Tampilkan postingan dengan label pedagang kaki lima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pedagang kaki lima. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Buang Sampah Sembarangan, Ratusan Warga Jakarta Disidang

VIVA.co.id - Ratusan warga di sekitaran Jakarta Pusat harus rela diamankan Satpol PP. Mereka menjalani sidang Yustisi karena telah kedapatan melanggar ketertiban umun.

Salah satu ketertiban umum yang dilanggar tersebut adalah membuang sampah sembarangan tidak pada tempatnya.

Sekretaris Kota Jakarta Pusat Bayu Megantara mengatakan, ‎Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat menggelar sidang Yustisi tersebut terkait pelanggaran Peraturan Daerah No 8 Tahun 2007, tentang Ketertiban Umum.

"Terkait Perda tentang kebersihan, sidang kali ini memfokuskan untuk para pedagang kaki lima liar serta warga yang membuang sampah sembarangan," ujar Bayu yang hadir langsung saat sidang Yustisi digelar di Kantor Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat 20 Februari 2015.

Menurut Bayu, dalam sidang ini, ada sekitar 126 warga yang mengikuti sidang.

"23 orang di antaranya adalah warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan di kawasan Jakarta Pusat," katanya.

Bayu melanjutkan, hingga saat ini Pemkot Jakarta Pusat terus berupaya mengantisipasi maraknya warga yang buang sampah sembarangan. Untuk mencegah, pihaknya sudah mengerahkan petugas Satpol PP baik di tingkat Kecamatan serta Kelurahan untuk berpatroli hingga dinihari.

Selanjutnya, kata Bayu, warga yang kedapatan buang sampah sembarangan, setelah menjalani sidang Yustisi, wajib membayar denda ratusan ribu rupiah.

"Ini ada juga yang ditangkap pada subuh tadi. Mereka nanti akan didenda 100 ribu -150 ribu, tergantung pada putusan hakim," ujarnya

Sementara itu, dalam sidang Yustisi ini diketuai oleh Heru Prakoso sebagai Hakim Ketua serta Jaksa Penuntut Umum, Joko. Mereka berasal dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Kejari Jakarta Pusat.

Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/592374-buang-sampah-sembarangan--ratusan-warga-jakarta-disidang

Jumat, 05 September 2014

Urai Macet di Jakarta, Polda Metro Kerahkan Unit Pemburu Kemacetan Bersepeda

Jakarta - Kemacetan di Ibu Kota ini seakan tidak pernah ada habisnya. Setiap sudut jalanan di Jakarta penuh sesak oleh kendaraan bermotor. Bahkan, polisi lalu lintas pun kerap terjebak kemacetan saat hendak menuju ke lokasi untuk mengurai kemacetan.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Restu Mulya Budyanto mengatakan, sebagai solusi mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya mengerahkan pasukan khusus untuk mengurai kemacetan di Jakarta.

"Kita siapkan pasukan bersepeda, namanya Unit Pemburu Kemacetan. Kalau pakai sepeda kan bisa diangkat ke trotoar tanpa harus dikayuh bisa sambil jalan kaki kan lebih cepat," ujar Restu di Jakarta, Kamis (4/9/2014).

Untuk menunjang anggota patroli bersepeda, Polda Metro Jaya menyiapkan ratusan unit sepeda kayuh. Sepeda-sepeda ini nantinya akan disebarkan ke Polres-Polres.

"Selain anggota Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya, sepeda ini juga akan kami drop ke Satwil-Satwil," imbuhnya.

Selain anggota bersepeda, Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya juga mengerahkan pasukan bermotor trail untuk mengurai kemacetan. Ada 70 unit motor trail yang disiapkan.

Lebih jauh, Restu mengatakan, kemacetan di Jakarta saat ini sudah pada level kronis. Kemacetan sudah menyebar ke hampir sudut kota.

Disamping banyaknya jumlah kendaraan, banyaknya hambatan jalan menjadi penyumbang kemacetan. Seperti contohnya pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar. Sementara jumlah kendaraan meningkat, namun di sisi lain infrastruktur jalan tidak bertambah.

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/09/04/112709/2681059/10/urai-macet-di-jakarta-polda-metro-kerahkan-unit-pemburu-kemacetan-bersepeda

Rabu, 13 Agustus 2014

Ahok: Hujan Sebentar Langsung Banjir, Warga Jakarta Ngamuk-ngamuk

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta warga Ibu Kota untuk menaati peraturan yang berlaku dalam program antisipasi banjir. Selain pemerintah, menurut dia, warga juga harus berperan dalam mengatasi masalah "langganan" Ibu Kota tersebut.

"Jakarta ini mana nyaman, sih? Lihat saja hujan sebentar langsung banjir, langsung pada ngamuk-ngamuk," kata pria yang akrab disapa Ahok itu di Balaikota Jakarta, Selasa (12/8/2014).

