Tampilkan postingan dengan label stasiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stasiun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

'Transportasi Massal di Jakarta yang Bisa Diandalkan Hanya KRL'

Jakarta -Di DKI Jakarta, terdapat banyak transportasi massal mulai dari angkot, Trans Jakarta, hingga Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Namun, hanya KRL Commuter Line Jabodetabek yang pelayanannya paling baik dan bisa diandalkan masyarakat di Jakarta.

Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas, dalam diskusi pengembangan angkutan massal terintegrasi Jabodetabek, di Balitbang Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2015).

"Saya frustasi sebagai pengguna angkutan. Saya nggak anjurkan Trans Jakarta saat tergesa-gesa, karena nggak bisa diandalkan. Yang relatif baik itu adalah KRL," kata Darmaningtyas.

Mesti menjadi transportasi paling diunggulkan, menurutnya, KRL masih menghadapi masalah 'kemacetan' di stasiun besar di Manggarai. Di Stasiun Manggarai, lalu lintas KRL kerap terganggu oleh pergerakan kereta jarak jauh. Karena jalur KRL masih bercampur dengan kereta jarak jauh.

"Tapi macet di Manggarai, maka kita usulan dipindah di Cipinang," jelasnya.

Selain itu, Darmaningtyas menyoroti masih adanya bus-bus berusia senja atau puluhan tahun yang melayani jalan utama di DKI. Padahal secara bentuk dan kelayakan sudah tidak cocok melayani penumpang.

"Tahun ini di Blok M, Perum PPD punya bus usia 50-60 tahun, harusnya sudah dikubur. Kalau angkutan umum bagus dan efisien, nggak perlu paksa orang pindah, orang nggak didorong akan pindah," ujarnya.

Sumber : http://finance.detik.com/read/2015/10/21/110042/3049370/4/transportasi-massal-di-jakarta-yang-bisa-diandalkan-hanya-krl

Selasa, 14 Juli 2015

Angkutan LRT Bekasi-Jakarta-Bogor Akan Dibangun

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Angkutan light rapid transit (LRT), yang akan menghubungkan Bekasi-Jakarta-Bogor, akan dibangun.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Senin (13/7/2015) siang, mengemukakan, Gubernur DKI berencana membangun enam jalur. Untuk tahap pertama akan dibangun dua jalur. Sedangkan PT Adhi Karya, yang tadinya mau mengambil inisiatif sendiri tanpa biaya dari pemerintah, menurut pertimbangan Menteri Perhubungan, rasanya tidak mungkin. Oleh sebab itu, prasarananya akan dibangun oleh pemerintah.

Menurut Sofyan, supaya pembangunan LRT lebih cepat, Gubernur DKI dan Adhi Karya meminta dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk penunjukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bisa membangun dulu. Nanti setelah dibangun, baru pemda bisa ambil alih atau dibeli.

“Yang kedua, Perpres yang sama akan menugaskan Adhi Karya untuk membangun dulu, nanti sebagian dana sudah ada di Kementerian Perhubungan,” kata Sofyan kepada wartawan seusai rapat terbatas di kantor Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari laman Setkab.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan, LRT di Jabodetabek tetap akan dibangun. Dari usulan tujuh ruas, di dalam DKI sendiri oleh Pemprov DKI akan mulai dibangun 2 ruas. Yang pertama dari barat ke timur, dan yang satu lagi dari utara ke selatan.

“Jadi, ini dibangun memenuhi aspek intermodality. Nanti stasiunnya nyambung dengan stasiun KRL dan halte busway, serta stasiun MRT yang akan dibangun,” kata Jonan.

Dikemukakan, yang diusulkan oleh Adhi Karya, juga akan dibangun. Kemungkinannya, akan diterbitkan Perpres untuk penunjukan Adhi Karya. Setelah nantinya pembangunan instalasi LRT sudah selesai akan dibeli dengan dana APBN dengan harga yang pantas.

Sumber : http://www.tubasmedia.com/angkutan-lrt-bekasi-jakarta-bogor-akan-dibangun/

Rabu, 22 April 2015

Imbas KAA, Pegawai Kantoran Terpaksa Jalan Kaki di Sudirman

TEMPO.CO, Jakarta - Penutupan ruas jalan dalam rangka peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan pada hari ini, Rabu, 22 April 2015. Di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, penutupan ruas dilakukan mulai Jalan Sisingamangaraja. Arus kendaraan di perempatan lalu lintas CSW yang menuju Jalan Jenderal Sudirman dialihkan ke Jalan Trunojoyo.

Penutupan ruas jalan juga berimbas ke pengguna angkutan umum. Anindita Wijaya, 27 tahun, mengatakan bus APTB rute Bekasi-Tanah Abang hanya melayani hingga Semanggi. Dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kantornya di gedung Wisma Nugra Santana, Dukuh Atas. "Lumayan jauh juga jaraknya," ujar Anindita kepada Tempo, Rabu 22 April 2015.

Pantauan Tempo, dari ruas Jalan M.H. Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman lengang. Tak ada lagi kendaraan yang melintas di dua ruas itu. Meski begitu, kendaraan yang ingin menyeberang masih diperbolehkan. Contohnya, kendaraan yang datang dari arah Tanah Abang menuju Jalan Kebon Sirih dan dari Jalan Budi Kemuliaan menuju Jalan Medan Merdeka Selatan.

Sementara itu, sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi pejalan kaki. Kebanyakan dari mereka merupakan penumpang Kereta Rel Listrik yang turun di Stasiun Sudirman. Bus Transjakarta juga tak beroperasi di wilayah itu. Yang tidak beroperasi akibat penutupan ruas jalan adalah bus koridor I rute Blok M-Kota, koridor II rute Pulogadung-Harmoni, dan koridor IX Pinang Ranti-Pluit.

Hal sama dialami Taufan Pramudito, 25 tahun. Karyawan swasta yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat itu sengaja berangkat lebih pagi untuk meluangkan waktu berjalan kaki.

Pengguna KRL itu mengubah stasiun tempat turun dari Tanah Abang menjadi Gondangdia. Dia kemudian berjalan kaki melalui Jalan Kebon Sirih menuju kantornya. "Manajemen menginformasikan agar kami berangkat lebih pagi karena ada penutupan jalan," ujar Taufan.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/04/22/083659790/Imbas-KAA-Pegawai-Kantoran-Terpaksa-Jalan-Kaki-di-Sudirman

Senin, 06 April 2015

Menanti KRL Jakarta Kota-Tanjung Priok

JAKARTA, KOMPAS.com - Satu jalur baru untuk layanan kereta rel listrik (KRL) Commuterline telah dibuka sejak 1 April lalu. Jalur tersebut adalah jalur yang menghubungkan Citayam hingga ke Nambo, Kabupaten Bogor.

Sebenarnya, ada satu jalur lagi yang direncanakan akan dibuka pada bulan ini. Jalur tersebut adalah jalur yang menghubungkan Jakarta Kota hingga ke Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun untuk jalur ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) belum dapat memastikan kapan akan mulai dioperasikan.

