Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2015

Asyik, pekerja commuter di Jakarta bakal dibuatkan apartemen murah

Merdeka.com - Rutinitas pekerjaan dan jarak rumah ke tempat kerja di ibu kota, kerap membuat para pencari nafkah di DKI Jakarta tak memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga mereka.

Menyiasati hal tersebut, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), rencananya akan membangun apartemen murah bagi para pekerja tersebut, agar bisa memiliki waktu lebih untuk berkumpul bersama keluarganya masing-masing.

"Banyak orang Jakarta yang lahir di Jakarta, tapi pas dewasa, ketika kerja dan menikah sudah enggak mampu lagi beli rumah di dekat emak bapaknya di kota. Padahal dia harus kerja di Jakarta juga. Inilah yang tersingkir ke pinggiran," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (26/6).

"Dia mau sewa apartemen, mahal. Mau kos, keluarga kan kalau ngekos enak nggak? Nggak enak kan. Makanya kita bangunin ini," katanya menambahkan.

Ahok mengatakan, penghuni apartemen murah itu nantinya tidak diwajibkan untuk memiliki KTP Jakarta, tapi harus memiliki pekerjaan tetap di Jakarta. Sehingga, para pekerja itu tidak perlu bolak-balik lagi ke rumahnya yang berada di kota-kota satelit sekitar Jakarta.

Dengan konsep ini, Ahok yakin dapat menekan kemacetan di ibu kota, karena salah satu penyebab kemacetan itu sendiri adalah banyaknya orang yang tinggal di luar Jakarta (warga commuter), yang membawa kendaraan pribadinya untuk menuju kantor mereka yang berlokasi di pusat-pusat ibu kota.

Selain itu, dirinya juga sedikit menjelaskan mengenai pola pengaturan penyewaan apartemen murah tersebut, yang nantinya akan dikelola oleh pihak PD Pasar Jaya, dalam hal pengalokasiannya kepada para pekerja di ibu kota tersebut.

"Nanti yang tinggal di situ, nggak apa-apa kalau nggak punya KTP DKI. Asal tinggalnya di daerah sekitar DKI dan kerja di DKI. Bedanya, kalau rusun kan harus KTP DKI," kata Ahok.

"Unit bisnisnya nanti dikelola Pasar Jaya. Mereka sewakan ke pasangan suami istri, asal mereka kerja di Jakarta. jadi khusus buat orang yang bolak-balik ke Jakarta. Dengan cara itu dia hemat, nggak perlu kredit mobil, nggak habisin bensin, waktu, kurangin macet, dan kehidupan keluarga akan lebih baik. Apalagi secara ekonomi juga bagus, karena mereka bisa belanja di pasar rakyat yang akan dibangun juga di apartemen murah itu," pungkasnya.

Diketahui, guna mendukung wacana tersebut, rencananya Pemprov DKI akan segera membangun 12 tower apartemen murah tersebut, dengan total 2.000 unit apartemen di sejumlah wilayah di DKI Jakarta.

Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/asyik-pekerja-commuter-di-jakarta-bakal-dibuatkan-apartemen-murah.html

Kamis, 28 Agustus 2014

Tanggulangi Banjir, DKI Bangun Lima Rumah Pompa

Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta membangun rumah pompa di lima titik hilir sungai untuk menangani banjir rob. Langkah ini dilakukan sebagai penanggulangan banjir di Ibu Kota Jakarta.

Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU DKI Jakarta SM Robert Rajagukguk mengatakan, lima rumah pompa ini akan dibangun secara bertahap di Sentiong, Hailai-Marina, Muara Karang, Muara Angke, dan Kamal Muara.

"Keberadaan lima rumah pompa ini akan dapat mengurangi banjir di Ibu Kota sebanyak 24%," kata Robert di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (27/8/2014).

Dia menuturkan, rumah pompa di Kali Sentiong ini merupakan kewajiban pengembang yaitu PT Manggala Krida Yhuda (MKY).

Perusahaan tersebut merupakan salah satu yang akan membangun reklamasi pulau di utara Jakarta. Anggaran pembuatan rumah pompa ini mencapai Rp1,1 miliar.

