BOGOR, KOMPAS.com - Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor menanam 10.000 pohon dan pembuatan 10.000 biopori, di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, di Puncak, Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/10/2014).
Wakil Bupati Bogor, Nurhayanti menjelaskan, dipilihnya kawasan DAS Ciliwung itu untuk menangani masalah banjir di DKI Jakarta.
"Hulu Sungai Ciliwung merupakan aliran sungai utama yang mengalir ke arah Jakarta, yang berpotensi menyebabkan banjir, jika fungsinya sebagai daerah resapan air terganggu," ucap Nurhayanti, Selasa (14/10/2014).
Nurhayanti juga mengatakan, posisi wilayah Kabupaten Bogor yang berada di DAS Ciliwung dan Cisadene ini, menuntut warganya untuk selalu menjaga lingkungan, terutama di daerah hulu sungai.
"Untuk masalah penanganan banjir di DKI Jakarta, saya selalu berkomunikasi dengan pak Ahok mengenai pelaksanaan pengendalian lingkungan di daerah hulu. Respons beliau pun positif. Kabupaten Bogor bukan hanya sekadar daerah penyangga ibu kota saja, tapi sudah sebagai mitra DKI Jakarta. Inilah kesepakatan yang sudah kita buat, sehingga tidak ada saling menyalahkan," ujarnya.
Melalui kegiatan penanaman pohon dan pembuatan biopori ini, Nurhayanti memiliki harapan besar terhadap penyelenggaraan penghijauan dan pelestarian lingkungan.
"Ini tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah daerah saja, tapi butuh keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kegiatan semacam ini, akan berpotensi menyelamatkan kerusakan bumi dan alam," pungkas Nurhayanti.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2014/10/14/22232881/Atasi.Banjir.di.Jakarta.Kabupaten.Bogor.Tanam.10.000.Pohon
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label kabupaten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabupaten. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Oktober 2014
Atasi Banjir di Jakarta, Kabupaten Bogor Tanam 10.000 Pohon
Label:
ahok
,
banjir
,
biopori
,
bogor
,
ciliwung
,
cisadene
,
daerah
,
daerah aliran sungai
,
das
,
dki
,
hulu sungai
,
ibu kota
,
jakarta
,
kabupaten
,
lingkungan
,
nurhayanti
,
pemerintah daerah
,
pohon
,
pungkas
Jumat, 01 November 2013
Buruh Aksi Mogok di Jakarta, Hindari Rute Ini
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekitar dua juta buruh melakukan aksi mogok nasional dimulai hari ini Kamis (31/10). Dalam aksi tersebut, massa buruh terkonsentrasi di beberapa tempat.
Berikut titik konsentrasi aksi mogok nasional buruh:
1.Kawasan Industri Wilayah Kabupaten Bekasi (EJIP, BIIE/ HyundaiDelta Silicon, Jababeka, MM 2100) oleh KSPI/FSPMI massa 20.000 - 30.000 orang
2. DPRD Kabupaten Bekasi dan Kantor Kabupaten Bekasi oleh GSBM / KASBI massa 1000 orang
3. Kantor Kabupaten Bekasi oleh FSP PPMI / SPSI massa 1000 orang
4.Kawasan Industri Kota Tangerang oleh FSPMI massa 3500 orang
5. Kawasan Industri Jatiuwung Kota Tangerang oleh Kabut Tangerang massa 350 orang
6. PT.Cingluh Cikupa, PT. Victori Cingluh. Kabupaten Tangerang oleh Konsolidasi Gerakan Nasional Buruh massa 1000 orang
