Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

Siap Bangun Jakarta Lebih Pintar, Ini Juara #HackJak2015

Jakarta - 'Merdeka Indonesia, smarter Jakarta dengan data terbuka," demikian tagline yang digaungkan kompetisi #HackJak2015. Acara ini pun sudah merampungkan kegiatannya dan memunculkan pemenang Hackathon, Visualthon dan Scrapathon.

#HackJak memiliki tiga jenis kompetisi: Hackathon, Scrapathon dan Visualthon. Hackathon adalah kompetisi pengembangan aplikasi umum dan aplikasi game secara bersama-sama dalam periode waktu tertentu dengan mendayagunakan portal Open Data DKI Jakarta (http://data.jakarta.go.id) serta sumber resmi lainnya.

Scrapathon merupakan kompetisi scrapping data yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta secara bersama-sama dalam periode waktu tertentu menjadi open format data yang layak dipergunakan secara terbuka dan berulang.

Sedangkan Visualthon adalah kompetisi penyusunan infografis yang ramah baca bagi masyarakat tentang layanan Pemprov DKI Jakarta yang juga berasal dari portal Open Data DKI Jakarta, dilakukan secara bersama- sama dalam periode waktu tertentu.

Kompetisi #HackJak2015 ini berbasiskan data terbuka (open data) dengan tema Pelayanan Publik dan Pariwisata. Para 10 (sepuluh) finalis, tim maupun perorangan hadir sekaligus untuk memamerkan karya mereka ke hadapan publik.

Adapun para pemenang, adalah sebagai berikut:
Scrapathon
- Pemenang 1: Firman Maulana (mahasiswa ITS)
- Pemenang 2: Eri Wirandana (swasta)
- Pemenang 3: Laras Aristia (mahasiswa ITS)

Ketiganya menghasilkan 278 data set baru yang akan menambah 512 data set terbuka di portal resmi Pemprov DKI Jakarta di http://data.jakarta.go.id.

Visualthon
- Pemenang 1: Tim G x E (anggota: Gilang Ananda S dan Ervitasari) dengan karya infografis berjudul “Mpok Siti (City Tour Jakarta)”
- Pemenang 2: Tim HIASA (anggota: Faia Faaizah dan Dyang Intan M.) dengan karya infografis berjudul “STOP Kekerasan Terhadap Wanita dan Anak”
- Pemenang 3: Tim Hakuna Matata (anggota: Vani Rakhmawati dan Dendra Ichsan Maulana) dengan karya infografis berjudul “Kartu Jakarta Pintar, Mudah Dapatnya Besar Manfaatnya”.

Hackathon
-. Pemenang 1: Tim Anging Mamiri (anggota: Kristrian Ibrahim, Adi Nugroho dan Bashir Arrohman)
dengan karya aplikasi JAKCARE. Sebuah aplikasi yang memudahkan seseorang untuk mencari, membantu, dan melaporkan keberadaan fakir miskin atau orang yang membutuhkan bantuan uluran tangan di sekitar kita.
-. Pemenang 2: Tim Triglav (anggota: Banu AW, Mahisa A.K, dan Citra Ika W.) dengan karya aplikasi game J-EXPLORE. Sebuah game yang bertema location based quiz untuk mensosialisasikan tujuan dan/atau obyek wisata di Jakarta.
-. Pemenang 3: Tim Online UKM (anggota: Aci Suprianto, Paradita Umbara dan Alan Darma Saputra) dengan karya aplikasi PARKIRMU.com. Sebuah aplikasi penyedia informasi kapasitas tempat parkir dan lokasi tempat parkir alternatif. Konsep yang diusung adalah berbagi lahan, mengatur tempat parkir dan dapat melakukan pemesanan parkir di awal.

Ilham Habibie, Ketua Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional, yang dipercaya sebagai salah satu juri pada putaran final #Hackjak2015 menyatakan apresiasinya pada karya aplikasi Hackathon dan semoga Hackjak tahun depan makin beragam lagi.

