TEMPO.CO, Jakarta - Pada pekan liburan lebaran, kondisi lalu lintas Jakarta lengang, karena ditinggalkan sebagian penghuninya yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri.
Jakarta yang biasanya macet dan berdebu pun menjelma menjadi kota yang terasa ramah bagi warganya. Kesempatan seperti ini biasanya tidak dilewatkan bagi masyarakat untuk menikmati kelengangan Jakarta sebelum cuti bersama berakhir hari ini, Selasa (21 Juli 2015).
Bus tingkat pun menjadi favorit warga untuk mengelilingi berbagai landmark kota Jakarta. Selain tidak dipungut biaya, bus-bus tersebut melewati jalan-jalan di koridor utama kota Jakarta seperti museum, Monas, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, hotel, dan pusat perbelanjaan.
Di setiap pos perhentian bis yang tersebar di beberapa titik, antrean warga antusias menunggu bus yang sudah beroperasi sejak Februari 2014 itu sudah terbentuk. Cukup panjang.
Termasuk rombongan keluarga Enjah dari Bandung. Dia mengaku puas bisa menikmati Jakarta dari lantai dua bus tanpa harus terhambat macet.
"Saya sama anak dan cucu ingin keliling kota Jakarta selagi enggak macet. Rasanya puas dan terbayar," ujar Enjah yang sebelumnya sudah mengunjungi Monas.
Kepuasan juga dirasakan Safitri yang mengaku bisa mengunjungi beberapa tempat dengan gratis menggunakan bus tingkat.
"Bisa pindah ke beberapa tempat tanpa dipungut biaya," kata Safitri, yang datang dari Depok bersama suami dan kedua anaknya.
"Sekarang liburan Lebaran jadi terasa murah apalagi Jakarta lagi lenggang jadi bisa nikmati Jakarta saat tidak macet," tambah Safitri yang baru pertama kali menggunakan bus tingkat.
Lima Armada
Sebanyak lima armada bus tingkat dengan kelir biru berkapasitas 60 dan 68 kursi itu dikerahkan selama libur lebaran dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
"Kemarin puncak ramainya penumpang," ujar petugas bus tingkat, Anggi, yang menambahkan penumpang bus tingkat membludak selama libur Lebaran.
Bus tingkat juga menjadi alternatif hiburan warga. Salah satu pengunjung Monas, Kina dan anaknya memilih naik bus tingkat karena harus menunggu empat jam untuk naik ke puncak Monas.
"Daripada tunggu lama saya pikir mending jalan-jalan dulu naik bus tingkat, nanti bisa mampir ke Museum Nasional juga," ujar Kina.
"Akhirnya bisa naik bus tingkat, anak saya sudah dari dulu ajak naik ini terus," kata dia.
Sumber : http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/07/21/090685367/asiknya-keliling-kota-naik-bus-tingkat-saat-jakarta-lengang
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label libur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label libur. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Juli 2015
Senin, 04 Agustus 2014
Jakarta Kembali (Macet) Normal Senin Pagi Ini
JAKARTA (Pos Kota) – Arus lalulintas pada sejumlah jalan protokol di beberapa wilayah Jakarta dan sekitarnya, Senin (4/8/2014) pagi kembali (macet) normal. Jalanan sudah mulai dipadati kendaraan bermotor, baik roda dua, mobil pribadi, angkutan barang (truk) dan sebagainya.
Dalam pantauan poskotanews.com. arus lalulintas di kawasan Bekasi, Jl Kalimalang (KH Noer Ali), kawasan BKT Duren Sawit, Jalan Raya Bekasi, Jalan Jatinegara Barat, Jalan Matraman Raya, Jalan Salemba Raya, Jalan Gunung Sahari, kawasan Pasar Baru, Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, mulai padat dan merayap.
“Jakarta kembali normal dalam kondisi macet di mana-mana,” ucap satu pengendara di Jl Matraman Raya.
Sebagai mana dimaklumi, hari ini (Senin/4/8/2014), merupakan hari pertama masuk kerja di kalangan pegawai negeri dan swasta, setelah libur bersama pasca Lebaran. Hal ini dibuktikan arus balik dari berbagai arah menuju Jakarta dan sekitarnya, Minggu (3/4) merupakan puncak arus balik.
