Tampilkan postingan dengan label dita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2014

Sistem Cerdas ITB Urai Kemacetan Panjang

TEMPO.CO, Jakarta - Mahasiswa ITB membuat sistem pengurai kemacetan panjang di persimpangan jalan. Lampu pengatur lalu lintas mereka atur tiap fase kerjanya maksimal hanya tiga menit.

Tim yang beranggotakan Amral Nazar, Dita Amalia, dan Anissa Sachi tersebut, membuat pengaturan lalu lintas cerdas dengan konsep okupansi. Sistem buatan mereka akan bekerja untuk memantau kondisi lalu lintas, kemudian menghasilkan durasi nyala lampu sesuai panjang antrean kendaraan di tiap persimpangan. "Saat antrian panjang, lampu merah otomatis akan lebih cepat dan lampu hijau menyala lebih lama," kata Amral kepada Tempo, Selasa, 3 Juni 2014, saat pameran karya tugas akhir di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung 3-6 Juni 2014.

Sistem itu mereka akui tidak akan sanggup menghilangkan kemacetan. "Karena kendaraan bermotor terus bertambah, kami hanya berusaha mengurangi antrian panjang," ujar Dita Amalia. Caranya dengan mengurangi durasi nyala lampu tiap fase, yakni nyala lampu kuning, merah, dan hijau, menjadi maksimal dalam tiga menit.

Di Bandung, misalnya, durasi fase lampu pengatur lalu lintas ada yang lebih dari tiga menit, seperti di jalan bypass Soekarno-Hatta saat pagi dan sore. "Suka tersiksa panas, seperti dijemur di jalan," kata Iwan Kurniawan, seorang pengendara sepeda motor. Ia menyebut, lama waktu lampu merah bisa sampai dua menit atau 120 detik, seperti tertera di papan penghitung waktu lampu lalu lintas.

Menurut Anissa, mereka membagi sistem mereka ke tiga bagian, yakni proses gambar digital, proses data, dan pengendalian lampu lalu lintas. Gambar digital mereka peroleh dari kamera video Dinas Perhubungan Kota Bandung yang dipasang di tiang lampu lalu lintas. Dari kamera itu, diperoleh gambaran panjang antrean kendaraan di persimpangan jalan saat lampu menyala merah.

Gambar kondisi secara real time itu kemudian diolah mini kit komputer Raspberry-Pi yang dipasang di dalam kotak perangkat di tiang lampu lalu lintas. "Kemudian dihitung panjang antrian kendaraan pada tiap lengan (ruas) jalan di tiap persimpangan, lalu dikirim lewat jaringan Wi-Fi ke server," kata Anissa. Server bisa mengolah data dari empat persimpangan jalan, kemudian mengatur waktu siklus dan menghasilkan waktu optimum nyala lampu hijau. Hasilnya dikirim kembali ke perangkat di tiang lampu lalu lintas.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/06/03/061582242/Sistem-Cerdas-ITB-Urai-Kemacetan-Panjang

Senin, 02 Juni 2014

Buang Sampah ke Kali, Kebiasaan Buruk yang Sulit Dihilangkan

Jakarta, HanTer – Tarjo, warga yang tinggal di dekat kali mengatakan dirinya terkadang juga masih suka buang sampah ke kali, oleh karenanya ia mengaku tidak bisa mencegah tetangganya saat tengah buang sampah di kali.

“Saya juga kadang masih buang sampah di kali, nggak bisa nyegah tetangga,” ujarnya kepada Harian Terbit, di dekat kali Roxi Jakarta Barat, Minggu (1/6).

Menurut Tarjo memang sudah disediakan tempat sampah oleh pemerintah DKI Jakarta, namun sampah dalam setiap hari selalu banyak, kadang numpuk dan mengeluarkan bau tak sedap. “Jadi warga memilih membuang langsung di kali,” ucapnya.

Tarjo yang sehari-hari bekerja serabutan ini sudah bertahun-tahun tinggal di Roxi dan pernah merasakan rumah kecilnya diterjang banjir. Sedikit diceritakannya bukan hanya warga asli saja yang sudah terbiasa membuang sampah di kali. “Ya siapa aja mas, banyak kalau disebut,” bebernya.

Ketika ditanya apakah ada bantuan pemerintah DKI dalam hal kerja bakti bersama yang rutin diadakan seperti sebulan dua kali atau sekali, dan dibiayai pemda dalam hal konsumsi, alat dan kaos bertuliskan “Kali Bersih, Jakarta Sehat dan Bebas Banjir” Tarjo hanya tersenyum. “Nggak ada, tapi ini (kali) pernah dikeruk,” imbuhnya.

Dari penelusuran Harian Terbit, tumpukan-tumpukan sampah masih berjejer di pinggiran kali, apabila hujan turun tentu saja sampah tersebut akan terbawa arus air kali yang bisa saja naik.

Sumber : http://www.harianterbit.com/read/2014/06/02/3048/18/18/Buang-Sampah-ke-Kali-Kebiasaan-Buruk-yang-Sulit-Dihilangkan

Rabu, 06 November 2013

Presiden Malu Ditegur soal Kemacetan Jakarta

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa dirinya merasa malu ketika ditanya mengenai kemacetan yang makin parah di Jakarta oleh para pemimpin dunia.

Presiden Yudhoyono menegaskan tidak bisa berbuat banyak mengatasi kemacetan Jakarta, karena yang bertanggungjawab Gubernur.

“Saat pertemuan ASEAN Summit di Brunei, saya juga seperti tertusuk bertemu teman saya yang perdana menteri. Ada yang bertanya, Pak (SBY), di Jakarta dari airport ke down town (pusat kota) bisa dua jam yah,” kata Presiden saat menerima kunjungan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (4/11).

Ia pun bercerita, hanya bisa membenarkan pernyataan orang-orang tersebut. Bahkan, ia pun mengaku tidak enak menjelaskan solusinya, karena pemerintah pusat hanya membantu memberikan kemudahan.

"Bisa saja kalau ada kemacetan. Kan tidak enak ditanya bagaimana cara solusinya. Di Jakarta, di Bandung, di Surabaya di mana-mana gitu. Yang harus jelaskan gubernur dan wali kota, begini Pak (perdana menteri negara lain) konsep kami, pemerintah pusat bisa membantu memberikan kemudahan-kemudahan, memang betul efeknya banyak sekali kalau macet, saya bisa bayangkan,” ungkap Presiden.

Setelah bercerita mengenai percakapannya dengan perdana menteri negara sahabat, Presiden dalam kesempatan tersebut, meminta Kadin agar langsung menemui Gubernur Jakarta Jokowi jika ada keluhan mengenai kemacetan Jakarta.

"Soal lalu lintas, Kadin tidak dilarang datang ke gubernur. Kalau biang kemacetan di Jakarta datang lah ke Jokowi, kalau biang kemacetan di Bandung datang lah ke Pak Ahmad Heryawan atau Wali Kota Bandung, Semarang, Medan, Makassar," kata Presiden.

Saat ini, kata Presiden, Indonesia sudah menganut desentralisasi, oleh sebab itu kepala daerah lah yang mempunyai peranan untuk mengatasi kemacetan di wilayahnya.

"Sekarang kita menganut desentralisasi di daerah. Jangan unjuk rasa bolak balik ke Istana, sudah terbagi, semuanya bertanggung jawab pasti. Kalau bapak datang baik-baik akan direspon. Itulah tugas gubernur, bupati dan wali kota yang kebetulan bermasalah (kemacetan)," tukas Presiden Yudhoyono.

Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/04/1/192289/Presiden-Malu-Ditegur-soal-Kemacetan-Jakarta