"Sudah dalam tahap finishing, cuma belum tahu kapan (akan dioperasikan). Karena sampai saat ini masih ada beberapa prasarana yang masih harus dibenahi," kata Kepala Humas Daops I PT KAI Bambang Prayitno kepada Kompas.com, Minggu (5/4/2015).

Menurut Bambang, salah satu permasalahan yang dihadapi dalam persiapan pengoperasian jalur Jakarta Kota-Tanjung Priok adalah adanya longsoran tanah di beberapa titik di jalur yang membentang sepanjang 8,086 kilometer itu. Ia mengatakan bahwa saat ini PT KAI bersama dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, masih berupaya mengatasi permasalahan tersebut.

Rute Jakarta Kota-Tanjung Priok berjarak sekitar 8,086 kilometer. Ada empat stasiun yang berada pada jalur ini, masing-masing Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Kampung Bandan Atas, Stasiun Ancol, dan Stasiun Tanjung Priok.

"Pada awalnya memang mau dibuka dua jalur langsung sekaligus. Cuma kan kondisi antara tempat yang satu (Citayam-Nambo) dengan tempat yang lain (Jakarta Kota-Tanjung Priok)," ujar dia.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/04/06/08221171/Menanti.KRL.Jakarta.Kota-Tanjung.Priok

Selasa, 07 Oktober 2014

KAI Prihatin Banyak Rel Kereta Tertimbun Sampah

TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Daerah Operasional I PT Kereta Api Indonesia, Agus Komarudin, mengatakan ada dua jalur kereta yang membahayakan di Jakarta Barat lantaran tertimbun sampah. "Di Stasiun Angke dan Stasiun Duri, banyak sampah menimbun rel dan dapat mengganggu fungsi lidah wesel," katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Oktober 2014.

Tumpukan rel itu bisa menyebabkan kecelakaan serius bagi kereta yang melintas. Sebab, sampah dapat menimbun lidah wesel yang berfungsi sebagai alat pengatur penggeseran jalur kereta. Untuk itu, saat ini pihaknya terus melakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah lidah wesel.

Peristiwa terpelesetnya kereta akibat timbunan sampah pernah terjadi pada 29 Mei 2014. Saat itu, kereta listrik jurusan Bekasi-Kota anjlok di Stasiun Kemayoran, Jakarta Pusat. Kasus itu disebabkan oleh warga yang menaruh karung berisi balok dan sampah di rel kereta. "Warga sekitar itu memang tak tertib," ujar Agus. (Baca: 23 Stasiun KRL Jabodetabek Berlakukan e-Parking)

Agus melanjutkan, selain kecerobohan warga, sampah juga bersumber dari pedagang kaki lima (PKL) di sekitar stasiun. Untuk itu, salah satu tugas kepala stasiun ialah membersihkan sekitar stasiun dari PKL.

Kepala Kecamatan Tambora Yunus Burhan menuturkan tumpukan sampah di Jalan Krendang Barat, Tambora, Jakarta Barat, semakin parah. "Sampah sudah kami angkut satu hari sekali, tapi tumpukannya sampai menimbun rel," katanya.

Selanjutnya, ujar Yunus, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan Jakarta Barat agar menangani tempat pembuangan sampah tersebut. "Sebenarnya, TPS yang legal berada di luar area rel. Kalau di dalam rel, itu tanggung jawab PT Kereta Api." (Baca: Pengalihan Subsidi Kereta Api Tunggu Menteri Baru)

Kepala Stasiun Angke Jakarta Barat M. Nurdin menuturkan pihaknya sempat berniat membersihkan tumpukan sampah itu. "Tapi terlalu banyak, saya enggak sanggup," katanya.

Tumpukan sampah kain dan botol plastik itu meluber dari bak TPS dan menimbung rel Stasiun Angke. Jika terus dibiarkan, ujar Nurdin, sampah akan menutupi lidah wesel dan membuat pergeseran rel tak berfungsi dengan baik.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/10/03/090611598/KAI-Prihatin-Banyak-Rel-Kereta-Tertimbun-Sampah

Jumat, 29 Agustus 2014

Proyek MRT Jakarta Masuki Tahapan Konstruksi Stasiun Bawah Tanah

Dalam kurun waktu 12 tahun, pertumbuhan kendaraan pribadi di jalan-jalan Jakarta meningkat pesat. Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, proporsi moda transportasi pribadi yang masih berkisar pada angka 27,8 persen pada 2002 mengalami kenaikan signifikan ke angka 62,9 persen pada 2010.

Sayangnya, pergeseran moda transportasi tersebut tak berjalan linier dengan angka rata-rata pertumbuhan jalan di Jakarta yang tak sampai 1 persen per tahun. Akibatnya, kecepatan kendaraan menjadi rendah—rata-rata hanya mencapai 8,3 kilometer/jam—sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas.

Dalam mengurai kemacetan lalu lintas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih untuk memfokuskan diri pada pembenahan transportasi massal. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada berbagai kesempatan bahkan mengungkapkan, konsep infrastruktur paling baik untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah dengan mendorong transportasi berbasis rel. “Harus yang berbasis rel kereta, terutama untuk kereta api dan Mass Rapid Transit (MRT). MRT diharapkan mampu mengubah preferensi masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum,” ujarnya.

Konstruksi MRT

Pembangunan proyek MRT Jakarta secara keseluruhan mencakup dua koridor (line), yakni koridor (line) selatan-utara dengan rute Lebak Bulus–Kampung Bandan sepanjang 23,8 kilometer, serta koridor (line) timur–barat dengan rute Bekasi–Balaraja sepanjang 87 kilometer.

Sebagai langkah awal, pembangunan proyek MRT Jakarta dilakukan pada koridor selatan-utara dengan total 21 stasiun. Namun, demikian, pembangunan dibagi menjadi dua tahap, yakni tahap I (fase Lebak Bulus-Bundaran HI; total 13 stasiun) dan tahap II (fase Bundaran HI-Kampung Bandan; total 8 stasiun).

Saat ini, proses konstruksi tengah memasuki tahapan pekerjaan penggalian stasiun bawah tanah (underground station) di Setiabudi dan Senayan, menyusul Bundaran HI yang telah dimulai sejak April 2014 lalu. Konstruksi skala besar dimaksud adalah dimulainya tahapan penggalian dan pembangunan stasiun bawah tanah di median jalan. Tahapan ini akan membawa konsekuensi penutupan bagian tengah median jalan secara permanen dalam kurun waktu dua tahun. Oleh karenanya, lajur kendaraan sementara akan dibuat sedikit berbelok dengan memanfaatkan lokasi jalur hijau dan trotoar jalan yang telah dikupas dan dilakukan pengerasan sebelumnya.

Minimalisasi Dampak

Seiring dengan dimulainya tahapan pembangunan tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan, PT MRT Jakarta, serta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya terus berupaya untuk meminimalisasi dampak lalu lintas di sekitar lokasi proyek. Prinsip dasar dari rekayasa lalu lintas tersebut yakni berusaha untuk mempertahankan jumlah lajur kendaraan, meskipun pada beberapa titik tidak bisa dilakukan karena lebar jalan yang sempit.