“Hari ini hari pertama masuk kerja pasca libur lebaran,” ujar satu pegawai swasta di kawasan pertokoan Glodok, Jakarta Barat.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/08/04/jakarta-kembali-macet-normal-senin-pagi-ini/
Dalam pantauan poskotanews.com. arus lalulintas di kawasan Bekasi, Jl Kalimalang (KH Noer Ali), kawasan BKT Duren Sawit, Jalan Raya Bekasi, Jalan Jatinegara Barat, Jalan Matraman Raya, Jalan Salemba Raya, Jalan Gunung Sahari, kawasan Pasar Baru, Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, mulai padat dan merayap.
“Jakarta kembali normal dalam kondisi macet di mana-mana,” ucap satu pengendara di Jl Matraman Raya.
Sebagai mana dimaklumi, hari ini (Senin/4/8/2014), merupakan hari pertama masuk kerja di kalangan pegawai negeri dan swasta, setelah libur bersama pasca Lebaran. Hal ini dibuktikan arus balik dari berbagai arah menuju Jakarta dan sekitarnya, Minggu (3/4) merupakan puncak arus balik.
“Hari ini hari pertama masuk kerja pasca libur lebaran,” ujar satu pegawai swasta di kawasan pertokoan Glodok, Jakarta Barat.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/08/04/jakarta-kembali-macet-normal-senin-pagi-ini/
Label:
arus
,
arus balik
,
bekasi
,
bkt
,
jakarta
,
jalan
,
jl
,
kawasan
,
lalulintas
,
lebaran
,
libur
,
macet
,
masuk kerja
,
matraman
,
normal
,
pasca
,
pegawai negeri
,
raya
,
swasta
Jumat, 01 Agustus 2014
Tanpa THR, Ijul Tetap Jaga Tumpukan Sampah di TPS
TAMBORA - Meningkatnya volume sampah rumah tangga pada musim libur Lebaran di wilayah Jakarta Barat ternyata bisa tertangani dengan baik. Hal itu bisa dilihat dari sejumlah tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di wilayah Jakarta Barat yang tampak bersih dari gunungan sampah.
Salah satu contohnya ada di TPS di Jalan Kali Anyar I, Kali Anyar, Tambora. Ada pula TPS Jalan Hanura Raya, Tanah Sereal, Tambora, serta TPS Duri Selatan dan Duri Utara dan TPS RW03 Palmerah yang tampak bersih dari tumpukan sampah.
Meski tidak terlalu banyak, tumpukan sampah rumah tangga justru malah terdapat di beberapa titik pinggir jalan. Seperti di kawasan Kembangan sebelah Hutan Kota Srengseng dan Jalan Joglo Raya, Jalan Tanjung Duren Raya, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, dan berbagai tempat lainnya.
Demi menjaga volume sampah, Julhasan (22), pekerja harian lepas (PHL) dari Suku Dinas Kebersihan Jakarta Barat yang ditemui INDOPOS di TPS Kali Anyar I, RT06/09, Kali Anyar, Tambora tetap bertugas di hari Lebaran. Ia terpaksa rela tidak berlebaran di kampung halamannya di Desa Padakembang, Tasikmalaya, Jawa Barat .
Tak sampai di situ, bahkan sang istri, Santi (19) dari kampung halaman justru menemani Ijul bekerja di TPS. "Sudah tiga tahun ini tidak Lebaran di kampung, meski lebaran tetap tugas angkut sampah," ujarnya di lokasi TPS, Kamis (31/7).
Dalam sehari, tak kurang dari 4 truk sampah terangkut dari TPS itu. Satu truk bisa menampung sekitar 9 ton sampah. "Truk datang itu pagi tiga kali, mulai jam 09.00, dan malam sekali pukul 22.00," ujarnya.
Menurutnya, tonase sampah pada lebaran ini masih normal. Bahkan lebih sedikit dari hari biasanya. Itu karena pemukiman di Kali Anyar, Krendang dan Jembatan Besi notabene di huni oleh pengusaha konveksi. "Yah, kalau mereka pulang kampung, sampah malah berkurang," katanya.
Yang patut disesalkan, pria yang bertugas tanpa libur itu tidak mendapat tunjangan hari raya (THR). "Tiap tahun juga gak ada THR. Kemarin itu cuma dapat bingkisan saja dari pak camat, sama uang Rp 50 ribu dari pak lurah," ujarnya.
