
,
transportasi
,
volume
Kamis, 15 Januari 2015
Kemacetan di Jakarta Semakin Tak Kenal Waktu
JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan di Jakarta semakin tidak mengenal waktu. Data yang dihimpun Polda Metro Jaya menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta bertambah panjang dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau tahun 2013 jam kemacetan di Jakarta paling parah yaitu pada pukul 07.00-09.00 untuk pagi dan 16.00-20.00 untuk sore, tahun 2014 jamnya bertambah panjang,” ujar Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul di Mapolda Metro Jaya, Rabu (14/1/2015).
Pada 2014, kemacetan di Jakarta terjadi rata-rata pada pukul 07.00-11.00 untuk pagi dan 16.00-22.00 untuk sore. Bahkan di hari-hari tertentu, kemacetan dapat terjadi sepanjang waktu dan tidak dapat diprediksi.
Menurut Martinus, Kemacetan yang bertambah panjang di Jakarta ditengarai oleh pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan. Data pada 2014 menunjukkan, ada 17.523.967 unit kendaraan bermotor di Jakarta. Petumbuhannya setiap tahun mencapai12-13 persen. Sementara itu, pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen per tahunnya.
Karena itulah, pembatasan-pembatasan kendaraan perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Beberapa cara pembatasan kendaraan yaitu dengan memberlakukan three in one, pelarangan sepeda motor, dan electronic road pricing (ERP). Bahkan ada pula usulan aturan pelat ganjil-genap dan warna kendaraan.
“Pajak kendaraan progresif sudah telah dinaikan. Karena tidak mungkin kami melarang kepemilikan kendaraan, maka cara-cara seperti itulah yang dapat dilakukan,” kata Martinus.
Sumbar : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/01/14/10291841/Kemacetan.di.Jakarta.Semakin.Tak.Kenal.Waktu
“Kalau tahun 2013 jam kemacetan di Jakarta paling parah yaitu pada pukul 07.00-09.00 untuk pagi dan 16.00-20.00 untuk sore, tahun 2014 jamnya bertambah panjang,” ujar Kepada Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul di Mapolda Metro Jaya, Rabu (14/1/2015).
Pada 2014, kemacetan di Jakarta terjadi rata-rata pada pukul 07.00-11.00 untuk pagi dan 16.00-22.00 untuk sore. Bahkan di hari-hari tertentu, kemacetan dapat terjadi sepanjang waktu dan tidak dapat diprediksi.
Menurut Martinus, Kemacetan yang bertambah panjang di Jakarta ditengarai oleh pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan. Data pada 2014 menunjukkan, ada 17.523.967 unit kendaraan bermotor di Jakarta. Petumbuhannya setiap tahun mencapai12-13 persen. Sementara itu, pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen per tahunnya.
Karena itulah, pembatasan-pembatasan kendaraan perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan. Beberapa cara pembatasan kendaraan yaitu dengan memberlakukan three in one, pelarangan sepeda motor, dan electronic road pricing (ERP). Bahkan ada pula usulan aturan pelat ganjil-genap dan warna kendaraan.
“Pajak kendaraan progresif sudah telah dinaikan. Karena tidak mungkin kami melarang kepemilikan kendaraan, maka cara-cara seperti itulah yang dapat dilakukan,” kata Martinus.
Sumbar : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/01/14/10291841/Kemacetan.di.Jakarta.Semakin.Tak.Kenal.Waktu
Label:
data
,
electronic
,
erp
,
hubungan masyarakat
,
jakarta
,
jam
,
jaya
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kepemilikan
,
martinus
,
metro
,
pagi
,
panjang
,
pertumbuhan
,
petumbuhan
,
polda
,
sepeda motor
,
sore
Jumat, 24 Oktober 2014
Jakarta Jadi Kota Paling Macet di Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dari data Kementerian Perhubungan, DKI Jakarta memiliki ratio volume kemacetan 10-20 km/jam Vc ratio 0,85. Dalam hal itu berarti ibukota telah menjadi kota paling parah kemacetannya di negara ini.
"Ya Jakarta bisa dikatakan paling macet di Indonesia," ujar Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman di Jakarta, Selasa (21/10/2014).
Dibandingkan kota lain, jarak tempuh sebuah kendaraan roda empat dalam 24 jam, rata-rata mencapai 10 sampai 20 km per jam saja. Karena kendaraan di Jakarta sudah terlalu penuh, sedangkan volume jalan sudah melebihi kapasitas dari yang bisa ditampung.
"VC ratio-nya mencapai 0,85 persen, artinya volume kendaraan yang ada di Jakarta telah mendekati kapasitas jalan yang sudah dibangun," ungkap Yugi.
Karena hal tersebut Yugi mengungkapkan pemerintah melakukan berbagai cara untuk bisa mengatasi hal tersebut. Salah satu caranya dengan menggunakan ERP dan menambah armada angkutan transportasi umum.
"Kota Jakarta perlu perhatian khusus untuk lalu lintasnya," jelas Yugi.
Selain Jakarta, dari data Kementerian Perhubungan ada 10 kota yang memiliki kemacetan terparah di Indonesia:
1. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
2. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
3. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
4. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
5. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
6. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
7. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
8. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
9. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
10. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/21/jakarta-jadi-kota-paling-macet-di-indonesia
"Ya Jakarta bisa dikatakan paling macet di Indonesia," ujar Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman di Jakarta, Selasa (21/10/2014).
Dibandingkan kota lain, jarak tempuh sebuah kendaraan roda empat dalam 24 jam, rata-rata mencapai 10 sampai 20 km per jam saja. Karena kendaraan di Jakarta sudah terlalu penuh, sedangkan volume jalan sudah melebihi kapasitas dari yang bisa ditampung.
"VC ratio-nya mencapai 0,85 persen, artinya volume kendaraan yang ada di Jakarta telah mendekati kapasitas jalan yang sudah dibangun," ungkap Yugi.
Karena hal tersebut Yugi mengungkapkan pemerintah melakukan berbagai cara untuk bisa mengatasi hal tersebut. Salah satu caranya dengan menggunakan ERP dan menambah armada angkutan transportasi umum.
"Kota Jakarta perlu perhatian khusus untuk lalu lintasnya," jelas Yugi.
Selain Jakarta, dari data Kementerian Perhubungan ada 10 kota yang memiliki kemacetan terparah di Indonesia:
1. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
2. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
3. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
4. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
5. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
6. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
7. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
8. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
9. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
10. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/21/jakarta-jadi-kota-paling-macet-di-indonesia
Label:
data
,
indonesia
,
jakarta
,
jam
,
kapasitas
,
kemacetan
,
kementrian
,
kendaraan
,
km
,
kota
,
macet
,
perhubungan
,
ratio
,
terparah
,
transportasi
,
umum
,
vc
,
volume
,
yugi
Selasa, 21 Oktober 2014
Kemacetan Jakarta sudah sulit terurai
Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan kemacetan di Jakarta sulit terurai. Tercatat kemacetan di ibu kota negara ini, berdasarkan data Direktorat BTSP Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, volume to capacity (VC) ratio mencapai 0,85 persen. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 kilometer per jam. Saat ini, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
"Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjalan itu," katanya saat acara 'Diskusi mengenai ERP' di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10).
Selain Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Di luar jawa, daerah yang bakal macet parah, du Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. "Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia," jelas dia.
Kemacetan di DKI Jakarta, kata dia, semakin semrawut. Jakarta jadi satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih. "Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu," ungkapnya.
Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia menurut Kementerian Perhubungan.
1. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
2. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
3. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
4. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
6. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
7. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
9. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
11. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/kemacetan-jakarta-sudah-sulit-terurai.html
Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 kilometer per jam. Saat ini, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
"Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjalan itu," katanya saat acara 'Diskusi mengenai ERP' di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10).
Selain Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Di luar jawa, daerah yang bakal macet parah, du Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. "Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia," jelas dia.
Kemacetan di DKI Jakarta, kata dia, semakin semrawut. Jakarta jadi satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih. "Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu," ungkapnya.
Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia menurut Kementerian Perhubungan.
1. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
2. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
3. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
4. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
6. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
7. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
9. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
11. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/kemacetan-jakarta-sudah-sulit-terurai.html
Label:
bekasi
,
depok
,
jakarta
,
jam
,
kecepatan
,
kemacetan
,
kementerian
,
km
,
kondisi
,
krusial
,
lalu lintas
,
lintas
,
macet
,
makassar
,
palembang
,
perhubungan
,
ratio
,
vc
,
volume
Kamis, 11 September 2014
Bayar Rp 28 Juta/Jam, Taksi Ini Tawarkan Bebas Macet di Jakarta
MedanBisnis - Jakarta .Sudut kota DKI Jakarta dan sekitarnya selalu diwarnai kemacetan setiap hari. Akibatnya mobilitas orang menjadi terganggu khususnya bagi kalangan pebisnis yang menghargai waktu.
Melihat kondisi ini, ada perusahaan taksi yang menawarkan jasa angkutan bebas macet. Taksi bebas macet ini memakai moda helikopter. Jasa taksi udara ini ditawarkan oleh PT Whitesky Aviation. Untuk sekali naik, konsumen dikenakan biaya US$ 2.800 per jam atau sekitar Rp 28 juta.
"Ongkos sewa per jam minimum per hari sewanya 2 jam. Per jam US$ 2.800. Itu dapat fasilitas fuel dan lounge," kata Sales Executive Officer Whitesky Aviation Rossiano I. Sukur kepada detikFinance pada acara pameran transportasi di Smesco Tower, Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Whitesky menyediakan 5 unit helikopter jenis Bell 407 dan Bell 409. Sebanyak 2 unit disiagakan di Jakarta dan 3 unit di Balikpapan Kalimantan Timur. Sekali terbang, taksi udara mampu membawa 4 penumpang.
Untuk area Jakarta, taksi udara menyasar kalangan pebisnis dan perusahaan. "Balikpapan untuk mining and plantation company. Kita sudah kontrak. Kalau Jakarta kebanyakan buat bisnis," sebutnya.
Taksi udara ini juga bisa difungsikan sebagai ambulans darurat untuk keperluan evakuasi udara (medical evacuation).
Untuk menyewa taksi udara, konsumen bisa menghubungi pihak operator 2 jam sebelum penggunaan. Taksi ini juga bisa mendarat pada fasilitas helipad yang ada di atas gedung-gedung kota Jakarta.
Selain menawarkan jasa sewa helikopter, Whitesky juga menawarkan jasa foto udara memakai pesawat baling-baling tipe Cessna 402. Biaya sewa pesawat ini lebih murah ketimbang taksi udara yakni senilai US$ 1.710 per jam.
"Itu untuk survey geothermal, Pemda juga sewa untuk foto kota dari atas," katanya.
Sumber : http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/09/10/116786/bayar_rp_28_juta_jam_taksi_ini_tawarkan_bebas_macet_di_jakarta
Melihat kondisi ini, ada perusahaan taksi yang menawarkan jasa angkutan bebas macet. Taksi bebas macet ini memakai moda helikopter. Jasa taksi udara ini ditawarkan oleh PT Whitesky Aviation. Untuk sekali naik, konsumen dikenakan biaya US$ 2.800 per jam atau sekitar Rp 28 juta.
"Ongkos sewa per jam minimum per hari sewanya 2 jam. Per jam US$ 2.800. Itu dapat fasilitas fuel dan lounge," kata Sales Executive Officer Whitesky Aviation Rossiano I. Sukur kepada detikFinance pada acara pameran transportasi di Smesco Tower, Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Whitesky menyediakan 5 unit helikopter jenis Bell 407 dan Bell 409. Sebanyak 2 unit disiagakan di Jakarta dan 3 unit di Balikpapan Kalimantan Timur. Sekali terbang, taksi udara mampu membawa 4 penumpang.
Untuk area Jakarta, taksi udara menyasar kalangan pebisnis dan perusahaan. "Balikpapan untuk mining and plantation company. Kita sudah kontrak. Kalau Jakarta kebanyakan buat bisnis," sebutnya.
Taksi udara ini juga bisa difungsikan sebagai ambulans darurat untuk keperluan evakuasi udara (medical evacuation).
Untuk menyewa taksi udara, konsumen bisa menghubungi pihak operator 2 jam sebelum penggunaan. Taksi ini juga bisa mendarat pada fasilitas helipad yang ada di atas gedung-gedung kota Jakarta.
Selain menawarkan jasa sewa helikopter, Whitesky juga menawarkan jasa foto udara memakai pesawat baling-baling tipe Cessna 402. Biaya sewa pesawat ini lebih murah ketimbang taksi udara yakni senilai US$ 1.710 per jam.
"Itu untuk survey geothermal, Pemda juga sewa untuk foto kota dari atas," katanya.
Sumber : http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/09/10/116786/bayar_rp_28_juta_jam_taksi_ini_tawarkan_bebas_macet_di_jakarta
Rabu, 16 Juli 2014
Kadishub: ERP Bisa Kurangi Macet di Jakarta hingga 30 Persen
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, M Akbar, berharap jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP) dapat mengatasi kemacetan di Ibu Kota.
Dishub menargetkan ERP dapat menekan kemacetan 25 sampai 30 persen. Menurut Akbar, angka itu dipatok berdasarkan pengalaman ERP di beberapa negara.
"Pengalaman di luar negeri itu bisa kurangi 25-30 persen (kemacetan)," kata Akbar, Selasa (15/7/2014).
Menurut dia, setidaknya ada tiga negara yang berhasil menerapkan ERP. Negara tersebut, yaitu Singapura, London, dan Swedia.
Dengan adanya jalan berbayar, diharapkan warga yang biasa membawa mobil berpindah naik angkutan umum sehingga dapat mengurangi kepadatan, khususnya di jalan-jalan protokol. Selain itu, masyarakat juga akan berpikir ulang untuk memarkirkan kendaraan mereka di luar daerah ERP.
Akbar mengungkapkan, salah satu penyebab kemacetan di kawasan Sudirman-Thamrin adalah banyaknya masyarakat yang berbelanja di kawasan itu. "Mungkin masyarakat akan ubah pola perjalanan dan akan berbelanja di daerah lain," kata Akbar.
Namun, dia mengatakan, warga bebas melintasi jalan ERP secara gratis di luar jam sibuk. Sementara ini, ERP diberlakukan sama dengan jam three in one.
"Masyarakat bisa lintasi ini di luar jam ERP karena saat ini akan berlaku di jam sibuk saja atau jam hari kerja saja. Nantinya, saat sudah disosialisasi dengan baik akan dinamis," ucap Akbar.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/07/15/20490631/Kadishub.ERP.Bisa.Kurangi.Macet.di.Jakarta.hingga.30.Persen
Dishub menargetkan ERP dapat menekan kemacetan 25 sampai 30 persen. Menurut Akbar, angka itu dipatok berdasarkan pengalaman ERP di beberapa negara.
"Pengalaman di luar negeri itu bisa kurangi 25-30 persen (kemacetan)," kata Akbar, Selasa (15/7/2014).
Menurut dia, setidaknya ada tiga negara yang berhasil menerapkan ERP. Negara tersebut, yaitu Singapura, London, dan Swedia.
Dengan adanya jalan berbayar, diharapkan warga yang biasa membawa mobil berpindah naik angkutan umum sehingga dapat mengurangi kepadatan, khususnya di jalan-jalan protokol. Selain itu, masyarakat juga akan berpikir ulang untuk memarkirkan kendaraan mereka di luar daerah ERP.
Akbar mengungkapkan, salah satu penyebab kemacetan di kawasan Sudirman-Thamrin adalah banyaknya masyarakat yang berbelanja di kawasan itu. "Mungkin masyarakat akan ubah pola perjalanan dan akan berbelanja di daerah lain," kata Akbar.
Namun, dia mengatakan, warga bebas melintasi jalan ERP secara gratis di luar jam sibuk. Sementara ini, ERP diberlakukan sama dengan jam three in one.