Oleh karenanya, sangat diharapkan adanya dukungan dan kesadaran masyarakat untuk senantiasa berhati-hati, mematuhi rambu lalu lintas, serta mencari informasi mengenai kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek sehingga tetap dapat mengelola aktivitas sehari-hari meskipun terdampak pembangunan proyek MRT. Informasi dimaksud antara lain bisa diperoleh melalui website MRT Jakarta (www.jakartamrt.com), informasi dari TMC Polda Metro Jaya, siaran Green Radio 89,2 FM, serta CTV yang disediakan melalui situs www.lewatmana.com.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/08/27/12493331/Proyek.MRT.Jakarta.Masuki.Tahapan.Konstruksi.Stasiun.Bawah.Tanah

Jumat, 18 Juli 2014

Ini Cara Agar MRT Tak Banjir dan Tahan Gempa Saat Gali Stasiun Bawah Tanah

Jakarta - PT MRT Jakarta akan memulai menggali dan membangun stasiun bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) di titik Senayan dan Setiabudi. Sebelumnya pekerjaan yang sama sudah dimulai di titik Bundaran HI pada April lalu. Kedalaman titik gali tersebut bervariasi dari mulai 20-23 meter di bawah tanah. Bagaimana caranya agar lokasi kerja tersebut tetap kering dan bebas dari banjir?

Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami menyatakan pihaknya sudah mempersiapkan solusi untuk kemungkinan tersebut. "Kami evaluasi mulai dari metode dan teknis. Untuk pekerjaan sipil nanti salah satunya adalah dengan dewatering. Kami siapkan pompa-pompanya saat penggalian besar," kata Dono saat jumpa pers di Hotel Crowne, Jakarta, Kamis (17/7/2014).

Dia berujar untuk penggalian di kedalaman 20-30 meter nantinya yang akan lebih banyak diangkat berbentuk lumpur. Namun pembangunan MRT yang mengadopsi teknologi Jepang itu juga akan memampung lumpurnya hingga airnya turun.

"Airnya nanti kita salurkan ke drainase. Dewatering pakai pompa itu standar, di setiap pekerjaan bawah tanah kita juga sediakan pompanya. Kalau misalnya kondisi hujan, jumlah pompa bisa ditambah. Intinya kita akan menjaga agar area kerjanya tetap kering," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, M. Nasir, mengatakan pola pengerjaan stasiun bawah tanah yakni dengan mengalihkan median jalan terlebih dulu selebar sekitar 30 meter. Setelah itu akan dibuat Guide Wall atau dinding penahan, lalu pihaknya akan menggali tanah secara bertahap hingga kedalaman yang diperlukan. Setelah terowongan tempat relnya jadi, pekerjaan selanjutnya membuat stasiun di sisi Barat dan Timur jalan.

Selain antisipasi banjir saat penggalian pihaknya juga mengklaim sudah mengantisipasi terjadinya bencana gempa dan banjir jika MRT dan stasiun bawh tanahnya sudah rampung.

"Kita desain tahan gempa secara periodik hingga 100 tahun. Kemudian pintu stasiunnya di atas tanah juga kita bangun setinggi 1,5 meter untuk antisipasi banjir yang mungkin terjadi. Kalaupun misalnya banjir di Sudirman-Thamrin meluap sampai mulut pintu kita siapkan pintu otomatis di bawah sehingga air tidak akan masuk ke terowongan sehingga MRT masih bisa tetap jalan," ujarnya

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/07/17/214423/2640625/10/ini-cara-agar-mrt-tak-banjir-dan-tahan-gempa-saat-gali-stasiun-bawah-tanah

Jumat, 25 April 2014

Pasar Senen Terbakar, Kemacetan Mengular hingga Gunung Sahari

JAKARTA - Akibat kebakaran yang melanda Blok 3 Pasar Senen, Jakarta Pusat, kemacetan parah terjadi di sekitar Jalan Suprapto atau yang lebih sering dikenal dengan wilayah Galur menuju Senen.

Aparat Kepolisian memutuskan mengalihkan arus di Jalan Suprapto melewati Jalan Utan Panjang tembus melalui Jalan Garuda.

Kemacetan parah pun berpindah ke Jalan Garuda akibat pengalihan tersebut. Kemacetan di Jalan Garuda diperparah dengan adanya jalur lintasan kereta api. Kereta yang akan masuk ke Stasiun Kemayoran masih tetap lalu lalang.

Pantauan Okezone, kemacetan dari arah Jalan Garuda tembus hingga Jalan Gunung Sahari dan berakhir di Tugu Tani. Asap hitam yang membumbung tinggi pun masih tampak hingga depan Stasiun Gambir.

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2014/04/25/500/975602/pasar-senen-terbakar-kemacetan-mengular-hingga-gunung-sahari

Selasa, 25 Februari 2014

Mendulang Berkah Macet Jakarta, Tiap Bulan Kirimi Istri Rp 2 Juta

KEMACETAN di Jakarta tak melulu membuat stres warga. Terlebih, mereka yang berada di kalangan bawah.

Hiruk pikuk keramaian kota yang dulu disebut Batavia ini ternyata membawa berkah bagi puluhan juta kaum urban yang mencoba peruntungan. Salah satunya menjadi pengojek sepeda onthel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
----------
ASEP ANANJAYA
-----------
Jalan raya di depan pintu Utara Stasiun Kota Tua, penuh sesak setiap saat. Angkutan kota (angkot), bajaj, bus, motor saling mencari celah. Mereka nyaris bersentuhan dengan gerobak pedagang di pinggir jalan.

Sebentar-sebentar membunyikan klakson. Sementara di ujung kanan, antrean bus Transjakarta tertambat di lintasan jalur busway. Menunggu lampu di perempatan menyala hijau.

Jelang pukul 16.00, matahari dari arah barat sedang terik-teriknya. Sutarlani masih berdiri tegak memegang erat kedua setang sepeda onthel. Berkaos lengan panjang, mengenakan rompi, pria kelahiran 51 tahun silam ini menanti seseorang yang keluar dari mulut pintu stasiun.

Di barisan yang sama berjajar kawan-kawan pengojek yang lain, Lamin, Senen, Jamil, Somad, Lamadi, Wito dan Tukiman.

Usia rata-rata mereka lebih muda, kisaran 30-40 tahun. Asal mereka dari Bogor, Pati, Purwodadi, Ngawi, juga sekampung dengan Sutarlani di Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Jawa Tengah.

”Setiap hari di sini juga begini, macet,” kata Sutarlani. Sambil tersenyum pria berkulit sawo matang itu membetulkan topi rimbanya yang miring.

Padatnya lalu lintas di jalan itu justru membawa berkah. Menurutnya, jauh sebelum tahun 80-an onthel selalu diandalkan, selain angkot, bajaj dan becak. Mengangkut penumpang kereta yang ingin meneruskan perjalanan ke berbagai perkantoran di Kota Tua atau sebaliknya.

Jok penumpang sepeda onthel memang tidak seempuk angkot maupun bajaj. Namun, hingga kini jasa antar onthel masih diminati.

Terpenting bagi penumpang tidak terjebak macet dan harus berputar jauh. Meskipun onthel Phoenix milik Sutarlani kian usang, sepeda pabrikan China itu masih membawa berkah.

