Jakarta, CNN Indonesia -- Semua kota di dunia berlomba-lomba untuk berkembang. Lihat saja Jakarta. Pembangunan digalakkan di jalan-jalan. MRT, jalan layang, sampai jalan khusus bus TransJakarta. Gedung demi gedung pun diajak "mencakar langit".
Namun upaya Jakarta itu sepertinya tidak ada apa-apanya di mata perancang kota urban dunia. Menurut beberapa perancang yang dihubungi Huffington Post, Jakarta adalah kota dengan desain terburuk di dunia. Ada pula delapan kota lainnya, dengan alasan yang beragam.
Ada yang karena penduduknya duduk terlalu lama di dalam kemacetan, ada pula yang disebabkan jalanan yang terlalu disesaki mobil pribadi.
Mengutip Huffington Post, mereka menghubungi beberapa pakar perancangan kota untuk mengomentari pembangunan di kota-kota besar dunia. Hasilnya, ada sembilan kota yang dianggap terburuk. Berikut lima di antaranya.
Jakarta, Indonesia
Transportasi umum yang mengangkut lebih banyak orang di Jakarta kalah jauh dibanding mobil-mobil yang dimiliki pribadi. Belum lagi fasilitas umumnya yang dianggap tidak memadai.
Alhasil, penduduk Jakarta menghabiskan 400 jam sehari untuk duduk dalam kemacetan. Rata-rata perjalanan harus dilakukan dalam waktu dua jam. Menurut pengamat, permasalahan adalah kontrak pembangunan yang diperbarui tiap tahun, jadi tidak ada rencana jangka panjang.
Dubai, Uni Emirates Arab
Meski menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat yang punya gedung tertinggi dunia, Dubai dianggap tidak ramah bagi pejalan kaki. Jalan-jalan utamanyanya terlalu lebar, gedung-gedungnya terlalu besar dan tinggi.
Selain itu, Dubai juga sangat kurang ruang publik. Tidak ada taman tempat warga berkumpul, kecuali resor ski di dalam mal atau museum Ferrari. Tapi, itu untuk orang berada.
Atlanta, Amerika Serikat
Sama seperti Jakarta, kemacetan di Atlanta juga sangat parah. Itu disebabkan popularitas kota yang melejit tahun 1980 atau 1990-an. Semua orang ingin tinggal di Atlanta. Sebenarnya itu bisa ditanggulangi transportasi massal. Namun, fasilitasnya juga buruk.
Belum lagi, rel kereta bawah tanah di Atlanta sering diblokir untuk kepentingan tertentu.
Boston, Amerika Serikat
Boston mungkin kota yang indah. Namun jangan tertipu penampilan semata. Kota itu dianggap paling sulit memberikan arah bagi siapa pun, karena bentuk jalanannya yang seperti labirin. Jalanan Boston tidak dikonsep sebelumnya.
Sao Paulo, Brasil
Sap Paulo adalah korban lainnya dari perencanaan yang tidak sama. Selama 20 abad, kota itu telah bertransformasi dari kecil, menjadi pusat urban, sampai kota metropolitan. Namu pembangunan tidak dikonsep secara matang. Banyak gedung tinggi yang berantakan, berdiri di antara permukiman masyarakat kecil.
Masyarakat Sao Paulo juga diizinkan punya helikopter. Kota itu menjadi kota terluas soal pemilik helikopter, per kapita. Sepertinya mereka tidak lagi butuh jalanan untuk darat.
Sumber : http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150501123437-269-50499/macet-jakarta-jadi-kota-berdesain-terburuk-di-dunia/
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label jalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalanan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Mei 2015
Macet, Jakarta Jadi Kota Berdesain Terburuk di Dunia
Label:
atlanta
,
boston
,
dikonsep
,
dubai
,
dunia
,
gedung
,
helikopter
,
huffington
,
jakarta
,
jalan-jalan
,
jalanan
,
kemacetan
,
kota
,
paulo
,
pembangunan
,
perancang
,
sao
,
terburuk
,
urban
Kamis, 05 Februari 2015
Dua Predikat Buruk Dunia Untuk Jakarta yang Amat Mengusik
TRIBUNNEWS.COM - Sepekan terakhir bukan waktu yang membanggakan bagi Jakarta. Mengapa? Majalah The Economist menobatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman. Adapun produsen minyak pelumas Castrol menempatkan Ibu Kota sebagai kota dengan lalu lintas terburuk di dunia.
Kacaunya jalanan di Jakarta jelas bukan cerita baru. Kemacetan terasa kian parah dari hari ke hari, membuat warga Ibu Kota juga makin frustrasi di jalanan.
Awal pekan ini, warga Jakarta dihebohkan aksi seorang pengendara mobil bernama Huibert A Wenas. Melalui sejumlah video yang diunggahnya sendiri di Youtube, terlihat bagaimana Wenas begitu jengkel dan marah kepada pengguna jalan lain di tengah kemacetan Jakarta.
Wenas dengan mobilnya, Suzuki Vitara putih yang diberi nama Ichiro, berkali-kali ”menindak” pengendara yang ia nilai berperilaku bodoh di jalan. Wenas antara lain berurusan dengan mobil yang melaju di bahu jalan tol, menyerobot lajur, serta metromini dan truk yang melawan arus.
Video-video Wenas ini menjadi topik pembicaraan hangat. Rabu (4/2) siang, Wenas bersama kuasa hukumnya mendatangi kantor Subdirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di Jakarta Selatan setelah dicari-cari polisi.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, apa yang dilakukan Wenas itu tak bisa dibenarkan secara hukum. ”Apa yang dilakukannya dapat menimbulkan pidana baru, dapat memicu terjadi pengeroyokan dan perkelahian,” katanya.
Wenas dikenai sanksi hukum, yakni diberi surat tilang. Ia juga membuat pernyataan minta maaf sekaligus janji untuk tidak mengulangi perbuatannya.
”Dia ditilang, dikenai Pasal 279 Ayat 15 Undang-Undang Lalu Lintas dan Jalan. Pasal ini mengenai larangan memodifikasi kendaraan yang dapat membahayakan pengguna jalan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Risyapudin Nursin.
Wenas pun meminta maaf. ”Saya minta maaf kepada polisi karena melakukan hal yang kurang tepat dan merepotkan kepolisian. Saya juga mohon maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu. Saya berjanji tidak akan melakukan tindakan tersebut lagi,” tuturnya.
Lalu lintas terburuk
Kasus Wenas adalah cerminan kondisi jalanan Ibu Kota saat ini. Kemacetan parah terjadi di mana-mana, sementara pengendara terkesan seenaknya melanggar. Penegakan hukum lalu lintas bagaikan dilakukan setengah hati, sementara belum ada upaya sungguh-sungguh pemerintah mengatasi kemacetan.
Tak mengherankan jika Castrol Magnatec Stop-Start Index 2014 menempatkan Jakarta sebagai kota dengan lalu lintas terburuk berdasarkan jumlah berhenti-jalan (stop-start) setiap mobil dalam setahun.
Menurut indeks tersebut, setiap mobil di Jakarta rata-rata mengalami 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun karena terjebak kemacetan. Jika dibandingkan dengan kota lain, indeks berhenti-jalan di Jakarta menempati urutan pertama.