"Tadinya mau dibangun menggunakan APBD tapi akhirnya kita serahkan ke pengembang," ucapnya.

Luas daerah tangkapan untuk rumah pompa ini akan mencapai 47 kilometer dan dibangun untuk mengatasi genangan di daerah aliran sungai (DAS) Kali Sunter hingga perbatasan Depok.

"Kita bangun rumah pompa ini di atas sungai tidak dilahan untuk menghindari kendala pembebasan lahan. Bangunan rumah ini akan dibuat dengan lebar 50 meter dan panjang 200 meter," ujarnya.

Sumber : http://metro.sindonews.com/read/895678/31/tanggulangi-banjir-dki-bangun-lima-rumah-pompa

Rabu, 18 Juni 2014

Jakarta Masih Banjir, Relawan Komunitas Ciliwung Dukung Prabowo

Jakarta - Calon presiden Joko Widodo dianggap masih punya utang dalam penyelesaian banjir di Ibu Kota. Hal ini yang menjadi alasan puluhan Relawan Komunitas Ciliwung menolak Jokowi dan mendukung Prabowo Subianto di Pemilu Presiden 9 Juli mendatang.

"Baru kali ini Banjir sedemikian rumitnya. Tetangga-tetangga kita di Bukit Duri terus kebanjiran sampai rumahnya tenggelam. Tolong lah Pak Jokowi kelarin dulu tanggung jawabnya," kata Ketua Relawan Komunitas Ciliwung Fauzi Abdullah di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (17/6/2014).

Dia mengatakan seharusnya Jokowi memenuhi amanatnya lima tahun sebagai Gubernur DKI. Bukan malah loncat ingin jadi capres. Persoalan mengatasi banjir di Ibu Kota mesti dilakukan secara aktif oleh kepala daerah langsung. Kalaupun Jokowi terpilih jadi presiden dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Gubernur DKI tidak menjamin masalah banjir Ibukota bisa teratasi.

"Kami tuh sayang Jokowi. Di Pilgub kemarin saya coblos Jokowi. Ayolah fokus jadi Gubernur dulu. Kalau Jakarta sudah betul baru boleh yang lebih tinggi. 30 Tahun saya di Jakarta, ini banjir paling parah loh. Terakhir kita di Bukit Duri pas Januari-Februari 2014 kebanjiran," sebut pria berkumis itu.

Kemudian selain masalah banjir, pihaknya, kata Fauzi, juga menyindir kemacetan Jakarta yang semakin parah. Persoalan ini juga masih menjadi tanggung jawab Jokowi dan tidak bisa dilimpahkan begitu saja saat mencalonkan sebagai capres.

"Macet juga sama. Itu yang kita lihat. Makanya kita ini ingin yang terbaik buat capres. Ya Insya Allah nomor satu, yaitu Prabowo," sebutnya.

Dalam deklarasi dukungan ke Prabowo-Hatta hari ini, ada sekitar 40 anggota Relawan Komunitas Ciliwung yang datang ke Rumah Polonia. Menurut Fauzi, anggota komunitasnya berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Maluku. Namun, sebagian besar anggota berdomisili di Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Sumber : http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/17/135354/2610466/1562/jakarta-masih-banjir-relawan-komunitas-ciliwung-dukung-prabowo?9922022

Jumat, 23 Agustus 2013

Kisah Warga Gusuran Waduk Pluit: Kalau Hujan, Yanto Masuk Lemari

Liputan6.com, Jakarta : Suasana ketegangan yang sempat mewarnai pembongkaran bangunan di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, kini usai. Warga akhirnya bersedia hengkang setelah berunding dengan aparat untuk memindahkan barang-barangnya.

Pantauan Liputan6.com, Kamis (22/8/2013), tak sedikit warga mengambil harta bendanya. Mulai dari peralatan dapur hingga kasur tidur. Hal itu dilakukan saat alat berat merobohkan bangunan rumahnya. Mulai dari anak kecil hingga pria paruh baya pun mengais perabotan rumah tangganya yang sudah tertimbun dengan reruntuhan bangunan.

