Merdeka.com - Volume kendaraan terus bertambah setiap harinya. Alhasil, kemacetan di jalanan Jakarta semakin menggila.
Menanggapi persoalan ini, Gubernur Joko Widodo menegaskan, Jakarta butuh segala jenis angkutan massal seperti MRT, BRT dan Monorail. Dengan harapan, pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan massa.
"Yang namanya transportasi massal itu dibutuhkan, mau MRT, monorail, mau monorail kapsul semuanya dibutuhkan. Penduduk kita banyak sekali enggak mungkin MRT saja cukup, belum. Ada monorail cukup? Belum," terangnya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (20/8).
Selain menambah transportasi massal, lanjut Jokowi, yang tak kalah penting adalah membuat konektivitas jalur antar transportasi massal tersebut. Dia lantas mencontohkan pembangunan monorail, jika hanya mengandalkan dua jalur awal, green dan blue line, maka akan sia-sia mengatasi kemacetan.
"Kalau kamu berpikiran hanya blue dan green line berarti itu wisata. Itukan nanti akan dikoneksikan ke Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang itu baru yang namanya terkoneksi baru selesai," ungkap Jokowi.
"Jangan MRT yang dari Lebak Bulus, ke HI dan Kampung Bandan itu sudah selesai? Belum. Itu masih ada banyak sekali jalur," tambahnya.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/macet-makin-parah-jakarta-butuh-semua-jenis-transportasi-massal.html
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label monorail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monorail. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Agustus 2014
Macet makin parah, Jakarta butuh semua jenis transportasi massal
Label:
angkutan
,
balai kota
,
bandan
,
blue
,
brt
,
bulus
,
green
,
jakarta
,
jalur
,
jokowi
,
kapsul
,
kemacetan
,
kendaraan
,
konektivitas
,
line
,
massal
,
monorail
,
mrt
,
transportasi
Kamis, 31 Juli 2014
Libur Lebaran, bus wisata Jakarta laris manis
Merdeka.com - Banyak cara menghabiskan masa liburan Idul Fitri bagi masyarakat. Salah satunya dengan berwisata melihat sebagian pemandangan kota Jakarta menggunakan bus wisata.
Cara ini merupakan langkah jitu buat Anda yang ingin memberikan pengalaman jalan-jalan buat keluarga di masa libur lebaran. Sebab, Anda tidak perlu mengeluarkan ongkos buat menikmati pemandangan keliling ibu kota. Bisa dibilang jalan-jalan murah meriah.
Meski begitu, di masa liburan seperti ini, Anda harus rela mengantre cukup lama buat merasakan jalan-jalan di atas bus wisata bertingkat itu. Sebab, jumlah penumpang melonjak dari hari libur biasanya.
"Ya nunggu paling selang setengah jam lah. Namanya juga liburan, pasti banyak yang mau naik juga," kata Fitroh (34 tahun) dari Condet, Jakarta Timur kepada merdeka.com, Kamis (31/7).
Fitroh membawa serta istri dan kedua anak perempuannya berwisata ke kawasan Monumen Nasional, di masa libur lebaran. Kebetulan, kedua anaknya ingin merasakan naik bus wisata. Alhasil, dia rela berpanas-panasan mengantre di halte terletak di Jalan Medan Merdeka Barat.
Kira-kira 30 menit menunggu, bus ditunggu pun datang. Fitroh dan keluarga bersiap mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu masuk. Maklum, saking banyak peminatnya tak jarang para penumpang berebut masuk. Mereka pun rata-rata mengincar tempat duduk di dek atas.
"Enak ngelihatnya. Kalau di bawah udah biasa," ujar seorang penumpang bernama Ida (28 tahun) dari Depok, Jawa Barat, turut serta membawa dua anaknya.
Bus tingkat berkelir paduan ungu dan kuning itu hanya melayani trayek Bundaran Hotel Indonesia hingga Pasar Baru. Meski kapasitas cukup banyak, tapi jumlah penumpang dibatasi.
Pemandangan ditawarkan sepanjang perjalanan pun sebenarnya biasa saja. Apalagi di sepanjang Jalan Mohammad Husni Thamrin kondisinya cukup berantakan akibat proses pembangunan moda transportasi Monorail. Tetapi buat Fitroh dan Elin, justru di situ nikmatnya menghabiskan masa liburan bersama keluarga.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/libur-lebaran-bus-wisata-jakarta-laris-manis.html
Cara ini merupakan langkah jitu buat Anda yang ingin memberikan pengalaman jalan-jalan buat keluarga di masa libur lebaran. Sebab, Anda tidak perlu mengeluarkan ongkos buat menikmati pemandangan keliling ibu kota. Bisa dibilang jalan-jalan murah meriah.