7. Kantor Kabupaten Tangerang oleh SPN massa 500 orang
8. Kantor Wali Kota Tangsel oleh SBSI 92 massa 1000 orang
9.Lampu Merah Pemda Cikupa Tangerang oleh FSPMI massa 3000 orang
10.Bawah Jembatan Tol Bitung Tangerang oleh KSBSI massa 300 orang
11. Kawasan Industri Kota Depok oleh FSPMI massa 15000 orang
12. KBN Jakut & Balaikota DKI oleh GEBUK ( SPN, SPSI 92 ,FSBI ) massa 100 orang
13. Kawasan Industri Sunter & Kawasan Industri Pulogadung oleh PSP LEM SPSI massa 3000 org
13. Balaikota DKI Jakarta oleh SP FARKES massa 75 orang
14. Area Pelabuhan Tanjung Priok dan KBN Cilincing Jakut oleh Forum Buruh DKI Jakarta massa 2000 org
15.Pintu Gerbang Utama KBN Cakung Jakut oleh SBSI 92 massa 1000 orang
16.Depan Pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok oleh SBTPI massa 300 orang
17. Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI oleh FSPMI PT.Kawasaki Motor massa 150 orang
18.PT.Indolakto Jl.Raya Bogor Jaktim oleh Karyawan Indolakto massa 700 orang
19. Rute Gambir, Gunung sahari, Mangga Besar, Hayam Wuruk oleh Front Tansportasi Jakarta massa 100 orang.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/10/31/mvidbp-buruh-aksi-mogok-di-jakarta-hindari-rute-ini
Berikut titik konsentrasi aksi mogok nasional buruh:
1.Kawasan Industri Wilayah Kabupaten Bekasi (EJIP, BIIE/ HyundaiDelta Silicon, Jababeka, MM 2100) oleh KSPI/FSPMI massa 20.000 - 30.000 orang
2. DPRD Kabupaten Bekasi dan Kantor Kabupaten Bekasi oleh GSBM / KASBI massa 1000 orang
3. Kantor Kabupaten Bekasi oleh FSP PPMI / SPSI massa 1000 orang
4.Kawasan Industri Kota Tangerang oleh FSPMI massa 3500 orang
5. Kawasan Industri Jatiuwung Kota Tangerang oleh Kabut Tangerang massa 350 orang
6. PT.Cingluh Cikupa, PT. Victori Cingluh. Kabupaten Tangerang oleh Konsolidasi Gerakan Nasional Buruh massa 1000 orang
7. Kantor Kabupaten Tangerang oleh SPN massa 500 orang
8. Kantor Wali Kota Tangsel oleh SBSI 92 massa 1000 orang
9.Lampu Merah Pemda Cikupa Tangerang oleh FSPMI massa 3000 orang
10.Bawah Jembatan Tol Bitung Tangerang oleh KSBSI massa 300 orang
11. Kawasan Industri Kota Depok oleh FSPMI massa 15000 orang
12. KBN Jakut & Balaikota DKI oleh GEBUK ( SPN, SPSI 92 ,FSBI ) massa 100 orang
13. Kawasan Industri Sunter & Kawasan Industri Pulogadung oleh PSP LEM SPSI massa 3000 org
13. Balaikota DKI Jakarta oleh SP FARKES massa 75 orang
14. Area Pelabuhan Tanjung Priok dan KBN Cilincing Jakut oleh Forum Buruh DKI Jakarta massa 2000 org
15.Pintu Gerbang Utama KBN Cakung Jakut oleh SBSI 92 massa 1000 orang
16.Depan Pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok oleh SBTPI massa 300 orang
17. Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI oleh FSPMI PT.Kawasaki Motor massa 150 orang
18.PT.Indolakto Jl.Raya Bogor Jaktim oleh Karyawan Indolakto massa 700 orang
19. Rute Gambir, Gunung sahari, Mangga Besar, Hayam Wuruk oleh Front Tansportasi Jakarta massa 100 orang.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/10/31/mvidbp-buruh-aksi-mogok-di-jakarta-hindari-rute-ini
Kamis, 31 Mei 2012
Ngatasi Macet Dalam Sekejap? Mimpi Kali Ye...
