Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Perkotaan, Yayat Supriatna menilai permasalahan limbah di Jakarta begitu kompleks. Banyak peraturan yang mengatur tentang sampah, akan tetapi tidak ada sanksi bagi pelanggarnya. Bahkan orang yang mati karena limbah di perkotaan dianggap sebagai peristiwa biasa.
“Jadi ini kadang-kadang orang mati, orang sakit gara gara limbah dianggap sebagai sebuah peristiwa biasa saja. Jadi kita mengangap orang mati di Jakarta hal yang biasa,” kata Yayat Supriatna saat berbincang di Prime Time News Metro TV, Kamis (29/1/2015) malam.
Yayat menilai, permasalahan limbah dan sampah di Jakarta muncul karena orang-orang begitu bebas membuang limbah dan sampah di manapun. Bahkan undang-undang yang mengatur tentang peraturan sampah tidak memiliki implikasi terhadap sanksi bagi pelanggarnya.
“Inilah struktur yang tidak membangun kultur. Karena orang masih merasa aturan itu masih bisa dinegosiasikan dalam hal ini,” ujar yayat.
Semakin bermasalah kata Yayat, sebab tak ada tindakan tegas di dalam undang-undang tentang lingkungan yang mampu menghukum si pembuang limbah dan sampah.
“Jadi ini persoalan paling besar dan kita ketahui kadang-kadang pemerintah kota pun tidak mampu menjalankan salah satu kebijakan,” pungkas Yayat.
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/2015/01/30/351739/di-jakarta-meninggal-karena-limbah-dan-sampah-dianggap-biasa
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Februari 2015
Di Jakarta, Meninggal Karena Limbah dan Sampah Dianggap Biasa
Label:
dinegosiasikan
,
gara
,
jakarta
,
limbah
,
mati
,
metrotvnews
,
orang
,
pelanggar
,
peraturan
,
peristiwa
,
perkotaan
,
permasalahan
,
prime
,
pungkas
,
sampah
,
sanksi
,
supriatna
,
undang-undang
,
yayat
Jumat, 19 Desember 2014
Komunitas “Nebeng” Jadi Solusi Macet Jakarta
Jakarta, KompasOtomotif - Ada banyak cara mengurangi kemacetan di Ibu Kota, salah satunya berbagi satu kendaraan untuk berangkat dan pulang kerja seperti yang dilakukan komunitas Jakarta Car Sharing. Gaung kegiatan sosial ini semakin merebak sejak diinisiasi Adira Finance dan Global FM mulai Oktober 2014.
Kesempatan besar bekerja di Jakarta melahirkan banyak kaum urban, namun perpindahan penduduk harian dirasa masih belum teratasi transportasi massal. Ide awal Jakarta Car Sharing mengurangi jumlah populasi kendaraan pribadi yang digunakan kelas pekerja, caranya membuat satu mobil yang beredar di Jakarta tidak hanya mengangkut satu penumpang.
Metodenya sederhana, mencari orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal yang mau ditumpangi atau menumpang. Rute perjalanan bisa disesuaikan tergantung lokasi kerja. Konsep berbagi kendaraan ini sebenarnya hampir mirip dengan naik angkutan umum, hanya saja mobil yang digunakan milik salah satu anggota komunitas. Bedanya lagi, tidak ada tuntutan tarif karena semua bergantung kesadaran. Masalah uang bensin atau tol diselesaikan dengan kekeluargaan.
Adira Finance dan Global FM berharap perkembangan Jakarta Car Sharing bisa menjadi percontohan aksi sosial mengurangi kemacetan. Selama dua bulan telah terbentuk sekitar 50 kelompok berbagi kendaraan yang berasal dari berbagai daerah. Sepuluh kelompok yang paling sering berangkat dan pulang kerja bareng disambut dengan berbagai hadiah.
"Melalui apresiasi ini diharapkan kelompok terpilih dapat menjadi role model dan dapat menularkan semangat positif dari kegiatan ini bagi masyarakat," ujar Head of Corporate Communication Adira Finance Silvi Tirawaty di Jakarta, Kamis (28/12/2014).
Jakarta Car Sharing mengajak lebih banyak lagi masyarakat lebih peduli terhadap solusi kemacetan Ibu Kota. Informasi lebih banyak bisa didapatkan lewat twitter @JKTCarSharing atau program radio Pergi Pagi di Global FM.
Sumber : http://otomotif.kompas.com/read/2014/12/19/102227715/Komunitas.Nebeng.Jadi.Solusi.Macet.Jakarta
Kesempatan besar bekerja di Jakarta melahirkan banyak kaum urban, namun perpindahan penduduk harian dirasa masih belum teratasi transportasi massal. Ide awal Jakarta Car Sharing mengurangi jumlah populasi kendaraan pribadi yang digunakan kelas pekerja, caranya membuat satu mobil yang beredar di Jakarta tidak hanya mengangkut satu penumpang.
Metodenya sederhana, mencari orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal yang mau ditumpangi atau menumpang. Rute perjalanan bisa disesuaikan tergantung lokasi kerja. Konsep berbagi kendaraan ini sebenarnya hampir mirip dengan naik angkutan umum, hanya saja mobil yang digunakan milik salah satu anggota komunitas. Bedanya lagi, tidak ada tuntutan tarif karena semua bergantung kesadaran. Masalah uang bensin atau tol diselesaikan dengan kekeluargaan.
Adira Finance dan Global FM berharap perkembangan Jakarta Car Sharing bisa menjadi percontohan aksi sosial mengurangi kemacetan. Selama dua bulan telah terbentuk sekitar 50 kelompok berbagi kendaraan yang berasal dari berbagai daerah. Sepuluh kelompok yang paling sering berangkat dan pulang kerja bareng disambut dengan berbagai hadiah.
"Melalui apresiasi ini diharapkan kelompok terpilih dapat menjadi role model dan dapat menularkan semangat positif dari kegiatan ini bagi masyarakat," ujar Head of Corporate Communication Adira Finance Silvi Tirawaty di Jakarta, Kamis (28/12/2014).
Jakarta Car Sharing mengajak lebih banyak lagi masyarakat lebih peduli terhadap solusi kemacetan Ibu Kota. Informasi lebih banyak bisa didapatkan lewat twitter @JKTCarSharing atau program radio Pergi Pagi di Global FM.
Sumber : http://otomotif.kompas.com/read/2014/12/19/102227715/Komunitas.Nebeng.Jadi.Solusi.Macet.Jakarta
Rabu, 26 November 2014
Banjir di Jakarta? Pantau dan Laporkan Pakai Ini
Jakarta, PCplus – Musim hujan tiba. Salah satu tamu tak diundang yang sering mampir adalah banjir. Nah, kamu yang khususnya tinggal di Jakarta, jangan sampai kejebak bencana tahunan ini. Caranya, buka browser dan kunjungi petajakarta.org
Petajakarta.org bukan cuma sekadar peta. Dengan bantuan platform sumber terbuka (opensource) CogniCity ia mampu menampilkan kondisi terkini dari daerah-daerah langganan banjir di Jakarta. Akurat kah?
Karena menggunakan metode crowdsourcing, data di Petajakarta.org akan bergantung penuh pada masyarakat yang berinteraksi kepadanya. “Kami meminta agar orang-orang yang aktif di Twitter untuk memberitahu kami di mana lokasi terjadi banjir, supaya kami bisa membangun peta real time yang akan ditujukan kepade pengguna Twitter kembali dan juga kepada pemerintah lokal (tentang) situasi banjir terkini,” jelas Yantri Dewi dari Petajakarta.org.
Yap, Twitter dijadikan media pengumpul data utama oleh platform yang pengembangannya dimulai sejak setahun lalu. Pengguna Twitter cukup mengirim twit dengan menyebut (mention) akun @petajkt dan tagar #banjir. Selanjutnya platform ini akan mencatat lokasi pengirim twit dan menandai lokasi banjir yang dilaporkan.
Platform yang dikembangkan University of Wollongong (UoW) bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta ini juga membuka Application Programmable Interface (API)-nya kepada pengembang umum. Jadi, kamu boleh saja mengembangkan aplikasi lain berbasis informasi laporan banjir dari Petajakarta.org.
Oh ya, di kejadian banjir Jakarta minggu lalu, Petajakarta.org berhasil mengumpulkan lebih dari 1000 informasi banjir lewat Twitter hanya dalam tempo 20 jam. Informasi tersebut dilihat oleh 40 ribu orang.
Berminat ikut berpartisipasi?
Sumber : http://www.pcplus.co.id/2014/11/berita-teknologi/banjir-di-jakarta-pantau-dan-laporkan-pakai-ini/
Petajakarta.org bukan cuma sekadar peta. Dengan bantuan platform sumber terbuka (opensource) CogniCity ia mampu menampilkan kondisi terkini dari daerah-daerah langganan banjir di Jakarta. Akurat kah?
Karena menggunakan metode crowdsourcing, data di Petajakarta.org akan bergantung penuh pada masyarakat yang berinteraksi kepadanya. “Kami meminta agar orang-orang yang aktif di Twitter untuk memberitahu kami di mana lokasi terjadi banjir, supaya kami bisa membangun peta real time yang akan ditujukan kepade pengguna Twitter kembali dan juga kepada pemerintah lokal (tentang) situasi banjir terkini,” jelas Yantri Dewi dari Petajakarta.org.
Yap, Twitter dijadikan media pengumpul data utama oleh platform yang pengembangannya dimulai sejak setahun lalu. Pengguna Twitter cukup mengirim twit dengan menyebut (mention) akun @petajkt dan tagar #banjir. Selanjutnya platform ini akan mencatat lokasi pengirim twit dan menandai lokasi banjir yang dilaporkan.
Platform yang dikembangkan University of Wollongong (UoW) bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta ini juga membuka Application Programmable Interface (API)-nya kepada pengembang umum. Jadi, kamu boleh saja mengembangkan aplikasi lain berbasis informasi laporan banjir dari Petajakarta.org.
Oh ya, di kejadian banjir Jakarta minggu lalu, Petajakarta.org berhasil mengumpulkan lebih dari 1000 informasi banjir lewat Twitter hanya dalam tempo 20 jam. Informasi tersebut dilihat oleh 40 ribu orang.
Berminat ikut berpartisipasi?
Sumber : http://www.pcplus.co.id/2014/11/berita-teknologi/banjir-di-jakarta-pantau-dan-laporkan-pakai-ini/
Sabtu, 20 Oktober 2012
Ahok: Orang Kaya Harusnya Tinggal di Luar Jakarta
INILAH.COM, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, permasalahan kemacetan terjadi karena banyak pekerja Jakarta yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta atau daerah tetangga sekitar Jakarta.
"Sewa kos juga mahal disini. Makanya mereka cari yang di pinggiran Jakarta, karena masih murah. Ini yang mengakibatkan kemacetan terjadi. Makanya kita bangun rumah sewa, kita ajak mereka tinggal di rumah sewa yang murah itu di Jakarta, sehingga macet akan berkurang," kata Basuki di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Lebih lanjut Basuki menegaskan inti pemecahan masalah kemacetan adalah sebanyak mungkin membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dekat dengan tempat kerja karyawan. Di Rusunawa itu nantinya akan dilengkapi dengan pasar tradisional, sehingga semakin membatasi pergerakan manusia dengan menggunakan kendaraan bermotor.
"Jadi, harusnya di Jakarta itu adalah orang yang gajinya pas-pasan tinggal di dalam kota. Lalu orang kaya harusnya tinggal di luar kota, karena mereka punya sopir, mobil dan duit. Kita mau bangun apartemen murah untuk pegawai-pegawai yang tinggal di pinggiran tapi kerja di dalam kota. Dengan begitu kemacetan bisa berkurang banyak," jelasnya.
Menurutnya, pembangunan apartemen murah berbentuk rusunawa tersebut tetap mengikuti peraturan perundang-undangan yang terlah ada. Kemudian dibangun di atas lahan atau gedung yang sudah menjadi aset Pemprov DKI Jakarta. Rencananya pasar-pasar tradisional di Jakarta merupakan lokasi yang tepat untuk dibangun rusunawa diatas bangunan pasar yang sudah ada.
"Nanti kita bikin peraturannya untuk membangun perumahan ini. Yang pasti, harus diundi pakai nomor urut. Kalau yang diatas bukan orang itu lagi, maka yang dibawah naik. Terus kalau yang menempati rumah murah tersebut bukan keluarga sendiri atau bukan garis keturunannya, tetangga harus laporin, supaya diusir," tandasnya.[bay]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1917276/ahok-orang-kaya-harusnya-tinggal-diluar-jakarta
"Sewa kos juga mahal disini. Makanya mereka cari yang di pinggiran Jakarta, karena masih murah. Ini yang mengakibatkan kemacetan terjadi. Makanya kita bangun rumah sewa, kita ajak mereka tinggal di rumah sewa yang murah itu di Jakarta, sehingga macet akan berkurang," kata Basuki di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Lebih lanjut Basuki menegaskan inti pemecahan masalah kemacetan adalah sebanyak mungkin membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dekat dengan tempat kerja karyawan. Di Rusunawa itu nantinya akan dilengkapi dengan pasar tradisional, sehingga semakin membatasi pergerakan manusia dengan menggunakan kendaraan bermotor.
"Jadi, harusnya di Jakarta itu adalah orang yang gajinya pas-pasan tinggal di dalam kota. Lalu orang kaya harusnya tinggal di luar kota, karena mereka punya sopir, mobil dan duit. Kita mau bangun apartemen murah untuk pegawai-pegawai yang tinggal di pinggiran tapi kerja di dalam kota. Dengan begitu kemacetan bisa berkurang banyak," jelasnya.
Menurutnya, pembangunan apartemen murah berbentuk rusunawa tersebut tetap mengikuti peraturan perundang-undangan yang terlah ada. Kemudian dibangun di atas lahan atau gedung yang sudah menjadi aset Pemprov DKI Jakarta. Rencananya pasar-pasar tradisional di Jakarta merupakan lokasi yang tepat untuk dibangun rusunawa diatas bangunan pasar yang sudah ada.
"Nanti kita bikin peraturannya untuk membangun perumahan ini. Yang pasti, harus diundi pakai nomor urut. Kalau yang diatas bukan orang itu lagi, maka yang dibawah naik. Terus kalau yang menempati rumah murah tersebut bukan keluarga sendiri atau bukan garis keturunannya, tetangga harus laporin, supaya diusir," tandasnya.[bay]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1917276/ahok-orang-kaya-harusnya-tinggal-diluar-jakarta
Jumat, 07 September 2012
Warga Sambut Jalur Sepeda di KBT, tapi...
JAKARTA, KOMPAS.com — Pembuatan jalur khusus sepeda di trase kering Kanal Banjir Timur (KBT), Jakarta Timur, disambut baik oleh para pengguna sepeda. Program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut dianggap mengakomodasi kebutuhan penggemar sepeda akan keselamatan di jalan.
Raditya Aditama (37), salah seorang penggemar sepeda, mengungkapkan hal tersebut. Warga Kavling DKI, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mengatakan, jalur sepeda dapat mengurangi risiko kecelakaan. Pasalnya, pria yang bekerja di wilayah Kuningan itu merasakan diskriminasi yang tinggi saat melintas di jalan umum, terutama dengan motor.
