Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2015

Libur Akhir Pekan? Coba Ajak Anak ke Lima Taman di Jakarta Ini

JAKARTA, KOMPAS.com - Libur akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk mengajak anak untuk berwisata. Bagi warga Jakarta, aneka obyek wisata dapat dikunjungi seperti museum, taman hiburan, pusat-pusat kuliner hingga bangunan-bangunan bersejarah di Ibu Kota. Selain obyek wisata tersebut, ada tempat yang dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat Jakarta, yakni taman.

Jakarta memiliki taman-taman yang menawarkan atraksi wisata yang ramah untuk anak. Atraksi wisata seperti memberi makan burung, berfoto dengan latar pepohonan, melihat air mancur, menyusuri taman, hingga bermain di wahana sederhana seperti ayunan dan perosotan. KompasTravel memilih lima taman di Jakarta yang menawarkan kegiatan-kegiatan tersebut untuk sang buah hati.

Taman Suropati

Taman Suropati terletak di pusat kawasan Menteng, Jakarta Pusat yaitu di pertemuan Jalan Teuku Umar, Jalan Iman Bonjol, dan Jalan Pangeran Diponegoro. Di taman ini, Anda dapat mengajak anak untuk memberi makan burung merpati yang sengaja dipelihara di sebuah kandang. Selain itu, pada hari Minggu pagi, tempat ini juga dijadikan untuk tempat latihan komunitas musik. Anda dapat mengajak anak untuk melihat dan mendengarkan alunan musik dari para pemain musik. Di taman ini juga terdapat air mancur dan jalur untuk berlari. Pilihan-pilihan kegiatan tersebut dapat Anda coba ketika mengunjungi Taman Suropati.

Taman Menteng

Tak jauh dari Taman Suropati, terdapat Taman Menteng. Taman tersebut merupakan alih fungsi dari bangunan sebelumnya yaitu Stadion Menteng. Di sana, Anda dapat mengajak anak untuk bermain di lapangan yang tersedia seperti futsal, basket, dan voli. Ada pula wahana permainan sederhana yaitu ayunan, perosotan, terowongan mini, dan tangga yang berbentuk seperti bola yang berongga. Di sana tak ketinggalan terdapat air mancur dan tempat duduk yang dapat digunakan bersantai bersama sang buah hati.

Taman Langsat

Taman yang merupakan salah satu paru-paru Kota Jakarta berlokasi tak jauh dari Jalan Barito, Jakarta Selatan. Untuk dapat menemukan taman ini, coba untuk menuju Jalan Langsat. Di taman ini, Anda dapat mengajak anak untuk berjalan kaki di jalur jogging sembari menikmati rindang pepohonan.

Selain itu, juga terdapat danau dengan taman teratai di tengahnya. Tak ketinggalan juga terdapat ayunan dan perosotan untuk yang dapat digunakan bermain anak. Jika ingin bersantai di bawah pepohonan, jangan lupa untuk membawa alas seperti matras atau tikar.

Taman Ayodya

Dahulu taman ini adalah tempat para penjual bunga di kawasan Barito. Namun Pemerintah DKI Jakarta mengubah fungsi menjadi taman. Berlokasi di Jalan Barito, Jakarta Selatan dan memiliki lahan seluas 7.500 meter persegi, Anda dapat mengajak anak untuk duduk bersantai di undak-undakan yang membentuk seperti panggung. Aktifitas lain yang dapat dilakukan adalah menikmati air mancur yang berada di tengah taman. Taman ini juga dilengkapi gazebo dan juga toilet.

Taman Monumen Nasional

Pada hari Minggu, Monumen Nasional akan dipenuhi wisatawan yang ingin naik ke puncak Tugu Monas. Jika bosan menunggu, Anda dapat mengajak si kecil bermain di Taman Monas. Di Taman Monas, terdapat jalur khusus refleksi yang dapat anak-anak coba. Sama seperti Taman Suropati, di Taman Monas juga terdapat kandang-kandang burung merpati.