“Kalau dilihat dari hasilnya (pemenang Hackathon-red) termasuk para finalis sangat beragam sekali dari parkir, pariwisata, ada sosial juga. Ini menunjukkan yang bisa ikut serta gak hanya sektor-sektor tertentu,” tegasnya.

Shita Laksmi, Manajer Pengembangan Program dari Hivos, lantas menjelaskan rencana tindak lanjut berupa inkubasi dan adopsi oleh Pemprov DKI Jakarta atas karya para pemenang. “Karya dari Scrapathon akan mendukung penambahan data di portal http://data.jakarta.go.id dan tidak menutup kemungkinan diselenggarakan Scrapathon kedua terpisah dari #HackJak2015,” paparnya.

Tim HackJak2015 pun telah menyiapkan inkubasi untuk para pemenang Hackathon. “Para pemenang Hackathon yang memilih mengembangkan aplikasinya sendiri akan diinkubasi oleh East Ventures selama 4 bulan ke depan agar aplikasi tersebut lebih matang dan siap diluncurkan sebagai bagian dari Smart City Jakarta dalam melayani masyarakat,” ujar Shita.

Adapun 10 infografis yang mendapatkan penilaian tertinggi dalam Visualthon, akan dimanfaatkan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam menyampaikan informasi layanan secara kreatif dan ramah baca, tentu saja dengan pemberian pengakuan yang layak bagi pembuat karya infografis tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama, mengapresiasi keseluruhan karya, baik dari para pemenang maupun para finalis 10 besar. Karya dari kompetisi #HackJak2015, menurut Gubernur yang kerap disapa Ahok ini sebagai bukti nyata bahwa anak muda bisa turut memaknai kemerdekaan Indonesia dengan berkontribusi kepada negara menghasilkan solusi yang kreatif. “Hasilnya (hasil kompetisi-red) sesuai dengan harapan saya,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.

Kompetisi #HackJak2015 yang diinisasi oleh HIVOS bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta ini diluncurkan oleh Ahok pada 30 Juni 2015 lalu, diawali dengan lokakarya, hingga sesi penjurian kemudian diakhiri dengan malam penganugerahan.

Sumber : http://inet.detik.com/read/2015/08/19/104534/2995289/398/siap-bangun-jakarta-lebih-pintar-ini-juara-hackjak2015

Selasa, 14 Juli 2015

Angkutan LRT Bekasi-Jakarta-Bogor Akan Dibangun

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Angkutan light rapid transit (LRT), yang akan menghubungkan Bekasi-Jakarta-Bogor, akan dibangun.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Senin (13/7/2015) siang, mengemukakan, Gubernur DKI berencana membangun enam jalur. Untuk tahap pertama akan dibangun dua jalur. Sedangkan PT Adhi Karya, yang tadinya mau mengambil inisiatif sendiri tanpa biaya dari pemerintah, menurut pertimbangan Menteri Perhubungan, rasanya tidak mungkin. Oleh sebab itu, prasarananya akan dibangun oleh pemerintah.

Menurut Sofyan, supaya pembangunan LRT lebih cepat, Gubernur DKI dan Adhi Karya meminta dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk penunjukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bisa membangun dulu. Nanti setelah dibangun, baru pemda bisa ambil alih atau dibeli.

“Yang kedua, Perpres yang sama akan menugaskan Adhi Karya untuk membangun dulu, nanti sebagian dana sudah ada di Kementerian Perhubungan,” kata Sofyan kepada wartawan seusai rapat terbatas di kantor Kepresidenan, Jakarta, seperti dikutip dari laman Setkab.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan, LRT di Jabodetabek tetap akan dibangun. Dari usulan tujuh ruas, di dalam DKI sendiri oleh Pemprov DKI akan mulai dibangun 2 ruas. Yang pertama dari barat ke timur, dan yang satu lagi dari utara ke selatan.

“Jadi, ini dibangun memenuhi aspek intermodality. Nanti stasiunnya nyambung dengan stasiun KRL dan halte busway, serta stasiun MRT yang akan dibangun,” kata Jonan.

