Tampilkan postingan dengan label moda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Angkutan Online di Jakarta Akan Masuk ke Smart City

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengungkapkan, seluruh moda transportasi berbasis online di Ibu kota akan dimasukkan ke dalam aplikasi smart city milik Pemprov DKI.

Sehingga, mantan Bupati Belitung Timur tersebut berharap, hal ini sebagai salah satu solusi untuk meretas kemacetan di Ibu Kota.

"Kita mau cangkokkan semua ke dalam sistem smart city. Semakin banyak aplikasi online maka orang akan menjadi makin mudah. Nantinya, enggak akan macetkan, akan kita batasi bajaj cuma 14 ribu sisa 7 ribu kita paksakan isi ganti gas," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (7/10/2015).

Untuk meretas persoalan kemacetan di Ibu Kota, Ahok menerangkan Pemprov DKI juga akan melakukan pembatasan motor untuk masuk ke jalan protokol di Ibu Kota. Selain itu, lanjut Ahok, Pemprov DKI akan menggratiskan transportasi masal dan tepat waktu.

"Silahkan saja nanti kita batasi jalan protokol enggak boleh lewat motor. Ada bus gratis tak ada transportasi masal yang tepat waktu. Saya aja dulu suka naik ojek. Kalau macet naik ya naik ojek," pungkasnya.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2015/10/07/338/1228018/angkutan-online-di-jakarta-akan-masuk-ke-smart-city

Selasa, 18 Agustus 2015

JK Dukung Go-Jek: Cocok untuk Konsep Smart City

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung usaha Go-Jek yang diinisiatori oleh Nadim Makarim. Menurut dia, Go-Jek merupakan model transportasi modern karena berbasis teknologi. "Cocok diterapkan dengan konsep Kota Cerdas," kata Kalla, di Jakarta, Kamis malam, 13 Agustus 2015.

Kalla mengatakan dengan adanya Go-Jek, memudahkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan transportasi. Apalagi, kata dia, Go-Jek juga melayani jasa kurir yang sangat memudahkan masyarakat ketika ingin membeli sesuatu.

Go-Jek, kata Kalla, diprediksi juga akan mengurangi kemacetan di Jakarta sampai 10 persen. "Dengan pemikiran yang cerdas, Go-Jek bisa mengurangi kemacetan. Kalau tidak ada GoJek, orang mau ke mana, misalnya beli roti, pasti bawa mobil dan semakin macet. Jadi pas ada Go-Jek bisa mengurangi kemacetan," ujarnya.

Selain itu, dengan adanya Go-Jek juga memunculkan lapangan kerja baru. Artinya, kehadiran Go-Jek dengan sistem pengupahan yang adil, membuat masyarakat, khususnya pengemudi ojek asli, kesejahteraannya meningkat.

"Saya lihat itu banyak pelamar Go-Jek, artinya ini kan meningkatkan lapangan pekerjaan. Teknologi harus punya manfaat dengan menciptakan lapangan kerja baru," ujarnya.

Kalla mengatakan Go-Jek harus diintegrasikan dengan moda transportasi lain. Dengan demikian, nantinya seluruh informasi transportasi menggunakan teknologi demi menunjang sebuah kota yang cerdas.

Sumber : http://metro.tempo.co/read/news/2015/08/15/231692093/jk-dukung-go-jek-cocok-untuk-konsep-smart-city

Selasa, 23 Juni 2015

HUT Ke-488 Jakarta, Kenyamanan Transportasi Jadi Sorotan Warga

JAKARTA, KOMPAS.com — Waktu untuk berbuka puasa masih beberapa jam. Namun, sejumlah ruas jalan di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman ke arah Semanggi dan Blok M sudah terpantau padat pada Senin (22/6/2015) sore. Kemacetan hampir selalu tidak terhindarkan dari rutinitas di Jakarta, tidak hanya saat menjelang berbuka puasa pada bulan ini.

Bagi Ninies, beraktivitas di Jakarta ibarat berada di ring tinju, terlebih saat berurusan dengan kemacetan arus lalu lintas. Tak jarang, ia menjadi frustrasi menghadapi sekelumit masalah transportasi di Ibu Kota.

Menurut dia, Jakarta yang sedemikian besar masih belum didukung oleh fasilitas transportasi umum yang memadai.

"Tetapi, adakalanya Jakarta membuat gue jadi pemenang dalam pertempuran melawan kemacetan, kereta yang ngaret, taksi yang penuh terus, atau metromini dan kopaja yang miring ke kiri saking penuhnya," kata Ninies kepada Kompas.com, Senin siang.

Bahkan, kata dia, fenomena ojek yang semakin berkembang di Jakarta mencerminkan betapa buruknya sistem transportasi umum yang ada saat ini. Banyak orang mau tak mau menggunakan ojek karena ingin lebih cepat sampai tujuan dan praktis membelah kemacetan di Jakarta.

"Kenyamanan (transportasi) Jakarta sepertinya memang akan terus jadi ring pertaruhan. Tetapi, ya karena emang transportasi publik kita masih berantakan banget ya, ojek bisa jadi penolong, dalam tanda kutip," kata Ninies.

Tak hanya kenyamanan, keamanan di dalam moda transportasi umum juga disuarakan oleh warga Jakarta. Menurut Sandi, meski kasus pelecehan seksual sudah terbilang berkurang terjadi di angkutan umum, hal itu tidak serta-merta membuat warga menjadi nyaman dalam menggunakan angkutan umum.

"Pencopetan dan ramainya pengamen atau pengemis di atas kopaja bikin kita yang naik jadi khawatir juga loh, apalagi tuh yang ngamen maksa-maksa. Masih sering terjadi kayak gitu," kata Sandi yang tengah menunggu kopaja di kawasan Kebon Sirih, Senin siang.

Sandi berpendapat, seharusnya ada sebuah paguyuban yang mampu memberdayakan para pengamen maupun pengemis tersebut agar lebih bermanfaat bagi ibu kota Jakarta.

Senada dengan Ninies, Marina juga melihat sektor transportasi di Jakarta masih jauh dari memuaskan. Sebab, banyak orang, termasuk dia, merasa belum nyaman menggunakan transportasi publik, khususnya pada kereta rel listrik (KRL), disebabkan masalah teknis yang sering terjadi.

"Kereta api jangan terlalu sering gangguan begitu dong. Jadi, orang-orang kan tidak nyaman ya," kata Marina kepada Kompas.com, Senin (22/6/2015).

Pekerja kantoran yang tinggal di Menteng ini pun berharap PT KCJ sebagai pengelola KRL tidak cuek dengan masalah-masalah teknis yang semakin sering menggerogoti moda transportasi yang banyak digunakan warga itu.

Di sisi lain, Thomas mengapresiasi Pemerintah DKI yang konsisten membenahi transjakarta agar bisa menjadi moda transportasi utama masyarakat Jakarta. Thomas bahkan merasa terakomodasi dengan layanan transjakarta yang beroperasi hingga 24 jam.

"Saya lebih sering bekerja pada malam hari. Sebelum adanya transjakarta yang amari (angkutan malam hari), pengeluaran saya menjadi bolong hanya karena ongkos ojek pulang ke rumah," kata Thomas yang tinggal di kawasan Senen.