Anak-anak dapat memberi makan burung-burung merpati. Selain itu, ada pula patung-patung yang dapat menjadi wisata edukasi bagi anak. Di sana terdapat patung RA Kartini, Chairil Anwar, Monumen Ikada, Mohammad Husni Thamrin, dan Pangeran Diponegoro.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2015/09/05/143100627/Libur.Akhir.Pekan.Coba.Ajak.Anak.ke.Lima.Taman.di.Jakarta.Ini

Rabu, 22 Juli 2015

Asiknya Keliling Kota Naik Bus Tingkat Saat Jakarta Lengang

TEMPO.CO, Jakarta - Pada pekan liburan lebaran, kondisi lalu lintas Jakarta lengang, karena ditinggalkan sebagian penghuninya yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri.

Jakarta yang biasanya macet dan berdebu pun menjelma menjadi kota yang terasa ramah bagi warganya. Kesempatan seperti ini biasanya tidak dilewatkan bagi masyarakat untuk menikmati kelengangan Jakarta sebelum cuti bersama berakhir hari ini, Selasa (21 Juli 2015).

Bus tingkat pun menjadi favorit warga untuk mengelilingi berbagai landmark kota Jakarta. Selain tidak dipungut biaya, bus-bus tersebut melewati jalan-jalan di koridor utama kota Jakarta seperti museum, Monas, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, hotel, dan pusat perbelanjaan.

Di setiap pos perhentian bis yang tersebar di beberapa titik, antrean warga antusias menunggu bus yang sudah beroperasi sejak Februari 2014 itu sudah terbentuk. Cukup panjang.

Termasuk rombongan keluarga Enjah dari Bandung. Dia mengaku puas bisa menikmati Jakarta dari lantai dua bus tanpa harus terhambat macet.

"Saya sama anak dan cucu ingin keliling kota Jakarta selagi enggak macet. Rasanya puas dan terbayar," ujar Enjah yang sebelumnya sudah mengunjungi Monas.

Kepuasan juga dirasakan Safitri yang mengaku bisa mengunjungi beberapa tempat dengan gratis menggunakan bus tingkat.

"Bisa pindah ke beberapa tempat tanpa dipungut biaya," kata Safitri, yang datang dari Depok bersama suami dan kedua anaknya.

"Sekarang liburan Lebaran jadi terasa murah apalagi Jakarta lagi lenggang jadi bisa nikmati Jakarta saat tidak macet," tambah Safitri yang baru pertama kali menggunakan bus tingkat.

Lima Armada

Sebanyak lima armada bus tingkat dengan kelir biru berkapasitas 60 dan 68 kursi itu dikerahkan selama libur lebaran dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.

"Kemarin puncak ramainya penumpang," ujar petugas bus tingkat, Anggi, yang menambahkan penumpang bus tingkat membludak selama libur Lebaran.

Bus tingkat juga menjadi alternatif hiburan warga. Salah satu pengunjung Monas, Kina dan anaknya memilih naik bus tingkat karena harus menunggu empat jam untuk naik ke puncak Monas.

"Daripada tunggu lama saya pikir mending jalan-jalan dulu naik bus tingkat, nanti bisa mampir ke Museum Nasional juga," ujar Kina.

"Akhirnya bisa naik bus tingkat, anak saya sudah dari dulu ajak naik ini terus," kata dia.

Sumber : http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/07/21/090685367/asiknya-keliling-kota-naik-bus-tingkat-saat-jakarta-lengang

Senin, 29 September 2014

Ini Alasan Pemprov DKI Larang SD di Jakarta Lakukan Pemotongan Hewan Kurban

Jakarta - Pemprov DKI melarang SD di Jakarta melakukan pemotongan hewan kurban. Bagi sekolah SD yang akan memotong hewan kurban, sebaiknya memotong di masjid atau di tempat pemotongan hewan.