Dikemukakan, yang diusulkan oleh Adhi Karya, juga akan dibangun. Kemungkinannya, akan diterbitkan Perpres untuk penunjukan Adhi Karya. Setelah nantinya pembangunan instalasi LRT sudah selesai akan dibeli dengan dana APBN dengan harga yang pantas.

Sumber : http://www.tubasmedia.com/angkutan-lrt-bekasi-jakarta-bogor-akan-dibangun/

Kamis, 21 Mei 2015

Berapa yang Dirogoh Warga Jakarta Jika Naik LRT?

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah‎ berencana memulai pembangunan sarana transportasi Light Rail Transit (LRT) mulai 17 Agustus 2015. Pada pengerjaan tahap awal, akan dibangun untuk rute Bogor-Cawang-Dukuh Atas.

Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Kiswodharmawan mengungkapkan nantinya tarif yang dikenakan kepada masyarakat sebesar Rp 1.000 per kilometer (km).

"Berarti kalau dari Cibubur – Cawang – Dukuh Atas kurang lebih 30 km ya Rp 30.000,”‎ kata Kiswo seperti yang dikutip dari laman Setkab, Kamis (21/5/2015).

Dengan tarif sebesar itu, bagi masyarakat sekitar Jakarta yang ingin memanfaatkan LRT sebagai armada transportasi setiap harinya, di mana hitungan satu bulan hari kerja sebanyak 22 hari, maka mereka harus merogoh kocek kurang lebih Rp 1,3 juta per bulan.

‎Soal apakah harga tersebut sudah ekonomis, Kiswo mengingatkan jika proyek pembangunan LRT ini adalah investasi biasa, jadi harus masuk kategori bankable.

Sementara mengenai pendanaan, menurut Kiswo, sumbernya berasal dari korporasi dan sebagian dari Penyertaan Modal Negara (PMN). Adapun pendanaan Adhi Karya sendiri 30 persen berasal dari dana internal perusahaan, sedang 70 persen sisanya merupakan pinjaman.

Kiswo mengaku, Adhi Karya sampai sejauh ini belum membentuk konsorsium untuk pembangunan LRT itu. Namun diharapkan segera terbit payung hukum dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) untuk mulai pembangunan LRT itu. Diharapkan Mei ini, Perpres dimaksud sudah keluar.

“Kita berharap ada Perpres penugasan setelah itu baru kita masuk technical aspect sama financial aspect,” pungkas Kiswodarmawan.

Sementara, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono menambahkan pembangunan jalur LRT itu tidak memerlukan pembebasan lahan karena akan memakai jalur tol, dari Bogor – Cawang, Cawang – Dukuh Atas, kemudian Bekasi – Cawang, Cawang – Dukuh Atas.

Basuki juga menegaskan, pembangunan LRT ini tidak menggunakan konsorsium, namun ditugaskan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Adhi Karya (Persero), dan akan dilaksanakan hingga pembangunannya tuntas atau dapat dioperasikan pada tahun 2018 mendatang.‎

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2236634/berapa-yang-dirogoh-warga-jakarta-jika-naik-lrt

Senin, 30 Desember 2013

Warga Jakarta, Silakan Melintas di JLNT Casablanca...

JAKARTA, KOMPAS.com — Akhirnya, Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Tanah Abang-Kampung Melayu sudah rampung keseluruhan. Namun, perlu diingat, motor dan angkutan umum dilarang melintas di atasnya.
Kepala Seksi Simpang Tak Sebidang Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta Heru Suwondo memastikan, JLNT yang dikenal dengan JLNT Casablanca ini akan mulai dibuka untuk umum, Senin (30/12/2013).

"Sudah rampung 100 persen, pengaspalan sudah dikerjakan Jumat kemarin dan sudah tak ada masalah lagi," kata Heru, Minggu (29/12/2013).

Heru mengatakan, pengoperasian jalan sepanjang 2,3 kilometer (km) ini diharapkan bisa memecah kemacetan pada kedua arah ruas jalan KH Mas Mansyur dan Prof Dr Satrio, Kuningan.

