Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

Masuk Bursa Kandidat Gubernur Jakarta, Ridwan Kamil Resah

TEMPO.CO, Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil resah setelah namanya masuk dalam bursa kandidat Gubernur DKI Jakarta periode berikutnya.

Menurut Ridwan Kamil, setelah muncul isu yang berkaitan dengan bursa kandidat Gubernur DKI Jakarta, warga Bandung santer memperbincangkannya. Bahkan ada di antaranya yang menilai negatif kepada dirinya.

“Orang-orang yang awalnya biasa saja, sekarang jadi menilai saya negatif. Terus ujung-ujungnya menjelek-jelekkan saya di sosial media,” kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, saat ditemui di Pendopo Wali Kota Bandung, Senin, 11 Mei 2015.

Saat ini, kata Ridwan Kamil, banyak orang yang menganggapnya berambisi menduduki jabatan gubernur DKI Jakarta, berebut dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain itu, banyak yang menilai Ridwan Kamil tidak amanah menjaga kepercayaan warga Bandung.

Ridwan Kamil meminta warga Bandung untuk tidak menilai seenaknya terkait dengan isu tersebut. “Di zaman Internet seperti ini, semua isu bisa dibuat. Saya juga enggak tahu siapa yang bikin isu itu,” ujar Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil mengatakan hubungannya dengan Ahok masih berjalan baik. Ahok, kata Ridwan Kamil, adalah teman baiknya di Jakarta, yang sering diajaknya bertukar pengalaman. Ridwan Kamil khawatir isu itu akan mengganggu hubungannya dengan Ahok.

Menurut Ridwan Kamil, dia tak mendalami isu itu. “Saya enggak mau buang-buang energi untuk cari sumber info itu. Jadi, tolong polemik ini disudahi, ya,” ucap Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil menilai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini lebih cocok menjadi calon gubernur DKI Jakarta selanjutnya. Alasannya, tugas Risma memimpin Kota Surabaya sebentar lagi rampung. Sementara Ridwan Kamil baru 18 bulan memimpin Kota Bandung.

Sebelummnya, survei yang dilakukan Cyrus Network menempatkan Ahok di posisi pertama sebagai orang yang layak memimpin DKI Jakarta pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta mendatang.

Ahok memperoleh dukungan 35,5 persen dari survei pada 42 kecamatan di DKI Jakarta. Posisi Ahok diikuti oleh Tri Rismaharini (37,2 persen) dan Ridwan Kamil (10,4 persen).

Survei dilakukan terhadap 1.000 responden dengan umur sekitar 17 tahun di seluruh kelurahan di Jakarta. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Tingkat kepercayaan dari survei ini mencapai 95 persen, dengan margin eror sekitar 3,1 persen.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/05/12/058665551/Masuk-Bursa-Kandidat-Gubernur-Jakarta-Ridwan-Kamil-Resah

Senin, 02 Desember 2013

Aplikasi Cerdas Pemantau Macet

TEMPO.CO, Jakarta - Mahasiswa Teknik Informatika ITB 2010 membuat aplikasi cerdas pemantau macet. Aplikasi bernama Smart Traffic Controller itu menyuguhkan kondisi real time kemacetan di jalan, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Aplikasi itu buatan Rizal Panji Islami dan Okharyadi Saputra. Mereka mengandalkan sistem Global Positioning System (GPS) pada telepon seluler pintar pengguna aplikasi. Dari GPS itu, terpantau posisi pengendara dan jalan mana saja yang dilalui.

Indikasi adanya hambatan di jalan atau kemacetan, berdasarkan dari menurunnya laju kendaraan. "Misalnya ketika berjalan lancar 40 km/jam, lalu turun menjadi 10 km/jam atau sampai diam di jalan raya tak seperti biasanya, kita bisa menghindari jalur itu," kata Rizal. Aplikasi tersebut dikhususkan bagi pengendara roda empat atau lebih.

Data seperti itu dari lebih satu orang pengguna, kemudian diolah server. Hasilnya menjadi peringatan adanya hambatan atau kemacetan. Di layar ponsel atau tablet, kemacetan itu berupa titik bulat hijau di atas peta.

