JAKARTA - Selama ratusan tahun, Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia tak pernah tanpa didampingi oleh orang tuanya, Gubernur DKI Jakarta. Dari zaman Suwiryo pada tahun 1945 hingga zaman Fauzi Wibowo pada tahun 2011, Jakarta selalu merayakan ulang tahunnya bersama sang pemimpin Ibu Kota yang jatuh pada tanggal 22 Juni.
Hingga saat ulang tahunnya yang ke-487 pada 22 Juni 2014, Jakarta merayakan ulang tahunnya sendiri. Saat kota yang berdiri ratusan tahun ini dipimpin mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi.
Di tengah karut marutnya masalah Jakarta terutama soal kemacetan dan banjir, pada Oktober 2012, Mantan Wali Kota Solo itu diberikan amanat oleh warga Ibu Kota untuk membenahi masalah Jakarta.
Kala itu Jokowi yang didampingi oleh wakilnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi dengan mengucap sumpah dan janji akan menyelesaikan masa jabatan mereka selama lima tahun untuk memperbaiki Jakarta dengan slogan yang mereka banggakan, Jakarta Baru.
Masa pemerintahan Jokowi-Ahok pun berjalan. Mereka mengumbar berbagai program unggulan untuk mewujudkan impian mereka menciptakan Jakarta Baru melalui program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).
Di tahun pertama pemerintahan, meski dihadang berbagai penolakan warga, pasangan Jokowi-Ahok pun berhasil menyulap beberapa lokasi menjadi lebih teratur dan nyaman seperti Taman Waduk Pluit, Kampung Deret Petogogan, revitalisasi beberapa pasar tradisional, relokasi pedagang kaki lima, dan lain sebagainya.
Menjelang ulang tahun Jakarta ke-486 pada 22 Juni 2013, Jokowi pun menyiapkan berbagai acara perayaan seperti belasan panggung musik dalam acara Jakarta Night Festival (JNF). Kala itu, Jokowi pun turun ke tengah masyarakat pada hari yang juga merupakan hari ulang tahunnya itu.
Warga Jakarta pun senang dan antusias memyambut bapak yang senang blusukan itu. Ibarat pengantin baru, warga DKI dan pasangan Jokowi-Ahok tengah dalam masa-masa indah.
Namun di tahun kedua, pemerintahan Jokowi sudah mulai tersendat beberapa masalah. Di tengah harapan warga Jakarta yang dijanjikan sebuah kelancaran lalu lintas dengan bus Transjakarta, pengadaan bus itu pun mengalami masalah yang hingga saat ini masih dalam penanganan Kejaksaan Agung.
Selain itu, para pedagang kaki lima Tanah Abang hasil relokasi yang dilakukan Jokowi pun berkeluh kesah dagangan mereka tidak laku pascarelokasi.
Keadaan ini diperparah hingga menjelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Hingga pada Maret 2014, warga Jakarta dikejutkan oleh keputusan orang nomor satu di DKI Jakarta itu ketika dia memutuskan untuk maju dalam bursa pemilihan presiden.
Saat itu, ditengah aktifitas blusukannya, dia yang berada di Rumah Si Pitung di kawasan Marunda, entah tiba-tiba atau sudah diskenariokan, Jokowi menerima telepon dari Ketua Partai berlambang banteng moncong putih, PDIP, Megawati Soekarnoputri yang memberikan mandat untuk maju dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2014.
Keputusan Jokowi ini menimbulkan pro dan kontra di tengah warga Jakarta yang berharap banyak padanya untuk membenahi Ibu Kota. Maret, April, Jokowi pun sudah aktif melakukan kampanye membantu para calon legislatif PDIP untuk memenangkan kursi 20% bagi partainya itu. Kendati demikian, dia tetap berdalih masih fokus dalam mengurus Ibu Kota.
Hingga akhir Mei, Jokowi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bersama Prabowo Subianto, mereka ditetapkan oleh KPU menjadi calon presiden. Jokowi pun mengajukan cuti mengikuti Pilpres 2014 dan menyerahkan komando pemerintahan pada wakilnya, Ahok.