"Masyarakat bisa lintasi ini di luar jam ERP karena saat ini akan berlaku di jam sibuk saja atau jam hari kerja saja. Nantinya, saat sudah disosialisasi dengan baik akan dinamis," ucap Akbar.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/07/15/20490631/Kadishub.ERP.Bisa.Kurangi.Macet.di.Jakarta.hingga.30.Persen
Label:
akbar
,
belanja
,
dishub
,
electronic
,
erp
,
hari kerja
,
ibu kota
,
jalan
,
jalan protokol
,
jam
,
jam sibuk
,
kawasan
,
lintasi
,
luar negeri
,
masyarakat
,
negara
,
pricing
,
sudirman-thamrin
,
three
Jumat, 04 Juli 2014
Mangkrak sebulan, perbaikan jembatan di Plumpang bikin macet
Merdeka.com - Kemacetan parah hampir setiap hari melanda kawasan Plumpang Semper, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Hal tersebut tidak terlepas dari imbas mangkraknya proyek perbaikan jembatan Bendungan Melayu sejak awal Juni lalu.
Pantauan merdeka.com, Jumat (4/7), kemacetan bertambah parah terjadi saat jam berangkat kerja pagi hari dan jam pulang kerja sore hari di kedua ruas jalan, baik yang mengarah ke Simpang Lima Semper maupun Plumpang.
Selain itu, terlihat pula tumpukan tiang pancang teronggok di jembatan yang mengarah ke Simpang Lima Semper. Akibatnya kendaraan yang datang dari arah Plumpang menuju Simpang Lima Semper mesti melewati jalur sebaliknya.
Akibatnya kemacetan mengular hingga 300 meter dari kedua jalur ini tidak dapat terhindarkan. Bukan hanya kemacetan, kontur jalan di jembatan itu juga masih rusak parah. Hal ini membuat mobil dan motor hanya melaju sekira 5-10 km/jam.
Abdul Rojak (42), salah seorang warga Jalan Bendungan Melayu RT 07/01, Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara mengatakan, beberapa hari lalu ia pernah bertemu dengan kontraktor yang memperbaiki Jembatan Melayu di lokasi. Kepada Rojak, kontraktor itu mengaku tak mengerjakan proyek lagi sejak awal Juni dengan alasan telah dicoret oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jakarta.
Rojak menjelaskan, pencoretan kontraktor itu lantaran pengerjaannya melebihi tenggat waktu waktu yang diberikan oleh Dinas PU Jakarta. Lebih detil Rojak menjelaskan, pada bulan Februari alat berat dan segala bahan baku keperluan proyek telah tiba di lokasi. Namun pengerjaan baru dilakukan pada awal Maret.
Sesuai perjanjian antara kontraktor dengan instansi terkait, proyek itu akan selesai pada Juli-Agustus. Namun hingga Juni progres perbaikan jembatan dinilai tak sesuai harapan. Saat itulah, segala alat berat yang mendukung pengerjaan ditarik oleh kontraktor.
"Harusnya kan bulan Juni setidaknya proyek hampir selesai, tapi pas di lapangan masih banyak yang perlu dilakukan. Makanya kontraktor dicoret oleh Sudin PU Jalan," jelas Rojak, Jumat (3/7).
Rojak menambahkan, saat perusahaan kontraktor itu dicoret, mereka mengaku telah salah memprediksi perbaikan jembatan. Sebab saat perbaikan berlangsung, banyak kabel listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang tertanam di lapisan jalan. Kontraktor pun mesti menggali dan memindahkan kabel itu dulu, hingga membuat proyek perbaikan jalan molor.
"Jadi kendalanya ada di kabel listrik ini, mereka salah prediksi dikira tidak ada kabel nggak tahunya ada kabel listrik," ujar Rojak.
"Meski telah dicoret, tapi pihak kontraktor tetap ingin memperbaiki jalan yang rusak tanpa bayaran, asalkan mereka tidak dicoret lagi. Tapi instansi terkait tetap ingin mencoretnya," pungkasnya.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/mangkrak-sebulan-perbaikan-jembatan-di-plumpang-bikin-macet.html
Pantauan merdeka.com, Jumat (4/7), kemacetan bertambah parah terjadi saat jam berangkat kerja pagi hari dan jam pulang kerja sore hari di kedua ruas jalan, baik yang mengarah ke Simpang Lima Semper maupun Plumpang.
Selain itu, terlihat pula tumpukan tiang pancang teronggok di jembatan yang mengarah ke Simpang Lima Semper. Akibatnya kendaraan yang datang dari arah Plumpang menuju Simpang Lima Semper mesti melewati jalur sebaliknya.
Akibatnya kemacetan mengular hingga 300 meter dari kedua jalur ini tidak dapat terhindarkan. Bukan hanya kemacetan, kontur jalan di jembatan itu juga masih rusak parah. Hal ini membuat mobil dan motor hanya melaju sekira 5-10 km/jam.
Abdul Rojak (42), salah seorang warga Jalan Bendungan Melayu RT 07/01, Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara mengatakan, beberapa hari lalu ia pernah bertemu dengan kontraktor yang memperbaiki Jembatan Melayu di lokasi. Kepada Rojak, kontraktor itu mengaku tak mengerjakan proyek lagi sejak awal Juni dengan alasan telah dicoret oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jakarta.
Rojak menjelaskan, pencoretan kontraktor itu lantaran pengerjaannya melebihi tenggat waktu waktu yang diberikan oleh Dinas PU Jakarta. Lebih detil Rojak menjelaskan, pada bulan Februari alat berat dan segala bahan baku keperluan proyek telah tiba di lokasi. Namun pengerjaan baru dilakukan pada awal Maret.
Sesuai perjanjian antara kontraktor dengan instansi terkait, proyek itu akan selesai pada Juli-Agustus. Namun hingga Juni progres perbaikan jembatan dinilai tak sesuai harapan. Saat itulah, segala alat berat yang mendukung pengerjaan ditarik oleh kontraktor.
"Harusnya kan bulan Juni setidaknya proyek hampir selesai, tapi pas di lapangan masih banyak yang perlu dilakukan. Makanya kontraktor dicoret oleh Sudin PU Jalan," jelas Rojak, Jumat (3/7).
Rojak menambahkan, saat perusahaan kontraktor itu dicoret, mereka mengaku telah salah memprediksi perbaikan jembatan. Sebab saat perbaikan berlangsung, banyak kabel listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang tertanam di lapisan jalan. Kontraktor pun mesti menggali dan memindahkan kabel itu dulu, hingga membuat proyek perbaikan jalan molor.
"Jadi kendalanya ada di kabel listrik ini, mereka salah prediksi dikira tidak ada kabel nggak tahunya ada kabel listrik," ujar Rojak.
"Meski telah dicoret, tapi pihak kontraktor tetap ingin memperbaiki jalan yang rusak tanpa bayaran, asalkan mereka tidak dicoret lagi. Tapi instansi terkait tetap ingin mencoretnya," pungkasnya.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/mangkrak-sebulan-perbaikan-jembatan-di-plumpang-bikin-macet.html
Label:
awal
,
bendungan
,
instansi
,
jakarta
,
jalan
,
jam
,
jembatan
,
juni
,
kabel
,
kabel listrik
,
koja
,
kontraktor
,
parah
,
plumpang
,
proyek
,
pu
,
rojak
,
semper
,
simpang lima
Senin, 30 Juni 2014
Polda: Selama Ramadan, Jam Kemacetan Jakarta Berubah
VIVAnews - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan akan terjadi perubahan jam dan lokasi kemacetan selama bulan Ramadan. Ini terjadi karena adanya perubahan jam masuk dan pulang kantor satu jam lebih cepat dari biasanya.
Rikwanto menjelaskan, kemacetan pada pulang kerja akan dimulai pukul 15.30 WIB hingga 19.00 WIB. Polisi, kata Rikwanto, berharap agar pukul 19.30 WIB jalan Ibu Kota sudah mulai lancar.
"Pada Minggu pertama puasa, kemacetan diperkirakan akan parah jelang buka puasa. Biasanya terjadi karena sebagian besar orang ingin berbuka dengan keluarga di rumah," ujar Rikwanto, Senin 30 Juni 2014.
Dia menambahkan, kemacetan saat bulan Ramadan bukan hanya terjadi di ruas arteri dan jalan tol, tetapi juga di setiap masjid. Itu dikarenakan adanya kegiatan salat tarawih.
"Seperti Masjid Istiqlal, Masjid Cut Mutia, Masjid Sunda Kelapa, dan beberapa Masjid lainnya ini akan disiapkan personel untuk mengatur lalu lintas," kata Rikwanto.