Makin banyak pengguna yang mengalami kondisi seperti itu, informasi kemacetannya semakin akurat. Pada kondisi kendaraan antre karena lampu merah, server mengabaikan data itu. Kendaraan yang diam karena sedang diparkir juga tak masuk hitungan.

Di peta wilayah Jakarta, misalnya, Tempo melihat ada lima titik bulat berwarna hijau berkedip-kedip di layar laptop juga telepon seluler pintar. Sedangkan di Bandung pada saat bersamaan, ada sebelas titik serupa yang menyala. Pantauan lalu lintas itu pada Kamis, 28 November 2013, pukul 11.38 WIB.

Di Jakarta, titik hijau itu antara lain menyala di atas peta jalan tol Jakarta-Merak, Jalan Sultan Iskandar Muda dekat persimpangan dengan Jalan Penjernihan, serta di Palmerah. Sedangkan di Bandung, sebaran titik kemacetan di waktu yang sama terpantau di kawasan Dago, seperti Jalan Cisitu, Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Tubagus Ismail.

Selain itu, aplikasi yang menjadikan mereka terpilih sebagai Most Valuable Team di ajang Compfest di Universitas Indonesia, Oktober 2013, tersebut punya menu Route Access. Pilihan itu menunjukkan jarak terpendek dari titik berangkat ke tempat tujuan, lengkap dengan perkiraan waktu tempuh dengan kecepatan tertentu. Adapun menu Golden Way, akan menuntun pengendara ke jalur alternatif dan lowong jika jalan utama macet. Dua menu lainnya, yaitu biodata pengguna dan log out untuk keluar dari aplikasi.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/12/02/061533848/Aplikasi-Cerdas-Pemantau-Macet

Rabu, 06 November 2013

Presiden Malu Ditegur soal Kemacetan Jakarta

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa dirinya merasa malu ketika ditanya mengenai kemacetan yang makin parah di Jakarta oleh para pemimpin dunia.

Presiden Yudhoyono menegaskan tidak bisa berbuat banyak mengatasi kemacetan Jakarta, karena yang bertanggungjawab Gubernur.

“Saat pertemuan ASEAN Summit di Brunei, saya juga seperti tertusuk bertemu teman saya yang perdana menteri. Ada yang bertanya, Pak (SBY), di Jakarta dari airport ke down town (pusat kota) bisa dua jam yah,” kata Presiden saat menerima kunjungan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (4/11).

Ia pun bercerita, hanya bisa membenarkan pernyataan orang-orang tersebut. Bahkan, ia pun mengaku tidak enak menjelaskan solusinya, karena pemerintah pusat hanya membantu memberikan kemudahan.

"Bisa saja kalau ada kemacetan. Kan tidak enak ditanya bagaimana cara solusinya. Di Jakarta, di Bandung, di Surabaya di mana-mana gitu. Yang harus jelaskan gubernur dan wali kota, begini Pak (perdana menteri negara lain) konsep kami, pemerintah pusat bisa membantu memberikan kemudahan-kemudahan, memang betul efeknya banyak sekali kalau macet, saya bisa bayangkan,” ungkap Presiden.

Setelah bercerita mengenai percakapannya dengan perdana menteri negara sahabat, Presiden dalam kesempatan tersebut, meminta Kadin agar langsung menemui Gubernur Jakarta Jokowi jika ada keluhan mengenai kemacetan Jakarta.

"Soal lalu lintas, Kadin tidak dilarang datang ke gubernur. Kalau biang kemacetan di Jakarta datang lah ke Jokowi, kalau biang kemacetan di Bandung datang lah ke Pak Ahmad Heryawan atau Wali Kota Bandung, Semarang, Medan, Makassar," kata Presiden.

Saat ini, kata Presiden, Indonesia sudah menganut desentralisasi, oleh sebab itu kepala daerah lah yang mempunyai peranan untuk mengatasi kemacetan di wilayahnya.