Meski begitu, di masa liburan seperti ini, Anda harus rela mengantre cukup lama buat merasakan jalan-jalan di atas bus wisata bertingkat itu. Sebab, jumlah penumpang melonjak dari hari libur biasanya.
"Ya nunggu paling selang setengah jam lah. Namanya juga liburan, pasti banyak yang mau naik juga," kata Fitroh (34 tahun) dari Condet, Jakarta Timur kepada merdeka.com, Kamis (31/7).
Fitroh membawa serta istri dan kedua anak perempuannya berwisata ke kawasan Monumen Nasional, di masa libur lebaran. Kebetulan, kedua anaknya ingin merasakan naik bus wisata. Alhasil, dia rela berpanas-panasan mengantre di halte terletak di Jalan Medan Merdeka Barat.
Kira-kira 30 menit menunggu, bus ditunggu pun datang. Fitroh dan keluarga bersiap mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu masuk. Maklum, saking banyak peminatnya tak jarang para penumpang berebut masuk. Mereka pun rata-rata mengincar tempat duduk di dek atas.
"Enak ngelihatnya. Kalau di bawah udah biasa," ujar seorang penumpang bernama Ida (28 tahun) dari Depok, Jawa Barat, turut serta membawa dua anaknya.
Bus tingkat berkelir paduan ungu dan kuning itu hanya melayani trayek Bundaran Hotel Indonesia hingga Pasar Baru. Meski kapasitas cukup banyak, tapi jumlah penumpang dibatasi.
Pemandangan ditawarkan sepanjang perjalanan pun sebenarnya biasa saja. Apalagi di sepanjang Jalan Mohammad Husni Thamrin kondisinya cukup berantakan akibat proses pembangunan moda transportasi Monorail. Tetapi buat Fitroh dan Elin, justru di situ nikmatnya menghabiskan masa liburan bersama keluarga.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/libur-lebaran-bus-wisata-jakarta-laris-manis.html
Label:
anak
,
bus wisata
,
dek
,
fitroh
,
hari libur
,
ibu kota
,
jakarta
,
kelir
,
keluarga
,
lebaran
,
merdeka
,
moda
,
monorail
,
naik
,
pemandangan
,
penumpang
,
pintu masuk
,
rata-rata
,
rela
Jumat, 06 Juni 2014
Atasi macet, Ahok usul bangun LRT di Sudirman-Thamrin
Merdeka.com - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tertarik untuk membangun monorail di pusat Kota Jakarta atau daerah-daerah perkantoran seperti daerah Sudirman dan Thamrin. Ahok meminta PT MRT Jakarta dan PT Pembangunan Jaya untuk menghitung rencana tersebut.
Selain itu, Ahok bakal menawarkan pengelola gedung untuk membantu Pemprov DKI dalam membangun monorail pusat kota atau Light Rail Transit (LRT). Dengan begitu, Pemprov bakal memberikan hak udara di ruang publik untuk pengelola gedung tersebut.
"Jadi kita kasih mereka hak udara, nanti mereka kasih uang buat bangun. Mereka bilang, kalau mau perawatan yang lebih murah, lebih bagus lagi LRT kayak yang ada di Kuala Lumpur," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (5/6).
Ahok menegaskan PT Pembangunan Jaya saat ini sedang mempelajari dan mengkaji rencana tersebut. Ahok mengaku LRT lebih cocok digunakan di pusat kota Jakarta lantaran transportasi jarak pendek. Selain itu, biaya perawatan lebih murah ketimbang monorail.
"Model LRT ini lebih unggul dari kereta api karena naik bisa, turun bisa, nekuk pendek bisa. Jadi kalau dari Plaza Indonesia mau langsung berhenti lagi di Grand Indonesia juga bisa. Jadi bisa digunakan untuk jarak-jarak pendek, karena bukan kayak kereta api yang mesti kenceng," kata Ahok.
"Sehingga cocok untuk menghubungkan mal, perumahan mewah, perkantoran, bandara. Harga tiket Rp 20.000 juga laku. Atau langganan Rp 500.000 per bulan," lanjut dia.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/lagisolusi-tangani-macet-jakarta-bangun-lrt-di-sudirman-thamrin.html
Selain itu, Ahok bakal menawarkan pengelola gedung untuk membantu Pemprov DKI dalam membangun monorail pusat kota atau Light Rail Transit (LRT). Dengan begitu, Pemprov bakal memberikan hak udara di ruang publik untuk pengelola gedung tersebut.
"Jadi kita kasih mereka hak udara, nanti mereka kasih uang buat bangun. Mereka bilang, kalau mau perawatan yang lebih murah, lebih bagus lagi LRT kayak yang ada di Kuala Lumpur," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (5/6).
