JAKARTA, KOMPAS.com — Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini kecepatan rata-rata berkendara di Jakarta pada pagi hari di hari kerja hanya berkisar 5 kilometer per jam. Kondisi itu telah berlangsung sejak empat tahun terakhir, tepatnya sejak 2011.
Berdasarkan data tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari Pasar Minggu ke Manggarai mencapai sekitar 95 menit karena kecepatan berkendaranya hanya 6,1 km per jam.
"Sedangkan dari Cilandak ke Monas waktu tempuh bisa sampai 100 menit karena kecepatan kendaraan cuma 9,4 kilometer per jam," tutur Manajer Proyek MRT untuk sesi jalan layang dari PT MRT Jakarta, Heru Nugroho, dalam seminar tentang pembangunan MRT Jakarta, di Jakarta, Kamis (4/6/2015).
Menurut Heru, kecepatan berkendara di Jakarta pada pagi hari di hari kerja yang ada saat ini telah jauh menurun dibanding sekitar 1-2 dekade yang lalu.
Sebab, kata dia, data BPS menyebutkan, pada tahun 2000, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 16 kilometer per jam dengan waktu tempuh 36 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 19 kilometer per jam dengan waktu tempuh 49 menit.
"Pada tahun 1985, kecepatan berkendara dari Pasar Minggu ke Manggarai masih sekitar 26 kilometer per jam dengan waktu tempuh 22 menit, sedangkan Cilandak ke Monas sekitar 24 kilometer per jam dengan waktu tempuh 38 menit," kata dia.
Heru mengatakan, semakin menurunnya kecepatan berkendara di Jakarta merupakan dampak dari semakin meningkatnya jumlah dan penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini yang menjadi penyebab utama terjadinya kemacetan lalu lintas.
Atas dasar itu, kata dia, pengembangan transportasi massal merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak kemacetan di Jakarta. Salah satunya adalah dengan membangun layanan MRT yang proyek pembangunannya saat ini masih tengah berjalan dan diprediksi mulai beroperasi paling lambat pada 2018.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/04/11193151/Kecepatan.Berkendara.di.Jakarta.Tinggal.5.Km.Per.Jam
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label dampak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dampak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Juni 2015
Kamis, 27 November 2014
'Yang buat macet Jakarta itu mobil bukan motor
Merdeka.com - Suara penolakan terkait kebijakan motor dilarang lewat HI terus bergulir. Fraksi PPP di DPRD DKI menilai motor bukanlah biang kemacetan di Jakarta.
"Yang menyebabkan macet itukan mobil bukan motor?" kata Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta, Maman Firmansyah, saat ditemui di DPRD DKI Jakarta, Kamis (27/11).
Dia menilai pengendara motor memiliki kontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD) dari pembayaran pajak. Karena itulah, katanya, kebijakan ini tak mempunyai alasan yang cukup jelas.
Menurutnya, kebijakan itu hanyalah dalih Ahok karena belum mampu menangani kemacetan di Jakarta secara maksimal. Dia menyarankan, alangkah lebih baik bila Ahok fokus melakukan peremajaan angkutan umum dan percepat penerapan electronic road pricing (ERP).
"Saya setuju dengan penataan transportasi. Soalnya penerapan pembatasan kendaraan roda dua perlu ada solusi dan sosialisasi kepada masyarakat oleh Pemprov DKI," tegas Maman.
Sebelumnya, Ahok mengetahui salah satu dampak dari penerapan pembatasan motor di Jalan MH Thamrin hingga Jalan Medan Merdeka Barat, adalah muncul parkir liar. Tapi dia memutuskan untuk 'menutup mata' atas dampak tersebut.
Ahok menegaskan, kebijakan ini akan tetap jalan pada 17 Desember nanti.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/yang-buat-macet-jakarta-itu-mobil-bukan-motor.html
"Yang menyebabkan macet itukan mobil bukan motor?" kata Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta, Maman Firmansyah, saat ditemui di DPRD DKI Jakarta, Kamis (27/11).
Dia menilai pengendara motor memiliki kontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD) dari pembayaran pajak. Karena itulah, katanya, kebijakan ini tak mempunyai alasan yang cukup jelas.
Menurutnya, kebijakan itu hanyalah dalih Ahok karena belum mampu menangani kemacetan di Jakarta secara maksimal. Dia menyarankan, alangkah lebih baik bila Ahok fokus melakukan peremajaan angkutan umum dan percepat penerapan electronic road pricing (ERP).
"Saya setuju dengan penataan transportasi. Soalnya penerapan pembatasan kendaraan roda dua perlu ada solusi dan sosialisasi kepada masyarakat oleh Pemprov DKI," tegas Maman.
Sebelumnya, Ahok mengetahui salah satu dampak dari penerapan pembatasan motor di Jalan MH Thamrin hingga Jalan Medan Merdeka Barat, adalah muncul parkir liar. Tapi dia memutuskan untuk 'menutup mata' atas dampak tersebut.
Ahok menegaskan, kebijakan ini akan tetap jalan pada 17 Desember nanti.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/yang-buat-macet-jakarta-itu-mobil-bukan-motor.html
Label:
ahok
,
dampak
,
dki
,
dprd
,
electronic
,
erp
,
fraksi
,
jakarta
,
jalan
,
kebijakan
,
kemacetan
,
maman
,
menutup mata
,
merdeka
,
motor
,
pembatasan
,
penerapan
,
ppp
,
pricing
Kamis, 30 Januari 2014
Peta Resmi Google Sajikan Titik Banjir Jakarta
JAKARTA, KOMPAS.com - Sama seperti tahun lalu, Google, melalui layanan Crisis Response, kembali menyajikan informasi seputar banjir, termasuk peta sebaran titik-titik banjir.
Bedanya, layanan Google kali ini tampaknya akan memberikan informasi dengan cakupan yang lebih luas, yaitu dari seluruh wilayah Indonesia, tidak dari wilayah Ibu Kota Jakarta saja.
