Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

"Floo Ride Sharing", aplikasi untuk solusi kemacetan ibu kota

Bandung (ANTARA News) - Aplikasi berbagi bangku kendaran yang dinamai Floo Ride Sharing for Better Mobility dinilai akan menjadi solusi kemacetan di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta.

"TIK (teknologi informatika) dapat digunakan sebagai infrastruktur baru untuk membantu memudahkan dalam berbagai hal, seperti padatnya orang di Jakarta, siang 10 juta orang, malamnya 6 juta orang, berarti ada 4 juta orang yang mobile masuk ke Jakarta, belum lagi aktivitas orang Jakarta itu sendiri," kata Agus Bambang Setowidodo, Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta dalam kompetisi 'Smart City' yang berlangsung di Bandung, Senin (27/8).

"Fenomena ini menimbulkan masalah-masalah sosial dengan TIK bisa menangani masalah-masalah ini," lanjutnya.

Aplikasi Floo Ride Sharing for Better Mobility ini menjadi juara pertama dan juara umum dalam kompetisi aplikasi 'Smart City' yang diadakan BlackBerry bekerja sama dengan BlackBerry Inovation Center (BBIC).

"Karena konsep kita adalah 'Smart City', konsep secara keseluruhan untuk mengatasi kondisi yang paling berat di Jakarta yaitu kemacetan, aplikasi ini bisa jadi solusi," kata salah satu perwakilan dewan juri.

Walaupun ide ride sharing sudah meluas, namun dewan juri melihat aplikasi ini memiliki tingkat keamanan yang baik.

Pembuat aplikasi Floo Ride Sharing, Ricky Kurniawan, sendiri mengaku isu keamanan merupakan isu utama dalam pengembangan aplikasi ini. Ia mengandalkan sosial media, Facebook, sebagai alat untuk menjaga keamanan.

"Karena di Indonesia orang kan sangat sosial, di Facebook orang bisa memiliki teman 500-1000 orang, nah kita berangkat dari situ, bukan hanya dari teman kita sendiri tapi dari temannya teman kita atau second friends," kata Ricky.

"Melalui aplikasi ini, dengan memanfaatkan sosial media yang sudah ada, kami mencoba memecahkan solusi kemacetan. Semakin banyak orang berbagi kendaran, akan semakin sedikit mobil dijalan," tambahnya.

Tentang Floo Ride Sharing for Better Mobility

Ricky Kurniawan mengaku ide awal pembuatan aplikasi ini adalah kemacetan di Jakarta yang sudah semakin parah.

"Pemerintah sudah melakukan banyak hal, mulai dari MRT hingga Busway, nah dari sini kami melihat apa sih bisa dilakukan masyarakat, yang bisa dilakukan adalah kita berbagi perjalanan kita, kita berbagi tunggangan kita," katanya.

"Jadi kalau misalkan orang naik mobil sendirian, kenapa enggak kita berdua atau bertiga, ada kursi kosongkita tawarkan ke orang, dari situ kan bisa sharing cost-nya, sharing cost tol dan lain-lain, sehingga perjalanan itu menjadi semakin efisien," lanjutnya.

Lebih lanjut Ricky menjelaskan aplikasi yang fokus pada layanan ini menawarkan dua pilihan, mencari penumpang atau mencari tumpangan. Profil pengguna aplikasi ini dihubungkan dengan Facebook, sehingga pengguna lain dapat melihat koneksi pertemanan mereka.

Langkah awal yang dilakukan pengguna adalah menentukan tujuan perjalanan sistem pada aplikasi tersebut akan secara otomastis "menjodohkan" pengguna yang memiliki tujuan perjalanan sama.

Setelah "berjodoh", para pengguna dapat melanjutkan pembicaraan untuk menentukan tempat dan lain-lain melalui chat yang juga tersedia dalam aplikasi ini.

Aplikasi ini dilengkapi dengan tombol 'Don't Panic' yang secara otomatis server akan mengirimkan sms ke tiga nomor kontak panggilan emergency yang diberikan pengguna pada saat pendaftaran (log in). Hal ini bertujuan mengantisipasi pada saat pengguna merasakan hal tidak nyaman dalam perjalanan pada saat menumpang atau memberikan tumpangan.

