Jakarta - Tiga ide dari inovator muda terpilih bertanding dalam kompetisi Jakarta Urban Challege untuk mencari solusi efektif bagi mobilitas dan transportasi di Jakarta. Satu diantaranya yang dinilai paling inovatif dalam mengatasi kemacetan Ibu Kota dipilih menjadi pemenang.
"Juri memilih 3 finalis yang dianggap paling inovatif dan memberi solusi baru. Juara 1 mendapat 10 ribu dollar, juara 2 mendapat 6 ribu dollar dan juara 3 mendapat 4 ribu dollar," ujar Chairmant New Cities Foundation Jhon Rossant saat mengumumkan pemenang lomba di Ciputra Artwork, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2015).
John mengumumkan, Squee Mobile App sebagai pemenang pertama Jakarta Urban Challenge. Kelompok ini meluncurkan sebuah aplikasi pemberi saran rute perjalanan yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Nantinya, kendaraan-kendaraan bermotor ini juga bisa diarahkan melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
"Dengan pendekatan kota Jakarta, Squee menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi. Kami percaya, rute jalan tikus kami lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor lewat kampung-kampung," kata salah satu anggota Squee, Arlene Nathania kepada wartawan.
Pemenenang kedua ditempati oleh kelompok Jalan Aman (Safe Passage) yang mengeluarkan aplikasi mobile berfokus pada keamanan dari komuter wanita di Ibu Kota. Mereka juga dapat berbagi informasi mengenai lokasi dan melapor bila mengalami tindak kejahatan kepada sesama pengguna.
John menilai aplikasi ini sangat berguna terutama bagi para komuter di kota-kota besar yang memiliki mobilitas tinggi. "Ini proyek yang bagus," kata Newyorker tersebut saat memberikan komentarnya.
Pemenang ketiga jatuh kepada Cyclist Urban System. Kelompok ini meluncurkan aplikasi bagi pengendara sepeda di Jakarta, di mana mereka dapat memarkir sepedanya, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda, informasi rute dan masih banyak lagi.
Menurut John aplikasi ini bermanfaat untuk mendorong warga di Jakarta beralih ke sepeda sebagai kendaraan alternatif. Selain sehat, juga bisa membantu mengurangi polusi udara dari gas karbondioksida.
Hal ini sejalan dengan tujuan dari diadakannya lomva Jakarta Urban Challege agar dapat memperbaiki kemacetan, mengurangi emisi dari efek rumah kaca, mengurangi polusi udara dan memperbaiki keamanan serta aksesibilitas.
Adapun penjurian dilakukan oleh tim dari New Cities Foundation dan Connect4Climate. Mereka terdiri dari Country Manager International Finance Corporation Yuan Xu, Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Sarwo Handayani, Ketua New Cities Foundation John Rossant, Deputi Gubernur untuk Industri, Perdagangan dan Transportasi DKI Sutanto Soehodho, Kepala Deputi Metropolitan Kompas Muda Neli Triana serta Pemenang Nobel Perdamaian dan Pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Hadir pula dalam pengumuman pemenang lomba sekaligus untuk menutup rangkaian kegiatan New Cities Summit Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Selama pengumuman berlangsung, Ahok tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada 3 kelompok muda terpilih.
"Saya ingin mengetahui lebih jauh aplikasi mereka untuk bisa diaplikasikan ke Smart City," kata Ahok sambil berbisik di atas panggung kepada John.
"Selamat kepada para pemenang," sambungnya sembari menutup acara.
Sumber : http://news.detik.com/berita/2938896/inovatif-squee-mobile-app-juarai-lomba-jakarta-urban-challenge-2015
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label new. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Juni 2015
Inovatif! Squee Mobile App Juarai Lomba Jakarta Urban Challenge 2015
Label:
ahok
,
aplikasi
,
challege
,
cities
,
foundation
,
ibu kota
,
jakarta
,
john
,
kampung-kampung
,
kendaraan bermotor
,
komuter
,
new
,
pemenang
,
rossant
,
rute
,
sepeda
,
squee
,
transportasi
,
urban
Jumat, 12 Juni 2015
Tiga Usulan Menyiasati Kemacetan Ibu Kota Jakarta
JAKARTA, KOMPAS - Publik Jakarta punya segudang usulan untuk menyiasati masalah kotanya. Jakarta Urban Challenge, kompetisi untuk mencari solusi masalah mobilitas dan kemacetan Jakarta, bisa jadi indikatornya. Hingga pendaftaran ditutup 8 Mei 2015, sebanyak 226 usulan masuk ke meja panitia.