Ahok menegaskan PT Pembangunan Jaya saat ini sedang mempelajari dan mengkaji rencana tersebut. Ahok mengaku LRT lebih cocok digunakan di pusat kota Jakarta lantaran transportasi jarak pendek. Selain itu, biaya perawatan lebih murah ketimbang monorail.
"Model LRT ini lebih unggul dari kereta api karena naik bisa, turun bisa, nekuk pendek bisa. Jadi kalau dari Plaza Indonesia mau langsung berhenti lagi di Grand Indonesia juga bisa. Jadi bisa digunakan untuk jarak-jarak pendek, karena bukan kayak kereta api yang mesti kenceng," kata Ahok.
"Sehingga cocok untuk menghubungkan mal, perumahan mewah, perkantoran, bandara. Harga tiket Rp 20.000 juga laku. Atau langganan Rp 500.000 per bulan," lanjut dia.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/lagisolusi-tangani-macet-jakarta-bangun-lrt-di-sudirman-thamrin.html
Rabu, 19 Februari 2014
Monorel mandek, Ahok panggil PT Jakarta Monorail
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan memanggil PT Jakarta Monorail menyusul mandeknya pengerjaan proyek pembangunan monorel.
"Kita akan panggil mereka untuk ketemu dan melihat kalau mereka memang bilang sanggup, kita ingin tahu kapan gitu lho," kata Ahok di Balaikota, Selasa.
Hingga saat ini, Pemda DKI Jakarta belum mengetahui alasan terhentinya proyek, namun Ahok menduga karena menghadapi masalah keuangan.
"Kita tidak tahu pasti seperti apa kondisi mereka. Tapi denger-denger sih karena masalah finansial ya. Tapi mereka tidak mau mengakui," katanya.
Karena PT Jakarta Monorail memegang hak atas pembangunan proyek, maka Pemda DKI Jakarta tidak berhak turut campur dalam pembangunannya.
"Dulu dalam perjanjian juga Pemprov niatnya baik, tidak berfikir akan macet. Tapi begitu macet barang-barang yang dia bikin ditahan, dirobohkan enggak boleh. Tapi orang suruh kerja enggak boleh. Makanya kita beri ketegasan kalau enggak lanjutkan akan kita bongkar," katanya.
Ahok menegaskan akan merumuskan perjanjian baru dengan PT Jakarta Monorail, jika perusahaan ini tidak sanggup mengerjakan, maka proyek akan dibongkar karena dianggap bangunan tanpa ijin yang didirikan di atas lahan Pemda DKI Jakarta.
"Jadi kalau dia mau dengan perjanjian yang dirumuskan bersama ini, maka dia boleh terus tapi ada perjanjian kalau kali ini gagal maka semua barang yang sudah ada ini akan dibongkar. Nah ini yang akan kami masukkan dalam kontrak baru," katanya.
Ahok mengungkap sejak awal dia tidak yakin pada kapasitas PT Jakarta Monorail membangun monorel.
"Dikatakan bahwa monorel bukan bisnis yang baik, tapi dia ngotot. Ya makanya kita biarin aja, tapi ini kayak digantung gitu dong, kapan gitu lho, enggak jelas," katanya.
Jika PT Jakarta Monorail tidak segera mengerjakan, maka Pemda DKI Jakarta akan mencari investor lain.
"Dengan investor yang lain juga kita harus ada perjanjian yang jelas. Kemarin cuma bilang niat-niat tapi minggat, enggak ada yang bener gitu kan sama kaya deep tunnel gitu. Bilang ada swasta yang mau, tapi enggak," katanya.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/419631/monorel-mandek-ahok-panggil-pt-jakarta-monorail
"Kita akan panggil mereka untuk ketemu dan melihat kalau mereka memang bilang sanggup, kita ingin tahu kapan gitu lho," kata Ahok di Balaikota, Selasa.
Hingga saat ini, Pemda DKI Jakarta belum mengetahui alasan terhentinya proyek, namun Ahok menduga karena menghadapi masalah keuangan.
"Kita tidak tahu pasti seperti apa kondisi mereka. Tapi denger-denger sih karena masalah finansial ya. Tapi mereka tidak mau mengakui," katanya.
Karena PT Jakarta Monorail memegang hak atas pembangunan proyek, maka Pemda DKI Jakarta tidak berhak turut campur dalam pembangunannya.
"Dulu dalam perjanjian juga Pemprov niatnya baik, tidak berfikir akan macet. Tapi begitu macet barang-barang yang dia bikin ditahan, dirobohkan enggak boleh. Tapi orang suruh kerja enggak boleh. Makanya kita beri ketegasan kalau enggak lanjutkan akan kita bongkar," katanya.