Aplikasi ini juga dilengkapi fitur 'rating dan comment' untuk menilai pengguna lain, baik yang menumpang atau memberikan tumpangan ketika selesai melakukan perjalanan, sehingga sikap seorang pengguna dapat diketahui oleh pengguna lain.

"Sebetulnya di sini bisa dibilang tidak ada yang baru, tapi dari teknologi yang sekarang ada digabung-gabungkan untuk mencoba menjawab kebutuhan gimana caranya untuk orang bisa berbagi perjalanan," kata Ricky.

Aplikasi Floo Ride Sharing ini direncanakan akan diluncurkan pada kuartal pertama tahun depan, Februari 2015.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/461106/floo-ride-sharing-aplikasi-untuk-solusi-kemacetan-ibu-kota

Jumat, 06 Desember 2013

Gangguan Listrik, KRL Terjebak "Macet"

JAKARTA - Jadwal perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line hari ini mengalami kekacauan, akibat adanya gangguan listrik arus atas di Stasiun Manggarai.

Alhasil, KRL yang hendak melintas di Stasiun Manggarai terjebak "kemacetan".
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang, karena keterlambatan perjalanan kereta. Ini disebabkan karena an trean kereta yang akan masuk di Stasiun Manggarai," kata seorang petugas melalui pengeras suara di Stasiun Pasar Minggu, Kamis (5/12/2013).

Sejumlah KRL jurusan Bogor-Jakarta, maupun Bogor-Tanah Abang yang akan melewati Stasiun Manggarai terpaksa harus "parkir" sekira 15 menit di Stasiun Pasar Minggu untuk menunggu antrian.

Akibatnya, banyak penumpang yang memilih untuk beralih ke moda transportasi lain, seperti bus umum, ojek, ataupun taksi.

Hingga berita ini diturunkan perjalanan kereta belum kembali normal. Setiap KRL harus berhenti lama di tiap-tiap stasiun. Waktu perjalanan KRL molor dari jadwal yang seharusnya, lantaran "kemacetan" rangkaian KRL menuju Manggarai.

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2013/12/05/500/907565/gangguan-listrik-krl-terjebak-macet

Jumat, 20 September 2013

Perlu Terobosan Atasi Macet Selama Pembangunan MRT

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan dapat menjalankan manajemen lalu lintas yang baik untuk mengurangi kemacetan yang lebih parah selama pembangunan mass rapid transit atau MRT. Hal itu juga perlu didukung dengan penyampaian informasi yang baik kepada warga.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan, kemacetan menjadi suatu risiko dalam setiap pembangunan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah, utamanya mengurangi dampak yang ditimbulkan dalam pembangunan itu.

Terkait rencana pembangunan MRT yang akan dimulai tahun ini, Danang mengatakan bahwa perlu ada suatu manajemen lalu lintas dan terobosan-terobosan yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi kemacetan. Untuk mendukung itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta harus melakukan sosialisasi secara reguler tentang kapan dan di mana titik kemacetan terjadi.

"Bagaimana melakukan sosialisasi yang baik, katakanlah kalau jam sekian padat sekali, diimbau melakukan perjalanan dari sini jam berapa, ada pembagian. Informasi publik menjadi kunci akhirnya," kata Danang, Kamis (19/9/2013).

Informasi semacam itu, kata Danang, akan sangat membantu pengguna jalan untuk mengetahui titik-titik kemacetan. Dengan demikian, pengguna jalan tidak akan frustrasi karena buta informasi dan tak tahu harus memilih jalur mana yang lebih nyaman.

Informasi-informasi itu dapat disampaikan melalui papan informasi, misalnya di Jalan Fatmawati. Informasi yang disampaikan antara lain kecepatan rata-rata kendaraan, petunjuk, dan saran perjalanan. "Problemnya diinformasikan. Diberi solusi dan pilihan. Sekalipun hanya melalui board, saya rasa itu sudah mengurangi kejengkelan para pengguna jalan," ujarnya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/20/0105576/Perlu.Terobosan.Atasi.Macet.Selama.Pembangunan.MRT

Kamis, 23 Mei 2013

Asyik, Saat Jakarta Macet Bisa Nikmati Spa di Dalam Bus Ini

Molto memahami kesibukan wanita yang jarang memiliki waktu untuk memanjakan diri. Brand pewangi baju tersebut menghadirkan program Molto Gold Spa Bus untuk mengantar Anda pulang ke rumah dan mendapatkan treatment spesial selama berada di perjalanan. Serta ditemani dengan keharuman aromaterapi dari wangi Molton Essence Gold yang menenangkan.