Hanya saja, Thomas juga merasa tingkat keamanan di jalanan Jakarta masih harus diperbaiki, terutama pada malam hari.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/22/16583801/HUT.Ke-488.Jakarta.Kenyamanan.Transportasi.Jadi.Sorotan.Warga

Rabu, 03 Juni 2015

Westbike Messenger, Mengurai Kemacetan Jakarta dengan Sepeda

Mengantarkan dokumen, barang, dan segala jenis paket dengan segera di belantara Jakarta hanya mungkin dilakukan dengan sepeda motor. Akan tetapi, memilih sepeda motor sebagai moda transportasi pengantar belum tentu bijak untuk menghadapi kemacetan di jalan raya.

Sepeda motor meninggalkan jejak karbon berupa sisa gas buang dan bobotnya relatif berat sehingga tidak memungkinkan diangkat-angkat. Hal itu kerap membuat sepeda motor terjebak dan menjadi bagian dari kemacetan. Maka, kembali pada metode pengantaran paket pada masa lalu dengan sepeda yang cenderung ramah lingkungan karena nihil gas buang dicoba Westbike Messenger Services (WMS) sejak Oktober 2013.

Sebagian aktivitas WMS dengan 15 pengendara (rider) sepeda itu terekam pada Kamis (28/5) petang di salah satu pojok Lantai 2 Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Hamzah Mutaqqien (23), salah seorang pengendara yang turut merintis bisnis tersebut, bersama Chief Operating Officer WMS Hendi Rachmat dan Co-Founder WMS Duenno Ludissa tengah duduk-duduk santai seusai menjalani aktivitas hari itu.

Tas paket dengan tempelan sejumlah badge menemaninya. "Mental diperlukan," ujar Hamzah yang akrab disapa Jeje saat ditanya apa yang mesti dimiliki seorang pengendara.

Mental yang dimaksud Jeje ialah tatkala harus berhadapan dengan kendaraan bermotor yang menyemut dan seolah tidak peduli dengan kehadiran pengendara sepeda. Mental itu juga yang dibutuhkan tatkala dalam jangka waktu kurang dari dua tahun ia sudah dua kali ditabrak hingga terpental.

Pertama, ditabrak metromini di kawasan Blok M Plaza. Kedua, ditabrak sepeda motor di kawasan Kemayoran.

Mental itu pula yang membuat para pengendara seperti Jeje tetap bangun dan kembali mengayuh sepeda tanpa harus memusingkan urusan ganti rugi atau biaya pengobatan. Itu karena yang paling penting ialah bagaimana paket-paket yang diantarkan itu bisa sampai tepat waktu.

"Kalau paket telat sampai, itu sangat minim (jarang) terjadi karena kami sudah memperhitungkan waktunya," ujar Jeje.

Seluruh wilayah Jakarta, kecuali wilayah utara, memungkinkan dijelajahi para pengendara sepeda itu demi mengantarkan paket dalam waktu bisa kurang dari dua jam. Wilayah utara dikecualikan, menurut Hendi, atas dasar keamanan bagi para pengendara sepeda karena truk-truk besar mendominasi jalan raya di kawasan tersebut.

Pemilihan rute, keahlian bersepeda, dan kemampuan mengendarai sepeda di sela-sela kendaraan bermotor menjadi kunci dalam mencapai ketepatan waktu pengantaran. Sepeda yang dipergunakan adalah jenis fixie (fixed-gear bicycle) tanpa rem milik setiap rider.

Karena itulah, kecepatan mengayuh sepeda tidak semata-mata menjadi kunci. Yang tak kalah penting adalah keterampilan mengendarai sepeda dan kemampuan dalam membaca situasi serta pemilihan jalan. Jeje mengatakan, dalam satu hari, seorang pengendara paling sedikit menempuh rute 50 kilometer.

Setiap pengendara sudah paham betul rute yang hendak mereka lalui dan paling hanya mengecek aplikasi Google Maps untuk sejumlah rute yang sangat baru. Mereka beroperasi sesuai jam kantor dan berakhir sekitar pukul 17.00.

Sebagian besar pengendara adalah mahasiswa. Hendi mengatakan, dari 15 pengendara, 12 orang merupakan mahasiswa, sedangkan tiga lainnya telah menyelesaikan kuliah dan menjadi anggota staf tetap.

Awalnya mereka sesama anggota komunitas. Belakangan, mereka direkrut secara terbuka, lewat pengumuman via media sosial.

Hubungan di antara mereka juga relatif erat. Jalinan komunikasi yang ada seperti layaknya dalam sebuah komunitas, termasuk dengan yang sudah tidak lagi menjadi pengirim paket.

Adya Maulana (20), mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Atma Jaya, pernah bergabung selama tiga bulan bersama WMS pada masa liburan kuliah. Petang itu, ia bertandang sekalipun tidak lagi menjadi pengantar paket bersama WMS.

Jeje yang turut mendirikan WMS masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Universitas YAI. Akan tetapi, saat ini ia memilih mengambil cuti kuliah agar bisa lebih fokus mengembangkan bisnis WMS.

Berkembang dengan jumlah permintaan semakin banyak, itulah yang kini dirasakan Hendi dengan 15 pengendara. Jumlah itu sudah bertambah banyak dibandingkan saat ia memulai bisnis pengantaran paket dengan sepeda itu bersama dua pengendara saja.

Ia berencana untuk merekrut lebih banyak pengendara dan itu tidak terbatas pada laki-laki. Saat ini pun sudah ada seorang pengendara perempuan bernama Mawar yang turut bergabung sebagai pengantar paket.

Jika Anda gila menggenjot sepeda, punya KTP, dan ingin mengantongi penghasilan sekitar Rp 3 juta sebulan, mungkin bergabung bersama WMS bisa jadi pilihan. Tentu saja ada sejumlah tahapan seleksi, seperti wawancara, yang akan sangat menentukan apakah calon bakal lulus atau tidak.

Ini masih ditambah bahwa visi yang diusung WMS bukan semata aktif sebagai pengendara sepeda dalam konteks menjadi pengantar paket. Hendi sudah mulai berpikir untuk menggabungkan penyedia layanan jasa serupa di sejumlah kota di Indonesia dalam bentuk asosiasi. Jika tak ada aral melintang, Desember mendatang, ia akan melangsungkan ajang Indonesia Commuter Race.

Hal tersebut bakal jadi bekal pengalaman berharga sebelum mengadakan kompetisi bagi para pengendara sepeda di tingkat Asia Pasifik yang menggunakan moda transportasi itu untuk mengantarkan paket titipan. Ide tersebut diperoleh Hendi setelah sejumlah pengendara WMS ikut dalam ajang Cycle Messenger World Championships di Melbourne, Australia, April lalu.

Setelah sejumlah pencapaian tersebut, Hendi masih mempunyai catatan terkait bisnis pengantaran paket dengan sepeda yang praktis dan aman bagi lingkungan karena tidak menghasilkan gas buang itu. Ia menyatakan, sejauh ini, sebagian besar kliennya yang memberikan perhatian penuh adalah perusahaan asal luar negeri dan kantor kedutaan besar negara sahabat di Jakarta.