INILAH.COM, Jakarta - Tak disangkal, kemacetan Jakarta terancam kian parah bila tak segera diantisipasi. Namun upaya mengatasi kemacetan tidaklah bisa instan. Banyaknya faktor penyebab yang membuat kemacetan sulit diurai.
Lepas subuh, Iskandar melaju dengan mobilnya dari rumahnya di kawasan Bekasi Timur. Langsung masuk tol Jakarta – Cikampek, lanjut ke jalan tol lingkar dalam, keluar di gerbang tol Tegal Parang, berbelok ke kawasan Kuningan, tempatnya berkantor sebagai staf senior di sebuah kantor pengacara.
Toh Iskandar mengaku tak setiap hari menggunakan mobil ke kantornya. Alasannya, kemacetan Jakarta bertambah parah. “Kalau tak mau mengemudi sendiri, mobil dititipkan di parkiran di Bulak Kapal, sambung bus kota AC. Atau sesekali dititipkan di Stasiun Bekasi, sambung KRL ke Kota dan lanjut bus TransJakarta, kalau memang ada agenda pekerjaan di Kota, Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman,” terangnya.
Kenyataan memang menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta kian hari kian bertambah lama. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas PMJ) menyebut, jika beberapa tahun lalu kepadatan lalu lintas sudah terurai sekitar pukul 21.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 23.00 WIB. Ditlantas PMJ memperkirakan, bila tidak segera diatasi maka dalam beberapa waktu mendatang, bisa saja kemacetan baru terurai lepas tengah malam.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tak menampik bila kemacetan saat ini menjadi salah satu persoalan utama di Ibukota. Namun demikian dikatakan pria berkumis yang akrab disapa Bang Foke ini, upaya untuk mengatasinya bukan tak dilakukan. Hanya saja, semua tidak bisa diselesaikan instan karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
“Jadi kalau ada orang yang menyebut ada solusi instan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, saya kira orang itu perlu belajar lebih lanjut soal transportasi umum megapolitan,” kata Fauzi Bowo
Setuju atau tidak, untuk mengatasi kemacetan memang bukan pekerjaan gampang. Bagaimanapun Jakarta tak bisa berjalan sendiri, tanpa mengacuhkan daerah-daerah yang menjadi penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap kebijakan yang akan diberlakukan, harus memperhitungkan dukungan dari daerah-daerah penyangga tersebut, beserta yang bisa ditimbulkan.
Adalah kenyataan lain kalau sebagian warga yang beraktivitas di Jakarta, justru tinggal di Bodetabek yang menjadi daerah sub-urban. Keberadaan mereka inilah yang setiap harinya mewarnai pergerakan dan perjalanan, terutama pada pagi dan sore hari.
Data dari Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI) Commuter Survey tahun 2010, menyebut, setidaknya ada 1.105.000 perjalanan ulang-alik ke Jakarta dari Tangerang dan Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok dan Bogor, Kabupaten Depok, ataupun Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2002, sebanyak 743.000 perjalanan.
Dari survei yang sama, moda transportasi yang digunakan warga adalah 48,7% sepeda motor. Padahal sewindu sebelumnya, baru 21,2% saja warga yang menggunakan sepeda motor, sementara bus kota dan angkutan umum masih mendominasi hingga 38,3%. Pada tahun 2010 berdasar survei tersebut, pengguna bus kota dan angkutan umum anjlok jadi 13,5%.
Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar, untuk kembali memaksa masyarakat beralih menggunakan bus kota dan angkutan umum. Diperlukan konsep angkutan umum terintegrasi antara DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyangga. Hal yang sebenarnya sudah lama diupayakan, namun baru dapat diwujudkan saat ini melalui Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway.