Proposal dipilih berdasarkan tujuan mengatasi kemacetan, mengurangi emisi efek rumah kaca, mengurangi polusi udara, serta memperbaiki keamanan dan mobilitas warga Jakarta. Sejumlah juri internasional terlibat dalam penilaian, antara lain Ketua New Cities Foundation John Rossant serta peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkesempatan menyerahkan hadiah kepada tiga pemenang pada penutupan New Cities Summit 2015 di Jakarta, Rabu (10/6). Mereka menerima hadiah total 20.000 dollar AS pada kompetisi yang diselenggarakan New Cities Foundation dan Connect4Climate itu.
Aplikasi mobil "Squee" yang dikembangkan Arlene Nathania dan kawan-kawan memenangi kompetisi itu. Squee menggabungkan pejalan kaki dan pesepeda bepergian bersama melewati rute yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
Arlene mengatakan, Squee menggunakan pendekatan perkotaan Jakarta. Aplikasi ini menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi yang awalnya terlihat tidak berkaitan.
Tim Squee percaya bahwa "jalan tikus" yang dibagi bisa menjadi alternatif bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda menempuh rute lebih singkat. Aplikasi ini menjanjikan dapat meningkatkan aksesibilitas, kebebasan bergerak, dan nilai sosial.
Sementara gagasan "Jalan Aman" dipilih sebagai juara kedua. Aplikasi mobil ini fokus pada keamanan komuter perempuan. Aplikasi juga memungkinkan pengguna berbagi informasi mengenai lokasi mereka, melaporkan penyerangan, dan menyediakan informasi transportasi yang aman kepada pengguna lain.
"Hampir semua dari kita adalah wanita, dan proposal Jalan Aman disusun berdasarkan pengalaman pribadi ketika bepergian di jalan Jakarta yang menantang dan bahkan menakutkan," kata Paulista Surjadi yang mewakili tim Jalan Aman.
Paulista berharap idenya dapat berkontribusi pada perbaikan mobilitas dengan memberikan solusi yang tepat sasaran, khususnya komuter perempuan sebagai kelompok komuter yang paling terkena dampak.
Gagasan lain disampaikan tim Cyclist Urban System (CUS) yang menawarkan rencana menciptakan "pusat pengendara sepeda" di Jakarta. Usulan tim ini terpilih sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.
Ucha Kautsar dari CUS mengatakan, usulannya memungkinkan pengendara sepeda dapat memarkir sepeda mereka, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda mereka, mendapatkan pertolongan pertama dan informasi rute, serta menyewa sepeda.
"Selain berolahraga, kita sering bersepeda untuk menuju tempat tertentu. Kami percaya CUS dapat mendorong seseorang bersepeda jika kita bisa menyediakan akses mudah untuk fasilitas parkir sepeda, locker, dan kamar mandi untuk pesepeda," kata Ucha.
Diundang gubernur
Kepada para pemenang, Basuki berjanji akan mengundang mereka untuk bertemu dan menelaah apakah usulan mereka bisa diaplikasikan di Jakarta. Dia menyatakan akan menerapkannya untuk membantu publik Jakarta jika terbukti efektif.