Sementara itu, kesadaran tentang lingkungan pada sebagian kalangan di dalam negeri dinilai masih belum utuh. Ini tentu membuat Hendi dan WMS semakin tertantang, serupa ketika ia bersama rekan-rekannya membangkitkan lagi kegairahan bersepeda fixie bersama WMS.

Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/05/30/Westbike-Messenger%2c-Mengurai-Kemacetan-Jakarta-den

Selasa, 12 Mei 2015

APTB Dilarang Masuk Jakarta, Penumpang Protes

TEMPO.CO , Jakarta: Pegiat akun Twitter @NaikUmum, Andreas Lucky Lukwira, mengatakan kebijakan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) yang dilarang tidak boleh masuk ke Jakarta menyulitkan penumpang. Alasannya, APTB merupakan salah satu opsi moda transportasi jika jarak kedatangan bus atau headway Transjakarta jauh.

"Kami berharap APTB tetap ada untuk menambah pilihan angkutan," ujar Andreas, Rabu, 6 Mei 2015.

Kelak bus APTB hanya diizinkan mengangkut penumpang hingga daerah perbatasan. Musababnya, PT Transportasi Jakarta dan pengelola APTB gagal mencapai kesepakatan bergabung ke badan usaha milik DKI itu dengan pembayaran per kilometer. Operator APTB meminta pembayaran Rp 18 ribu per kilometer, sedangkan PT Transportasi Jakarta menawarkan Rp 14-15 ribu.

Andreas menuturkan, pelayanan APTB sudah memadai jika dibandingkan dengan bus Transjakarta. Dari segi headway, ia berujar, APTB juga lebih unggul ketimbang Transjakarta. Hal ini bisa dibuktikan terutama pada rute yang melintas di koridor IX Pinang Ranti-Pluit. Kedatangan Bus APTB lebih sering dibandingkan bus Transjakarta.

Andreas mengatakan penumpang kesulitan mengandalkan bus Transjakarta di jam sibuk. Dari pengalamannya, dalam lima tahun terakhir penerapan rupiah per kilometer justru membuat pengemudi tak berorientasi kepada penumpang. "Seringkali saya melihat TJ istirahat atau isi BBG di jam sibuk, padahal shelter sedang padat," ujar Andreas.

Dwi Satria Utama, 26 tahun, juga melayangkan protes. Penumpang APTB rute Bekasi-Tanah Abang ini mengatakan larangan APTB masuk ke Jakarta merugikan penumpang lantaran waktu tempuh yang semakin lama dan ongkos yang semakin mahal karena membayar tiket sebanyak dua kali.

Sebagai gambaran, penumpang APTB dari Bekasi akan turun di daerah Cawang untuk beralih ke bus Transjakarta. Untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Abang, penumpang juga harus transit lagi di Halte Semanggi. "Waktu tempuh yang semakin lama itu sangat merugikan," kata dia.

Rio, sapaan Dwi, menyarankan Pemerintah DKI mempertimbangkan kembali larangan itu. Alasannya, APTB merupakan salah satu moda transportasi bagi para penglaju. "Transjakarta sampai saat ini juga belum bisa diandalkan," kata Rio.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/05/07/083664207/APTB-Dilarang-Masuk-Jakarta-Penumpang-Protes

Rabu, 01 April 2015

Jasa Marga: Jakarta Macet Tak Ada Obatnya

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Umum PT Jasa Marga Tbk Adityawarman memprediksi kemacetan di DKI Jakarta akan semakin menjadi-jadi. Bahkan, Aditya mengakui kemacetan takkan bisa terobati meskipun Jasa Marga membangun banyak ruas jalan tol di Jakarta sekalipun.

“Ada dua juta mobil baru setiap tahunnya, sedangkan jalan tol berapa yang baru?” ujar dia kepada Tempo, Jumat, 27 Maret 2015. Adityawarman mengatakan sekarang ini secara teori, volume kendaraan yang bisa ditampung jalan tol hanya 150 ribu kendaraan, sedangkan kendaraan yang ternyata melintas sebanyak 500 ribu unit.

Kepadatan lalu lintas Ibu Kota akan diperparah dengan selesainya proyek jalan tol Cikampek-Palimanan yang akan dibuka tahun ini. Jalan tol tersebut, ujar Adityawarman, dapat mempersingkat waktu tempuh menuju Jalur Pantura dari lima-enam jam menjadi 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 80 km/per jam.

Selanjutnya, gaji baru fantastis pegawai Pemda DKI Jakarta yang akan diterapkan tahun 2015 ini juga akan ikut andil. “Makin banyak yang beli mobil nanti,” kata dia.

Menurut Adityawarman, fungsi jalan yang sesungguhnya adalah sebagai pelancar sirkulasi kendaraan. Kelancaran sirkulasi sangat berpengaruh terhadap jumlah volume kendaraan yang melewatinya.

“Perlu ada dorongan membangun potensi moda transportasi selain kendaraan pribadi, kalau hanya mengandalkan jalan tol takkan bisa mengatasi kemacetan,” kata Adityawarman.

Karena itu, dirinya menyatakan mendukung dan siap membantu pemerintah pusat maupun Pemerintah DKI Jakarta dengan rancangan moda transportasi massal seperti MRT dan LRT.

Selain itu, Jasa Marga juga tetap akan menggenjot target 1.000 kilometer jalan tol baru yang dimandatkan Presiden Jokowi kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/03/28/083653653/Jasa-Marga-Jakarta-Macet-Tak-Ada-Obatnya

Jumat, 29 Agustus 2014

Proyek MRT Jakarta Masuki Tahapan Konstruksi Stasiun Bawah Tanah

Dalam kurun waktu 12 tahun, pertumbuhan kendaraan pribadi di jalan-jalan Jakarta meningkat pesat. Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, proporsi moda transportasi pribadi yang masih berkisar pada angka 27,8 persen pada 2002 mengalami kenaikan signifikan ke angka 62,9 persen pada 2010.

Sayangnya, pergeseran moda transportasi tersebut tak berjalan linier dengan angka rata-rata pertumbuhan jalan di Jakarta yang tak sampai 1 persen per tahun. Akibatnya, kecepatan kendaraan menjadi rendah—rata-rata hanya mencapai 8,3 kilometer/jam—sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas.

Dalam mengurai kemacetan lalu lintas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih untuk memfokuskan diri pada pembenahan transportasi massal. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada berbagai kesempatan bahkan mengungkapkan, konsep infrastruktur paling baik untuk mengatasi kemacetan di Jakarta adalah dengan mendorong transportasi berbasis rel. “Harus yang berbasis rel kereta, terutama untuk kereta api dan Mass Rapid Transit (MRT). MRT diharapkan mampu mengubah preferensi masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum,” ujarnya.

Konstruksi MRT

Pembangunan proyek MRT Jakarta secara keseluruhan mencakup dua koridor (line), yakni koridor (line) selatan-utara dengan rute Lebak Bulus–Kampung Bandan sepanjang 23,8 kilometer, serta koridor (line) timur–barat dengan rute Bekasi–Balaraja sepanjang 87 kilometer.

Sebagai langkah awal, pembangunan proyek MRT Jakarta dilakukan pada koridor selatan-utara dengan total 21 stasiun. Namun, demikian, pembangunan dibagi menjadi dua tahap, yakni tahap I (fase Lebak Bulus-Bundaran HI; total 13 stasiun) dan tahap II (fase Bundaran HI-Kampung Bandan; total 8 stasiun).