Rikwanto memprediksi, selama bulan puasa ini, kepadatan jalan Jakarta akan bertambah sekitar 25 persen dari hari biasanya. Lokasi yang akan menjadi macet berkepanjangan adalah wilayah-wilayah penghubung.
"Seperti akses menuju Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi akan bertambah padat pada malam hari," jelasnya.
Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/517195-polda--selama-ramadan--jam-kemacetan-jakarta-berubah
Rikwanto menjelaskan, kemacetan pada pulang kerja akan dimulai pukul 15.30 WIB hingga 19.00 WIB. Polisi, kata Rikwanto, berharap agar pukul 19.30 WIB jalan Ibu Kota sudah mulai lancar.
"Pada Minggu pertama puasa, kemacetan diperkirakan akan parah jelang buka puasa. Biasanya terjadi karena sebagian besar orang ingin berbuka dengan keluarga di rumah," ujar Rikwanto, Senin 30 Juni 2014.
Dia menambahkan, kemacetan saat bulan Ramadan bukan hanya terjadi di ruas arteri dan jalan tol, tetapi juga di setiap masjid. Itu dikarenakan adanya kegiatan salat tarawih.
"Seperti Masjid Istiqlal, Masjid Cut Mutia, Masjid Sunda Kelapa, dan beberapa Masjid lainnya ini akan disiapkan personel untuk mengatur lalu lintas," kata Rikwanto.
Rikwanto memprediksi, selama bulan puasa ini, kepadatan jalan Jakarta akan bertambah sekitar 25 persen dari hari biasanya. Lokasi yang akan menjadi macet berkepanjangan adalah wilayah-wilayah penghubung.
"Seperti akses menuju Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi akan bertambah padat pada malam hari," jelasnya.
Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/517195-polda--selama-ramadan--jam-kemacetan-jakarta-berubah
Label:
arteri
,
bulan puasa
,
ibu kota
,
istiqlal
,
jalan tol
,
jam
,
kemacetan
,
lalu lintas
,
lokasi
,
masjid
,
mutia
,
puasa
,
pukul
,
ramadan
,
rikwanto
,
salat tarawih
,
vivanews
,
wib
,
wilayah
Kamis, 05 Juni 2014
Jakarta Kian Macet, Kecepatan Kendaraan Hanya 5 Km Per Jam
JAKARTA, KOMPAS.com — Kondisi jalan di ibu kota semakin macet. Bahkan, kecepatan kendaraan bermotor rata-rata hanya 5 km per jam.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Edi Nursalam mengatakan, keadaan itu mendesak Pemprov DKI untuk menyediakan banyak transportasi massal serta penerapan sistem jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP).
"Di tahun 2010, kecepatan rata-rata kendaraan bermotor 10 km per jam. Empat tahun setelahnya, kecepatan kendaraan semakin menurun sampai 5 km per jam," kata Edi, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (4/6/2014).
Kemacetan terjadi di sepanjang Jalan Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, Gajah Mada, Hayam Wuruk, HR Rasuna Said, Gatot Subroto, dan lainnya. Saat ini, kata dia, untuk melintasi Jalan Sudirman, lebih cepat sampai di tujuan dengan berjalan kaki dibandingkan kendaraan pribadi.
Menurut dia lagi, kondisi kemacetan di Jakarta telah memenuhi persyaratan penerapan ERP di sebuah kota, yakni kecepatan kendaraan bermotor 10 km per jam. Oleh karena itu, lanjut Edi, Pemprov DKI jangan lagi menunda pelaksanaan ERP.
"Sekarang, kemacetan di Jakarta itu terjadi sepanjang waktu, bukan pas di jam-jam sibuk, misalnya pas di jam pulang kerja saja," kata Edi.
Sebelum menerapkan ERP, menurut Edi, Pemprov DKI perlu merevisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah. Di dalam perda itu belum disebutkan tentang teknis nilai tarif pemungutan ERP. Serta payung hukum lainnya yang berkaitan dengan teknis lalu lintas, seperti Perda Nomor 5 Tahun 2014 tentang transportasi. Semua payung hukum itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
"ERP baru akan dilaksanakan pada tahun 2015. Juli mendatang kan baru uji coba oleh perusahaan investor," kata Edi.
Seiring dengan hal tersebut, Wadirlantas Polda Metro Jaya AKBP Bakharuddin Muhammad Syah menjelaskan, setiap harinya, Ditlantas Polda Metro Jaya mengeluarkan pelat nomor kendaraan pribadi baru sebanyak 6.000-7.000 unit, yang terdiri dari 1.000-1.500 untuk mobil dan sisanya sepeda motor.
Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta per 2013 mencapai 16 juta unit. Jumlah itu terdiri dari 11 juta unit untuk sepeda motor, 3 juta unit mobil, 670.000 unit mobil barang, 360 ribu unit bus, dan 133.000 unit kendaraan khusus.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/04/1459211/Jakarta.Kian.Macet.Kecepatan.Kendaraan.Hanya.5.Km.Per.Jam
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Edi Nursalam mengatakan, keadaan itu mendesak Pemprov DKI untuk menyediakan banyak transportasi massal serta penerapan sistem jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP).
"Di tahun 2010, kecepatan rata-rata kendaraan bermotor 10 km per jam. Empat tahun setelahnya, kecepatan kendaraan semakin menurun sampai 5 km per jam," kata Edi, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (4/6/2014).
Kemacetan terjadi di sepanjang Jalan Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, Gajah Mada, Hayam Wuruk, HR Rasuna Said, Gatot Subroto, dan lainnya. Saat ini, kata dia, untuk melintasi Jalan Sudirman, lebih cepat sampai di tujuan dengan berjalan kaki dibandingkan kendaraan pribadi.
Menurut dia lagi, kondisi kemacetan di Jakarta telah memenuhi persyaratan penerapan ERP di sebuah kota, yakni kecepatan kendaraan bermotor 10 km per jam. Oleh karena itu, lanjut Edi, Pemprov DKI jangan lagi menunda pelaksanaan ERP.
"Sekarang, kemacetan di Jakarta itu terjadi sepanjang waktu, bukan pas di jam-jam sibuk, misalnya pas di jam pulang kerja saja," kata Edi.
Sebelum menerapkan ERP, menurut Edi, Pemprov DKI perlu merevisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah. Di dalam perda itu belum disebutkan tentang teknis nilai tarif pemungutan ERP. Serta payung hukum lainnya yang berkaitan dengan teknis lalu lintas, seperti Perda Nomor 5 Tahun 2014 tentang transportasi. Semua payung hukum itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
"ERP baru akan dilaksanakan pada tahun 2015. Juli mendatang kan baru uji coba oleh perusahaan investor," kata Edi.
Seiring dengan hal tersebut, Wadirlantas Polda Metro Jaya AKBP Bakharuddin Muhammad Syah menjelaskan, setiap harinya, Ditlantas Polda Metro Jaya mengeluarkan pelat nomor kendaraan pribadi baru sebanyak 6.000-7.000 unit, yang terdiri dari 1.000-1.500 untuk mobil dan sisanya sepeda motor.
Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta per 2013 mencapai 16 juta unit. Jumlah itu terdiri dari 11 juta unit untuk sepeda motor, 3 juta unit mobil, 670.000 unit mobil barang, 360 ribu unit bus, dan 133.000 unit kendaraan khusus.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/04/1459211/Jakarta.Kian.Macet.Kecepatan.Kendaraan.Hanya.5.Km.Per.Jam
Label:
dki
,
edi
,
erp
,
jakarta
,
jalan
,
jam
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kendaraan bermotor
,
km
,
lalu lintas
,
nomor
,
payung
,
pemprov
,
perda
,
rata-rata
,
sepeda motor
,
transportasi
,
unit
Jumat, 02 Mei 2014
Sopir Truk Sampah DKI Beri Bocoran Kecurangan Dishub
BEKASI, KOMPAS.com — Sopir truk sampah DKI Jakarta yang terkena razia oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bekasi memberi bocoran soal kecurangan yang sering dilakukan oleh oknum Dishub. Pasalnya, mereka beberapa kali sempat lolos dalam membawa truk sampah ke TPA Bantargebang pada siang hari.
"Biasanya ada tandanya. Kalau di depan truk itu ditempel stiker khusus itu Dishub gak berani berhentiin. Sudah setoran biasanya per bulan," ujar salah satu sopir truk yang terkena razia, Ihsan, kepada Kompas.com pada Jumat (2/5/2014).
