Metrotvnews.com, Jakarta: Proyek angkutan sungai (Waterway) yang digagas Pemprov DKI Jakarta sia-sia. Pasalnya, hingga saat ini alat transportasi air yang bertujuan mengurangi beban di jalan tidak beroperasi secara maksimal.
Pengamat Perkotaan Nirwono Joga mengungkapkan, proyek Waterway yang menghubungkan Marunda ke Muara Baru, Jakarta Utara itu seperti dibuat setengah hati tanpa perencanaan yang matang. Padahal kata dia, transportasi air sangat membantu mengurangi kemacetan Jakarta.
"Waterway yang diresmikan di Muara Angkeh enggak jelas," kata Nirwono kepada Metrotvnews.com, Minggu (30/8/2015).
Bahkan menurut koordinator Gerakan Indonesia Menghijau ini, proyek Waterway merupakan bentuk kegagalan Pemprov DKI Jakarta dalam menyediakan alat transportasi alternatif yang mapan. "Waterway bisa dibilang gagal lah," tegas dia.
Seperti diketahui, proyek Waterway diresmikan pada masa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada 12 Februari 2013. Waterway mulanya diprioritaskan untuk penghuni rusunawa Marunda yang mengalami kesulitan akses trasnportasi menuju Muara Baru.
Waterway ini baru memiliki dua unit kapal khusus berkapasitas 24 penumpang dengan kecepatan 20 knot perjam, jarak Marunda-Muara Baru sepanjang 11 mil atau 17,7 kilometer bisa ditempuh selama 30 menit.
Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/2015/08/30/163904/proyek-waterway-jakarta-bentuk-kegagalan-pemprov-dki
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label joga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joga. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Agustus 2015
Proyek Waterway Jakarta Bentuk Kegagalan Pemprov DKI
Label:
alat
,
angkeh
,
dki
,
jakarta
,
joga
,
knot
,
marunda
,
marunda-muara
,
metrotvnews
,
muara
,
nirwono
,
pemprov
,
perjam
,
proyek
,
rusunawa
,
sia-sia
,
transportasi
,
trasnportasi
,
waterway
Selasa, 24 Juni 2014
Pengamat: Jakarta Itu Kota Metropolitan, Bukan Kampung Raksasa
JAKARTA - Pengamat Perkotaan Nirwono Joga menilai, permasalahan darurat yang dialami Jakarta seperti banjir adn macet belum diselesaikan dengan baik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Tagline HUT DKI tahun ini kan Jakarta Baru, Jakarta Maju. Tapi saya lihat sekarang ibu kota itu Jakarta Setengah Baru," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Minggu 22 Juni 2014 malam.
Pasalnya masih banyak yang harus dikerjakan oleh Pemprov DKI untuk mendapatkan progress yang terlihat oleh masyarakat.
"Ada program yang terealisasi ada pula yang masih jadi PR buat gubernur sekarang dan bawahannya," tukasnya.
Menurut Joga yang dapat diapresiasi adalah penggunaan Kartu Jakarta Sehat, Kartu Jakarta Pintar, Kampung Deret, Waduk Ria-Rio, Waduk Pluit, dan Seleksi dan Promosi Terbuka (SPT) atau yang lebih dikenal dengan lelang jabatan.
Sementara itu yang masih terus menjadi perhatian ialah yang tiap tahun dan terus-menerus dilontarkan ialah Banjir dan Macet setelah itu Normalisasi Kali dan Situ, Penataan Kampung Kumuh, Penataan PKL.
"Jakarta itu kota metropolitan, bukan kampung raksasa, masih banyak PR kedepan. Saya berharap 2017 harus ada perubahan signifikan. Karena kalau gitu-gitu aja nanti saya ketemu anda ngomonginnya terus banjir dan macet," tukasnya.