Di TPS itu, ia bertugas bergantian bersama ayahnya Otang (45) dan kakaknya Roby (30) yang juga PHL. Di masa libur lebaran ini, kata Ijul, mereka bertugas secara bergantian. Sementara, sang ayah pulang kampung, Ijul bertugas sendiri. Lusa hari, ketika Otang sudah kembali, giliran Ijul yang mudik.
"Kalau kakak tugasnya muter, ambil sampah di kampung-kampung, kalau bapak sama saya disini," ujar Ijul yang sudah betugas lebih dari 5 tahun sebagai pengangkut sampah itu.
Di TPS RW03 Palmerah di Jalan Kemanggisan Pulo I, PHL Sukarman (38) PHL bernada sama. Selama libur lebaran ini ia juga bertugas 24 jam menjaga kebersihan sampah di pemukiman dan TPS. Kata dia, instruksi pengawasan sampah itu turun langsung dari Pemerintah Kota Jakarta Barat, berlanjut ke kecamatan dan kelurahan.
Meski tidak mendapat THR selama bertahun-tahun, pria asli Jakarta ini merelakan bertugas demi menggantikan teman lainnya yang pulang kampung. Ia bahkan, mengaku ikhlas meski tidak mendapat jatah libur sekalipun.
Menurutnya, kalau ingin libur, tinggal minta izin saja atau bergantian dengan petugas yang mudik saat sudah kembali nanti. "Terparah itu malam takbiran, tugas dari jam 22.00-03.00 sampah yang terangkut dari jalan itu sampai dua truk," ujarnya.
Seperti yang diberitakan, Kepala Dinas Kebersihan DKI, Saptastri Ediningtyas memastikan tetap menyiagakan petugas untuk tetap bekerja saat malam takbiran hingga pasca lebaran. Sebanyak 3.158 petugas tersebar di seluruh penjuru ibukota.
Ia juga mengatakan, hanya 10 persen petugas saja yang mendapat jatah cuti lebaran. Prediksi volume sampah terbanyak saat lebaran biasanya terpusat di lokasi wisata. Sementara sampah rumah tangga, mulai terlihat bertambah saat malam takbir dan setelah sholat Ied.
Selama masa lebaran ini, berdasarkan data yang dihimpun sedikitnya 5.800 ton sampah terangkut setiap harinya. Jumlah ini cenderung meningkat dibanding hari biasa yang hanya berkisar 5.600 ton per hari. "Ini wajar karena konsumsi warga juga meningkat saat Ramadhan," katanya.
Namun, dia mengingatkan bahwa volume sampah akan kembali meningkat pada H+4 sampai H+6 usai perayaan Lebaran nanti. Diperkirakan Volume sampah akan mencapai 6.500 hingga 6.800 ton.
"Saat Idul Fitri, Jakarta ditinggalkan oleh sebagian warganya, jadi sampah juga tidak terlalu banyak, semua aktivitas libur juga menurunkan volume sampah. Nanti setelah aktifitas normal baru sampah kembali meningkat," jelas Tyas.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/08/01/249204/Tanpa-THR,-Ijul-Tetap-Jaga-Tumpukan-Sampah-di-TPS-
Salah satu contohnya ada di TPS di Jalan Kali Anyar I, Kali Anyar, Tambora. Ada pula TPS Jalan Hanura Raya, Tanah Sereal, Tambora, serta TPS Duri Selatan dan Duri Utara dan TPS RW03 Palmerah yang tampak bersih dari tumpukan sampah.
Meski tidak terlalu banyak, tumpukan sampah rumah tangga justru malah terdapat di beberapa titik pinggir jalan. Seperti di kawasan Kembangan sebelah Hutan Kota Srengseng dan Jalan Joglo Raya, Jalan Tanjung Duren Raya, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, dan berbagai tempat lainnya.
Demi menjaga volume sampah, Julhasan (22), pekerja harian lepas (PHL) dari Suku Dinas Kebersihan Jakarta Barat yang ditemui INDOPOS di TPS Kali Anyar I, RT06/09, Kali Anyar, Tambora tetap bertugas di hari Lebaran. Ia terpaksa rela tidak berlebaran di kampung halamannya di Desa Padakembang, Tasikmalaya, Jawa Barat .
