Tampilkan postingan dengan label ride. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ride. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

"Floo Ride Sharing", aplikasi untuk solusi kemacetan ibu kota

Bandung (ANTARA News) - Aplikasi berbagi bangku kendaran yang dinamai Floo Ride Sharing for Better Mobility dinilai akan menjadi solusi kemacetan di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta.

"TIK (teknologi informatika) dapat digunakan sebagai infrastruktur baru untuk membantu memudahkan dalam berbagai hal, seperti padatnya orang di Jakarta, siang 10 juta orang, malamnya 6 juta orang, berarti ada 4 juta orang yang mobile masuk ke Jakarta, belum lagi aktivitas orang Jakarta itu sendiri," kata Agus Bambang Setowidodo, Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta dalam kompetisi 'Smart City' yang berlangsung di Bandung, Senin (27/8).

"Fenomena ini menimbulkan masalah-masalah sosial dengan TIK bisa menangani masalah-masalah ini," lanjutnya.

Aplikasi Floo Ride Sharing for Better Mobility ini menjadi juara pertama dan juara umum dalam kompetisi aplikasi 'Smart City' yang diadakan BlackBerry bekerja sama dengan BlackBerry Inovation Center (BBIC).

"Karena konsep kita adalah 'Smart City', konsep secara keseluruhan untuk mengatasi kondisi yang paling berat di Jakarta yaitu kemacetan, aplikasi ini bisa jadi solusi," kata salah satu perwakilan dewan juri.

Walaupun ide ride sharing sudah meluas, namun dewan juri melihat aplikasi ini memiliki tingkat keamanan yang baik.

Pembuat aplikasi Floo Ride Sharing, Ricky Kurniawan, sendiri mengaku isu keamanan merupakan isu utama dalam pengembangan aplikasi ini. Ia mengandalkan sosial media, Facebook, sebagai alat untuk menjaga keamanan.

"Karena di Indonesia orang kan sangat sosial, di Facebook orang bisa memiliki teman 500-1000 orang, nah kita berangkat dari situ, bukan hanya dari teman kita sendiri tapi dari temannya teman kita atau second friends," kata Ricky.

"Melalui aplikasi ini, dengan memanfaatkan sosial media yang sudah ada, kami mencoba memecahkan solusi kemacetan. Semakin banyak orang berbagi kendaran, akan semakin sedikit mobil dijalan," tambahnya.

Tentang Floo Ride Sharing for Better Mobility

Ricky Kurniawan mengaku ide awal pembuatan aplikasi ini adalah kemacetan di Jakarta yang sudah semakin parah.

"Pemerintah sudah melakukan banyak hal, mulai dari MRT hingga Busway, nah dari sini kami melihat apa sih bisa dilakukan masyarakat, yang bisa dilakukan adalah kita berbagi perjalanan kita, kita berbagi tunggangan kita," katanya.

"Jadi kalau misalkan orang naik mobil sendirian, kenapa enggak kita berdua atau bertiga, ada kursi kosongkita tawarkan ke orang, dari situ kan bisa sharing cost-nya, sharing cost tol dan lain-lain, sehingga perjalanan itu menjadi semakin efisien," lanjutnya.

Lebih lanjut Ricky menjelaskan aplikasi yang fokus pada layanan ini menawarkan dua pilihan, mencari penumpang atau mencari tumpangan. Profil pengguna aplikasi ini dihubungkan dengan Facebook, sehingga pengguna lain dapat melihat koneksi pertemanan mereka.

Langkah awal yang dilakukan pengguna adalah menentukan tujuan perjalanan sistem pada aplikasi tersebut akan secara otomastis "menjodohkan" pengguna yang memiliki tujuan perjalanan sama.

Setelah "berjodoh", para pengguna dapat melanjutkan pembicaraan untuk menentukan tempat dan lain-lain melalui chat yang juga tersedia dalam aplikasi ini.

Aplikasi ini dilengkapi dengan tombol 'Don't Panic' yang secara otomatis server akan mengirimkan sms ke tiga nomor kontak panggilan emergency yang diberikan pengguna pada saat pendaftaran (log in). Hal ini bertujuan mengantisipasi pada saat pengguna merasakan hal tidak nyaman dalam perjalanan pada saat menumpang atau memberikan tumpangan.

Aplikasi ini juga dilengkapi fitur 'rating dan comment' untuk menilai pengguna lain, baik yang menumpang atau memberikan tumpangan ketika selesai melakukan perjalanan, sehingga sikap seorang pengguna dapat diketahui oleh pengguna lain.

"Sebetulnya di sini bisa dibilang tidak ada yang baru, tapi dari teknologi yang sekarang ada digabung-gabungkan untuk mencoba menjawab kebutuhan gimana caranya untuk orang bisa berbagi perjalanan," kata Ricky.