Genap pada tanggal 1 Juni 2014, Ahok resmi menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI dan dibebani pekerjaan rumah dari pasangan yang sudah berjanji bersamanya menciptakan Jakarta Baru selama lima tahun.
Warga Jakarta pun harus pasrah di HUT Jakarta ke-487 tanpa kehadiran seorang pemimpin. Harus pasrah dengan keputusan Jokowi yang sudah bulat untuk maju dalam pertarungan pemimpin negara, dan mengingkari janjinya membenahi ibu kota selama lima tahun.
"Ah sudah lah, terserah Jokowi saja. Kita mau protes supaya enggak maju Presiden, tetap saja enggak didengerin. Kita sih cuma rakyat kecil, kecewa aja," ujar salah satu warga Jakarta, Ijal, saat berbincang dengan Okezone, Minggu (22/6/2014).
Warga Utan Panjang yang merupakan pedagang pulsa itu juga mengaku masih belum merasakan hasil kerja dari pemerintahan Jokowi lantaran kemacetan masih belum teratasi.
"Ah sama aja dah, macet juga masih. Enggak ada yang berubah. Udah pusing sama pejabat sekarang. Kita rakyat yang dikorbanin," ujarnya pasrah.
Dia pun berharap, pada hari ulang tahun Jakarta ke-487 ini, Jakarta ke depan bisa dipimpin oleh orang yang amanah memegang teguh janjinya memperbaiki Jakarta.
"Ya kita sih pengennya ada orang yang bener-bener benerin Jakarta supaya enggak macet lagi, enggak banjir lagi, dan bisa lebih sejahtera," ucapnya.
Hal serupa juga dirasakan Eni, warga Cempaka Baru. Dia mengaku euforia ulang tahun Jakarta tahun ini tidak begitu terasa.
"Beda (dengan HUT DKI sebelumnya). Kayaknya enggak kerasa aja tahun ini. Yang ada cuma Pilpres saja. Jokowinya aja nyapres. Mungkin dia cuma inget capres, enggak inget HUT DKI," bebernya.
Semoga saja apa yang diharapkan warga kota Jakarta di Hari Ulang Tahun yang ke-487 bisa terwujud. Dirgahayu Jakarta!
Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2014/06/22/500/1002428/rekor-pertama-kali-jakarta-rayakan-hut-tanpa-gubernur
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label maju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maju. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Juni 2014
Rekor! Pertama Kali Jakarta Rayakan HUT Tanpa Gubernur
Label:
ahok
,
dki
,
hari ulang tahun
,
hut
,
ibu kota
,
jakarta
,
janji
,
jokowi
,
jokowi-ahok
,
juni
,
maju
,
pasrah
,
pedagang kaki lima
,
pemerintahan
,
pemilihan umum
,
pilpres
,
ulang
,
wali kota
,
warga
Rabu, 16 April 2014
Tata Kota Jakarta Kalahkan Manila dan Addis Adaba
TEMPO.CO, Jakarta - Jakarta berada pada peringkat pertama dalam Global Ranking of Emerging Cities versi konsultan A.T. Kearney. Kepala Perwakilan AT Kearney wilayah Asia Pasifik John Kurtz mengatakan Jakarta merupakan kota yang paling maju dalam membenahi infrastrukturnya, mengalahkan 20 kota di negara lain. Survei ini, kata John, juga untuk mengetahui bagaimana kota di negara dunia ketiga ini berpotensi untuk memperbaiki posisi global mereka dalam dua dekade ke depan atau berada pada Global Cities.Index.
"Arah dan kemimpinan Jakarta Baru telah membawa optimisme," kata John, di Balai Kota. "Jakarta bisa lebih maju dalam komunitas global dan sudah menjadi daya tarik tersendiri."