Indeks itu dihasilkan dari data navigasi pengguna perangkat navigasi global positioning system (GPS), TomTom, di seluruh dunia. Dengan sebuah algoritma khusus, jumlah berhenti-jalan setiap pengendara bisa dihitung. Indeks ini menilai kondisi lalu lintas di 78 kota utama di Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Selain Jakarta, kota lain yang masuk lima besar terburuk adalah Istanbul, Turki, dengan 32.520 berhenti-jalan; Mexico City, Meksiko (30.840); Surabaya, Indonesia (29.880); dan St Petersburg, Rusia (29.040).
Meski mendapatkan angka berhenti-jalan terbanyak, Jakarta sebenarnya tak menempati posisi terburuk dalam hal lamanya pengemudi berhenti di jalan (idling time).
Dari sisi idling time, Jakarta mendapatkan angka 27,22 persen. Artinya, dalam setiap perjalanan, seorang pengemudi rata-rata menghabiskan 27,22 persen waktunya untuk berhenti.
Jakarta masih lebih baik dibandingkan dengan Moskwa (31,57 persen), Bangkok (36,07 persen), London (28,58 persen), dan New York (28,62). Penyusunan indeks itu memang terkait erat dengan upaya Castrol memasarkan produk minyak pelumas terbarunya. Namun, paling tidak, indeks itu menggambarkan betapa buruknya lalu lintas di dua kota terbesar Indonesia dibandingkan kota-kota utama lain di dunia.
Risyapudin mengakui bahwa kondisi lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya memang tak ideal lagi. Menurut dia, pertumbuhan kendaraan baru per tahun di Jakarta yang mencapai 11 persen tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan yang hanya 0,001 persen. Karena itu, Risyapudin tak terlalu terkejut kalau Jakarta saat ini termasuk kota dengan kondisi lalu lintas sangat buruk.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengakui kondisi tersebut. Menurut dia, selama Jakarta tak memiliki sistem transportasi massal berbasis rel, kemacetan akan terus mendera kota ini.
”Memang iya (paling macet sedunia). Jepang saja yang punya (sistem transportasi berbasis rel) masih macet, apalagi Jakarta. Makanya sekarang sedang kami bangun,” kata Basuki, Rabu, di Balai Kota Jakarta.
Pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan, hasil survei The Economist dan Castrol menjadi momentum untuk perubahan Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia yang memiliki permasalahan serupa agar bangkit menjadi lebih baik.
Jaringan transportasi bus cepat (BRT) di Jakarta yang biasa disebut transjakarta dan angkutan transportasi massal cepat (MRT), baik layang maupun bawah tanah yang dalam proses pembangunan, bisa menjadi pilar terbangunnya kembali penataan transportasi publik.
”Asalkan penataan itu memenuhi tiga syarat, yaitu, pertama, benahi dulu prasarananya, seperti jalan, trotoar, halte, parkir, serta kapasitas angkutnya. Kedua, benahi sarana bus dan kelembagaan pengelolaannya. Ketiga, jangan langsung menerapkan traffic demand management secara kaku selama sarana dan prasarana belum memadai,” ungkap Yayat.
Sumber : http://www.tribunnews.com/metropolitan/2015/02/05/dua-predikat-buruk-dunia-untuk-jakarta-yang-amat-mengusik
Kacaunya jalanan di Jakarta jelas bukan cerita baru. Kemacetan terasa kian parah dari hari ke hari, membuat warga Ibu Kota juga makin frustrasi di jalanan.
Awal pekan ini, warga Jakarta dihebohkan aksi seorang pengendara mobil bernama Huibert A Wenas. Melalui sejumlah video yang diunggahnya sendiri di Youtube, terlihat bagaimana Wenas begitu jengkel dan marah kepada pengguna jalan lain di tengah kemacetan Jakarta.
Wenas dengan mobilnya, Suzuki Vitara putih yang diberi nama Ichiro, berkali-kali ”menindak” pengendara yang ia nilai berperilaku bodoh di jalan. Wenas antara lain berurusan dengan mobil yang melaju di bahu jalan tol, menyerobot lajur, serta metromini dan truk yang melawan arus.
Video-video Wenas ini menjadi topik pembicaraan hangat. Rabu (4/2) siang, Wenas bersama kuasa hukumnya mendatangi kantor Subdirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di Jakarta Selatan setelah dicari-cari polisi.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, apa yang dilakukan Wenas itu tak bisa dibenarkan secara hukum. ”Apa yang dilakukannya dapat menimbulkan pidana baru, dapat memicu terjadi pengeroyokan dan perkelahian,” katanya.
Wenas dikenai sanksi hukum, yakni diberi surat tilang. Ia juga membuat pernyataan minta maaf sekaligus janji untuk tidak mengulangi perbuatannya.
”Dia ditilang, dikenai Pasal 279 Ayat 15 Undang-Undang Lalu Lintas dan Jalan. Pasal ini mengenai larangan memodifikasi kendaraan yang dapat membahayakan pengguna jalan,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Risyapudin Nursin.
Wenas pun meminta maaf. ”Saya minta maaf kepada polisi karena melakukan hal yang kurang tepat dan merepotkan kepolisian. Saya juga mohon maaf kepada masyarakat yang merasa terganggu. Saya berjanji tidak akan melakukan tindakan tersebut lagi,” tuturnya.
Lalu lintas terburuk
Kasus Wenas adalah cerminan kondisi jalanan Ibu Kota saat ini. Kemacetan parah terjadi di mana-mana, sementara pengendara terkesan seenaknya melanggar. Penegakan hukum lalu lintas bagaikan dilakukan setengah hati, sementara belum ada upaya sungguh-sungguh pemerintah mengatasi kemacetan.
Tak mengherankan jika Castrol Magnatec Stop-Start Index 2014 menempatkan Jakarta sebagai kota dengan lalu lintas terburuk berdasarkan jumlah berhenti-jalan (stop-start) setiap mobil dalam setahun.
Menurut indeks tersebut, setiap mobil di Jakarta rata-rata mengalami 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun karena terjebak kemacetan. Jika dibandingkan dengan kota lain, indeks berhenti-jalan di Jakarta menempati urutan pertama.
Indeks itu dihasilkan dari data navigasi pengguna perangkat navigasi global positioning system (GPS), TomTom, di seluruh dunia. Dengan sebuah algoritma khusus, jumlah berhenti-jalan setiap pengendara bisa dihitung. Indeks ini menilai kondisi lalu lintas di 78 kota utama di Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Selain Jakarta, kota lain yang masuk lima besar terburuk adalah Istanbul, Turki, dengan 32.520 berhenti-jalan; Mexico City, Meksiko (30.840); Surabaya, Indonesia (29.880); dan St Petersburg, Rusia (29.040).
Meski mendapatkan angka berhenti-jalan terbanyak, Jakarta sebenarnya tak menempati posisi terburuk dalam hal lamanya pengemudi berhenti di jalan (idling time).
Dari sisi idling time, Jakarta mendapatkan angka 27,22 persen. Artinya, dalam setiap perjalanan, seorang pengemudi rata-rata menghabiskan 27,22 persen waktunya untuk berhenti.
