TEMPO.CO, Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil resah setelah namanya masuk dalam bursa kandidat Gubernur DKI Jakarta periode berikutnya.
Menurut Ridwan Kamil, setelah muncul isu yang berkaitan dengan bursa kandidat Gubernur DKI Jakarta, warga Bandung santer memperbincangkannya. Bahkan ada di antaranya yang menilai negatif kepada dirinya.
“Orang-orang yang awalnya biasa saja, sekarang jadi menilai saya negatif. Terus ujung-ujungnya menjelek-jelekkan saya di sosial media,” kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, saat ditemui di Pendopo Wali Kota Bandung, Senin, 11 Mei 2015.
Saat ini, kata Ridwan Kamil, banyak orang yang menganggapnya berambisi menduduki jabatan gubernur DKI Jakarta, berebut dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain itu, banyak yang menilai Ridwan Kamil tidak amanah menjaga kepercayaan warga Bandung.
Ridwan Kamil meminta warga Bandung untuk tidak menilai seenaknya terkait dengan isu tersebut. “Di zaman Internet seperti ini, semua isu bisa dibuat. Saya juga enggak tahu siapa yang bikin isu itu,” ujar Ridwan Kamil.
Ridwan Kamil mengatakan hubungannya dengan Ahok masih berjalan baik. Ahok, kata Ridwan Kamil, adalah teman baiknya di Jakarta, yang sering diajaknya bertukar pengalaman. Ridwan Kamil khawatir isu itu akan mengganggu hubungannya dengan Ahok.
Menurut Ridwan Kamil, dia tak mendalami isu itu. “Saya enggak mau buang-buang energi untuk cari sumber info itu. Jadi, tolong polemik ini disudahi, ya,” ucap Ridwan Kamil.
Ridwan Kamil menilai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini lebih cocok menjadi calon gubernur DKI Jakarta selanjutnya. Alasannya, tugas Risma memimpin Kota Surabaya sebentar lagi rampung. Sementara Ridwan Kamil baru 18 bulan memimpin Kota Bandung.
Sebelummnya, survei yang dilakukan Cyrus Network menempatkan Ahok di posisi pertama sebagai orang yang layak memimpin DKI Jakarta pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta mendatang.
Ahok memperoleh dukungan 35,5 persen dari survei pada 42 kecamatan di DKI Jakarta. Posisi Ahok diikuti oleh Tri Rismaharini (37,2 persen) dan Ridwan Kamil (10,4 persen).
Survei dilakukan terhadap 1.000 responden dengan umur sekitar 17 tahun di seluruh kelurahan di Jakarta. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Tingkat kepercayaan dari survei ini mencapai 95 persen, dengan margin eror sekitar 3,1 persen.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/05/12/058665551/Masuk-Bursa-Kandidat-Gubernur-Jakarta-Ridwan-Kamil-Resah
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label ridwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ridwan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Mei 2015
Masuk Bursa Kandidat Gubernur Jakarta, Ridwan Kamil Resah
Kamis, 12 September 2013
Ridwan Saidi: Jalan Medan Merdeka Memiliki Peradaban Sejarah, Jangan Diubah-Ubah
[JAKARTA] Budayawan Betawi, Ridwan Saidi meminta Tim 17 atau para penggagas usulan menggantikan nama Jalan Merdeka Barat atau Jalan Merdeka Timur sebaiknya menyerah ketika rakyat menolak.
Karena semua jalan di ibukota negara ini memiliki peradaban sejarah yang tidak semudah itu diubah-ubah.
Selain itu, jalan-jalan di Jakarta ini memiliki spiritualitas yang tinggi, sehingga jangan main-main kalau nanti ada yang mati tanpa kelihatan kuburannya.
“Jalan-jalan di Jakarta ini memiliki sejarah peradaban dan spiritualitas yang tinggi. Jadi, jangan mentang-mentang AM Fatwa sebagai politisi, lalu menyatakan akan berjalan terus mengubah nama jalan Medan Merdeka itu. Kalau terbukti idenya ditolak keras masyarakat, ya menyerahlah. Itu sportif namanya. Jangan ngotot mau jalan terus,” kata Ridwan Saidi dalam diskusi bersama sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam dan AM Fatwa di Gedung DPD/DPR RI Jakarta, Rabu (11/10).
Ridwan pun meminta AM Fatwa rendah hati bahwa orang Betawi berikut jalan-jalannya memiliki sejarah peradaban panjang dan spiritualitas sendiri.
“Ini masalah peradaban, bukan politik. Tapi, kalau kuat silakan iseng-iseng mengganti nama Jl Medan Merdeka Barat. Nanti kalau mati tidak akan diketemukan kuburannya,” katanya.