Ihsan mengatakan, stiker khusus tersebut biasanya berupa huruf N. Ada warna khusus dalam stiker tersebut. Seperti N berwarna hijau dan N berwarna merah, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Namun, dia tidak mengetahui arti dari warna stiker tersebut. "Saya cuma tahu itu kode," ujarnya.
Selain stiker berupa huruf N, Ihsan mengatakan, ada bentuk stiker lain yang juga digunakan. Semua stiker tersebut dipasang demi meloloskan diri dari razia Dishub.
Sopir lain, Angwari, mengakui hal yang sama. Dia mengakui ada oknum Dishub yang membantu mereka lolos dari razia. Caranya, dia memberikan sejumlah uang kepada oknum Dishub di lapangan. Oknum tersebut pun akan membiarkan mereka melewati jalan Bekasi di luar jam operasional yang ditetapkan.
"Biasanya sering kita bayar Rp 20.000 atau berapalah ke orang Dishub. Supaya lolos melintas di luar jam operasional," ujar Angwari.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Operasional Dishub Bekasi Ikhwanudin Rahmat membantah telah terjadi kecurangan yang dilakukan pihaknya. Menurut dia, Dishub sudah melakukan tugas tanpa pandang bulu.
"Siapa pun dia kita kandangin. Siapa pun dia. Gak ada unsur koordinasi. Sudah empat hari razia akhirnya clear kok," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/02/1129239/Sopir.Truk.Sampah.DKI.Beri.Bocoran.Kecurangan.Dishub
"Biasanya ada tandanya. Kalau di depan truk itu ditempel stiker khusus itu Dishub gak berani berhentiin. Sudah setoran biasanya per bulan," ujar salah satu sopir truk yang terkena razia, Ihsan, kepada Kompas.com pada Jumat (2/5/2014).
Ihsan mengatakan, stiker khusus tersebut biasanya berupa huruf N. Ada warna khusus dalam stiker tersebut. Seperti N berwarna hijau dan N berwarna merah, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Namun, dia tidak mengetahui arti dari warna stiker tersebut. "Saya cuma tahu itu kode," ujarnya.
Selain stiker berupa huruf N, Ihsan mengatakan, ada bentuk stiker lain yang juga digunakan. Semua stiker tersebut dipasang demi meloloskan diri dari razia Dishub.
Sopir lain, Angwari, mengakui hal yang sama. Dia mengakui ada oknum Dishub yang membantu mereka lolos dari razia. Caranya, dia memberikan sejumlah uang kepada oknum Dishub di lapangan. Oknum tersebut pun akan membiarkan mereka melewati jalan Bekasi di luar jam operasional yang ditetapkan.
"Biasanya sering kita bayar Rp 20.000 atau berapalah ke orang Dishub. Supaya lolos melintas di luar jam operasional," ujar Angwari.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Operasional Dishub Bekasi Ikhwanudin Rahmat membantah telah terjadi kecurangan yang dilakukan pihaknya. Menurut dia, Dishub sudah melakukan tugas tanpa pandang bulu.
"Siapa pun dia kita kandangin. Siapa pun dia. Gak ada unsur koordinasi. Sudah empat hari razia akhirnya clear kok," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/02/1129239/Sopir.Truk.Sampah.DKI.Beri.Bocoran.Kecurangan.Dishub
Label:
angwari
,
bekasi
,
bocoran
,
dishub
,
dki
,
huruf
,
ihsan
,
jam
,
kandangin
,
kecurangan
,
oknum
,
operasional
,
razia
,
siang hari
,
sopir
,
stiker
,
truk
,
truk sampah
,
warna
Sopir Truk Sampah DKI Beri Bocoran Kecurangan Dishub
BEKASI, KOMPAS.com — Sopir truk sampah DKI Jakarta yang terkena razia oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bekasi memberi bocoran soal kecurangan yang sering dilakukan oleh oknum Dishub. Pasalnya, mereka beberapa kali sempat lolos dalam membawa truk sampah ke TPA Bantargebang pada siang hari.
"Biasanya ada tandanya. Kalau di depan truk itu ditempel stiker khusus itu Dishub gak berani berhentiin. Sudah setoran biasanya per bulan," ujar salah satu sopir truk yang terkena razia, Ihsan, kepada Kompas.com pada Jumat (2/5/2014).
Ihsan mengatakan, stiker khusus tersebut biasanya berupa huruf N. Ada warna khusus dalam stiker tersebut. Seperti N berwarna hijau dan N berwarna merah, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Namun, dia tidak mengetahui arti dari warna stiker tersebut. "Saya cuma tahu itu kode," ujarnya.
Selain stiker berupa huruf N, Ihsan mengatakan, ada bentuk stiker lain yang juga digunakan. Semua stiker tersebut dipasang demi meloloskan diri dari razia Dishub.
Sopir lain, Angwari, mengakui hal yang sama. Dia mengakui ada oknum Dishub yang membantu mereka lolos dari razia. Caranya, dia memberikan sejumlah uang kepada oknum Dishub di lapangan. Oknum tersebut pun akan membiarkan mereka melewati jalan Bekasi di luar jam operasional yang ditetapkan.
"Biasanya sering kita bayar Rp 20.000 atau berapalah ke orang Dishub. Supaya lolos melintas di luar jam operasional," ujar Angwari.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Operasional Dishub Bekasi Ikhwanudin Rahmat membantah telah terjadi kecurangan yang dilakukan pihaknya. Menurut dia, Dishub sudah melakukan tugas tanpa pandang bulu.
"Siapa pun dia kita kandangin. Siapa pun dia. Gak ada unsur koordinasi. Sudah empat hari razia akhirnya clear kok," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/02/1129239/Sopir.Truk.Sampah.DKI.Beri.Bocoran.Kecurangan.Dishub
"Biasanya ada tandanya. Kalau di depan truk itu ditempel stiker khusus itu Dishub gak berani berhentiin. Sudah setoran biasanya per bulan," ujar salah satu sopir truk yang terkena razia, Ihsan, kepada Kompas.com pada Jumat (2/5/2014).
Ihsan mengatakan, stiker khusus tersebut biasanya berupa huruf N. Ada warna khusus dalam stiker tersebut. Seperti N berwarna hijau dan N berwarna merah, yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Namun, dia tidak mengetahui arti dari warna stiker tersebut. "Saya cuma tahu itu kode," ujarnya.
Selain stiker berupa huruf N, Ihsan mengatakan, ada bentuk stiker lain yang juga digunakan. Semua stiker tersebut dipasang demi meloloskan diri dari razia Dishub.
Sopir lain, Angwari, mengakui hal yang sama. Dia mengakui ada oknum Dishub yang membantu mereka lolos dari razia. Caranya, dia memberikan sejumlah uang kepada oknum Dishub di lapangan. Oknum tersebut pun akan membiarkan mereka melewati jalan Bekasi di luar jam operasional yang ditetapkan.
"Biasanya sering kita bayar Rp 20.000 atau berapalah ke orang Dishub. Supaya lolos melintas di luar jam operasional," ujar Angwari.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Pengendalian Operasional Dishub Bekasi Ikhwanudin Rahmat membantah telah terjadi kecurangan yang dilakukan pihaknya. Menurut dia, Dishub sudah melakukan tugas tanpa pandang bulu.
"Siapa pun dia kita kandangin. Siapa pun dia. Gak ada unsur koordinasi. Sudah empat hari razia akhirnya clear kok," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/02/1129239/Sopir.Truk.Sampah.DKI.Beri.Bocoran.Kecurangan.Dishub
Label:
angwari
,
bekasi
,
bocoran
,
dishub
,
dki
,
huruf
,
ihsan
,
jam
,
kandangin
,
kecurangan
,
oknum
,
operasional
,
razia
,
siang hari
,
sopir
,
stiker
,
truk
,
truk sampah
,
warna
Rabu, 30 April 2014
Truk Sampah DKI Dikandangi, Sopir Minta Tanggung Jawab Jokowi
BEKASI -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi Jawa Barat, menahan puluhan truk sampa milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Truk sampah yang hendak membuang sampah ke TPA Bantargebang tersebut, melintas Jalan A Yani di luar jam yang telah disepakati atau MoU, yakni pukul 21.00 sampai dengan pukul 04.00.