Saat ini, proses konstruksi tengah memasuki tahapan pekerjaan penggalian stasiun bawah tanah (underground station) di Setiabudi dan Senayan, menyusul Bundaran HI yang telah dimulai sejak April 2014 lalu. Konstruksi skala besar dimaksud adalah dimulainya tahapan penggalian dan pembangunan stasiun bawah tanah di median jalan. Tahapan ini akan membawa konsekuensi penutupan bagian tengah median jalan secara permanen dalam kurun waktu dua tahun. Oleh karenanya, lajur kendaraan sementara akan dibuat sedikit berbelok dengan memanfaatkan lokasi jalur hijau dan trotoar jalan yang telah dikupas dan dilakukan pengerasan sebelumnya.

Minimalisasi Dampak

Seiring dengan dimulainya tahapan pembangunan tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan, PT MRT Jakarta, serta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya terus berupaya untuk meminimalisasi dampak lalu lintas di sekitar lokasi proyek. Prinsip dasar dari rekayasa lalu lintas tersebut yakni berusaha untuk mempertahankan jumlah lajur kendaraan, meskipun pada beberapa titik tidak bisa dilakukan karena lebar jalan yang sempit.

Oleh karenanya, sangat diharapkan adanya dukungan dan kesadaran masyarakat untuk senantiasa berhati-hati, mematuhi rambu lalu lintas, serta mencari informasi mengenai kondisi lalu lintas di sekitar lokasi proyek sehingga tetap dapat mengelola aktivitas sehari-hari meskipun terdampak pembangunan proyek MRT. Informasi dimaksud antara lain bisa diperoleh melalui website MRT Jakarta (www.jakartamrt.com), informasi dari TMC Polda Metro Jaya, siaran Green Radio 89,2 FM, serta CTV yang disediakan melalui situs www.lewatmana.com.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/08/27/12493331/Proyek.MRT.Jakarta.Masuki.Tahapan.Konstruksi.Stasiun.Bawah.Tanah

Selasa, 05 Agustus 2014

Menteri PU: Penambahan jalan tidak bisa kurangi macet Jakarta

Merdeka.com - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menegaskan penambahan sejumlah ruas jalan baru di Ibukota tidak akan efektif mengurangi kemacetan jika tidak diiringi dengan perbaikan moda transportasi umum.

Hal itu mengacu kepada perjanjian pengusahaan 6 ruas jalan tol dalam kota yang dinilai tidak efektif untuk mengatasi masalah kemacetan di Ibukota. "Untuk mengurangi kemacetan di satu kota besar itu, cara yang paling efektif adalah dengan menambah transportasi publik," ucap Djoko di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU), Jakarta Selatan, Senin (4/8).

Djoko menyebut jika tidak dibarengi dengan perbaikan dari sisi angkutan massal, maka penambahan jalan baru tidak akan efektif. "Penambahan jalan tetap harus dilakukan, tetapi kalau nambah jalan saja tidak akan selesaikan kemacetan jika perbaikan transportasi publik tidak dilakukan," katanya.

Luas jalan di Jakarta, saat ini termasuk dalam kategori jauh dari layak. "Di Jakarta masih tidak normal. Luas jalan yang ada dibandingkan dengan kota itu terlalu kecil, hanya 6 persen," jelasnya.

Idealnya, kata Djoko, luas jalan dengan kota di sejumlah kota besar harus di atas 20 persen. "Jalan kita memang kurang, tapi kalau pun nambah jalan sampai 20 persen enggak akan selesai kemacetan kalau transportasi publik tidak ditambah, tidak diperbaiki," katanya.

Untuk diketahui, perjanjian pengusahaan 6 ruas jalan tol dalam kota Jakarta antara Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kemen-PU, PT Jakarta Tollroad Develompment dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah ditandatangani, Jumat (25/7) lalu. Nantinya, Bus Transjakarta dapat melintas di ruas jalan tol tersebut.

Total panjang 6 ruas Jalan Tol Dalam Kota Jakarta mencapai 69,77 km yang dibagi dalam 3 tahap pembangunan, yakni, Tahap I (29,67 km) terdiri atas ruas Semanan-Sunter yang direncanakan beroperasi tahun 2018 dan Sunter-Pulo Gebang yang rencananya akan beroperasi pada 2019.

Tahap II (22,25 km) terdiri atas Duri Pulo-Kampung Melayu dan ruas Kemayoran-Kampung Melayu dengan rencana akan dioperasikan di tahun 2021. Tahap III (17,m86 km) yang terdiri dari ruas Ulujami-Tanah Abang dan Pasar Minggu-Casablanca. Tol ini rencananya akan dioperasikan di tahun 2022. Biaya investasi pembangunan tersebut menghabiskan Rp. 41 triliun.

Sumber : http://www.merdeka.com/uang/menteri-pu-penambahan-jalan-tidak-bisa-kurangi-macet-jakarta.html

Kamis, 31 Juli 2014

Libur Lebaran, bus wisata Jakarta laris manis

Merdeka.com - Banyak cara menghabiskan masa liburan Idul Fitri bagi masyarakat. Salah satunya dengan berwisata melihat sebagian pemandangan kota Jakarta menggunakan bus wisata.

Cara ini merupakan langkah jitu buat Anda yang ingin memberikan pengalaman jalan-jalan buat keluarga di masa libur lebaran. Sebab, Anda tidak perlu mengeluarkan ongkos buat menikmati pemandangan keliling ibu kota. Bisa dibilang jalan-jalan murah meriah.

Meski begitu, di masa liburan seperti ini, Anda harus rela mengantre cukup lama buat merasakan jalan-jalan di atas bus wisata bertingkat itu. Sebab, jumlah penumpang melonjak dari hari libur biasanya.

"Ya nunggu paling selang setengah jam lah. Namanya juga liburan, pasti banyak yang mau naik juga," kata Fitroh (34 tahun) dari Condet, Jakarta Timur kepada merdeka.com, Kamis (31/7).

Fitroh membawa serta istri dan kedua anak perempuannya berwisata ke kawasan Monumen Nasional, di masa libur lebaran. Kebetulan, kedua anaknya ingin merasakan naik bus wisata. Alhasil, dia rela berpanas-panasan mengantre di halte terletak di Jalan Medan Merdeka Barat.

Kira-kira 30 menit menunggu, bus ditunggu pun datang. Fitroh dan keluarga bersiap mengambil posisi sedekat mungkin dengan pintu masuk. Maklum, saking banyak peminatnya tak jarang para penumpang berebut masuk. Mereka pun rata-rata mengincar tempat duduk di dek atas.

"Enak ngelihatnya. Kalau di bawah udah biasa," ujar seorang penumpang bernama Ida (28 tahun) dari Depok, Jawa Barat, turut serta membawa dua anaknya.

Bus tingkat berkelir paduan ungu dan kuning itu hanya melayani trayek Bundaran Hotel Indonesia hingga Pasar Baru. Meski kapasitas cukup banyak, tapi jumlah penumpang dibatasi.