Ia memperkirakan, kemacetan di wilayah tersebut bisa terurai hingga 40 persen ketika JLNT ini dioperasikan. Namun, Heru mengakui, kemungkinan kemacetan masih akan terjadi di bagian timur, yakni area Casablanca atau ketika kendaraan turun dari JLNT menuju arah Tebet, tepatnya di depan Mal Kota Kasablanka.

Namun, ia mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) akan terus memonitor dan mengevaluasi perkembangan lalu lintas dan efektivitas dari jalan layang tersebut.

Proyek senilai Rp 840 miliar yang dimulai pada 2010 ini dikerjakan dalam beberapa paket. Paket Casablanca dikerjakan kontraktor PT Wijaya Karya dan PT Wijaya Konstruksi. Paket Jalan Prof Dr Satrio dikerjakan PT Adhi Karya. Adapun paket Mas Mansyur dikerjakan PT Istaka Karya, dan PT Sumber Sari dengan subkontraktor PT Nindya Karya.

Anggaran penyelesaian JLNT tahun ini dianggarkan dalam pos anggaran Dinas Pekerjaan Umum DKI dengan total nilai Rp 101,5 miliar. Secara rinci, anggaran pembangunan untuk jalan layang paket KH Mas Mansyur sebesar Rp 64 miliar, paket Casablanca Rp 2 miliar, Paket Jalan Prof Dr Satrio Rp 21,5 miliar, anggaran pembangunan ramp on-off barat Rp 1,5 miliar, dan ramp on-off timur Rp 12,5 miliar.

Bentangan jalan layang di atas Jalan Jenderal Sudirman juga cukup panjang, yakni mencapai 110 meter, dengan tinggi 18 meter.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/30/0745074/Warga.Jakarta.Silakan.Melintas.di.JLNT.Casablanca

Senin, 10 Desember 2012

Belum Ada Titik Temu Tentang Monorel

JAKARTA, KOMPAS.com- Hingga hari Minggu (9/12/2012), belum ada titik temu mengenai kelanjutan proyek monorel di Jakarta.

Konsorsium yang dipimpin PT Adhi Karya memiliki konsep yang berbeda dengan konsorsium PT Jakarta Monorel.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meminta dua konsorsium tersebut menyatukan diri dalam sebuah konsorsium baru.

"Sulit bagi kami berdialog dengan PT Jakarta Monorel. Sebab tidak hal itu ada dalam rencana kami. Kami pernah kerja sama dengan mereka tetapi kemudian berhenti di tengah jalan karena persoalan dana," tutur Direktur Utama PT Adhi Karya Kiswodarmawan, Minggu kepada Kompas.

Konsorsium yang dipimpin Adhi Karya terdiri dari PT Telkom, PT Lembaga Elektronika Nasional, PT Jasa Marga, dan PT Industri Kereta Api.

Mereka menawarkan kerja sama dengan Pemprov DKI membangun monorel yang terhenti sejak tahun 2007.

Tawaran mereka pendanaan proyek ini dari dana Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah sebesar 20 sampai 30 persen dari total investasi Rp 12 triliun.

Selebihnya, konsorsium melibatkan sindikasi bank untuk menutup kekurangan dana.

Konsorsium Adhi Karya menawarkan jalur baru monorel meliputi Bekasi-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Harmoni.

Tulang punggung jaringan monorel tersebut memperlancar mobilitas orang dari arah timur ke Jakarta dan sebaliknya.