"Karena SD itu kan dari segi umur masih anak-anak smua, takutnya dari segi psikologis anak jadi terpengaruh. Nggak semua anak-anak berani kan melihat darah, atau pemotongan begitu. Bahkan kalau di TV saja pemotongan begitu suka disensor," kata Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Darjamuni saat dikonfirmasi, Rabu (24/9/2014).

Nanti kalau hewan sudah dipotong, pembagian hewan kurban bisa dilakukan di sekolah. Siswa SD bisa melihatnya.

"Selain itu juga ya tadi karena kebanyakan jadi tenaga kita untuk ngawasin kan terbatas. Karena tetap semua pemotongan kan harus kita periksa. Walaupun sebelum dipotong dikatakan sehat, tapi setelah dipotong belum tentu dalamnya sehat," terang Darjamuni.

Menurutnya, yang dilarang hanya di sekolah SD saja. Untuk SMP dan SMA boleh dilakukan pemotongan di sekolah mereka.

"Boleh-boleh saja kok. Ini intinya lebih pada psikologis anak itu saja tadi. Karena kita menghitung kekuatan kita. Hanya ada sekitar 576 orang yang akan terjun untuk melakukan pemeriksaan saat pemeriksaan," jelasnya.

"Pemotongan di sekolah itu yang kita larang di SD. Kalau untuk berkurbannya nggak ada masalah, misalnya dikoordinir oleh guru," tambahnya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/09/24/145823/2699822/10/ini-alasan-pemprov-dki-larang-sd-di-jakarta-lakukan-pemotongan-hewan-kurban

Kamis, 31 Juli 2014

Libur Lebaran, bus wisata Jakarta laris manis

Merdeka.com - Banyak cara menghabiskan masa liburan Idul Fitri bagi masyarakat. Salah satunya dengan berwisata melihat sebagian pemandangan kota Jakarta menggunakan bus wisata.

Cara ini merupakan langkah jitu buat Anda yang ingin memberikan pengalaman jalan-jalan buat keluarga di masa libur lebaran. Sebab, Anda tidak perlu mengeluarkan ongkos buat menikmati pemandangan keliling ibu kota. Bisa dibilang jalan-jalan murah meriah.

Meski begitu, di masa liburan seperti ini, Anda harus rela mengantre cukup lama buat merasakan jalan-jalan di atas bus wisata bertingkat itu. Sebab, jumlah penumpang melonjak dari hari libur biasanya.

"Ya nunggu paling selang setengah jam lah. Namanya juga liburan, pasti banyak yang mau naik juga," kata Fitroh (34 tahun) dari Condet, Jakarta Timur kepada merdeka.com, Kamis (31/7).

Fitroh membawa serta istri dan kedua anak perempuannya berwisata ke kawasan Monumen Nasional, di masa libur lebaran. Kebetulan, kedua anaknya ingin merasakan naik bus wisata. Alhasil, dia rela berpanas-panasan mengantre di halte terletak di Jalan Medan Merdeka Barat.

Kira-kira 30 menit menunggu, bus ditunggu pun datang. Fitroh dan keluarga bersiap mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu masuk. Maklum, saking banyak peminatnya tak jarang para penumpang berebut masuk. Mereka pun rata-rata mengincar tempat duduk di dek atas.

"Enak ngelihatnya. Kalau di bawah udah biasa," ujar seorang penumpang bernama Ida (28 tahun) dari Depok, Jawa Barat, turut serta membawa dua anaknya.

Bus tingkat berkelir paduan ungu dan kuning itu hanya melayani trayek Bundaran Hotel Indonesia hingga Pasar Baru. Meski kapasitas cukup banyak, tapi jumlah penumpang dibatasi.

Pemandangan ditawarkan sepanjang perjalanan pun sebenarnya biasa saja. Apalagi di sepanjang Jalan Mohammad Husni Thamrin kondisinya cukup berantakan akibat proses pembangunan moda transportasi Monorail. Tetapi buat Fitroh dan Elin, justru di situ nikmatnya menghabiskan masa liburan bersama keluarga.