"Karena onthel gak ada rutenya, bisa lawan arus, dan lewat jalan ’tikus’, ongkosnya juga murah,” kata Sutarlani yang tinggal mengontrak di Jalan Budi Mulya, Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Lebih dari 30 tahun onthel Sutarlani melayani jasa antar. Pelanggannya masih sama, pekerja kantoran di kawasan jalan belakang ujung utara Jakarta Kota. Dalam waktu beberapa menit onthel mengantarkan mereka ke tujuan Jalan Tongkol, Teh, Kerapu, Roa Malaka, Pasar Ikan, hingga Lodan, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

”Penumpangnya, ya orang-orang yang berangkat dan pulang kerja, menghindari macet. Rute terjauh sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa juga sampai Ancol, dan Tanjung Priok,” ucap pengojek onthel asal Sragen, Jawa Tengah yang sudah 30 tahun mangkal di depan Stasiun Jakarta Kota.

Bertahan hidup di Jakarta cukup keras. Kata bapak bertinggi badan tak lebih dari 160 centimeter itu, kalau gak telaten bisa kalah sama yang lain.

Menjadi pengojek onthel tentu bukan pilihan awal Sutarlani mengadu nasib di Jakarta. Sebelumnya, dari kampung ikut sodara jadi kuli bangunan. Pernah juga ikut juragan China yang punya pabrik sama restoran, tapi tidak juga kerasan. Bermodal sepeda yang dibelinya seharga Rp 250 ribu, menarik onthel menjadi pilihan hidup.

”Meski seharian narik cuma dapet cepek (Rp 100), batin gak capek, paling pahit udah ngantar gak dibayar, orangnya kabur, ” tutur Sutarlani mengenang.

Entah berapa lama lagi otot kaki Sutarlani mampu mengayuh engkol onthel. Membawa penumpang tentu jauh lebih berat. Andalannya sebelum berangkat kerja selalu minum susu. Sutarlani pun berhenti merokok, sejak paru-parunya sakit berkepanjangan.

”Tambah tidur yang cukup, minum jamu tiap malam, tenaga buat besok pasti fit, bedanya sekarang sudah harus pakai kacamata,” ujarnya berseloroh dengan logat Jawa-nya yang kental.

Pendapatan rata-rata para pengojek onthel terbilang lumayan. Per hari narik onthel dari pukul 07.00-18.00, Sutarlani bisa dapat Rp 250 ribu. Masih bisa menafkahi istrinya Supini (41), serta menyekolahkan dua anaknya. Satu anak perempuannya di kelas 2 Aliyah (setingkat SMA), satunya lagi anak laki-laki masih kelas 5 sekolah dasar (SD).

Tiap bulan masih bisa transfer uang Rp 2 juta ke kampung. Tiap tiga bulan sekali, ia juga masih bisa pulang kampung. ”Anak yang pertama, laki-laki baru saja lulus SMA, lagi mau cari kerja, yang sudah punya anak itu dari istri pertama,” katanya.

Sedang asyik berkisah, satu penumpang dari arah stasiun menghampiri Sutarlani. Pria itu memintanya mengantar ke Pelabuhan Sunda Kelapa. ”Rp 15 ribu harga pas untuk sekali jalan, rutenya agak jauh,” katanya.

Melalui celah sempit kendaraan lain, Sutarlani perlahan menuntun onthelnya melawan arus. Sementara si penumpang berusaha duduk tenang di bangku bonceng.

Begitu mendapat ruang gerak, Sutarlani melompat naik ke sadel. Otot kakinya yang bersandal jepit mengajak onthel bergerak menuju belakang Gedung BNI. Kemudian menyeberang ke Jalan Kemukus, depan kantor Kecamatan Taman Sari.

Dari situ menyeberang masuk ke Jalan Kunir 7, terus ke jalan Cengkeh. Sampai di Jalan Tongkol, masuk ke Jalan Krapu, belok kanan sedikit sampai di jalan Lodan, pintu utama pelabuhan sudah kelihatan di sisi kiri jalan.

”Bagusnya gak ada tanjakan, jalannya lurus lurus saja,” tuturnya menyebutkan jalan pintas onthel dari Stasiun Kota menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jalan arah pulangnya, lanjut Sutarlani, ia biasa melintasi Menara Syahbandar dan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan. Kemudian melintas masuk di depan Galangan VOC di Jalan Kakap terus lanjut ke Roa Malaka sampai ke Jalan Kali Besar Barat ketemu Jembatan Kota Intan. Berlanjut ke Taman Fatahillah.

”Rute itu juga biasa digunakan untuk mengantar turis-turis asing berkeliling wisata Kota Tua,” terangnya juga.

Tahun 1980, awal kakek bercucu dua itu menggenjot engkol onthel. Jalanan Jakarta tidak seramai sekarang. Belum banyak mobil pribadi, masih cukup lowong baginya bersanding dengan becak, bajaj, bemo, maupun bus. Jarak antar penumpang juga bisa lebih jauh lagi, ke gang-gang kecil di kawasan Harmoni.

Sebab itu ia bisa beberapa kali berganti pangkalan. Mulai di Glodok, Pinangsia, Pasar Perniagaan, Jalan Asemka dan di sepanjang jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk.

”Ngantar penumpang paling jauh itu sekali-kalinya, ke pelabuhan Muara Angke, tahun ‘82 dibayar cuma cuma gopek (Rp 500), capeknya minta ampun, pulangnya sampai kesasar,” cetusnya juga.

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/02/25/218420/Mendulang-Berkah-Macet-Jakarta,-Tiap-Bulan-Kirimi-Istri-Rp-2-Juta-

Jumat, 06 Desember 2013

Gangguan Listrik, KRL Terjebak "Macet"

JAKARTA - Jadwal perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line hari ini mengalami kekacauan, akibat adanya gangguan listrik arus atas di Stasiun Manggarai.

Alhasil, KRL yang hendak melintas di Stasiun Manggarai terjebak "kemacetan".
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang, karena keterlambatan perjalanan kereta. Ini disebabkan karena an trean kereta yang akan masuk di Stasiun Manggarai," kata seorang petugas melalui pengeras suara di Stasiun Pasar Minggu, Kamis (5/12/2013).

Sejumlah KRL jurusan Bogor-Jakarta, maupun Bogor-Tanah Abang yang akan melewati Stasiun Manggarai terpaksa harus "parkir" sekira 15 menit di Stasiun Pasar Minggu untuk menunggu antrian.

Akibatnya, banyak penumpang yang memilih untuk beralih ke moda transportasi lain, seperti bus umum, ojek, ataupun taksi.

Hingga berita ini diturunkan perjalanan kereta belum kembali normal. Setiap KRL harus berhenti lama di tiap-tiap stasiun. Waktu perjalanan KRL molor dari jadwal yang seharusnya, lantaran "kemacetan" rangkaian KRL menuju Manggarai.

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2013/12/05/500/907565/gangguan-listrik-krl-terjebak-macet

Senin, 11 November 2013

Jakarta Macet, Apakabar 17 Langkah Pemerintah?

TEMPO.CO, Jakarta--Pada 2 September 2010 Pemerintah pusat mengambil alih penanganan kemacetan lalu lintas di Jakarta. Pemerintah mengeluarkan instruksi Wakil Presiden Boediono yang berisi 17 langkah untuk menangani kemacetan di Jakarta.