Ridwan Saidi mengatakan, spiritualitas Medan Merdeka sangat tinggi. Dulu, kata dia, ada sekumpulan orang hendak melaksanakan salad di sana, tiba-tiba hujan deras turun.
Munarman, juru bicara FPI juga ketika berbuat ulah di sana, langsung kena batunya. “Jadi hati-hati mengganti nama Medan Merdeka itu,” katanya.
Sebelumnya, AM Fatwa dan Tim 17 yang dibentuk secara informal mengusulkan perubahan jalan di Jakarta.
AM Fatwa mengatakan, dalam usulan mereka, nama Jalan Merdeka Utara berubah menjadi Jalan Soekarno.
Jalan Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan M Hatta. Lalu, Jalan Medan Merdeka Timur dan Medan Merdeka Barat diubah menjadi Jalan Soeharto dan Jalan Ali Sadikin.
Sejarahwan Asvi Warman mengatakan, untuk mengubah nama Jalan Soekarno dan Jalan M Hatta tidak masalah, semua orang sepakat.
“Tetapi tapi begitu masuk Jalan Soeharto, ya kita harus pikir-pikir karena mayoritas masyarakat menolak. Ini mengundang kontroversi,” katanya.
Sumber : http://www.suarapembaruan.com/home/ridwan-saidi-jalan-medan-merdeka-memiliki-peradaban-sejarah-jangan-diubah-ubah/41654
Karena semua jalan di ibukota negara ini memiliki peradaban sejarah yang tidak semudah itu diubah-ubah.
Selain itu, jalan-jalan di Jakarta ini memiliki spiritualitas yang tinggi, sehingga jangan main-main kalau nanti ada yang mati tanpa kelihatan kuburannya.
“Jalan-jalan di Jakarta ini memiliki sejarah peradaban dan spiritualitas yang tinggi. Jadi, jangan mentang-mentang AM Fatwa sebagai politisi, lalu menyatakan akan berjalan terus mengubah nama jalan Medan Merdeka itu. Kalau terbukti idenya ditolak keras masyarakat, ya menyerahlah. Itu sportif namanya. Jangan ngotot mau jalan terus,” kata Ridwan Saidi dalam diskusi bersama sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam dan AM Fatwa di Gedung DPD/DPR RI Jakarta, Rabu (11/10).
Ridwan pun meminta AM Fatwa rendah hati bahwa orang Betawi berikut jalan-jalannya memiliki sejarah peradaban panjang dan spiritualitas sendiri.
“Ini masalah peradaban, bukan politik. Tapi, kalau kuat silakan iseng-iseng mengganti nama Jl Medan Merdeka Barat. Nanti kalau mati tidak akan diketemukan kuburannya,” katanya.
Ridwan Saidi mengatakan, spiritualitas Medan Merdeka sangat tinggi. Dulu, kata dia, ada sekumpulan orang hendak melaksanakan salad di sana, tiba-tiba hujan deras turun.
Munarman, juru bicara FPI juga ketika berbuat ulah di sana, langsung kena batunya. “Jadi hati-hati mengganti nama Medan Merdeka itu,” katanya.
Sebelumnya, AM Fatwa dan Tim 17 yang dibentuk secara informal mengusulkan perubahan jalan di Jakarta.
AM Fatwa mengatakan, dalam usulan mereka, nama Jalan Merdeka Utara berubah menjadi Jalan Soekarno.
Jalan Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan M Hatta. Lalu, Jalan Medan Merdeka Timur dan Medan Merdeka Barat diubah menjadi Jalan Soeharto dan Jalan Ali Sadikin.
Sejarahwan Asvi Warman mengatakan, untuk mengubah nama Jalan Soekarno dan Jalan M Hatta tidak masalah, semua orang sepakat.
“Tetapi tapi begitu masuk Jalan Soeharto, ya kita harus pikir-pikir karena mayoritas masyarakat menolak. Ini mengundang kontroversi,” katanya.
Sumber : http://www.suarapembaruan.com/home/ridwan-saidi-jalan-medan-merdeka-memiliki-peradaban-sejarah-jangan-diubah-ubah/41654
Label:
am
,
asvi
,
betawi
,
fatwa
,
jakarta
,
jalan
,
jalan-jalan
,
kuburan
,
medan
,
merdeka
,
nama
,
peradaban
,
ridwan
,
saidi
,
sejarah
,
sejarahwan
,
soekarno
,
spiritualitas
,
warman
Kamis, 20 Desember 2012
Atasi Macet, Jakarta Bisa Coba Penyewaan Sepeda
JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai upaya telah ditempuh untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta. Namun, sampai sekarang belum ada yang berhasil menekan jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan-jalan Ibu Kota.