"Dari kajian kami, 32 persen pergerakan komuter itu dari sana. Ada persinggungan dengan jalur yang lama, tetapi tidak banyak," kata Kiswodarmawan.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/10/00043453/Belum.Ada.Titik.Temu.Tentang.Monorel

Selasa, 02 Oktober 2012

Kemacetan Lalu Lintas Harus Segera Diakhiri

PEMENANG tender proyek angkutan masal (Mass Rapid Transit – MRT) untuk koridor (jalur) selatan – utara Jakarta, sudah diumumkan baru-baru ini. Dengan demikian, maka pembangunan fisik untuk koridor itu sudah bisa segera dimulai. Sehingga, kemacetan lalu lintas di Ibukota negara yang sudah 67 tahun merdeka ini, harus segera diakhiri. Mudah-mudahan tidak ada istilah mangkrak, seperti halnya proyek monorel, yang dulu diagung-agungkan Gubernur Sutiyoso dan wakilnya, Fauzi Bowo ketika itu.

Kini proyek MRT yang direncanakan sepanjang 110,8 kilometer, akan dilaksanakan pada masa jabatan gubernur baru, Joko Widodo. Yakni pembangunan koridor selatan – utara, dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan sampai Kampung Bandan, Jakarta Barat, sepanjang 23,8 kilometer (km), dilaksanakan dalam dua tahap. Sedangkan koridor timur-barat sepanjang 87 km dari Cikarang (Bekasi) sampai ke Balaraja (Tangerang), dilaksanakan kemudian. Proyek ini dibiayai dengan dana pinjaman dari luar negeri (Jepang), ditambah dana anggaran dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Rencananya seluruh proyek ini selesai tahun 2027.

Namun, sambil menunggu tahun 2027, tentu upaya pemecahan kemacetan lalu lintas di Jakarta harus dilakukan. Selain membangun infrastruktur baru untuk mengimbangi volume kendaraan, harus pula dikurangi laju pertumbuhan kendaraan pribadi. Tetapi seperti dikatakan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Kuntoro Mangkusubroto, belum lama ini, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta, perlu dilakukan langkah radikal.

Salah satu usul UKP4 sebagai langkah radikal, adalah menambah jumlah angkutan umum reguler sejenis bus Mayasari Bhakti, sebanyak 40.000 unit. Operasional bus ini diharapkan mengurangi jumlah perjalanan hingga 30 persen atau setara dengan 7,5 juta pengguna kendaraan pribadi. Pengadaan bus ini dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. Investasi yang dibutuhkan Rp 600 juta per unit, atau seluruhnya sekitar Rp 25,5 triliun. Pengadaan bus direncanakan dilakukan oleh pihak swasta.

Namun, syarat lainnya, pemerintah juga harus menganggarkan perbaikan prasarana angkutan umum sebanyak Rp 19 triliun. Yakni meliputi penyediaan jalan yang memadai, halte dan perangkat lain yang dibutuhkan untuk memperlancar operasional bus. Angka anggaran ini, jauh di bawah alokasi pemerintah untuk subsidi BBM yang sudah mencapai Rp 137 triliun.

Sistem Kontrak

Sejumlah kontrak juga harus dilakukan untuk menjamin pendapatan operator (swasta), untuk pengadaan armada bus dan pelayanan yang prima bagi penumpang bus. Bus dioperasikan dengan sistem kontrak, dan harus sudah meninggalkan sistem setoran. Sehingga, kinerja operator dinilai dari ketepatan kedatangan bus di setiap halte yang dilayani di rute masing-masing.

Apabila proyek pengadaan 40.000 bus ini terlaksana, maka perjalanan bus bisa meningkat 20 kilometer per jam dalam kurun waktu dua tahun. Saat ini kecepatan perjalanan bus hanya berkisar 5-10 kilometer per jam. Namun di sisi lain, pemerintah perlu membatasi laju kepemilikan kendaran pribadi.

Selain proyek MRT dan penambahan armada bus reguler, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga telah menginstruksikan PT Adhi Karya untuk meneruskan proyek monorel yang mangkrak. Rupanya yang membangun tonggak-tonggak monorel yang terbengkalai selama ini adalah BUMN Adhi Karya yang belum dibayar oleh PT Jakarta Monorel. PT Adhi Karya pun telah mempersiapkan dana Rp 3,7 triliun untuk mewujudkan proyek monorel itu bekerja sama dengan PT Industri Kereta Api dan PT Len Industri yang akan membuat kereta dan sistem elektrifikasinya.