Wapres Boediono menunjuk Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Kuntoro Mangkusubroto sebagai koordinator dan mengawasi pelaksanaan 17 langkah itu.

Alasan instruksi Wapres menurut data dari Unit Kerja Presiden karena kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 12,8 triliun per tahun. Jumlah itu dari penambahan biaya operasional kendaraan, biaya kesehatan akibat polusi dan depresi, serta penurunan produktivitas. Bagaimana pelaksanaan 17 langkah mengatasi kemacetan itu dan apa masalanya?

==> 1. Pemberlakuan electronic road pricing (ERP).
REALISASI :
Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, persiapan ERP selesai Maret 2014.

MASALAH :
- Kementerian Keuangan sampai tahun 2011 belum menyelesaikan RUU. Bahkan pihak Kementerian menyangsingkan keberhasilan ERP Deputi Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Sutanto Soehodho, menyatakan pengurusan RUU belum dilakukan karena tingkat keberhasilannya diragukan. "Hongkong gagal memberlakukan ERP. London juga mengalami kesulitan yang sama pada awalnya yaitu ada pro dan kontra. Singapura berhasil karena negaranya kecil,” ujar Sutanto (11/1/2011)

- Belum ada peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas yang menjelaskan jalan berbayar

- Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang Pungutan Retribusi Kendaraan Bermotor belum mencantumkan sepeda motor sebagai kendaraan dikenai bayaran.

==> 2. Sterilisasi busway.

REALISASI :
- Untuk mengurangi kendaraan penerobos jalur busway, seperator ditinggikan sekitar 50 cm dari sebelumnya hanya 20 cm. Peniggian separator dianggarkan sekitar Rp 80-85 miliar (RAPBD 2012). Peninggian dimulai bulan Juli 2012 koridor III (Kalideres-Pasar Baru), Koridor V (Kampung Melayu-Ancol), dan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas).

- Proses penilangan hanya berlangsung periodik saja. Baru akan diterapkan denda untuk mobil satu juta rupiah dan motor 500 ribu.

MASALAH :
- Peninggian separator belum diterapkan disemua koridor. Sebagai contoh koridor POndok Indah belum diterapkan.
- Masih dibahas peraturan penunjang untuk teknis penilangan karena belum ada peraturannya

==> 3. Kebijakan perparkiran dan penegakan hukum terhadap kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dilalui jalur Transjakarta.

REALISASI :
- Pada 8 Oktober 2012 Pemrov mengumumkan kenaikan tarif parkir di luar badan jalan (off street). Terakhir naik pada tahun 2004. Tarif diterapkan di 130.000 tempat off street yang dituangkan dalam Pergub No 120/2012.

- Untuk kendaraan yang parkir diluar zona parkir Pemrov melakukan tindakan pencabutan pentil

MASALAH :
- Pemrov baru mengusulkan ke DPRD untuk tarif parkir yang tinggi untuk kendaraan yang parkir di badan jalan. Pemrov mengusulkan Rp 8000/jam

==> 4. Memperbaiki fasilitas jalan. Pemerintah DKI sudah menerapkan multiyears contract untuk perbaikan jalan.

==> 5. Jalur Transjakarta ditambah dua jalur serta akan beroperasi akhir tahun ini dan tahun depan akan tambah dua jalur lagi.

REALISASI :
Koridor 9 mulai sejak Desember 2010, Koridor 10 sejak Desember 2010, Koridor 11 sejak Desember 2011, Koridor 12 sejak Februari 2013,

==> 6. Menetapkan harga gas khusus untuk transportasi.
REALISASI :

Hasil dari pertemuan Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD0M) Jero Wacik menghasilkan cara mengatasi masalah yang sering dialami kendaraan umum berbahan bakar gas di Jakarta. Jero Wacik menjanjikan akan menyediakan stasiun pengisian gas bergerak dan pemberian fasilitas stasiun mobile di pool busway dan taksi. Untuk Taksi baru juga akan berbahan bakar gas. Kedepannya akan dibangun tiga SPBG didanai APBD dan 17 didanai APBN.

==> 7. Restrukturisasi angkutan yang tidak efisien, termasuk angkutan kecil selain bus.

REALISASI :
Gubernur Jokowi merencanakan baru pada Desember 2013 sampai 2014 akan ada pengadaan 4000 bus. Jumlah itu terdiri 3.000 bus sedang dan 1.000 bus Transjakarta.

==> 8. Mengoptimalkan kereta api Jabodetabek dengan membangun rel routing dan peningkatan pelayanan, serta menambah gerbong untuk jalur-jalur yang padat.

REALISASI : Sudah berjalan dengan sistem perubahan rute kereta api di Jakarta-Bogor-Bekasi

==> 9. Polisi ditekankan untuk tertibkan angkutan di titik tunggu penumpang.

REALISASI : Belum ada

==> 10. Mempercepat pembangunan mass rapid transit (MRT) yang ditargetkan 2011 mulai konstruksi.

REALISASI :
Baru pada 10 Oktober 2013, Gubernur Jokowi meresmikan MRT rute Lebak Bulus-Bundaran HI.

==> 11. Pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek
REALISASI : Belum ada

==> 12. Merevisi rencana induk transportasi terpadu.
RERALISASI : Belum ada

==> 13. Proyek double-double track jalur kereta api, terutama ke arah Cikarang.
REALISASI : Proyek masih dalam pengerjaan yang ditargetkan pada November 2015 bisa beroperasi

==> 14. Mempercepat proyek lingkar dalam kereta api yang akan diintegrasikan dengan sistem angkutan massal di Jakarta. Jadi ada kerja sama antara PT Kereta Api, Direktorat Jenderal Kereta Api, dan Gubernur DKI Jakarta.

REALISASI :
Proyek ini sempat diatur dalam Perpres No.83 tahun 2011 namun terkendala karena salinglempar tanggungjawan antara Pemrov dan pemerintah pusat. Namun pada Mei 2013 diawali surat Gubernur Jokowi kepada Bappenas dan Kementerian Perhubungan akhirnya disepakati proyek dimulai 2014 dengan target selesai 2018. Pemerintah pusat menyiapkan dana awal sekitar Rp 700 miliar.

Nantinya Lintas Barat sejauh 14.3 km dengan rute Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan. Dan Lintas Timur sejauh 11.2 km dengan rute Kampung Bandan-Pondok Jati-Manggarai.

==> 15. Jalan tol tambahan berupa enam ruas jalan tol layang.

REALISASI :
Gubernur Jokowi membuat "gantung" proyek ini dengan alasan banyak pihak belum setuju dan dianggap akan lebih menambah kemacetan.

==> 16. Untuk jangka menengah-panjang, pemerintah pusat akan menyusun kebijakan membatasi penggunaan kendaraan bermotor.

REALISASI :
Gubernur Jokowi menyatakan pembatasan kendaraan bermotor dalam bentuk pembatasan plat ganjil genap baru terlaksana setelah realisasi peremajaan bus kota. Baru pada bulan Desember 2013 didatangkan sekitar 1000 bus trans Jakarta.