Beberapa peserta New Cities Summit mengapresiasi sejumlah finalis. Menurut Rossant, banyaknya proposal yang masuk menjadi indikasi bahwa Jakarta punya modal sumber daya manusia dan kreativitas untuk mengatasi masalahnya. Deden Rukmana, peserta dari Asosiasi Profesor dan Koordinator Studi Urban dan Program Perencanaan, menilai, teknologi informasi membantu para peserta menawarkan solusi bagi warga kotanya. Ide-ide positif perlu didengar dan dipertimbangkan pemerintah kota.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/11/16410951/Tiga.Usulan.Menyiasati.Kemacetan.Ibu.Kota.Jakarta
Proposal dipilih berdasarkan tujuan mengatasi kemacetan, mengurangi emisi efek rumah kaca, mengurangi polusi udara, serta memperbaiki keamanan dan mobilitas warga Jakarta. Sejumlah juri internasional terlibat dalam penilaian, antara lain Ketua New Cities Foundation John Rossant serta peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkesempatan menyerahkan hadiah kepada tiga pemenang pada penutupan New Cities Summit 2015 di Jakarta, Rabu (10/6). Mereka menerima hadiah total 20.000 dollar AS pada kompetisi yang diselenggarakan New Cities Foundation dan Connect4Climate itu.
Aplikasi mobil "Squee" yang dikembangkan Arlene Nathania dan kawan-kawan memenangi kompetisi itu. Squee menggabungkan pejalan kaki dan pesepeda bepergian bersama melewati rute yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
Arlene mengatakan, Squee menggunakan pendekatan perkotaan Jakarta. Aplikasi ini menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi yang awalnya terlihat tidak berkaitan.
Tim Squee percaya bahwa "jalan tikus" yang dibagi bisa menjadi alternatif bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda menempuh rute lebih singkat. Aplikasi ini menjanjikan dapat meningkatkan aksesibilitas, kebebasan bergerak, dan nilai sosial.
Sementara gagasan "Jalan Aman" dipilih sebagai juara kedua. Aplikasi mobil ini fokus pada keamanan komuter perempuan. Aplikasi juga memungkinkan pengguna berbagi informasi mengenai lokasi mereka, melaporkan penyerangan, dan menyediakan informasi transportasi yang aman kepada pengguna lain.
"Hampir semua dari kita adalah wanita, dan proposal Jalan Aman disusun berdasarkan pengalaman pribadi ketika bepergian di jalan Jakarta yang menantang dan bahkan menakutkan," kata Paulista Surjadi yang mewakili tim Jalan Aman.
Paulista berharap idenya dapat berkontribusi pada perbaikan mobilitas dengan memberikan solusi yang tepat sasaran, khususnya komuter perempuan sebagai kelompok komuter yang paling terkena dampak.
Gagasan lain disampaikan tim Cyclist Urban System (CUS) yang menawarkan rencana menciptakan "pusat pengendara sepeda" di Jakarta. Usulan tim ini terpilih sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.
Ucha Kautsar dari CUS mengatakan, usulannya memungkinkan pengendara sepeda dapat memarkir sepeda mereka, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda mereka, mendapatkan pertolongan pertama dan informasi rute, serta menyewa sepeda.
"Selain berolahraga, kita sering bersepeda untuk menuju tempat tertentu. Kami percaya CUS dapat mendorong seseorang bersepeda jika kita bisa menyediakan akses mudah untuk fasilitas parkir sepeda, locker, dan kamar mandi untuk pesepeda," kata Ucha.
Diundang gubernur
Kepada para pemenang, Basuki berjanji akan mengundang mereka untuk bertemu dan menelaah apakah usulan mereka bisa diaplikasikan di Jakarta. Dia menyatakan akan menerapkannya untuk membantu publik Jakarta jika terbukti efektif.
Beberapa peserta New Cities Summit mengapresiasi sejumlah finalis. Menurut Rossant, banyaknya proposal yang masuk menjadi indikasi bahwa Jakarta punya modal sumber daya manusia dan kreativitas untuk mengatasi masalahnya. Deden Rukmana, peserta dari Asosiasi Profesor dan Koordinator Studi Urban dan Program Perencanaan, menilai, teknologi informasi membantu para peserta menawarkan solusi bagi warga kotanya. Ide-ide positif perlu didengar dan dipertimbangkan pemerintah kota.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/11/16410951/Tiga.Usulan.Menyiasati.Kemacetan.Ibu.Kota.Jakarta
Senin, 23 Maret 2015
$ 20.000 untuk anak muda yang bisa temukan solusi kemacetan Jakarta!