Google sendiri menamakan layanan tersebut sebagai "Banjir Indonesia 2014". Pengguna internet dapat mengakses laman ini untuk mengetahui daerah mana saja yang terkena dampak banjir.
"Banjir di berbagai wilayah Indonesia pada Januari 2014 menimbulkan banyak kerusakan dan memaksa puluhan ribu penduduk untuk meninggalkan rumah mereka," tulis Google di bagian "About" atau "Tentang" pada layanan ini.
Hingga berita ini dinaikkan, menurut pengamatan KompasTekno, Google baru menyajikan informasi titik banjir di wilayah Jakarta saja. Daerah-daerah yang terkena dampak banjir ditandai dengan pointer berwarna hijau dan biru.
Warna hijau merupakan titik posko banjir DKI Jakarta. Sementara, warna biru melambangkan wilayah RW (rukun warga) terdampak banjir.
Data titik banjir tersebut didapatkan oleh Google melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain informasi daerah yang terkena dampak banjir, Google juga menyajikan informasi seputar peringatan lalu lintas dari pengguna aplikasi peta Waze, informasi jalan raya, dan curah hujan.
Dengan adanya informasi di Google Crisis Response ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan bisa mengakses informasi terkini dengan cepat dan mudah lewat jaringan internet.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2014/01/29/1542200/Peta.Resmi.Google.Sajikan.Titik.Banjir.Jakarta
Bedanya, layanan Google kali ini tampaknya akan memberikan informasi dengan cakupan yang lebih luas, yaitu dari seluruh wilayah Indonesia, tidak dari wilayah Ibu Kota Jakarta saja.
Google sendiri menamakan layanan tersebut sebagai "Banjir Indonesia 2014". Pengguna internet dapat mengakses laman ini untuk mengetahui daerah mana saja yang terkena dampak banjir.
"Banjir di berbagai wilayah Indonesia pada Januari 2014 menimbulkan banyak kerusakan dan memaksa puluhan ribu penduduk untuk meninggalkan rumah mereka," tulis Google di bagian "About" atau "Tentang" pada layanan ini.
Hingga berita ini dinaikkan, menurut pengamatan KompasTekno, Google baru menyajikan informasi titik banjir di wilayah Jakarta saja. Daerah-daerah yang terkena dampak banjir ditandai dengan pointer berwarna hijau dan biru.
Warna hijau merupakan titik posko banjir DKI Jakarta. Sementara, warna biru melambangkan wilayah RW (rukun warga) terdampak banjir.
Data titik banjir tersebut didapatkan oleh Google melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain informasi daerah yang terkena dampak banjir, Google juga menyajikan informasi seputar peringatan lalu lintas dari pengguna aplikasi peta Waze, informasi jalan raya, dan curah hujan.
Dengan adanya informasi di Google Crisis Response ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan bisa mengakses informasi terkini dengan cepat dan mudah lewat jaringan internet.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2014/01/29/1542200/Peta.Resmi.Google.Sajikan.Titik.Banjir.Jakarta
Jumat, 06 September 2013
Normalisasi Ciliwung, 2 Blok Rusun Bakal Dibangun
JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 1.211 kepala keluarga (KK) bakal terkena dampak relokasi dari program normalisasi Sungai Ciliwung untuk Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.
Dua blok rusun rencananya akan mulai dibangun pada Oktober sebagai tempat hunian warga Kampung Melayu yang bakal direlokasi tersebut. "Jadi, akan dibangun dua blok rusun di Kampung Melayu. Rencananya untuk merelokasi warga-warga di Kampung Pulo dan Kampung Melayu pada normalisasi Sungai Ciliwung," kata Wali Kota Jakarta Timur Krisdiyanto saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/9/2013) malam.
Krisdiyanto mengatakan, kemungkinan awal pengerjaan rusun tersebut akan dimulai setelah peletakan batu pertama pada Oktober 2013 ini. Ia mengatakan, pengerjaan akan dilakukan Ditjen Cipta Karya dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Dua blok rusun yang bakal dibangun tersebut, kata dia, terdiri dari 16 lantai dengan kapasitas 1 blok untuk 500 unit hunian. "Total ada 1.000 unit," ujar Krisdiyanto.
Sementara bagi warga yang tak tertampung akan ditempatkan di rusun di Cibesel dan juga di Rusun Komarudin. Rencananya, menurut informasi, rusun di Kampung Melayu itu nantinya akan dihibahkan bagi Pemprov DKI Jakarta.
Menurutnya, lahan yang akan dibangun rusun tersebut saat ini sedang dilakukan proses pembongkaran terhadap tiga bangunan teknis dari suku dinas, yang sebelumnya berdiri di lahan tersebut.
"Itu gedung kantor Sudin kita, sekarang sudah dikosongkan," ujarnya.
Sementara itu, terkait normalisasi Sungai Ciliwung, pihaknya belum memastikan kapan pelaksanaannya akan dilakukan. Saat ini, lanjut Krisdiyanto, tahapan inventarisasi dan juga pematokan tengah dijalankan.
"Misalnya, berapa tanah (warga) yang kena, bangunan, dan benda di atasnya yang kena," ujar dia.
Untuk wilayah Jakarta Timur, lanjut dia, akan ada tiga kecamatan yang warganya akan terkena dampak relokasi, meliputi Kecamatan Matraman, Kecamatan Jatinegara, dan Kecamatan Kramat Jati.
Pihaknya memperkirakan akan ada 7.000 KK dari tiga kecamatan yang bakal direlokasi tersebut. "Sosialisasi kepada warga sudah berjalan. Pada dasarnya, mereka siap pindah karena mereka berpikir tidak mau terkena banjir terus," ujarnya.