"Ya senang, mengurangi risiko. Setiap hari kan pulang pergi ke kantor naik sepeda, jaraknya 11 kilometer. Dari rumah lewat sini (KBT), lima kilometer safe-lah, enam kilometer sisanya baru fight lagi," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Rabu (6/9/2012) sore.
Pria yang sudah setahun terakhir pergi pulang dari rumah ke kantor dengan sepeda lipatnya itu berharap, jalur sepeda tersebut benar-benar dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. Terlebih bagi kendaraan bermotor, untuk tidak memanfaatkan jalur tersebut sebagai jalan pintas. Pasalnya, hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan para penggemar sepeda.
"Kalau masalah motor, memang sepertinya enggak cukup kalau cuma dipasang rambu. Pasti dilanggar, harus ada palang. Itu saja masih sering dilewati juga sih," ujarnya.
Senada dengan Radit, demikian juga yang dirasakan David Herio (23), warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Meski tak setiap hari melewati jalur itu dengan sepeda, dia bersama teman-temannya kerap melakukan aktivitas di sepanjang jalur KBT pada hari Minggu pagi. Dengan adanya jalur itu, dia tak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk melepas keringat.
"Di sini sudah enak, kalau Minggu jadi pilihan juga buat olahraga. Jadi enggak perlu jauh-jauh ke Senayan cuma buat sepedaan dan ngejar car free day di sana," ujarnya.
Meski demikian, masih banyak hal yang perlu diperhatikan pemerintah agar tempat tersebut menjadi tujuan favorit warga. Misalnya, masih terlihatnya pengendara motor yang melintas. Belum lagi kurangnya fasilitas kamar mandi serta penjual minuman dan makanan ringan yang sembarangan mendirikan lapak. Pasalnya, hal itu bisa membuat kesan kumuh.
"Yang paling parah motor sih memang. Sampai pernah kan orang kampung pinggiran KBT bakar satu motor gara-gara nabrak orang kampung lagi melintas mau nyari angkot buat kerja, kan bahaya banget," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, sepanjang 23,5 km trase kering KBT, Jakarta Timur, akan menjadi surganya pengendara sepeda. Senin lalu, petugas Dinas Perhubungan pun telah memasang rambu-rambu khusus jalur sepeda. Pembangunan jalur sepeda itu akan dilakukan secara bertahap dan diprediksi rampung pada Desember 2012 mendatang.
Untuk sementara, Dishub baru menyiapkan rambu dan marka sepanjang 6,7 km mulai dari Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, sampai Pondok Kopi. Itu pun baru satu sisi saja, yaitu trase kering yang bersebelahan dengan Jalan Basuki Rachmat, sementara sisi yang satunya belum.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/06/14373085/Warga.Sambut.Jalur.Sepeda.di.KBT.Tapi
Raditya Aditama (37), salah seorang penggemar sepeda, mengungkapkan hal tersebut. Warga Kavling DKI, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mengatakan, jalur sepeda dapat mengurangi risiko kecelakaan. Pasalnya, pria yang bekerja di wilayah Kuningan itu merasakan diskriminasi yang tinggi saat melintas di jalan umum, terutama dengan motor.
"Ya senang, mengurangi risiko. Setiap hari kan pulang pergi ke kantor naik sepeda, jaraknya 11 kilometer. Dari rumah lewat sini (KBT), lima kilometer safe-lah, enam kilometer sisanya baru fight lagi," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Rabu (6/9/2012) sore.
Pria yang sudah setahun terakhir pergi pulang dari rumah ke kantor dengan sepeda lipatnya itu berharap, jalur sepeda tersebut benar-benar dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. Terlebih bagi kendaraan bermotor, untuk tidak memanfaatkan jalur tersebut sebagai jalan pintas. Pasalnya, hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan para penggemar sepeda.
"Kalau masalah motor, memang sepertinya enggak cukup kalau cuma dipasang rambu. Pasti dilanggar, harus ada palang. Itu saja masih sering dilewati juga sih," ujarnya.
Senada dengan Radit, demikian juga yang dirasakan David Herio (23), warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Meski tak setiap hari melewati jalur itu dengan sepeda, dia bersama teman-temannya kerap melakukan aktivitas di sepanjang jalur KBT pada hari Minggu pagi. Dengan adanya jalur itu, dia tak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk melepas keringat.
"Di sini sudah enak, kalau Minggu jadi pilihan juga buat olahraga. Jadi enggak perlu jauh-jauh ke Senayan cuma buat sepedaan dan ngejar car free day di sana," ujarnya.
Meski demikian, masih banyak hal yang perlu diperhatikan pemerintah agar tempat tersebut menjadi tujuan favorit warga. Misalnya, masih terlihatnya pengendara motor yang melintas. Belum lagi kurangnya fasilitas kamar mandi serta penjual minuman dan makanan ringan yang sembarangan mendirikan lapak. Pasalnya, hal itu bisa membuat kesan kumuh.
"Yang paling parah motor sih memang. Sampai pernah kan orang kampung pinggiran KBT bakar satu motor gara-gara nabrak orang kampung lagi melintas mau nyari angkot buat kerja, kan bahaya banget," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, sepanjang 23,5 km trase kering KBT, Jakarta Timur, akan menjadi surganya pengendara sepeda. Senin lalu, petugas Dinas Perhubungan pun telah memasang rambu-rambu khusus jalur sepeda. Pembangunan jalur sepeda itu akan dilakukan secara bertahap dan diprediksi rampung pada Desember 2012 mendatang.
Untuk sementara, Dishub baru menyiapkan rambu dan marka sepanjang 6,7 km mulai dari Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, sampai Pondok Kopi. Itu pun baru satu sisi saja, yaitu trase kering yang bersebelahan dengan Jalan Basuki Rachmat, sementara sisi yang satunya belum.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/06/14373085/Warga.Sambut.Jalur.Sepeda.di.KBT.Tapi
Label:
jakarta
,
jalan
,
kantor
,
keselamatan
,
kilometer
,
motor
,
orang
,
pemerintah
,
pengendara
,
penggemar
,
timur
Selasa, 04 September 2012
WiFi Gratis Untuk Jakarta Yang Macet
Mungkin tidak ada solusi instan untuk penyakit kemacetan Jakarta, tapi paling tidak mereka yang terjebak kemacetan bisa menikmati internet gratis.
Bulan ini, pemerintah ibu kota berencana mengaktifkan internet nirkabel (WiFi) gratis di beberapa ruas jalan protokol. Warga Jakarta, yang tergila-gila Twitter dan Facebook, bisa membuang waktu di jalanan dengan lebih efisien.
Para pemilik mobil dengan supir, para pengguna taksi, atau penumpang ojek bisa mengirim status dengan gratis, berkat wireless hotspot yang saat ini tengah dipasang, kata Gubernur Jakarta Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke.
“Pemda DKI tidak mengeluarkan satu rupiah pun untuk internet gratis ini,” ujarnya dalam konferensi pers. “Hotspot disediakan oleh pihak swasta yang memasang kabel serat optik di jalanan.”
Pemerintah kota Jakarta menyatakan WiFi di jalan utama ini adalah langkah pertama dalam rencana mereka menjadikan ibu kota sebagai salah satu kota dengan koneksi internet paling luas di dunia pada 2015. Dalam rencana itu, internet gratis ini akan dipasang di semua fasilitas umum, termasuk rumah sakit dan tempat ibadah.
Beberapa pihak merasa ragu apakah kualitas WiFi-nya bisa diandalkan, dan sebagian orang bahkan menduga ini adalah upaya menggalang suara menjelang putaran kedua pemilihan Gubernur DKI tanggal 20 September. Dalam pemilu ini, Foke harus berhadapan dengan Joko Widodo alias Jokowi, tokoh populer yang saat ini menjabat wali kota Solo. Persaingannya begitu ketat, kata para pengamat, sehingga suara dari segelintir pengguna Twitter bisa sangat berpengaruh.
Foke menampik anggapan bahwa internet gratis ini adalah alat untuk “membeli” suara. Kepada media, ia menegaskan gagasan ini sudah ada sebelum ia sadar bahwa persaingan di pemilu akan sangat ketat.
Para pendukung Jokowi memang selama ini telah mencoba merangkul pemilih-pemilih muda yang melek teknologi.
Belum lama ini, fans Jokowi meluncurkan sebuah permainan mirip Angry Birds dengan sang cagub sebagai tokoh utama. Dalam game itu, Jokowi harus memberantas musuh-musuh Jakarta, seperti koruptor dan preman.
Sementara itu, sebuah video YouTube yang mendukung Jokowi menjadi populer dan telah dilihat lebih dari 800.000 kali. Video itu menampilkan parodi lagu “What Makes You Beautiful,” tembang populer dari boy band Inggris One Direction. Lirik lagunya mengkritik kegagalan pemerintah DKI mengurai kemacetan dan memberikan pelayanan masyarakat yang memuaskan.
Budi Siswanto, sekretaris tim sukses Foke, berkata peluang kandidatnya di pemilu nanti tidak terpengaruh oleh game atau lagi itu. Menurut Budi, Foke memasang WiFi gratis itu hanya untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
“Fokus kami adalah soft campaign, seperti bertemu langsung dengan warga dan mendengarkan apa kata mereka mengenai masalah yang dihadapi, serta bagaimana ide mereka untuk memperbaiki Jakarta,” ujarnya. “Kami juga mengincar mereka yang belum menentukan pilihan. Ada 2,5 juta orang yang tidak memilih di putaran pertama.”
Jadi, mana yang akan menentukan siapa yang bakal memimpin ibu kota berikutnya? Parodi lagu atau download kencang di kala macet? Masih belum jelas, tapi beberapa sudah merasa ragu apakah kualitas gratisan itu bisa diandalkan. Seorang pengguna Twitter bernama Anna Soemarmo Tandayu bertanya: “Habis kampanye, mati nggak WiFi-nya?”
Sumber : http://realtime.wsj.com/indonesia/2012/09/03/wifi-gratis-untuk-jakarta-yang-macet/?mod=google_news_blog
Bulan ini, pemerintah ibu kota berencana mengaktifkan internet nirkabel (WiFi) gratis di beberapa ruas jalan protokol. Warga Jakarta, yang tergila-gila Twitter dan Facebook, bisa membuang waktu di jalanan dengan lebih efisien.
Para pemilik mobil dengan supir, para pengguna taksi, atau penumpang ojek bisa mengirim status dengan gratis, berkat wireless hotspot yang saat ini tengah dipasang, kata Gubernur Jakarta Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke.
“Pemda DKI tidak mengeluarkan satu rupiah pun untuk internet gratis ini,” ujarnya dalam konferensi pers. “Hotspot disediakan oleh pihak swasta yang memasang kabel serat optik di jalanan.”
Pemerintah kota Jakarta menyatakan WiFi di jalan utama ini adalah langkah pertama dalam rencana mereka menjadikan ibu kota sebagai salah satu kota dengan koneksi internet paling luas di dunia pada 2015. Dalam rencana itu, internet gratis ini akan dipasang di semua fasilitas umum, termasuk rumah sakit dan tempat ibadah.
Beberapa pihak merasa ragu apakah kualitas WiFi-nya bisa diandalkan, dan sebagian orang bahkan menduga ini adalah upaya menggalang suara menjelang putaran kedua pemilihan Gubernur DKI tanggal 20 September. Dalam pemilu ini, Foke harus berhadapan dengan Joko Widodo alias Jokowi, tokoh populer yang saat ini menjabat wali kota Solo. Persaingannya begitu ketat, kata para pengamat, sehingga suara dari segelintir pengguna Twitter bisa sangat berpengaruh.
Foke menampik anggapan bahwa internet gratis ini adalah alat untuk “membeli” suara. Kepada media, ia menegaskan gagasan ini sudah ada sebelum ia sadar bahwa persaingan di pemilu akan sangat ketat.
Para pendukung Jokowi memang selama ini telah mencoba merangkul pemilih-pemilih muda yang melek teknologi.
Belum lama ini, fans Jokowi meluncurkan sebuah permainan mirip Angry Birds dengan sang cagub sebagai tokoh utama. Dalam game itu, Jokowi harus memberantas musuh-musuh Jakarta, seperti koruptor dan preman.
Sementara itu, sebuah video YouTube yang mendukung Jokowi menjadi populer dan telah dilihat lebih dari 800.000 kali. Video itu menampilkan parodi lagu “What Makes You Beautiful,” tembang populer dari boy band Inggris One Direction. Lirik lagunya mengkritik kegagalan pemerintah DKI mengurai kemacetan dan memberikan pelayanan masyarakat yang memuaskan.
Budi Siswanto, sekretaris tim sukses Foke, berkata peluang kandidatnya di pemilu nanti tidak terpengaruh oleh game atau lagi itu. Menurut Budi, Foke memasang WiFi gratis itu hanya untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
“Fokus kami adalah soft campaign, seperti bertemu langsung dengan warga dan mendengarkan apa kata mereka mengenai masalah yang dihadapi, serta bagaimana ide mereka untuk memperbaiki Jakarta,” ujarnya. “Kami juga mengincar mereka yang belum menentukan pilihan. Ada 2,5 juta orang yang tidak memilih di putaran pertama.”
Jadi, mana yang akan menentukan siapa yang bakal memimpin ibu kota berikutnya? Parodi lagu atau download kencang di kala macet? Masih belum jelas, tapi beberapa sudah merasa ragu apakah kualitas gratisan itu bisa diandalkan. Seorang pengguna Twitter bernama Anna Soemarmo Tandayu bertanya: “Habis kampanye, mati nggak WiFi-nya?”
Sumber : http://realtime.wsj.com/indonesia/2012/09/03/wifi-gratis-untuk-jakarta-yang-macet/?mod=google_news_blog
Label:
internet
,
jakarta
,
jalan
,
kemacetan
,
menentukan
,
orang
,
pemerintah
Jumat, 10 Agustus 2012
Rumah "Manusia Gerobak", dari Kumpulan yang Terbuang
JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak banyak warga yang melintasi Jalan Tebet Barat Raya sadar jika di balik jejeran gerobak sampah dan barang rongsokan di salah satu sisi jalan tersebut terdapat 30 rumah petak tak layak huni. Jejeran pondokan yang berdiri di atas areal sempit yang tak sedap dipandang mata itu disebut Depo II PHL (pekerja harian lepas) kebersihan. Mereka yang tinggal di tempat tersebut adalah orang-orang yang sehari-hari mengumpulkan sampah dari rumah warga dan membersihkan jalan-jalan kota di wilayah Tebet Barat.
Rumah gubuk yang ditempati keluarga para PHL itu pun rasanya kurang pantas jika disebut tak jauh dari profesi mereka. Rumah pasangan suami-istri Hasan dan Wulan bisa menjadi contoh. Rumah yang berukuran sekitar 4x3 meter itu dibagun laksana kumpulan barang-barang buangan. Beragam jenis barang yang biasa difungsikan sebagai atap bercampur baur menjadi satu rangkaian penutup rumah. Potongan seng, genteng, asbes hingga terpal dialasi potongan bambu menjadi kombinasi tak beraturan dari atap sederhana.
Dinding rumah itu tak jauh berbeda. Potongan lembaran tripleks, potongan terpal, sisa-sisa spanduk, dan lembaran seng yang tak utuh menjadi kombinasi tak kompak dinding rumah yang ditempeli kertas koran ala kadarnya. Hanya bagian belakang rumah yang berlapiskan tembok. Itupun karena gubuk tersebut langsung menempel pada dinding tembok pembatas area depo.