Memang, harapan besar digantungkan pimpinan baru Jokowi-Ahok untuk merealisasikan kelancaran lalu lintas di Jakarta. Antara lain, menyempurnakan sistem bus pengumpan bagi bus transjakarta, dan pengadaan areal parkir (park and ride) yang cukup, sehingga para pengguna kendaraan pribadi berkurang dan mudah meninggalkan kendaraan di tempat parkir untuk beralih ke bus transjakarta atau kereta rel listrik. ***

Sumber : http://www.tubasmedia.com/berita/kemacetan-lalu-lintas-harus-segera-diakhiri/

Selasa, 14 Agustus 2012

Mimpi Kandas Kereta Layang Bekasi-Slipi

VIVAnews - Mimpi PT Hutama Karya membangun sarana transportasi massal berupa kereta layang Bekasi-Slipi, tampaknya hampir kandas. Proyek yang menelan biaya hingga Rp30 triliun itu, tak mendapat restu dari Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan.

Sebagai perusahaan pemerintah, restu dari pemegang saham memang mutlak dikantongi. Terlebih lagi, seluruh saham Hutama Karya adalah milik pemerintah. "Yang Adhi Karya saya setuju, yang Hutama Karya (sebetulnya) bukan saya tak setuju," kata Dahlan Iskan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis, 9 Agustus 2012.

Dahlan memang tak sepenuhnya menolak usulan proyek yang diharapkan bisa mengurai kemacetan di ibukota tersebut. Mantan direktur utama PLN ini lebih menyoroti status proyek kereta layang Bekasi-Slipi yang dianggap merupakan pekerjaan baru.

Dengan status tersebut, pembangunan proyek kereta layang tentunya bakal membutuhkan anggaran yang sangat besar. Hal itu juga yang membuat BUMN ragu jika pemerintah bakal memberikan dana yang dikucurkan lewat mekanisme anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Apakah mungkin, APBN mengalokasikan anggaran sebesar itu, saya ragu," kata Dahlan. Kini, Dahlan tampaknya mengalihkan perhatiannya pada pembangunan proyek monorel yang diusung oleh PT Adhi Karya Tbk. Merunut pada sejarah, perusahaan konstruksi ini sebelumnya telah menyatakan mundur dari proyek yang kini menyisakan tiang-tiang penyangga di tengah kota.

Saking antusiasnya, Dahlan bahkan berani sesumbar mampu membangun proyek monorel dalam waktu dua tahun. Syaratnya, pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera memberikan perizinan untuk mulai menggarap proyek tersebut.

"Kalau Pemda DKI Jakarta mengizinkan itu, dalam dua tahun (proyek monorel) jadi," kata Dahlan.

Sebagai bukti keseriusan, Adhi Karya bahkan berani untuk menanggung seluruh pembiayaan untuk proyek infastruktur tersebut.

*****

Harus diakui. Adhi Karya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan dalam pembangunan proyek monorel. Lewat anak usahanya, PT Jakarta Monorail, perusahaan gagal mewujudkan proyek monorel yang digagas sejak era Gubernur Sutiyoso.

Sementara Hutama Karya yang menggagas proyek Kereta Layang juga belum terlalu beruntung. Perizinan yang tak diberikan oleh pemerintah bakal menjadi batu sandungan untuk merealisasikan mimpi itu.

Namun jika menilik pada konsep proyek yang ditawarkan, kedua perusahaan pelat merah ini sama-sama ingin membantu mengatasi masalah kemacetan yang telah lama melanda kawasan ibukota.

Pada proyek kali ini, Adhi Karya bahkan terlihat cukup yakin. Dana sebesar Rp3,73 triliun siap digelontorkan untuk membiayai proyek monorel yang diberi nama Jakarta Link Transportation (JLT) sepanjang 13 kilometer (Km). Pengerjaan proyek ini diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 2,5 tahun

Sebelum membangun jaringan, Adhi Karya fokus membangun 16 unit stasiun yang tersebar di titik strategis di Jakarta seperti; Tanah Abang, Grand Indonesia, Dukuh Atas, Mega Kuningan, Sampoerna Square, SCBD.