Jakarta masih lebih baik dibandingkan dengan Moskwa (31,57 persen), Bangkok (36,07 persen), London (28,58 persen), dan New York (28,62). Penyusunan indeks itu memang terkait erat dengan upaya Castrol memasarkan produk minyak pelumas terbarunya. Namun, paling tidak, indeks itu menggambarkan betapa buruknya lalu lintas di dua kota terbesar Indonesia dibandingkan kota-kota utama lain di dunia.
Risyapudin mengakui bahwa kondisi lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya memang tak ideal lagi. Menurut dia, pertumbuhan kendaraan baru per tahun di Jakarta yang mencapai 11 persen tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan yang hanya 0,001 persen. Karena itu, Risyapudin tak terlalu terkejut kalau Jakarta saat ini termasuk kota dengan kondisi lalu lintas sangat buruk.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengakui kondisi tersebut. Menurut dia, selama Jakarta tak memiliki sistem transportasi massal berbasis rel, kemacetan akan terus mendera kota ini.
”Memang iya (paling macet sedunia). Jepang saja yang punya (sistem transportasi berbasis rel) masih macet, apalagi Jakarta. Makanya sekarang sedang kami bangun,” kata Basuki, Rabu, di Balai Kota Jakarta.
Pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan, hasil survei The Economist dan Castrol menjadi momentum untuk perubahan Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia yang memiliki permasalahan serupa agar bangkit menjadi lebih baik.
Jaringan transportasi bus cepat (BRT) di Jakarta yang biasa disebut transjakarta dan angkutan transportasi massal cepat (MRT), baik layang maupun bawah tanah yang dalam proses pembangunan, bisa menjadi pilar terbangunnya kembali penataan transportasi publik.
”Asalkan penataan itu memenuhi tiga syarat, yaitu, pertama, benahi dulu prasarananya, seperti jalan, trotoar, halte, parkir, serta kapasitas angkutnya. Kedua, benahi sarana bus dan kelembagaan pengelolaannya. Ketiga, jangan langsung menerapkan traffic demand management secara kaku selama sarana dan prasarana belum memadai,” ungkap Yayat.
Sumber : http://www.tribunnews.com/metropolitan/2015/02/05/dua-predikat-buruk-dunia-untuk-jakarta-yang-amat-mengusik
Label:
berhenti-jalan
,
castrol
,
hukum
,
ibu kota
,
indeks
,
jakarta
,
jalan
,
jalanan
,
kemacetan
,
kondisi
,
kota
,
lalu lintas
,
mobil
,
pengendara
,
pengguna
,
risyapudin
,
terburuk
,
transportasi
,
wenas
Selasa, 12 Agustus 2014
Ini Kata Polisi Soal Macet Horor yang Melanda Jakarta Semalam
Jakarta - Seperti sudah jadi kebiasaan jika hujan deras mengguyur Jakarta, maka kemacetan menghantui jalanan Ibu Kota. Seperti yang terjadi Senin (11/8) malam kemarin, para pengendara harus bersabar menerobos kemacetan.
Kepala Sub Direktorat Penegakan Hukum (Kasubdit Gakum) AKBP Hindarsono mengatakan, salah satu faktor penyumbang kemacetan semalam adalah watak pengendara yang tidak tertib bergantian menembus kemacetan.
"Seperti ada banjir di Jl Tandean, para pengendara berusaha untuk menghindari banjir dan menempuh jalur lain, akhirnya bertemu di satu titik. Mereka tidak mau mengalah satu dengan yang lain, saling serobot," kata Hindarsono saat dihubungi detikcom, Selasa (12/8/2014).
Alhasil, bukan kelancaran yang didapat para pengendara. Mereka mengunci ruas jalan dan terjebak di tengah kemacetan. Kemacetan yang terjadi semalam baru bisa dikendalikan pukul 24.00 WIB. "Jam segitu situasi lalu lintas sudah mulai mencair," kata Hindarsono.
"Kami mohon kepada masyarakat untuk tidak saling serobot, meski itu tidak ada petugas yang mengatur. Kalau tertib, kan enak, jalanan jadi lancar," kata Hindarsono.
Selain di kawasan Tandean, banjir juga terjadi di kawasan Swadarma, akibatnya Cipulir arah Kreo padat kedua arah.
Kawasan yang menjadi ikon muda-mudi Jakarta, Kemang, juga tidak luput dari limpasan air dari sungai yang melintasinya. Akibatnya Jl Kemang Raya tersendat. Dampak bajir ini juga terasa di Jl Prapanca arah Cilandak.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/08/12/093406/2659489/10/ini-kata-polisi-soal-macet-horor-yang-melanda-jakarta-semalam
Kepala Sub Direktorat Penegakan Hukum (Kasubdit Gakum) AKBP Hindarsono mengatakan, salah satu faktor penyumbang kemacetan semalam adalah watak pengendara yang tidak tertib bergantian menembus kemacetan.
"Seperti ada banjir di Jl Tandean, para pengendara berusaha untuk menghindari banjir dan menempuh jalur lain, akhirnya bertemu di satu titik. Mereka tidak mau mengalah satu dengan yang lain, saling serobot," kata Hindarsono saat dihubungi detikcom, Selasa (12/8/2014).
Alhasil, bukan kelancaran yang didapat para pengendara. Mereka mengunci ruas jalan dan terjebak di tengah kemacetan. Kemacetan yang terjadi semalam baru bisa dikendalikan pukul 24.00 WIB. "Jam segitu situasi lalu lintas sudah mulai mencair," kata Hindarsono.
"Kami mohon kepada masyarakat untuk tidak saling serobot, meski itu tidak ada petugas yang mengatur. Kalau tertib, kan enak, jalanan jadi lancar," kata Hindarsono.
Selain di kawasan Tandean, banjir juga terjadi di kawasan Swadarma, akibatnya Cipulir arah Kreo padat kedua arah.
Kawasan yang menjadi ikon muda-mudi Jakarta, Kemang, juga tidak luput dari limpasan air dari sungai yang melintasinya. Akibatnya Jl Kemang Raya tersendat. Dampak bajir ini juga terasa di Jl Prapanca arah Cilandak.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/08/12/093406/2659489/10/ini-kata-polisi-soal-macet-horor-yang-melanda-jakarta-semalam
Label:
arah
,
bajir
,
banjir
,
cipulir
,
hindarsono
,
hujan deras
,
ikon
,
jakarta
,
jalanan
,
jl
,
kawasan
,
kemacetan
,
kemang
,
kreo
,
pengendara
,
serobot
,
swadarma
,
tandean
,
tertib
Rabu, 19 Maret 2014
Tak Kunjung Digaji, Petugas Kebersihan Tagih Janji Jokowi-Basuki
JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga petugas kebersihan dan penyapu jalanan mendatangi Balaikota Jakarta untuk mengadukan nasib mereka kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Sehari-harinya, mereka bertugas di Jatinegara, Jakarta Timur.