Alas rumah pun tak kalah "hebohnya". Rangkaian pecahan keramik dengan jenis dan warna yang tak lagi jelas belum sepenuhnya menutup tanah. Alhasil, tanah cokelat masih mendominasi seperempat bagian lantai. Perlengkapan dan perabot rumah jauh dari kesan indah. Sebuah springbed bekas menjadi tempat tidur keluarga sekaligus tempat bermain yang nyaman bagi dua anak mereka.
Dinding di samping tempat tidur dilapisi cermin berukuran lumayan besar menjadi bagian termewah di gubuk itu. Selebihnya terdapat dua lemari tua untuk menyimpan pakaian, satu lemari kecil yang kedua pintunya telah lepas, sebuah kasur yang digeletakkan di lantai beralaskan terpal dan sebuah kipas angin.
Ada juga sebuah kulkas bekas yang tidak benar-benar berfungsi sebagai pendingin makanan. "Saya bangun sendiri rumah ini. Semuanya dari barang-barang yang sudah dibuang orang atau nemu di jalan," kata Hasan kepada Kompas.com yang menjadi tamunya, Rabu (8/8/2012).
Perabot rumah tangga yang dimiliki Hasan juga punya sejarah yang tak jauh berbeda. Selain kipas angin, semua barang lainnya adalah barang-barang bekas pakai. Tempat tidur, lemari, dan cermin adalah barang bekas yang diberikan warga Tebet yang lebih mampu. Sedangkan kulkas dibeli Hasan dari seorang pelego barang bekas.
Maka, benar kata Hasan, rumahnya bisa disebut sebagai mozaik dari barang-barang yang terbuang. Pernak-pernik rongsokan yang menyatu menjadi bangunan rumah dan isinya belum terajut rapi dan terkesan darurat. Tapi, itulah simbol kehidupan ke-30 PHL itu. Dengan gaji harian yang kecil, yang jomplang dengan tuntutan kebutuhan ekonomi kehidupan di Ibu Kota setiap hari adalah situasi darurat bagi mereka.
"Yah, beginilah kami. Biar gaji sudah naik (dari Rp 27.000 ke Rp 35.000/hari), kami masih harus tutup sana tutup sini. Habis terima langsung habis lagi buat nutupin utang," kata Sanin, PHL yang tinggal di sebelah rumah Hasan.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka terpaksa mencari pekerjaan tambahan. Hasan mengumpulkan barang bekas. Istrinya Wulan menjadi pemulung. Sabana, rekan Hasan, menjadi tukang odong-odong. Sedangkan Sanin, Aji, dan Rosidi selalu siap mengerjakan kerja-kerja pesanan yang diminta warga.
"Lumayan, buat tambahan makan minum," ujar Sanin.
Itu benar, untuk sekadar tambahan memenuhi kebutuhan perut, tapi bukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Putra sulung Sanin beruntung bisa diangkat anak oleh seorang pemilik pondok pesantren. Ia saat ini tinggal di ponpes ayah angkatnya serta mengikuti pendidikan hingga tingkat SMA. Sementara putra kedua Sanin yang tinggal bersamanya hanya berijazah SD. Remaja berusia 14 tahun itu terpaksa harus ikut mencari makan dengan bekerja serabutan.
"Pasti tidak cukup. Tapi ya alhamdullilah, hampir setiap hari ada saja orang lewat yang ngasih lima ribu rupiah atau sepuluh ribu rupiah. Bisa untuk tambahan buat beli makan dan jajanan anak. Kalau ngandalin gaji PHL sama mulung, mana mungkin kami kuat," kata Hasan.
Dengan status darurat dari hari ke hari, nasib pria berusia 79 tahun itu dan rekan-rekannya sesama PHL, menjadi serba tak pasti. Hidup Hasan dkk di Depo II Tebet Barat tak jauh berbeda dari kondisi rumah mereka, kumpulan yang terbuang, yang tersisihkan.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/09/10160273/Rumah.Manusia.Gerobak.dari.Kumpulan.yang.Terbuang
Rumah gubuk yang ditempati keluarga para PHL itu pun rasanya kurang pantas jika disebut tak jauh dari profesi mereka. Rumah pasangan suami-istri Hasan dan Wulan bisa menjadi contoh. Rumah yang berukuran sekitar 4x3 meter itu dibagun laksana kumpulan barang-barang buangan. Beragam jenis barang yang biasa difungsikan sebagai atap bercampur baur menjadi satu rangkaian penutup rumah. Potongan seng, genteng, asbes hingga terpal dialasi potongan bambu menjadi kombinasi tak beraturan dari atap sederhana.
Dinding rumah itu tak jauh berbeda. Potongan lembaran tripleks, potongan terpal, sisa-sisa spanduk, dan lembaran seng yang tak utuh menjadi kombinasi tak kompak dinding rumah yang ditempeli kertas koran ala kadarnya. Hanya bagian belakang rumah yang berlapiskan tembok. Itupun karena gubuk tersebut langsung menempel pada dinding tembok pembatas area depo.
Alas rumah pun tak kalah "hebohnya". Rangkaian pecahan keramik dengan jenis dan warna yang tak lagi jelas belum sepenuhnya menutup tanah. Alhasil, tanah cokelat masih mendominasi seperempat bagian lantai. Perlengkapan dan perabot rumah jauh dari kesan indah. Sebuah springbed bekas menjadi tempat tidur keluarga sekaligus tempat bermain yang nyaman bagi dua anak mereka.
Dinding di samping tempat tidur dilapisi cermin berukuran lumayan besar menjadi bagian termewah di gubuk itu. Selebihnya terdapat dua lemari tua untuk menyimpan pakaian, satu lemari kecil yang kedua pintunya telah lepas, sebuah kasur yang digeletakkan di lantai beralaskan terpal dan sebuah kipas angin.
Ada juga sebuah kulkas bekas yang tidak benar-benar berfungsi sebagai pendingin makanan. "Saya bangun sendiri rumah ini. Semuanya dari barang-barang yang sudah dibuang orang atau nemu di jalan," kata Hasan kepada Kompas.com yang menjadi tamunya, Rabu (8/8/2012).
Perabot rumah tangga yang dimiliki Hasan juga punya sejarah yang tak jauh berbeda. Selain kipas angin, semua barang lainnya adalah barang-barang bekas pakai. Tempat tidur, lemari, dan cermin adalah barang bekas yang diberikan warga Tebet yang lebih mampu. Sedangkan kulkas dibeli Hasan dari seorang pelego barang bekas.
Maka, benar kata Hasan, rumahnya bisa disebut sebagai mozaik dari barang-barang yang terbuang. Pernak-pernik rongsokan yang menyatu menjadi bangunan rumah dan isinya belum terajut rapi dan terkesan darurat. Tapi, itulah simbol kehidupan ke-30 PHL itu. Dengan gaji harian yang kecil, yang jomplang dengan tuntutan kebutuhan ekonomi kehidupan di Ibu Kota setiap hari adalah situasi darurat bagi mereka.
"Yah, beginilah kami. Biar gaji sudah naik (dari Rp 27.000 ke Rp 35.000/hari), kami masih harus tutup sana tutup sini. Habis terima langsung habis lagi buat nutupin utang," kata Sanin, PHL yang tinggal di sebelah rumah Hasan.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka terpaksa mencari pekerjaan tambahan. Hasan mengumpulkan barang bekas. Istrinya Wulan menjadi pemulung. Sabana, rekan Hasan, menjadi tukang odong-odong. Sedangkan Sanin, Aji, dan Rosidi selalu siap mengerjakan kerja-kerja pesanan yang diminta warga.
"Lumayan, buat tambahan makan minum," ujar Sanin.
Itu benar, untuk sekadar tambahan memenuhi kebutuhan perut, tapi bukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Putra sulung Sanin beruntung bisa diangkat anak oleh seorang pemilik pondok pesantren. Ia saat ini tinggal di ponpes ayah angkatnya serta mengikuti pendidikan hingga tingkat SMA. Sementara putra kedua Sanin yang tinggal bersamanya hanya berijazah SD. Remaja berusia 14 tahun itu terpaksa harus ikut mencari makan dengan bekerja serabutan.
"Pasti tidak cukup. Tapi ya alhamdullilah, hampir setiap hari ada saja orang lewat yang ngasih lima ribu rupiah atau sepuluh ribu rupiah. Bisa untuk tambahan buat beli makan dan jajanan anak. Kalau ngandalin gaji PHL sama mulung, mana mungkin kami kuat," kata Hasan.
Dengan status darurat dari hari ke hari, nasib pria berusia 79 tahun itu dan rekan-rekannya sesama PHL, menjadi serba tak pasti. Hidup Hasan dkk di Depo II Tebet Barat tak jauh berbeda dari kondisi rumah mereka, kumpulan yang terbuang, yang tersisihkan.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/09/10160273/Rumah.Manusia.Gerobak.dari.Kumpulan.yang.Terbuang
Label:
barat
,
berukuran
,
hasan
,
jalan
,
jenis
,
kebutuhan
,
kehidupan
,
kombinasi
,
mengumpulkan
,
orang
,
pendidikan
,
rongsokan
Rabu, 25 Juli 2012
Nasib "Romusa" Cililitan
KOMPAS.com — "Sering kali kau merendahkanku, melihat dengan sebelah bola matamu, aku bukan siapa-siapa." Lirik lagu salah satu kelompok musik terkenal Ibu Kota tersebut mengalir sumbang, dipadu genjrengan gitar kecil milik Diwa Pinasdi (15).
Menjelang adzan maghrib, remaja putus sekolah itu masih saja mengamen di salah satu ruas jalan di persimpangan Cililitan, Jakarta Timur.
"Ngamen sejak kelas 2 SD. Ya pengin aja. Penginnya keluar rumah aja," ujarnya saat ditemui pada Senin (23/7/2012) malam.
Senada dengan anak jalanan kebanyakan, Diwa berasal dari keluarga romusa. "Rombongan orang susah," ujarnya santai disertai sesungging senyum. "Kakak saya satu, satpam, adik dua masih kecil-kecil," katanya.
Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan umum 06 jurusan Pasar Rebo-Cililitan, sementara sang ibu hanya ibu rumah tangga biasa.
Selain mengamen, Diwa mengaku kerap jadi "atlet lari" dadakan ketika berhadapan dengan Satpol PP. "Lumayan, biar bapak enggak berat-berat amat. Gua kan bisa makan sendiri," ujarnya.
Segelas teh manis dicampur es ditenggaknya. Menyegarkan kerongkongan yang dipakainya untuk jual suara, sejak pukul 09.00 pagi. Sejenak, gitar kecil yang dibelinya sendiri itu disandarkan di taman kecil di persimpangan Cililitan, tempat ia biasa mangkal bersama belasan remaja dan anak seprofesi.
Ketika ditanya sampai kapan akan mengamen, dia sedikit tersentak dan diam. "Maunya sampai dapat kerja. Kerja dagang aja di pasar induk," lanjut remaja yang semula bercita-cita sebagai pilot tersebut.
Rentan berhadapan dengan hukum
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, anak dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, seperti Diwa, rentan terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum.
Dengan latar belakang demikian, terlebih pengawasan orangtua lemah, sang anak menghadapi tantangan hidup sendirian.
Berdasarkan data yang dimilikinya, setidaknya tercatat 788 kasus anak berhadapan dengan hukum. Sebanyak 759 anak laki-laki, sementara 29 perempuan dengan klasifikasi usia paling banyak antara 13 tahun dan 17 tahun dan sebanyak 9 orang berusia 6-12 tahun.
"Kasus yang paling banyak 312 kasus, disusul kekerasan 128 kasus, senjata tajam 119 kasus, narkoba 79 kasus, perjudian 37 kasus, pelecehan seksual 24 kasus, pembunuhan 6 kasus, dan penculikan 2 kasus," paparnya.
Untuk pengamen jalanan, ia setuju dengan langkah pemerintah dengan melakukan langkah represif, memasukkan anak-anak jalanan ke panti dinas sosial.
Menurut Arist, langkah tersebut tidaklah masalah, asalkan, pembinaan di dalam panti tersebut benar-benar dilakukan secara serius.
"Ya harus dibina sesuai spesifikasi mereka. Jangan malah dipidana. Kalau dipidana, mereka akan belajar kriminal lebih canggih lagi," lanjutnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/24/17322062/Nasib.Romusa.Cililitan
Menjelang adzan maghrib, remaja putus sekolah itu masih saja mengamen di salah satu ruas jalan di persimpangan Cililitan, Jakarta Timur.
"Ngamen sejak kelas 2 SD. Ya pengin aja. Penginnya keluar rumah aja," ujarnya saat ditemui pada Senin (23/7/2012) malam.
Senada dengan anak jalanan kebanyakan, Diwa berasal dari keluarga romusa. "Rombongan orang susah," ujarnya santai disertai sesungging senyum. "Kakak saya satu, satpam, adik dua masih kecil-kecil," katanya.
Sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan umum 06 jurusan Pasar Rebo-Cililitan, sementara sang ibu hanya ibu rumah tangga biasa.
Selain mengamen, Diwa mengaku kerap jadi "atlet lari" dadakan ketika berhadapan dengan Satpol PP. "Lumayan, biar bapak enggak berat-berat amat. Gua kan bisa makan sendiri," ujarnya.
Segelas teh manis dicampur es ditenggaknya. Menyegarkan kerongkongan yang dipakainya untuk jual suara, sejak pukul 09.00 pagi. Sejenak, gitar kecil yang dibelinya sendiri itu disandarkan di taman kecil di persimpangan Cililitan, tempat ia biasa mangkal bersama belasan remaja dan anak seprofesi.
Ketika ditanya sampai kapan akan mengamen, dia sedikit tersentak dan diam. "Maunya sampai dapat kerja. Kerja dagang aja di pasar induk," lanjut remaja yang semula bercita-cita sebagai pilot tersebut.
Rentan berhadapan dengan hukum
Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, anak dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, seperti Diwa, rentan terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum.
Dengan latar belakang demikian, terlebih pengawasan orangtua lemah, sang anak menghadapi tantangan hidup sendirian.
Berdasarkan data yang dimilikinya, setidaknya tercatat 788 kasus anak berhadapan dengan hukum. Sebanyak 759 anak laki-laki, sementara 29 perempuan dengan klasifikasi usia paling banyak antara 13 tahun dan 17 tahun dan sebanyak 9 orang berusia 6-12 tahun.
"Kasus yang paling banyak 312 kasus, disusul kekerasan 128 kasus, senjata tajam 119 kasus, narkoba 79 kasus, perjudian 37 kasus, pelecehan seksual 24 kasus, pembunuhan 6 kasus, dan penculikan 2 kasus," paparnya.
Untuk pengamen jalanan, ia setuju dengan langkah pemerintah dengan melakukan langkah represif, memasukkan anak-anak jalanan ke panti dinas sosial.
Menurut Arist, langkah tersebut tidaklah masalah, asalkan, pembinaan di dalam panti tersebut benar-benar dilakukan secara serius.