Tujuan program ini adalah agar wanita bisa keluar dari rutinitas yang ada. Biasanya wanita lelah dan jenuh saat jalan pulang karena macet. Dengan bus spesial tersebut akan mengubah momen yang tidak menyenangkan di jalan menjadi lebih menyenangkan dengan treatment pijatan.

"Selama perjalanan ke rumah akan diberikan treatment foot and back massage dengan aroma Molto Essesnce Gold. Pegal dan Bete di perjalan akan hilang dan semangat kembali untuk bertemu keluarga," ujar Anggya Kumala, Senior Brand Manager Molto saat acara Me Time Bersama Molto Gold Spa Bus di Mango Tree Bisro, Epiwalk Mall, Jakarta Selatan, Rabu (22/5/2013).

Bus disulap menjadi ruangan spa yang menenangkan. Tersedia delapan kursi santai dengan delapan terapis profesional yang siap memanjakan Anda selama perjalanan.

Program ini tidak dipungut biaya. Anda cukup mendaftarkan diri ke website Molto Gold Spa Bus. Sensasi spa di dalam bus ini bisa dinikmati di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Untuk di Jakarta tempat penjemputannya di FX Sudirman dan Plaza Festival Kuningan dan diantar ke Summarecon Mall BSD, Metropolitan Mall Bekasi, Cibubur Junction dan Supermall Lippo Karawaci. Program ini berlangsung dari 22 Mei sampai 23 Juni 2013.

Sumber : http://wolipop.detik.com/read/2013/05/22/165315/2253235/234/asyik-saat-jakarta-macet-bisa-nikmati-spa-di-dalam-bus-ini?880004835

Kamis, 02 Mei 2013

Apakah Macet Boleh Lalaikan Shalat? Ini Pendapat MUI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemacetan di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Ibu Kota Jakarta sudah masuk kategori sangat parah. Terlebih saat demonstrasi besar seperti May Day yang terjadi pada hari ini.

Kemacetan di Jakarta membuat masyarakat telah menghabiskan sebagian waktu mereka di jalan raya. Bahkan akibat kemacetan ini, seringkali orang melalaikan ibadah sholat karena waktu terbuang selama perjalanan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) khawatir kemacetan parah ini, semakin banyak warga Ibu Kota yang lalai melaksanakan sholat. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam mengatakan, ada kekhawatiran bila Umat Islam di Jakarta dan sekitarnya mengenyampingkan sholat mereka karena macet.

Ia mengungkapkan, bisa dibayangkan perjalanan karena macet yang membutuhkan waktu dua hingga tiga jam, terlebih bila itu terjadi pada siang hingga sore hari. Dimana jadwal Sholat Zuhur, Ashar hingga Magrib berlangsung.

"Akibatnya sering terjadi jadwal sholat pun harus di Qada' atau dijamak. Atau bahkan beberapa orang meninggalkan salah satu atau kedua waktu sholat tersebut," ujar Niam kepada Republika, Rabu (1/5).

Ia menjelaskan, sebagaimana yang telah ditetapkan Agama Islam, sholat merupakan salah satu ibadah wajib yang sangat ditekankan pelaksanaannya. Dalam kondisi normal, ujarnya, sholat harus dilakukan diawal waktu dalam waktu yang telah ditentukan.

Namun bukan berarti Islam tidak memberi keringanan dan pengecualian terhadap beberapa kondisi tertentu. Islam memberikan kemudahan bagi para musyafir (orang yang dalam perjalanan) untuk dapat mengqada' dan menjamak shalatnya, tentu dengan aturan yang disyariatkan.

Solusi bila macet yang tidak bisa diprediksi dengan mengqada' (mengganti) bila tertinggal atau menjamak (menggabungkan). Sebaliknya, Umat Islam tetap harus berupaya mencari masjid bila memungkin shalat dilaksanakan sesuai dengan waktunya.

Ia memberi solusi ada baiknya jauh sebelum terjebak macet, pengendara mencari masjid untuk mengantisipasi terlewatnya waktu sholat. Apabila ini bisa dilakukan sebagian besar ummat Islam, dia yakin maka sebagian jumlah kemacetan di jalan raya dapat terurai lebih cepat karena menghindari pertemuan kendaraan dalam satu waktu.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/05/01/mm41e4-apakah-macet-boleh-lalaikan-shalat-ini-pendapat-mui

Jumat, 19 April 2013

Kemacetan Lalu Lintas Jakarta, Sampai Kapan?