Pemandangan ditawarkan sepanjang perjalanan pun sebenarnya biasa saja. Apalagi di sepanjang Jalan Mohammad Husni Thamrin kondisinya cukup berantakan akibat proses pembangunan moda transportasi Monorail. Tetapi buat Fitroh dan Elin, justru di situ nikmatnya menghabiskan masa liburan bersama keluarga.

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/libur-lebaran-bus-wisata-jakarta-laris-manis.html

Selasa, 03 Juni 2014

Kemacetan Diatasi, Ekonomi Jakarta Bisa Hasilkan Rp 100 Triliun

SINGAPURA, KOMPAS.com — Ekonomi masyarakat di Jakarta bisa menghasilkan hingga 8,9 miliar dollar AS (sekitar Rp 100 triliun) per tahun pada 2030 jika pemerintah bisa mengatasi kemacetan dengan meningkatkan mobilitas masyarakatnya dan kualitas jaringan transportasinya.

Demikian hasil studi tentang mobilitas perkotaan, "The Mobility Opportunity", yang dilakukan oleh Credo pada 2013, yang disampaikan Senior Partner Credo, perusahaan konsultan yang berbasis di London, Chris Molloy, di World Cities Summit 2014, di Singapura, Selasa (3/6/2014).

Chris Molloy mengatakan, investasi di sektor infrastruktur transportasi akan meningkatkan tingkat produktivitas dan kegiatan ekonomi penduduk suatu kota.

Berdasarkan studi yang disponsori oleh perusahaan raksasa Eropa, Siemens, tersebut, saat ini penduduk Jakarta menghabiskan 23,5 persen dari pendapatan per kapita mereka untuk biaya transportasi.

"Sementara itu, biaya ekonomi untuk transportasi yang paling efisien berada di sekitar angka 10 persen dari PDB per kapita," kata Molloy.

Dari 35 kota di dunia yang diteliti Credo, Kopenhagen di Denmark menjadi kota yang paling efisien dalam hal biaya transportasi dengan nilai 8,6 persen, disusul oleh Singapura (8,9 persen) dan Santiago, Cile, (10,8 persen).

Sementara itu, kota Lagos, Nigeria, berada di posisi paling buncit dengan angka 27,7 persen.

Jika 35 kota yang diteliti dapat menerapkan standar-standar transportasi terbaik di kelasnya, kota-kota tersebut akan mendapatkan keuntungan ekonomi hingga mencapai total 238 miliar dollar AS, hampir dua kali lipat potensi ekonomi saat ini yang mencapai nilai 119 miliar dollar AS.

Sementara itu, moda transportasi bus terintegrasi transjakarta yang sudah beroperasi dari tahun 2004 dinilai hanya mampu menambah efektivitas dan efisiensi transportasi dalam jangka pendek.

"Angkutan minibus di sana juga tidak tertata dengan bagus," kata Molloy.

Dengan memperhitungkan sejumlah variabel, seperti biaya transportasi yang dikeluarkan dan perencanaan yang ada saat studi tersebut dilakukan, seperti penambahan unit untuk meningkatkan kapasitas penumpang, angkutan publik di Jakarta hanya dapat mengurangi biaya ekonomi untuk transportasi penduduk menjadi 22 persen pada 2030.

"Untuk Jakarta, moda transportasi berbasis rel (metro rail) adalah yang terbaik. Tak ada yang lebih baik dari itu untuk mengatasi tingkat kemacetan di sana," kata Molloy.

Pada 2030, Credo memprediksi akan terjadi penambahan jumlah komuter dari jumlah saat ini yang mencapai 1,5 juta menjadi 2,5 juta saat puncak arus komuter pada pagi hari pada 2030.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi kota terpadat di Indonesia tersebut untuk menciptakan moda transportasi yang efisien.

Sementara itu, Singapura sudah lebih dari 25 tahun mengandalkan jaringan mass rapid transit berbasis rel, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru meresmikan pembangunan konstruksi sarana transportasi massal MRT tahap I pada Oktober 2013 dengan rute Lebak Bulus-Hotel Indonesia sejauh 15,5 km yang ditargetkan selesai pada 2018.

Tahap dua MRT dengan rute Bundaran HI-Kampung Bandan direncanakan akan dibangun mulai akhir tahun 2014.

Sebelumnya, Chairman Infrastructure Partnership and Knowledge Centre, Harun Al Rasyid Lubis, mengatakan bahwa biaya sosial yang terbuang akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya diperkirakan mencapai Rp 68 triliun per tahun atau Rp 186 miliar per harinya.

"Jumlah itu mulai dari biaya bahan bakar, biaya kesehatan, hingga polusi udara. Betapa borosnya kita hanya untuk kemacetan harus dikeluarkan sebesar itu," kata dia.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/03/0718319/Kemacetan.Diatasi.Ekonomi.Jakarta.Bisa.Hasilkan.Rp.100.Triliun

Senin, 14 April 2014

Sistem Bus Transjakarta Bagus, tapi Implementasinya Jeblok

JAKARTA - Kerap bermasalahnya bus Transjakarta baik mogok, berasap dan terbakar, menyebabkan sebagian masyarakat menjadi tak nyaman. Padahal pengembangan jalur khusus bus (busway) yang diadopsi dari Bogota, Ibukota Kolombia dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan.

Mantan Kapolda Metro Jaya Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman mengatakan bahwa sistem moda transportasi masal ini dinilai baik, namun pada praktiknya melenceng.

"Sistem strategi bagus, tapi implementasinya kurang. Karena masalahnya di lakukan setengah hati, jeblok," kata Noegroho saat berbincang dengan Okezone, Senin (14/4/2014).

Dia menambahkan menumpuknya masalah bus transjakarta, seharusnya dapat diselesaikan secepatnya. "Seperti bus tranasjakarta yang karatan, saya pikir pimpinan harus bertanggung jawab itu," ucapnya.

Lebih lanjut sesepuh Polri ini mengatakan keberadaan bus transjakarta tidak akan menyelesaikan masalah seluruh masalah kemacetan di Jakarta. Pemerintah harus memperhatikan soal fasilitas bus transjakarta. "Bus transjakarta bagus, 20 menit sampai dari Blok M menuju ke Kota, fasilitas harus diperbaiki," terangnya.

Kemacetan lalu lintas di Jakarta, lanjutnya, bisa diatasi dengan melihat jumlah kendaraan dan panjangan jalan. Bisa jalan diperpanjang, atau jumlah produksi kendaraan yang dikurangi.

"Atau cara lain dengan menambah alat transportasi, memperbarui alat transportasi, seperti MRT atau lainnya, namun direncanakan dengan matang," terangnya.

Sumber : http://news.okezone.com/read/2014/04/14/500/969832/sistem-bus-transjakarta-bagus-tapi-implementasinya-jeblok

Kamis, 03 April 2014

Atasi Macet Harusnya dengan Program Bus Murah, Bukan Mobil Murah...

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya mengatasi masalah kemacetan dengan memperbaiki angkutan umum dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di jalanan Jakarta. Program mobil murah kembali mendapat kritik, bersamaan dengan kebutuhan perubahan strategi layanan angkutan umum.

"Harusnya (yang dibuat adalah program) bus murah, jangan mobil murah. Kalau pengusaha beli bus murah, jelas tarif bisa lebih murah," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Muhammad Akbar, Rabu (2/4/2014). Dia menegaskan, perlu ada pembatasan penggunaan mobil pribadi bila ingin mengurai kemacetan Jakarta.