Dari 7.000 KK tersebut, sisanya bakal ditampung di rusun-rusun lainnya di wilayah Jakarta Timur. Pihaknya juga menambahkan di Jakarta Timur sendiri ke depannya akan ada pembangunan rusun yang banyak. Warga yang terkena dampak relokasi Sungai Ciliwung, menurutnya, akan ditawarkan untuk menempati rusun yang tersedia nantinya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/05/1951210/Normalisasi.Ciliwung.2.Blok.Rusun.Bakal.Dibangun
Dua blok rusun rencananya akan mulai dibangun pada Oktober sebagai tempat hunian warga Kampung Melayu yang bakal direlokasi tersebut. "Jadi, akan dibangun dua blok rusun di Kampung Melayu. Rencananya untuk merelokasi warga-warga di Kampung Pulo dan Kampung Melayu pada normalisasi Sungai Ciliwung," kata Wali Kota Jakarta Timur Krisdiyanto saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/9/2013) malam.
Krisdiyanto mengatakan, kemungkinan awal pengerjaan rusun tersebut akan dimulai setelah peletakan batu pertama pada Oktober 2013 ini. Ia mengatakan, pengerjaan akan dilakukan Ditjen Cipta Karya dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Dua blok rusun yang bakal dibangun tersebut, kata dia, terdiri dari 16 lantai dengan kapasitas 1 blok untuk 500 unit hunian. "Total ada 1.000 unit," ujar Krisdiyanto.
Sementara bagi warga yang tak tertampung akan ditempatkan di rusun di Cibesel dan juga di Rusun Komarudin. Rencananya, menurut informasi, rusun di Kampung Melayu itu nantinya akan dihibahkan bagi Pemprov DKI Jakarta.
Menurutnya, lahan yang akan dibangun rusun tersebut saat ini sedang dilakukan proses pembongkaran terhadap tiga bangunan teknis dari suku dinas, yang sebelumnya berdiri di lahan tersebut.
"Itu gedung kantor Sudin kita, sekarang sudah dikosongkan," ujarnya.
Sementara itu, terkait normalisasi Sungai Ciliwung, pihaknya belum memastikan kapan pelaksanaannya akan dilakukan. Saat ini, lanjut Krisdiyanto, tahapan inventarisasi dan juga pematokan tengah dijalankan.
"Misalnya, berapa tanah (warga) yang kena, bangunan, dan benda di atasnya yang kena," ujar dia.
Untuk wilayah Jakarta Timur, lanjut dia, akan ada tiga kecamatan yang warganya akan terkena dampak relokasi, meliputi Kecamatan Matraman, Kecamatan Jatinegara, dan Kecamatan Kramat Jati.
Pihaknya memperkirakan akan ada 7.000 KK dari tiga kecamatan yang bakal direlokasi tersebut. "Sosialisasi kepada warga sudah berjalan. Pada dasarnya, mereka siap pindah karena mereka berpikir tidak mau terkena banjir terus," ujarnya.
Dari 7.000 KK tersebut, sisanya bakal ditampung di rusun-rusun lainnya di wilayah Jakarta Timur. Pihaknya juga menambahkan di Jakarta Timur sendiri ke depannya akan ada pembangunan rusun yang banyak. Warga yang terkena dampak relokasi Sungai Ciliwung, menurutnya, akan ditawarkan untuk menempati rusun yang tersedia nantinya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/05/1951210/Normalisasi.Ciliwung.2.Blok.Rusun.Bakal.Dibangun
Label:
bakal
,
blok
,
ciliwung
,
dampak
,
direlokasi
,
hunian
,
jakarta
,
jatinegara
,
kampung
,
kecamatan
,
kk
,
krisdiyanto
,
normalisasi
,
pengerjaan
,
relokasi
,
rencana
,
rusun
,
sungai
,
warga
Rabu, 31 Juli 2013
2014, Jakarta Macet Total
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Effort for Environment, Ahmad Safrudin memperkirakan lalu lintas Jakarta akan stuckatau mengalami kemacetan total pada 2014. Hal ini terjadi karena pertumbuhan populasi kendaraan di Jakarta tidak terkendali. "Ini lebih cepat dari yang diperkirakan," kata dia dalam konferensi pers di Gedung Sarinah Jakarta Pusat, Selasa 30 Juli 2013.
Menurut Ahmad, kondisi kemacetan terjadi meski hanya 15 persen kendaraan yang turun ke jalan. Dia tidak bisa membayangkan jika seluruh kendaraan tumpah ruah di jalanan.
Kecepatan kendaraan di dalam kota pun akan menurun. Ahmad mengatakan pada 2008 kendaraan masih bisa melaju rata-rata di atas 20 kilometer per jam. Namun pada 2012 kecepatannya anjlok menjadi 16 kilometer per jam. "Akhirnya pada 2014, semua kendaraan di Jakarta akan stuck," ujarnya.
Riset Indonesia Effort for Environment menyebutkan pada 2013 pertumbuhan kendaraan mencapai 1.600-2.400 unit per hari. Dari jumlah tersebut, 16,5 persen merupakan pertambahan mobil sementara sisanya adalah motor, bus, dan truk. Jumlah kendaraan di Jabodetabek yang beroperasi di Jakarta mencapai 38,7 juta unit, terdiri dari 26,1 juta unit sepeda motor, 5,3 juta unit mobil, 1,3 juta unit bus, dan 6,1 juta unit.
Selain dampak berupa kemacetan, Indonesia Effort for Environment mencatat pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat telah menyebabkan 57,8 persen warga Jakarta menderita sakit yang berhubungan dengan pencemaran udara. Sebanyak 1,2 juta warga Jakarta menderita asma sementara 153 ribu menderita bronchopneunomia, sebanyak 2,4 juta warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Pada 2010 saja, biaya kesehatan yang harus dibayarkan warga Jakarta mencapai Rp 38,5 triliun," kata Ahmad
Untuk mengurangi dampak kemacetan, Ahmad mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan kendaraan pribadi baru. Selain itu, moratorium pengembangan jalan tol juga harus dilakukan. Solusi lain adalah pembenahan sarana transportasi serta perbaikan pengaturan parkir di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/07/30/083501064/2014-Jakarta-Macet-Total
Menurut Ahmad, kondisi kemacetan terjadi meski hanya 15 persen kendaraan yang turun ke jalan. Dia tidak bisa membayangkan jika seluruh kendaraan tumpah ruah di jalanan.