Jika proyek ini selesai, alat transportasi massal JLT tersebut diharapkan mampu membawa 77.500 penumpang setiap harinya.

Sebelum ditolak kementerian BUMN, Hutama Karya juga mengusulkan ide proyek yang tak kalah baik. Memanfaatkan areal kosong di median tengah jalan tol milik PT Jasa Marga Tbk, perusahaan konstruksi ini menawarkan kereta layang terintegrasi sepanjang 100 kilometer (Km). Total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp30 triliun.

Dalam rencana pengembangan kereta layang di median jalan tol ini akan terbagi menjadi lima tahap. Tahap pertama Bekasi-Cawang, tahap kedua Cawang-Semanggi, tahap tiga Bumi Serpong Damai-Taman Anggrek-Semanggi, dan tahap empat Bogor-Cawang.

"Total panjang seluruh tahapan ini mencapai 100 kilometer, di mana per kilometernya rata-rata investasi sebesar Rp300 miliar," kata Wikumurti kepada VIVAnews.

Untuk menunjukan keseriusan, Hutama Karya bahkan mengklaim telah memiliki peminat untuk proyek tersebut. Disebut-sebut, Mitsui Corporation, sudah melakukan pembicaraan awal untuk masuk sebagai salah satu investor proyek kereta layang Bekasi-Slipi.

****

Untuk saat ini, baik Adhi Karya lewat proyek monorel maupun Hutama Karya melalui Kereta Layang memang masih memiliki peluang untuk mewujudkan mimpinya. Namun rencana itu tampaknya harus bersaing dengan proyek-proyek lain yang diusulkan perusahaan lain.

Menanggapi banyaknya perusahaan yang mengusulkan proyek infrastruktur pengurai kemacetan ibukota, Pengamat Transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna justru tak terlalu gembira.

"Seharusnya kembali ke hakikat utama yaitu pembenahan angkutan masyarakat Jakarta," kata dia.

Pemerintah diketahui sudah mempunyai sebuah cetak biru penanggulangan masalah kemacetan di Ibukota. Lewat program Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta, berbagai proyek mulai dari mass rapid transit (MRT), busway, dan monorel sudah dirancang oleh para ahli dan berbagai instansi terkait.

Sesuai dengan cetak biru program tersebut, seluruh sistem trasportasi di Ibukota ditargetkan selesai pada 2020.

Sayangnya, kata Yayat, hampir seluruh pemangku kepentingan terlihat tak konsisten dengan program yang sudah dibuatnya. Hal ini terlihat dari program pengembangan infrastruktur yang tak lagi sesuai dengan rencana awal

"Busway harusnya sudah selesai pada 2010," tegas Yayat.

Permasalahan bertambah rumit karena mulai banyak perusahaan yang mengusulkan proyek infrastruktur diluar rencana yang dibuat pemerintah.

Kondisi diperparah dengan tak adanya lembaga yang khusus menangani dan mengawasi pelaksanaan program PTM tersebut. "Masalahnya sekarang tak ada yang bersama padahal program ini berhasil jika bersatu padu," kata Yayat.

Pada akhirnya, ujar Yayat, persoalan kemacetan di ibukota hanya dapat diselesaikan dengan cepat jika saja pembangunan angkutan massal bisa terealisasi dengan tepat. "Saat ini jumlah pemakai angkutan itu semakin banyak sementara ruas jalan yang ada begitu-begitu saja," katanya.

Sumber : http://fokus.news.viva.co.id/news/read/343208-mimpi-kandas-kereta-layang-bekasi-slipi

Rabu, 27 Juni 2012

Dulu Trem, Sekarang Busway Menyusuri Jakarta

Jakarta Transportasi massal sejak dulu memegang peranan penting di Jakarta. Di tahun 1950-an trem listrik menjadi andalan warga Ibukota untuk melakukan mobilitas di tengah kota. Seiring waktu berlalu, angkutan ini mati. Hingga bertahun-tahun kemudian munculah bus besar yang berjalan di jalur khusus, busway.