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/libur-lebaran-bus-wisata-jakarta-laris-manis.html

Kamis, 17 Juli 2014

6 Tahun Jadi Tukang Sampah Gaji Jaya Hanya Rp500 Ribu per Bulan

Jakarta, HanTer - Jalanan yang bersih dan pemandangan indah serta sampah yang tidak menumpuk adalah kerja nyata dari para petugas kebersihan di berbagai wilayah di Jakarta ini.

Namun pernahkah kita melihat kehidupan mereka yang sehari-hari berjibaku dengan sampah dan telah terbiasa dengan busuk, karena mau tidak mau lingkungan harus tetap bersih asri dan terjaga kebersihannya.

Saat ditemui Harian Terbit, Jaya Wijaya (32) seorang tenaga kebersihan di wilayah Taman Ratu, kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat mengatakan, menjadi petugas kebersihan baginya sudah dianggap suratan takdir. Jaya begitu panggilan akrab lelaki ini terlihat dekil dengan wajah yang lelah karena sehabis bekerja.

"Kadang saya bekerja bisa sampai malam hari. Sudah 6 tahun bekerja sebagai tenaga kebersihan di Taman Ratu, sejak tahun 2009. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan sehingga masih bisa bekerja menyambung hidup," kata Jaya, di warung kopi Taman Ratu, Jakarta Barat, Rabu (16/7).

Jaya mengisahkan, dengan gaji sebulan Rp500 ribu, berupaya mencukupi kebutuhan hidup bersama seorang anaknya yang baru berumur 2 tahun dan tinggal bersama istrinya di kontrakan. "Gaji sebulan Rp500 ribu, ya nggak cukup mas, hanya saya berusaha juga mengumpulkan gelas dan botol-botol plastik dikiloin saya jual, lumayan buat nambah penghasilan," tutur Jaya polos.

Bapak yang sempat mengenyam bangku SD ini semula ingin bekerja dibidang lainnya, namun sulit mendapatkan pekerjaan saat ini, bahkan ada seorang kawannya yang bergelar sarjana sudah lama menjadi petugas kebersihan.

"Sulit cari kerja sekarang, senior saya juga keliling jadi tenaga kebersihan, dia mah udah lebih dari 10 tahun, kita kenal namanya hanya Bejo aja. Dia sarjana, tapi sampai sekarang begitu aja terus. Kami semua di wilayah ini ada 20 orang, Bejo itu termasuk yang paling tua," ujar Jaya.

Jaya mengaku asli dari Karawang, Jawa Barat. Merantau ke Jakarta karena di kampung merasa sulit mendapatkan pekerjaan. "Di kampung sulit mas, yah di sini cukuplah walau masih kost sebulan Rp350 ribu," ucapnya. Saat ditanyakan apakah dari pihak RT RW yang memberikannya gaji, apakah sudah memberikan Tunjangan Hari Raya (THR), Jaya menggeleng. "Belum, kalau THR tahun-tahun pertama kerja kami dapat Rp300 ribu per orang, tahun lalu udah sebulan gaji Rp500 ribu," sambungnya.

Menurut Jaya, beruntung ada saja warga yang sudi berbagi rezeki selama ia bertugas menjadi tenaga kebersihan yang saban hari berkeliling mengumpulkan sampah atau menyapu jalanan. "Untungnya selama jadi petugas kebersihan, ada saja warga di sini yang ngerti, ngasih jajan buat anak saya atau uang rokoklah gitu," bebernya.

Kedepan Jaya berharap gajinya bisa naik dan THR dibayarkan beberapa hari sebelum Idul Fitri 1435 Hijriah. "Ya, gimana ya. Saya pengennya naik gaji dan THR paling nggak bisa cair beberapa hari sebelum Idul Fitri," ucapnya malu-malu.