"Ya harus dibina sesuai spesifikasi mereka. Jangan malah dipidana. Kalau dipidana, mereka akan belajar kriminal lebih canggih lagi," lanjutnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/24/17322062/Nasib.Romusa.Cililitan
Label:
arist
,
berhadapan
,
cililitan
,
orang
,
persimpangan
,
salah
Selasa, 24 Juli 2012
Bocah Bertarung Hidup di Gemerlapnya Jakarta
Jakarta Tak semua anak bisa merayakan peringatan Hari Anak Nasional. Febry (15) salah satunya. Remaja ini harus bertarung hidup ditengah gemerlapnya Jakarta dengan mengamen.
Selama bertahun-tahun Febry harus merasakan teriknya matahari dan tebalnya asap knalpot demi melanjutkan hidupnya. Dia biasa mengamen di sekitar Cililitan, Jakarta Timur. Meski begitu ia masih menyimpan harapan untuk dapat bersekolah.
"Saya juga inginnya bisa sekolah, ingin meneruskan cita-cita saya sebagai TNI supaya bisa melindungi rakyat dan banggain orangtua saya," ujar Febry saat ditemui detikcom di seputaran Pusat Grosir Cililitan (PGC), Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7/2012).
Febry mengaku setiap harinya ia berangkat dari kontrakannya di daerah Condet sejak pukul 06.00 WIB kemudian memutari kawasan PGC. Terkadang ia harus mengamen di beberapa angkutan umum jurusan Pasar Minggu dan kembali ke PGC menjelang petang.
Tak berhenti di situ, Febry masih terus mengamen hingga pukul 22.00 WIB di kawasan pusat perbelanjaan tersebut. Penghasilannya sehari rata-rata berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
"Tapi kalau sekarang lagi sepi, enggak macet," kata Febry yang mengaku hari ini hanya mendapatkan Rp 8.000," ujarnya..
Tak berapa lama adzan Maghrib berkumandang, Febry pun lekas meminta izin untuk membeli semangkuk Soto Ayam untuk berbuka puasa dengan hasil ngamennya tadi. Rupanya satu mangkuk Soto itu tak hanya dinikmati oleh Febry sendiri. Ia bersama kawan-kawan pengamen lainnya ikut mengeroyok semangkuk Soto Ayam yang terlihat masih panas itu.
"Dulu saya sempat tidak ngamen karena dimarahi orangtua," cerita Febry usai berbuka puasa. Ia pun sempat ikut orang lain berjualan buah Duren.
"Kadang kalau lagi sepi saya melamun suka kangen kumpul bareng anak-anak jalanan lain, karena disitu saya merasakan senang maupun susah," sambungnya.
Selama menjadi pengamen, Febry mengaku belum pernah terjaring razia penertiban oleh Satpol PP. Namun adiknya yang juga seorang pengamen sudah pernah terjaring razia sebanyak 4 kali. Untuk membebaskan adiknya, Febry harus merogeh kocek yanng cukup dalam.
"Terakhir saya tebus bayar Rp 200.000. Adik saya juga cerita kalau ada pengamen yang meninggal di panti di daerah Cipayung karena sakit. Tapi orangtuanya tidak tahu akhirnya dikubur massal gitu saja," kata Febry yang menyesalkan kejadian tersebut.
Febry sendiri berharap ada perubahan perilaku Satpol PP dalam menertibkan para pengamen. "Jangan dipukul, kan bisa bilang baik-baik jangan ngamen, kita juga mengerti," pinta Febry.
Di Hari Anak Nasional ini, Febry berharap bisa mencicipi kebahagian seperti yang dirasakan anak-anak lain. "Berkumpul bersama keluarga, mendapat pelukan dan kasih sayang orangtua. Tapi itu tidak mungkin karena saya bekerja untuk membantu orang tua saya," tutupnya dengan pandangan mata nerawang jauh ke depan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/07/24/065020/1972933/10/bocah-bertarung-hidup-di-gemerlapnya-jakarta?9911012
Selama bertahun-tahun Febry harus merasakan teriknya matahari dan tebalnya asap knalpot demi melanjutkan hidupnya. Dia biasa mengamen di sekitar Cililitan, Jakarta Timur. Meski begitu ia masih menyimpan harapan untuk dapat bersekolah.
"Saya juga inginnya bisa sekolah, ingin meneruskan cita-cita saya sebagai TNI supaya bisa melindungi rakyat dan banggain orangtua saya," ujar Febry saat ditemui detikcom di seputaran Pusat Grosir Cililitan (PGC), Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7/2012).
Febry mengaku setiap harinya ia berangkat dari kontrakannya di daerah Condet sejak pukul 06.00 WIB kemudian memutari kawasan PGC. Terkadang ia harus mengamen di beberapa angkutan umum jurusan Pasar Minggu dan kembali ke PGC menjelang petang.
Tak berhenti di situ, Febry masih terus mengamen hingga pukul 22.00 WIB di kawasan pusat perbelanjaan tersebut. Penghasilannya sehari rata-rata berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000.
"Tapi kalau sekarang lagi sepi, enggak macet," kata Febry yang mengaku hari ini hanya mendapatkan Rp 8.000," ujarnya..
Tak berapa lama adzan Maghrib berkumandang, Febry pun lekas meminta izin untuk membeli semangkuk Soto Ayam untuk berbuka puasa dengan hasil ngamennya tadi. Rupanya satu mangkuk Soto itu tak hanya dinikmati oleh Febry sendiri. Ia bersama kawan-kawan pengamen lainnya ikut mengeroyok semangkuk Soto Ayam yang terlihat masih panas itu.
"Dulu saya sempat tidak ngamen karena dimarahi orangtua," cerita Febry usai berbuka puasa. Ia pun sempat ikut orang lain berjualan buah Duren.
"Kadang kalau lagi sepi saya melamun suka kangen kumpul bareng anak-anak jalanan lain, karena disitu saya merasakan senang maupun susah," sambungnya.
Selama menjadi pengamen, Febry mengaku belum pernah terjaring razia penertiban oleh Satpol PP. Namun adiknya yang juga seorang pengamen sudah pernah terjaring razia sebanyak 4 kali. Untuk membebaskan adiknya, Febry harus merogeh kocek yanng cukup dalam.
"Terakhir saya tebus bayar Rp 200.000. Adik saya juga cerita kalau ada pengamen yang meninggal di panti di daerah Cipayung karena sakit. Tapi orangtuanya tidak tahu akhirnya dikubur massal gitu saja," kata Febry yang menyesalkan kejadian tersebut.
Febry sendiri berharap ada perubahan perilaku Satpol PP dalam menertibkan para pengamen. "Jangan dipukul, kan bisa bilang baik-baik jangan ngamen, kita juga mengerti," pinta Febry.
Di Hari Anak Nasional ini, Febry berharap bisa mencicipi kebahagian seperti yang dirasakan anak-anak lain. "Berkumpul bersama keluarga, mendapat pelukan dan kasih sayang orangtua. Tapi itu tidak mungkin karena saya bekerja untuk membantu orang tua saya," tutupnya dengan pandangan mata nerawang jauh ke depan.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/07/24/065020/1972933/10/bocah-bertarung-hidup-di-gemerlapnya-jakarta?9911012
Rabu, 06 Juni 2012
Pasar Pramuka, surganya penikmat burung
Jakarta (ANTARA News) - Kicauan burung dalam beragam irama ramai bersahutan di gang-gang sempit di pasar burung Pramuka, Jakarta.
Pasar yang terletak di pinggir Jalan Pramuka, Jakarta, ini sepertinya masih menjadi surganya para penikmat burung, karena berbagai jenis burung bisa ditemui di pasar itu. Mulai dari burung lokal hingga impor ada di situ, dan harganya dari ratusan ribu sampai yang jutaan rupiah.
Di kiri kanan terlihat burung-burung berbagai jenis, dipajang untuk menarik minat para pembeli. Mulai dari Kenari, Jalak, Cucak Jenggot, Anis Merah, Kacer sampai Murai Batu, semuanya ada.
"Namun, di sini primadonanya Murai Medan," kata Aldo Renaldo, salah seorang pedangang di lantai 3 pasar burung.
Aldo mengaku bisa menjual Murai Medan dengan harga Rp2.250.000,00. Menurutnya, burung yang ukurannya hanya segenggam tangan orang dewasa itu berharga mahal, karena punya suara indah.
Pedagang lainnya, Busono, mengatakan sudah bisa menjual 50 ekor Murai Medan dalam sehari. Padahal, burung tersebut baru sampai di tokonya kemarin.
Menurut Busono, Murai Medan merupakan yang paling mahal dan paling diminati dibandingkan dengan burung lain dalam jenisnya, seperti Murai Lampung, Jambi, dan Kalimantan.
"Murai Medan, bunyinya lebih merdu, lebih keras," kata pedagang yang telah berjualan di Pasar Pramuka lebih dari 20 tahun tersebut.
Burung yang bulunya berwarna dominan hitam, dan berdada oranye itu, memang banyak diburu oleh pembeli.
Suara Murai yang merdu juga sering dikompetisikan, dan hal itu pula yang menjadi salah satu faktor mendongkrak penjualan.
Pada April kemarin misalnya, digelar Presiden Cup 2 di Jakarta. Dan pada ajang itu, Murai Batu merupakan burung yang memiliki kelas kompetisi terbanyak.
Penghilang stres
Selain untuk dikompetisikan, burung juga bisa dipelihara untuk menghilangkan stres. Setidaknya itu pengakuan Gio, 40 tahun.
"Kalau ada burung di rumah, suaranya itu bikin nyaman, tenang," kata pengusaha yang sengaja datang ke Pasar Pramuka dari rumahnya di Solo, Jawa Tengah.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Priyatmoko, 52 tahun. Dia mengatakan sudah memelihara burung sejak masih anak-anak.
"Di rumah dengerin suaranya, buat ngilangin stres," katanya.
Ketika ditemui Antaranews di Pasar Pramuka, Priyatmoko sedang mencari-cari burung bersama anaknya Renaldi Wijayanto (16).
Karena pengaruh ayahnya, siswa kelas 1 SMA itu mengaku telah memiliki lebih dari delapan jenis burung dirumahnya, seperti Jalak Suren, Kenari, Pentet, Murai Batu, dan Parkit.
Untuk burung impor, para pembeli di Pasar Pramuka paling menyukai Love Bird. Burung ini hanya sebesar tiga jari orang dewasa, namun harganya bisa sampai jutaan rupiah.
"Kalau Love Bird mata merah, harganya lima juta", kata Sumadi, pedangang khusus burung impor.
Sumadi mengatakan, Love Bird yang dijual di kiosnya berasal dari Taiwan. Dalam satu hari, burung itu bisa terjual 25 pasang. Para pembeli biasanya tertarik dengan warnanya yang cantik, ada yang berbulu biru, hijau, dan putih.
Selain Love Bird, dijual juga burung impor lainnya yang berasal dari Belanda, Pakistan, sampai yang berasal dari benua Afrika.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/314320/pasar-pramuka-surganya-penikmat-burung
Pasar yang terletak di pinggir Jalan Pramuka, Jakarta, ini sepertinya masih menjadi surganya para penikmat burung, karena berbagai jenis burung bisa ditemui di pasar itu. Mulai dari burung lokal hingga impor ada di situ, dan harganya dari ratusan ribu sampai yang jutaan rupiah.
Di kiri kanan terlihat burung-burung berbagai jenis, dipajang untuk menarik minat para pembeli. Mulai dari Kenari, Jalak, Cucak Jenggot, Anis Merah, Kacer sampai Murai Batu, semuanya ada.
"Namun, di sini primadonanya Murai Medan," kata Aldo Renaldo, salah seorang pedangang di lantai 3 pasar burung.
Aldo mengaku bisa menjual Murai Medan dengan harga Rp2.250.000,00. Menurutnya, burung yang ukurannya hanya segenggam tangan orang dewasa itu berharga mahal, karena punya suara indah.
Pedagang lainnya, Busono, mengatakan sudah bisa menjual 50 ekor Murai Medan dalam sehari. Padahal, burung tersebut baru sampai di tokonya kemarin.
Menurut Busono, Murai Medan merupakan yang paling mahal dan paling diminati dibandingkan dengan burung lain dalam jenisnya, seperti Murai Lampung, Jambi, dan Kalimantan.
"Murai Medan, bunyinya lebih merdu, lebih keras," kata pedagang yang telah berjualan di Pasar Pramuka lebih dari 20 tahun tersebut.
Burung yang bulunya berwarna dominan hitam, dan berdada oranye itu, memang banyak diburu oleh pembeli.
Suara Murai yang merdu juga sering dikompetisikan, dan hal itu pula yang menjadi salah satu faktor mendongkrak penjualan.
Pada April kemarin misalnya, digelar Presiden Cup 2 di Jakarta. Dan pada ajang itu, Murai Batu merupakan burung yang memiliki kelas kompetisi terbanyak.
Penghilang stres
Selain untuk dikompetisikan, burung juga bisa dipelihara untuk menghilangkan stres. Setidaknya itu pengakuan Gio, 40 tahun.
"Kalau ada burung di rumah, suaranya itu bikin nyaman, tenang," kata pengusaha yang sengaja datang ke Pasar Pramuka dari rumahnya di Solo, Jawa Tengah.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Priyatmoko, 52 tahun. Dia mengatakan sudah memelihara burung sejak masih anak-anak.
"Di rumah dengerin suaranya, buat ngilangin stres," katanya.
Ketika ditemui Antaranews di Pasar Pramuka, Priyatmoko sedang mencari-cari burung bersama anaknya Renaldi Wijayanto (16).
Karena pengaruh ayahnya, siswa kelas 1 SMA itu mengaku telah memiliki lebih dari delapan jenis burung dirumahnya, seperti Jalak Suren, Kenari, Pentet, Murai Batu, dan Parkit.
Untuk burung impor, para pembeli di Pasar Pramuka paling menyukai Love Bird. Burung ini hanya sebesar tiga jari orang dewasa, namun harganya bisa sampai jutaan rupiah.
"Kalau Love Bird mata merah, harganya lima juta", kata Sumadi, pedangang khusus burung impor.
Sumadi mengatakan, Love Bird yang dijual di kiosnya berasal dari Taiwan. Dalam satu hari, burung itu bisa terjual 25 pasang. Para pembeli biasanya tertarik dengan warnanya yang cantik, ada yang berbulu biru, hijau, dan putih.
Selain Love Bird, dijual juga burung impor lainnya yang berasal dari Belanda, Pakistan, sampai yang berasal dari benua Afrika.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/314320/pasar-pramuka-surganya-penikmat-burung
Label:
dikompetisikan
,
jenis
,
mahal
,
medan
,
orang
,
pedangang
,
priyatmoko
,
salah
Kamis, 31 Mei 2012
Ngatasi Macet Dalam Sekejap? Mimpi Kali Ye...
INILAH.COM, Jakarta - Tak disangkal, kemacetan Jakarta terancam kian parah bila tak segera diantisipasi. Namun upaya mengatasi kemacetan tidaklah bisa instan. Banyaknya faktor penyebab yang membuat kemacetan sulit diurai.
Lepas subuh, Iskandar melaju dengan mobilnya dari rumahnya di kawasan Bekasi Timur. Langsung masuk tol Jakarta – Cikampek, lanjut ke jalan tol lingkar dalam, keluar di gerbang tol Tegal Parang, berbelok ke kawasan Kuningan, tempatnya berkantor sebagai staf senior di sebuah kantor pengacara.