Apabila warga ingin rumahnya tidak terendam banjir lagi, warga juga harus tertib dan mau menegakkan peraturan yang berlaku. Putra Belitung Timur itu mengaku telah puluhan tahun tinggal di Ibu Kota dan menjadi warga Jakarta sehingga ia mengetahui dampak hujan deras adalah banjir dan kemacetan yang mengular.

Pemprov DKI pun berupaya untuk meminimalisasi dua permasalahan Jakarta yang tak kunjung usai tersebut. Misalnya saja, mengoptimalkan transportasi massal, pembangunan light rail transit, pembangunan jalan inspeksi sungai, dan penertiban pedagang kaki lima (PKL).

"Jangan bilang saya keras, tapi Anda menuntut kenyamanan, ya sudah kami akan tertibkan semuanya. Sekarang gini, Anda menuntut saya mau nyaman, saya harus gimana? Kita enggak ada pilihan lain lagi," tegas Basuki.

Sebagai informasi, hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Senin (11/8/2014) sore menyebabkan genangan di sejumlah lokasi. Bahkan, wilayah elite Kemang terendam banjir. Selain itu, genangan juga menyebabkan kemacetan mengular.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/08/12/16201821/Ahok.Hujan.Sebentar.Langsung.Banjir.Warga.Jakarta.Ngamuk-ngamuk

Senin, 23 Juni 2014

Rekor! Pertama Kali Jakarta Rayakan HUT Tanpa Gubernur

JAKARTA - Selama ratusan tahun, Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia tak pernah tanpa didampingi oleh orang tuanya, Gubernur DKI Jakarta. Dari zaman Suwiryo pada tahun 1945 hingga zaman Fauzi Wibowo pada tahun 2011, Jakarta selalu merayakan ulang tahunnya bersama sang pemimpin Ibu Kota yang jatuh pada tanggal 22 Juni.

Hingga saat ulang tahunnya yang ke-487 pada 22 Juni 2014, Jakarta merayakan ulang tahunnya sendiri. Saat kota yang berdiri ratusan tahun ini dipimpin mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi.

Di tengah karut marutnya masalah Jakarta terutama soal kemacetan dan banjir, pada Oktober 2012, Mantan Wali Kota Solo itu diberikan amanat oleh warga Ibu Kota untuk membenahi masalah Jakarta.

Kala itu Jokowi yang didampingi oleh wakilnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dilantik oleh Mendagri Gamawan Fauzi dengan mengucap sumpah dan janji akan menyelesaikan masa jabatan mereka selama lima tahun untuk memperbaiki Jakarta dengan slogan yang mereka banggakan, Jakarta Baru.

Masa pemerintahan Jokowi-Ahok pun berjalan. Mereka mengumbar berbagai program unggulan untuk mewujudkan impian mereka menciptakan Jakarta Baru melalui program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Di tahun pertama pemerintahan, meski dihadang berbagai penolakan warga, pasangan Jokowi-Ahok pun berhasil menyulap beberapa lokasi menjadi lebih teratur dan nyaman seperti Taman Waduk Pluit, Kampung Deret Petogogan, revitalisasi beberapa pasar tradisional, relokasi pedagang kaki lima, dan lain sebagainya.

Menjelang ulang tahun Jakarta ke-486 pada 22 Juni 2013, Jokowi pun menyiapkan berbagai acara perayaan seperti belasan panggung musik dalam acara Jakarta Night Festival (JNF). Kala itu, Jokowi pun turun ke tengah masyarakat pada hari yang juga merupakan hari ulang tahunnya itu.

Warga Jakarta pun senang dan antusias memyambut bapak yang senang blusukan itu. Ibarat pengantin baru, warga DKI dan pasangan Jokowi-Ahok tengah dalam masa-masa indah.

Namun di tahun kedua, pemerintahan Jokowi sudah mulai tersendat beberapa masalah. Di tengah harapan warga Jakarta yang dijanjikan sebuah kelancaran lalu lintas dengan bus Transjakarta, pengadaan bus itu pun mengalami masalah yang hingga saat ini masih dalam penanganan Kejaksaan Agung.

Selain itu, para pedagang kaki lima Tanah Abang hasil relokasi yang dilakukan Jokowi pun berkeluh kesah dagangan mereka tidak laku pascarelokasi.

Keadaan ini diperparah hingga menjelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Hingga pada Maret 2014, warga Jakarta dikejutkan oleh keputusan orang nomor satu di DKI Jakarta itu ketika dia memutuskan untuk maju dalam bursa pemilihan presiden.

Saat itu, ditengah aktifitas blusukannya, dia yang berada di Rumah Si Pitung di kawasan Marunda, entah tiba-tiba atau sudah diskenariokan, Jokowi menerima telepon dari Ketua Partai berlambang banteng moncong putih, PDIP, Megawati Soekarnoputri yang memberikan mandat untuk maju dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2014.