Sumber : http://metro.sindonews.com/read/876133/31/pengamat-jakarta-itu-kota-metropolitan-bukan-kampung-raksasa
"Tagline HUT DKI tahun ini kan Jakarta Baru, Jakarta Maju. Tapi saya lihat sekarang ibu kota itu Jakarta Setengah Baru," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Minggu 22 Juni 2014 malam.
Pasalnya masih banyak yang harus dikerjakan oleh Pemprov DKI untuk mendapatkan progress yang terlihat oleh masyarakat.
"Ada program yang terealisasi ada pula yang masih jadi PR buat gubernur sekarang dan bawahannya," tukasnya.
Menurut Joga yang dapat diapresiasi adalah penggunaan Kartu Jakarta Sehat, Kartu Jakarta Pintar, Kampung Deret, Waduk Ria-Rio, Waduk Pluit, dan Seleksi dan Promosi Terbuka (SPT) atau yang lebih dikenal dengan lelang jabatan.
Sementara itu yang masih terus menjadi perhatian ialah yang tiap tahun dan terus-menerus dilontarkan ialah Banjir dan Macet setelah itu Normalisasi Kali dan Situ, Penataan Kampung Kumuh, Penataan PKL.
"Jakarta itu kota metropolitan, bukan kampung raksasa, masih banyak PR kedepan. Saya berharap 2017 harus ada perubahan signifikan. Karena kalau gitu-gitu aja nanti saya ketemu anda ngomonginnya terus banjir dan macet," tukasnya.
Sumber : http://metro.sindonews.com/read/876133/31/pengamat-jakarta-itu-kota-metropolitan-bukan-kampung-raksasa
Rabu, 21 November 2012
Atasi Banjir, Jakarta Perlu Terapkan Eco-Drainase
Kita harus mulai bangun (persepsi) bahwa musim hujan adalah saatnya panen air, bukan membuang air.
Seluruh warga DKI Jakarta dan pemangku kepentingan diminta merubah persepsi kata 'banjir' yang selama ini menjadi persoalan utama tak kunjung terbenahi.
Konsep musim hujan sebagai musim banjir, dianggap menjadi salah satu penyebab utama permasalahan ini mengakar hingga saat ini.
Pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, dengan konsep pemikiran yang demikian, maka cara menanggulangi banjir menjadi tidak efektif alias masih nol.
"Kenapa masih nol? Karena semua berfikir bagaimana caranya mengalirkan air sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya ke laut," katanya, saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (19/11).
Menurut Joga, mulai sekarang Jakarta sebaiknya menerapkan konsep eco-drainase yang saat ini banyak diterapkan negara lain. Eco-drainase merupakan konsep menyerap air hujan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah.
"Kita harus mulai bangun (persepsi) bahwa musim hujan adalah saatnya panen air, bukan membuang air. Mari cara berfikirnya dibalik," ujarnya.
Dengan cara itu, menurut Joga, setiap warga diminta berpikir bagaimana saluran air yang ada dapat mengarahkan air ke daerah tempat penampungan air, sebelum akhirnya tetap menuju ke laut.
"Diperbanyak kesempatan air menyerap ke tanah, masuk ke sumur resapan air, baru sisanya dibuang ke sisi saluran air. Ini harus mulai dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov), dengan mengajak warga dengan membuat sumur resapan air portabel," paparnya.
Menurut Joga, dua kesalahan terbesar yang pernah dibuat Pemprov DKI adalah permasalahan tata ruang, yakni mengeruk saluran air, membangun permukiman di daerah jalur hijau dan revitalisasi sungai.
"Dengan melebarkan badan air misalnya 50 meter, dan kiri-kanan sungai diperluas ruang terbuka hijau (RTH)-nya sepanjang 50 meter, itu dijamin tidak banjir, karena tidak ada permukiman lagi di mulut sungai," ungkapnya.
Yoga menghimbau, pendekatan Jokowi menangani banjir adalah dengan fokus pada titik rawan banjir berdasarkan peta, mengecek regulasi dan legalisasi lahan, menggandeng swasta dan warga untuk menata kawasan terpadu ramah lingkungan atau menugaskan instansi dan SKPD terkait untuk menangani ini.