Toh Iskandar mengaku tak setiap hari menggunakan mobil ke kantornya. Alasannya, kemacetan Jakarta bertambah parah. “Kalau tak mau mengemudi sendiri, mobil dititipkan di parkiran di Bulak Kapal, sambung bus kota AC. Atau sesekali dititipkan di Stasiun Bekasi, sambung KRL ke Kota dan lanjut bus TransJakarta, kalau memang ada agenda pekerjaan di Kota, Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman,” terangnya.
Kenyataan memang menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta kian hari kian bertambah lama. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas PMJ) menyebut, jika beberapa tahun lalu kepadatan lalu lintas sudah terurai sekitar pukul 21.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 23.00 WIB. Ditlantas PMJ memperkirakan, bila tidak segera diatasi maka dalam beberapa waktu mendatang, bisa saja kemacetan baru terurai lepas tengah malam.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tak menampik bila kemacetan saat ini menjadi salah satu persoalan utama di Ibukota. Namun demikian dikatakan pria berkumis yang akrab disapa Bang Foke ini, upaya untuk mengatasinya bukan tak dilakukan. Hanya saja, semua tidak bisa diselesaikan instan karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
“Jadi kalau ada orang yang menyebut ada solusi instan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, saya kira orang itu perlu belajar lebih lanjut soal transportasi umum megapolitan,” kata Fauzi Bowo
Setuju atau tidak, untuk mengatasi kemacetan memang bukan pekerjaan gampang. Bagaimanapun Jakarta tak bisa berjalan sendiri, tanpa mengacuhkan daerah-daerah yang menjadi penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap kebijakan yang akan diberlakukan, harus memperhitungkan dukungan dari daerah-daerah penyangga tersebut, beserta yang bisa ditimbulkan.
Adalah kenyataan lain kalau sebagian warga yang beraktivitas di Jakarta, justru tinggal di Bodetabek yang menjadi daerah sub-urban. Keberadaan mereka inilah yang setiap harinya mewarnai pergerakan dan perjalanan, terutama pada pagi dan sore hari.
Data dari Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI) Commuter Survey tahun 2010, menyebut, setidaknya ada 1.105.000 perjalanan ulang-alik ke Jakarta dari Tangerang dan Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok dan Bogor, Kabupaten Depok, ataupun Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2002, sebanyak 743.000 perjalanan.
Dari survei yang sama, moda transportasi yang digunakan warga adalah 48,7% sepeda motor. Padahal sewindu sebelumnya, baru 21,2% saja warga yang menggunakan sepeda motor, sementara bus kota dan angkutan umum masih mendominasi hingga 38,3%. Pada tahun 2010 berdasar survei tersebut, pengguna bus kota dan angkutan umum anjlok jadi 13,5%.
Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar, untuk kembali memaksa masyarakat beralih menggunakan bus kota dan angkutan umum. Diperlukan konsep angkutan umum terintegrasi antara DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyangga. Hal yang sebenarnya sudah lama diupayakan, namun baru dapat diwujudkan saat ini melalui Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway.
Sebagai gubernur, Bang Foke—demikian Fauzi Bowo sering disapa-- sendiri menyadari tidak mudah menata kembali keberadaan angkutan umum di Ibukota. Meski demikian ia menegaskan, akan terus fokus pada perbaikan dan revitalisasi angkutan umum serta membuat semuanya terintegrasi, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1866045/ngatasi-macet-dalam-sekejap-mimpi-kali-ye
Lepas subuh, Iskandar melaju dengan mobilnya dari rumahnya di kawasan Bekasi Timur. Langsung masuk tol Jakarta – Cikampek, lanjut ke jalan tol lingkar dalam, keluar di gerbang tol Tegal Parang, berbelok ke kawasan Kuningan, tempatnya berkantor sebagai staf senior di sebuah kantor pengacara.
Toh Iskandar mengaku tak setiap hari menggunakan mobil ke kantornya. Alasannya, kemacetan Jakarta bertambah parah. “Kalau tak mau mengemudi sendiri, mobil dititipkan di parkiran di Bulak Kapal, sambung bus kota AC. Atau sesekali dititipkan di Stasiun Bekasi, sambung KRL ke Kota dan lanjut bus TransJakarta, kalau memang ada agenda pekerjaan di Kota, Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman,” terangnya.
Kenyataan memang menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta kian hari kian bertambah lama. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas PMJ) menyebut, jika beberapa tahun lalu kepadatan lalu lintas sudah terurai sekitar pukul 21.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 23.00 WIB. Ditlantas PMJ memperkirakan, bila tidak segera diatasi maka dalam beberapa waktu mendatang, bisa saja kemacetan baru terurai lepas tengah malam.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tak menampik bila kemacetan saat ini menjadi salah satu persoalan utama di Ibukota. Namun demikian dikatakan pria berkumis yang akrab disapa Bang Foke ini, upaya untuk mengatasinya bukan tak dilakukan. Hanya saja, semua tidak bisa diselesaikan instan karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
“Jadi kalau ada orang yang menyebut ada solusi instan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, saya kira orang itu perlu belajar lebih lanjut soal transportasi umum megapolitan,” kata Fauzi Bowo
Setuju atau tidak, untuk mengatasi kemacetan memang bukan pekerjaan gampang. Bagaimanapun Jakarta tak bisa berjalan sendiri, tanpa mengacuhkan daerah-daerah yang menjadi penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap kebijakan yang akan diberlakukan, harus memperhitungkan dukungan dari daerah-daerah penyangga tersebut, beserta yang bisa ditimbulkan.
Adalah kenyataan lain kalau sebagian warga yang beraktivitas di Jakarta, justru tinggal di Bodetabek yang menjadi daerah sub-urban. Keberadaan mereka inilah yang setiap harinya mewarnai pergerakan dan perjalanan, terutama pada pagi dan sore hari.
Data dari Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI) Commuter Survey tahun 2010, menyebut, setidaknya ada 1.105.000 perjalanan ulang-alik ke Jakarta dari Tangerang dan Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok dan Bogor, Kabupaten Depok, ataupun Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2002, sebanyak 743.000 perjalanan.
Dari survei yang sama, moda transportasi yang digunakan warga adalah 48,7% sepeda motor. Padahal sewindu sebelumnya, baru 21,2% saja warga yang menggunakan sepeda motor, sementara bus kota dan angkutan umum masih mendominasi hingga 38,3%. Pada tahun 2010 berdasar survei tersebut, pengguna bus kota dan angkutan umum anjlok jadi 13,5%.
Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar, untuk kembali memaksa masyarakat beralih menggunakan bus kota dan angkutan umum. Diperlukan konsep angkutan umum terintegrasi antara DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyangga. Hal yang sebenarnya sudah lama diupayakan, namun baru dapat diwujudkan saat ini melalui Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway.
Sebagai gubernur, Bang Foke—demikian Fauzi Bowo sering disapa-- sendiri menyadari tidak mudah menata kembali keberadaan angkutan umum di Ibukota. Meski demikian ia menegaskan, akan terus fokus pada perbaikan dan revitalisasi angkutan umum serta membuat semuanya terintegrasi, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1866045/ngatasi-macet-dalam-sekejap-mimpi-kali-ye
Label:
bekasi
,
bogor
,
dititipkan
,
jakarta
,
jalan
,
kabupaten
,
kemacetan
,
lintas
,
mobil
,
orang
,
pekerjaan
,
tangerang
Kamis, 26 April 2012
Pakar: budaya Betawi tidak akan punah
Jakarta (ANTARA News) - Antropolog Universitas Indonesia dan pakar kebudayaan Betawi Prof Yasmine Z Shahab mengatakan kebudayaan Betawi tidak akan punah, hanya akan berubah atau muncul dengan wajah baru.
"Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli," kata Prof Yasmine pada acara bincang-bincang bertajuk "Betawi Punya Gaye, Inspirasi Warisan Budaya Jakarta Asli" di Jakarta, Rabu.
Ia mencontohkan, Lenong saat ini muncul dengan wajah baru. Namun versi asli kesenian asli Betawi itu masih tetap ada.
Menurut Yasmine, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena berada di Jakarta, pusat pemerintahan yang menjadi tempat berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Kesadaran orang Betawi akan identitas budayanya, kata dia, akan membuat budaya Betawi akan menjaga kelestarian budaya Betawi.
"Jadi tidak usah takut budaya Betawi akan hilang yang akan adalah berubah. Kalau orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli," katanya. (D016)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/307817/pakar-budaya-betawi-tidak-akan-punah
"Budaya Betawi tidak akan hilang tapi yang pasti berubah, muncul dengan wajah baru tapi tidak menghilangkan yang asli," kata Prof Yasmine pada acara bincang-bincang bertajuk "Betawi Punya Gaye, Inspirasi Warisan Budaya Jakarta Asli" di Jakarta, Rabu.
Ia mencontohkan, Lenong saat ini muncul dengan wajah baru. Namun versi asli kesenian asli Betawi itu masih tetap ada.
Menurut Yasmine, budaya Betawi sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan kebudayaan lain karena berada di Jakarta, pusat pemerintahan yang menjadi tempat berbaurnya berbagai suku serta budaya.
Kesadaran orang Betawi akan identitas budayanya, kata dia, akan membuat budaya Betawi akan menjaga kelestarian budaya Betawi.
"Jadi tidak usah takut budaya Betawi akan hilang yang akan adalah berubah. Kalau orang Betawi khawatir berubahnya terlalu jauh, mereka harus berperan melestarikan budaya yang asli," katanya. (D016)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/307817/pakar-budaya-betawi-tidak-akan-punah
Label:
bahasa
,
jakarta
,
kebudayaan
,
orang
,
yasmine
Senin, 16 April 2012
Masakan Betawi dalam Kenangan
Sejumlah masakan Betawi tinggal tersisa dalam kenangan. Kuliner lokal itu berangsur lenyap seturut dengan memudarnya sebagian tradisi masyarakat Betawi.
Anda tahu sayur babanci? Tidak perlu merasa bersalah jika tidak tahu sebab banyak orang Betawi pun yang tidak tahu. Supiati (52), warga Betawi yang tinggal di Ujungmenteng, Cakung, Jakarta Timur, misalnya, hanya pernah mendengar nama masakan itu dari ibu mertuanya.
”Namun, sampai sekarang saya enggak tahu bagaimana bentuknya. Ibu juga susah ngejelasinnya dan cuma bilang, ’Itu sayur santen yang ada anunya’.” Sekadar catatan, kata anu biasa digunakan orang Betawi sebagai kata ganti apa saja.
Ya, babanci memang sudah langka kalau tidak mau disebut punah. Untuk memperkenalkan kembali masakan tersebut, chef Bara Pattiradjawane mendemonstrasikan cara mememasak babanci di depan ratusan peserta kelas masak di acara Chef and Food Festival Localicious yang diselenggarakan Kompas di Kota Baru Parahyangan, Bandung.
Meski disebut sayur, tidak ada sayuran yang digunakan. Masakan ini berbahan daging, santan, kelapa sangrai, dan kelapa muda. Bumbunya terdiri dari kunyit, jahe, kemiri, terasi, ketumbar, jintan, bawang merah, bawang putih, laos, salam, dan cabai.
Sekilas rupa babanci seperti soto dengan kuah lebih kental. Namun ketika masuk ke mulut, rasanya lebih dekat ke gulai atau kari. ”Masakan ini memang enggak jelas maunya. Soto bukan, gulai juga bukan. Makanya, orang menyebutnya sayur banci,” ujar Bara.
Ciri khas masakan ini adalah taburan serutan kasar kelapa muda di atasnya. Daging kelapa muda yang segar membuat rasa sayur yang berbumbu kental ini jadi lebih ringan. Tekstur kelapa muda yang lembut juga bisa mengimbangi tekstur daging yang kasar.
Sayur besan
Selain babanci, sayur besan juga sudah jarang ditemukan. Namun nasibnya lebih baik ketimbang babanci. Setidaknya sayur berkuah santan itu masih ada yang menjajakan. Satu dari sangat sedikit warung Betawi yang menyediakan sayur besan adalah Warung Nasi Uduk Mpok Iyoh di pertigaan Jalan Pahlawan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.
Sayur itu juga sempat dijajakan, bahkan menjadi andalan, Warung Besan di Jalan Kalimalang, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Namun, sejak November 2011, sayur besan dihapus dari menu karena permintaan konsumen kian merosot. ”Mungkin orang sudah enggak kenal sama sayur besan,” kata penjaga warung tersebut.
Sayur besan yang dijual Mpok Iyoh berkuah santan encer. Isinya kacang panjang, kentang, suun, daun bawang, dan terubuk atau bunga tebu. Rasanya gurih dan manis dengan jejak ebi yang sangat kuat. Mpok Iyoh mengatakan, kunci rasa sayur besan terletak pada ebi. Bumbu lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, santan, salam, sereh, dan lengkuas ditambahkan sebagai penunjang.
Mpok Iyoh mengatakan, pelanggan sayur besan buatannya kebanyakan orang Betawi. ”Mereka hanya bisa dapetin di sini, di tempat lain udah enggak ada,” tutur Iyoh yang menjual sayur besan seharga Rp 8.000 per mangkuk.
Semur andil
Sayur besan sebenarnya memang bukan sejenis sayur yang dijajakan di warung. Orang Betawi biasanya membuat sayur ini dalam acara khusus, seperti prosesi perkawinan adat Betawi. ”Sayur ini disajikan untuk menghormati besan, makanya disebut sayur besan,” ujar Supiati.
Sekarang, Supiati melanjutkan, tidak semua orang Betawi menjamu besannya dengan sayur besan. Pasalnya, orang Betawi sudah kawin campur dengan suku lain. ”Kalau Betawi sama Betawi kawin, baru dah ada sayur besan,” ujar Supiati.
Bahan untuk membuat sayur besan juga tidak mudah ditemukan. ”Terubuk, misalnya, sudah langka banget. Saya harus cari sampai Parung, Bogor,” kata Mpok Iyoh.
Selain sayur besan, semur kerbau andil (atau semur andil) juga terkait dengan tradisi orang Betawi, terutama yang tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Srengseng, Bekasi, Ciputat, dan Depok. Dulu, orang Betawi punya tradisi patungan atau andilan uang untuk membeli kerbau beberapa bulan sebelum bulan Ramadan. Biasanya satu kerbau ditanggung sekitar 20 keluarga.
Kerbau itu dipelihara bersama dan biasanya disembelih satu-dua hari menjelang Lebaran. Daging kerbau itu dibagikan ke warga senilai jumlah uang yang mereka sumbangkan. Itu sebabnya masakannya disebut semur andil.
Rasa masakan ini sama dengan semur daging sapi, yakni manis, gurih, dan hangat karena mengandung banyak rempah seperti lada serta biji pala. Namun, daging kerbau memiliki aroma sedikit tajam dibandingkan dengan daging sapi. Seratnya pun lebih kasar dan liat sehingga tidak mudah hancur meski dihangatkan berkali-kali.
”Kita bisa makan semur andil satu bulan penuh sejak Lebaran. Semur diangetin terus sampai kering,” kata Supiati.
Hingga tahun 1990-an, kata Supiati, hampir setiap kampung Betawi di Ujungmenteng, patungan kerbau menjelang Lebaran. Namun, karena uang patungan untuk membeli kerbau semakin tinggi, akhirnya banyak yang memilih membeli daging sapi sendiri-sendiri. ”Tahun lalu masih ada satu kampung yang patungan kerbau, tetapi enggak tahu tahun depan,” ucap Supiati.