Sebagai gubernur, Bang Foke—demikian Fauzi Bowo sering disapa-- sendiri menyadari tidak mudah menata kembali keberadaan angkutan umum di Ibukota. Meski demikian ia menegaskan, akan terus fokus pada perbaikan dan revitalisasi angkutan umum serta membuat semuanya terintegrasi, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1866045/ngatasi-macet-dalam-sekejap-mimpi-kali-ye
Lepas subuh, Iskandar melaju dengan mobilnya dari rumahnya di kawasan Bekasi Timur. Langsung masuk tol Jakarta – Cikampek, lanjut ke jalan tol lingkar dalam, keluar di gerbang tol Tegal Parang, berbelok ke kawasan Kuningan, tempatnya berkantor sebagai staf senior di sebuah kantor pengacara.
Toh Iskandar mengaku tak setiap hari menggunakan mobil ke kantornya. Alasannya, kemacetan Jakarta bertambah parah. “Kalau tak mau mengemudi sendiri, mobil dititipkan di parkiran di Bulak Kapal, sambung bus kota AC. Atau sesekali dititipkan di Stasiun Bekasi, sambung KRL ke Kota dan lanjut bus TransJakarta, kalau memang ada agenda pekerjaan di Kota, Jalan Thamrin atau Jalan Sudirman,” terangnya.
Kenyataan memang menunjukkan, jam kemacetan di Jakarta kian hari kian bertambah lama. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya (Ditlantas PMJ) menyebut, jika beberapa tahun lalu kepadatan lalu lintas sudah terurai sekitar pukul 21.00 WIB, kini mundur menjadi pukul 23.00 WIB. Ditlantas PMJ memperkirakan, bila tidak segera diatasi maka dalam beberapa waktu mendatang, bisa saja kemacetan baru terurai lepas tengah malam.
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo tak menampik bila kemacetan saat ini menjadi salah satu persoalan utama di Ibukota. Namun demikian dikatakan pria berkumis yang akrab disapa Bang Foke ini, upaya untuk mengatasinya bukan tak dilakukan. Hanya saja, semua tidak bisa diselesaikan instan karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
“Jadi kalau ada orang yang menyebut ada solusi instan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, saya kira orang itu perlu belajar lebih lanjut soal transportasi umum megapolitan,” kata Fauzi Bowo
Setuju atau tidak, untuk mengatasi kemacetan memang bukan pekerjaan gampang. Bagaimanapun Jakarta tak bisa berjalan sendiri, tanpa mengacuhkan daerah-daerah yang menjadi penyangga, yakni Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap kebijakan yang akan diberlakukan, harus memperhitungkan dukungan dari daerah-daerah penyangga tersebut, beserta yang bisa ditimbulkan.
Adalah kenyataan lain kalau sebagian warga yang beraktivitas di Jakarta, justru tinggal di Bodetabek yang menjadi daerah sub-urban. Keberadaan mereka inilah yang setiap harinya mewarnai pergerakan dan perjalanan, terutama pada pagi dan sore hari.
Data dari Jakarta Urban Transport Policy Integration (JUTPI) Commuter Survey tahun 2010, menyebut, setidaknya ada 1.105.000 perjalanan ulang-alik ke Jakarta dari Tangerang dan Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok dan Bogor, Kabupaten Depok, ataupun Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2002, sebanyak 743.000 perjalanan.
Dari survei yang sama, moda transportasi yang digunakan warga adalah 48,7% sepeda motor. Padahal sewindu sebelumnya, baru 21,2% saja warga yang menggunakan sepeda motor, sementara bus kota dan angkutan umum masih mendominasi hingga 38,3%. Pada tahun 2010 berdasar survei tersebut, pengguna bus kota dan angkutan umum anjlok jadi 13,5%.
Ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar, untuk kembali memaksa masyarakat beralih menggunakan bus kota dan angkutan umum. Diperlukan konsep angkutan umum terintegrasi antara DKI Jakarta dengan daerah-daerah penyangga. Hal yang sebenarnya sudah lama diupayakan, namun baru dapat diwujudkan saat ini melalui Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway.