Keputusan Jokowi ini menimbulkan pro dan kontra di tengah warga Jakarta yang berharap banyak padanya untuk membenahi Ibu Kota. Maret, April, Jokowi pun sudah aktif melakukan kampanye membantu para calon legislatif PDIP untuk memenangkan kursi 20% bagi partainya itu. Kendati demikian, dia tetap berdalih masih fokus dalam mengurus Ibu Kota.

Hingga akhir Mei, Jokowi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bersama Prabowo Subianto, mereka ditetapkan oleh KPU menjadi calon presiden. Jokowi pun mengajukan cuti mengikuti Pilpres 2014 dan menyerahkan komando pemerintahan pada wakilnya, Ahok.

Genap pada tanggal 1 Juni 2014, Ahok resmi menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI dan dibebani pekerjaan rumah dari pasangan yang sudah berjanji bersamanya menciptakan Jakarta Baru selama lima tahun.

Warga Jakarta pun harus pasrah di HUT Jakarta ke-487 tanpa kehadiran seorang pemimpin. Harus pasrah dengan keputusan Jokowi yang sudah bulat untuk maju dalam pertarungan pemimpin negara, dan mengingkari janjinya membenahi ibu kota selama lima tahun.

"Ah sudah lah, terserah Jokowi saja. Kita mau protes supaya enggak maju Presiden, tetap saja enggak didengerin. Kita sih cuma rakyat kecil, kecewa aja," ujar salah satu warga Jakarta, Ijal, saat berbincang dengan Okezone, Minggu (22/6/2014).

Warga Utan Panjang yang merupakan pedagang pulsa itu juga mengaku masih belum merasakan hasil kerja dari pemerintahan Jokowi lantaran kemacetan masih belum teratasi.

"Ah sama aja dah, macet juga masih. Enggak ada yang berubah. Udah pusing sama pejabat sekarang. Kita rakyat yang dikorbanin," ujarnya pasrah.

Dia pun berharap, pada hari ulang tahun Jakarta ke-487 ini, Jakarta ke depan bisa dipimpin oleh orang yang amanah memegang teguh janjinya memperbaiki Jakarta.

"Ya kita sih pengennya ada orang yang bener-bener benerin Jakarta supaya enggak macet lagi, enggak banjir lagi, dan bisa lebih sejahtera," ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan Eni, warga Cempaka Baru. Dia mengaku euforia ulang tahun Jakarta tahun ini tidak begitu terasa.

"Beda (dengan HUT DKI sebelumnya). Kayaknya enggak kerasa aja tahun ini. Yang ada cuma Pilpres saja. Jokowinya aja nyapres. Mungkin dia cuma inget capres, enggak inget HUT DKI," bebernya.

Semoga saja apa yang diharapkan warga kota Jakarta di Hari Ulang Tahun yang ke-487 bisa terwujud. Dirgahayu Jakarta!

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2014/06/22/500/1002428/rekor-pertama-kali-jakarta-rayakan-hut-tanpa-gubernur

Selasa, 29 Oktober 2013

Wajah Jakarta Setahun Terakhir

JAKARTA, KOMPAS.com - Setahun sudah pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama memimpin DKI Jakarta. Sebelum dilantik keduanya berjanji untuk segera ”tancap gas” membenahi Ibu Kota republik ini. Sejak hari pertama menjabat, pasangan ini langsung bekerja.

Gubernur dengan gaya blusukan-nya mencoba mengurai masalah di masyarakat. Sementara Basuki mencoba membenahi birokrasi.

Setahun berjalan, arah perubahan pun mulai dirasakan warga. Sejumlah aksi konkret diwujudkan di lapangan. Sebut misalnya normalisasi Waduk Pluit dan Waduk Ria-Rio serta relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Tanah Abang dan Pasar Minggu.

Normalisasi waduk bertujuan mengurangi dampak banjir yang selalu mengancam Jakarta. Hal ini dilakukan dengan membongkar hunian liar dan memindahkan penghuninya ke rumah susun. Adapun PKL yang selama ini menjadi biang kemacetan karena menyesaki Jalan Kebon Jati, dipindahkan ke Pasar Tanah Abang Blok G.

Alhasil, kawasan waduk yang dahulu kumuh, sekarang berubah menjadi taman dengan berbagai fasilitas pendukung. Relokasi PKL pun membuahkan kelancaran lalu lintas di kawasan Tanah Abang.

Namun penataan waduk dan relokasi pedagang masih menyisakan beberapa pekerjaan. Perlu upaya berkelanjutan untuk menjaga warga rusun tidak kembali ke kawasan kumuh pasca-masa sewa gratis. Juga perlu terus dikawal agar PKL tidak kembali menyita badan jalan.