Menurut Akbar, pembatasan penggunaan bukan berarti membatasi kepemilikan kendaraan pribadi. Namun, dia mengatakan, harus ada cara untuk mengubah pengendara kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum.

Oleh karenanya, Akbar berpendapat bahwa program mobil murah tidak tepat karena justru mendorong orang membeli mobil tersebut. Sementara itu, bila program yang dibuat adalah bus murah, masyarakat bisa diajak berpindah ke angkutan umum ketika tarif bus bisa murah karena pengadaannya pun murah.

Upaya mengajak pengendara kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum juga akan dilakukan antara lain dengan penerapan electronic road pricing (ERP) dan menaikkan tarif parkir. "Membuat pengendara merasa mahal menggunakan mobil pribadi," ujar Akbar.

Strategi baru angkutan umum

Berbicara dalam forum diskusi buku Mobil Murah & Kemacetan Jakarta Merdesa Institute/Newseum, Akbar mengatakan bahwa pembenahan angkutan umum sudah mulai dilakukan dengan beragam program, antara lain penambahan transjakarta, pembangunan mass rapid transit (MRT), monorel, ataupun Botabek Shuttle Express (BSE).

Karena moda transportasi di atas belum memadai, Akbar mengatakan, harus ada perbaikan moda transportasi lain, misalnya mikrolet dan bus ukuran sedang. Angkutan-angkutan ini, ujar dia, tetap dapat berhenti sesuai trayek dan tak harus di selter transjakarta. "Saat ini penumpang tak hanya memikirkan kenyamanan, tetapi juga kecepatan," ujar Akbar. Karenanya, kepastian waktu tempuh atau kecepatan sampai ke tujuan harus diperhitungkan.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/03/0715549/Atasi.Macet.Harusnya.dengan.Program.Bus.Murah.Bukan.Mobil.Murah

Kamis, 19 Desember 2013

Ini 9 Penyebab Kemacetan di Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Provinsi DKI Jakarta selalu diidentikkan dengan kemacetan. Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago memaparkan, ada sembilan hal yang menjadi penyebab macet di ibu kota.

Pertama, ruas jalan jauh di bawah kebutuhan normal yang seharusnya 20 persen dari total luas kota. Saat ini, lahan jalan Jakarta hanya 6,2 persen saja dari total lahan.

Kedua, moda angkutan umum belum sesuai dengan kebutuhan di kota besar. Menurut Andrinof, angkutan umum utama di Jakarta harusnya berupa bus dan kereta yang bisa mengangkut penumpang dalam jumlah besar.

"Namun, yang terjadi saat ini Jakarta masih dilayani 16 ribu angkot. Jumlah angkot harus diciutkan drastis," kata dia saat memberikan kultwit di akun Twitter-nya @andrinof_a_ch.

Penyebab ketiga yaitu minimnya jembatan penyeberangan orang atau terowongan penyeberangan orang. Sehingga orang kerap kali menyeberang beramai-ramai saat arus lalu lintas sedang tinggi. Ini tentu menghambat laju kendaraan.

Keempat, karena kebijakan perumahan perkotaan yang salah. Rumah susun di Jakarta jumlahnya amat kecil. Akibatnya, orang menyebar ke daerah pinggir. "Penyebaran rumah ke pinggir membuat orang lama dan banyak berada di jalan," ujar Andrinof.

Penyebab kelima karena banyaknya persimpangan jalan yang belum memiliki bangunan fly over maupun underpass. Keenam, angka urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di pinggir Jakarta amat tinggi. Jumlahnya di atas 4,5 persen per tahun. Sementara, mayoritas dari mereka bekerja di Jakarta.

Penyeban ketujuh, yaitu karena banyaknya titik bottleneck, seperti di pintu-pintu masuk jalan tol. Sementara penyebab nomor delapan yaitu karena kurangnya angkutan massal seperti bus dan kereta.

Penyebab terakhir, yaitu karena buruknya tata ruang dan kesalahan pemberian ijin bangunan seperti mall dan ruko. "Di luar sembilan penyebab tersebut, ada dua masalah fundamental di masa lalu, yaitu kepemimpinan birokrasi dan tata kelola anggaran," ujar pengamat dari Universitas Indonesia itu.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/12/19/my13jf-ini-9-penyebab-kemacetan-di-jakarta

Selasa, 17 Desember 2013

Seperti Apa Wajah Jakarta di Masa Mendatang?

JAKARTA – Saat ini kota Jakarta memikul problematika yang sangat banyak. Kota yang kerap banjir, macet dan ketersediaan lahan yang menipis.

Di tangan arsitek kaliber dunia, Cosmas D Gozali, Jakarta ditata menjadi kota yang rapi sesuai dengan peruntukannya. Dalam sebuah ajang Urban Planning and Design Competition, Jakarta didesign menjadi Smart City New Jakarta Green Belt pada 2050. Atas karyanya menata kota Jakarta, dia didaulat menjadi arsitek terbaik di Asia Tenggara.

Apa saja problem kota Jakarta dan seperti apakah solusinya? Berikut penuturan Cosmas D Gozali kepada Okezone, belum lama ini.

Pengelolaan yang buruk, menurut arsitek jebolan Wina ini menyebabkan sampah menjadi pemicu masalah baru seperti banjir munculnya berbagai penyakit, sampai kepada pemandangan kota yang menyolok dan bau yang tidak sedap.

Di sisi lain, munculnya pemukiman kumuh telah merebut lahan Pemda Kota Jakarta yang sebenarnya bisa difungsikan sebagai lahan penghijauan dan paru-paru Kota Jakarta

Kemacetan lalu lintas, tutur dia menjadi salah satu masalah utama Kota Jakarta yang perlu dibenahi secara tuntas dan integratif dari berbagai moda transportasi yang ada.

Kurangnya daerah penghijauan dan infrastruktur drainase yang memadai merupakan dua faktor utama yang menjadi penyebab permasalahan banjir di Kota Jakarta

Sejumlah titik masalah ruwetnya Kota Jakarta itu diurai oleh Cosmas dengan pembuatan triple decker pada jalur New Jakarta Green Belt untuk mengoptimalkan penggunaan lahan.

Lapisan pertama, sebagai ruang terbuka hijau dan ruang publik. Lapisan kedua, menjadi jalur moda transportasi terpadu yang terdiri atas kendaraan, bus angkutan publik, kereta api, dan MRT. Dan lapisan ketiga menjadi area parkir dan servis. Lalu, Cosmas juga menjadikan sungai sebagai jalur transportasi air.

Dalam designya, Cosmas membuat bendungan di pantai utara Jakarta sekaligus merupakan jalan penghubung (New Jakarta Green Belt) untuk mengendalikan permukaan air laut dan mengatasi banjir.

"Kota Jakarta akan dikembangkan sebagai pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan Indonesia. Sementara pusat industri dan perdagangan, pemukiman akan dikembangkan di sebelah luar New Jakarta Green Belt atau pinggir kota Jakarta," ujar dia.