Sejak kontrak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan perusahaan swasta pengangkut sampah selesai di penghujung 2013 lalu, nasib mereka justru semakin tidak menentu. Anang (31) petugas kebersihan di Jatinegara mengungkapkan bahwa ia akan diusir dari rumah kontrakannya lantaran tak mampu membayar tunggakan sewa selama tiga bulan.
Menurut dia, Dinas Kebersihan DKI Jakarta belum membayarkan gaji mulai Januari-Maret 2014 ini. "Saya lebih baik pulang kampung saja, daripada tidur sembarangan di jalan raya. Keluarga di kampung juga bertanya uang terus," kata Anang kepada Kompas.com di Balaikota Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Sebelum menjadi petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Anang beserta dua petugas lainnya, Nana (39) dan Irfan (24) bekerja di perusahaan swasta, Sumber Teknis Swadaya (STS). Di sana, mereka mendapat gaji yang dibayarkan tiap sepuluh hari. Setiap sepuluh hari, mereka dibayar Rp 400.000 atau setara Rp 1,2 juta per bulan. Ia mengaku, terkadang gajinya dipotong Rp 300.000-Rp 600.000.
Meskipun upah yang diterima kecil, namun Anang mengaku pembayaran gaji tak pernah terhambat. Sementara itu, saat berada di bawah Dinas Kebersihan, Pemprov DKI Jakarta menjanjikan gaji senilai upah minimum provinsi (UMP) Rp 2,4 juta. Namun, hingga kini, mereka belum menerima hak tersebut.
"Kami minta kepastian sekarang. Bisa bertahan hidup di Jakarta saja sudah beruntung, mana janji Pak Ahok (Basuki) yang akan mensejahterakan kami," kata Anang yang telah bekerja sebagai penyapu jalanan selama lima tahun tersebut.
Sementara itu Irfan mengungkapkan, selama ia bekerja di swasta, bekerja mulai pukul 05:00-17:00 WIB. Saat di Dinas Kebersihan DKI, penyapu jalanan bekerja selama delapan jam, mulai dari pukul 06:00-14:00 WIB. Irfan yang telah memiliki seorang anak itu mengaku sudah banyak menunggak utang ke warung dan kontrakannya. Apabila gajinya tak kunjung dibayarkan, ia berencana untuk berhenti sementara dan mogok bekerja.
Hal senada disampaikan Nana. Ia mengaku telah menunggak utang rumah kontrakan hingga Rp 4 juta. Menurut Nana, ada peraturan pengangkutan sampah yang memberatkan. Hal ini misalnya terkait pembuangan sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang harus sesuai dengan lokasi mereka bekerja.
Mereka yang berdomisili di Jatinegara harus membuang sampah di TPS Jatinegara. Padahal, di dekat tempat mereka menyapu, banyak TPS yang tersedia.
"Berat banget harus angkut-angkut sampahnya. Belum lagi jauh TPS-nya," kata Nana. Di samping itu, mereka juga mengaku telah membuka rekening di Bank DKI sesuai instruksi Pemprov DKI Jakarta.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/18/1641097/Tak.Kunjung.Digaji.Petugas.Kebersihan.Tagih.Janji.Jokowi-Basuki
Sejak kontrak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan perusahaan swasta pengangkut sampah selesai di penghujung 2013 lalu, nasib mereka justru semakin tidak menentu. Anang (31) petugas kebersihan di Jatinegara mengungkapkan bahwa ia akan diusir dari rumah kontrakannya lantaran tak mampu membayar tunggakan sewa selama tiga bulan.
Menurut dia, Dinas Kebersihan DKI Jakarta belum membayarkan gaji mulai Januari-Maret 2014 ini. "Saya lebih baik pulang kampung saja, daripada tidur sembarangan di jalan raya. Keluarga di kampung juga bertanya uang terus," kata Anang kepada Kompas.com di Balaikota Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Sebelum menjadi petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Anang beserta dua petugas lainnya, Nana (39) dan Irfan (24) bekerja di perusahaan swasta, Sumber Teknis Swadaya (STS). Di sana, mereka mendapat gaji yang dibayarkan tiap sepuluh hari. Setiap sepuluh hari, mereka dibayar Rp 400.000 atau setara Rp 1,2 juta per bulan. Ia mengaku, terkadang gajinya dipotong Rp 300.000-Rp 600.000.
Meskipun upah yang diterima kecil, namun Anang mengaku pembayaran gaji tak pernah terhambat. Sementara itu, saat berada di bawah Dinas Kebersihan, Pemprov DKI Jakarta menjanjikan gaji senilai upah minimum provinsi (UMP) Rp 2,4 juta. Namun, hingga kini, mereka belum menerima hak tersebut.
"Kami minta kepastian sekarang. Bisa bertahan hidup di Jakarta saja sudah beruntung, mana janji Pak Ahok (Basuki) yang akan mensejahterakan kami," kata Anang yang telah bekerja sebagai penyapu jalanan selama lima tahun tersebut.
Sementara itu Irfan mengungkapkan, selama ia bekerja di swasta, bekerja mulai pukul 05:00-17:00 WIB. Saat di Dinas Kebersihan DKI, penyapu jalanan bekerja selama delapan jam, mulai dari pukul 06:00-14:00 WIB. Irfan yang telah memiliki seorang anak itu mengaku sudah banyak menunggak utang ke warung dan kontrakannya. Apabila gajinya tak kunjung dibayarkan, ia berencana untuk berhenti sementara dan mogok bekerja.
Hal senada disampaikan Nana. Ia mengaku telah menunggak utang rumah kontrakan hingga Rp 4 juta. Menurut Nana, ada peraturan pengangkutan sampah yang memberatkan. Hal ini misalnya terkait pembuangan sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) yang harus sesuai dengan lokasi mereka bekerja.
Mereka yang berdomisili di Jatinegara harus membuang sampah di TPS Jatinegara. Padahal, di dekat tempat mereka menyapu, banyak TPS yang tersedia.
"Berat banget harus angkut-angkut sampahnya. Belum lagi jauh TPS-nya," kata Nana. Di samping itu, mereka juga mengaku telah membuka rekening di Bank DKI sesuai instruksi Pemprov DKI Jakarta.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/18/1641097/Tak.Kunjung.Digaji.Petugas.Kebersihan.Tagih.Janji.Jokowi-Basuki
Label:
anang
,
balaikota
,
dinas
,
dki
,
gaji
,
irfan
,
jakarta
,
jalanan
,
jatinegara
,
kebersihan
,
nana
,
pembuangan
,
pemprov
,
penyapu
,
perusahaan swasta
,
petugas
,
rp
,
sampah
,
tps
Senin, 16 Desember 2013
Ulah Sopir Angkutan Umum Perparah Kemacetan di Jakarta
VIVAnews - Kemacetan merupakan masalah pelik Jakarta. Kian hari, macet di jalan-jalan kian parah. Ternyata, salah satu penyumbang kemacetan itu adalah para pengemudi angkutan umum. Sebab, mereka justru merasa diuntungkan dengan macetnya jalanan Ibu Kota.
Ali Murtopo (35), sopir mikrolet M 12 jurusan Senen-Kota, mengaku, sopir angkutan umum di Jakarta memiliki trik-trik khusus untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya saat macet. Bahkan, kemacetan itu sendiri sebenarnya sengaja ‘diciptakan’ oleh mereka.