"Aduh ibu kan kemaren sampai hari ini sudah dikasih waktu buat angkut barang. Sekarang saja baru repot, bahaya itu," kata salah seorang aparat yang bertugas di Pluit, Jakarta.

Sementara itu, tampak seorang pria tua berpakaian lusuh tak mengenal bahaya. Bagaimana tidak, Yanto (57) mengangkut perabot rumah tangganya ke dalam gerobak persis hanya berjarak sekitar 10 meter dari kendaraan alat berat. Yanto juga mengungkapkan dirinya memilih pulang kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

"Saya dapat rusun di Marunda, tapi saya mau pulang saja. Anak sama istri saya sudah di kampung. Kata mereka (keluarga) tenang hidup di kampung nggak digebrak-gebrak aparat. Mau jualan rokok di kampung. Di kampung nggak ada gusuran," tutur Yanto.

Seraya memindahkan barang, Yanto mengungkapkan sudah sepekan dirinya tidur di atas reruntuhan bangunan. Selain jauh dari tempatnya bekerja, Yanto juga mengaku memiliki kenangan indah di bangunan yang didirikan di atas waduk itu.

"Saya kerja menyapu jalan di kompleks Ahok. Malah setiap pagi saya mulai menyapu dari depan rumahnya. Saya 15 tahun di sini, susah senang, sampai saya bisa tahu Jakarta saya tinggal di sini. Anak-anak saya lahir di sini. Kalau pas hujan, saya masuk dalam lemari saya. Ya beginilah hidup," cerita Yanto sambil menunjukan lemari miliknya.

Usai merapikan barang-barangnya, Yanto menghubungi anaknya di Kampung untuk memberi kabar. Yanto berencana menagih janji Koordinator Pasca Banjir Waduk Pluit, Heryanto yang bersedia memfasilitasi.

"Ya ini mau saya taruh di bagasi bus. Mudah-mudahan cukup. Janjinya kan yang mau pulang kampung juga diantar. Ya selamat tinggal Jakarta," pungkas Yanto sedih.

Sumber : http://news.liputan6.com/read/672351/kisah-warga-gusuran-waduk-pluit-kalau-hujan-yanto-masuk-lemari

Rabu, 19 Juni 2013

Kawasan Kumuh Akan Dijadikan Rusun dan Ruang Terbuka Hijau

Jakarta - Untuk mengurangi kepadatan penduduk di kawasan kumuh, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengubah kawasan kumuh dengan membangun rumah susun (rusun) dan ruang terbuka hijau.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, penataan kepadatan penduduk di kawasan kumuh sedang dilakukan. Rencananya, rumah-rumah yang tidak layak huni akan dibongkar, diganti dengan pembangunan rusun yang menjadi kewajiban 20 persen pengembang.

“Kawasan kumuh harus digantikan dengan rusun. Sehingga warga memiliki rumah yang layak huni. Tidak berupa gubuk reot lagi,” kata Ahok, sapaan akrab Basuki di Balai Kota DKI, Jakarta, Selasa (18/6).

Selain mengubahnya menjadi lahan untuk rusun, lanjutnya, kawasan kumuh juga akan diubah menjadi lebih hijau. Sekitar 40 hingga 60 persen dari kawasan kumuh akan disulap menjadi taman interaktif atau ruang terbuka hijau.

“Kita akan bangun sekitar 40 hingga 60 persen jadi setengah RTH, setengah jadi taman. Jadi di rusun itu nanti ada taman atau RTH. Sehingga tampak lebih hijau, indah dan segar,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyebutkan, jumlah rumah kumuh di ibu kota mengalami penurunan hingga 25 persen. Saat ini terdapat 309 RW kumuh di Jakarta. Sebelumnya, pada 2008, BPS mencatat 415 rumah kumuh.

Guna mendata rumah kumuh, BPS Jakarta mengukur sejumlah hal. Di antaranya indikator kerawanan terhadap kebakaran dan banjir, kondisi saluran air, kepadatan penduduk, penangkutan sampah, serta banyaknya genangan air.