John mengatakan saat ini Jakarta menempati peringkat pertama, disusul Manila dan Addis Adaba, sebuah kota di Ethiopia. Jika dalam 20 tahun ke depan tata kota di Jakarta konsisten, John melanjutkan, maka Jakarta akan bergabung dengan kota-kota maju lain, seperti New York, London dan Paris yang masuk dalam kategori Global Cities Index.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan hasil penilaian ini sehubungan dengan perencanaan infrastruktur tranportasi seperti MRT dan Monorel. "Meskipun keduanya baru dimulai, tapi kan sudah dimulai," kata Jokowi. (Baca: Proyek MRT, Penggalian Stasiun Bawah Tanah Dimulai)
Selain itu, ada dua penilaian lain yang menjadikan Jakarta berada di peringkat pertama kota berkembang, yaitu masalah penanganan banjir dan pemenuhan kebutuhan dasar. (Baca: Jokowi: Waduk Pondok Ranggon Tampung Luapan Kali)
"Kalau penanganan banjir seperti pengerukan waduk yang dibersihkan dan sudah dikerjakan," ujar Jokowi. "Lalu yang masalah kebutuhan dasar, ya seperti pelaksanaan dan penerapan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS)."
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/04/16/231571041/Tata-Kota-Jakarta-Kalahkan-Manila-dan-Addis-Adaba
"Arah dan kemimpinan Jakarta Baru telah membawa optimisme," kata John, di Balai Kota. "Jakarta bisa lebih maju dalam komunitas global dan sudah menjadi daya tarik tersendiri."
John mengatakan saat ini Jakarta menempati peringkat pertama, disusul Manila dan Addis Adaba, sebuah kota di Ethiopia. Jika dalam 20 tahun ke depan tata kota di Jakarta konsisten, John melanjutkan, maka Jakarta akan bergabung dengan kota-kota maju lain, seperti New York, London dan Paris yang masuk dalam kategori Global Cities Index.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan hasil penilaian ini sehubungan dengan perencanaan infrastruktur tranportasi seperti MRT dan Monorel. "Meskipun keduanya baru dimulai, tapi kan sudah dimulai," kata Jokowi. (Baca: Proyek MRT, Penggalian Stasiun Bawah Tanah Dimulai)
Selain itu, ada dua penilaian lain yang menjadikan Jakarta berada di peringkat pertama kota berkembang, yaitu masalah penanganan banjir dan pemenuhan kebutuhan dasar. (Baca: Jokowi: Waduk Pondok Ranggon Tampung Luapan Kali)
"Kalau penanganan banjir seperti pengerukan waduk yang dibersihkan dan sudah dikerjakan," ujar Jokowi. "Lalu yang masalah kebutuhan dasar, ya seperti pelaksanaan dan penerapan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS)."
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/04/16/231571041/Tata-Kota-Jakarta-Kalahkan-Manila-dan-Addis-Adaba
Jumat, 26 Juli 2013
Niat "Nyapres" Bisa Jadi Blunder untuk Jokowi
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi sosok fenomenal karena merajai sebagian besar survei kandidat calon presiden yang diinginkan masyarakat. Namun, hingga saat ini, Jokowi belum menyatakan kesiapannya maju dalam pilpres. Jika nantinya Jokowi menyatakan berminat maju, hal ini diyakini akan menjadi blunder bagi mantan Wali Kota Surakarta itu.
"Akan jadi blunder itu jika dilihat melalui kacamata pemilih Jakarta dan kelas menengah melek politik," ujar pengamat politik dari Pol-Track Institute Arya Budi saat dihubungi, Kamis (25/7/2013).
Ia mengatakan, kelas menengah dan pemilih Jakarta akan menilai kinerja Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta masih belum cukup. Hal ini terlihat dari persoalan macet, banjir, dan politik perkotaan yang juga belum selesai.
"Kalau ukuran-ukuran itu selesai sebelum Mei 2014, Jokowi tidak akan sulit maju sebagai capres. Selain itu, bagi publik pemilih nasional, Jokowi adalah figur alternatif di luar para patron partai yang sudah tegas jelas mencalonkan diri," kata Arya Budi.