==> 17. Lahan parkir dekat stasiun kereta api bisa meningkatkan jumlah pengguna kereta api.

REALISASI :
Pihak PT Kereta Api Indonesia baru bisa merealisasikan pada program sterilisasi stasiun yang dimulai pada bulan Maret 2013. Tujuan sterilisasi untuk mencapai target 1,2 juta penumpang pada 2018. Jumlah stasiun yang ditarget mencapai 49 di Jabotabek. Dengan pembersihan stasiun dari pedagang kaki lima maka tercipta lahan parkir stasiun.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/08/083527989/Jakarta-Macet-Apakabar-17-Langkah-Pemerintah

Jumat, 11 Oktober 2013

Proyek Pembangunan MRT Jakarta Resmi Dimulai

JAKARTA — Gubernur Jakarta Joko Widodo meresmikan pembangunan awal stasiun kereta transportasi massal cepat (MRT) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (10/10).

Kereta tersebut akan menghubungkan kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Blok M hingga Lebak Bulus. Rencananya pemerintah Jakarta akan membangun proyek MRT lanjutan yang menghubungkan berbagai wilayah di Jakarta.

Proyek MRT tahap satu ini menyerap biaya sekitar Rp 20 triliun yang merupakan pinjaman dari lembaga keuangan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang dicicil selama sekitar 40 tahun.

Menurut Direktur Utama PT. MRT, Dono Bustami, proyek MRT tahap satu ini mencakup pembangunan enam stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah. Hal ini, ujarnya, merupakan proyek besar karena pertama kali terjadi di Indonesia sehingga memerlukan dukungan masyarakat.

“Konstruksi dimulai hari ini akan berlangsung hingga awal 2018. Total panjang jalur MRT Jakarta tahap satu nantinya sekitar 16 kilometer dengan jalur layang sekitar 10 kilometer, dan jalur bawah tanah sekitar 6 kilometer. Pekerjaan yang sangat besar, pengalaman pertama untuk kita semua,” ujarnya.

Menurut Gubernur Joko, dimulainya pembangunan proyek MRT tahap satu sekaligus membuktikan impian masyarakat akhirnya terwujud.

“(Sudah) 24 tahun warga Jakarta ini mimpi pengen punya MRT, mungkin juga sudah banyak yang mimpinya sudah hilang karena kok nggak dimulai-dimulai. Alhamdulillah pada pagi hari ini dimulai,” ujarnya.

“Saya hanya titip sosialisasi kemacetan pada warga ini selalu diberikan setiap hari karena jelas bahwa ini akan menimbulkan tambahan kemacetan di DKI Jakarta. Sosialisasi mengenai gaya hidup untuk masuk ke transportasi massal utamanya MRT ini sudah dimulai dari sekarang sehingga jika nanti MRT jadi, orang sudah bisa masuk berbondong-bondong ingin menggunakan MRT dan meninggalkan mobil-mobil pribadi.”

Dalam kesempatan sama, pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Andrinov Chaniago mengatakan, pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta harus dapat memastikan proyek MRT dikerjakan secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat.

Sosialisasi dampak dari proses pembangunan proyek MRT, penggunaan anggaran secara efisien dan transparan juga harus dilakukan seluruh pihak yang terkait dalam pembangunan proyek MRT, ujarnya.

“Sejauhmana bisa memberikan manfaat optimalnya, ketika dikerjakan efisien cepat selesai kemudian tidak menimbulkan dampak-dampak yang melampaui, yang tidak bisa ditoleransi. Bahwa setiap proyek publik itu menimbulkan dampak-dampak teknis, lingkungan sementara, iya pasti. Nah, sekarang bagaimana mengendalikan itu,” ujarnya.

“Tapi kalau untuk proyek yang besar seperti ini, multi tahun begini memang tentu agak menganggu aktivitas yang lain. Masyarakat harus paham dan sabar, harus mau bertoleransi mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, mengurangi pergerakan yang nggak perlu. Kemudian tidak memunculkan biaya-biaya tak terduga, namanya proyek publik harus transparan, harus akuntabel.”

Selain mampu menampung sekitar 1.500 orang per lima menit, kereta MRT ini diperkirakan mampu menempuh rute Lebak Bulus hingga kawasan Bundaran Hotel Indonesia hanya dalam waktu 30 menit.

Sumber : http://www.voaindonesia.com/content/article/1766755.html

Selasa, 03 September 2013

Uji Eksplorasi MRT di Jalan Sudirman Dikerjakan Malam Hari

JAKARTA, KOMPAS.com — Persiapan pembangunan mass rapid transit (MRT) yang melewati Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, akan dikerjakan pada malam hari. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya kemacetan akibat pengerjaan proyek tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, dinasnya akan mengatur kelancaran lalu lintas di tempat itu agar tidak terjadi kemacetan pada saat pengerjaan proyek tersebut. Saat ini, MRT sedang melakukan pengecekan di dua titik di Jalan Sudirman, yakni di Dukuh Atas dan kawasan sekitar Kali Krukut. Pengecekan itu dilakukan dengan membuat lubang besar untuk melihat jaringan gas maupun kabel di bawah tanah.

"Itu kan menyempitkan badan jalan juga. Itu pengerjaannya dilakukan pada malam hari, saat volume kendaraannya tak begitu besar," kata Pristono di Pasar Blok G Tanah Abang, Senin (2/9/2013).

Ia mengatakan, pengecekan itu mulai dilakukan pada awal hingga pertengahan September. Pengerjaannya dilakukan mulai pukul 23.00 hingga 05.00. Ketika warga sudah mulai beraktivitas, lubang tersebut akan ditutup dengan menggunakan pelat yang tidak licin sehingga lebar jalur tetap dipertahankan seperti semula.

Pristono menyebutkan, pengecekan jaringan utilitas ini tidak sesulit tahap pembangunan stasiun. Pembangunan stasiun tersebut bisa dibangun di jalur cepat atau lambat serta jalur median antara jalur cepat dan lambat.

"Nanti ada tahap yang lebih berat, saat mereka bangun stasiun dan sebagainya. Ini sudah permanen kan, nanti jalan dibuat pengalihan. Nanti akan didakan shifting atau penggeseran (jalan)," kata dia.

Penggeseran jalan dilakukan dengan memanfaatkan lahan kosong atau trotoar di sepanjang area proyek untuk arus lalu lintas. Pembangunan stasiun itu tidak bisa dikerjakan hanya pada malam hari, tetapi harus tetap berjalan selama 24 jam.

Untuk pengerjaan yang membutuhkan alat berat, pengerjaan proyek tersebut akan dilakukan pada malam hari. Hal ini ditempuh agar keberadaan alat berat itu tak mengganggu lalu lintas di sekitar proyek. "Pokoknya jam 05.00 harus sudah selesai, biar enggak macet juga kan," kata dia.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/02/1607396/Uji.Eksplorasi.MRT.di.Jalan.Sudirman.Dikerjakan.Malam.Hari?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Kamis, 13 Juni 2013

MRT buatan Wijaya Karya, 30 meter di bawah tanah dan anti banjir

Rencana pembangunan mass rapid transportasi (MRT) Jakarta saat ini terus dimatangkan. Salah satu perusahaan yang ikut membangun yaitu PT Wijaya Karya mengklaim paling siap menjalankan proyek sistem transportasi ini. Wika mendapat jatah untuk membangun MRT dari Senayan hingga Dukuh Atas.