Merdeka.com - Meningkatnya laju urbanisasi Jakarta yang sangat cepat menimbulkan berbagai tantangan, terutama kemacetan dan mobilitas. Pada Februari 2015, Jakarta menempati peringkat pertama sebagai kota termacet dari 78 kota-kota lain di dunia. Untuk membantu Jakarta menghadapi tantangan-tantangan tersebut, New Cities Foundation dan Connect4Climate meluncurkan Jakarta Urban Challenge.
Jakarta Urban Challenge merupakan sebuah kompetisi dengan total hadiah sebesar USD 20.000 untuk generasi muda Indonesia yang mampu memberikan solusi terbaik bagi permasalahan mobilitas Jakarta. Puncak dari kompetisi ini akan digelar pada penyelenggaraan New Cities Summit tanggal 9-11 Juni 2015 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Jakarta Urban Challenge mengundang para pelajar dan wirausahawan Indonesia berusia 18-35 tahun yang ingin berkontribusi mengatasi tantangan mobilitas dan lalu lintas Jakarta. Kompetisi ini dibuka untuk perorangan maupun kelompok yang terdiri dari maksimal lima (5) orang. Untuk mendaftar, individu atau kelompok harus mengirimkan proposal inovatif berbahasa Inggris yang terdiri dari 1.000 kata yang memaparkan visi dan misi proyek mereka. Aplikasi dibuka pada tanggal 16 Maret 2015 dan akan ditutup pada 30 April 2015.
Detail kompetisi bisa dilihat di sini .
Tiga finalis terbaik akan diumumkan pada bulan Mei untuk mempresentasikan ide mereka di depan panel juri internasional pada penyelenggaraan New Cities Summit 2015. Pemenang akan diumumkan saat Summit berlangsung dan mendapatkan hadiah sebesar USD20.000 untuk merealisasikan ide mereka.
Jakarta Urban Challenge diselenggarakan New Cities Foundation, sebuah organisasi non- profit global, bersama dengan Connect4Climate, sebuah inisiatif global dari World Bank bersama Kementerian Lingkungan Italia.
Pengumuman Pembicara dan Program New Cities Summit Sebagai bagian dari persiapan acara New Cities Summit 2015 yang akan diadakan pada tanggal 9-11 Juni, New Cities Foundation mengumumkan para pembicara dan program dari summit tersebut. Pembicara terdiri dari para pemimpin kota, arsitek, CEO, akademisi dan pengamat dari berbagai belahan dunia. New Cities Summit akan diadakan di Asia untuk pertama kalinya pada tahun ini.
Acara ini akan dihadiri oleh 800 delegasi dari 40 negara untuk mendiskusikan tema "Seizing Urban Moment: Cities at the Heart of Growth and Development". Konferensi ini akan membahas tantangan-tantangan urbanisasi Asia sekaligus mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan serupa yang dihadapi semua kota di dunia.
Beberapa pembicara pada New Cities Summit 2015 termasuk Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta; Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian sekaligus Pendiri Grameen Bank; Ahamed J. M. Muzammil, Walikota Kolombo, Sri Lanka; Charbel Aoun, Wakil Presiden Senior Smart Cities, Schneider Electric; Manuel Salgado, Wakil Walikota Lisbon; dan In Dong Cho, Direktur Jenderal, Seoul Innovation Department.
Selama New Cities Summit berlangsung, akan terdapat begitu banyak diskusi dinamis mengenai inovasi dan kreativitas untuk menjawab tantangan urbanisasi global. Salah satunya adalah WhatWorks, yang merupakan salah satu acara terpopuler dari New Cities Foundation. WhatWorks merupakan rangkaian presentasi singkat dari para inovator perkotaan internasional dengan latar belakang yang berbeda.