Ahok menegaskan akan merumuskan perjanjian baru dengan PT Jakarta Monorail, jika perusahaan ini tidak sanggup mengerjakan, maka proyek akan dibongkar karena dianggap bangunan tanpa ijin yang didirikan di atas lahan Pemda DKI Jakarta.
"Jadi kalau dia mau dengan perjanjian yang dirumuskan bersama ini, maka dia boleh terus tapi ada perjanjian kalau kali ini gagal maka semua barang yang sudah ada ini akan dibongkar. Nah ini yang akan kami masukkan dalam kontrak baru," katanya.
Ahok mengungkap sejak awal dia tidak yakin pada kapasitas PT Jakarta Monorail membangun monorel.
"Dikatakan bahwa monorel bukan bisnis yang baik, tapi dia ngotot. Ya makanya kita biarin aja, tapi ini kayak digantung gitu dong, kapan gitu lho, enggak jelas," katanya.
Jika PT Jakarta Monorail tidak segera mengerjakan, maka Pemda DKI Jakarta akan mencari investor lain.
"Dengan investor yang lain juga kita harus ada perjanjian yang jelas. Kemarin cuma bilang niat-niat tapi minggat, enggak ada yang bener gitu kan sama kaya deep tunnel gitu. Bilang ada swasta yang mau, tapi enggak," katanya.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/419631/monorel-mandek-ahok-panggil-pt-jakarta-monorail
Kamis, 17 Oktober 2013
Siap-siap Macet Jakarta Makin Parah Karena Proyek Monorel
JAKARTA, Jaringnews.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperingatkan warganya bahwa proyek transportasi massal monorel akan berdampak pada kemacetan parah. Ditambah proyek MRT beberapa waktu lalu yang baru dibangun.
Kemacetan akibat proyek monorel ini akan menyerang kawasan Kuningan sampai ke arah Selatan Jakarta. Gubernur DKI Jakarta mengatakan ini konsekuensi.
"Kalau macet ya sudah pasti. Tapi apa kalau begitu MRT nggak usah ada? Monorel nggak usah ada? Kan nggak begitu," kata Jokowi di Kuningan Jakarta, Rabu (16/10).
Sementara Komisaris Utama PT Jakarta Monorail Edward Soeryadjaya berharap masyarakat bisa bersabar. Kata dia, jika Monorel sudah jadi, maka masyarakat juga yang akan menikmatinya.
"Ya bersabar. Justru ini hadir sebagai alat transportasi yang andal dan bebas hambatan. Ini jadi solusi dari kemacetan. Kan cuma 3 tahun pembangunannya," kata Edward di tempat yang sama.
Sebelumnya pembangunan MRT juga menyebabkan macet. Daerah yang macet diperkirakan di kawasan Sudirman, Fatmawati, sampai yang menuju Lebak Bulus.
Sumber : http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/50236/siap-siap-macet-jakarta-makin-parah-karena-proyek-monorel
Kemacetan akibat proyek monorel ini akan menyerang kawasan Kuningan sampai ke arah Selatan Jakarta. Gubernur DKI Jakarta mengatakan ini konsekuensi.
"Kalau macet ya sudah pasti. Tapi apa kalau begitu MRT nggak usah ada? Monorel nggak usah ada? Kan nggak begitu," kata Jokowi di Kuningan Jakarta, Rabu (16/10).
Sementara Komisaris Utama PT Jakarta Monorail Edward Soeryadjaya berharap masyarakat bisa bersabar. Kata dia, jika Monorel sudah jadi, maka masyarakat juga yang akan menikmatinya.
"Ya bersabar. Justru ini hadir sebagai alat transportasi yang andal dan bebas hambatan. Ini jadi solusi dari kemacetan. Kan cuma 3 tahun pembangunannya," kata Edward di tempat yang sama.
Sebelumnya pembangunan MRT juga menyebabkan macet. Daerah yang macet diperkirakan di kawasan Sudirman, Fatmawati, sampai yang menuju Lebak Bulus.
Sumber : http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/50236/siap-siap-macet-jakarta-makin-parah-karena-proyek-monorel
Label:
bebas hambatan
,
bersabar
,
bulus
,
dki
,
edward
,
fatmawati
,
jakarta
,
jaringnews
,
jokowi
,
kemacetan
,
kuningan
,
macet
,
monorail
,
monorel
,
mrt
,
proyek
,
soeryadjaya
,
transportasi
,
usah
Senin, 01 Juli 2013
Monorel Harus Selesai Kurang Tiga Tahun
JAKARTA (Suara Karya): Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terus mendorong megaproyek transportasi massal monorel selesai kurang dari tiga tahun. Pihak konsorsium PT Jakarta Monorail dan investor Ortus Holding juga menyatakan keyakinannya untuk menyelesaikan proyek bergengsi, salah satu moda transportasi untuk mengurai kemacetan Jakarta seperti yang diharapkan pemprov DKI.