Corporate Secretary Wika, Natal Argawan mengatakan jalur yang dibuat pihaknya adalah jalur di bawah tanah atau underground dengan kedalaman mencapai 30 meter.

"Kita underground dari Senayan sampai Bendungan Hilir itu sekitar 1,8 kilometer ada stasiun di Senayan dan Istora depan stadion," jelas Natal ketika berbincang dengan wartawan di Jakarta, Rabu (12/6).

Selanjutnya adalah dari Bendungan Hilir menuju ke Senayan dengan panjang jalur sekitar 2 km. Di jalur ini akan ada dua stasiun yaitu di Bendungan Hilir dan Setia Budi. Semua jalur berada di bawah tanah. Meskipun berada di bawah tanah, pihaknya menjamin tidak akan kebanjiran.

"Bornya tidak terlihat dan bornya berjalan di bawah tanah. Dalamnya lebih dari 30 meter, di bawah itu kan bebatuan, pasti ada caranya. Pada waktu di bor akan membentuk tunnel besar dua jalur atau twin tunnel. Ini di bawah gorong-gorong dan tidak akan banjir," jelasnya.

Sebelumnya, Wika yang ikut dalam proyek pembangunan MRT akan melakukan ground breaking pembangunan MRT pada ulang tahun Jakarta. Ground breaking yang dimaksud adalah pengesahan secara ceremonial dan belum mulai bekerja. "MRT kita sekarang dalam tahap ground breaking. Pemberi kerja mengharapkan, ada keinginan Gubernur DKI Joko Widodo untuk disamakan nanti dengan ulang tahun jakarta. Juni ini perkiraan," katanya.

Sumber : http://www.merdeka.com/uang/mrt-buatan-wijaya-karya-30-meter-di-bawah-tanah-dan-anti-banjir.html

Jumat, 31 Mei 2013

Ternyata, Stasiun Jakarta Kota Pernah Jadi yang Terbesar se-ASEAN

Jakarta - 88 Tahun yang lalu, Stasiun Jakarta Kota dibangun untuk merayakan 50 tahun kereta api di Hindia Belanda. Siapa sangka, stasiun yang kini jadi salah satu bangunan bersejarah ini pernah jadi yang terbesar di ASEAN.

Kawasan Kota Tua Jakarta memang banjir akan bangunan kuno yang penuh sejarah. Salah satu yang bersejarah adalah Stasiun Jakarta Kota atau yang disebut juga sebagai Beos. Ternyata, stasiun yang satu ini pernah jadi yang terbesar se-ASEAN.

"Dahulu, Stasiun Jakarta Kota jadi yang terbesar pada masanya," ujar pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali dalam bincang bersama detikTravel, Selasa (28/5/2013).

Dalam kesempatan berbeda Kahumas PT KAI Daops I, Sukendar Mulya mengatakan ada 13 peron di Stasiun Jakarta Kota. Tak heran jika stasiun ini jadi yang terbesar pada masanya. Hingga kini pun, stasiun ini masih jadi yang tersibuk di Jakarta.

"Ada 580 KRL bolak-balik setiap harinya, dan mengangkut sekitar 13 ribu penumpang per hari," kata Sukendar kepada detikTravel, Selasa (28/5).

Ini terjadi karena stasiun yang juga merupakan cagar budaya ini merupakan stasiun paling ujung. Semua tujuan berakhir dan berawal di stasiun ini. Anda bisa merasakan keramaiannya saat pagi atau sore hari.

Dibangun pada tahun 1925, stasiun ini memiliki gaya yang menurut Asep cukup unik dan mewakili zamannya. Memang pada masa itu, pembangunan di sekitar Jakarta yang dulu disebut Batavia memiliki gaya yang sama yaitu Art Deco.

"Bentuk stasiun ini senada seperti yang ada di negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis dan Belanda," lanjut Sukendar.

Tidak seperti bangunan tradisional umum yang ada di Indonesia, Stasiun Jakarta Kota memiliki arsitektur yang berbeda. Kembali kepada Asep, dia mengatakan hal itu bisa dilihat dari pilar-pilarnya dan garis-garis lurus baik yang horizontal ataupun yang vertikal.

Untuk ukuran bangunan kuno, stasiun yang selesai pada tahun 1929 ini termasuk yang masih awet. Meski sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan, tapi bangunan utamanya masih terbilang kokoh.

Ditambah dengan konstruksinya yang anti gempa. Karena, menurut Asep, tiang-tiang di sana menggunakan sistem engsel. Jadi walaupun terkena getaran, tidak akan mudah rubuh.

Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/05/30/143351/2260390/1383/ternyata-stasiun-jakarta-kota-pernah-jadi-yang-terbesar-se-asean?991104topnews

Kamis, 16 Mei 2013

Warga Yang Menolak MRT Tak Sampai 50 Orang

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama menegaskan, penolakan warga Fatmawati, Jakarta Selatan terhadap pembangunan jalur Mass Rapid Transit (MRT) layang hanya dilakukan oleh segelintir orang.

"Yang menolak jalur MRT layang jumlahnya tidak sampai 50 orang," kata Basuki, Wakil Gubernur DKI Jakarta, di Jakarta, Selasa (14/5). Sedangkan warga yang mendukung Pemprov DKI untuk membangun proyek transportasi massal itu berjumlah ribuan orang. "Ribuan warga lebih memilih MRT dibangun," ujarnya.

Basuki menduga, warga Fatmawati menolak jalur MRT layang karena beranggapan harga properti di sepanjang jalur yang akan dilalui oleh MRT akan menurun. "Padahal, harga properti di yang dilalui jalur MRT seperti Singapura justru melonjak tinggi," tuturnya.

Ia menjelaskan, daerah yang dilalui jalur MRT akan menjadi kawasan strategis. Kawasan yang dilalui jalur MRT akan dekat dengan berbagai sarana transportasi. "Belum ada sejarah di dunia, harga tanah di sekitar halte MRT menurun," kata mantan Bupati Belitung Timur ini.

Bahkan, kata Basuki, setelah ada MRT perjalanan dari Lebak Bulus-Bintaro ke Bundaran Hotel Indonesia bisa ditemput dalam waktu sekitar setengah jam. "Saya dari rumah satu jam. Jadi tidak ada yang bisa menurunkan nilai properti," ungkapnya.

Sementara itu puluhan warga yang tergabung dalam Komunitas Warga Cinta Jakarta dan Masyarakat Peduli Mass Rapid Transit (MRT) mendatangi Balaikota DKI Jakarta, Selasa (14/5). Mereka menyatakan dukungannya terhadap pembangunan MRT di Jakarta.

Koordinator aksi, Muhlis Ali mengatakan, komunitasnya mendukung pembangunan MRT karena angkutan massal tersebut merupakan solusi dari kemacetan yang terjadi di Jakarta. "Dari berbagai studi, kalau Jakarta tidak berbenah diri dari sekarang pada 2020 divonis akan mengalami kemacetan total," kata Ali, di sela-sela aksi damai, Selasa (14/5).