Tak sampai di situ, bahkan sang istri, Santi (19) dari kampung halaman justru menemani Ijul bekerja di TPS. "Sudah tiga tahun ini tidak Lebaran di kampung, meski lebaran tetap tugas angkut sampah," ujarnya di lokasi TPS, Kamis (31/7).
Dalam sehari, tak kurang dari 4 truk sampah terangkut dari TPS itu. Satu truk bisa menampung sekitar 9 ton sampah. "Truk datang itu pagi tiga kali, mulai jam 09.00, dan malam sekali pukul 22.00," ujarnya.
Menurutnya, tonase sampah pada lebaran ini masih normal. Bahkan lebih sedikit dari hari biasanya. Itu karena pemukiman di Kali Anyar, Krendang dan Jembatan Besi notabene di huni oleh pengusaha konveksi. "Yah, kalau mereka pulang kampung, sampah malah berkurang," katanya.
Yang patut disesalkan, pria yang bertugas tanpa libur itu tidak mendapat tunjangan hari raya (THR). "Tiap tahun juga gak ada THR. Kemarin itu cuma dapat bingkisan saja dari pak camat, sama uang Rp 50 ribu dari pak lurah," ujarnya.
Di TPS itu, ia bertugas bergantian bersama ayahnya Otang (45) dan kakaknya Roby (30) yang juga PHL. Di masa libur lebaran ini, kata Ijul, mereka bertugas secara bergantian. Sementara, sang ayah pulang kampung, Ijul bertugas sendiri. Lusa hari, ketika Otang sudah kembali, giliran Ijul yang mudik.
"Kalau kakak tugasnya muter, ambil sampah di kampung-kampung, kalau bapak sama saya disini," ujar Ijul yang sudah betugas lebih dari 5 tahun sebagai pengangkut sampah itu.
Di TPS RW03 Palmerah di Jalan Kemanggisan Pulo I, PHL Sukarman (38) PHL bernada sama. Selama libur lebaran ini ia juga bertugas 24 jam menjaga kebersihan sampah di pemukiman dan TPS. Kata dia, instruksi pengawasan sampah itu turun langsung dari Pemerintah Kota Jakarta Barat, berlanjut ke kecamatan dan kelurahan.
Meski tidak mendapat THR selama bertahun-tahun, pria asli Jakarta ini merelakan bertugas demi menggantikan teman lainnya yang pulang kampung. Ia bahkan, mengaku ikhlas meski tidak mendapat jatah libur sekalipun.
Menurutnya, kalau ingin libur, tinggal minta izin saja atau bergantian dengan petugas yang mudik saat sudah kembali nanti. "Terparah itu malam takbiran, tugas dari jam 22.00-03.00 sampah yang terangkut dari jalan itu sampai dua truk," ujarnya.
Seperti yang diberitakan, Kepala Dinas Kebersihan DKI, Saptastri Ediningtyas memastikan tetap menyiagakan petugas untuk tetap bekerja saat malam takbiran hingga pasca lebaran. Sebanyak 3.158 petugas tersebar di seluruh penjuru ibukota.
Ia juga mengatakan, hanya 10 persen petugas saja yang mendapat jatah cuti lebaran. Prediksi volume sampah terbanyak saat lebaran biasanya terpusat di lokasi wisata. Sementara sampah rumah tangga, mulai terlihat bertambah saat malam takbir dan setelah sholat Ied.
Selama masa lebaran ini, berdasarkan data yang dihimpun sedikitnya 5.800 ton sampah terangkut setiap harinya. Jumlah ini cenderung meningkat dibanding hari biasa yang hanya berkisar 5.600 ton per hari. "Ini wajar karena konsumsi warga juga meningkat saat Ramadhan," katanya.
Namun, dia mengingatkan bahwa volume sampah akan kembali meningkat pada H+4 sampai H+6 usai perayaan Lebaran nanti. Diperkirakan Volume sampah akan mencapai 6.500 hingga 6.800 ton.
"Saat Idul Fitri, Jakarta ditinggalkan oleh sebagian warganya, jadi sampah juga tidak terlalu banyak, semua aktivitas libur juga menurunkan volume sampah. Nanti setelah aktifitas normal baru sampah kembali meningkat," jelas Tyas.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/08/01/249204/Tanpa-THR,-Ijul-Tetap-Jaga-Tumpukan-Sampah-di-TPS-
Langganan:
Postingan
(
Atom
)