Liputan6.com, Citizen6, Jakarta: Dulu hujan identik dengan romantisme. Ketika titik-titik hujan bertemu dengan sinar matahari terjcipta pelangi. Indah dah menimbulkan kekaguman. Sampai sekarang tak ada yang menolak keindahan warna-warna pelangi.

Namun di Jakarta hujan adalah petaka. Apalagi ketika hujan turun tepat jam pulang kerja. Kemacetan Jakarta yang selama ini selalu dikeluhkan makin “sempurna”. Waktu tempuh yang biasanya maksimal satu jam bisa molor sampai tiga jam.

Berikut beberapa kesaksian macetnya Jakarta ketika hujan Rabu (17/04/2013).

Andaru Amanda ( karyawan di Jakarta selatan)

Laki-laki single ini, seperti mayoritas karyawan di Jakarta yang sudah hafal kebiasaan Jakarta yang sehari-harinya macet, apalagi ketika hujan seperti malam itu. Ia sengaja menunda pulangnya sampai pukul 20:30 wib. Sambil menunggu hujan ia berkumpul dengan koleganya di warung kopi.

Namun dugaannya sungguh keliru. Jam-jam itu,rute jalan yang biasa ia lalui ternyata masih macet. Dari kantornya yang di daerah sudirman, ia akan melewati Kemang, Warung Buncit, Pasar Minggu menuju arah Cibubur, Jakarta Timur. Kemacetan di awali di daerah kemang. Lalu Warung Buncit menuju Pasar Minggu macet.

Puncaknya ketika sampai di jalan TB Simatupang, tepatnya di depan Rancho. Arus lalulintas macet total karena ada banjir. Andaru kesal karena perjalanannya terhalang oleh pengendara yang akan melakukan putar balik. Meski ia mengendarai motor, tak ada celah agar menerobos lalu lintas yang super padat itu. Dan ia baru berhasil sampai rumahnya setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam. Padahal pada hari-hari biasa, waktu tempuhnya rata-rata hanya 90 menit.

Maria Flora ( Karyawan Swasta, di sekitaran Senayan)

Hari itu waktu telah menunjukkan 17.45 WIB. Saya bersiap pulang ke Depok meski harus menerobos hujan. Sesampainya di Blok-M, hujan mulai sedikit reda. Namun 30 menit kemudian, hujan turun dengan derasnya disertai angin besar dan petir. Meskipun sudah memakai payung, hujan yang dibarengi dengan angin kencang itu membuat sebagian baju saya basah kuyup karenanya.

Kira-kira waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB, perjalanan baru mencapai Blok-M. Beruntung arus lalu lintas dari Blok-M menuju Lapangan Blok S tidak terlalu padat. Ini anomali. Menuju perempatan lampu merah Mampang Prapatan, hujan turun dengan lebatnya. Terlihat banyak orang yang berlari-larian menyetop mobil meskipun sudah penuh.

Malam itu perjalanan dari Mampang Prapatan sampai Pasar Minggu perlu waktu sekitar 2 jam-an. Di tengah hujan itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara keras. Awalnya saya pikir, itu suara grup marching band sedang latihan, tapi apa itu mungkin di tengah-tengah hujan deras? Lalu saya coba bertanya kepada sang kernet. Bang itu suara apaan sih? Sang kernet menjawab, "Itu bu, ada yang ngamen". Benar saja, dari jendela mobil 75 saya melihat sekelompok anak muda yang usianya kira-kira 17 hingga 20an sedang menyanyikan salah satu lagu dari grup band Peewee Gaskins.

Peristiwa ini cukup menghibur para pedagang dan pejalan kaki yang hendak pulang ke rumahnya masing-masing. Rasa kantuk dan stres berat akibat bermacet-macetan di jalan ditambah hujan, sedikit membuat mereka terhibur. Salut buat ke 4 anak muda ini yang masih mengamen walaupun hujan saat itu sedang turun dengan derasnya.

Singkatnya saya sampai rumah pukul 23:00 wib. Dari senayan menuju Depok diperlukan waktu 4 jam-an, biasanya hanya 2 jam.