Aplikasi Floo Ride Sharing ini direncanakan akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun depan, Februari 2015.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/461106/floo-ride-sharing-aplikasi-untuk-solusi-kemacetan-ibu-kota

Selasa, 02 September 2014

"Jakarta Harus Dibangun seperti Chicago"

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi macet Jakarta yang sudah tidak masuk akal membutuhkan penanganan cepat, dan tepat. Jakarta, mau tidak mau, harus mengacu pada Chicago. Kota di Amerika Serikat ini punya masalah serupa dengan Jakarta, yakni kemacetan dan keserawutan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengutarakan hal tersebut terkait rencana besar menjadikan Jakarta sebagai kota dengan konektivitas tinggi, kepada Kompas.com, Jumat (29/8/2014).

"Kapasitas infrastruktur jalan Jakarta sangat terbatas, sementara pertumbuhan bangkitan manusia dan kendaraan semakin tinggi. Jakarta tuh bangun gedung-gedung dulu baru jalan. Chicago juga sama saja, bangun rumah, hotel, pusat belanja, dan apartemen tinggi-tinggi, tapi jalan diabaikan," ujar Basuki yang akrab disapa Ahok.

Jalan keluarnya, lanjut Ahok, Chicago membangun jalur lingkar tak sebidang berbasis rel (elevated loop line). "Untuk mengatasi macet, Jakarta harus seperti Chicago. Bangun loop line-loop line dengan berdasarkan back bone yang sudah ada baik dari Utara Selatan, maupun Timur dan Barat. Ambisi kita adalah membangun integrated connectivity transportation," kata Ahok.

Untuk merealisasikan konsep tersebut, tambah dia, harus disediakan fasilitas park and ride yang besar dan representatif. Fasilitas park and ride ini akan terkoneksi dengan MRT atau busway.

"Hanya dengan cara itu, Jakarta bisa keluar dari masalah akut kemacetan. Mau bagaimana lagi? Bangunan-bangunan tinggi, gedung-gedung pencakar langit kadung dibangun," tandas Ahok.

Sebelumnya diberitakan untuk mengatasi kemacetan dan terbatasnya kapasitas jalan, Pemprov DKI Jakarta menggenjot pembangunan infrastruktur melalui megaproyek jalur lingkar layang bersama PT Kereta Api Indonesia.

Pemerintah pusat bertanggung jawab pada pembangunan fisik rel, Pemprov DKI pada sarana dan prasarana pendukung, dan PT KAI pada pengadaan kereta. Proyek pembangunan akan menelan biaya hingga Rp 9 triliun untuk seluruh jalur lingkar sepanjang 27 kilometer.

Sebanyak Rp 2,5 triliun untuk lintas timur (Kampung Bandan-Senen-Pondok Jati) sejauh 10 kilometer, sedangkan sisanya untuk lintas barat (Manggarai-Tanah Abang-Angke-Kampung Bandan) yang memiliki jarak 17 kilometer.

Sumber : http://properti.kompas.com/read/2014/08/29/174025121/.Jakarta.Harus.Dibangun.seperti.Chicago

Rabu, 27 Agustus 2014

Megapolitan "Polycentric", Solusi Macet Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com - DKI Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia, sudah tidak terpisahkan dengan kawasan Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek). Dengan demikian, secara keseluruhan kawasan Jadebotabek dengan populasi mendekati 30 juta jiwa, akan menjadi salah satu megapolitan terbesar di dunia.

Pertumbuhan Jadebotabek memunculkan masalah, seperti kemacetan, dan banjir, yang disebabkan salah satunya oleh terlalu bertumpunya kegiatan di pusat kota Jakarta.

Jadebotabek terkesan monocentric, dan peran-peran kota satelit belum mampu menciptakan kegiatan-kegiatan ekonomi dan pertumbuhan kawasan bisnis baru yang menjadi Central Business District (CBD) alternatif.

Guna mengatasi berbagai masalah tersebut, terutama kemacetan, Pemprov DKI dan Kementerian Pekerjaan Umum, menyepakati pembangunan enam ruas tol dalam kota Jakarta yang disertai tiga koridor layang Transjakarta.

Megaproyek ini dibagi dalam empat tahap. Tahap pertama, ruas Semanan-Sunter sepanjang 20,23 kilometer dengan nilai investasi Rp 9,76 triliun dan koridor Sunter-Pulogebang sepanjang 9,44 kilometer senilai Rp 7,37 triliun. Tahap kedua, Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 12,65 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,96 triliun, dan Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,60 kilometer senilai Rp 6,95 triliun.

Tahap ketiga, koridor Ulujami-Tanah Abang dengan panjang 8,70 kilometer dan nilai investasi Rp 4,25 triliun. Terakhir, Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,15 kilometer dengan investasi Rp 5,71 triliun. Total panjang ruas enam tol dalam kota 69,77 kilometer.