"Saya mendorong segera kerjakan fisiknya di lapangan. Kalau bisa jangan tiga tahun sudah bisa kita lihat fisiknya. Karena masyarakat punya harapan Jakarta bisa melakukan seperti yang dilakukan kota lain. Saya ingin monorel selesai dalam waktu kurang tiga tahun," kata Jokowi usai acara Penandatanganan Perjanjian Keikutsertaan Konsorsium PT Jakarta Monorail di Balai Kota DKI, Jakarta, akhir pekan lalu.
Percepatan pembangunan monorel karena warga Jakarta mempunyai harapan besar terhadap transportasi massal berbasis rel ini untuk memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. Hal itu terlihat saat prototipe monorel diperlihatkan kepada masyarakat di Monas sejak 22 Juni 2013.
Banyak sekali harapan masyarakat yang terpancar akan masalah kemacetan yang menimpa warga Ibu Kota. Terlebih, tiang-tiang monorel sendiri sudah terbangun di beberapa titik di Jakarta. Masalah-masalah kecil yang akan dialami dalam pembangunan monorel, pembangunan akan tetap berjalan sekalian memecahkan semua masalah kecil itu.
"Fisik sudah terlihat, dan masyarakat punya harapan di mana Jakarta bisa sama seperti kota-kota besar di dunia. Lahan-lahan sudah siap. Kalau ada krikil-krikil kecil harus tetap jalan, sambil menyelesaikan masalah kecil itu," ujarnya.
Mantan Wali Kota Solo ini mengakui pembangunan monorel akan berdampak pada kemacetan yang cukup parah dibeberapa titik jalan Jakarta. Oleh sebab itu, Jokowi akan menginstruksikan Dinas Perhubungan untuk mengatur arus lalu lintas agar tidak menghambat perjalanan masyarakat.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa menyatakan optimistis monorel akan beroperasi dibawah kepemimpinan Jokowi.
Juga sebagai Ketua Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI), dia memberikan dukungan penuh agar proyek monorel berjalan dengan baik dan memberikan manfaat luar biasa mengurangi kemacetan di Jakarta.
"Bila proyek ini berjalan dengan baik, maka manfaat yang akan diberikan luar biasa. Bisa mengurangi beban masyarakat, mempercepat arus pergerakan manusia. Dan yang paling penting mengurangi kecelakaan. Hal seperti ini sangat penting bagi Ibu Kota," ujarnya.
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=329654
"Saya mendorong segera kerjakan fisiknya di lapangan. Kalau bisa jangan tiga tahun sudah bisa kita lihat fisiknya. Karena masyarakat punya harapan Jakarta bisa melakukan seperti yang dilakukan kota lain. Saya ingin monorel selesai dalam waktu kurang tiga tahun," kata Jokowi usai acara Penandatanganan Perjanjian Keikutsertaan Konsorsium PT Jakarta Monorail di Balai Kota DKI, Jakarta, akhir pekan lalu.
Percepatan pembangunan monorel karena warga Jakarta mempunyai harapan besar terhadap transportasi massal berbasis rel ini untuk memecahkan masalah kemacetan di Jakarta. Hal itu terlihat saat prototipe monorel diperlihatkan kepada masyarakat di Monas sejak 22 Juni 2013.
Banyak sekali harapan masyarakat yang terpancar akan masalah kemacetan yang menimpa warga Ibu Kota. Terlebih, tiang-tiang monorel sendiri sudah terbangun di beberapa titik di Jakarta. Masalah-masalah kecil yang akan dialami dalam pembangunan monorel, pembangunan akan tetap berjalan sekalian memecahkan semua masalah kecil itu.
"Fisik sudah terlihat, dan masyarakat punya harapan di mana Jakarta bisa sama seperti kota-kota besar di dunia. Lahan-lahan sudah siap. Kalau ada krikil-krikil kecil harus tetap jalan, sambil menyelesaikan masalah kecil itu," ujarnya.
Mantan Wali Kota Solo ini mengakui pembangunan monorel akan berdampak pada kemacetan yang cukup parah dibeberapa titik jalan Jakarta. Oleh sebab itu, Jokowi akan menginstruksikan Dinas Perhubungan untuk mengatur arus lalu lintas agar tidak menghambat perjalanan masyarakat.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa menyatakan optimistis monorel akan beroperasi dibawah kepemimpinan Jokowi.
Juga sebagai Ketua Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI), dia memberikan dukungan penuh agar proyek monorel berjalan dengan baik dan memberikan manfaat luar biasa mengurangi kemacetan di Jakarta.
"Bila proyek ini berjalan dengan baik, maka manfaat yang akan diberikan luar biasa. Bisa mengurangi beban masyarakat, mempercepat arus pergerakan manusia. Dan yang paling penting mengurangi kecelakaan. Hal seperti ini sangat penting bagi Ibu Kota," ujarnya.
Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=329654
Label:
dki
,
fisik
,
harapan
,
ibu kota
,
jakarta
,
jokowi
,
kecil
,
kemacetan
,
konsorsium
,
massal
,
masyarakat
,
monorail
,
monorel
,
pembangunan
,
percepatan
,
proyek
,
transportasi
Senin, 06 Mei 2013
Andalkan Kapasitas, MRT Diyakini Bisa Atasi Macet
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proyek pembangunan MRT) akan segera dimulai. Meski membutuhkan waktu dalam perampungannya, Pemprov DKI meyakini MRT mampu mengatasi kemacetan Ibu Kota.
Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, proyek pembangunan MRT akan berlangsung sekitar empat tahun. Pengerjaan pembangunan dimulai di 2013 ini dan direncanakan selesai di 2017.
"Proyek dimulai, insya Allah tidak lewat dari tahun ini. Rencananya, selesai akhir 2017," ujar Tuhiyat dalam pesan singkatnya kepada Republika, Sabtu (4/5).
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono meyakini, dengan dibangunnya proyek MRT ini, nantinya tingkat kemacetan di Jakarta akan berkurang. "Kemacetan, lama-kelamaan terkikis," katanya.
Pristono mengatakan, sejumlah alasan mengapa MRT mampu mengurangi kemacetan Jakarta. Ia menyebut kapasitas angkut penumpang MRT yang tinggi. Yaitu, sekitar dua kali lipat dibanding monorail dan delapan kali lipat bila dibandingkan dengan Transjakarta.
"Kapasitasnya tinggi. MRT mampu mengangkut sekitar 40 ribu penumpang per jam per arah," ujarnya. Bahkan, bila sudah bisa digunakan, MRT mampu mengangkut sekitar 500 ribu penumpang per hari.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/05/04/mm9yks-andalkan-kapasitas-mrt-diyakini-bisa-atasi-macet
Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, proyek pembangunan MRT akan berlangsung sekitar empat tahun. Pengerjaan pembangunan dimulai di 2013 ini dan direncanakan selesai di 2017.
"Proyek dimulai, insya Allah tidak lewat dari tahun ini. Rencananya, selesai akhir 2017," ujar Tuhiyat dalam pesan singkatnya kepada Republika, Sabtu (4/5).
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono meyakini, dengan dibangunnya proyek MRT ini, nantinya tingkat kemacetan di Jakarta akan berkurang. "Kemacetan, lama-kelamaan terkikis," katanya.
Pristono mengatakan, sejumlah alasan mengapa MRT mampu mengurangi kemacetan Jakarta. Ia menyebut kapasitas angkut penumpang MRT yang tinggi. Yaitu, sekitar dua kali lipat dibanding monorail dan delapan kali lipat bila dibandingkan dengan Transjakarta.
"Kapasitasnya tinggi. MRT mampu mengangkut sekitar 40 ribu penumpang per jam per arah," ujarnya. Bahkan, bila sudah bisa digunakan, MRT mampu mengangkut sekitar 500 ribu penumpang per hari.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/05/04/mm9yks-andalkan-kapasitas-mrt-diyakini-bisa-atasi-macet
Label:
dki
,
ibu kota
,
jakarta
,
kapasitas
,
kemacetan
,
lipat
,
monorail
,
mrt
,
pembangunan
,
penumpang
,
perampungan
,
pristono
,
proyek
,
republika
,
ribu
,
transjakarta
,
tuhiyat
,
udar
Kamis, 18 Oktober 2012
Butuh Empat Koridor MRT untuk Atasi Kemacetan Jakarta
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi-Basuki, menyatakan bakal mencoba membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan monorail.
Namun, jika harus memilih, pasangan ini lebih memilih membangun monorail ketimbang MRT.
Menurut pengamat transportasi dari Universitas Indonesia Alvinsyah, pembangunan MRT bisa menjawab solusi tranportasi massal di Jakarta. Karena, moda transportasi yang ada di Jakarta saat ini belum bisa melayani masyarakat dengan baik.
"Bahkan, perlu ada empat koridor MRT untuk bisa mengatasi kemacetan di Jakarta. Dalam rancangan pembangunannya, MRT di tahun ketiga mampu membawa 412 ribu penumpang per hari. Sedangkan monorail, seharinya diperkirakan hanya mampu membawa 39.400 penumpang," ujar Alvinsyah, Rabu (17/10/2012).
Mengenai isu penundaan bahkan pembatalan proyek MRT, Alvinsyah berpendapat bahwa Jokowi-Basuki tidak bisa begitu saja membatalkan pembangunan MRT di Jakarta.