Salah seorang sopir truk sampah milik Pemprov DKI, Ihsan (30) mengatakan, alasan dirinya nekat menerobos kebijakan pemberlakuan jam operasional truk sampah melintas lantaran tidak memadainya uang operasional.
Seperti dilansir Radar Bekasi (JPNN Grup), Ihsan mengaku menyiasati keuangannya. Makanya, Ihsanmemilih masuk ruas tol Bekasi yang jaraknya lebih dekat jika dibandingkan dengan tol Cibubur.
Menurutnya, sebagian besar sopir truk sebenarnya juga berharap permasalahan kebijakan dan kerja sama mengenai jam operasional segera diselesaikan.
Untuk itu dia meminta, setelah kejadian penahanan truk sampah kemarin, Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi segera melakukan pertemuan guna membicarakan masalah tersebut.
"Semoga saja Pak Jokowi memperhatikan masalah ini dan segera diselesaikan, jadi biarkan saja dikandangin,” katanya pasrah.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/04/29/231457/Truk-Sampah-DKI-Dikandangi,-Sopir-Minta-Tanggung-Jawab-Jokowi-
Truk sampah yang hendak membuang sampah ke TPA Bantargebang tersebut, melintas Jalan A Yani di luar jam yang telah disepakati atau MoU, yakni pukul 21.00 sampai dengan pukul 04.00.
Salah seorang sopir truk sampah milik Pemprov DKI, Ihsan (30) mengatakan, alasan dirinya nekat menerobos kebijakan pemberlakuan jam operasional truk sampah melintas lantaran tidak memadainya uang operasional.
Seperti dilansir Radar Bekasi (JPNN Grup), Ihsan mengaku menyiasati keuangannya. Makanya, Ihsanmemilih masuk ruas tol Bekasi yang jaraknya lebih dekat jika dibandingkan dengan tol Cibubur.
Menurutnya, sebagian besar sopir truk sebenarnya juga berharap permasalahan kebijakan dan kerja sama mengenai jam operasional segera diselesaikan.
Untuk itu dia meminta, setelah kejadian penahanan truk sampah kemarin, Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi segera melakukan pertemuan guna membicarakan masalah tersebut.
"Semoga saja Pak Jokowi memperhatikan masalah ini dan segera diselesaikan, jadi biarkan saja dikandangin,” katanya pasrah.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/04/29/231457/Truk-Sampah-DKI-Dikandangi,-Sopir-Minta-Tanggung-Jawab-Jokowi-
Label:
bekasi
,
dikandangi
,
dki
,
ihsan
,
ihsanmemilih
,
jam
,
jokowi
,
jpnn
,
kebijakan
,
kerja sama
,
milik
,
operasional
,
pemkot
,
pemprov
,
sampa
,
sopir
,
tol
,
truk
,
truk sampah
Rabu, 12 Maret 2014
Mulai April, pengangkutan sampah di DKI pakai sistem rit
Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berencana mengubah sistem pengangkutan sampah di DKI Jakarta. Perubahan sistem tersebut akan diubah dari skema waktu menjadi skema putaran atau rit.
Ahok mengaku telah menegur Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Saptastri Ediningtyas untuk merubah sistem pengangkutan sampah. Sebab, banyak sampah-sampah di Jakarta yang diletakkan di badan jalan dan menimbulkan bau tidak sedap di wilayah tersebut.
"Banyak yang enggak jalan truk sampah kita. Saya tanya, mau ngapain gitu lho. Terus alasannya kita masih terikat aturan sewa mobil per delapan jam, sehingga hanya ngangkut satu rit. Saya bilang ubah saja dong. Mana bisa pakai jam, pakai rit saja biar lebih simpel. Jadi per rit bayar berapa, tinggal dihitung saja nantinya," ujar Ahok di Balai Kota, Selasa (11/3).
Ahok menegaskan, penerapan skema rit tersebut akan dilakukan pada April 2014 mendatang. Menurut Ahok, Pemprov DKI Jakarta bakal rugi apabila menggunakan sistem yang lama. Lantaran, sampah yang diangkut setiap hari berjumlah sangat kecil dibanding jumlah sampah yang dibuang warga setiap harinya.
"Jadi ada kesengajaan pembiaran sistem yang lama yang dia bikin. Jadi kerja kita lama. Alat berat kita sudah kerja nol koma sekian jam sudah ngangkut penuh pergi, tidak balik lagi. Kan lucu. Memang tidak bisa pakai truk kita. Tadi baru saya tegur (Kadis Kebersihan). Dia harus bisa datain mana daerah-daerahnya. Biar tidak ada semacam kesengajaan," katanya.
Mantan Bupati Belitung Timur ini mempersilakan perusahaan swasta yang mengangkut sampah di DKI Jakarta untuk mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. "Itu hak mereka, kita tidak mau kontraknya pakai ton. Kita inginnya pakai rit. Itu juga DPRD yang ngatur kok. Pakai rit, pakai jam. Terserah saja lah, gugat saja. Namanya saja kontrak harus ada kewajiban," katanya.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/mulai-april-pengangkutan-sampah-di-dki-pakai-sistem-rit.html
Ahok mengaku telah menegur Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Saptastri Ediningtyas untuk merubah sistem pengangkutan sampah. Sebab, banyak sampah-sampah di Jakarta yang diletakkan di badan jalan dan menimbulkan bau tidak sedap di wilayah tersebut.
"Banyak yang enggak jalan truk sampah kita. Saya tanya, mau ngapain gitu lho. Terus alasannya kita masih terikat aturan sewa mobil per delapan jam, sehingga hanya ngangkut satu rit. Saya bilang ubah saja dong. Mana bisa pakai jam, pakai rit saja biar lebih simpel. Jadi per rit bayar berapa, tinggal dihitung saja nantinya," ujar Ahok di Balai Kota, Selasa (11/3).
Ahok menegaskan, penerapan skema rit tersebut akan dilakukan pada April 2014 mendatang. Menurut Ahok, Pemprov DKI Jakarta bakal rugi apabila menggunakan sistem yang lama. Lantaran, sampah yang diangkut setiap hari berjumlah sangat kecil dibanding jumlah sampah yang dibuang warga setiap harinya.
"Jadi ada kesengajaan pembiaran sistem yang lama yang dia bikin. Jadi kerja kita lama. Alat berat kita sudah kerja nol koma sekian jam sudah ngangkut penuh pergi, tidak balik lagi. Kan lucu. Memang tidak bisa pakai truk kita. Tadi baru saya tegur (Kadis Kebersihan). Dia harus bisa datain mana daerah-daerahnya. Biar tidak ada semacam kesengajaan," katanya.
Mantan Bupati Belitung Timur ini mempersilakan perusahaan swasta yang mengangkut sampah di DKI Jakarta untuk mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. "Itu hak mereka, kita tidak mau kontraknya pakai ton. Kita inginnya pakai rit. Itu juga DPRD yang ngatur kok. Pakai rit, pakai jam. Terserah saja lah, gugat saja. Namanya saja kontrak harus ada kewajiban," katanya.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/mulai-april-pengangkutan-sampah-di-dki-pakai-sistem-rit.html
Label:
ahok
,
april
,
dewan perwakilan rakyat daerah
,
dki
,
jakarta
,
jam
,
kebersihan
,
kesengajaan
,
kontrak
,
ngangkut
,
pakai
,
pembiaran
,
pengangkutan
,
rit
,
sampah
,
sistem
,
skema
,
tegur
,
tjahaja
Selasa, 12 November 2013
Macet Semakin Parah Akibat Angkutan Umum Belum Bisa Diandalkan
Jakarta - Direktur The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), Yoga Adiwinarto, menyebutkan, semakin parahnya kemacetan Jakarta akibat warga masih mudah dan murah untuk bawa kendaraan pribadi. Selain itu angkutan umum yang ada belum bisa diandalkan.
“Pemda DKI harus secepatnya memperbaiki kualitas angkutan umum non Transjakarta dan peningkatan kualitas Transjakarta. Ini yang bisa dilakukan dalam waktu dekat,” katanya kepada Beritasatu di Jakarta, Senin (11/11).
