TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Satu acara di sebuah televisi Jepang, Senin (1/9/2014) pukul 22.20 malam cukup mengagetkan karena menyajikan gambar Joko Widodo (Jokowi) dan sudah tertulis sebagai Presiden Republik Indonesia.
Navigator acara menyatakan, Jokowi berusaha untuk membenahi transportasi Jakarta yang sangat macet saat ini dan tercatat kemacetan Jakarta nomor dua terparah di dunia setelah Bangkok. Demikian ungkap TV Tokyo kemarin.
Pada acara dengan tema Ajia Nayamimasu Dai Juutai (pengalaman macet luar biasa di Asia), sistem transportasi Jepang ternyata menjadi terkenal di sana, antara lain di Indonesia dan di Bangladesh. Di Indonesia khususnya pengguna kereta api dari Jepang ber AC yang diambil dari kereta bekas jalur Saikyo Line di Tokyo menghubungkan dengan daerah Saitama. Sedangkan di Bangladesh dengan penggunaan kartu elektronik sebagai pembayaran tiket bus buatan badan kerja sama internasional Jepang (JICA).
"Enak sekali sejuk, tak perlu lagi naik mobil, transportasi seperti ini dibutuhkan di Jakarta," ungkap para penumpang yang diwawancarai televisi tersebut berada di dalam kereta api Jabodetabek yang ber-AC, sejuk. Gerbong kereta tersebut bekas kereta Saikyo Line di Tokyo-Saitama.
"Apabila dia (Jokowi) presiden nantinya tampaknya rencana pembenahan kemacetan di Jakarta khususnya akan berjalan lancar, dan mudah-mudahan perkeretaapian berjalan dengan lancar," papar Yoshiyuki Yamaguchi, profesor Rikkyo University sebagai navigator acara tersebut bersama Shelly, artis Jepang.
Pembuatan jalur kereta api dan stasiun kereta api menurutnya adalah "Machi Zukuri" atau pembuatan sebuah kota. Ada stasiun kereta api, biasanya akan muncul lokasi hunian, toko, tempat penginapan, taman hiburan dan sebagainya.
Pihak televisi mencoba pula membandingkan siang hari pukul 13.26 antara penggunaan kereta api dan penggunaan mobil dari stasiun kereta api Manggarai Pasar Rumput menuju stasiun Juanda, Gambir Monas. Ternyata dengan kereta api hanya 13 menit dan berkendaraan mobil menghabiskan waktu 45 menit, berarti tiga kali lipat hanya dalam jarak sekitar 6 kilometer tersebut.
Akibat kemacetan luar biasa di Jakarta itu, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 870 miliar yen per tahun.
"Jumlah uang yang sangat besar dan sangat mubazir akibat kemacetan di Jakarta tersebut bukan?" tambah sang profesor itu lagi.
Seorang administrator East Japan Railways, Ishikawa pun cukup kaget ketika melihat pekerja kereta api hanya pakai sandal dan tidak pakai helmet saat pekerjaan perawatan kereta api di pusat perawatan perkeretaapian di Jakarta.
"Mungkin budaya berbeda ya. Kalau kita di Jepang sudah pasti pakai sepatu dan sepatu khusus untuk pekerjaan ini," ujarnya.
"Kami memang menargetkan penjualan kereta bekas ke Asia Tenggara karena ke negara maju biasanya mereka sudah mapan dan sudah memiliki sistem serta transportasi dengan baik," kata seorang pimpinan JE East Railways, Nishiyama.
Direktur Utama PT KCJ Tri Handoyo juga muncul di acara televisi dan berkomentar bahwa saat ini sudah 800 kereta api dari Jepang dimasukkan ke Indonesia.
"Kita sangat butuh kereta api Jepang dan masih butuh 600 kereta api lagi," paparnya.
Tahun ini sekitar 450.000 orang per hari dan tahun 2018 diperkirakan sedikitnya mencapai 1,8 juta orang berpindah menggunakan kereta api per harinya di Jabodetabek saja.