Sebab, pembangunan MRT sudah terikat dalam perjanjian hukum antara Japan International Corporation Agency (JICA) dengan Pemprov DKI dan pemerintah pusat.
Bila dibatalkan, lanjutnya, harus dipastikan tidak ada denda penalti yang akan memberatkan APBD DKI Jakarta.
Dikatakannya, jika gubernur akan menunda pembangunan MRT karena melanjutkan monorail, maka harus dilihat dulu peluang pembatalan tersebut. Sebab, pembangunan MRT menggunakan pinjaman dari JICA.
"Di dalam pinjaman itu terdapat perjanjian antara sejumlah stakeholder. Bila ada peluang untuk menunda atau sampai membatalkan, tidak masalah dilakukan. Jika tidak ada peluang, maka pembangunan ini harus tetap dilaksanakan," paparnya.
Alvinsyah pun sangat menyayangkan jika proyek MRT di Jakarta terancam batal. Menurutnya, Jakarta sudah sangat butuh moda transportasi massal setingkat MRT.
Kondisi Jakarta saat ini yang penuh dengan kemacetan panjang akibat penggunaan kendaraan pribadi, harus disikapi dengan penyediaan fasilitas transportasi publik dengan kapasitas tinggi.
"Kemudian soal dana. Dana yang digunakan untuk membangun MRT sudah jelas menggunakan pinjaman dari JICA. Pinjaman itu akan dibayar oleh Pemprov DKI bersama pemerintah pusat. Sedangkan pembangunan monorail belum diketahui sumber dananya," jelasnya. (*)
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/10/17/butuh-empat-koridor-mrt-untuk-atasi-kemacetan-jakarta
Namun, jika harus memilih, pasangan ini lebih memilih membangun monorail ketimbang MRT.
Menurut pengamat transportasi dari Universitas Indonesia Alvinsyah, pembangunan MRT bisa menjawab solusi tranportasi massal di Jakarta. Karena, moda transportasi yang ada di Jakarta saat ini belum bisa melayani masyarakat dengan baik.
"Bahkan, perlu ada empat koridor MRT untuk bisa mengatasi kemacetan di Jakarta. Dalam rancangan pembangunannya, MRT di tahun ketiga mampu membawa 412 ribu penumpang per hari. Sedangkan monorail, seharinya diperkirakan hanya mampu membawa 39.400 penumpang," ujar Alvinsyah, Rabu (17/10/2012).
Mengenai isu penundaan bahkan pembatalan proyek MRT, Alvinsyah berpendapat bahwa Jokowi-Basuki tidak bisa begitu saja membatalkan pembangunan MRT di Jakarta.
Sebab, pembangunan MRT sudah terikat dalam perjanjian hukum antara Japan International Corporation Agency (JICA) dengan Pemprov DKI dan pemerintah pusat.
Bila dibatalkan, lanjutnya, harus dipastikan tidak ada denda penalti yang akan memberatkan APBD DKI Jakarta.
Dikatakannya, jika gubernur akan menunda pembangunan MRT karena melanjutkan monorail, maka harus dilihat dulu peluang pembatalan tersebut. Sebab, pembangunan MRT menggunakan pinjaman dari JICA.
"Di dalam pinjaman itu terdapat perjanjian antara sejumlah stakeholder. Bila ada peluang untuk menunda atau sampai membatalkan, tidak masalah dilakukan. Jika tidak ada peluang, maka pembangunan ini harus tetap dilaksanakan," paparnya.
Alvinsyah pun sangat menyayangkan jika proyek MRT di Jakarta terancam batal. Menurutnya, Jakarta sudah sangat butuh moda transportasi massal setingkat MRT.
Kondisi Jakarta saat ini yang penuh dengan kemacetan panjang akibat penggunaan kendaraan pribadi, harus disikapi dengan penyediaan fasilitas transportasi publik dengan kapasitas tinggi.
"Kemudian soal dana. Dana yang digunakan untuk membangun MRT sudah jelas menggunakan pinjaman dari JICA. Pinjaman itu akan dibayar oleh Pemprov DKI bersama pemerintah pusat. Sedangkan pembangunan monorail belum diketahui sumber dananya," jelasnya. (*)
Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/10/17/butuh-empat-koridor-mrt-untuk-atasi-kemacetan-jakarta
Label:
alvinsyah
,
jakarta
,
kemacetan
,
membatalkan
,
monorail
,
pembangunan
,
pembatalan
,
pemerintah
,
penumpang
,
perjanjian
,
transportasi
Minggu, 15 Juli 2012
Tiap Tahun Penduduk Jakarta Habiskan Rp 14 Triliun di Jalan Karena Macet
Jakarta - Persoalan infrastruktur jalan di Indonesia masih banyak ditemui di beberapa daerah. Salah satunya di Jakarta, persoalan infrastruktur jalan yang semrawut menyebabkan kemacetan dimana-mana.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Infrastruktur, Konstruksi dan Properti, HM Zulkarnain menuturkan, gara-gara macet, para pengendara kendaraan baik motor atau mobil, menghabiskan uangnya sebesar Rp 14 triliun setiap tahun.