Terlepas sudah teruji atau belum memimpin Ibu Kota, menurut Arya, ada satu ganjalan lagi bagi Jokowi untuk maju, yakni janji Jokowi untuk menjabat satu periode penuh jika menang Pilkada DKI Jakarta. Hal tersebut diyakini akan dimanfaatkan para lawan politik Jokowi untuk mengandaskan niat Jokowi maju dalam pilpres.
Tetapi, kata Arya, publik pemilih saat ini cenderung lupa akan janji Jokowi itu. Publik lebih cenderung melihat kondisi saat ini.
"Tapi, lawan politik pasti akan 'mengingatkan' publik juga," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Arya, sikap Jokowi yang pasif atas wacana pencapresannya adalah sikap terbaik. Pernyataan dan sikap pasif Jokowi dinilainya sebagai strategi Jokowi untuk meningkatkan elektabilitasnya.
Sebelumnya, nama Jokowi selalu menempati peringkat teratas sebagai kandidat capres pada Pemilu 2014. Survei terakhir dari Lembaga Survei Nasional (LSN) menempatkan Jokowi di urutan teratas sebagai kandidat capres yang dikehendaki rakyat mengungguli capres-capres lain yang sudah mendeklarasikan diri seperti Prabowo Subianto, Aburizal "Ical" Bakrie, dan Wiranto.
Berdasarkan survei Soegeng Sarjadi School of Goverment juga menempatkan Jokowi sebagai tokoh paling populer mengalahkan Prabowo dan Jusuf Kalla.
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2013/07/25/1053323/Niat.Nyapres.Bisa.Jadi.Blunder.untuk.Jokowi
"Akan jadi blunder itu jika dilihat melalui kacamata pemilih Jakarta dan kelas menengah melek politik," ujar pengamat politik dari Pol-Track Institute Arya Budi saat dihubungi, Kamis (25/7/2013).
Ia mengatakan, kelas menengah dan pemilih Jakarta akan menilai kinerja Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta masih belum cukup. Hal ini terlihat dari persoalan macet, banjir, dan politik perkotaan yang juga belum selesai.
"Kalau ukuran-ukuran itu selesai sebelum Mei 2014, Jokowi tidak akan sulit maju sebagai capres. Selain itu, bagi publik pemilih nasional, Jokowi adalah figur alternatif di luar para patron partai yang sudah tegas jelas mencalonkan diri," kata Arya Budi.
Terlepas sudah teruji atau belum memimpin Ibu Kota, menurut Arya, ada satu ganjalan lagi bagi Jokowi untuk maju, yakni janji Jokowi untuk menjabat satu periode penuh jika menang Pilkada DKI Jakarta. Hal tersebut diyakini akan dimanfaatkan para lawan politik Jokowi untuk mengandaskan niat Jokowi maju dalam pilpres.
Tetapi, kata Arya, publik pemilih saat ini cenderung lupa akan janji Jokowi itu. Publik lebih cenderung melihat kondisi saat ini.
"Tapi, lawan politik pasti akan 'mengingatkan' publik juga," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut Arya, sikap Jokowi yang pasif atas wacana pencapresannya adalah sikap terbaik. Pernyataan dan sikap pasif Jokowi dinilainya sebagai strategi Jokowi untuk meningkatkan elektabilitasnya.
Sebelumnya, nama Jokowi selalu menempati peringkat teratas sebagai kandidat capres pada Pemilu 2014. Survei terakhir dari Lembaga Survei Nasional (LSN) menempatkan Jokowi di urutan teratas sebagai kandidat capres yang dikehendaki rakyat mengungguli capres-capres lain yang sudah mendeklarasikan diri seperti Prabowo Subianto, Aburizal "Ical" Bakrie, dan Wiranto.
Berdasarkan survei Soegeng Sarjadi School of Goverment juga menempatkan Jokowi sebagai tokoh paling populer mengalahkan Prabowo dan Jusuf Kalla.