Dia menyarankan Pemprov DKI juga membatasi pengguna kendaraan pribadi dengan pembatasan parkir dan tarif parkir mahal. Juga memahalkan penggunaan kendaraan pribadi dengan jalan berbayar
Dari pantauan Beritasatu di sejumlah Jalan Protokol di Jakarta Senin pagi hingga siang ini, kemacetan parah tak terhindarkan. Seperti terpantau di Jl Gatot Subroto dari arah Cawang hingga Senayan, kendaraan cukup padat.
Bahkan kemacetan sudah mengular dari pintu tol Halim hingga Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan kendaraan roda empat dari Cawang menuju Semanggi yang biasanya hanya memakan waktu satu jam kini menjadi tiga jam lebih.
“Kemacetannya luar biasa. Enggak pernah seperti ini. Lebih bagus pulang saja ke rumah karena malu masuk kantor jam segini (10.00 WIB, Red),” keluh Nurhasan (43) seorang pengendara mobil yang ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Karena kemacetan parah terjadi di Rasuna Said yang menjadi lokasi kerja Nurhasan, membuat dia putar balik menuju rumahnya di Bekasi. Nurhasan akhirnya tidak kerja hari ini dan putar kendaraan di bawah fly over Kuningan.
Sumber : http://www.beritasatu.com/pelayanan-publik/149404-macet-semakin-parah-akibat-angkutan-umum-belum-bisa-diandalkan.html
“Pemda DKI harus secepatnya memperbaiki kualitas angkutan umum non Transjakarta dan peningkatan kualitas Transjakarta. Ini yang bisa dilakukan dalam waktu dekat,” katanya kepada Beritasatu di Jakarta, Senin (11/11).
Dia menyarankan Pemprov DKI juga membatasi pengguna kendaraan pribadi dengan pembatasan parkir dan tarif parkir mahal. Juga memahalkan penggunaan kendaraan pribadi dengan jalan berbayar
Dari pantauan Beritasatu di sejumlah Jalan Protokol di Jakarta Senin pagi hingga siang ini, kemacetan parah tak terhindarkan. Seperti terpantau di Jl Gatot Subroto dari arah Cawang hingga Senayan, kendaraan cukup padat.
Bahkan kemacetan sudah mengular dari pintu tol Halim hingga Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan kendaraan roda empat dari Cawang menuju Semanggi yang biasanya hanya memakan waktu satu jam kini menjadi tiga jam lebih.
“Kemacetannya luar biasa. Enggak pernah seperti ini. Lebih bagus pulang saja ke rumah karena malu masuk kantor jam segini (10.00 WIB, Red),” keluh Nurhasan (43) seorang pengendara mobil yang ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Karena kemacetan parah terjadi di Rasuna Said yang menjadi lokasi kerja Nurhasan, membuat dia putar balik menuju rumahnya di Bekasi. Nurhasan akhirnya tidak kerja hari ini dan putar kendaraan di bawah fly over Kuningan.
Sumber : http://www.beritasatu.com/pelayanan-publik/149404-macet-semakin-parah-akibat-angkutan-umum-belum-bisa-diandalkan.html
Label:
acara-acara
,
angkutan
,
cawang
,
di bawah
,
dki
,
itasatu
,
jakarta
,
jalan protokol
,
jam
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kualitas
,
kuningan
,
nurhasan
,
parah
,
parkir
,
pribadi
,
rasuna
,
transjakarta
Jumat, 20 September 2013
Perlu Terobosan Atasi Macet Selama Pembangunan MRT
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan dapat menjalankan manajemen lalu lintas yang baik untuk mengurangi kemacetan yang lebih parah selama pembangunan mass rapid transit atau MRT. Hal itu juga perlu didukung dengan penyampaian informasi yang baik kepada warga.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan, kemacetan menjadi suatu risiko dalam setiap pembangunan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah, utamanya mengurangi dampak yang ditimbulkan dalam pembangunan itu.
Terkait rencana pembangunan MRT yang akan dimulai tahun ini, Danang mengatakan bahwa perlu ada suatu manajemen lalu lintas dan terobosan-terobosan yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi kemacetan. Untuk mendukung itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta harus melakukan sosialisasi secara reguler tentang kapan dan di mana titik kemacetan terjadi.
"Bagaimana melakukan sosialisasi yang baik, katakanlah kalau jam sekian padat sekali, diimbau melakukan perjalanan dari sini jam berapa, ada pembagian. Informasi publik menjadi kunci akhirnya," kata Danang, Kamis (19/9/2013).
Informasi semacam itu, kata Danang, akan sangat membantu pengguna jalan untuk mengetahui titik-titik kemacetan. Dengan demikian, pengguna jalan tidak akan frustrasi karena buta informasi dan tak tahu harus memilih jalur mana yang lebih nyaman.
Informasi-informasi itu dapat disampaikan melalui papan informasi, misalnya di Jalan Fatmawati. Informasi yang disampaikan antara lain kecepatan rata-rata kendaraan, petunjuk, dan saran perjalanan. "Problemnya diinformasikan. Diberi solusi dan pilihan. Sekalipun hanya melalui board, saya rasa itu sudah mengurangi kejengkelan para pengguna jalan," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/20/0105576/Perlu.Terobosan.Atasi.Macet.Selama.Pembangunan.MRT
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan, kemacetan menjadi suatu risiko dalam setiap pembangunan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah, utamanya mengurangi dampak yang ditimbulkan dalam pembangunan itu.
Terkait rencana pembangunan MRT yang akan dimulai tahun ini, Danang mengatakan bahwa perlu ada suatu manajemen lalu lintas dan terobosan-terobosan yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi kemacetan. Untuk mendukung itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta harus melakukan sosialisasi secara reguler tentang kapan dan di mana titik kemacetan terjadi.
"Bagaimana melakukan sosialisasi yang baik, katakanlah kalau jam sekian padat sekali, diimbau melakukan perjalanan dari sini jam berapa, ada pembagian. Informasi publik menjadi kunci akhirnya," kata Danang, Kamis (19/9/2013).
Informasi semacam itu, kata Danang, akan sangat membantu pengguna jalan untuk mengetahui titik-titik kemacetan. Dengan demikian, pengguna jalan tidak akan frustrasi karena buta informasi dan tak tahu harus memilih jalur mana yang lebih nyaman.
Informasi-informasi itu dapat disampaikan melalui papan informasi, misalnya di Jalan Fatmawati. Informasi yang disampaikan antara lain kecepatan rata-rata kendaraan, petunjuk, dan saran perjalanan. "Problemnya diinformasikan. Diberi solusi dan pilihan. Sekalipun hanya melalui board, saya rasa itu sudah mengurangi kejengkelan para pengguna jalan," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/20/0105576/Perlu.Terobosan.Atasi.Macet.Selama.Pembangunan.MRT
Label:
danang
,
dki
,
informasi
,
jakarta
,
jalan
,
jam
,
kemacetan
,
lalu lintas
,
manajemen
,
mrt
,
parikesit
,
pembangunan
,
pengguna
,
perjalanan
,
rapid
,
rata-rata
,
sosialisasi
,
terobosan-terobosan
,
titik-titik
Rabu, 31 Juli 2013
2014, Jakarta Macet Total
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Effort for Environment, Ahmad Safrudin memperkirakan lalu lintas Jakarta akan stuckatau mengalami kemacetan total pada 2014. Hal ini terjadi karena pertumbuhan populasi kendaraan di Jakarta tidak terkendali. "Ini lebih cepat dari yang diperkirakan," kata dia dalam konferensi pers di Gedung Sarinah Jakarta Pusat, Selasa 30 Juli 2013.
Menurut Ahmad, kondisi kemacetan terjadi meski hanya 15 persen kendaraan yang turun ke jalan. Dia tidak bisa membayangkan jika seluruh kendaraan tumpah ruah di jalanan.
Kecepatan kendaraan di dalam kota pun akan menurun. Ahmad mengatakan pada 2008 kendaraan masih bisa melaju rata-rata di atas 20 kilometer per jam. Namun pada 2012 kecepatannya anjlok menjadi 16 kilometer per jam. "Akhirnya pada 2014, semua kendaraan di Jakarta akan stuck," ujarnya.