Seiring dengan hilangnya tradisi patungan kerbau, masakan semur andil pun lambat laun lenyap. Sama seperti sayur besan dan babanci.
Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/04/14/07535836/Masakan.Betawi.dalam.Kenangan
Anda tahu sayur babanci? Tidak perlu merasa bersalah jika tidak tahu sebab banyak orang Betawi pun yang tidak tahu. Supiati (52), warga Betawi yang tinggal di Ujungmenteng, Cakung, Jakarta Timur, misalnya, hanya pernah mendengar nama masakan itu dari ibu mertuanya.
”Namun, sampai sekarang saya enggak tahu bagaimana bentuknya. Ibu juga susah ngejelasinnya dan cuma bilang, ’Itu sayur santen yang ada anunya’.” Sekadar catatan, kata anu biasa digunakan orang Betawi sebagai kata ganti apa saja.
Ya, babanci memang sudah langka kalau tidak mau disebut punah. Untuk memperkenalkan kembali masakan tersebut, chef Bara Pattiradjawane mendemonstrasikan cara mememasak babanci di depan ratusan peserta kelas masak di acara Chef and Food Festival Localicious yang diselenggarakan Kompas di Kota Baru Parahyangan, Bandung.
Meski disebut sayur, tidak ada sayuran yang digunakan. Masakan ini berbahan daging, santan, kelapa sangrai, dan kelapa muda. Bumbunya terdiri dari kunyit, jahe, kemiri, terasi, ketumbar, jintan, bawang merah, bawang putih, laos, salam, dan cabai.
Sekilas rupa babanci seperti soto dengan kuah lebih kental. Namun ketika masuk ke mulut, rasanya lebih dekat ke gulai atau kari. ”Masakan ini memang enggak jelas maunya. Soto bukan, gulai juga bukan. Makanya, orang menyebutnya sayur banci,” ujar Bara.
Ciri khas masakan ini adalah taburan serutan kasar kelapa muda di atasnya. Daging kelapa muda yang segar membuat rasa sayur yang berbumbu kental ini jadi lebih ringan. Tekstur kelapa muda yang lembut juga bisa mengimbangi tekstur daging yang kasar.
Sayur besan
Selain babanci, sayur besan juga sudah jarang ditemukan. Namun nasibnya lebih baik ketimbang babanci. Setidaknya sayur berkuah santan itu masih ada yang menjajakan. Satu dari sangat sedikit warung Betawi yang menyediakan sayur besan adalah Warung Nasi Uduk Mpok Iyoh di pertigaan Jalan Pahlawan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.
Sayur itu juga sempat dijajakan, bahkan menjadi andalan, Warung Besan di Jalan Kalimalang, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Namun, sejak November 2011, sayur besan dihapus dari menu karena permintaan konsumen kian merosot. ”Mungkin orang sudah enggak kenal sama sayur besan,” kata penjaga warung tersebut.
Sayur besan yang dijual Mpok Iyoh berkuah santan encer. Isinya kacang panjang, kentang, suun, daun bawang, dan terubuk atau bunga tebu. Rasanya gurih dan manis dengan jejak ebi yang sangat kuat. Mpok Iyoh mengatakan, kunci rasa sayur besan terletak pada ebi. Bumbu lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, santan, salam, sereh, dan lengkuas ditambahkan sebagai penunjang.
Mpok Iyoh mengatakan, pelanggan sayur besan buatannya kebanyakan orang Betawi. ”Mereka hanya bisa dapetin di sini, di tempat lain udah enggak ada,” tutur Iyoh yang menjual sayur besan seharga Rp 8.000 per mangkuk.
Semur andil
Sayur besan sebenarnya memang bukan sejenis sayur yang dijajakan di warung. Orang Betawi biasanya membuat sayur ini dalam acara khusus, seperti prosesi perkawinan adat Betawi. ”Sayur ini disajikan untuk menghormati besan, makanya disebut sayur besan,” ujar Supiati.
Sekarang, Supiati melanjutkan, tidak semua orang Betawi menjamu besannya dengan sayur besan. Pasalnya, orang Betawi sudah kawin campur dengan suku lain. ”Kalau Betawi sama Betawi kawin, baru dah ada sayur besan,” ujar Supiati.
Bahan untuk membuat sayur besan juga tidak mudah ditemukan. ”Terubuk, misalnya, sudah langka banget. Saya harus cari sampai Parung, Bogor,” kata Mpok Iyoh.
Selain sayur besan, semur kerbau andil (atau semur andil) juga terkait dengan tradisi orang Betawi, terutama yang tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Srengseng, Bekasi, Ciputat, dan Depok. Dulu, orang Betawi punya tradisi patungan atau andilan uang untuk membeli kerbau beberapa bulan sebelum bulan Ramadan. Biasanya satu kerbau ditanggung sekitar 20 keluarga.
Kerbau itu dipelihara bersama dan biasanya disembelih satu-dua hari menjelang Lebaran. Daging kerbau itu dibagikan ke warga senilai jumlah uang yang mereka sumbangkan. Itu sebabnya masakannya disebut semur andil.
Rasa masakan ini sama dengan semur daging sapi, yakni manis, gurih, dan hangat karena mengandung banyak rempah seperti lada serta biji pala. Namun, daging kerbau memiliki aroma sedikit tajam dibandingkan dengan daging sapi. Seratnya pun lebih kasar dan liat sehingga tidak mudah hancur meski dihangatkan berkali-kali.
”Kita bisa makan semur andil satu bulan penuh sejak Lebaran. Semur diangetin terus sampai kering,” kata Supiati.
Hingga tahun 1990-an, kata Supiati, hampir setiap kampung Betawi di Ujungmenteng, patungan kerbau menjelang Lebaran. Namun, karena uang patungan untuk membeli kerbau semakin tinggi, akhirnya banyak yang memilih membeli daging sapi sendiri-sendiri. ”Tahun lalu masih ada satu kampung yang patungan kerbau, tetapi enggak tahu tahun depan,” ucap Supiati.
Seiring dengan hilangnya tradisi patungan kerbau, masakan semur andil pun lambat laun lenyap. Sama seperti sayur besan dan babanci.
Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/04/14/07535836/Masakan.Betawi.dalam.Kenangan
Label:
acara
,
dijajakan
,
gulai
,
jakarta
,
jalan
,
manis
,
menjelang
,
orang
,
salam
,
timur
,
ujungmenteng
Rabu, 11 April 2012
Geng Motor Mulai Kuasai Jakarta
Liputan6.com, Jakarta: Pasukan geng motor yang terkenal sering beraksi kekerasan sudah memasuki kawasan Jakarta. Hal tersebut terbukti dengan adanya beberapa kasus kekerasan yang dilakukan pasukan geng motor yang ada di Jakarta.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, menjelaskan bahwa sejak 31 Maret hingga saat ini sudah ada tiga kali kejadian kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa yang dilakukan oleh para geng motor yang ada di Jakarta.
"Untuk geng motor ada tiga kejadian, yakni pada tanggal 31 maret yang berlokasi di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat telah mewaskan satu orang atas nama Arifin. Kemudian tanggal 7 April di Danau Sunter Tanjung Priok, satu meninggal dunia dua luka berat, besoknya tanggal 8 April telah melakukan kekerasan terhadap empat orang hingga mengakibatkan luka berat di Jalan Benyamin Sueb," kata Rikwanto saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (10/4).
Lebih lanjut Rikwanto menjelaskan bahwa dalam tiga kali kejadian tersebut setelah dianalisis oleh pihaknya membuktikan bahwa ada kaitan erat diantara kasus-kasus tersebut yang berawal pada tanggal 31 maret lalu dengan kejadian sesudahnya dengan motif balas dendam.
"Jadi tanggal 31 Maret itu ada kaitannya dengan tanggal 7 April kemarin, kemudian kita analisa pada tanggal 7 April yang meninggal dunia tersebut atas nama Soleh yang diserang dengan senjata tajam, kelompok menggunakan tanda putih di pipi, jadi tanggal 7 dan 8 itu merupakan pembalasan. Itu kejadiannya sekitar jam 02.00 wib dini hari," jelasnya.
Rikwanto menjelaskan, saat ini sedang mendalami kasus tersebut untuk membuktikan siapa pelaku dari geng motor tersebut yang melakukan kekerasan hingga mengakibatkan korban jiwa. Sehingga pihaknya dapat mengikis keberadaan geng motor yang meresahkan masyarakat di Jakarta.(MEL)
Sumber : http://berita.liputan6.com/read/386286/geng-motor-mulai-kuasai-jakarta
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto, menjelaskan bahwa sejak 31 Maret hingga saat ini sudah ada tiga kali kejadian kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa yang dilakukan oleh para geng motor yang ada di Jakarta.
"Untuk geng motor ada tiga kejadian, yakni pada tanggal 31 maret yang berlokasi di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat telah mewaskan satu orang atas nama Arifin. Kemudian tanggal 7 April di Danau Sunter Tanjung Priok, satu meninggal dunia dua luka berat, besoknya tanggal 8 April telah melakukan kekerasan terhadap empat orang hingga mengakibatkan luka berat di Jalan Benyamin Sueb," kata Rikwanto saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (10/4).
Lebih lanjut Rikwanto menjelaskan bahwa dalam tiga kali kejadian tersebut setelah dianalisis oleh pihaknya membuktikan bahwa ada kaitan erat diantara kasus-kasus tersebut yang berawal pada tanggal 31 maret lalu dengan kejadian sesudahnya dengan motif balas dendam.
"Jadi tanggal 31 Maret itu ada kaitannya dengan tanggal 7 April kemarin, kemudian kita analisa pada tanggal 7 April yang meninggal dunia tersebut atas nama Soleh yang diserang dengan senjata tajam, kelompok menggunakan tanda putih di pipi, jadi tanggal 7 dan 8 itu merupakan pembalasan. Itu kejadiannya sekitar jam 02.00 wib dini hari," jelasnya.
Rikwanto menjelaskan, saat ini sedang mendalami kasus tersebut untuk membuktikan siapa pelaku dari geng motor tersebut yang melakukan kekerasan hingga mengakibatkan korban jiwa. Sehingga pihaknya dapat mengikis keberadaan geng motor yang meresahkan masyarakat di Jakarta.(MEL)
Sumber : http://berita.liputan6.com/read/386286/geng-motor-mulai-kuasai-jakarta
Label:
april
,
benyamin
,
berat
,
jakarta
,
jalan
,
kekerasan
,
membuktikan
,
mengakibatkan
,
meninggal
,
metro
,
motor
,
orang
Senin, 02 April 2012
Konser musik London untuk tukang sampah Jakarta
London (ANTARA News) - Seorang warga Inggris yang merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta, menjadi sorotan ketika kegiatannya dilaporkan stasiun televisi BBC London dalam acara "Toughest Place to be a Binman".
Wilbur Ramirez, demikian nama sosok Inggris ini, kemudian mengelar malam dana di `The 100 Club`, salah satu klub musik ternama di London, guna membantu para tukang sampah di Jakarta, akhir pekan lalu, demikian laporan ANTARA London, Senin.
Dalam acara "Toughest Place to be a Binman" itu, `host` membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta.
Melanjutkan sukses penayangan itu, Wilbur Ramirez, `tukang sampah` (dadakan) yang juga seniman ini tampil di `The 100 Club`, klub jazz ternama di Oxford Street, London.
Wilbur Ramirez yang punya kelompok musik band, dalam acara malam dana itu, tampil dengan lagu berirama `blues` dan jazz, disaksikan sekitar 150 orang penonton.
Hadirin ikut bergoyang selama satu setengah jam termasuk Endang dan suaminya, Argo Onny Widjono, yang bekerja di Kedutaan Brunei, London.
"Saya sangat terharu dengan niat baik Wilbur Ramirez yang mengelar acara malam dana untuk tukang sampah di Jakarta," ujar Argo Onny Widjono.
Kepada ANTARA London, Minggu, ia menyebutkan, hanya mereka berdua orang Indonesia yang hadir.
Dikatakannya, konser musik Ramirez yang di antaranya melantunkan lagu "Mr and Mrs Jones" itu begitu memukau dan dilantunkannya dengan penuh penghayatan.
"Saya kira kelompok musik Wilbur Ramirez itu kelompok musik asal-asalan. Rupanya di luar dugaan mereka sangat professional," ujar Argo yang sudah menetap lama di London.
Ia mengakui sangat terharu, karena masih ada orang asing yang perhatian dengan nasib tukang sampah di Jakarta.
"Sayangnya dari 150 penonton, hanya kami berdua orang Indonesia," ujar ayah dua putra yang berangkat dewasa ini.
Ia berharap, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London bisa merangkul Wilbur Ramirez dan mengundangnya untuk mengisi acara di KBRI, sehingga masyarakat Indonesia di London terbuka matanya, lalu ikut berpartisipasi serta mengumpilkan dana.
Untuk Pendidikan
Pengalaman di Jakarta menjadi tukang sampah membuat Wilbur membentuk badan dana untuk mengumpulkan bantuan bagi para tukang sampah yang ia temui, khususnya Imam Syafi dan keluarga (tukang sampah di kawasan Guntur, Jakarta, Red).
`Ramirez Charity Group` berhasil menggalang dana sebesar 1.500 poundsterling atau sekitar 21 juta dari penjualan tiket dan belum `raffle tickets` malam itu.
"Saya lihat Wilbur Ramirez tampil habis-habisan dan sampai keringatan, dan ia senang sekali karena yang mau ikut membantu para tukang sampah di Jakarta banyak," tutur Endang.
Wilbur Ramirez sendiri berterima berterima kasih kepada pengunjung dan juga anggota band, bahkan sang istrinya sendiri yang juga mau beli tiket seharga 11 pound agar bisa masuk ke klub.
Seusai konser, menurutnya, tujuannya tidak hanya sekedar ingin membelikan gerobak baru untuk para tukang sampah, tetapi juga pendidikan anak-anak para tukang sampah di Jakarta.
"Saya ingin membantu Imam dan teman-temannya mendapat gerobak baru, dan mudah-mudahan bisa kami kirim ke Jakarta dalam dua atau tiga bulan ini," kata Wilbur Ramirez selepas bernyanyi di `The 100 Club`, Oxford Street, London.
Wilbur merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta selama 10 hari dengan menemani Imam Syafi di kawasan Guntur, Jakarta Selatan berkeliling mengumpulkan sampah di kawasan perumahan.
Pengalamannya ini diudarakan dalam acara televisi BBC `Toughest Place to be...a Binman` (Tempat tersulit untuk menjadi...tukang sampah) Februari lalu.
Wilbur mengatakan, bantuan gerobak merupakan tahap pertama dan ia ingin menggalang dana lebih lanjut untuk membantu pendidikan anak-anak Imam serta tukang sampah lain yang ia temui di kawasan Guntur. (ZG/M036)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/304267/konser-musik-london-untuk-tukang-sampah-jakarta
Wilbur Ramirez, demikian nama sosok Inggris ini, kemudian mengelar malam dana di `The 100 Club`, salah satu klub musik ternama di London, guna membantu para tukang sampah di Jakarta, akhir pekan lalu, demikian laporan ANTARA London, Senin.
Dalam acara "Toughest Place to be a Binman" itu, `host` membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta.