Kecepatan kendaraan di dalam kota pun akan menurun. Ahmad mengatakan pada 2008 kendaraan masih bisa melaju rata-rata di atas 20 kilometer per jam. Namun pada 2012 kecepatannya anjlok menjadi 16 kilometer per jam. "Akhirnya pada 2014, semua kendaraan di Jakarta akan stuck," ujarnya.
Riset Indonesia Effort for Environment menyebutkan pada 2013 pertumbuhan kendaraan mencapai 1.600-2.400 unit per hari. Dari jumlah tersebut, 16,5 persen merupakan pertambahan mobil sementara sisanya adalah motor, bus, dan truk. Jumlah kendaraan di Jabodetabek yang beroperasi di Jakarta mencapai 38,7 juta unit, terdiri dari 26,1 juta unit sepeda motor, 5,3 juta unit mobil, 1,3 juta unit bus, dan 6,1 juta unit.
Selain dampak berupa kemacetan, Indonesia Effort for Environment mencatat pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat telah menyebabkan 57,8 persen warga Jakarta menderita sakit yang berhubungan dengan pencemaran udara. Sebanyak 1,2 juta warga Jakarta menderita asma sementara 153 ribu menderita bronchopneunomia, sebanyak 2,4 juta warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). "Pada 2010 saja, biaya kesehatan yang harus dibayarkan warga Jakarta mencapai Rp 38,5 triliun," kata Ahmad
Untuk mengurangi dampak kemacetan, Ahmad mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan kendaraan pribadi baru. Selain itu, moratorium pengembangan jalan tol juga harus dilakukan. Solusi lain adalah pembenahan sarana transportasi serta perbaikan pengaturan parkir di Jakarta.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/07/30/083501064/2014-Jakarta-Macet-Total
Label:
ahmad
,
bus
,
dampak
,
effort
,
environment
,
for
,
jabodetabek
,
jakarta
,
jam
,
kecepatan
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kilometer
,
pertumbuhan
,
sepeda motor
,
stuck
,
stuckatau
,
unit
,
warga
Selasa, 23 April 2013
Pengamat: Belum Ada Upaya Konkret Atasi Banjir Jakarta
Jakarta - Hujan yang melanda Jakarta sepanjang Kamis (18/4) siang hingga sore, kembali membuat sejumlah kawasan tergenang air. Akibat genangan dan matinya pompa di sejumlah titik, air pun meluap ke jalan raya dan berdampak kepada kemacetan lalu lintas.
"Sejak Januari hingga saat ini, belum ada upaya konkret dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk mengatasi banjir ini. Padahal, masalah banjir ini sangat serius, karena dampaknya sangat besar bagi Jakarta," ujar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Jumat (19/4).
Menurut Nirwono, harus ada langkah strategis dan cepat untuk mengatasi banjir di ibukota. Selama ini menurutnya, program mengatasi banjir masih sekadar wacana, sehingga saat hujan lokal saja datang, Jakarta sudah tergenang di mana-mana.
Nirwono pun memberi solusi lima langkah yang harus segera dilakukan Pemprov DKI untuk mengatasi genangan dalam waktu dekat. Langkah itu adalah segera dilakukan pemetaan titik-titik banjir yang terjadi kemarin, lantas segera diperbaiki seluruh saluran drainasenya. Kemudian, semua kali harus segera dinormalisasi sesuai rencana semula, juga normalisasi waduk dan situ, serta memaksimalkan kinerja pompa.
"Kalau boleh jujur, tidak ada perubahan dalam mengatasi banjir dalam empat bulan terakhir. Apa langkah yang telah dilakukan Dinas PU? Kalau tidak ada pergerakan, kegiatan signifikan untuk menanggulangi banjir, pejabat terkait harus dievaluasi," katanya pula.
Sebagaimana diketahui, sepanjang Jalan DI Panjaitan misalnya, hingga Kamis (18/4) malam harus mengalami macet parah. Hal itu terjadi akibat adanya genangan besar di terowongan Cawang (Halim Lama), Jakarta Timur.
Genangan itu membuat kemacetan parah hingga tengah malam. Ketinggian air di terowongan Cawang tersebut sempat mencapai 100 cm, yang akibatnya membuat kendaraan sulit melewati jalur itu, sehingga harus menunggu surut.
Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/108903-pengamat-belum-ada-upaya-konkret-atasi-banjir-jakarta.html
"Sejak Januari hingga saat ini, belum ada upaya konkret dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk mengatasi banjir ini. Padahal, masalah banjir ini sangat serius, karena dampaknya sangat besar bagi Jakarta," ujar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Jumat (19/4).
Menurut Nirwono, harus ada langkah strategis dan cepat untuk mengatasi banjir di ibukota. Selama ini menurutnya, program mengatasi banjir masih sekadar wacana, sehingga saat hujan lokal saja datang, Jakarta sudah tergenang di mana-mana.
Nirwono pun memberi solusi lima langkah yang harus segera dilakukan Pemprov DKI untuk mengatasi genangan dalam waktu dekat. Langkah itu adalah segera dilakukan pemetaan titik-titik banjir yang terjadi kemarin, lantas segera diperbaiki seluruh saluran drainasenya. Kemudian, semua kali harus segera dinormalisasi sesuai rencana semula, juga normalisasi waduk dan situ, serta memaksimalkan kinerja pompa.
"Kalau boleh jujur, tidak ada perubahan dalam mengatasi banjir dalam empat bulan terakhir. Apa langkah yang telah dilakukan Dinas PU? Kalau tidak ada pergerakan, kegiatan signifikan untuk menanggulangi banjir, pejabat terkait harus dievaluasi," katanya pula.
Sebagaimana diketahui, sepanjang Jalan DI Panjaitan misalnya, hingga Kamis (18/4) malam harus mengalami macet parah. Hal itu terjadi akibat adanya genangan besar di terowongan Cawang (Halim Lama), Jakarta Timur.
Genangan itu membuat kemacetan parah hingga tengah malam. Ketinggian air di terowongan Cawang tersebut sempat mencapai 100 cm, yang akibatnya membuat kendaraan sulit melewati jalur itu, sehingga harus menunggu surut.
Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/108903-pengamat-belum-ada-upaya-konkret-atasi-banjir-jakarta.html
Label:
air
,
banjir
,
cawang
,
dampak
,
dinas
,
genangan
,
hujan lokal
,
jakarta
,
jalan raya
,
kemacetan
,
langkah
,
nirwono
,
parah
,
pompa
,
pu
,
tengah malam
,
terowongan
,
titik-titik
Rabu, 17 April 2013
Kemacetan Lalu Lintas Bisa Timbulkan Gangguan Mental
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terjebak kemacetan pasti bikin kita bete. Sepertinya, kemacetan adalah situasi sehari-hari yang tak penting.
Tapi, ternyata dalam jangka panjang, kemacetan berdampak buruk. Studi membuktikan, sering kena macet bisa mendatangkan gangguan kejiwaan. Kemacetan pun ternyata berdampak pada memori dan pembelajaran.
Hujan lebat di sore hari, buat orang Jakarta adalah sebuah pertanda untuk bersiap menghadapi kemacetan yang amat sangat parah. Sejatinya, tidak perlu hujan deras untuk bikin Jakarta macet. Kemacetan tidak pernah absen di pagi dan sore hari.
“Ketersediaan jalan raya dan jumlah kendaraan tidak seimbang. Kalau ini tidak diatasi, kemacetan akan terus ada di Jakarta. Di Jakarta ada 747 titik kemacetan, sementara polisi lalu lintas jumlahnya 400 orang. Satu polisi bisa mengatur beberapa titik kemacetan sekaligus,” ungkap AKBP Arif Nurcahyo MPsi, Kepala Bagian Psikologi Polda Metro Jaya, Selasa (16/4/2013).
Buat orang Jakarta, kemacetan adalah santapan sehari-hari yang dihadapi dua kali sehari. Karena dihadapi setiap hari dan sering dibikin jengkel, mungkin kemacetan kemudian dianggap peristiwa kecil yang tak penting. Namun, ternyata kejengkelan menghadapi kemacetan bisa menumpuk dan menyebabkan gangguan mental di kemudian hari.
Susan Charles, seorang profesor psikologidan perilaku sosial dari University of California, Irivine, AS, memimpin penelitian untuk mencari tahu apakah kejengkelan harian menciptakan situasi yang bagaikan menumpuk jerami di punggung unta, atau justru akan membuat kita jadi malah tambah kuat.
Charles menggunakan data dari dua survei nasional. Data yang digunakan oleh penelitian itu berasal dari Midlife Development in the United States project, dan National Study of Daily Experiences. Mereka yang disurvei adalah pria dan wanita AS berusia 25 hingga 74 tahun.
Atur Emosi
Penelitian menemukan respons negatif terhadap stres sehari-hari seperti bertengkar dengan pasangan, konflik di kantor, dan terjebak kemacetan, menyebabkan kecemasan dan gangguan mental 10 tahun kemudian.
Ternyata, masalah kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa besar dalam hidup, tapi juga pengalaman emosional kecil sehari-hari.
Bahaya stres sehari-hari karena kemacetan, ternyata bukan hanya itu. Kemacetan juga bisa merusak memori kita. Begitu kata penelitian yang dilakukan oleh Dr Tallie Baram dari University of California, Irvine, AS.
Penelitian itu menemukan, stres akut selama beberapa jam saja ternyata bisa menyebabkan kita kesulitan mengingat peristiwa dan pembelajaran di masa mendatang.
Mereka mengatakan, kimiawi yang dikeluarkan di otak merespons ketegangan merusak komunikasi antara sel-sel otak yang terlibat dalam pembentukan dan pemerosesan memori.
“Cara kita mengatur emosi sehari-hari ternyata berdampak besar terhadap kesehatan mental kita secara keseluruhan,” kata Charles yang penelitiannya dimuat di jurnal Psychological Science.
Menurutnya, kita seringkali memfokuskan diri pada tujuan jangka panjang, dan melupakan pentingnya mengatur emosi sehari-hari.
“Mengubah cara kita merespons stres dan cara pandang kita terhadap situasi yang penuh tekanan, sama pentingnya dengan menjaga pola makan sehat dan olahraga teratur,” tuturnya. (*)
Sumber : http://www.tribunnews.com/2013/04/17/kemacetan-lalu-lintas-bisa-timbulkan-gangguan-mental
Tapi, ternyata dalam jangka panjang, kemacetan berdampak buruk. Studi membuktikan, sering kena macet bisa mendatangkan gangguan kejiwaan. Kemacetan pun ternyata berdampak pada memori dan pembelajaran.
Hujan lebat di sore hari, buat orang Jakarta adalah sebuah pertanda untuk bersiap menghadapi kemacetan yang amat sangat parah. Sejatinya, tidak perlu hujan deras untuk bikin Jakarta macet. Kemacetan tidak pernah absen di pagi dan sore hari.
“Ketersediaan jalan raya dan jumlah kendaraan tidak seimbang. Kalau ini tidak diatasi, kemacetan akan terus ada di Jakarta. Di Jakarta ada 747 titik kemacetan, sementara polisi lalu lintas jumlahnya 400 orang. Satu polisi bisa mengatur beberapa titik kemacetan sekaligus,” ungkap AKBP Arif Nurcahyo MPsi, Kepala Bagian Psikologi Polda Metro Jaya, Selasa (16/4/2013).
Buat orang Jakarta, kemacetan adalah santapan sehari-hari yang dihadapi dua kali sehari. Karena dihadapi setiap hari dan sering dibikin jengkel, mungkin kemacetan kemudian dianggap peristiwa kecil yang tak penting. Namun, ternyata kejengkelan menghadapi kemacetan bisa menumpuk dan menyebabkan gangguan mental di kemudian hari.
Susan Charles, seorang profesor psikologidan perilaku sosial dari University of California, Irivine, AS, memimpin penelitian untuk mencari tahu apakah kejengkelan harian menciptakan situasi yang bagaikan menumpuk jerami di punggung unta, atau justru akan membuat kita jadi malah tambah kuat.