Sumber : http://www.tribunnews.com/internasional/2014/09/02/tv-jepang-soroti-kemacetan-jakarta-jokowi-diminta-benahi-perkeretaapian
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label tokyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokyo. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 September 2014
TV Jepang Soroti Kemacetan Jakarta, Jokowi Diminta Benahi Perkeretaapian
Label:
acara
,
bekas
,
jabodetabek
,
jakarta
,
jepang
,
jokowi
,
kemacetan
,
kereta
,
kereta api
,
navigator
,
pakai
,
perkeretaapian
,
railways
,
saikyo
,
sejuk
,
stasiun kereta api
,
televisi
,
tokyo
,
transportasi
Rabu, 26 Februari 2014
Macet Senyap di Sore Hari Ala Tokyo
Tokyo, - Kota metropolitan sebesar Tokyo juga mengalami rutinitas kemacetan setiap harinya. Namun berbeda dengan Jakarta, kepadatan lalu lintas di ibukota Jepang ini cenderung 'kedap suara'.
"Ya memang di Tokyo setiap sore macet," ujar Deden, seorang warga negara Indonesia yang sudah tujuh tahun tinggal di Tokyo, ketika ditemui di kawasan Daiba, Senin (25/2/2014).
Pada sore hari ini, kemacetan salah satunya terjadi di ruas jalan tol yang menghubungkan Daiba ke Ginza Tokyo. Satu titik kawasan yang berada di pinggiran ke kawasan pusat kota itu.
Namun macet di Tokyo ini berbeda dengan macet Jakarta. Di DKI, kemacetan selalu dibarengi dengan 'pernak-pernik' negatif yang menyertainya seperti sahut-sahutan suara klakson, trotoar yang menjadi lajur dadakan pemotor dan bahkan gerakan kendaraan melawan arus. Tidak begitu halnya dengan di Tokyo.
Di kota yang berada di wilayah Pulau Honshu ini, kemacetan cenderung senyap. Hanya ada suara mesin menderu, tanpa ada tambahan bunyi-bunyian lain.
Para pengemudi kendaraan juga menjaga jarak dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Tak ada pemandangan saling serobot lajur.
Hal yang sama juga terjadi di lajur non tol. Pemotor-pemotor -- yang merupakan minoritas -- di Tokyo tetap menggunakan lajur kiri. Meski ada celah menganga antar mobil, mereka tetap tak 'tergoda'
Dan macet di Tokyo tak berlangsung lama. Kepadatan juga tidak terjadi di semua ruas jalan. Hanya ruas jalan tertentu saja.
Kepadatan pun tak berlangsung lama. Hanya sekitar 15-20 menit, kendaraan-kendaraan terlibat dalam keadaan padat merayap, setelah itu lancar.
"Ya masih sangat bisa diperhitungkan waktu tempuh meski ada kemacetan," kata Deden.
Berdasarkan pantauan, kemacetan lebih terjadi karena volume kendaraan yang menumpuk di suatu ruas jalan, sedang di ujung jalan tersebut ada lampu merah. Ketika traffic light sudah berwarna hijau, macet akan terurai.
Selama masa kemacetan singkat itu, para pengendara di Tokyo juga tidak ada satu pun yang terlihat nyelonong atau menerobos lampu merah. Boleh dibilang semua tertib.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/02/25/155758/2507970/10/1/macet-senyap-di-sore-hari-ala-tokyo
"Ya memang di Tokyo setiap sore macet," ujar Deden, seorang warga negara Indonesia yang sudah tujuh tahun tinggal di Tokyo, ketika ditemui di kawasan Daiba, Senin (25/2/2014).
Pada sore hari ini, kemacetan salah satunya terjadi di ruas jalan tol yang menghubungkan Daiba ke Ginza Tokyo. Satu titik kawasan yang berada di pinggiran ke kawasan pusat kota itu.