Dan tidak kalah menarik akan berlangsung juga Global Cultural Districts Network (GCDN), sebuah gabungan berbagai pusat seni dan kebudayaan global. Tahun ini, GCDN akan berfokus pada dinamika pariwisata kebudayaan serta perancangan pemanfaatan ruang publik yang menarik.
New Cities Summit didukung oleh berbagai mitra dari sektor publik, swasta, dan non-profit, baik dari dalam maupun luar Indonesia, termasuk International Finance Cooperation (IFC), anggota dari World Bank Group dan institusi pembangunan global terbesar, Connect4Climate, komunitas global yang fokus pada perubahan iklim lewat promosi solusi dan aksi pemberdayaan, dan Center for Public Policy Transformation (Transformasi), Jakarta, sebuah think tank yang terlibat dengan para pembuat kebijakan, cendekiawan, dan publik.
Temukan informasi mengenai:
Program, pembicara dan mitra dari Summit:
www.newcitessummit2015.org
Twitter: #ncs2015
Jakarta Urban Challenge:
http://bit.ly/JKTUrbChallenge
Twitter: #JKTUrbChallenge
WhatWorks:
newcitiessummit2015.org/what-works
Global Cultural Districts Network:
newcitiessummit2015.org/gcdn
Sumber : http://www.merdeka.com/gaya/-20000-untuk-anak-muda-yang-bisa-temukan-solusi-kemacetan-jakarta.html
Jakarta Urban Challenge merupakan sebuah kompetisi dengan total hadiah sebesar USD 20.000 untuk generasi muda Indonesia yang mampu memberikan solusi terbaik bagi permasalahan mobilitas Jakarta. Puncak dari kompetisi ini akan digelar pada penyelenggaraan New Cities Summit tanggal 9-11 Juni 2015 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Jakarta Urban Challenge mengundang para pelajar dan wirausahawan Indonesia berusia 18-35 tahun yang ingin berkontribusi mengatasi tantangan mobilitas dan lalu lintas Jakarta. Kompetisi ini dibuka untuk perorangan maupun kelompok yang terdiri dari maksimal lima (5) orang. Untuk mendaftar, individu atau kelompok harus mengirimkan proposal inovatif berbahasa Inggris yang terdiri dari 1.000 kata yang memaparkan visi dan misi proyek mereka. Aplikasi dibuka pada tanggal 16 Maret 2015 dan akan ditutup pada 30 April 2015.
Detail kompetisi bisa dilihat di sini .
Tiga finalis terbaik akan diumumkan pada bulan Mei untuk mempresentasikan ide mereka di depan panel juri internasional pada penyelenggaraan New Cities Summit 2015. Pemenang akan diumumkan saat Summit berlangsung dan mendapatkan hadiah sebesar USD20.000 untuk merealisasikan ide mereka.
Jakarta Urban Challenge diselenggarakan New Cities Foundation, sebuah organisasi non- profit global, bersama dengan Connect4Climate, sebuah inisiatif global dari World Bank bersama Kementerian Lingkungan Italia.
Pengumuman Pembicara dan Program New Cities Summit Sebagai bagian dari persiapan acara New Cities Summit 2015 yang akan diadakan pada tanggal 9-11 Juni, New Cities Foundation mengumumkan para pembicara dan program dari summit tersebut. Pembicara terdiri dari para pemimpin kota, arsitek, CEO, akademisi dan pengamat dari berbagai belahan dunia. New Cities Summit akan diadakan di Asia untuk pertama kalinya pada tahun ini.
Acara ini akan dihadiri oleh 800 delegasi dari 40 negara untuk mendiskusikan tema "Seizing Urban Moment: Cities at the Heart of Growth and Development". Konferensi ini akan membahas tantangan-tantangan urbanisasi Asia sekaligus mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan serupa yang dihadapi semua kota di dunia.
Beberapa pembicara pada New Cities Summit 2015 termasuk Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta; Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian sekaligus Pendiri Grameen Bank; Ahamed J. M. Muzammil, Walikota Kolombo, Sri Lanka; Charbel Aoun, Wakil Presiden Senior Smart Cities, Schneider Electric; Manuel Salgado, Wakil Walikota Lisbon; dan In Dong Cho, Direktur Jenderal, Seoul Innovation Department.