Charles menggunakan data dari dua survei nasional. Data yang digunakan oleh penelitian itu berasal dari Midlife Development in the United States project, dan National Study of Daily Experiences. Mereka yang disurvei adalah pria dan wanita AS berusia 25 hingga 74 tahun.
Atur Emosi
Penelitian menemukan respons negatif terhadap stres sehari-hari seperti bertengkar dengan pasangan, konflik di kantor, dan terjebak kemacetan, menyebabkan kecemasan dan gangguan mental 10 tahun kemudian.
Ternyata, masalah kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa besar dalam hidup, tapi juga pengalaman emosional kecil sehari-hari.
Bahaya stres sehari-hari karena kemacetan, ternyata bukan hanya itu. Kemacetan juga bisa merusak memori kita. Begitu kata penelitian yang dilakukan oleh Dr Tallie Baram dari University of California, Irvine, AS.
Penelitian itu menemukan, stres akut selama beberapa jam saja ternyata bisa menyebabkan kita kesulitan mengingat peristiwa dan pembelajaran di masa mendatang.
Mereka mengatakan, kimiawi yang dikeluarkan di otak merespons ketegangan merusak komunikasi antara sel-sel otak yang terlibat dalam pembentukan dan pemerosesan memori.
“Cara kita mengatur emosi sehari-hari ternyata berdampak besar terhadap kesehatan mental kita secara keseluruhan,” kata Charles yang penelitiannya dimuat di jurnal Psychological Science.
Menurutnya, kita seringkali memfokuskan diri pada tujuan jangka panjang, dan melupakan pentingnya mengatur emosi sehari-hari.
“Mengubah cara kita merespons stres dan cara pandang kita terhadap situasi yang penuh tekanan, sama pentingnya dengan menjaga pola makan sehat dan olahraga teratur,” tuturnya. (*)
Sumber : http://www.tribunnews.com/2013/04/17/kemacetan-lalu-lintas-bisa-timbulkan-gangguan-mental
Label:
california
,
cara
,
charles
,
dampak
,
emosi
,
gangguan
,
jakarta
,
jangka panjang
,
kejengkelan
,
kemacetan
,
memori
,
mental
,
of
,
pembelajaran
,
penelitian
,
sehari-hari
,
situasi
,
stres
,
university
Jumat, 22 Maret 2013
Rata-rata Kecepatan Kendaraan di DKI Hanya 16,8 Km Per Jam
JAKARTA, KOMPAS.com — Jangan heran jika jalanan dalam Kota Jakarta kerap dilanda macet. Setiap jam, tercatat ada 210.632 kendaraan yang melintas dengan kecepatan rata-rata 16,8 km per jam.
Sedangkan untuk wilayah kota atau jalan-jalan protokol, diperkirakan jumlah kendaraan yang melintas setiap jamnya mencapai 262.313 dengan kecepatan rata-rata 20,8 km per jam.
Jumlah kendaraan sebanyak itu menjadi PR Pemprov DKI Jakarta untuk mencari solusi yang tepat, salah satunya dengan memberlakukan sistem ganjil genap. Dinas Perhubungan DKI optimistis kebijakan tersebut mampu mengurangi 16,5 persen tingkat kemacetan di Ibu Kota. Biaya operasional kendaraan pun diperkirakan bisa menghemat Rp 8,85 triliun per tahunnya.
"Penghematan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan bisa mencapai Rp 8,85 triliun per tahunnya apabila ganjil genap diterapkan di seluruh wilayah kota," ujar Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono, Kamis (21/3/2013).
Dengan diberlakukannya sistem ganjil genap, kata Udar, diyakini masyarakat akan memilih menggunakan transportasi umum, khususnya bus transjakarta. Hal ini yang akan berdampak mengurangi penurunan tingkat kemacetan.
Dengan tingkat penurunan 16,5 persen, diperkirakan kendaraan yang melintasi kawasan lingkar dalam kota berkurang menjadi 68.165 per jamnya dan 121.567 untuk wilayah kota.
"Hal ini juga berdampak pada pengurangan jumlah penggunaan BBM bersubsidi. Bisa berkurang sampai 19,7 persen untuk wilayah DKI," kata Udar.
Akan tetapi, menurut Udar, semua prediksi itu akan menjadi percuma jika tidak ada pengawasan yang baik dan juga kesadaran dari masyarakat pengguna jalan yang masih lebih memilih untuk menaiki kendaraan pribadi.
"Di setiap kebijakan yang paling penting ialah pengawasan dan kesadaran," tuturnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/21/14293972/Ratarata.Kecepatan.Kendaraan.di.DKI.Hanya.16.8.Km.Per.Jam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
Sedangkan untuk wilayah kota atau jalan-jalan protokol, diperkirakan jumlah kendaraan yang melintas setiap jamnya mencapai 262.313 dengan kecepatan rata-rata 20,8 km per jam.
Jumlah kendaraan sebanyak itu menjadi PR Pemprov DKI Jakarta untuk mencari solusi yang tepat, salah satunya dengan memberlakukan sistem ganjil genap. Dinas Perhubungan DKI optimistis kebijakan tersebut mampu mengurangi 16,5 persen tingkat kemacetan di Ibu Kota. Biaya operasional kendaraan pun diperkirakan bisa menghemat Rp 8,85 triliun per tahunnya.
"Penghematan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan bisa mencapai Rp 8,85 triliun per tahunnya apabila ganjil genap diterapkan di seluruh wilayah kota," ujar Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono, Kamis (21/3/2013).
Dengan diberlakukannya sistem ganjil genap, kata Udar, diyakini masyarakat akan memilih menggunakan transportasi umum, khususnya bus transjakarta. Hal ini yang akan berdampak mengurangi penurunan tingkat kemacetan.
Dengan tingkat penurunan 16,5 persen, diperkirakan kendaraan yang melintasi kawasan lingkar dalam kota berkurang menjadi 68.165 per jamnya dan 121.567 untuk wilayah kota.