Namun macet di Tokyo ini berbeda dengan macet Jakarta. Di DKI, kemacetan selalu dibarengi dengan 'pernak-pernik' negatif yang menyertainya seperti sahut-sahutan suara klakson, trotoar yang menjadi lajur dadakan pemotor dan bahkan gerakan kendaraan melawan arus. Tidak begitu halnya dengan di Tokyo.
Di kota yang berada di wilayah Pulau Honshu ini, kemacetan cenderung senyap. Hanya ada suara mesin menderu, tanpa ada tambahan bunyi-bunyian lain.
Para pengemudi kendaraan juga menjaga jarak dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Tak ada pemandangan saling serobot lajur.
Hal yang sama juga terjadi di lajur non tol. Pemotor-pemotor -- yang merupakan minoritas -- di Tokyo tetap menggunakan lajur kiri. Meski ada celah menganga antar mobil, mereka tetap tak 'tergoda'
Dan macet di Tokyo tak berlangsung lama. Kepadatan juga tidak terjadi di semua ruas jalan. Hanya ruas jalan tertentu saja.
Kepadatan pun tak berlangsung lama. Hanya sekitar 15-20 menit, kendaraan-kendaraan terlibat dalam keadaan padat merayap, setelah itu lancar.
"Ya masih sangat bisa diperhitungkan waktu tempuh meski ada kemacetan," kata Deden.
Berdasarkan pantauan, kemacetan lebih terjadi karena volume kendaraan yang menumpuk di suatu ruas jalan, sedang di ujung jalan tersebut ada lampu merah. Ketika traffic light sudah berwarna hijau, macet akan terurai.
Selama masa kemacetan singkat itu, para pengendara di Tokyo juga tidak ada satu pun yang terlihat nyelonong atau menerobos lampu merah. Boleh dibilang semua tertib.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/02/25/155758/2507970/10/1/macet-senyap-di-sore-hari-ala-tokyo
Label:
daiba
,
deden
,
jalan
,
kawasan
,
kedap suara
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kendaraan-kendaraan
,
kepadatan
,
klakson
,
lajur
,
lampu merah
,
macet
,
ruas
,
senyap
,
sore
,
suara
,
tokyo
,
warga negara
Senin, 07 Januari 2013
Macet Parah di Jakarta, Bagaimana Mobil Ambulans Lewat?
TRIBUNNEWS.COM - Atsuko Kato, Koordinator Program Pelatihan Dokter-dokter dari Asia atau Japanese Council for Medical Training (JCMT), termasuk dari Indonesia di Rumah Sakit Toranomon, Tokyo, sangat prihatin dengan lalu-lintas di Jakarta. Bisa dibayangkan,, dari Hotel Sultan Jakarta ke Hotel Mulia dekat TVRI memakan waktu sekitar satu jam dengan menggunakan taksi.
Staf dari Rumah Sakit Toranomon ini yang 25 November tahun lalu ke Jakarta selama tiga minggu itu sangat kaget melihat perubahan kota Jakarta yang begitu cepat saat ini, "Sudah 15 tahun saya tidak ke Jakarta, lalu akhir tahun lalu saat bersama beberapa dokter RS Toranomon ke Jakarta, satu membantu di RS Cipto Mangunkusumo dan satu lagi membantu di RS Dharmais, saya melihat kemacetan di Jakarta luar biasa parah ya," paparnya khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (4/1/2013).
Menurutnya, saat ada pertemuan di Mulia Hotel, Kato pakai taksi dari Sultan Hotel, menuju lokasi hotel Mulia yang tidak jauh itu. Ternyata perjalanan memakan waktu satu jam, "Mungkin ada acara sesuatu di dekat situ ya, sehingga lalu lintas sangat macet sekali saat itu," paparnya lagi.
Sebagai petugas sebuah rumah sakit besar di Tokyo, Kato mempertanyakan, "Seandainya ada orang sakit, dan dibawa menggunakan mobil ambulance di Jakarta, dengan kemacetan parah ini bagaimana ya jadinya?" tanyanya lagi.