Kendati sudah disepakati, pembangunan enam ruas tol tersebut masih mengundang kontroversi. Mereka yang pro berpendapat, enam ruas tol dalam kota Jakarta, merupakan solusi mengatasi kemacetan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui bangkitan pergerakan (mobilisasi) secara masif.

Sementara mereka yang kontra menganggap, pembangunan infrastruktur jalan tersebut hanya akan membawa Jakarta semakin terbebani. Lebih jauh lagi, berpotensi mengubah tata ruang kota secara struktural.

Diakui Executive Vice President PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, Emil Elestianto Dardak, pembangunan jalan tol memang tidak populer karena dianggap tidak berpihak kepada transportasi publik.

"Namun perlu dipertimbangkan bahwa rasio jalan kita hanya sekitar 7 persen, jauh dibawah kota-kota lain, seperti Tokyo (21,6%), Seoul (14%), dan London (25%). Selain itu, kondisi tata guna lahan jalan-jalan kita sudah telanjur berantakan. Sehingga tidak ada arterial road yang aksesnya terbatas," papar Emil kepada Kompas.com, Selasa (26/8/2014).

Dengan dikembangkannya enam ruas tol dalam kota, diharapkan arus lalu lintas akan lebih terdistribusi dengan baik sesuai origin-destination. Yang lebih penting, satu ruas dari enam ruas jalan tol didedikasikan untuk jalur bus (busway). Sehingga menambah koridor transportasi publik secara signifikan.

"Seharusnya, enam ruas tol dalam kota ini tidak menjadi masalah. Terlebih, ruas jalan ini dibangun dengan dana swasta, maka tidak memakan porsi APBN maupun APBD. Selain itu, karena daya dukung Jakarta terbatas, seharusnya diupayakan penyebaran aktivitas ke kota-kota satelit. Kita harus mulai mewujudkan konsep megapolitan Jadebotabek yang polycentric, sehingga mobilitas kendaraan pribadi bisa dikurangi dan produktivitas warga bisa diperbaiki," tambah Emil.

Konsep megapolitan Jadebotabek yang polycentric, lanjut Emil, memungkinkan warga yang tinggal di kota penyangga seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang bisa beraktivitas di tempatnya masing-masing. Oleh karena itu, pusat-pusat bisnis dan ekonomi perlu dikembangkan di kawasan-kawasan ini.

"Pusat-pusat bisnis dan ekonomi di kawasan pertumbuhan baru tersebut haruslah terkoneksi atau terintegrasi dengan jaringan infrastruktur berbasis rel, sehingga mengurangi penggunaan bangkitan pergerakan kendaraan pribadi," ujar Emil.

Emil menjelaskan, kapasitas megapolitan Jadebotabek untuk menjadi lokomotif perekonomian nasional akan berpotensi stagnan jika tidak ada langkah yang dilakukan mengatasinya. Hambatan ini berpotensi besar dapat teratasi jika bisa dikembangkan pola megapolitan polycentric yang dapat menyebarkan kegiatan ke kota-kota satelit.

"Artinya, pusat pertumbuhan bisnis dan ekonomi atau CBD baru justru seharusnya jangan hanya dikembangkan di koridor TB Simatupang, melainkan juga ke kota-kota satelit lainnya," kata Emil.

Namun demikian, pembentukan CBD juga harus ditopang rencana tata kota yang sesuai kebutuhan masing-masing kota satelit. Selain terkoneksi baik secara konsentrik melalui Jalan Lingkar Luar Jakarta 2 (JORR-2), CBD juga harus terkoneksi dengan baik ke kota Jakarta.

Konektivitas saat ini telah terwujud dengan adanya jaringan kereta api komuter yang menghubungkan poros Bogor-Depok-Jakarta, Cikarang-Bekasi-Jakarta, Serpong-Jakarta, dan Tangerang-Jakarta.

Emil menambahkan, solusi lain adalah dilakukannya pendekatan peripheral intercept. Komuter menggunakan kendaraan pribadi, kemudian menuju tempat park and ride, dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mass rapid transit (MRT) atau busway.

Nah, untuk merealisasikan konsep tersebut, harus disediakan fasilitas park and ride yang besar dan representatif. Di Cawang, misalnya, yang menjadi titik bertemunya kendaraan dari Jagorawi dan Cikampek. Fasilitas park and ride ini akan terkoneksi dengan MRT atau busway.

"Konsep serupa telah diimplementasikan di New York dan Inggris. Intinya, kendaraan dihalau sebelum terkonsentrasi dari berbagai jalur ke jalan-jalan protokol DKI Jakarta," pungkas Emil.

Sumber : http://properti.kompas.com/read/2014/08/27/081924321/Megapolitan.Polycentric.Solusi.Macet.Jakarta