Selain itu, Jaya menjelaskan pemerintah semestinya bisa menyediakan tempat penampungan sampah. "Dari pemerintah tidak menyediakan tempat, untungnya dari orang-orang di sini nyediain tempat, kalau nggak kan diusir, gerobak-gerobak mau dikemanain? Jokowi - Ahok sebaiknya meresmikan Dipo tempat penampungan sampah, adanya di atas kali di Taman Ratu ini," pungkas Jaya yang ditemani Sahrul (19) seorang pemuda yang mengais rezeki dengan menyebrangkan anak-anak sekolah di kali Sekretaris.

"Saya kerja nyebrangin anak-anak sekolah di kali Sekretaris. Udah setahun kerja, mau cari kerja lain masih sulit. Setiap anak bayar Rp500 perak sekali nyebrang," kata Sahrul.

Sumber : http://www.harianterbit.com/read/2014/07/17/5284/28/18/6-Tahun-Jadi-Tukang-Sampah-Gaji-Jaya-Hanya-Rp500-Ribu-per-Bulan

Selasa, 25 Februari 2014

Mendulang Berkah Macet Jakarta, Tiap Bulan Kirimi Istri Rp 2 Juta

KEMACETAN di Jakarta tak melulu membuat stres warga. Terlebih, mereka yang berada di kalangan bawah.

Hiruk pikuk keramaian kota yang dulu disebut Batavia ini ternyata membawa berkah bagi puluhan juta kaum urban yang mencoba peruntungan. Salah satunya menjadi pengojek sepeda onthel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
----------
ASEP ANANJAYA
-----------
Jalan raya di depan pintu Utara Stasiun Kota Tua, penuh sesak setiap saat. Angkutan kota (angkot), bajaj, bus, motor saling mencari celah. Mereka nyaris bersentuhan dengan gerobak pedagang di pinggir jalan.

Sebentar-sebentar membunyikan klakson. Sementara di ujung kanan, antrean bus Transjakarta tertambat di lintasan jalur busway. Menunggu lampu di perempatan menyala hijau.

Jelang pukul 16.00, matahari dari arah barat sedang terik-teriknya. Sutarlani masih berdiri tegak memegang erat kedua setang sepeda onthel. Berkaos lengan panjang, mengenakan rompi, pria kelahiran 51 tahun silam ini menanti seseorang yang keluar dari mulut pintu stasiun.

Di barisan yang sama berjajar kawan-kawan pengojek yang lain, Lamin, Senen, Jamil, Somad, Lamadi, Wito dan Tukiman.

Usia rata-rata mereka lebih muda, kisaran 30-40 tahun. Asal mereka dari Bogor, Pati, Purwodadi, Ngawi, juga sekampung dengan Sutarlani di Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Jawa Tengah.

”Setiap hari di sini juga begini, macet,” kata Sutarlani. Sambil tersenyum pria berkulit sawo matang itu membetulkan topi rimbanya yang miring.

Padatnya lalu lintas di jalan itu justru membawa berkah. Menurutnya, jauh sebelum tahun 80-an onthel selalu diandalkan, selain angkot, bajaj dan becak. Mengangkut penumpang kereta yang ingin meneruskan perjalanan ke berbagai perkantoran di Kota Tua atau sebaliknya.

Jok penumpang sepeda onthel memang tidak seempuk angkot maupun bajaj. Namun, hingga kini jasa antar onthel masih diminati.

Terpenting bagi penumpang tidak terjebak macet dan harus berputar jauh. Meskipun onthel Phoenix milik Sutarlani kian usang, sepeda pabrikan China itu masih membawa berkah.

"Karena onthel gak ada rutenya, bisa lawan arus, dan lewat jalan ’tikus’, ongkosnya juga murah,” kata Sutarlani yang tinggal mengontrak di Jalan Budi Mulya, Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Lebih dari 30 tahun onthel Sutarlani melayani jasa antar. Pelanggannya masih sama, pekerja kantoran di kawasan jalan belakang ujung utara Jakarta Kota. Dalam waktu beberapa menit onthel mengantarkan mereka ke tujuan Jalan Tongkol, Teh, Kerapu, Roa Malaka, Pasar Ikan, hingga Lodan, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

”Penumpangnya, ya orang-orang yang berangkat dan pulang kerja, menghindari macet. Rute terjauh sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa juga sampai Ancol, dan Tanjung Priok,” ucap pengojek onthel asal Sragen, Jawa Tengah yang sudah 30 tahun mangkal di depan Stasiun Jakarta Kota.