Ia pun mengajak seluruh warga Jakarta untuk mendukung pembangunan MRT ini. Permasalahan-permasalahan yang timbul, khususnya bagi warga yang terlintasi oleh MRT bisa dicarikan solusi lainnya. "Jika ada hal yang perlu didialogkan, jangan sampai menghambat pembangunan MRT. Warga juga jangan egois," tegasnya.

Seperti diketahui, sebagian warga yang bermukim di sepanjang Jalan Fatmawati dan Jalan Panglima Polim menentang pembangunan MRT. Pasalnya di lokasi tersebut MRT dibangun layang atu elevated. Warga meminta agar MRT seluruhnya dibangun dibawah tanah.

Pembangunan MRT sendiri secara resmi diluncurkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, pada 2 Mei 2013 lalu. Dari 13 stasiun yang ada, 7 stasiun di antaranya dibangun secara layang, sementara 6 stasiun lainnya dibangun underground atau bawah tanah. (Dwi Putro AA)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=326610

Jumat, 26 April 2013

Layanan Transjakarta Makin Turun

JAKARTA,KOMPAS.com— Koalisi Warga Untuk Transportasi (KAWAT) Jakarta menilai layanan transjakarta semakin menurun. Pemda DKI diminta agar menyelesaikan persoalan ini sehingga keberadaan transjakarta sebagai solusi kemacetan dapat berjalan semestinya.

"Untuk melihat penurunan pelayanan adalah produktifitas dari 576 unit angkutan di 12 koridor. Tahun lalu jumlah penumpang transjakarta adalah 400.000 orang per hari. Namun, saat ini turun menjadi 300.000 orang per hari. Ada apa ini?" kata Ketua KAWAT Azas Tigor Naigolan di Jakarta, Kamis (25/4/2013).

Azas menyebutkan beberapa kendala yang memengaruhi turunnya pelayanan transjakarta di antaranya tidak sterilnya jalur transjakarta. "Kondisi yang bisa dilihat adalah masih banyak pengendara yang menyerobot jalur bus transjakarta. Penumpang akhirnya harus menunggu lama," jelas Azas.

Kendala lain adalah kurangnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). "Saat ini hanya ada enam stasiun SPBG. Idealnya, pada satu koridor terdapat dua SPBG sehingga menjadi 24 SPBG," tambah Azas.

Rudy Tehamihardja, Sekretaris KAWAT, menambahkan, banyak bus transjakarta yang tidak beroperasi lagi. "Sebenarnya setiap hari jumlah yang beroperasi adalah 90 persen, tetapi dari catatan kami hanya 60 persen," kata Rudy.

Menurut Rudy, operator bus tidak mampu merawat bus dengan baik dikarenakan kurangnya biaya perawatan. "Dari laporan masyarakat, kekurangan armada sangat terasa di koridor 9, 10, dan 12. Dari hasil penelusuran kami, ternyata benar bahwa operator tidak mampu merawat," terang Rudy.

Rudy menduga, kesulitan anggaran itu dikarenakan rendahnya harga rupiah per kilometer yang diterima dari Unit Pengelola Transjakarta. "Operator membanting harga di bawah Harga Perkiraan Sendiri (HPS)," jelas Rudy.

Dari data KAWAT diketahui, di koridor 9 untuk bus single adalah Rp 8.995, sementara pemenang lelang Rp 5.705 dan HPS bus gandeng Rp 13.198 dengan pemenang lelang Rp 8.750. Di koridor 10, HPS Rp 13.198 bus gandeng dengan pemenang lelang Rp 8.760, koridor 12 dengan HPS Rp 14.132 bus gandeng dengan pemenang lelang Rp 11.800. Salah satu contoh koridor yang tidak bermasalah adalah koridor 11 dengan HPS Rp 13.895 dan pemenang lelang tidak berbeda jauh yakni Rp13.074.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/25/22104571/Layanan.Transjakarta.Makin.Turun

Senin, 21 Januari 2013

Banjir lumpuhkan aktivitas warga Jakarta

Hujan yang mengguyur Jakarta sepanjang malam mengakibatkan aktivitas di sebagian wilayahnya mengalami kelumpuhan akibat kendaraan tidak bisa melalui banyak jalan utama yang tergenang banjir dengan rata-rata ketinggian airnya antara 20cm hingga satu meter.

Kawasan di sepanjang Jalan Sudirman hingga MH Thamrin yang merupakan kawasan pusat bisnis Jakarta juga mengalami kemecetan luar biasa akibat ketinggian genangan air mencapai ketinggian sebetis orang dewasa.

Kendaraan yang berasal dari arah Bendungan Hilir menuju MH Thamrin harus berhenti sebelum Halte Busway Tosari akibat genangan air tidak bisa lagi dilewati kendaran berjenis sedan.

Banjir juga telah memaksa PT KAI membatasi sejumlah perjalanan kereta api yang melayani penumpang dari sejumlah tujuan seperti Bogor, Bekasi dan Serpong.

Perjalanan dari Bogor dilaporkan cuma sampai stasiun Manggarai sementara dari Bekasi cuma sampai stasiun Jatinegara, dari arah Depok cuma sampai Palmerah.

Curah hujan di Jakarta menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah mengakibatkan ketinggian air sungai Ciliwung terus mengalami kenaikan.

Istana banjir

"Tinggi muka air Sungai Ciliwung terus naik. Hingga pukul 09.00 pagi tadi di Manggarai terukur 1.020 cm. Jauh di atas batas Siaga I yaitu 950 cm," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada BBC Indonesia.

"Dengan kondisi demikian maka wilayah Jakarta yang terendam banjir makin meluas. Ini ditambah dengan banyak titik-titik genangan dan banjir yang merata di Jakarta."

Dia mengatakan kondisi banjir yang terjadi di Jakarta hari ini telah dilaporkan oleh BNPB kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono termasuk rencana untuk mengambil sejumlah langkah yang berpotensi mengakibatkan Istana juga mengalami banjir.

"Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah melaporkan mengenai ancaman banjir dan upaya penanggulangannya. Dengan tinggi muka air 1.020 cm maka kemungkinan debit sungai Ciliwung sebagian dialihkan ke Sungai Ciliwung lama. Jika tidak maka dikhawatirkan tanggul Kanal Banjir Barat dapat jebol dan banjir makin meluas," jelasnya tentang pertemuan tersebut.

"Tadi presiden menyampaikan bahwa tidak masalah istana terendam banjir. yang penting masyarakat terlindungi. Lakukan upaya penanggulangan banjir dengan mengerahkan seluruh potensi nasional yang ada."

Laporan sejumlah media megatakan sebagian kawasan istana negara juga telah tergenang banjir hingga setinggi lutut orang dewasa.

Kerugian akibat banjir di Jakarta hari ini diperkirakan mengakibatkan kerugian besar bagi ekonomi warganya,

Pada tahun 2007 lalu saat Jakarta dilanda banjir besar, kerugian diperkirakan mencapai 4,3 triliun rupiah dan mengakibatkan korban jiwa lebih dari 30 orang.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/01/130117_banjir_jakarta.shtml