Area Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan pantai akan dikembangkan menjadi real estate komersil (waterfront city), pusat hiburan, resort, kebudayaan dan penunjang wisata lainnya. (nia)

Sumber : http://property.okezone.com/read/2013/12/16/471/912891/seperti-apa-wajah-jakarta-di-masa-mendatang

Jumat, 06 Desember 2013

Gangguan Listrik, KRL Terjebak "Macet"

JAKARTA - Jadwal perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) commuter line hari ini mengalami kekacauan, akibat adanya gangguan listrik arus atas di Stasiun Manggarai.

Alhasil, KRL yang hendak melintas di Stasiun Manggarai terjebak "kemacetan".
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang, karena keterlambatan perjalanan kereta. Ini disebabkan karena an trean kereta yang akan masuk di Stasiun Manggarai," kata seorang petugas melalui pengeras suara di Stasiun Pasar Minggu, Kamis (5/12/2013).

Sejumlah KRL jurusan Bogor-Jakarta, maupun Bogor-Tanah Abang yang akan melewati Stasiun Manggarai terpaksa harus "parkir" sekira 15 menit di Stasiun Pasar Minggu untuk menunggu antrian.

Akibatnya, banyak penumpang yang memilih untuk beralih ke moda transportasi lain, seperti bus umum, ojek, ataupun taksi.

Hingga berita ini diturunkan perjalanan kereta belum kembali normal. Setiap KRL harus berhenti lama di tiap-tiap stasiun. Waktu perjalanan KRL molor dari jadwal yang seharusnya, lantaran "kemacetan" rangkaian KRL menuju Manggarai.

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2013/12/05/500/907565/gangguan-listrik-krl-terjebak-macet

Senin, 18 November 2013

Cara Sehat Atasi Kemacetan Jakarta

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Jakarta, Yoga Adiwinarto, mengatakan untuk menangani kemacetan di kawasan bisnis, seperti Sudirman, Thamrin, dan Kuningan, tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional.

Dia mengusulkan sebuah sistem jaringan transportasi yang mengandalkan sepeda. Isitilahnya bike sharing. Konsepnya meniru program serupa di Hangzhou, Cina, yang secara umum mirip rental sepeda.

Masyarakat meminjam sepeda di terminal penyewaan untuk pergi ke lokasi tujuan. Hanya bike sharing ini dikelola dengan cara lebih modern. Sasarannya hanya untuk perjalanan jarak pendek sekitar 1 kilometer.

"Ada terminal-terminal sepeda yang ditempatkan di dekat halte transportasi masal macam Transjakarta," katanya, kemarin. Di dalam satu terminal, minimal ada 20 sepeda. Untuk menyewa sepeda tersebut, masyarakat menggunakan fasilitas semacam e-ticketing.

Bahkan, menurut Yoga, nilai investasi program ini jauh lebih murah dari pada pengadaan bus. Untuk membeli 2.000 sepeda dan 100 terminal lengkap dengan segala alatnya, hanya membutuhkan Rp 40,296 miliar. "Swasta pun bisa masuk untuk iklan karena konsep green transportation dan gowes saat ini sedang booming, jadi bisa sebagai bentuk promosi perusahaan," ujarnya. ITDP rencananya akan melakukan uji coba tahun depan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, ide bike sharing ini memang bagus karena bisa sebagai moda transportasi alternatif jarak pendek. "Saat ini masih dalam pembicaraan dengan Badan Perencanaan Daerah untuk dihitung," ujar mantan Bupati Belitung Timur ini.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/16/083530086/Cara-Sehat-Atasi-Kemacetan-Jakarta

Jumat, 28 Juni 2013

Basuki: Proyek MRT Diulur, Jakarta Akan Tertinggal

BERITAJAKARTA.COM — 27-06-2013 09:24
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama menegaskan, proyek pembangunan transportasi massal Mass Rapid Transit (MRT) tetap akan dimulai pada tahun 2013. Meski begitu, pro dan kontra pembangunan proyek ini masih muncul di tengah-tengah masyarakat.

"Kalau mulai tahun ini, Oktober kita laksanakan ground breaking. Waktu kami (Jokowi-Ahok) memimpin Jakarta tinggal empat tahun. Artinya, MRT belum selesai, kami sudah harus ikut Pemilukada lagi. Kalau mau ikut lagi tahun 2017, itu risikonya kami tidak dipilih orang lagi karena kemacetan akan menggila," ujar Basuki, Kamis (27/6).

Selama empat tahun ke depan, lanjut Basuki, warga Jakarta akan mengutuk kepemimpinan Jokowi-Basuki akibat kemacetan lalu lintas seiring berlangsungnya pembangunan MRT. "Kira-kira begitu. Jadi kalau diulur-ulur lagi, Jakarta akan tertinggal. Sehingga diputuskan lebih baik tidak terpilih kembali asal kami bisa meletakkan dasar yang benar untuk Jakarta Baru," katanya.

Selama ini, kata Basuki, pihaknya banyak belajar dan meminta masukan dari Duta Besar Singapura terkait pembangunan MRT. Sebab, Singapura dinilai berhasil dalam membangun dan menerapkan moda transportasi berbasis rel tersebut.

Dikatakan Basuki, awalnya Singapura juga mengalami kendala serupa dengan Pemprov DKI Jakarta saat hendak memulai pembangunan MRT. "Kita harus belajar dari Singapura yang telah memulai pembangunan MRT pada tahun 1982. Saat itu, banyak kajian yang menyatakan MRT tidak boleh dibangun di Singapura. Tapi, untungnya seorang menteri meminta kajian konsultan lain dan diputuskan untuk membangun MRT. Nah lihat hari ini, masyarakat Singapura menikmati MRT," ucap Basuki.

Dari hasil diskusi bersama Dubes Singapura, Basuki semakin yakin, setiap usaha baru pasti akan menemui hambatan dan perlawanan. "Banyak orang tidak visioner di zona nyaman yang akan menentang upaya kami. Pembangunan MRT tidak mulai-mulai karena dipolitisir," tandasnya.

Sumber : http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=54996

Rabu, 27 Februari 2013

Dua Isu Upaya Integritas Transportasi Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengatakan, ada dua isu dalam upaya integrasi transportasi di DKI Jakarta antarmoda trasportasi. Upaya integrasi transportasi tersebut menurutnya bisa memudahkan akses penggunaan transportasi dari satu jasa transportasi dengan transportasi lainnya sehingga membantu mengurangi kemacetan seperti yang sering terjadi saat ini.

"Ada dua isu besar, yakni integrasi antar-angkutan umum dengan angkutan umum dan angkutan umum dengan kendaraan pribadi," kata Danang saat dihubungi Kompas.com, Selasa (26/2/2013).

Menurutnya, upaya integrasi antara angkutan umum dengan angkutan umum bisa dilakukan seperti pembuatan halte bus yang berdekatan dengan stasiun kereta api. Dengan begitu, lanjut Danang, akses antara dua moda transportasi itu menjadi terhubung dengan baik.

"Misalnya mendekatkan halte busway dengan kereta," ujar Danang.

Ia mengatakan, saat ini, antar-dua moda transportasi tersebut dinilai masih belum terhubung dengan baik sehingga tidak mendukung upaya penyatuan antar-keduanya.