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2013/07/25/1053323/Niat.Nyapres.Bisa.Jadi.Blunder.untuk.Jokowi
Rabu, 10 Juli 2013
Puasa, Macet di Jakarta Maju Satu Jam
TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian memprediksi arus kemacetan di Jakarta maju satu jam pada Ramadan tahun ini. Hal ini diprediksi karena adanya aturan pemerintah yang memangkas jam kerja selama Ramadan.
"(Kemacetan) maju satu jam selama bulan puasa," ujar juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, saat dihubungi Tempo, Selasa, 9 Juli 2013. Kemacetan di Jakarta pada bulan puasa diprediksi mulai pukul 16.00 WIB. Pada bulan-bulan sebelumnya, kemacetan baru mulai parah sejak pukul 17.00 WIB.
"Jam enam sore, jalanan lancar. Bertepatan dengan waktu berbuka," ujarnya. Ia menyatakan, dalam beberapa hari pertama puasa, tak ada rekayasa arus lalu lintas karena pola macet hanya berubah waktunya.
Pada pertengahan puasa, polisi akan mewaspadai kemacetan di sejumlah tempat makan dan restoran. Sebab, saat-saat itu mulai banyak digelar acara buka puasa bersama. Pada akhir bulan puasa, kemacetan yang perlu diantisipasi adalah di pusat perbelanjaan. "Setiap tahun seperti ini, petugas akan turun untuk mengurai kemacetan," ujarnya.
Di beberapa instansi pemerintah, jam kerja pegawai dipangkas. Contohnya bagi PNS di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jam kerja hanya berlaku hingga pukul 15.00 WIB. Hal ini menyesuaikan dengan Surat Edaran Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 7 Tahun 2013. "Hanya tujuh jam kerja, kecuali Jumat pulang pukul 15.30 WIB," ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta Made Karmayoga saat dihubungi.
Sumber : http://ramadan.tempo.co/read/news/2013/07/09/151494808/Puasa-Macet-di-Jakarta-Maju-Satu-Jam
"(Kemacetan) maju satu jam selama bulan puasa," ujar juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, saat dihubungi Tempo, Selasa, 9 Juli 2013. Kemacetan di Jakarta pada bulan puasa diprediksi mulai pukul 16.00 WIB. Pada bulan-bulan sebelumnya, kemacetan baru mulai parah sejak pukul 17.00 WIB.
"Jam enam sore, jalanan lancar. Bertepatan dengan waktu berbuka," ujarnya. Ia menyatakan, dalam beberapa hari pertama puasa, tak ada rekayasa arus lalu lintas karena pola macet hanya berubah waktunya.
Pada pertengahan puasa, polisi akan mewaspadai kemacetan di sejumlah tempat makan dan restoran. Sebab, saat-saat itu mulai banyak digelar acara buka puasa bersama. Pada akhir bulan puasa, kemacetan yang perlu diantisipasi adalah di pusat perbelanjaan. "Setiap tahun seperti ini, petugas akan turun untuk mengurai kemacetan," ujarnya.
Di beberapa instansi pemerintah, jam kerja pegawai dipangkas. Contohnya bagi PNS di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jam kerja hanya berlaku hingga pukul 15.00 WIB. Hal ini menyesuaikan dengan Surat Edaran Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 7 Tahun 2013. "Hanya tujuh jam kerja, kecuali Jumat pulang pukul 15.30 WIB," ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta Made Karmayoga saat dihubungi.
Sumber : http://ramadan.tempo.co/read/news/2013/07/09/151494808/Puasa-Macet-di-Jakarta-Maju-Satu-Jam
Label:
bulan puasa
,
bulan-bulan
,
diprediksi
,
dki
,
jakarta
,
jam
,
jam kerja
,
juru bicara
,
kemacetan
,
maju
,
pemerintah
,
puasa
,
pukul
,
ramadan
,
rikwanto
,
saat-saat
,
surat edaran
,
tempo
Langganan:
Postingan
(
Atom
)