“Jadi tidak mutlak kemacetan di Jakarta karena banyaknya kendaraan,” kata Ali saat berbicang dengan VIVAnews di Mapolsek Senen, Jakarta Pusat, Sabtu, 14 Desember 2013. Ali sudah 15 tahun berprofesi sebagai sopir. Ia telah berkawan akrab dengan kemacetan jalanan.
Menurut Ali, jika macet ‘terusir’ dari jalanan, persaingan sopir angkutan umum satu dan yang lainnya akan semakin ketat. Sebab, sulit mencari celah untuk menghalangi sopir angkutan lainnya supaya tidak mendahului.
“Makanya kalau mikrolet atau metromini berhenti turunkan penumpang pasti cari celah yang paling sempit,” katanya.
Ali menuturkan, salah satu trik yang digunakan agar mobil belakang tidak dapat mendahului adalah berhenti di tempat yang macet. Yang dipinggirkan pun hanya kepalanya saja. Dengan begitu, bagian belakang mobil bisa menghalangi kendaraan di belakangnya.
“Kalau seperti itu, paling cuma motor saja yang bisa lewat,” ucap dia.
Selain itu, Ali juga biasanya memanfaatkan mobil pribadi yang berada persis di belakangnya. Menurutnya, itu trik paling efektif supaya angkutan umum lain tidak mendahuluinya.
“Pokoknya kalau kita menurunkan penumpang itu tidak boleh ke pinggir. Harus menahan mobil di belakang supaya macet. Makanya kalau bawa mobil jangan pernah di belakang mikrolet,” tuturnya. Itu cara praktis: ia bisa sambil mencari lebih banyak penumpang dan menghalangi saingan.
Lampu Merah
Ali masih punya trik lain. Yakni, memanfaatkan lampu lalu lintas. Menurutnya, pengertian lampu merah bagi sopir angkutan umum berbeda. Ketika lampu hijau, artinya harus berjalan pelan dan menghalangi kendaraan di belakangnya. Saat lampu berubah merah, langsung tancap gas.
“Jadi biar tidak terlalu rapat dengan angkutan di depannya. Terus di lampu merah juga sekalian menaikkan penumpang,” terangnya.
Sebenarnya, mengapa sopir angkutan umum seperti Ali selalu buru-buru dan berusaha menghalangi kendaraan lainnya? Ia menjelaskan, jika didahului angkutan umum lain dirinya akan lebih susah mencari penumpang. Jatah ngetem di terminal terserobot, dan ia harus mengantre lebih lama.
Alhasil, waktu lebih lama terbuang. Padahal waktu itu bisa digunakan mencari lebih banyak penumpang, yang juga berarti lebih banyak uang.
Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/466256-ulah-sopir-angkutan-umum-perparah-kemacetan-di-jakarta
Ali Murtopo (35), sopir mikrolet M 12 jurusan Senen-Kota, mengaku, sopir angkutan umum di Jakarta memiliki trik-trik khusus untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya saat macet. Bahkan, kemacetan itu sendiri sebenarnya sengaja ‘diciptakan’ oleh mereka.
“Jadi tidak mutlak kemacetan di Jakarta karena banyaknya kendaraan,” kata Ali saat berbicang dengan VIVAnews di Mapolsek Senen, Jakarta Pusat, Sabtu, 14 Desember 2013. Ali sudah 15 tahun berprofesi sebagai sopir. Ia telah berkawan akrab dengan kemacetan jalanan.
Menurut Ali, jika macet ‘terusir’ dari jalanan, persaingan sopir angkutan umum satu dan yang lainnya akan semakin ketat. Sebab, sulit mencari celah untuk menghalangi sopir angkutan lainnya supaya tidak mendahului.
“Makanya kalau mikrolet atau metromini berhenti turunkan penumpang pasti cari celah yang paling sempit,” katanya.
Ali menuturkan, salah satu trik yang digunakan agar mobil belakang tidak dapat mendahului adalah berhenti di tempat yang macet. Yang dipinggirkan pun hanya kepalanya saja. Dengan begitu, bagian belakang mobil bisa menghalangi kendaraan di belakangnya.
“Kalau seperti itu, paling cuma motor saja yang bisa lewat,” ucap dia.
Selain itu, Ali juga biasanya memanfaatkan mobil pribadi yang berada persis di belakangnya. Menurutnya, itu trik paling efektif supaya angkutan umum lain tidak mendahuluinya.
“Pokoknya kalau kita menurunkan penumpang itu tidak boleh ke pinggir. Harus menahan mobil di belakang supaya macet. Makanya kalau bawa mobil jangan pernah di belakang mikrolet,” tuturnya. Itu cara praktis: ia bisa sambil mencari lebih banyak penumpang dan menghalangi saingan.
Lampu Merah
Ali masih punya trik lain. Yakni, memanfaatkan lampu lalu lintas. Menurutnya, pengertian lampu merah bagi sopir angkutan umum berbeda. Ketika lampu hijau, artinya harus berjalan pelan dan menghalangi kendaraan di belakangnya. Saat lampu berubah merah, langsung tancap gas.
“Jadi biar tidak terlalu rapat dengan angkutan di depannya. Terus di lampu merah juga sekalian menaikkan penumpang,” terangnya.
Sebenarnya, mengapa sopir angkutan umum seperti Ali selalu buru-buru dan berusaha menghalangi kendaraan lainnya? Ia menjelaskan, jika didahului angkutan umum lain dirinya akan lebih susah mencari penumpang. Jatah ngetem di terminal terserobot, dan ia harus mengantre lebih lama.
Alhasil, waktu lebih lama terbuang. Padahal waktu itu bisa digunakan mencari lebih banyak penumpang, yang juga berarti lebih banyak uang.
Sumber : http://metro.news.viva.co.id/news/read/466256-ulah-sopir-angkutan-umum-perparah-kemacetan-di-jakarta
Kamis, 07 November 2013
Sejuta Kendaraan Baru Sesaki Jakarta Per Tahun
TEMPO.CO, Jakarta - Ditlantas Polda Metro Jaya menerima permintaan pembuatan 1,5 juta surat-surat kendaraan baru selama tiga tahun terakhir. Dari data yang dilansir pihak kepolisian hingga 2012, terjadi lonjakan signifikan dalam jumlah pembuatan surat-surat kendaraan baru sejak 2011.
Pada 2008, jumlah pemohon surat-surat kendaraan baru, baik mobil dan motor mencapai angka 631.623. Jumlah tersebut terus naik hingga 2012. (2009: 564.694; 2010: 736.607; 2011: 1.580.790; dan 2012: 1.577.418)
"Pada 2013 jumlahnya kurang lebih sama," ujar juru bicara Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Rabu, 6 November 2013. Terjadi peningkatan signifikan jumlah kendaraan baru di Jakarta sebesar 53,4 persen pada 2010-2011.
Jumlah kendaraan baru di Jakarta ini menambah banyak kuda-kuda besi yang berkeliaran di jalanan Ibu Kota. Dari data Ditlantas dilaporkan belasan juta kendaraan bermotor berseliweran di wilyah Jakarta dan meningkat tiap tahunnya.