Selama New Cities Summit berlangsung, akan terdapat begitu banyak diskusi dinamis mengenai inovasi dan kreativitas untuk menjawab tantangan urbanisasi global. Salah satunya adalah WhatWorks, yang merupakan salah satu acara terpopuler dari New Cities Foundation. WhatWorks merupakan rangkaian presentasi singkat dari para inovator perkotaan internasional dengan latar belakang yang berbeda.
Dan tidak kalah menarik akan berlangsung juga Global Cultural Districts Network (GCDN), sebuah gabungan berbagai pusat seni dan kebudayaan global. Tahun ini, GCDN akan berfokus pada dinamika pariwisata kebudayaan serta perancangan pemanfaatan ruang publik yang menarik.
New Cities Summit didukung oleh berbagai mitra dari sektor publik, swasta, dan non-profit, baik dari dalam maupun luar Indonesia, termasuk International Finance Cooperation (IFC), anggota dari World Bank Group dan institusi pembangunan global terbesar, Connect4Climate, komunitas global yang fokus pada perubahan iklim lewat promosi solusi dan aksi pemberdayaan, dan Center for Public Policy Transformation (Transformasi), Jakarta, sebuah think tank yang terlibat dengan para pembuat kebijakan, cendekiawan, dan publik.
Temukan informasi mengenai:
Program, pembicara dan mitra dari Summit:
www.newcitessummit2015.org
Twitter: #ncs2015
Jakarta Urban Challenge:
http://bit.ly/JKTUrbChallenge
Twitter: #JKTUrbChallenge
WhatWorks:
newcitiessummit2015.org/what-works
Global Cultural Districts Network:
newcitiessummit2015.org/gcdn
Sumber : http://www.merdeka.com/gaya/-20000-untuk-anak-muda-yang-bisa-temukan-solusi-kemacetan-jakarta.html
Label:
challenge
,
cities
,
climate
,
connect
,
districts
,
foundation
,
gcdn
,
global
,
jakarta
,
kompetisi
,
mobilitas
,
new
,
newcitiessummit
,
org
,
pembicara
,
summit
,
urban
,
urbanisasi
,
whatworks
Selasa, 17 Desember 2013
Seperti Apa Wajah Jakarta di Masa Mendatang?
JAKARTA – Saat ini kota Jakarta memikul problematika yang sangat banyak. Kota yang kerap banjir, macet dan ketersediaan lahan yang menipis.
Di tangan arsitek kaliber dunia, Cosmas D Gozali, Jakarta ditata menjadi kota yang rapi sesuai dengan peruntukannya. Dalam sebuah ajang Urban Planning and Design Competition, Jakarta didesign menjadi Smart City New Jakarta Green Belt pada 2050. Atas karyanya menata kota Jakarta, dia didaulat menjadi arsitek terbaik di Asia Tenggara.
Apa saja problem kota Jakarta dan seperti apakah solusinya? Berikut penuturan Cosmas D Gozali kepada Okezone, belum lama ini.
Pengelolaan yang buruk, menurut arsitek jebolan Wina ini menyebabkan sampah menjadi pemicu masalah baru seperti banjir munculnya berbagai penyakit, sampai kepada pemandangan kota yang menyolok dan bau yang tidak sedap.
Di sisi lain, munculnya pemukiman kumuh telah merebut lahan Pemda Kota Jakarta yang sebenarnya bisa difungsikan sebagai lahan penghijauan dan paru-paru Kota Jakarta
Kemacetan lalu lintas, tutur dia menjadi salah satu masalah utama Kota Jakarta yang perlu dibenahi secara tuntas dan integratif dari berbagai moda transportasi yang ada.
Kurangnya daerah penghijauan dan infrastruktur drainase yang memadai merupakan dua faktor utama yang menjadi penyebab permasalahan banjir di Kota Jakarta
Sejumlah titik masalah ruwetnya Kota Jakarta itu diurai oleh Cosmas dengan pembuatan triple decker pada jalur New Jakarta Green Belt untuk mengoptimalkan penggunaan lahan.