"Orang di Jakarta di jalanan mereka habiskan Rp 14 triliun per tahun, harusnya dia cuma habiskan 1 liter bensin untuk perjalanannya, ini bisa jadi 3 liter gara-gara macet, high cost kan jadinya," ungkap Zulkarnain saat dihubungi detikFinance, Rabu (11/7/12).
Saat ini, Zulkarnain mengungkapkan kecepatan yang ditempuh pengendara mobil sekitar 30 km/jam karena kemacetan, parahnya, apabila belum ada solusi untuk persoalan infrastruktur ini, pada tahun 2015, hanya 5 km/jam kecepatan rata-rata yang bisa ditempuh oleh sebuah mobil.
"Jakarta kita rata-ratakan sekarang 30 km/jam karena diakibatkan kemacetan, kemungkinan 5 km/jam di 2015 sampai 2020, seiring meningkatnya volume kendaraan," tambahnya.
Pembangunan jalan tol yang mandek hingga sekarang, adalah salah satu faktor terjadinya kemacetan. Zulkarnain mengatakan, negara kita hanya memiliki ruas jalan tol sepanjang 700 km yang terbagi 85% di Pulau Jawa, dan 15% di luar Pulau Jawa.
"Kita punya jalan tol 700 km, di jawa 85 % 15%. Bayangkan dengan di China, Malaysia ribuan kilometer, infrastruktur kita kacau," ungkapnya.
Lebih lanjut dia menambahkan, proyek monorail pun saat ini tak kunjung selesai.
"Monorail nggak ada di depan kita. Kenapa kita nggak lanjutkan monorail, karena itu kalau nanti gubernur terpilih, monorail lanjutkan, kereta api antar provinsi selesaikan. Harus ada keberanian dari seorang pemimpin," pungkasnya.
Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/07/12/082625/1963283/4/tiap-tahun-penduduk-jakarta-habiskan-rp-14-triliun-di-jalan-karena-macet
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Infrastruktur, Konstruksi dan Properti, HM Zulkarnain menuturkan, gara-gara macet, para pengendara kendaraan baik motor atau mobil, menghabiskan uangnya sebesar Rp 14 triliun setiap tahun.
"Orang di Jakarta di jalanan mereka habiskan Rp 14 triliun per tahun, harusnya dia cuma habiskan 1 liter bensin untuk perjalanannya, ini bisa jadi 3 liter gara-gara macet, high cost kan jadinya," ungkap Zulkarnain saat dihubungi detikFinance, Rabu (11/7/12).
Saat ini, Zulkarnain mengungkapkan kecepatan yang ditempuh pengendara mobil sekitar 30 km/jam karena kemacetan, parahnya, apabila belum ada solusi untuk persoalan infrastruktur ini, pada tahun 2015, hanya 5 km/jam kecepatan rata-rata yang bisa ditempuh oleh sebuah mobil.
"Jakarta kita rata-ratakan sekarang 30 km/jam karena diakibatkan kemacetan, kemungkinan 5 km/jam di 2015 sampai 2020, seiring meningkatnya volume kendaraan," tambahnya.
Pembangunan jalan tol yang mandek hingga sekarang, adalah salah satu faktor terjadinya kemacetan. Zulkarnain mengatakan, negara kita hanya memiliki ruas jalan tol sepanjang 700 km yang terbagi 85% di Pulau Jawa, dan 15% di luar Pulau Jawa.
"Kita punya jalan tol 700 km, di jawa 85 % 15%. Bayangkan dengan di China, Malaysia ribuan kilometer, infrastruktur kita kacau," ungkapnya.
Lebih lanjut dia menambahkan, proyek monorail pun saat ini tak kunjung selesai.
"Monorail nggak ada di depan kita. Kenapa kita nggak lanjutkan monorail, karena itu kalau nanti gubernur terpilih, monorail lanjutkan, kereta api antar provinsi selesaikan. Harus ada keberanian dari seorang pemimpin," pungkasnya.
Sumber : http://finance.detik.com/read/2012/07/12/082625/1963283/4/tiap-tahun-penduduk-jakarta-habiskan-rp-14-triliun-di-jalan-karena-macet
Label:
infrastruktur
,
jakarta
,
jalan
,
kecepatan
,
kemacetan
,
kendaraan
,
lanjutkan
,
mobil
,
monorail
,
pengendara
,
persoalan
,
zulkarnain
Langganan:
Postingan
(
Atom
)