"Yang terakhir adalah, lakukan hal tersebut di lokasi kantong kemenangan Jokowi-Ahok kemarin. Tujuannya adalah supaya tidak ada resistensi dari masyarakat yang takut akan penggusuran. Ini yang dinamakan taktik meraih kepercayaan publik. Apabila di daerah ini berhasil, maka bisa dijadikan contoh untuk di daerah lain," tandasnya.
Sumber : http://www.beritasatu.com/peristiwa-megapolitan/83807-atasi-banjir-jakarta-perlu-terapkan-eco-drainase.html
Seluruh warga DKI Jakarta dan pemangku kepentingan diminta merubah persepsi kata 'banjir' yang selama ini menjadi persoalan utama tak kunjung terbenahi.
Konsep musim hujan sebagai musim banjir, dianggap menjadi salah satu penyebab utama permasalahan ini mengakar hingga saat ini.
Pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, dengan konsep pemikiran yang demikian, maka cara menanggulangi banjir menjadi tidak efektif alias masih nol.
"Kenapa masih nol? Karena semua berfikir bagaimana caranya mengalirkan air sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya ke laut," katanya, saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (19/11).
Menurut Joga, mulai sekarang Jakarta sebaiknya menerapkan konsep eco-drainase yang saat ini banyak diterapkan negara lain. Eco-drainase merupakan konsep menyerap air hujan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah.
"Kita harus mulai bangun (persepsi) bahwa musim hujan adalah saatnya panen air, bukan membuang air. Mari cara berfikirnya dibalik," ujarnya.
Dengan cara itu, menurut Joga, setiap warga diminta berpikir bagaimana saluran air yang ada dapat mengarahkan air ke daerah tempat penampungan air, sebelum akhirnya tetap menuju ke laut.
"Diperbanyak kesempatan air menyerap ke tanah, masuk ke sumur resapan air, baru sisanya dibuang ke sisi saluran air. Ini harus mulai dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov), dengan mengajak warga dengan membuat sumur resapan air portabel," paparnya.
Menurut Joga, dua kesalahan terbesar yang pernah dibuat Pemprov DKI adalah permasalahan tata ruang, yakni mengeruk saluran air, membangun permukiman di daerah jalur hijau dan revitalisasi sungai.
"Dengan melebarkan badan air misalnya 50 meter, dan kiri-kanan sungai diperluas ruang terbuka hijau (RTH)-nya sepanjang 50 meter, itu dijamin tidak banjir, karena tidak ada permukiman lagi di mulut sungai," ungkapnya.
Yoga menghimbau, pendekatan Jokowi menangani banjir adalah dengan fokus pada titik rawan banjir berdasarkan peta, mengecek regulasi dan legalisasi lahan, menggandeng swasta dan warga untuk menata kawasan terpadu ramah lingkungan atau menugaskan instansi dan SKPD terkait untuk menangani ini.
"Yang terakhir adalah, lakukan hal tersebut di lokasi kantong kemenangan Jokowi-Ahok kemarin. Tujuannya adalah supaya tidak ada resistensi dari masyarakat yang takut akan penggusuran. Ini yang dinamakan taktik meraih kepercayaan publik. Apabila di daerah ini berhasil, maka bisa dijadikan contoh untuk di daerah lain," tandasnya.
Sumber : http://www.beritasatu.com/peristiwa-megapolitan/83807-atasi-banjir-jakarta-perlu-terapkan-eco-drainase.html
Label:
air
,
bangun
,
banjir
,
cara
,
daerah
,
eco-drainase
,
fikir
,
joga
,
konsep
,
musim hujan
,
nol
,
pemprov
,
permukiman
,
persepsi
,
resapan
,
saluran air
,
sebanyak-banyak
,
sumur
,
warga
Langganan:
Postingan
(
Atom
)