"Hal ini juga berdampak pada pengurangan jumlah penggunaan BBM bersubsidi. Bisa berkurang sampai 19,7 persen untuk wilayah DKI," kata Udar.
Akan tetapi, menurut Udar, semua prediksi itu akan menjadi percuma jika tidak ada pengawasan yang baik dan juga kesadaran dari masyarakat pengguna jalan yang masih lebih memilih untuk menaiki kendaraan pribadi.
"Di setiap kebijakan yang paling penting ialah pengawasan dan kesadaran," tuturnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/21/14293972/Ratarata.Kecepatan.Kendaraan.di.DKI.Hanya.16.8.Km.Per.Jam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
Kamis, 21 Februari 2013
Giant Sea Wall Hadang Banjir sekaligus Macet
Metrotvnews.com, Jakarta: Pembangunan giant sea wall atau tanggul laut merupakan salah satu cara mengatasi banjir akibat pasang air laut (rob) yang bersifat protektif.
Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono mengungkapkan hal itu.
"Pola protektif dengan membangun tanggul di pinggir pantai atau lepas pantai membutuhkan biaya yang mahal tetapi itu bisa dicarikan solusi pembiayaannya," ungkapnya.
Menurutnya, tanah Jakarta yang strukturnya lunak (aluvial) semakin tergerus diakibatkan penyedotan air tanah yang berlebihan. "Kalau tanahnya turun kan air lautnya naik," paparnya.
Kenaikan permukaan air laut akibat amblesnya tanah diprediksi mencapai lebih dari 6 sentimeter per tahun. Ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan permukaan air laut yang disebabkan pemanasan global (global warming) yang berada di kisaran 8 milimeter per tahun.
Dosen Mitigasi Bencana Universitas Padjajaran itu mengatakan pembangunan tanggul bisa digunakan untuk fungsi lain. Contohnya, menjadi jalan atau akses transportasi untuk mengurangi kemacetan di Jakarta atau memperlancar distribusi angkutan. "Misalnya orang dari Bekasi ke Tangerang kalau lewat tol kan macet. Nah, nanti orang bisa lewat situ," ujarnya.
Namun, pembangunan tanggul harus memperhatikan tiga aspek yaitu technically reliable (bisa diandalkan), economically feasible, dan friendly atau secara lingkungan dapat diterima.
"Jadi harus ada master plan dan melalui kajian amdal yang matang," paparnya. "Kalau memang hasil studi amdalnya negatif ya tidak boleh dilanjutkan rencana itu," imbuhnya.
Diposaptono mengatakan, setiap kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan tanggul laut, akan menimbulkan dampak negatif terhadap aspek fisik, kimia, biologi, dan sosial budaya.
Dampak fisik seperti gangguan lalu lintas perairan, perairan semakin keruh, berubahnya rezim hidrodinamika (arus dan gelombang), perubahan batimetri (kedalaman perairan laut) pencemaran, erosi lahan reklamasi dan lahan sekitarnya, perubahan rezim air tanah (tata air tawar), dan sebagainya.
Adapun dampak kimia meliputi pencemaran air akibat pengerukan bahan atau material di dasar perairan. Dampak biologi berupa menurunnya keragaman, kelimpahan, menghambat organisme perairan.
Dampak lain yaitu menipisnya sumber daya perikanan. "Nah itu yang harus dikaji. Kan ada teknologi untuk menekan dampak-dampak itu," tegasnya.
Menurutnya, sederet dampak negatif itu dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan apabila reklamasi direcanakan komprehensif dan terpadu.
Komprehensif terhadap aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta terpadu terhadap bidang ilmu, sektoral, wilayah, dan ekosistem.
Di samping itu, reklamasi juga harus dilakukan di daerah yang tepat dengan teknologi dan cara yang tepat serta berwawasan lingkungan.
Secara umum, kegiatan reklamasi di wilayah pesisir dibedakan menjadi jenis yaitu sistem timbunan, sistem polder, serta gabungan polder dan timbunan.
Dari ketiga jenis itu, Diposaptono mengatakan reklamasi timbunan paling cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi.(Haufan Hasyim Salengke/Was)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/21/5/132732/Giant-Sea-Wall-Hadang-Banjir-sekaligus-Macet
Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono mengungkapkan hal itu.
"Pola protektif dengan membangun tanggul di pinggir pantai atau lepas pantai membutuhkan biaya yang mahal tetapi itu bisa dicarikan solusi pembiayaannya," ungkapnya.
Menurutnya, tanah Jakarta yang strukturnya lunak (aluvial) semakin tergerus diakibatkan penyedotan air tanah yang berlebihan. "Kalau tanahnya turun kan air lautnya naik," paparnya.
Kenaikan permukaan air laut akibat amblesnya tanah diprediksi mencapai lebih dari 6 sentimeter per tahun. Ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan permukaan air laut yang disebabkan pemanasan global (global warming) yang berada di kisaran 8 milimeter per tahun.
Dosen Mitigasi Bencana Universitas Padjajaran itu mengatakan pembangunan tanggul bisa digunakan untuk fungsi lain. Contohnya, menjadi jalan atau akses transportasi untuk mengurangi kemacetan di Jakarta atau memperlancar distribusi angkutan. "Misalnya orang dari Bekasi ke Tangerang kalau lewat tol kan macet. Nah, nanti orang bisa lewat situ," ujarnya.
Namun, pembangunan tanggul harus memperhatikan tiga aspek yaitu technically reliable (bisa diandalkan), economically feasible, dan friendly atau secara lingkungan dapat diterima.
"Jadi harus ada master plan dan melalui kajian amdal yang matang," paparnya. "Kalau memang hasil studi amdalnya negatif ya tidak boleh dilanjutkan rencana itu," imbuhnya.
Diposaptono mengatakan, setiap kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan tanggul laut, akan menimbulkan dampak negatif terhadap aspek fisik, kimia, biologi, dan sosial budaya.