"Ini yang menurut saya menjadi catatan penting," kata Danang.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Pemprov DKI, menurut Danang, dapat pula membuat suatu program seperti integrasi tiket sehingga dengan satu tiket yang ada masyarakat bisa menggunakannya untuk berbagai sarana transportasi. Dengan satu tiket yang sama dan terintegrasi tersebut, masyarakat dapat menggunakannya pada sarana transportasi lainnya juga.

"Dan juga mengenai schedule yang harus diperhatikan," ucap Danang.

Danang juga menanggapi mengenai masalah trayek angkutan umum di DKI Jakarta. Menurutnya, banyak trayek yang sudah berlaku lama, tetapi tidak mengalami perubahan oleh Dinas Perhubungan DKI. Oleh karena itu, perlu pembenahan dan perbaikan kembali mengenai masalah trayek yang ada saat ini.

"Masalah trayek sudah kita sampaikan tahun lalu. Ada trayek angkutan umum sudah dua puluh tahunan belum ada perubahan, yang dulunya masuk di permukiman-permukiman. Padahal, kondisi saat ini sudah berubah," kata Danang.

Sementara mengenai integrasi antara sarana transportasi dan kendaraan pribadi, kata Danang, salah satunya seperti yang ada saat ini, yakni tersedianya suatu lokasi parkir kendaraan di tempat-tempat seperti stasiun kereta api. Dengan begitu, seseorang bisa mengurangi jarak tempuh pemakaian kendaraannya dalam satu hari dengan beralih menggunakan transportasi publik.

"Kalau sepeda motor 40 kilometer per hari, bisa ditekan jadi 20 kilometer saja per hari," kata Danang.

Selain hal tersebut, perbaikan layanan dan juga tarif tiket yang terjangkau diharapkan bisa membuat masyarakat beralih pada sarana transportasi yang memadai.

"Masyarakat rasional, pasti dengan perbaikan layanan dan tarif tiket yang ada, dalam 10 tahun yang akan datang, sekitar 40 persen sudah menggunakan transportasi yang baik," jelasnya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/26/14331248/Dua.Isu.Upaya.Integritas.Transportasi.Jakarta

Selasa, 26 Februari 2013

MTI: Mobil Murah, Makin Macet!

Jakarta, KompasOtomotif — Jalanan di Jakarta dan kota-kota besar lain setiap hari macet. Rencana munculnya mobil murah, dicemaskan oleh sebagian masyarakat, akan menambah kemacetan. Pasalnya, orang akan beralih ke mobil pribadi ketimbang menggunakan angkutan umum.

"Ini yang dikhawatirkan. Bukan menggiring orang pindah ke moda transportasi massal, justru mereka membeli mobil kecil. Ini bahaya besar!" komentar Danang Parikesit, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), di Jakarta, kemarin (25/2/2013).

Dijelaskan, setiap tahun jumlah kendaraan di Indonesia terus meningkat. Namun, hal itu tidak diiringi dengan perbaikan moda transportasi umum. Menurut Kepolisian Republik Indonesia, jumlah kendaraan di Indonesia mencapai 94,2 juta unit pada 2012, naik 12 persen dari tahun sebelumnya 84,1 juta unit. "Sepeda motor masih terbesar. Namun, jumlah pengendaranya justru turun," ungkap Danang.

Menurutnya, perekonomian Indonesia masih terus tumbuh, terutama kalangan menengah yang memicu pergeseran konsumsi transportasi. Pengguna sepeda motor akan berpaling ke kendaraan roda empat jika mobil murah mulai dijual.

"Tidak lama lagi mobil dengan harga 4.000 dollar AS sampai 6.000 dollar AS akan masuk ke Indonesia. Pengguna sepeda motor akan beralih ke situ," beber Danang. Faktor lain, jumlah penduduk yang terus meningkat dan lokasi perumahan makin ke daerah pinggiran, transportasi mutlak dimiliki. "Solusinya ya harus dikombinasi. MRT salah satu saja. Solusi tercepat, menyiapkan transportasi yang banyak dan layak," lanjut Danang.

Kecepatan
Berdasarkan hasil penelitian MTI, di Pasar Minggu-Manggarai dan Cilandak-Monas terus terjadi penurunan kecepatan rata-rata kendaraan. Perhitungan menunjukkan, dalam dua sampai tiga tahun ke depan, penggunaan kendaraan bermotor tidak efektif lagi.

"Saat ini kecepatan kendaraan di wilayah tersebut pada jam sibuk, di pagi hari, mencapai 6-9 kpj. Mungkin, dalam 3 atau 4 tahun lagi menjadi 3-4 kpj, setara dengan kecepatan orang berjalan kaki," beber Danang.

Juga ada tren kenaikan jarak tempuh yang dilakukan pengendara sepeda motor di jalan. Beberapa tahun lalu, rata-rata jarak tempuh seseorang menggunakan sepeda motor itu hanya 20 km. Saat ini, jarak meningkat dua kali lipat menjadi 40 km. "Ini menunjukkan moda transportasi belum bisa diandalkan dan belum menyeluruh. Wajib dibenahi," tutup Danang.

Sumber : http://otomotif.kompas.com/read/2013/02/26/6815/MTI.Mobil.Murah.Makin.Macet

Jumat, 22 Februari 2013

Tiga Moda Transportasi untuk Atasi Kemacetan Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perhubungan EE Mangindaan akan terus mengutamakan tiga moda transportasi untuk mengatasi kemacetan di DKI Jakarta. Saat ini, pemerintah sedang berusaha mengembangkan sistem transportasi tersebut.

"Ada tiga moda transportasi yang akan kita optimalkan, yaitu kereta api, kerja sama dengan daerah penyangga, serta monorel atau mass rapid transit (MRT)," kata Mangindaan saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (21/2/2013).

Menurut Mangindaan, sistem transportasi yang selama ini ada memang harus dioptimalkan untuk bisa mengurangi kemacetan Ibu Kota. Sebab, bila harus menambah moda transportasi, belum tentu ini akan menyelesaikan masalah utama tersebut.

Sistem transportasi pertama yang bisa dilakukan adalah pengembangan kereta api. Moda ini akan tetap dipertahankan karena bisa mengangkut penumpang lebih banyak. Namun, sampai saat ini setidaknya ada 15 titik pelintasan kereta api yang menyebabkan kemacetan khususnya di jam-jam sibuk.

"Kami sarankan ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk membuat underpass di pelintasan tersebut. Sebab, ini wewenang pemerintah daerah. Ini setidaknya akan membantu kelancaran kereta api," tuturnya.

Kedua, bekerja sama dengan daerah penyangga, yaitu Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Sebab, setiap hari ada sekitar 20.000 kendaraan yang masuk ke DKI Jakarta pada jam kerja.

"Seharusnya mereka bisa parkir di tempat penyangga, lalu mereka naik kereta api ke kota. Jadi, orang tidak akan stres karena macet, bisa hemat BBM, dan waktu tempuh bisa dikurangi," ujarnya.

Ketiga, pembangunan monorel dan MRT. Sistem transportasi ini masih dirapatkan saat ini. Harapannya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa segera dapat memutuskan sistem transportasi yang tepat untuk mengatasi kemacetan Ibu Kota tersebut.

"Jadi konsepnya memang harus multimoda. Ini akan menekan kemacetan Ibu Kota," katanya.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/21/18070557/Tiga.Moda.Transportasi.untuk.Atasi.Kemacetan.Jakarta