Melanjutkan sukses penayangan itu, Wilbur Ramirez, `tukang sampah` (dadakan) yang juga seniman ini tampil di `The 100 Club`, klub jazz ternama di Oxford Street, London.
Wilbur Ramirez yang punya kelompok musik band, dalam acara malam dana itu, tampil dengan lagu berirama `blues` dan jazz, disaksikan sekitar 150 orang penonton.
Hadirin ikut bergoyang selama satu setengah jam termasuk Endang dan suaminya, Argo Onny Widjono, yang bekerja di Kedutaan Brunei, London.
"Saya sangat terharu dengan niat baik Wilbur Ramirez yang mengelar acara malam dana untuk tukang sampah di Jakarta," ujar Argo Onny Widjono.
Kepada ANTARA London, Minggu, ia menyebutkan, hanya mereka berdua orang Indonesia yang hadir.
Dikatakannya, konser musik Ramirez yang di antaranya melantunkan lagu "Mr and Mrs Jones" itu begitu memukau dan dilantunkannya dengan penuh penghayatan.
"Saya kira kelompok musik Wilbur Ramirez itu kelompok musik asal-asalan. Rupanya di luar dugaan mereka sangat professional," ujar Argo yang sudah menetap lama di London.
Ia mengakui sangat terharu, karena masih ada orang asing yang perhatian dengan nasib tukang sampah di Jakarta.
"Sayangnya dari 150 penonton, hanya kami berdua orang Indonesia," ujar ayah dua putra yang berangkat dewasa ini.
Ia berharap, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London bisa merangkul Wilbur Ramirez dan mengundangnya untuk mengisi acara di KBRI, sehingga masyarakat Indonesia di London terbuka matanya, lalu ikut berpartisipasi serta mengumpilkan dana.
Untuk Pendidikan
Pengalaman di Jakarta menjadi tukang sampah membuat Wilbur membentuk badan dana untuk mengumpulkan bantuan bagi para tukang sampah yang ia temui, khususnya Imam Syafi dan keluarga (tukang sampah di kawasan Guntur, Jakarta, Red).
`Ramirez Charity Group` berhasil menggalang dana sebesar 1.500 poundsterling atau sekitar 21 juta dari penjualan tiket dan belum `raffle tickets` malam itu.
"Saya lihat Wilbur Ramirez tampil habis-habisan dan sampai keringatan, dan ia senang sekali karena yang mau ikut membantu para tukang sampah di Jakarta banyak," tutur Endang.
Wilbur Ramirez sendiri berterima berterima kasih kepada pengunjung dan juga anggota band, bahkan sang istrinya sendiri yang juga mau beli tiket seharga 11 pound agar bisa masuk ke klub.
Seusai konser, menurutnya, tujuannya tidak hanya sekedar ingin membelikan gerobak baru untuk para tukang sampah, tetapi juga pendidikan anak-anak para tukang sampah di Jakarta.
"Saya ingin membantu Imam dan teman-temannya mendapat gerobak baru, dan mudah-mudahan bisa kami kirim ke Jakarta dalam dua atau tiga bulan ini," kata Wilbur Ramirez selepas bernyanyi di `The 100 Club`, Oxford Street, London.
Wilbur merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta selama 10 hari dengan menemani Imam Syafi di kawasan Guntur, Jakarta Selatan berkeliling mengumpulkan sampah di kawasan perumahan.
Pengalamannya ini diudarakan dalam acara televisi BBC `Toughest Place to be...a Binman` (Tempat tersulit untuk menjadi...tukang sampah) Februari lalu.
Wilbur mengatakan, bantuan gerobak merupakan tahap pertama dan ia ingin menggalang dana lebih lanjut untuk membantu pendidikan anak-anak Imam serta tukang sampah lain yang ia temui di kawasan Guntur. (ZG/M036)
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/304267/konser-musik-london-untuk-tukang-sampah-jakarta
Label:
acara
,
guntur
,
indonesia
,
jakarta
,
london
,
malam
,
menggalang
,
merasakan
,
musik
,
orang
,
pendidikan
,
place
,
ramirez
,
wilbur
Selasa, 27 Maret 2012
Soto Betawi Bang Udin Langganan Zainuddin MZ
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - SOTO Betawi adalah salah satu kuliner khas Betawi yang cukup gampang ditemui di seantero Jakarta dan sekitarnya. Makanan berkuah santan ini adalah menu yang digemari banyak orang, tak hanya masyarakat Betawi tentunya.
Berbicara mengenai soto betawi, salah satu yang mungkin patut dicoba adalah Soto Betawi Bang Udin, yang berlokasi Jl Raya Lapangan Tembak Cibubur No. 4 Jakarta Timur.
Bang Udin sang pemilik menuturkan, para pengunjung yang datang ke warung itu bukan hanya dari kalangan biasa. Sejumlah artis dan orang terkenal juga telah menjadi pelanggan tetap di warung tersebut.
"Dulu semasa hidupnya almarhum KH. Zainuddin MZ sering datang ke sini. Beberapa artis seperti Kubil juga pernah datang menyantap soto di sini," ucapnya kepada Tribun Jakarta.
Selain soto, warung Bang Udin juga menyediakan menu sate sapi dan kambing. Tak hanya menu soto dan daging-dagingan, Bang Udin juga menyediakan menu nasi timbel dan seafood.
Berita lengkap ada di Tribun Jakarta Digital Newspaper, edisi Senin (26/3/2012) petang rubrik Tribun Kuliner.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/03/26/soto-betawi-bang-udin-langganan-zainuddin-mz
Berbicara mengenai soto betawi, salah satu yang mungkin patut dicoba adalah Soto Betawi Bang Udin, yang berlokasi Jl Raya Lapangan Tembak Cibubur No. 4 Jakarta Timur.
Bang Udin sang pemilik menuturkan, para pengunjung yang datang ke warung itu bukan hanya dari kalangan biasa. Sejumlah artis dan orang terkenal juga telah menjadi pelanggan tetap di warung tersebut.
"Dulu semasa hidupnya almarhum KH. Zainuddin MZ sering datang ke sini. Beberapa artis seperti Kubil juga pernah datang menyantap soto di sini," ucapnya kepada Tribun Jakarta.
Selain soto, warung Bang Udin juga menyediakan menu sate sapi dan kambing. Tak hanya menu soto dan daging-dagingan, Bang Udin juga menyediakan menu nasi timbel dan seafood.
Berita lengkap ada di Tribun Jakarta Digital Newspaper, edisi Senin (26/3/2012) petang rubrik Tribun Kuliner.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/03/26/soto-betawi-bang-udin-langganan-zainuddin-mz
Selasa, 20 Maret 2012
Nikmati Suasana Hutan di Pinggiran Jakarta
LELAH melihat hutan beton yang menjulang atau kesemrawutan lalu lintas, arahkan kendaraan ke Kampus Universitas Indonesia, Depok, atau tengoklah Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Embusan angin menyejukkan dan suara gemeresik daun dari pohon-pohon tinggi terdengar. Sesekali kicau burung menyahuti.
Hemmm, segarnya…. Menikmati suasana itu serasa berada di lokasi nun jauh di pedalaman Indonesia. Padahal, tempat ini tidak jauh dari kota Jakarta. Lokasinya berada di hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) yang membentang antara Depok dan Jakarta Selatan.
Sajian alam inilah yang mengundang banyak orang mendatangi hutan UI. Salah satu titik pertemuan para penikmat suasana hutan kota di utara Fakultas Teknik UI. Dari area ini, mereka masuk hutan dengan beragam kepentingan. Sebagian bersepeda, berjalan-jalan saja, joging, atau memancing di danau tepian hutan.
Walau berbeda kegiatan menikmati suasana hutan kota, satu kesan yang mereka rasakan, yaitu kedamaian menyatu dengan alam.
Nur Halim, pegawai PT Pertamina, sangat menggemari suasana tersebut. Setiap ada keinginan, terutama selepas kerja, dia bisa mengunjungi hutan UI, seperti yang dilakukan pada Kamis (15/3/2012) sore. Dengan seragam kantor masih melekat di tubuhnya, dia melintasi jalan tanah menantang di Trek Mangkuk.
Bersama puluhan penggemar sepeda lain, Nur menikmati suasana hutan kota UI. ”Susah mencari tempat seperti ini,” katanya.
Tahun 2006, dia dan sesama penggemar sepeda di komunitas Rombongan Anak Mangkuk (Roam) UI membuat jalur bersepeda mini down hill sepanjang 300 meter. Lantaran salah satu ruasnya berbentuk seperti mangkuk, jalur ini dikenal dengan Trek Mangkuk.
Meski pendek, Trek Mangkuk sering kali memakan korban. Sudah biasa pengguna sepeda jatuh terpelanting, menabrak pohon, atau keluar lintasan. Namun, hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan ingin menjajal lagi.
Hampir setiap hari trek ini dipakai orang, terutama sore hari selepas melakukan aktivitas sekolah, kuliah, atau bekerja. ”Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar,” ujar Koordinator Roam UI Adrian Bachrumsyah.
Lokasi Trek Mangkuk berada di utara Fakultas Teknik UI. Tidak hanya itu, di dalam hutan kota UI terbentang Trek Nyamuk sepanjang 3,2 kilometer. Rute Trek Nyamuk berputar-putar di dalam hutan, melipir di tepi danau, dan kembali lagi ke dalam hutan. Lantaran berputar-putar, lintasan itu disebut Trek Nyamuk. ”Tidak semua orang dapat menguasai trek ini. Jika tidak paham, akan terus berputar di dalam hutan,” tutur Adrian.
Murah
Menikmati hutan UI tidak selalu dengan alat dan biaya tinggi. Salah satunya dilakukan Yopi (60) yang menyambangi hutan UI bersama cucunya, Ridwan (10), Patrisia (7), dan Angel (3). Dia menggelar tikar di antara pepohonan dekat Stadion UI. Tempatnya sejuk, tanahnya berbentuk lereng, dan rumputnya terpangkas rata.
Berbekal makanan yang dibawa dari rumah, Yopi menikmati Minggu (11/3/2012) pagi hingga siang itu bersama cucu-cucunya.
Kakek yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini merasakan kenikmatan suasana alami di antara pohon yang menjulang tinggi. Dia tidak khawatir dengan keamanan cucu-cucunya. Semuanya terlihat di depan mata.
Dia memilih pergi ke hutan UI sebagai pilihan agar cucu-cucunya tidak bosan.
Koordinator Binaan Hutan Kota UI Tarsoen Waryono mengatakan, saat ini belum ada upaya untuk mengomersialkan hutan. Pemanfaatan untuk kepentingan rekreasi dan olahraga tidak dipungut biaya. Rencana untuk mengembangkan konsep agrowisata sudah dirancang sebelumnya.
Sementara ini, UI baru menyediakan lokasi berkemah di sekitar kantor resimen mahasiswa. Namun, pengunjung yang ingin menginap dapat singgah di Wisma Makara yang memiliki 67 kamar, ruang pertemuan, tempat makan, dan ruang serbaguna.
Wisma ini berada di sisi utara wilayah kampus, secara administratif masuk wilayah Jakarta Selatan, berdampingan dengan asrama mahasiswa. Jika beruntung, Anda dapat menempati kamar dengan pemandangan langsung ke arah hutan dan danau UI.
Hutan kota di Kampus UI terletak di lahan seluas 90 hektar. Di dalamnya terdapat 130 jenis pohon dari rencana pengembangan 800 jenis. Di kawasan dalam hutan terdapat penangkaran rusa, jalur sepeda, jalur lintas alam, dan danau.
Tidak semua hutan di UI dapat diakses karena benar-benar berupa hutan dengan semak-semak tinggi dan pohon yang rapat. Kawasan ini dapat dijangkau melalui Jalan Raya Pasar Minggu dari arah Jakarta, sedangkan dari arah Bogor dapat melewati Jalan Raya Margonda.
Bogor
Lebih ke selatan, Anda bisa memilih Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Susuri tepian danau di pengujung hutan, lalu masuk lebih dalam ke hutan yang teduh ini. Sesap keheningan dan ketenangannya sebelum melihat rusa-rusa timor.
Hujan baru saja mereda suatu pagi pada awal Maret. Udara di sekitar Hutan Penelitian Dramaga di Kecamatan Bogor Barat ini semakin sejuk. Sinar matahari yang malu-malu muncul usai hujan, memantul dari tepian permukaan Situ Gede yang beriak. Rumput di perbatasan hutan dan danau basah.
Lima remaja perempuan duduk di sebatang sisa pohon tumbang, sesekali tertawa di sela percakapan mereka. Tak jauh dari sana, laki-laki dan perempuan duduk di bangku di antara dua pohon, menghadap ke arah Situ Gede, asyik bercengkerama. Beberapa warung di sekitar mereka masih tutup, membuat suasana benar-benar tenang.
”Saya baru sekali ini datang, dan memang suasananya nyaman. Benar-benar kembali ke alam,” tutur Diana (15), seorang dari lima remaja putri yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah membuat videoklip untuk mata pelajaran Seni dan Budaya SMA.
Hutan Penelitian Dramaga berada di perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Hutan ini berada di ujung Kecamatan Bogor Barat yang berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor). Jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Dari Bogor hanya diperlukan waktu 15-30 menit saja berkendara, bisa melalui jantung kota atau memutar lewat Jalan Soleh Iskandar mengarah ke Taman Yasmin dan Terminal Bubulak.
Luas hutan yang dikelola oleh Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan ini sekitar 60 hektar. Awalnya, kawasan hutan ini adalah perkebunan karet sebelum dijadikan hutan penelitian pada tahun 1956.
Namun, belasan tahun terakhir, 11 hektar di antaranya dimanfaatkan oleh Center for International Forestry Research. Kementerian Kehutanan juga membuat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) di kawasan ini dengan jumlah populasi saat ini sekitar 40 ekor.
Untuk jalur yang paling ringan, Anda bisa memarkir kendaraan di samping Kelurahan Situ Gede, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Situ Gede, masuk ke kawasan hutan. Anda bisa langsung mengunjungi penangkaran rusa atau berjalan di sekitar kawasan hutan.
”Kalau masuk ke dalam hutan, sebaiknya hati-hati dengan ular. Untuk mengelilingi kawasan hutan ini setidaknya dibutuhkan 30 menit sampai satu jam jalan kaki. Ada jalan setapak yang menjadi pemisah antarpetak,” tutur Zaenal, penanggung jawab Hutan Penelitian Dramaga.
Pengunjung perorangan bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun, Zaenal meminta pengunjung tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak tanaman atau membuang sampah sembarangan.
Untuk rombongan cukup besar, ia menyarankan agar sepekan sebelumnya melayangkan surat ke Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan di Gunung Batu, Kota Bogor. Jika membutuhkan petugas untuk mengantar berkeliling atau menjelaskan soal hutan itu, bisa juga mengajukan permintaan ke Puslitbang.
Tak perlu pemandu jika Anda sekadar ingin mencari ketenangan. Carilah tempat duduk, lalu tutup mata Anda, hirup kesegaran udaranya, serta rasakan angin yang bertiup dan suara daun di pohon yang digoyang angin. Curi ketenangan hutan ini untuk mengisi jiwa Anda sebelum kembali menghadapi hutan beton.
Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/03/20/0855332/Nikmati.Suasana.Hutan.di.Pinggiran.Jakarta
Hemmm, segarnya…. Menikmati suasana itu serasa berada di lokasi nun jauh di pedalaman Indonesia. Padahal, tempat ini tidak jauh dari kota Jakarta. Lokasinya berada di hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) yang membentang antara Depok dan Jakarta Selatan.