Dampak fisik seperti gangguan lalu lintas perairan, perairan semakin keruh, berubahnya rezim hidrodinamika (arus dan gelombang), perubahan batimetri (kedalaman perairan laut) pencemaran, erosi lahan reklamasi dan lahan sekitarnya, perubahan rezim air tanah (tata air tawar), dan sebagainya.
Adapun dampak kimia meliputi pencemaran air akibat pengerukan bahan atau material di dasar perairan. Dampak biologi berupa menurunnya keragaman, kelimpahan, menghambat organisme perairan.
Dampak lain yaitu menipisnya sumber daya perikanan. "Nah itu yang harus dikaji. Kan ada teknologi untuk menekan dampak-dampak itu," tegasnya.
Menurutnya, sederet dampak negatif itu dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan apabila reklamasi direcanakan komprehensif dan terpadu.
Komprehensif terhadap aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta terpadu terhadap bidang ilmu, sektoral, wilayah, dan ekosistem.
Di samping itu, reklamasi juga harus dilakukan di daerah yang tepat dengan teknologi dan cara yang tepat serta berwawasan lingkungan.
Secara umum, kegiatan reklamasi di wilayah pesisir dibedakan menjadi jenis yaitu sistem timbunan, sistem polder, serta gabungan polder dan timbunan.
Dari ketiga jenis itu, Diposaptono mengatakan reklamasi timbunan paling cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi.(Haufan Hasyim Salengke/Was)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/21/5/132732/Giant-Sea-Wall-Hadang-Banjir-sekaligus-Macet
Label:
air laut
,
air tanah
,
amdal
,
aspek
,
biologi
,
dampak
,
dampak negatif
,
fisik
,
komprehensif
,
laut
,
lingkungan
,
pembangunan
,
pencemaran
,
perairan
,
pesisir
,
protektif
,
reklamasi
,
tanggul
,
timbunan
Kamis, 06 Desember 2012
Lalin Jakarta Macet Parah, Perlu 1,5 Jam untuk Tempuh 4,5 KM
Jakarta - Kemacetan lalu lintas di kawasan segitiga emas Jakarta berdampak pada jalan-jalan lainnya. Lalin Buncit-Mampang, Jakarta Selatan, termasuk yang mengalami kemacetan luar biasa. Kendaraan hanya bergerak seperti keong, perlu waktu 1,5 jam untuk menempuh jarak yang hanya 4,5 KM.
Pengalaman ini dialami oleh Budi, seorang eksekutif di Jakarta. "Gila, dari Buncit pukul 11.00 WIB, sampai sekarang baru sampai perempatan Mampang," kata Budi kepada detikcom sekitar pukul 12.30 WIB, Rabu (5/12/2012). Budi akan menuju Hotel Kartika Chandra di Jl. Gatot Subroto.
Selepas perempatan Mampang, arus lalu lintas di Jl. Gatot Subroto, dari arah Pancoran menuju Semanggi, tampak lancar. Sementara arus sebaliknya dari Semanggi menuju Pancoran mampet. "Sekarang, saya terkena kemacetan lagi di Semanggi. Ini tidak bergerak sama sekali," kata Budi saat tiba di Semanggi pukul 12.45 WIB.
Kemacetan di Buncit-Mampang ini dampak dari aksi demonstrasi para buruh di depan Kedubes Malaysia di Jl HR Rasuna Said, Jakarta. Meski demonstrasi buruh sudah bubar sejak pukul 12.00 WIB, namun dampak kemacetan masih terjadi. Di Jl HR Rasuna Said yang mengarah dari Mampang menuju Menteng juga terlihat kemacetan yang luar biasa.
Ribuan buruh yang berdemonstrasi di Bundaran HI dan melakukan long march menuju Istana Merdeka juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas di Jl Thamrin dan Jl Sudirman. Dampak kemacetan lalin ini juga terasa hingga kawasan Semanggi, Jl Gatot Subroto, Jl S Parman, dan jalan-jalan lain di sekitarnya.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/12/05/131016/2109966/10/lalin-jakarta-macet-parah-perlu-15-jam-untuk-tempuh-45-km?9922032
Pengalaman ini dialami oleh Budi, seorang eksekutif di Jakarta. "Gila, dari Buncit pukul 11.00 WIB, sampai sekarang baru sampai perempatan Mampang," kata Budi kepada detikcom sekitar pukul 12.30 WIB, Rabu (5/12/2012). Budi akan menuju Hotel Kartika Chandra di Jl. Gatot Subroto.
Selepas perempatan Mampang, arus lalu lintas di Jl. Gatot Subroto, dari arah Pancoran menuju Semanggi, tampak lancar. Sementara arus sebaliknya dari Semanggi menuju Pancoran mampet. "Sekarang, saya terkena kemacetan lagi di Semanggi. Ini tidak bergerak sama sekali," kata Budi saat tiba di Semanggi pukul 12.45 WIB.
Kemacetan di Buncit-Mampang ini dampak dari aksi demonstrasi para buruh di depan Kedubes Malaysia di Jl HR Rasuna Said, Jakarta. Meski demonstrasi buruh sudah bubar sejak pukul 12.00 WIB, namun dampak kemacetan masih terjadi. Di Jl HR Rasuna Said yang mengarah dari Mampang menuju Menteng juga terlihat kemacetan yang luar biasa.
Ribuan buruh yang berdemonstrasi di Bundaran HI dan melakukan long march menuju Istana Merdeka juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas di Jl Thamrin dan Jl Sudirman. Dampak kemacetan lalin ini juga terasa hingga kawasan Semanggi, Jl Gatot Subroto, Jl S Parman, dan jalan-jalan lain di sekitarnya.
Sumber : http://news.detik.com/read/2012/12/05/131016/2109966/10/lalin-jakarta-macet-parah-perlu-15-jam-untuk-tempuh-45-km?9922032
Label:
budi
,
buncit-mampang
,
dampak
,
demonstrasi
,
gatot
,
jakarta
,
jalan-jalan
,
jl
,
kemacetan
,
lalin
,
lalu lintas
,
mampang
,
pancoran
,
pukul
,
rasuna
,
semanggi
,
subroto
Langganan:
Postingan
(
Atom
)