Irawan Diki (Karyawan Tinggal di Rempoa)
Laki-laki pekerja di daerah Sudirman, Jakarta Pusat ini keluar dari mal sekitar pukul 20:30 wib. Tampak antrean panjang orang-orang yang menunggu taksi malam itu. Tak sabar, ia keluar dari antrean dan menuju ke jalan setelah mengajak seorang pengojek payung agar tak kebasahan.

Celaka, tak ada taksi yang kosong jam segitu. Begitu ada yang lewat semua lampu atasnya mati, taksi sudah terisi. Namun ia belum menyerah. Di tengah rintik huja, ia berteduh di halte bersama para penjual otak-otak dan peneduh lain.

Setelah sekian lama, ada juga taksi yang lewat, namun tak ada yang mau berhenti. Kenapa tak dimatikan saja kalau memang tak mau mencari penumpang? Laki-laki single ini terselamatkan oleh angkutan umum. Beruntung ia memperoleh tempat duduk. Setelah sempat tertidur, sampai rumah pukul 23:30 Wib. Perjalanan pulangnya malam ini ke Rempoa, Jaksel memerlukan waktu 3 jaman. Padahal sebenarnya kalau tidak macet bisa ditempuh dengan waktu 15 menit. "Sampai kapan kemacetan Jakarta?" Begitu ia menuliskan di status twitternya. (Karmin Winarta/Mar)

Sumber : http://news.liputan6.com/read/564696/kemacetan-lalu-lintas-jakarta-sampai-kapan

Kamis, 28 Maret 2013

Penghapusan KRL Ekonomi tak sejalan dengan program Jokowi

Rencana penghapusan KRL Ekonomi yang akan dilaksanakan oleh PT KAI pada 1 April 2013 banyak menuai protes. Hal itu dinilai karena tidak ada sosialisasi dan transparasi dari PT KAI.

Anggota Persatuan Penumpang dan Pengguna Jasa Angkutan KRL Ekonomi, Anto menuding keputusan PT KAI tidak sejalan dengan semangat Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). Semangat Jokowi yang dimaksud adalah program mengatasi kemacetan ibu kota Jakarta dengan solusi transportasi massal.

"Kalau dihapus (KRL Ekonomi), apakah siap jika nanti Jakarta diserbu dengan kendaraan pribadi?" ujar Anto di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Rabu (27/3).

Padahal, menurut Anto, pemerintah sampai saat ini masih mempunyai kewajiban untuk memberikan subsidi kereta ekonomi. Oleh karena itu, apresiasi seharusnya diberikan kepada PT KAI dalam rangka meningkatkan pelayanan kenyamanan dan keamanan.

"Tapi ini malah terkesan malah meninggalkan," katanya.

Anto menyarankan harusnya PT KAI berkoordinasi dengan pemerintah untuk melakukan upaya pembenahan dan terkait penghapusan KRL ekonomi tersebut.

"Jangan sampai adanya pencampuradukan antara kendala teknis yang menjadi penghambat seperti keterbatasan kereta dan suku cadang," katanya.

Sebelumnya, PT KAI (Persero) tidak mengoperasikan KRL Non AC atau KRL ekonomi untuk lintas Serpong dan Bekasi. PT KAI Commuter Jabodetabek beralasan penghapusan kereta ekonomi ini untuk meningkatkan pelayanan dan menghindari kecelakaan penumpang.

"Kondisi KRL yang sudah tidak layak guna sangat berbahaya dan berisiko tinggi pada keselamatan dan keamanan penumpang pada perjalanan kereta api," kata Manager Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa dalam keterangan pers tertulis kepada redaksi merdeka.com, Senin (25/3).

Untuk mengisi kekosongan jadwal perjalanan dan mengganti perjalanan KRL Non AC tersebut maka jumlah perjalanan KRL AC Commuter Line akan ditingkatkan dengan penambahan dua rangkaian KRL AC Commuter Line baru untuk lintas Bekasi dan dua rangkaian KRL AC Commuter Line baru untuk lintas Serpong.

"Banyaknya gangguan yang terjadi pada KRL Non AC tersebut juga kerap mengganggu kenyamanan perjalanan KRL secara keseluruhan dan sangat berdampak pada pelayanan KRL untuk penumpang," tambah Eva.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/penghapusan-krl-ekonomi-tak-sejalan-dengan-program-jokowi.html

Jumat, 15 Februari 2013

"Waterway" untuk Warga Rusun Marunda

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan moda transportasi baru untuk memfasilitasi keterbatasan transportasi di Rusun Marunda, Jakarta Utara. Dua unit kapal motor disediakan untuk mengangkut penumpang dari Rusun Marunda menuju Muara Baru.