"Sekarang kita menganut desentralisasi di daerah. Jangan unjuk rasa bolak balik ke Istana, sudah terbagi, semuanya bertanggung jawab pasti. Kalau bapak datang baik-baik akan direspon. Itulah tugas gubernur, bupati dan wali kota yang kebetulan bermasalah (kemacetan)," tukas Presiden Yudhoyono.

Sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/04/1/192289/Presiden-Malu-Ditegur-soal-Kemacetan-Jakarta

Kamis, 20 Desember 2012

Atasi Macet, Jakarta Bisa Coba Penyewaan Sepeda

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbagai upaya telah ditempuh untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Jakarta. Namun, sampai sekarang belum ada yang berhasil menekan jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan-jalan Ibu Kota.

Pendiri gerakan Bike Sharing Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan, Jakarta sebetulnya dapat menerapkan program penyewaan sepeda atau bike sharing sebagaimana telah ia lakukan di Kota "Kembang" Bandung. Bike sharing ini dilakukan dengan cara mendirikan terminal-terminal sepeda di beberapa sudut kota. Di terminal sepeda itu, warga kota dapat menyewa sepeda tersebut dengan menitipkan kartu identitas serta membayar sejumlah uang. Di Bandung, tarif yang dikenakan untuk penyewaan satu unit sepeda adalah Rp 3.000 pada hari kerja dan Rp 10.000 pada akhir pekan atau hari libur.

Ridwan mengatakan, kunci sukses gerakan ini terdapat pada generasi muda dan social media. Ridwan mengambil studi kasus suksesnya pelaksanaan bike sharing di Bandung. Semangat generasi muda itu, kata Ridwan, sangat bermanfaat untuk mengampanyekan gerakan penyewaan sepeda tersebut. Dibantu dengan aktivitas pengguna internet melalui social media di Indonesia, maka hal itu akan mempercepat suksesnya pelaksanaan program tersebut.

Di Bandung, Ridwan melaksanakan program bike sharing secara mandiri tanpa adanya bantuan pemerintah daerah. Bike sharing di Bandung diresmikan oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada pada Juni 2012. "Awalnya kami berharap, dengan diresmikan oleh wali kota, maka akan ada program lanjutan setelahnya. Tetapi, saat kami mengajukan dana ke Pemkot Bandung, saran kami didengarkan, tapi belum dilaksanakan sampai saat ini," ujar Ridwan dalam sebuah diskusi mengenai transportasi di Jakarta Pusat, Selasa (18/12/2012).

Meski tanpa dukungan dana dari pemerintah daerah, Ridwan dan kawan-kawannya toh tetap berhasil menjalankan program tersebut dengan hasil penggalangan dana dari berbagai pihak. Akhirnya program itu tetap berlanjut dan sukses sampai dengan saat ini. Ia berharap kesuksesan pelaksanaan bike sharing di Bandung dapat menular ke Jakarta.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/18/19135333/Atasi.Macet.Jakarta.Bisa.Coba.Penyewaan.Sepeda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Kamis, 30 Agustus 2012

Bandung Akan Lebih Cepat Wujudkan MRT

BANDUNG — Walikota Bandung Dada Rosada menyatakan Kota Bandung dalam kurun waktu tidak lama akan memiliki transportasi publik moderen, Mass Rapid Transit (MRT) sepanjang 11 Km. Bahkan dengan selesainya proses Pra Feasibility Study (Pra FS) dan Feasibility Study (FS) telah selesai sesuai jadwal, ia optimis Bandung bisa menyalip Jakarta.

“Ini pertama kali di Indonesia, walapun Jakarta itu juga ada kerjasama dengan Jepang (JICA), mudah-mudahan Bandung mendahului Jakarta dan mohon maaf kalau Bandung mendahului Jakarta,” ungkap Dada di JCC, Jakarta, kemarin.

Dada mengungkapkan moda transportasi massal ini nantinya akan mampu mengangkut sekitar 600 penumpang dalam sekali jalan. Untuk mewujudkan proyek tersebut Dada mengatakan telah ada beberapa investor yang tertarik bergabung dalam konsorsium pembangunan MRT Bandung.