Lapisan pertama, sebagai ruang terbuka hijau dan ruang publik. Lapisan kedua, menjadi jalur moda transportasi terpadu yang terdiri atas kendaraan, bus angkutan publik, kereta api, dan MRT. Dan lapisan ketiga menjadi area parkir dan servis. Lalu, Cosmas juga menjadikan sungai sebagai jalur transportasi air.
Dalam designya, Cosmas membuat bendungan di pantai utara Jakarta sekaligus merupakan jalan penghubung (New Jakarta Green Belt) untuk mengendalikan permukaan air laut dan mengatasi banjir.
"Kota Jakarta akan dikembangkan sebagai pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan Indonesia. Sementara pusat industri dan perdagangan, pemukiman akan dikembangkan di sebelah luar New Jakarta Green Belt atau pinggir kota Jakarta," ujar dia.
Area Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan pantai akan dikembangkan menjadi real estate komersil (waterfront city), pusat hiburan, resort, kebudayaan dan penunjang wisata lainnya. (nia)
Sumber : http://property.okezone.com/read/2013/12/16/471/912891/seperti-apa-wajah-jakarta-di-masa-mendatang
Di tangan arsitek kaliber dunia, Cosmas D Gozali, Jakarta ditata menjadi kota yang rapi sesuai dengan peruntukannya. Dalam sebuah ajang Urban Planning and Design Competition, Jakarta didesign menjadi Smart City New Jakarta Green Belt pada 2050. Atas karyanya menata kota Jakarta, dia didaulat menjadi arsitek terbaik di Asia Tenggara.
Apa saja problem kota Jakarta dan seperti apakah solusinya? Berikut penuturan Cosmas D Gozali kepada Okezone, belum lama ini.
Pengelolaan yang buruk, menurut arsitek jebolan Wina ini menyebabkan sampah menjadi pemicu masalah baru seperti banjir munculnya berbagai penyakit, sampai kepada pemandangan kota yang menyolok dan bau yang tidak sedap.
Di sisi lain, munculnya pemukiman kumuh telah merebut lahan Pemda Kota Jakarta yang sebenarnya bisa difungsikan sebagai lahan penghijauan dan paru-paru Kota Jakarta
Kemacetan lalu lintas, tutur dia menjadi salah satu masalah utama Kota Jakarta yang perlu dibenahi secara tuntas dan integratif dari berbagai moda transportasi yang ada.
Kurangnya daerah penghijauan dan infrastruktur drainase yang memadai merupakan dua faktor utama yang menjadi penyebab permasalahan banjir di Kota Jakarta
Sejumlah titik masalah ruwetnya Kota Jakarta itu diurai oleh Cosmas dengan pembuatan triple decker pada jalur New Jakarta Green Belt untuk mengoptimalkan penggunaan lahan.
Lapisan pertama, sebagai ruang terbuka hijau dan ruang publik. Lapisan kedua, menjadi jalur moda transportasi terpadu yang terdiri atas kendaraan, bus angkutan publik, kereta api, dan MRT. Dan lapisan ketiga menjadi area parkir dan servis. Lalu, Cosmas juga menjadikan sungai sebagai jalur transportasi air.
Dalam designya, Cosmas membuat bendungan di pantai utara Jakarta sekaligus merupakan jalan penghubung (New Jakarta Green Belt) untuk mengendalikan permukaan air laut dan mengatasi banjir.
"Kota Jakarta akan dikembangkan sebagai pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan Indonesia. Sementara pusat industri dan perdagangan, pemukiman akan dikembangkan di sebelah luar New Jakarta Green Belt atau pinggir kota Jakarta," ujar dia.
Area Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan pantai akan dikembangkan menjadi real estate komersil (waterfront city), pusat hiburan, resort, kebudayaan dan penunjang wisata lainnya. (nia)
Sumber : http://property.okezone.com/read/2013/12/16/471/912891/seperti-apa-wajah-jakarta-di-masa-mendatang
Langganan:
Postingan
(
Atom
)