Tentunya waktu satu tahun masih sangat singkat untuk membenahi berbagai persoalan Jakarta yang kompleks. Kemacetan lalu lintas dan tidak tersedianya angkutan massal yang nyaman dan aman bagi warga harus segera diatasi. Jabatan gubernur dan wakil gubernur masih empat tahun. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi di Jakarta dalam waktu 4 tahun ke depan.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/28/0733369/Wajah.Jakarta.Setahun.Terakhir

Kamis, 25 Juli 2013

Jokowi akan bikin pasar malam untuk PKL di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan membuat konsep night market untuk para Pedagang Kaki Lima (PKL). Acara tersebut akan diberi nama Pasar Malam Jakarta (PMJ).

"Kita nanti akan bikin Pasar Malam Jakarta. Sekitar 2 bulan lagi," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Rabu (24/7).

Jokowi menjelaskan, pedagang yang akan berjualan pada PMJ akan diprioritaskan untuk pedagang yang ber-KTP DKI Jakarta. PMJ tersebut juga menyediakan aneka jajanan kuliner khas Betawi. Disana akan ada 500 hingga 600 PKL yang akan ikut turut serta berjualan.

"Nanti di sepanjang Jalan Merdeka Selatan. Dari Patung Kuda, depan Balai Kota sini sampai Gambir. Juga ada panggung hiburan nanti di tengah-tengah situ. Mulai dari jam 17.00 WIB sampai jam 24.00 WIB," ujarnya.

Mantan Wali Kota Solo ini menjelaskan, program PMJ tersebut akan dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta sendiri. Total anggaran yang akan dikeluarkan sebesar Rp 760 juta.

Politikus PDIP ini juga mengaku mengadakan PMJ juga termasuk salah satu tujuannya untuk menertibkan para PKL. Ia juga meyakinkan bahwa pasar malam tersebut nantinya tidak akan mengakibatkan kemacetan lalu lintas.

"Iya, nanti kalo ini sudah bener betul, baru ke wilayah kota. Jadi nanti PKL-PKL yang ada di anukan ke sana. Tapi kan problem kita, kalo nutup jalan akan mengakibatkan macet apa ga, tp ga lah kan hanya seminggu sekali," ujarnya sambil tertawa.

Selain itu, Jokowi tidak lupa akan masalah kebersihan. Pasalnya masalah sampah menumpuk terjadi pada perayaan Muda Mudi Jakarta pekan lalu. Dia berjanji akan memperhatikan tentang masalah pendidikan kebersihan pada masyarakat.

"Nah itu nanti yg baru-baru seperti ini pasti kita atur. Pendidikan, mengedukasi masyarakat, mengedukasi pedagang. Penting. Air juga, jangan sampai air keran yang diember dipake dari pagi sampe malam ga diganti," imbuh Jokowi.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/jokowi-akan-bikin-pasar-malam-untuk-pkl-di-jakarta.html

Senin, 15 Juli 2013

Jokowi: Blok G Tanah Abang Untuk PKL Ber-KTP DKI

INILAH.COM, Jakarta - Untuk mencegah kemacetan arus lalu lintas disekitar Pasar Tanah Abang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan merelokasi pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan bahu jalan untuk berdagang ke dalam Gedung Blok G Pasar Tanah Abang.

"Pokoknya kami akan mendorong PKL masuk ke kantong kawasan yang sudah disediakan seperti Tanah Abang," ujar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (10/7/2013).

Jokowi mengakui, jumlah PKL khususnya di wilayah Pasar Tanah Abang sangat banyak. Hal itu akan menyulitkan usaha Pemprov DKI Jakarta untuk merelokasi PKL ke Gedung Blok G yang disediakan sebagai kantong kawasan PKL.

Oleh karena itu, ia mengatakan tidak semua PKL akan diberikan tempat untuk berdagang di gedung Blok G. Pria yang akrab disapa Jokowi itu menegaskan, hanya pedagang ber-KTP DKI Jakarta saja bisa mendapatkan tempat disana.

"Idealnya PKL yang masuk ke kantong-kantong pasar yang sudah disediakan itu adalah warga asli Jakarta atau memiliki KTP DKI. Sebab, saat ini banyak sekali pedagang yang datang ke Ibu Kota hanya untuk berjualan. Kemudian berjualannya tidak pada tempatnya," jelasnya.

Selain kawasan Tanah Abang, disebutkannya, ada beberapa kawasan lain yang akan menjadi tempat relokasi PKL, seperti di Pasar Minggu dan Jatinegara. Ketiga kawasan ini menurutnya, merupakan kawasan yang menjadi titik kemacetan yang diakibatkan PKL.[bay]

Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/2008820/jokowi-blok-g-tanah-abang-untuk-pkl-ber-ktp-dki#.UeQcK9I3DHx