Hasil penelitian tersebut turut pula menilai bahwa wilayah Jakarta Utara, merupakan kawasan paling kumuh. Di kawasan itu tercatat sebanyak 96 RW rumah kumuh.

Sedangkan penataan kawasan kumuh di DKI Jakarta akan dilakukan Pemprov terhadap 360 kampung secara bertahap. Rencananya setiap tahun ada 100 kampung yang akan ditata dengan anggaran per kampung sebesar Rp 30 miliar-Rp 50 miliar.

Dalam penataan kawasan kampung dalam kawasan kumuh, masing-masing kampung akan mempunyai tematik tersendiri, sesuai dengan kekuatan lokalnya. Misalnya, seperti di Rawajati, Jaksel, akan dijadikan kampung herbal, karena di sana banyak sekali pengusaha herbal.

Lalu, akan dibangun kampung protein di Tegal Parang, sebab di kawasan tersebut terdapat industri tempe dan tahu. Selanjutnya, akan dibangun kampung platform atau kampung panggung di Manggarai, kampung shopping di Poncol, kampung kampus di Tomang, kampung backpacker di Kebon Sirih, kampung tekstil di Kebon Kacang, kampung ikan di Penjaringan, dan Kampung CBD di Tanah Abang.

Seluruh kampung tersebut akan ditata lengkap dengan ruang terbuka hijau (RTH), perpustakaan dan drainase air yang baik sehingga perkampungan yang kumuh dapat tertata lebih baik, lebih manusiawi, dan layak huni.

Sumber : http://www.beritasatu.com/aktualitas/120479-kawasan-kumuh-akan-dijadikan-rusun-dan-ruang-terbuka-hijau.html

Rabu, 20 Februari 2013

Ada MRT, Macet Hanya Akhir Pekan

JAKARTA - Pemerintah akan membangun Mass Rapid Transportation (MRT) agar mengurangi pengguna mobil di kawasan yang dilewati MRT. Nantinya, akan disediakan parkiran di halte-halte MRT tersebut.

Deputi Menko Bidang Kerja sama Ekonomi Internasional, Rizal Affandi Lukman menjelaskan, dengan adanya MRT, maka orang-orang yang biasa membawa mobil, dapat menitipkan mobilnya di parkiran tersebut, dan naik MRT.

"Mungkin di Blok M perlu dibangun beberapa tempat parkir MRT, yang memungkin orang-orang yang tinggal di Bintaro untuk nyambung mnggunakan MRT ke Thamrin, misalnya. Nah, ini yang perlu yang bisa dipikirkan dalam konsep transportasi terpadu," kata dia, di kantornya, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Rizal menjelaskan, MRT bertujuan untuk mengurangi keinginan orang untuk menggunakan mobil pribadi secara berlebihan. Caranya, lanjut dia, adalah dengan membaut transportasi menjadi nyaman dan terjangkau.

Menurutnya, jika pengguna mobil masih akan banyak, hanya saja tidak setiap hari seperti hanya di akhir pekan. Menurutnya, jika pada biasa maka mobil tersebut dapat di parkir di rumahnya. Namun, dia mengatakan belum membicarakan di luar DKI Jakarta yang masih luas.

"Jadi tidak bapaknya pakai mobil sendiri, anaknya pakai mobil sendiri, sehingga di rumah bisa tiga sampai empat mobil, tapi dengan adanya public transport, Senin sampai Kamis mobilnya bisa di parkir di rumah dan akhir pekan masih perlu mobil juga," ujar Rizal. (mrt)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2013/02/19/320/764157/ada-mrt-macet-hanya-akhir-pekan

Selasa, 22 Januari 2013

Seminggu Terjang Jakarta, Banjir Renggut 26 Korban Jiwa

Jakarta, GATRAnews- Banjir yang melanda kota metropolitan, Jakarta merenggut puluhan korban jiwa. Dari data kepolisian Polda Metro Jaya sejak Selasa (15/1) sampai Senin (21/1) hari ini tercatat banjir telah merenggut sebanyak 26 korban jiwa. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan korban yang meninggal lebih didominasi karena tenggelam dan terseret banjir. "Macam-macam ya penyebabnya dari 23 kejadian ada 26 yang meninggal. Korban didominasi karena tenggelam dan terseret arus air baru kemudian karena tersetrum," jelasnya kepada wartawan.