Bertahan hidup di Jakarta cukup keras. Kata bapak bertinggi badan tak lebih dari 160 centimeter itu, kalau gak telaten bisa kalah sama yang lain.

Menjadi pengojek onthel tentu bukan pilihan awal Sutarlani mengadu nasib di Jakarta. Sebelumnya, dari kampung ikut sodara jadi kuli bangunan. Pernah juga ikut juragan China yang punya pabrik sama restoran, tapi tidak juga kerasan. Bermodal sepeda yang dibelinya seharga Rp 250 ribu, menarik onthel menjadi pilihan hidup.

”Meski seharian narik cuma dapet cepek (Rp 100), batin gak capek, paling pahit udah ngantar gak dibayar, orangnya kabur, ” tutur Sutarlani mengenang.

Entah berapa lama lagi otot kaki Sutarlani mampu mengayuh engkol onthel. Membawa penumpang tentu jauh lebih berat. Andalannya sebelum berangkat kerja selalu minum susu. Sutarlani pun berhenti merokok, sejak paru-parunya sakit berkepanjangan.

”Tambah tidur yang cukup, minum jamu tiap malam, tenaga buat besok pasti fit, bedanya sekarang sudah harus pakai kacamata,” ujarnya berseloroh dengan logat Jawa-nya yang kental.

Pendapatan rata-rata para pengojek onthel terbilang lumayan. Per hari narik onthel dari pukul 07.00-18.00, Sutarlani bisa dapat Rp 250 ribu. Masih bisa menafkahi istrinya Supini (41), serta menyekolahkan dua anaknya. Satu anak perempuannya di kelas 2 Aliyah (setingkat SMA), satunya lagi anak laki-laki masih kelas 5 sekolah dasar (SD).

Tiap bulan masih bisa transfer uang Rp 2 juta ke kampung. Tiap tiga bulan sekali, ia juga masih bisa pulang kampung. ”Anak yang pertama, laki-laki baru saja lulus SMA, lagi mau cari kerja, yang sudah punya anak itu dari istri pertama,” katanya.

Sedang asyik berkisah, satu penumpang dari arah stasiun menghampiri Sutarlani. Pria itu memintanya mengantar ke Pelabuhan Sunda Kelapa. ”Rp 15 ribu harga pas untuk sekali jalan, rutenya agak jauh,” katanya.

Melalui celah sempit kendaraan lain, Sutarlani perlahan menuntun onthelnya melawan arus. Sementara si penumpang berusaha duduk tenang di bangku bonceng.

Begitu mendapat ruang gerak, Sutarlani melompat naik ke sadel. Otot kakinya yang bersandal jepit mengajak onthel bergerak menuju belakang Gedung BNI. Kemudian menyeberang ke Jalan Kemukus, depan kantor Kecamatan Taman Sari.

Dari situ menyeberang masuk ke Jalan Kunir 7, terus ke jalan Cengkeh. Sampai di Jalan Tongkol, masuk ke Jalan Krapu, belok kanan sedikit sampai di jalan Lodan, pintu utama pelabuhan sudah kelihatan di sisi kiri jalan.

”Bagusnya gak ada tanjakan, jalannya lurus lurus saja,” tuturnya menyebutkan jalan pintas onthel dari Stasiun Kota menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jalan arah pulangnya, lanjut Sutarlani, ia biasa melintasi Menara Syahbandar dan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan. Kemudian melintas masuk di depan Galangan VOC di Jalan Kakap terus lanjut ke Roa Malaka sampai ke Jalan Kali Besar Barat ketemu Jembatan Kota Intan. Berlanjut ke Taman Fatahillah.

”Rute itu juga biasa digunakan untuk mengantar turis-turis asing berkeliling wisata Kota Tua,” terangnya juga.