“Yang sudah datang ke saya banyak termasuk Pak Jusuf Kalla. Jadi sudah ada 3 sampe 4 yang sudah datang. Karena proyeknya tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu banyak, tapi pasti lebih dari satu,” imbuhnya.

Presdir Panghegar Kirana Group sebagai konsorsium bersama perusahaan China National Machinary Corporation (CMC Imp & Exp Corp) menyatakan kalau pihaknyalah yang akan membangun MRT di Bandung. Bahkan menurutnya, setelah pembangunan tahap pertama usai direncanakan akan diperluas hingga ke sekitar wilayah kota Bandung

“Tahap kedua dari Soreang karena sekarang Soreang-Bandung itu yang paling macet, menyambungkan kota pendidikan di Jatinangor sampai Cimahi,” paparnya. Ia optimis, jika proses FS dan Pra FS berjalan lancar pada akhir 2013, MRT Bandung sudah mulai dibangun. “Mudah-mudahan akhir 2013 bisa dimulai.” (arie)

Sumber : http://www.harianterbit.com/2012/08/29/bandung-lebih-cepat-wujudkan-mrt/

Rabu, 29 Agustus 2012

Bangun MRT, Bandung Terobsesi Kalahkan DKI

VIVAnews - Seperti halnya Jakarta, lalu lintas di Bandung Jawa Barat kerap kali macet. Itu sebabnya Pemerintah Daerah Bandung berencana membangun Mass Rapid Transit (MRT). Sebentar lagi proses pembangunan MRT itu dimulai. Bahkan bisa mendahului Jakarta yang sudah lama merencanakannya.

Walikota Bandung, Dada Rosada, mengatakan bahwa pemerintah daerah setempat berambisi mempercepat proses pengarapan proyek itu. "Mudah-mudahan Bandung mendahului Jakarta dan mohon maaf," ujar Dada di Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.

Sebagai ibukota provinsi, menurut Dada, Bandung harus memiliki tata ruang yang baik. Daerah ini merupakan pintu birokrasi untuk Provinsi Jawa Barat. Pembangunan MRT dianggap sebagai salah satu solusi yang bisa menyelesaikan permasalahan transportasi yang di kota yang cukup padat tersebut.

Pemda Bandung sendiri optimistis proyek MRT tersebut dapat terealisasi. Keyakinan itu didasarkan pada konsep MRT yang menyediakan berbagai moda transportasi masal yang mampu mengakomodir kebutuhan transportasi masyarakat setempat.

Rencananya, MRT tersebut akan diwujudkan dalam bentuk bis massal, monorail dan kereta gantung. "Bisa menampung 600 penumpang. Kan lumayan. Daripada angkutan yang banyak tapi hanya muat 7-8 penumpang,"katanya.

Pembangunan MRT di wilayah Bandung ini juga diharapkan bisa menekan penggunaan kendaraan pribadi masyarakat. Dengan demikian, situasi dan kondisi kota Bandung diharapkan menjadi lebih kondusif.

Sebelumnya, Presiden Direktur Panghegar Grup, Cecep Rukmana mengatakan bahwa pada tahap awal, pihaknya selaku kontraktor telah menandatangani komitmen kerja sama dengan investor asal China yaitu China National Machinery (CMC) guna mengarap persiapan studi kelayakan atau pra feasibility studies (FS) proyek tersebut.

"Jadi, proyek pembangunan MRT ini dengan pola KPS (kerja sama pemerintah dan swasta), di situ ada tahapan persiapan. Sekarang ini tahap persiapan dan mau proyek pra FS," ujarnya.

Proyek tersebut, kata Cecep, akan menelan biaya sekitar Rp4 triliun. MRT ini, nantinya akan menyambungkan seluruh Kota Bandung mulai dari pusat kota yaitu Dago menuju kabupaten Bandung, Soreang sampai ke kota Cimahi.

Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/346998-bangun-mrt--bandung-terobsesi-kalahkan-dki