Kendaraan Bermotor - 6.766.723 (2008) / 7.518.098 (2009) / 8.764.130 (2010) / 9.861.451 (2011) / 10.825.973 (2012).
Mobil Penumpang - 2.034.943 (2008) / 2.116.282 (2009) / 2.334.883 (2010) / 2.541.351 (2011) / 2.742.414 (2012)
Mobil Beban - 538.731 (2008) / 550.924 (2009) / 565.727 (2010) / 581.290 (2011) / 561.918 (2012)
Mobil Bis - 308.528 (2008) / 309.385 (2009) / 332.779 (2010 / 363.710 (2011) / 358.895 (2012
Total - 9.647.925 (2008) / 13.347.802 (2009) / 11.997.519 (2010) / 13.347.802 (2011) / 14.618.313 (2012)
Pertumbuhan pesat laju kendaraan di Jakarta (meningkat 15 persen pada 2012) membuat pengatur kebijakan bekerja keras untuk menghindarkan Jakarta dari kemacetan total. "Sudah dibahas sejumlah kebijakan pengurangan kemacetan. Kami siap," ujar Rikwanto.
Namun Rikwanto tak mengelak bila makin masifnya pertumbuhan mobil tidak disertai dengan kebijakan transportasi yang mumpuni, Jakarta akan mendapat dampak buruk. "Diprediksi pada 2014 jalanan di Jakarta stuck," ujarnya.
Salah satu penyebab kemacetan parah adalah penambahan jumlah jalan di Jakarta jauh tertinggal dibanding pertumbuhan mobil. Pada tahun lalu, jumlah jalan hanya naik, 1,3 persen menurut data Subdinas Bina Program Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Pada tiga tahun terakhir, jumlah jalan di Jakarta adalah 6.543 kilometer (2010), 6.866 kilometer (2011), dan 6.955 kilometer (2012). Ini baru mencakup 6,2 persen luas wilayah Jakarta. Di sejumlah negara maju, contohnya Singapura, rasio jalan sudah mencapai 12 persen dibanding luas wilayahnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/07/083527694/Sejuta-Kendaraan-Baru-Sesaki-Jakarta-Per-Tahun
Pada 2008, jumlah pemohon surat-surat kendaraan baru, baik mobil dan motor mencapai angka 631.623. Jumlah tersebut terus naik hingga 2012. (2009: 564.694; 2010: 736.607; 2011: 1.580.790; dan 2012: 1.577.418)
"Pada 2013 jumlahnya kurang lebih sama," ujar juru bicara Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Rabu, 6 November 2013. Terjadi peningkatan signifikan jumlah kendaraan baru di Jakarta sebesar 53,4 persen pada 2010-2011.
Jumlah kendaraan baru di Jakarta ini menambah banyak kuda-kuda besi yang berkeliaran di jalanan Ibu Kota. Dari data Ditlantas dilaporkan belasan juta kendaraan bermotor berseliweran di wilyah Jakarta dan meningkat tiap tahunnya.
Kendaraan Bermotor - 6.766.723 (2008) / 7.518.098 (2009) / 8.764.130 (2010) / 9.861.451 (2011) / 10.825.973 (2012).
Mobil Penumpang - 2.034.943 (2008) / 2.116.282 (2009) / 2.334.883 (2010) / 2.541.351 (2011) / 2.742.414 (2012)
Mobil Beban - 538.731 (2008) / 550.924 (2009) / 565.727 (2010) / 581.290 (2011) / 561.918 (2012)
Mobil Bis - 308.528 (2008) / 309.385 (2009) / 332.779 (2010 / 363.710 (2011) / 358.895 (2012
Total - 9.647.925 (2008) / 13.347.802 (2009) / 11.997.519 (2010) / 13.347.802 (2011) / 14.618.313 (2012)
Pertumbuhan pesat laju kendaraan di Jakarta (meningkat 15 persen pada 2012) membuat pengatur kebijakan bekerja keras untuk menghindarkan Jakarta dari kemacetan total. "Sudah dibahas sejumlah kebijakan pengurangan kemacetan. Kami siap," ujar Rikwanto.
Namun Rikwanto tak mengelak bila makin masifnya pertumbuhan mobil tidak disertai dengan kebijakan transportasi yang mumpuni, Jakarta akan mendapat dampak buruk. "Diprediksi pada 2014 jalanan di Jakarta stuck," ujarnya.
Salah satu penyebab kemacetan parah adalah penambahan jumlah jalan di Jakarta jauh tertinggal dibanding pertumbuhan mobil. Pada tahun lalu, jumlah jalan hanya naik, 1,3 persen menurut data Subdinas Bina Program Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Pada tiga tahun terakhir, jumlah jalan di Jakarta adalah 6.543 kilometer (2010), 6.866 kilometer (2011), dan 6.955 kilometer (2012). Ini baru mencakup 6,2 persen luas wilayah Jakarta. Di sejumlah negara maju, contohnya Singapura, rasio jalan sudah mencapai 12 persen dibanding luas wilayahnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/07/083527694/Sejuta-Kendaraan-Baru-Sesaki-Jakarta-Per-Tahun
Label:
data
,
dibanding
,
ditlantas
,
jakarta
,
jalan
,
jalanan
,
kebijakan
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kendaraan bermotor
,
kilometer
,
metro
,
mobil
,
pembuatan
,
pertumbuhan
,
polda
,
rikwanto
,
signifikan
,
surat-surat
Rabu, 07 Agustus 2013
H-2 Lebaran, Kemacetan di Jakarta Turun 50%
Jakarta - Sejumlah ruas jalan di Jakarta pada H-2 menjelang Lebaran mulai lengang akibat sebagian besar warga Ibukota telah cuti dan mudik ke kampung halaman. Warga diimbau tetap berhati-hati dalam berkendara.
Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo, mengatakan kemacetan hingga hari ini berkurang sampai 50 persen dibanding hari biasa.
"Saat ini kemacetan di Jakarta memang berkurang drastis, sekitar 50 persen. Ini akibat warga Jakarta sudah mudik dan libur," ujar Sambodo, Selasa (6/8).
Dikatakan Sambodo, jalan protokol maupun arteri nampak lengang. Kondisi arus lalu lintas cenderung ramai lancar. "Jarak tempuh pun menjadi berkurang. Kalau sebelumnya bisa berjam-jam, saat ini hanya hitungan menit," tambahnya.
Ia melanjutkan, kendati jalanan sudah mulai sepi dari pengendara, namun masyarakat diimbau agar tetap berhati-hati dan tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar terhindar dari kecelakaan.
"Meski jalanan sepi, tapi diimbau warga tidak ngebut karena bisa saja terjadi kecelakaan. Selalu berhati-hati, utamakan keselamatan dan jadi pelopor keselamatan berlalulintas," katanya.
Menurut Sambodo, walau pun jalanan sudah lengang, namun Ditlantas Polda Metro Jaya tak menurunkan jumlah anggota di lapangan.
"Jumlah anggota di lapangan tidak berkurang. Tiap hari ada 600 anggota Polantas yang diploting untuk mengatur lalin," tandasnya.