Berikut data-data korban yang berhasil dicatat pihak kepolisian:

1. Raif Anjar Agasi (13) warga Gang Anggur VI, Tanjung Duren, Jakbar meninggal akibat mandi di kali saat banjir kemudian korban terbawa arus.

2. Mujiyo (43) korban tersengat listrik saat memperbaiki instalasi listrik di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.

3. Muhammad Haikal (2), korban terjatuh dari tempat tidur di rumahnya di RT 05/05 Kelurahan Kedauang Kaliangke, Cengkareng, Jakbar, saat itu rumahnya terendam banjir 1 meter, korban tenggelam dan tewas.

4. Sanin (68), korban pulang mencari rumput di areal persawahan ang sat itu banjir setinggi 1,7 meter. Korban yang menggunakan perahu dari gabus tiba-tiba terjatuh dan tenggelam. Korban ditemukan tewas di Kampung Banteng RT 02/01 Desa Pasir Munceng, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tengerang.

5. Santan (60), korban sedang menggembala kerbau di pinggir sungai Cimanceri, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang sedang dalam keadaan meluap (banjir), kemudian korban jatug dan terbawa arus.

6. Karno (35), korban bermaksud menyebrang kali di Jalan J RT 06/10 Kebon Baru, Tebet, Jaksel ke wilayah timur pada saat banjir kemudian terbawa arus dan diemukan mati.

7. Omang (62) korban ditemukan warga dalam keadaan tewas di sungai Cibeet Bojongmangu Kab Bekasi dikarenakan korban hanyut terbawa arus saat menyebrangi sungai di Kampung Cibarengkok RT 05/03 Tanjung Sari, Kab Bogor.

8. Andi Alias Abi (17) korban sedang mandi di Kali Spion RT 03/03, Gondrong, Cipondoh, Kota Tangerang yang sedang banjir kemudian korban tenggelam, korban ditemukan satu hari kemudian.

9. Suharyanto bin Tagam (55), korban ditemukan MD oleh istrinya diduga tersengat listrik dari rumah korban di Jalan Kayu Mas Timur Nomor 20 RT 04/03 Pulogadung Jaktim.

10. Riko (6), korban bersama dua orang anak lainnya main dipinggir kali yang banjir di Kali Cilangkap Setu RT 04/04 Setu Cipayung Jaktim kemudian korban terpleset dan terbawa arus, sampai saat ini korban belum ditemukan.

11. Solahudin (35), Korban tewas tersetrum saat menolong saksi (Adilia) di Jalan Gang 20 RT 05/05 Kelurahan Kalibata, Pancoran, Jaksel.

12. Abdul Arif Agus (34), karyawan UOB yang ditemukan tim SAR dalam keadaan MD dengan hidung mengeluarkan darah akibat terjebak di basement yang terendam banjir.

13. Hendro Suwono (68), korban terjebak macet karena adanya banjir di Depan RS Pluit Jalan Pulit Jaya VIII penjaringan jakut. Kemudian korban menghentikan mobil tanpa mematikan mesin, karena terlalu banyak menghirup gas C02 korban kehilangan kesadaran dan meninggal. Istri korban yang berada dalam satu mobil, masih dalam proses penyelematan.

14. Uidn Wahyudin (34), korban meninggal dunia akibat tenggelam di rumahnya di RT 08/08 Kedaung, Kaliangke, Cengkareng, Jakbar.

15. Handoko Waluyo (60), korban ditemukan meninggal terapung di Jalan Baldongan RT 06/01 Tambora, Jakbar, diduga korban tewas terperosok ke saluran pembuangan air yang cukup dalam.