Riset Indonesia Effort for Environment menyebutkan pada 2013 pertumbuhan kendaraan mencapai 1.600-2.400 unit per hari. Dari jumlah tersebut, 16,5 persen merupakan pertambahan mobil sementara sisanya adalah motor, bus, dan truk. Jumlah kendaraan di Jabodetabek yang beroperasi di Jakarta mencapai 38,7 juta unit, terdiri dari 26,1 juta unit sepeda motor, 5,3 juta unit mobil, 1,3 juta unit bus, dan 6,1 juta unit.
Selain dampak berupa kemacetan, Indonesia Effort for Environment mencatat pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat telah menyebabkan 57,8 persen warga Jakarta menderita sakit yang berhubungan dengan pencemaran udara. Sebanyak 1,2 juta warga Jakarta menderita asma sementara 153 ribu menderita bronchopneunomia, sebanyak 2,4 juta warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Pada 2010 saja, biaya kesehatan yang harus dibayarkan warga Jakarta mencapai Rp 38,5 triliun," kata Ahmad
Untuk mengurangi dampak kemacetan, Ahmad mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan kendaraan pribadi baru. Selain itu, moratorium pengembangan jalan tol juga harus dilakukan. Solusi lain adalah pembenahan sarana transportasi serta perbaikan pengaturan parkir di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/07/30/083501064/2014-Jakarta-Macet-Total
Menurut Ahmad, kondisi kemacetan terjadi meski hanya 15 persen kendaraan yang turun ke jalan. Dia tidak bisa membayangkan jika seluruh kendaraan tumpah ruah di jalanan.
Kecepatan kendaraan di dalam kota pun akan menurun. Ahmad mengatakan pada 2008 kendaraan masih bisa melaju rata-rata di atas 20 kilometer per jam. Namun pada 2012 kecepatannya anjlok menjadi 16 kilometer per jam. "Akhirnya pada 2014, semua kendaraan di Jakarta akan stuck," ujarnya.
Riset Indonesia Effort for Environment menyebutkan pada 2013 pertumbuhan kendaraan mencapai 1.600-2.400 unit per hari. Dari jumlah tersebut, 16,5 persen merupakan pertambahan mobil sementara sisanya adalah motor, bus, dan truk. Jumlah kendaraan di Jabodetabek yang beroperasi di Jakarta mencapai 38,7 juta unit, terdiri dari 26,1 juta unit sepeda motor, 5,3 juta unit mobil, 1,3 juta unit bus, dan 6,1 juta unit.
Selain dampak berupa kemacetan, Indonesia Effort for Environment mencatat pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat telah menyebabkan 57,8 persen warga Jakarta menderita sakit yang berhubungan dengan pencemaran udara. Sebanyak 1,2 juta warga Jakarta menderita asma sementara 153 ribu menderita bronchopneunomia, sebanyak 2,4 juta warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Pada 2010 saja, biaya kesehatan yang harus dibayarkan warga Jakarta mencapai Rp 38,5 triliun," kata Ahmad
Untuk mengurangi dampak kemacetan, Ahmad mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan kendaraan pribadi baru. Selain itu, moratorium pengembangan jalan tol juga harus dilakukan. Solusi lain adalah pembenahan sarana transportasi serta perbaikan pengaturan parkir di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/07/30/083501064/2014-Jakarta-Macet-Total
Label:
ahmad
,
bus
,
dampak
,
effort
,
environment
,
for
,
jabodetabek
,
jakarta
,
jam
,
kecepatan
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kilometer
,
pertumbuhan
,
sepeda motor
,
stuck
,
stuckatau
,
unit
,
warga
Kamis, 25 Juli 2013
Jokowi akan bikin pasar malam untuk PKL di Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan membuat konsep night market untuk para Pedagang Kaki Lima (PKL). Acara tersebut akan diberi nama Pasar Malam Jakarta (PMJ).
"Kita nanti akan bikin Pasar Malam Jakarta. Sekitar 2 bulan lagi," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (24/7).
Jokowi menjelaskan, pedagang yang akan berjualan pada PMJ akan diprioritaskan untuk pedagang yang ber-KTP DKI Jakarta. PMJ tersebut juga menyediakan aneka jajanan kuliner khas Betawi. Disana akan ada 500 hingga 600 PKL yang akan ikut turut serta berjualan.
"Nanti di sepanjang Jalan Merdeka Selatan. Dari Patung Kuda, depan Balai Kota sini sampai Gambir. Juga ada panggung hiburan nanti di tengah-tengah situ. Mulai dari jam 17.00 WIB sampai jam 24.00 WIB," ujarnya.
Mantan Wali Kota Solo ini menjelaskan, program PMJ tersebut akan dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta sendiri. Total anggaran yang akan dikeluarkan sebesar Rp 760 juta.
Politikus PDIP ini juga mengaku mengadakan PMJ juga termasuk salah satu tujuannya untuk menertibkan para PKL. Ia juga meyakinkan bahwa pasar malam tersebut nantinya tidak akan mengakibatkan kemacetan lalu lintas.
"Iya, nanti kalo ini sudah bener betul, baru ke wilayah kota. Jadi nanti PKL-PKL yang ada di anukan ke sana. Tapi kan problem kita, kalo nutup jalan akan mengakibatkan macet apa ga, tp ga lah kan hanya seminggu sekali," ujarnya sambil tertawa.
Selain itu, Jokowi tidak lupa akan masalah kebersihan. Pasalnya masalah sampah menumpuk terjadi pada perayaan Muda Mudi Jakarta pekan lalu. Dia berjanji akan memperhatikan tentang masalah pendidikan kebersihan pada masyarakat.
"Nah itu nanti yg baru-baru seperti ini pasti kita atur. Pendidikan, mengedukasi masyarakat, mengedukasi pedagang. Penting. Air juga, jangan sampai air keran yang diember dipake dari pagi sampe malam ga diganti," imbuh Jokowi.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-akan-bikin-pasar-malam-untuk-pkl-di-jakarta.html
"Kita nanti akan bikin Pasar Malam Jakarta. Sekitar 2 bulan lagi," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (24/7).
Jokowi menjelaskan, pedagang yang akan berjualan pada PMJ akan diprioritaskan untuk pedagang yang ber-KTP DKI Jakarta. PMJ tersebut juga menyediakan aneka jajanan kuliner khas Betawi. Disana akan ada 500 hingga 600 PKL yang akan ikut turut serta berjualan.
"Nanti di sepanjang Jalan Merdeka Selatan. Dari Patung Kuda, depan Balai Kota sini sampai Gambir. Juga ada panggung hiburan nanti di tengah-tengah situ. Mulai dari jam 17.00 WIB sampai jam 24.00 WIB," ujarnya.
Mantan Wali Kota Solo ini menjelaskan, program PMJ tersebut akan dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta sendiri. Total anggaran yang akan dikeluarkan sebesar Rp 760 juta.
Politikus PDIP ini juga mengaku mengadakan PMJ juga termasuk salah satu tujuannya untuk menertibkan para PKL. Ia juga meyakinkan bahwa pasar malam tersebut nantinya tidak akan mengakibatkan kemacetan lalu lintas.
"Iya, nanti kalo ini sudah bener betul, baru ke wilayah kota. Jadi nanti PKL-PKL yang ada di anukan ke sana. Tapi kan problem kita, kalo nutup jalan akan mengakibatkan macet apa ga, tp ga lah kan hanya seminggu sekali," ujarnya sambil tertawa.
Selain itu, Jokowi tidak lupa akan masalah kebersihan. Pasalnya masalah sampah menumpuk terjadi pada perayaan Muda Mudi Jakarta pekan lalu. Dia berjanji akan memperhatikan tentang masalah pendidikan kebersihan pada masyarakat.
"Nah itu nanti yg baru-baru seperti ini pasti kita atur. Pendidikan, mengedukasi masyarakat, mengedukasi pedagang. Penting. Air juga, jangan sampai air keran yang diember dipake dari pagi sampe malam ga diganti," imbuh Jokowi.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-akan-bikin-pasar-malam-untuk-pkl-di-jakarta.html
Label:
balai kota
,
berjualan
,
diember
,
dki
,
ga
,
jakarta
,
jam
,
jokowi
,
kebersihan
,
mengedukasi
,
nutup
,
pasar malam
,
pedagang
,
pedagang kaki lima
,
pkl
,
pmj
,
wali kota
Langganan:
Postingan
(
Atom
)