Sebagai gubernur, Bang Foke—demikian Fauzi Bowo sering disapa-- sendiri menyadari tidak mudah menata kembali keberadaan angkutan umum di Ibukota. Meski demikian ia menegaskan, akan terus fokus pada perbaikan dan revitalisasi angkutan umum serta membuat semuanya terintegrasi, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. [mah]
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1866045/ngatasi-macet-dalam-sekejap-mimpi-kali-ye
Label:
bekasi
,
bogor
,
dititipkan
,
jakarta
,
jalan
,
kabupaten
,
kemacetan
,
lintas
,
mobil
,
orang
,
pekerjaan
,
tangerang
Senin, 21 Mei 2012
Macet dan Banjir, Kepada Siapa Jakarta Mengadu?
Metrotvnews.com, Jakarta: Bicara Jakarta banyak persoalan yang terjadi. Banjir dan macet adalah dua di antaranya. Namun ternyata di tengah peliknya persoalan Jakarta, masih banyak orang yang ingin menjadi Gubernur di kota ini.
Tahukah anda berapa uang yang terbuang setiap tahunnya akibat kemacetan di Jakarta? Wow ternyata sebesar Rp28 triliun. Lalu berapa rupiah BBM yang terbuang percuma akibat kemacetan di Jakarta? Ya, sebesar Rp10,7 triliun.
Kemudian, masalah apa yang membuat sebagian warga ibu kota pusing setiap hujan turun? Jawabnya adalah banjir.
Banjir dan macet, dua kata ini seakan melekat pada Jakarta. Warga pun sudah sangat mahfum dengan kemacetan di kota ini jika dulu tidak bisa beralasan telat karena macet, kini warga seakan berdamai dengan hal itu.
Bayangkan waktu produktif warga Jakarta yang terbuang setiap tahunnya mencapai Rp9,7 triliun. Belum lagi masalah lain yang mengancam keberlangsungan hidup warga Jakarta, seperti menurunnya kualitas hidup sehat dan stres.
Uang puluhan triliun rupiah yang hilang setiap tahun seharusnya bisa digunakan untuk membangun Jakarta menjadi lebih baik. Misalnya membuat transportasi massa yang hanya membutuhkan tidak lebih dari Rp28 miliar. Serta membangun puluhan rumah susun atau apartemen sederhana dengan harga yang terjangkau.
Lantas kepada siapakah warga Jakarta harus mengadu?
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tidak kurang dari 100 hari lagi. Semua bakal calon gubernur sudah siap dengan jurus-jurus jitu untuk menjadi pemenang. Visi dan misi yang ditawarkan nyaris seragam. Mengatasi banjir dan kemacetan. Dari calon yang diusung parpol hingga calon independen.
Tak tekecuali kandidat independen alias jalur nonpartai seperti pasangan ekonom Faisal Basri dan Biem Benyamin misalnya. Pasangan independen ini ibarat penetral ditengah perpolitikan Indonesia saat ini. Tidak mudah memang, Faisal beserta tim sukses harus turun ke tiap-tiap kecamatan untuk memverivikasi data yang akan diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum Daerah.
Mereka tidak memiliki sumber dana yang pasti untuk membiayai proses pemenangan. Sampai-sampai Faisal harus menjual rumah pribadinya di daerah Kebayoran Baru. Inipun belum bisa memastikan pasangan ini bisa ikut ketahap selanjutnya.
Namun sayang saat ini di Indonesia tidak banyak pasangan independen yang berhasil memenangkan pertarungan pemilihan kepala daerah.
Dari 398 kabupaten, 93 kota, 1 kabupaten administrasi, dan 5 kota administrasi, hanya Provinsi Aceh dan Kabupaten Garut saja yang pernah dipimpin oleh kepala daerah dari jalur independen.
Daya tembus birokrasi yang sulit membuat pasangan independen lebih sering mundur teratur. Kesulitan ini juga menjadi gambaran sistem politik seperti apakah yang ada di negara kita.