16. Rudi Tiono (43), korban dalam keadaan lumpuh dan kurang waras, korban ditemukan mengambang di air tertutup kasur di dalam rumahnya di Perum Daan Mogot Estate Blok Fa 4/4 RT 04/15 Cengkareng Timur, Jakbar.

17. Muhayaolloh (15), korban bersama empat teman berenang di Kali Spion Ampera Depan Masjid Al Huston Poris Jaya, Batu Ceper, Kota Tangerang yang saaat itu banjir, korban kemudian terbawa arus dan tenggelam.

18. Asep Saipul Bahri (19), korban bermaksud menyebrangi sungai di Kampung Busuk RT 03/05 Pasirbanjir Cikarang Pusat, Bekasi Kabupaten, yang banjir dengan cara berenang, namun korban terseret arus dan meninggal.

19. Kasim (48), Nanang (21), Suratman (25), Rudi (22), saat itu korban kebanjiran dan listrik padan kemudian menyalakan genset dan para korban ditemukan dilantai atas dalam keadaan MD diduga keracunan asap genset, TKP Taman Permata Indah 1 Blok PN 3A RT 14/07 Penjagalan Jakut.

20. MR X korban ditemukan mengambang di kolam ikan milik Sukiman di Jalan YDPP Selatan, Nomor A2, RT 006/002 Cilandak Jaksel.

21. MR X korban ditemukan warga dipinggir kali Ciliwung saat membersihkan rumah pasca banjir di Jalan Bina Marga RT 003/07 Pancoran Jaksel.

22. Tri santoso (34) Warga Jalan Kud RT 10/17 Sukmajaya Cilodong, Depok Jabar, dan Tito (30), warga Klender Jakti. Dua orang ini adalah korban selamat di basement UOB. (WFz)

Sumber : http://www.gatra.com/nusantara/nasional/23433-seminggu-terjang-jakarta,-banjir-renggut-26-korban-jiwa.html

Kamis, 10 Januari 2013

Banjir Merendam, Warga Pilih Tak Pergi Kerja

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-- Warga Kelurahan Bidaracina, RT 06-12 /RW 11, Kampung Dalam Jakarta Timur tidak bisa bekerja karena kedatangan tamu tak diundang, banjir kiriman, sejak Kamis (10/1/2013) subuh tadi.

Pantauan Tribunnews.com, kebanyakan warga memilih bertahan di rumah (berlantai dua) untuk menjaga barang peralatan mereka. Pun demikian warga yang mengungsi di Gereja HKBP MT Haryono Cawang dan gedung Karangtaruna.

Selain mengungsikan barang peralatan di dua gedung tersebut, sebagian warga yang telah lelah tampak beristirahat.

Sebagian lainnya tampak berdiri dan bercengkrama dengan warga lainnya sembari menjaga sepeda motor yang diparkirkan di tempat yang lebih tinggi.

Warga Kelurahan Bidaracina, RT 06-12 /RW 11, Kampung Dalam Jakarta Timur kembali kedatangan tamu tak diundang, banjir kiriman, Kamis (10/1/2013) subuh.

Sekitar pukul 04.00 WIB, banjir telah menggenangi sebagian rumah warga yang berada di tempat yang lebih rendah. Tak berselang lama, arus air semakin deras hingga merendam rumah warga di sekitar gereja HKBP MT Haryono.

Sejak itu pula warga tampak memindah-mindahkan peralatan dan barang dari rumah masing-masing ke dalam gereja dan tempat yang lebih tinggi. Kendaraan bermotor pun demikian dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.

"Tadinya saya lihat sekitar jam tigaan air belum setinggi dan deras ini. Sekarang sudah tinggi seperti ini, tambah angin yang dingin," ujar Respon Zagoto.

Dia katakan, tidak ada hujan mengguyur. Namun, banjir kiriman itu telah menggenangi sebagian besar rumah warga.

Sebelumnya, banjir setinggi dua meter terjadi di Bidara Cina, Jakarta Timur sejak Senin (24/12/12) lalu.

Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2013/01/10/banjir-merendam-warga-pilih-tak-pergi-kerja