Kato sangat memprihatinkan keadaan transportasi tersebut khususnya terkait dunia medis dan pertolongan pertama bagi orang sakit atau kecelakaan. Dia mengakui tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada pasien bila keadaan macet parah itu terus-menerus terjadi di Jakarta.
Selain pengiriman tenaga medis RS Toranomon ke Indonesia, undangan kepada dokter Indonesia ke RS tersebut juga sudah mencapai sekitar 60 dokter Indonesia sempat mendapatkan pelatihan, atau pun diskusi medis di RS Toranomon, antara lain Prof. Menaldi Rasmin, dr, Sp.P(K) Ketua Konsil Kedokteran Indonesia dan mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr. Priyo Sidipratomo, SpRad..
Tahun 2013 ini mungkin juga akan ada pengiriman dokter ke Indonesia dan penerimaan dokter Indonesia di RS Toranomon. Namun karena anggaran terbatas, tidak seperti tahun lalu yang seiring dengan perayaan 30 tahun RS tersebut sehingga 6 dokter diundang ke RS Toranomon, termasuk 4 orang dokter dari Indonesia, ungkap Kato lebih lanjut.
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/05/macet-parah-di-jakarta-bagaimana-mobil-ambulans-lewat
Staf dari Rumah Sakit Toranomon ini yang 25 November tahun lalu ke Jakarta selama tiga minggu itu sangat kaget melihat perubahan kota Jakarta yang begitu cepat saat ini, "Sudah 15 tahun saya tidak ke Jakarta, lalu akhir tahun lalu saat bersama beberapa dokter RS Toranomon ke Jakarta, satu membantu di RS Cipto Mangunkusumo dan satu lagi membantu di RS Dharmais, saya melihat kemacetan di Jakarta luar biasa parah ya," paparnya khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (4/1/2013).
Menurutnya, saat ada pertemuan di Mulia Hotel, Kato pakai taksi dari Sultan Hotel, menuju lokasi hotel Mulia yang tidak jauh itu. Ternyata perjalanan memakan waktu satu jam, "Mungkin ada acara sesuatu di dekat situ ya, sehingga lalu lintas sangat macet sekali saat itu," paparnya lagi.
Sebagai petugas sebuah rumah sakit besar di Tokyo, Kato mempertanyakan, "Seandainya ada orang sakit, dan dibawa menggunakan mobil ambulance di Jakarta, dengan kemacetan parah ini bagaimana ya jadinya?" tanyanya lagi.
Kato sangat memprihatinkan keadaan transportasi tersebut khususnya terkait dunia medis dan pertolongan pertama bagi orang sakit atau kecelakaan. Dia mengakui tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada pasien bila keadaan macet parah itu terus-menerus terjadi di Jakarta.
Selain pengiriman tenaga medis RS Toranomon ke Indonesia, undangan kepada dokter Indonesia ke RS tersebut juga sudah mencapai sekitar 60 dokter Indonesia sempat mendapatkan pelatihan, atau pun diskusi medis di RS Toranomon, antara lain Prof. Menaldi Rasmin, dr, Sp.P(K) Ketua Konsil Kedokteran Indonesia dan mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Dr. Priyo Sidipratomo, SpRad..
Tahun 2013 ini mungkin juga akan ada pengiriman dokter ke Indonesia dan penerimaan dokter Indonesia di RS Toranomon. Namun karena anggaran terbatas, tidak seperti tahun lalu yang seiring dengan perayaan 30 tahun RS tersebut sehingga 6 dokter diundang ke RS Toranomon, termasuk 4 orang dokter dari Indonesia, ungkap Kato lebih lanjut.
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/05/macet-parah-di-jakarta-bagaimana-mobil-ambulans-lewat
Label:
dokter
,
hotel
,
indonesia
,
jakarta
,
kato
,
kemacetan
,
lalu lintas
,
macet
,
medis
,
mulia
,
parah
,
pelatihan
,
rs
,
rumah sakit
,
taksi
,
tokyo
,
toranomon
,
tribunnews
Langganan:
Postingan
(
Atom
)