Penulis: Bayu Marhaenjati/AF
Sumber:
http://www.beritasatu.com/aktualitas/130318-h2-lebaran-kemacetan-di-jakarta-turun-50.html
Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo, mengatakan kemacetan hingga hari ini berkurang sampai 50 persen dibanding hari biasa.
"Saat ini kemacetan di Jakarta memang berkurang drastis, sekitar 50 persen. Ini akibat warga Jakarta sudah mudik dan libur," ujar Sambodo, Selasa (6/8).
Dikatakan Sambodo, jalan protokol maupun arteri nampak lengang. Kondisi arus lalu lintas cenderung ramai lancar. "Jarak tempuh pun menjadi berkurang. Kalau sebelumnya bisa berjam-jam, saat ini hanya hitungan menit," tambahnya.
Ia melanjutkan, kendati jalanan sudah mulai sepi dari pengendara, namun masyarakat diimbau agar tetap berhati-hati dan tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar terhindar dari kecelakaan.
"Meski jalanan sepi, tapi diimbau warga tidak ngebut karena bisa saja terjadi kecelakaan. Selalu berhati-hati, utamakan keselamatan dan jadi pelopor keselamatan berlalulintas," katanya.
Menurut Sambodo, walau pun jalanan sudah lengang, namun Ditlantas Polda Metro Jaya tak menurunkan jumlah anggota di lapangan.
"Jumlah anggota di lapangan tidak berkurang. Tiap hari ada 600 anggota Polantas yang diploting untuk mengatur lalin," tandasnya.
Penulis: Bayu Marhaenjati/AF
Sumber:
http://www.beritasatu.com/aktualitas/130318-h2-lebaran-kemacetan-di-jakarta-turun-50.html
Label:
anggota
,
ditlantas
,
jakarta
,
jalan protokol
,
jalanan
,
jarak tempuh
,
jaya
,
kecelakaan
,
kemacetan
,
keselamatan
,
lalu lintas
,
lapangan
,
lengang
,
metro
,
mudik
,
ngebut
,
polda
,
sambodo
,
sepi
,
warga
Senin, 17 Juni 2013
Jepang & AS Lebih Banyak Mobil Pribadi, Tapi Kenapa Tidak Macet?
Liputan6.com, Jakarta : Meningkatnya jumlah mobil di Indonesia terutama Jakarta dituding sebagai penyebab utama macet parahnya di jalanan. Benarkah kemacetan terjadi karena jumlah mobil di Indonesia sudah kebanyakan?
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro membantah bila meningkatnya jumlah kendaraan roda empat sebagai penyebab kemacetan di Jakarta.
"Jangan kontradiktifkan jumlah mobil dengan kemacetan di Jakarta, tapi harusnya antara kemacetan dengan trafik. Karena jumlah mobil itu per kapita," tegas dia di Jakarta, seperti ditulis Sabtu (15/6/2013).
Jumlah mobil di Indonesia, lanjut Bambang, masih terbilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang apabila dihitung dari jumlah mobil per kapita.
"AS dan Jepang itu jumlah mobil per kapitanya jauh lebih besar dari Indonesia. Tapi kenapa dua negara itu tidak semacet Indonesia? Ya karena transportasi publiknya bagus. Pakai mobil terus menerus kan karena masyarakat tidak ada pilihan," tukasnya.
Karena trasportasi publik yang memadai itulah, menurut Bambang, masyarakat Jepang dan AS punya pilihan untuk berkendaraan selain mobil pribadi. Hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, yang mana transportasi publik sangat sedikit dan tidak nyaman.
Berdasarkan data Ward's, AS memiliki jumlah mobil terbanyak di dunia sebanyak 239,8 juta unit pada tahun 2010. Tingkat kepemilikan kendaraan per kapita di AS juga yang tertinggi di dunia, yaitu 769 kendaraan per 1000 orang, sehingga satu mobil untuk setiap 1,3 orang.
Sementara Jepang mempunyai 73,9 juta unit kendaraan pada tahun 2010, dan menjadi pasar kendaraan terbesar kedua di dunia sampai tahun 2009.
Sedangkan di Indonesia, sejak Januari sampai April 2012 ini, kendaraan yang membebani jalanan Jakarta sudah mencapai 13,35 juta kendaraan terdiri dari motor 9,86 juta unit, mobil 2,54 juta unit, mobil beban 581,29 ribu unit, dan bus 363,71 unit.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/614030/jepang-as-lebih-banyak-mobil-pribadi-tapi-kenapa-tidak-macet
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro membantah bila meningkatnya jumlah kendaraan roda empat sebagai penyebab kemacetan di Jakarta.
"Jangan kontradiktifkan jumlah mobil dengan kemacetan di Jakarta, tapi harusnya antara kemacetan dengan trafik. Karena jumlah mobil itu per kapita," tegas dia di Jakarta, seperti ditulis Sabtu (15/6/2013).
Jumlah mobil di Indonesia, lanjut Bambang, masih terbilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang apabila dihitung dari jumlah mobil per kapita.
"AS dan Jepang itu jumlah mobil per kapitanya jauh lebih besar dari Indonesia. Tapi kenapa dua negara itu tidak semacet Indonesia? Ya karena transportasi publiknya bagus. Pakai mobil terus menerus kan karena masyarakat tidak ada pilihan," tukasnya.
Karena trasportasi publik yang memadai itulah, menurut Bambang, masyarakat Jepang dan AS punya pilihan untuk berkendaraan selain mobil pribadi. Hal tersebut tidak terjadi di Indonesia, yang mana transportasi publik sangat sedikit dan tidak nyaman.
Berdasarkan data Ward's, AS memiliki jumlah mobil terbanyak di dunia sebanyak 239,8 juta unit pada tahun 2010. Tingkat kepemilikan kendaraan per kapita di AS juga yang tertinggi di dunia, yaitu 769 kendaraan per 1000 orang, sehingga satu mobil untuk setiap 1,3 orang.
Sementara Jepang mempunyai 73,9 juta unit kendaraan pada tahun 2010, dan menjadi pasar kendaraan terbesar kedua di dunia sampai tahun 2009.
Sedangkan di Indonesia, sejak Januari sampai April 2012 ini, kendaraan yang membebani jalanan Jakarta sudah mencapai 13,35 juta kendaraan terdiri dari motor 9,86 juta unit, mobil 2,54 juta unit, mobil beban 581,29 ribu unit, dan bus 363,71 unit.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/614030/jepang-as-lebih-banyak-mobil-pribadi-tapi-kenapa-tidak-macet
Kamis, 25 April 2013
'Jakarta Bisa Dinikmati Lewat Macet'
Jakarta - Heru Setyono, seorang staf di perusahaan retail di kawasan Gajahmada, Jakpus punya pandangan berbeda soal macet semalam. Bagi dia, kemacetan itu justru memberikannya kesempatan bisa menikmati indahnya Jakarta.
"Menikmati indahnya Jakarta adalah di kala jalanan Jakarta sedang macet, jadi semacet apapun semalam buat saya merupakan hal yang harus dinikmati," kata Heru dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Kamis (18/4/2013).