Siapapun yang menang Jakarta kini membutuhkan pemimpin yang bisa mengakomodir banyak hal. Bukan hanya bisa menanggulangi kemacetan tetapi berani menyetop penyebab kemacetan dan banjir. Serta berani melakukan perubahan, bukan pembenahan.(DNI)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/05/20/151350/Macet-dan-Banjir-Kepada-Siapa-Jakarta-Mengadu?/6
Tahukah anda berapa uang yang terbuang setiap tahunnya akibat kemacetan di Jakarta? Wow ternyata sebesar Rp28 triliun. Lalu berapa rupiah BBM yang terbuang percuma akibat kemacetan di Jakarta? Ya, sebesar Rp10,7 triliun.
Kemudian, masalah apa yang membuat sebagian warga ibu kota pusing setiap hujan turun? Jawabnya adalah banjir.
Banjir dan macet, dua kata ini seakan melekat pada Jakarta. Warga pun sudah sangat mahfum dengan kemacetan di kota ini jika dulu tidak bisa beralasan telat karena macet, kini warga seakan berdamai dengan hal itu.
Bayangkan waktu produktif warga Jakarta yang terbuang setiap tahunnya mencapai Rp9,7 triliun. Belum lagi masalah lain yang mengancam keberlangsungan hidup warga Jakarta, seperti menurunnya kualitas hidup sehat dan stres.
Uang puluhan triliun rupiah yang hilang setiap tahun seharusnya bisa digunakan untuk membangun Jakarta menjadi lebih baik. Misalnya membuat transportasi massa yang hanya membutuhkan tidak lebih dari Rp28 miliar. Serta membangun puluhan rumah susun atau apartemen sederhana dengan harga yang terjangkau.
Lantas kepada siapakah warga Jakarta harus mengadu?
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tidak kurang dari 100 hari lagi. Semua bakal calon gubernur sudah siap dengan jurus-jurus jitu untuk menjadi pemenang. Visi dan misi yang ditawarkan nyaris seragam. Mengatasi banjir dan kemacetan. Dari calon yang diusung parpol hingga calon independen.
Tak tekecuali kandidat independen alias jalur nonpartai seperti pasangan ekonom Faisal Basri dan Biem Benyamin misalnya. Pasangan independen ini ibarat penetral ditengah perpolitikan Indonesia saat ini. Tidak mudah memang, Faisal beserta tim sukses harus turun ke tiap-tiap kecamatan untuk memverivikasi data yang akan diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum Daerah.
Mereka tidak memiliki sumber dana yang pasti untuk membiayai proses pemenangan. Sampai-sampai Faisal harus menjual rumah pribadinya di daerah Kebayoran Baru. Inipun belum bisa memastikan pasangan ini bisa ikut ketahap selanjutnya.
Namun sayang saat ini di Indonesia tidak banyak pasangan independen yang berhasil memenangkan pertarungan pemilihan kepala daerah.
Dari 398 kabupaten, 93 kota, 1 kabupaten administrasi, dan 5 kota administrasi, hanya Provinsi Aceh dan Kabupaten Garut saja yang pernah dipimpin oleh kepala daerah dari jalur independen.
Daya tembus birokrasi yang sulit membuat pasangan independen lebih sering mundur teratur. Kesulitan ini juga menjadi gambaran sistem politik seperti apakah yang ada di negara kita.
Siapapun yang menang Jakarta kini membutuhkan pemimpin yang bisa mengakomodir banyak hal. Bukan hanya bisa menanggulangi kemacetan tetapi berani menyetop penyebab kemacetan dan banjir. Serta berani melakukan perubahan, bukan pembenahan.(DNI)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/05/20/151350/Macet-dan-Banjir-Kepada-Siapa-Jakarta-Mengadu?/6
Label:
administrasi
,
faisal
,
independen
,
indonesia
,
jakarta
,
kabupaten
,
kemacetan
,
pemilihan
,
persoalan
,
rupiah
Langganan:
Postingan
(
Atom
)