Tahun 1980, awal kakek bercucu dua itu menggenjot engkol onthel. Jalanan Jakarta tidak seramai sekarang. Belum banyak mobil pribadi, masih cukup lowong baginya bersanding dengan becak, bajaj, bemo, maupun bus. Jarak antar penumpang juga bisa lebih jauh lagi, ke gang-gang kecil di kawasan Harmoni.

Sebab itu ia bisa beberapa kali berganti pangkalan. Mulai di Glodok, Pinangsia, Pasar Perniagaan, Jalan Asemka dan di sepanjang jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk.

”Ngantar penumpang paling jauh itu sekali-kalinya, ke pelabuhan Muara Angke, tahun ‘82 dibayar cuma cuma gopek (Rp 500), capeknya minta ampun, pulangnya sampai kesasar,” cetusnya juga.

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/02/25/218420/Mendulang-Berkah-Macet-Jakarta,-Tiap-Bulan-Kirimi-Istri-Rp-2-Juta-

Jumat, 23 Agustus 2013

Kisah Warga Gusuran Waduk Pluit: Kalau Hujan, Yanto Masuk Lemari

Liputan6.com, Jakarta : Suasana ketegangan yang sempat mewarnai pembongkaran bangunan di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, kini usai. Warga akhirnya bersedia hengkang setelah berunding dengan aparat untuk memindahkan barang-barangnya.

Pantauan Liputan6.com, Kamis (22/8/2013), tak sedikit warga mengambil harta bendanya. Mulai dari peralatan dapur hingga kasur tidur. Hal itu dilakukan saat alat berat merobohkan bangunan rumahnya. Mulai dari anak kecil hingga pria paruh baya pun mengais perabotan rumah tangganya yang sudah tertimbun dengan reruntuhan bangunan.

"Aduh ibu kan kemaren sampai hari ini sudah dikasih waktu buat angkut barang. Sekarang saja baru repot, bahaya itu," kata salah seorang aparat yang bertugas di Pluit, Jakarta.

Sementara itu, tampak seorang pria tua berpakaian lusuh tak mengenal bahaya. Bagaimana tidak, Yanto (57) mengangkut perabot rumah tangganya ke dalam gerobak persis hanya berjarak sekitar 10 meter dari kendaraan alat berat. Yanto juga mengungkapkan dirinya memilih pulang kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

"Saya dapat rusun di Marunda, tapi saya mau pulang saja. Anak sama istri saya sudah di kampung. Kata mereka (keluarga) tenang hidup di kampung nggak digebrak-gebrak aparat. Mau jualan rokok di kampung. Di kampung nggak ada gusuran," tutur Yanto.

Seraya memindahkan barang, Yanto mengungkapkan sudah sepekan dirinya tidur di atas reruntuhan bangunan. Selain jauh dari tempatnya bekerja, Yanto juga mengaku memiliki kenangan indah di bangunan yang didirikan di atas waduk itu.

"Saya kerja menyapu jalan di kompleks Ahok. Malah setiap pagi saya mulai menyapu dari depan rumahnya. Saya 15 tahun di sini, susah senang, sampai saya bisa tahu Jakarta saya tinggal di sini. Anak-anak saya lahir di sini. Kalau pas hujan, saya masuk dalam lemari saya. Ya beginilah hidup," cerita Yanto sambil menunjukan lemari miliknya.

Usai merapikan barang-barangnya, Yanto menghubungi anaknya di Kampung untuk memberi kabar. Yanto berencana menagih janji Koordinator Pasca Banjir Waduk Pluit, Heryanto yang bersedia memfasilitasi.

"Ya ini mau saya taruh di bagasi bus. Mudah-mudahan cukup. Janjinya kan yang mau pulang kampung juga diantar. Ya selamat tinggal Jakarta," pungkas Yanto sedih.

Sumber : http://news.liputan6.com/read/672351/kisah-warga-gusuran-waduk-pluit-kalau-hujan-yanto-masuk-lemari