"Ada dua kapal jenis karapu yang kami sediakan untuk trayek waterway ini. Kebetulan banyak warga rusun yang bekerja di sana, makanya trayeknya seperti itu," kata Kepala Unit Pengelola Angkutan Perairan dan Kepelabuhanan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Tri Hendro S di Pelabuhan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (14/2/2013).

Ia menjelaskan, Dishub memiliki enam kapal jenis karapu dan dua kapal jenis lumba-lumba. Kapal-kapal tersebut selama ini melayani rute Muara Angke - Kepulauan Seribu.

"Namun, selalu ada yang dicadangkan, termasuk dua ini. Karena itu, sekarang dimanfaatkan dulu buat transportasi di sini," kata Tri.

Dua kapal yang disiapkan masing-masing karapu II dan karapu III. Keduanya berkapasitas 24 penumpang. Masing-masing dilengkapi dua mesin 200 PK, total 400 PK, dan mampu mencapai kecepatan maksimum 30 knot.

"Dengan jarak (Marunda-Muara Baru) sekitar 12 mil atau sekitar 17 kilometer, kami perkirakan waktu perjalanan sekitar 30 menit," imbuh Tri.

Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan dengan jika melakukan perjalanan menggunakan transportasi darat yang mencapai sekitar satu jam di saat lancar, bahkan 2-3 jam di saat macet. Karena itu, Tri menilai, transportasi laut lebih efektif meskipun cukup menguras dari sisi anggaran.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/14/12141963/.Waterway.untuk.Warga.Rusun.Marunda

Rabu, 17 Oktober 2012

Rasakan Kemacetan, Jokowi Cari Solusi

JAKARTA, KOMPAS.com — Di hari pertama setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke kawasan pemukiman kumuh di tiga wilayah di Jakarta, Selasa (16/10/2012). Tiga wilayah itu adalah Pademangan, Tanah Tinggi, dan Bukit Duri.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi tidak menggunakan jasa protokoler voorijder. Dua petugas voorijder dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta ikut dalam perjalanan Jokowi hari ini, bukan di depan mobil Jokowi, melainkan di belakang.

Jokowi pun turut merasakan kemacetan di Tebet, Jakarta Selatan. Awalnya, setelah berkunjung ke Bukit Duri, Jokowi berencana makan di Warteg Warmo, Tebet. Rencana itu urung dilakukan karena Jokowi terjebak kemacetan di Casablanca, Jakarta Selatan. Akibatnya, Jokowi langsung berbelok menuju kantornya di Balaikota Jakarta. Apa tanggapan Jokowi setelah "menikmati" kemacetan Ibu Kota?

"Enggak tuh. Itu agak macet, bukan macet. Ya, harus bisa ngerasain, dong, biar dapat inspirasi buat solusi kemacetan," kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Petugas voorijder yang bertugas mengawal Jokowi membantah mereka memberikan pengawalan terhadap perjalanan Gubernur. Petugas Dishub DKI juga membantah bahwa kehadiran mereka itu ditujukan untuk mengawal Jokowi.

"Tempatnya saja kami enggak tahu mau ke mana saja, gimana mau ngawal. Kami itu ada karena banyak kepala dinas juga yang ikut, ya kami cuma dampingin saja. Lampu merah saja Jokowi enggak mau nerobos," kata salah satu petugas Dishub DKI, Mulyono.

Sementara itu, Jokowi juga mengatakan akan menggunakan voorijder hanya pada saat ia menerima dan menjemput menteri atau duta besar negara sahabat. Kebiasaannya itu telah diterapkan saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/16/16391240/Rasakan.Kemacetan.Jokowi.Cari.Solusi

Selasa, 02 Oktober 2012

Kemacetan Lalu Lintas Harus Segera Diakhiri

PEMENANG tender proyek angkutan masal (Mass Rapid Transit – MRT) untuk koridor (jalur) selatan – utara Jakarta, sudah diumumkan baru-baru ini. Dengan demikian, maka pembangunan fisik untuk koridor itu sudah bisa segera dimulai. Sehingga, kemacetan lalu lintas di Ibukota negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, harus segera diakhiri. Mudah-mudahan tidak ada istilah mangkrak, seperti halnya proyek monorel, yang dulu diagung-agungkan Gubernur Sutiyoso dan wakilnya, Fauzi Bowo ketika itu.