Pendiri gerakan Bike Sharing Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan, Jakarta sebetulnya dapat menerapkan program penyewaan sepeda atau bike sharing sebagaimana telah ia lakukan di Kota "Kembang" Bandung. Bike sharing ini dilakukan dengan cara mendirikan terminal-terminal sepeda di beberapa sudut kota. Di terminal sepeda itu, warga kota dapat menyewa sepeda tersebut dengan menitipkan kartu identitas serta membayar sejumlah uang. Di Bandung, tarif yang dikenakan untuk penyewaan satu unit sepeda adalah Rp 3.000 pada hari kerja dan Rp 10.000 pada akhir pekan atau hari libur.
Ridwan mengatakan, kunci sukses gerakan ini terdapat pada generasi muda dan social media. Ridwan mengambil studi kasus suksesnya pelaksanaan bike sharing di Bandung. Semangat generasi muda itu, kata Ridwan, sangat bermanfaat untuk mengampanyekan gerakan penyewaan sepeda tersebut. Dibantu dengan aktivitas pengguna internet melalui social media di Indonesia, maka hal itu akan mempercepat suksesnya pelaksanaan program tersebut.
Di Bandung, Ridwan melaksanakan program bike sharing secara mandiri tanpa adanya bantuan pemerintah daerah. Bike sharing di Bandung diresmikan oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada pada Juni 2012. "Awalnya kami berharap, dengan diresmikan oleh wali kota, maka akan ada program lanjutan setelahnya. Tetapi, saat kami mengajukan dana ke Pemkot Bandung, saran kami didengarkan, tapi belum dilaksanakan sampai saat ini," ujar Ridwan dalam sebuah diskusi mengenai transportasi di Jakarta Pusat, Selasa (18/12/2012).
Meski tanpa dukungan dana dari pemerintah daerah, Ridwan dan kawan-kawannya toh tetap berhasil menjalankan program tersebut dengan hasil penggalangan dana dari berbagai pihak. Akhirnya program itu tetap berlanjut dan sukses sampai dengan saat ini. Ia berharap kesuksesan pelaksanaan bike sharing di Bandung dapat menular ke Jakarta.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/18/19135333/Atasi.Macet.Jakarta.Bisa.Coba.Penyewaan.Sepeda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Pendiri gerakan Bike Sharing Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan, Jakarta sebetulnya dapat menerapkan program penyewaan sepeda atau bike sharing sebagaimana telah ia lakukan di Kota "Kembang" Bandung. Bike sharing ini dilakukan dengan cara mendirikan terminal-terminal sepeda di beberapa sudut kota. Di terminal sepeda itu, warga kota dapat menyewa sepeda tersebut dengan menitipkan kartu identitas serta membayar sejumlah uang. Di Bandung, tarif yang dikenakan untuk penyewaan satu unit sepeda adalah Rp 3.000 pada hari kerja dan Rp 10.000 pada akhir pekan atau hari libur.
Ridwan mengatakan, kunci sukses gerakan ini terdapat pada generasi muda dan social media. Ridwan mengambil studi kasus suksesnya pelaksanaan bike sharing di Bandung. Semangat generasi muda itu, kata Ridwan, sangat bermanfaat untuk mengampanyekan gerakan penyewaan sepeda tersebut. Dibantu dengan aktivitas pengguna internet melalui social media di Indonesia, maka hal itu akan mempercepat suksesnya pelaksanaan program tersebut.
Di Bandung, Ridwan melaksanakan program bike sharing secara mandiri tanpa adanya bantuan pemerintah daerah. Bike sharing di Bandung diresmikan oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada pada Juni 2012. "Awalnya kami berharap, dengan diresmikan oleh wali kota, maka akan ada program lanjutan setelahnya. Tetapi, saat kami mengajukan dana ke Pemkot Bandung, saran kami didengarkan, tapi belum dilaksanakan sampai saat ini," ujar Ridwan dalam sebuah diskusi mengenai transportasi di Jakarta Pusat, Selasa (18/12/2012).
Meski tanpa dukungan dana dari pemerintah daerah, Ridwan dan kawan-kawannya toh tetap berhasil menjalankan program tersebut dengan hasil penggalangan dana dari berbagai pihak. Akhirnya program itu tetap berlanjut dan sukses sampai dengan saat ini. Ia berharap kesuksesan pelaksanaan bike sharing di Bandung dapat menular ke Jakarta.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/18/19135333/Atasi.Macet.Jakarta.Bisa.Coba.Penyewaan.Sepeda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Label:
bandung
,
bike
,
dana
,
generasi muda
,
gerakan
,
jakarta
,
pelaksanaan
,
pemerintah daerah
,
penyewaan
,
program
,
ridwan
,
sepeda
,
sharing
,
social
,
sukses
,
wali kota
Langganan:
Postingan
(
Atom
)