Kemacetan pada Rabu (17/4) malam memang lain dari biasanya. Hujan yang deras mengakibatkan genangan di sejumlah ruas, utamanya di kawasan Selatan Jakarta. Belum lagi pemotor yang berteduh di bawah jalan layang.
"Saya sampai di jalan Layang Antasari. Baru menikmati jalan layang tersebut ternyata jalan layang tersebut sudah macet total. Wow, dari atas terlihat begitu indahnya Kemang di kala malam hari dan tidak terasa rasa rindu dengan kamar kecil itu mulai menggebu-gebu. Saya paling tidak bisa menahan buang air kecil," ujar Heru.
Untuk mencapai kawasan Antasari, dia mesti melalui sejumlah jalur yang juga mengalami ketersendatan. Mulai dari Jl Abdul Muis, Jl Fachruddin, hingga Slipi, Gerbang Pemuda. Melaju melalui Antasari, sampai di bawah layang Taman Mini-Pondok Indah pemotor yang berteduh membuat macet.
"Nah di kolong inilah para pengguna kendaraan roda dua berteduh. Dalam hati saya berucap terima kasih atas hal ini, kalau tidak ada parkir dadakan di bawah jalan tol tersebut saya tidak akan menikmati indahnya sekitaran jalan layang Antasari," terangnya.
Selepas terowongan tersebut jalanan begitu mulus dan tidak terlihat sedikit pun kemacetan, bahkan kecepatan mobil bisa dipacu rata-rata 60 km/jam.
"Tapi inilah gula-gulanya Jakarta, nikmati saja dan jangan puas kalau sudah melewati masalah tersebut, karena bisa jadi hari ini akan terjadi kemacetan yang lebih lagi. Kalau kemarin Hayamwuruk–Pamulang ditempuh selama sekitar 4 jam bisa jadi dilain waktu akan lebih dari itu," cerita Heru.
Rupa-rupa cerita soal macet semalam. Bagaimana pengalaman Anda? Silakan berbagi tentang macet semalam di redaksi@detik.com dan jangan lupa sertakan nomor telepon.
Sumber : http://news.detik.com/read/2013/04/18/124112/2223746/10/jakarta-bisa-dinikmati-lewat-macet?9922022
"Menikmati indahnya Jakarta adalah di kala jalanan Jakarta sedang macet, jadi semacet apapun semalam buat saya merupakan hal yang harus dinikmati," kata Heru dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Kamis (18/4/2013).
Kemacetan pada Rabu (17/4) malam memang lain dari biasanya. Hujan yang deras mengakibatkan genangan di sejumlah ruas, utamanya di kawasan Selatan Jakarta. Belum lagi pemotor yang berteduh di bawah jalan layang.
"Saya sampai di jalan Layang Antasari. Baru menikmati jalan layang tersebut ternyata jalan layang tersebut sudah macet total. Wow, dari atas terlihat begitu indahnya Kemang di kala malam hari dan tidak terasa rasa rindu dengan kamar kecil itu mulai menggebu-gebu. Saya paling tidak bisa menahan buang air kecil," ujar Heru.
Untuk mencapai kawasan Antasari, dia mesti melalui sejumlah jalur yang juga mengalami ketersendatan. Mulai dari Jl Abdul Muis, Jl Fachruddin, hingga Slipi, Gerbang Pemuda. Melaju melalui Antasari, sampai di bawah layang Taman Mini-Pondok Indah pemotor yang berteduh membuat macet.
"Nah di kolong inilah para pengguna kendaraan roda dua berteduh. Dalam hati saya berucap terima kasih atas hal ini, kalau tidak ada parkir dadakan di bawah jalan tol tersebut saya tidak akan menikmati indahnya sekitaran jalan layang Antasari," terangnya.
Selepas terowongan tersebut jalanan begitu mulus dan tidak terlihat sedikit pun kemacetan, bahkan kecepatan mobil bisa dipacu rata-rata 60 km/jam.
"Tapi inilah gula-gulanya Jakarta, nikmati saja dan jangan puas kalau sudah melewati masalah tersebut, karena bisa jadi hari ini akan terjadi kemacetan yang lebih lagi. Kalau kemarin Hayamwuruk–Pamulang ditempuh selama sekitar 4 jam bisa jadi dilain waktu akan lebih dari itu," cerita Heru.
Rupa-rupa cerita soal macet semalam. Bagaimana pengalaman Anda? Silakan berbagi tentang macet semalam di redaksi@detik.com dan jangan lupa sertakan nomor telepon.
Sumber : http://news.detik.com/read/2013/04/18/124112/2223746/10/jakarta-bisa-dinikmati-lewat-macet?9922022
Label:
antasar
,
cerita
,
heru
,
indah
,
jakarta
,
jalan layang
,
jalanan
,
jam
,
jl
,
kala
,
kamar kecil
,
kawasan
,
kemacetan
,
ketersendatan
,
macet
,
pemotor
,
semalam
,
teduh
Kamis, 18 April 2013
Atasi Kemacetan, Pemprov DKI Diminta Kendalikan Angkot
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta mengendalikan jumlah angkot dan taksi. Sebab, keduanya dinilai banyak memakan ruas jalan sehingga menimbulkan kemacetan.
Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago mengatakan, sikap sopir angkot dan taksi yang seringkali 'mengetem', membuat jalanan macet karena memakan hampir separuh badan jalan. Apalagi, kata dia, populasi angkot dan taksi di Jakarta juga sudah berlebihan.
"Bukan dihilangkan sama sekali, tapi dikendalikan supaya jumlahnya wajar," ujarnya dalam sebuah acara dialog di Jakarta, Rabu (17/4).
Menurut Andrianof, angkot sebagai angkutan lingkungan harus tetap ada. Namun, sambung dia, angkot harusnya tidak boleh masuk ke jalan-jalan protokol.
Dikatakannya, pembatasan angkot dan taksi itu dapat dilakukan dengan mengganti kedua transportasi tersebut menjadi bus. Selanjutnya pemerintah yang harus memberikan solusi pekerjaan pengganti bagi para sopir yang tidak terserap menjadi awak bus.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/04/17/mleayp-atasi-kemacetan-pemprov-dki-diminta-kendalikan-angkot
Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago mengatakan, sikap sopir angkot dan taksi yang seringkali 'mengetem', membuat jalanan macet karena memakan hampir separuh badan jalan. Apalagi, kata dia, populasi angkot dan taksi di Jakarta juga sudah berlebihan.
"Bukan dihilangkan sama sekali, tapi dikendalikan supaya jumlahnya wajar," ujarnya dalam sebuah acara dialog di Jakarta, Rabu (17/4).
Menurut Andrianof, angkot sebagai angkutan lingkungan harus tetap ada. Namun, sambung dia, angkot harusnya tidak boleh masuk ke jalan-jalan protokol.
Dikatakannya, pembatasan angkot dan taksi itu dapat dilakukan dengan mengganti kedua transportasi tersebut menjadi bus. Selanjutnya pemerintah yang harus memberikan solusi pekerjaan pengganti bagi para sopir yang tidak terserap menjadi awak bus.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/04/17/mleayp-atasi-kemacetan-pemprov-dki-diminta-kendalikan-angkot
Langganan:
Postingan
(
Atom
)