Kini proyek MRT yang direncanakan sepanjang 110,8 kilometer, akan dilaksanakan pada masa jabatan gubernur baru, Joko Widodo. Yakni pembangunan koridor selatan – utara, dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan sampai Kampung Bandan, Jakarta Barat, sepanjang 23,8 kilometer (km), dilaksanakan dalam dua tahap. Sedangkan koridor timur-barat sepanjang 87 km dari Cikarang (Bekasi) sampai ke Balaraja (Tangerang), dilaksanakan kemudian. Proyek ini dibiayai dengan dana pinjaman dari luar negeri (Jepang), ditambah dana anggaran dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Rencananya seluruh proyek ini selesai tahun 2027.

Namun, sambil menunggu tahun 2027, tentu upaya pemecahan kemacetan lalu lintas di Jakarta harus dilakukan. Selain membangun infrastruktur baru untuk mengimbangi volume kendaraan, harus pula dikurangi laju pertumbuhan kendaraan pribadi. Tetapi seperti dikatakan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto, belum lama ini, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta, perlu dilakukan langkah radikal.

Salah satu usul UKP4 sebagai langkah radikal, adalah menambah jumlah angkutan umum reguler sejenis bus Mayasari Bhakti, sebanyak 40.000 unit. Operasional bus ini diharapkan mengurangi jumlah perjalanan hingga 30 persen atau setara dengan 7,5 juta pengguna kendaraan pribadi. Pengadaan bus ini dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. Investasi yang dibutuhkan Rp 600 juta per unit, atau seluruhnya sekitar Rp 25,5 triliun. Pengadaan bus direncanakan dilakukan oleh pihak swasta.

Namun, syarat lainnya, pemerintah juga harus menganggarkan perbaikan prasarana angkutan umum sebanyak Rp 19 triliun. Yakni meliputi penyediaan jalan yang memadai, halte dan perangkat lain yang dibutuhkan untuk memperlancar operasional bus. Angka anggaran ini, jauh di bawah alokasi pemerintah untuk subsidi BBM yang sudah mencapai Rp 137 triliun.

Sistem Kontrak

Sejumlah kontrak juga harus dilakukan untuk menjamin pendapatan operator (swasta), untuk pengadaan armada bus dan pelayanan yang prima bagi penumpang bus. Bus dioperasikan dengan sistem kontrak, dan harus sudah meninggalkan sistem setoran. Sehingga, kinerja operator dinilai dari ketepatan kedatangan bus di setiap halte yang dilayani di rute masing-masing.

Apabila proyek pengadaan 40.000 bus ini terlaksana, maka perjalanan bus bisa meningkat 20 kilometer per jam dalam kurun waktu dua tahun. Saat ini kecepatan perjalanan bus hanya berkisar 5-10 kilometer per jam. Namun di sisi lain, pemerintah perlu membatasi laju kepemilikan kendaran pribadi.

Selain proyek MRT dan penambahan armada bus reguler, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga telah menginstruksikan PT Adhi Karya untuk meneruskan proyek monorel yang mangkrak. Rupanya yang membangun tonggak-tonggak monorel yang terbengkalai selama ini adalah BUMN Adhi Karya yang belum dibayar oleh PT Jakarta Monorel. PT Adhi Karya pun telah mempersiapkan dana Rp 3,7 triliun untuk mewujudkan proyek monorel itu bekerja sama dengan PT Industri Kereta Api dan PT Len Industri yang akan membuat kereta dan sistem elektrifikasinya.

Memang, harapan besar digantungkan pimpinan baru Jokowi-Ahok untuk merealisasikan kelancaran lalu lintas di Jakarta. Antara lain, menyempurnakan sistem bus pengumpan bagi bus transjakarta, dan pengadaan areal parkir (park and ride) yang cukup, sehingga para pengguna kendaraan pribadi berkurang dan mudah meninggalkan kendaraan di tempat parkir untuk beralih ke bus transjakarta atau kereta rel listrik. ***

Sumber : http://www.tubasmedia.com/berita/kemacetan-lalu-lintas-harus-segera-diakhiri/