Sajian alam inilah yang mengundang banyak orang mendatangi hutan UI. Salah satu titik pertemuan para penikmat suasana hutan kota di utara Fakultas Teknik UI. Dari area ini, mereka masuk hutan dengan beragam kepentingan. Sebagian bersepeda, berjalan-jalan saja, joging, atau memancing di danau tepian hutan.
Walau berbeda kegiatan menikmati suasana hutan kota, satu kesan yang mereka rasakan, yaitu kedamaian menyatu dengan alam.
Nur Halim, pegawai PT Pertamina, sangat menggemari suasana tersebut. Setiap ada keinginan, terutama selepas kerja, dia bisa mengunjungi hutan UI, seperti yang dilakukan pada Kamis (15/3/2012) sore. Dengan seragam kantor masih melekat di tubuhnya, dia melintasi jalan tanah menantang di Trek Mangkuk.
Bersama puluhan penggemar sepeda lain, Nur menikmati suasana hutan kota UI. ”Susah mencari tempat seperti ini,” katanya.
Tahun 2006, dia dan sesama penggemar sepeda di komunitas Rombongan Anak Mangkuk (Roam) UI membuat jalur bersepeda mini down hill sepanjang 300 meter. Lantaran salah satu ruasnya berbentuk seperti mangkuk, jalur ini dikenal dengan Trek Mangkuk.
Meski pendek, Trek Mangkuk sering kali memakan korban. Sudah biasa pengguna sepeda jatuh terpelanting, menabrak pohon, atau keluar lintasan. Namun, hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan ingin menjajal lagi.
Hampir setiap hari trek ini dipakai orang, terutama sore hari selepas melakukan aktivitas sekolah, kuliah, atau bekerja. ”Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar,” ujar Koordinator Roam UI Adrian Bachrumsyah.
Lokasi Trek Mangkuk berada di utara Fakultas Teknik UI. Tidak hanya itu, di dalam hutan kota UI terbentang Trek Nyamuk sepanjang 3,2 kilometer. Rute Trek Nyamuk berputar-putar di dalam hutan, melipir di tepi danau, dan kembali lagi ke dalam hutan. Lantaran berputar-putar, lintasan itu disebut Trek Nyamuk. ”Tidak semua orang dapat menguasai trek ini. Jika tidak paham, akan terus berputar di dalam hutan,” tutur Adrian.
Murah
Menikmati hutan UI tidak selalu dengan alat dan biaya tinggi. Salah satunya dilakukan Yopi (60) yang menyambangi hutan UI bersama cucunya, Ridwan (10), Patrisia (7), dan Angel (3). Dia menggelar tikar di antara pepohonan dekat Stadion UI. Tempatnya sejuk, tanahnya berbentuk lereng, dan rumputnya terpangkas rata.
Berbekal makanan yang dibawa dari rumah, Yopi menikmati Minggu (11/3/2012) pagi hingga siang itu bersama cucu-cucunya.
Kakek yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini merasakan kenikmatan suasana alami di antara pohon yang menjulang tinggi. Dia tidak khawatir dengan keamanan cucu-cucunya. Semuanya terlihat di depan mata.
Dia memilih pergi ke hutan UI sebagai pilihan agar cucu-cucunya tidak bosan.
Koordinator Binaan Hutan Kota UI Tarsoen Waryono mengatakan, saat ini belum ada upaya untuk mengomersialkan hutan. Pemanfaatan untuk kepentingan rekreasi dan olahraga tidak dipungut biaya. Rencana untuk mengembangkan konsep agrowisata sudah dirancang sebelumnya.
Sementara ini, UI baru menyediakan lokasi berkemah di sekitar kantor resimen mahasiswa. Namun, pengunjung yang ingin menginap dapat singgah di Wisma Makara yang memiliki 67 kamar, ruang pertemuan, tempat makan, dan ruang serbaguna.
Wisma ini berada di sisi utara wilayah kampus, secara administratif masuk wilayah Jakarta Selatan, berdampingan dengan asrama mahasiswa. Jika beruntung, Anda dapat menempati kamar dengan pemandangan langsung ke arah hutan dan danau UI.
Hutan kota di Kampus UI terletak di lahan seluas 90 hektar. Di dalamnya terdapat 130 jenis pohon dari rencana pengembangan 800 jenis. Di kawasan dalam hutan terdapat penangkaran rusa, jalur sepeda, jalur lintas alam, dan danau.
Tidak semua hutan di UI dapat diakses karena benar-benar berupa hutan dengan semak-semak tinggi dan pohon yang rapat. Kawasan ini dapat dijangkau melalui Jalan Raya Pasar Minggu dari arah Jakarta, sedangkan dari arah Bogor dapat melewati Jalan Raya Margonda.
Bogor
Lebih ke selatan, Anda bisa memilih Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Susuri tepian danau di pengujung hutan, lalu masuk lebih dalam ke hutan yang teduh ini. Sesap keheningan dan ketenangannya sebelum melihat rusa-rusa timor.
Hujan baru saja mereda suatu pagi pada awal Maret. Udara di sekitar Hutan Penelitian Dramaga di Kecamatan Bogor Barat ini semakin sejuk. Sinar matahari yang malu-malu muncul usai hujan, memantul dari tepian permukaan Situ Gede yang beriak. Rumput di perbatasan hutan dan danau basah.
Lima remaja perempuan duduk di sebatang sisa pohon tumbang, sesekali tertawa di sela percakapan mereka. Tak jauh dari sana, laki-laki dan perempuan duduk di bangku di antara dua pohon, menghadap ke arah Situ Gede, asyik bercengkerama. Beberapa warung di sekitar mereka masih tutup, membuat suasana benar-benar tenang.
”Saya baru sekali ini datang, dan memang suasananya nyaman. Benar-benar kembali ke alam,” tutur Diana (15), seorang dari lima remaja putri yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah membuat videoklip untuk mata pelajaran Seni dan Budaya SMA.
Hutan Penelitian Dramaga berada di perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Hutan ini berada di ujung Kecamatan Bogor Barat yang berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor). Jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Dari Bogor hanya diperlukan waktu 15-30 menit saja berkendara, bisa melalui jantung kota atau memutar lewat Jalan Soleh Iskandar mengarah ke Taman Yasmin dan Terminal Bubulak.
Luas hutan yang dikelola oleh Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan ini sekitar 60 hektar. Awalnya, kawasan hutan ini adalah perkebunan karet sebelum dijadikan hutan penelitian pada tahun 1956.
Namun, belasan tahun terakhir, 11 hektar di antaranya dimanfaatkan oleh Center for International Forestry Research. Kementerian Kehutanan juga membuat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) di kawasan ini dengan jumlah populasi saat ini sekitar 40 ekor.
Untuk jalur yang paling ringan, Anda bisa memarkir kendaraan di samping Kelurahan Situ Gede, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Situ Gede, masuk ke kawasan hutan. Anda bisa langsung mengunjungi penangkaran rusa atau berjalan di sekitar kawasan hutan.
”Kalau masuk ke dalam hutan, sebaiknya hati-hati dengan ular. Untuk mengelilingi kawasan hutan ini setidaknya dibutuhkan 30 menit sampai satu jam jalan kaki. Ada jalan setapak yang menjadi pemisah antarpetak,” tutur Zaenal, penanggung jawab Hutan Penelitian Dramaga.
Pengunjung perorangan bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun, Zaenal meminta pengunjung tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak tanaman atau membuang sampah sembarangan.
Untuk rombongan cukup besar, ia menyarankan agar sepekan sebelumnya melayangkan surat ke Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan di Gunung Batu, Kota Bogor. Jika membutuhkan petugas untuk mengantar berkeliling atau menjelaskan soal hutan itu, bisa juga mengajukan permintaan ke Puslitbang.
Tak perlu pemandu jika Anda sekadar ingin mencari ketenangan. Carilah tempat duduk, lalu tutup mata Anda, hirup kesegaran udaranya, serta rasakan angin yang bertiup dan suara daun di pohon yang digoyang angin. Curi ketenangan hutan ini untuk mengisi jiwa Anda sebelum kembali menghadapi hutan beton.
Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/03/20/0855332/Nikmati.Suasana.Hutan.di.Pinggiran.Jakarta
Label:
bogor
,
jakarta
,
jalan
,
kecamatan
,
kehutanan
,
kendaraan
,
menikmati
,
orang
,
penangkaran
,
penelitian
,
pengunjung
,
utara
,
wisma
Jumat, 16 Maret 2012
Ampun, Warga Miskin Jakarta Meningkat
INILAH.COM, Jakarta - Masalah kemiskinan di Ibukota merupakan permasalahan serius. Tak heran jika program pengentasan kemiskinan juga selalu digembar-gemborkan dalam janji politik calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilukada DKI Jakarta.
Beberapa poin pengentasan kemiskinan diserukan pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2007 silam, yakni mendorong perbaikan kampung bagi permukiman warga miskin, lapangan kerja bagi warga miskin, merevisi Perda No 11/1988 tentang Ketertiban Umum dan perda lainnya yang tidak berpihak kepada warga miskin, hingga alokasi dana APBD DKI untuk pembangunan yang manfaatnya bisa di nikmati warga.
Tak hanya itu, janji memerangi kemiskinan dan kebodohan dengan menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien warga miskin atau janji pendidikan gratis hingga SMA , dianggap cukup jitu dan cerdas dalam menarik simpati masyarakat. Namun, apakah janji-janji tersebut telah terealisasi? Belum.
Angka penduduk miskin di Jakarta ini berdasar survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, per Maret 2011, malah makin bertambah sebesar 51.240 jiwa. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan jumlah orang miskin selama pertahun. Pada data per Maret 2011, tercatat jumlah orang miskin menjacapi 363.420 jiwa. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2010 dengab periode yang sama, sebanyak 312.180 jiwa.
Bahkan BPS memprediksi garis kemiskinan pada tahun 2012 akan lebih tinggi daripada angka kemiskinan sebelumnya. Ini karena angka kemiskinan mendekati angka inflasi yang terjadi sepanjang tahun. Ditengarai, peningkatan ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah kapita per bulan garis kemiskinan di tahun 2011, serta pola hidup masyarakat yang cenderung berubah-ubah.
Terkait kemiskinan, BPS DKI telah melakukan survei di enam wilayah DKI Jakarta, hasilnya garis kemiskinan tahun 2011 sebesar Rp355.480 per kapita per bulan. Jumlah ini lebih tinggi dari garis kemiskinan pada tahun 2010 yang hanya mencapai Rp331.169 per kapita per bulan.
Kenaikan garis kemiskinan ini disebabkan kenaikan laju inflasi dari tahun sebelumnya. Laju inflasi pada Maret 2010 hanya mencapai 3,49 persen, menjadi 5,95 persen pada Maret 2011. “Laju inflasi tinggi di tahun 2011, dikarenakan adanya kenaikan harga-harga makanan dan minuman. Itu yang memacu kenaikan garis kemiskinan,” kata Kepala BPS DKI Jakarta, Agus Suherman.
Akibatnya, lanjut Agus, jumlah pengeluaran penduduk DKI Jakarta pun semakin meningkat sehingga mencapai Rp 355.480 per kapita per bulan atau paling tidak warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp 11.000 per harinya. Dengan komposisi garis kemiskinan yaitu garis kemiskinan makanan sebesar Rp 229.147 atau 64,46 persen dan garis kemiskinan non makanan sebesar Rp 117.682 atau 35,54 persen.
Tingginya angka kemiskinan yang terjadi inilah, Agus berharap Pemprov DKI Jakarta untuk bekerja lebih keras lagi dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Ibukota. "Seluruh dinas terkait kemiskinan harus menciptakan terobosan program pengentasan kemiskinan yang baru, untuk mendampingi program pengentasan kemiskinan yang sudah ada," jelasnya. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1840825/anggaran-tak-sedikit-kemiskinan-tetap-tinggi
Beberapa poin pengentasan kemiskinan diserukan pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2007 silam, yakni mendorong perbaikan kampung bagi permukiman warga miskin, lapangan kerja bagi warga miskin, merevisi Perda No 11/1988 tentang Ketertiban Umum dan perda lainnya yang tidak berpihak kepada warga miskin, hingga alokasi dana APBD DKI untuk pembangunan yang manfaatnya bisa di nikmati warga.
Tak hanya itu, janji memerangi kemiskinan dan kebodohan dengan menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien warga miskin atau janji pendidikan gratis hingga SMA , dianggap cukup jitu dan cerdas dalam menarik simpati masyarakat. Namun, apakah janji-janji tersebut telah terealisasi? Belum.
Angka penduduk miskin di Jakarta ini berdasar survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, per Maret 2011, malah makin bertambah sebesar 51.240 jiwa. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan jumlah orang miskin selama pertahun. Pada data per Maret 2011, tercatat jumlah orang miskin menjacapi 363.420 jiwa. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2010 dengab periode yang sama, sebanyak 312.180 jiwa.
Bahkan BPS memprediksi garis kemiskinan pada tahun 2012 akan lebih tinggi daripada angka kemiskinan sebelumnya. Ini karena angka kemiskinan mendekati angka inflasi yang terjadi sepanjang tahun. Ditengarai, peningkatan ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah kapita per bulan garis kemiskinan di tahun 2011, serta pola hidup masyarakat yang cenderung berubah-ubah.
Terkait kemiskinan, BPS DKI telah melakukan survei di enam wilayah DKI Jakarta, hasilnya garis kemiskinan tahun 2011 sebesar Rp355.480 per kapita per bulan. Jumlah ini lebih tinggi dari garis kemiskinan pada tahun 2010 yang hanya mencapai Rp331.169 per kapita per bulan.
Kenaikan garis kemiskinan ini disebabkan kenaikan laju inflasi dari tahun sebelumnya. Laju inflasi pada Maret 2010 hanya mencapai 3,49 persen, menjadi 5,95 persen pada Maret 2011. “Laju inflasi tinggi di tahun 2011, dikarenakan adanya kenaikan harga-harga makanan dan minuman. Itu yang memacu kenaikan garis kemiskinan,” kata Kepala BPS DKI Jakarta, Agus Suherman.
Akibatnya, lanjut Agus, jumlah pengeluaran penduduk DKI Jakarta pun semakin meningkat sehingga mencapai Rp 355.480 per kapita per bulan atau paling tidak warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp 11.000 per harinya. Dengan komposisi garis kemiskinan yaitu garis kemiskinan makanan sebesar Rp 229.147 atau 64,46 persen dan garis kemiskinan non makanan sebesar Rp 117.682 atau 35,54 persen.
Tingginya angka kemiskinan yang terjadi inilah, Agus berharap Pemprov DKI Jakarta untuk bekerja lebih keras lagi dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Ibukota. "Seluruh dinas terkait kemiskinan harus menciptakan terobosan program pengentasan kemiskinan yang baru, untuk mendampingi program pengentasan kemiskinan yang sudah ada," jelasnya. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1840825/anggaran-tak-sedikit-kemiskinan-tetap-tinggi
Label:
garis
,
jakarta
,
kemiskinan
,
meningkat
,
miskin
,
orang
,
pengentasan
,
peningkatan
,
program
Langganan:
Postingan
(
Atom
)