Di buku 'Jakarta 1950-an, Kenangan Semasa Remaja' karya Firman Lubis, trem listrik beroperasi di beberapa jalur utama Ibukota. Masyarakat umum banyak menggunakan jasa angkutan umum peninggalan kolonial Belanda ini.

Sebenarnya angkutan ini sudah ada di Batavia (nama Jakarta kala itu) sejak pertengahan 1800 hingga 1900-an. Mulanya trem kuda yang mampu mengangkut 40 orang hadir pada 1869. Keberadaan trem kuda ditulis dalam buku 'Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi' karya Alwi Shahab.

Tiga hingga empat kuda dikerahkan untuk menarik trem ini. Trem juga dilengkapi dengan terompet yang akan dibunyikan oleh kusir sebagai klakson. Untuk bisa menikmati perjalanan trem kuda ini, penumpang harus membayar 10 sen. Waktu operasinya kala itu adalah pukul 05.00-20.00 WIB.

Seiring perkembangan teknologi, keberadaan trem kuda lantas digantikan dengan trem uap yang muncul sekitar 1881. Lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap menggantikan keberadaan kuda yang menarik trem sehingga memiliki rute yang lebih panjang.

Kala itu trem uap melintas dari Pasar Ikan sampai Jatinegara. Pasar Baru, Gunung Sahari, Kramat, Salemba, dan Matraman adalah kawasan yang dilintasi alat transportasi ini.

Kemudian pada 1900, teknologi terbaru ditemukan sehingga meminggirkan trem uap dan menggantikannya dengan trem listrik. Pada 1950-an ada sekitar 5 lin (dari bahasa belanda lijn yang berarti lintasan) di Jakarta. Lin-lin itu antara lain melintasi Kampung Melayu, Jalan Cut Mutia, Jalan Tanah Abang Raya (sekarang Jalan Abdul Muis), Harmoni, dan Pasar Ikan.

Pool dan bengkel besar trem listrik berada di Jalan Kramat Raya yang berada di seberang Gedung CTC. Namun kemudian tempat ini digunakan sebagai pool bus PPD.

Operasi trem ini kemudian dihentikan pada 1959. Tidak jelas mengapa pengoperasian alat transportasi ini dihentikan. Firman Lubis yang merupakan anak Betawi menduga trem sulit dioperasikan atau karena tidak ada dana untuk merawat dan meremajakannya.

Trem yang dulu pernah menderu di Ibukota tak ada lagi sisanya. Jalan khusus trem pun sepertinya sudah tertutup aspal jalanan. Bekas rel trem listrik pernah ditemukan saat dilakukan penggalian pinggir jalan daerah kota pada 2006 guna peremajaan kawasan Kota Tua. Hanya itu saja, tiang penyangga kabel listrik pun kini hanya tinggal cerita.

Firman Lubis menyayangkan hilangnya trem dari Ibukota. Sebab trem merupakan alat transportasi yang praktis dan bebas polusi. Di banyak kota besar di Eropa saja trem listrik menjadi transportasi umum yang diandalkan.

Puluhan tahun kemudian, lahirlah busway di Jakarta. Busway merupakan jalan khusus bagi bus TransJakarta, yang menjadi bagian dari sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit di Jakarta. Ide pembangunan bus ini muncul pada 2001 dengan mengadopsi sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

15 Januari 2004 merupakan hari bersejarah busway, karena saat itulah pertama kali busway dioperasikan. Koridor I yang melayani Blok M - Kota menjadi satu-satunya area yang dilayani busway kala itu. Sejumlah masalah pun membayangi keberadaan busway, misalnya saat atap salah satu bus menghantam terowongan rel kereta api dan masalah teknis lainnya.

Sejumlah koridor kemudian ditambah untuk melayani mobilitas warga Jakarta. Hingga bulan keenam 2012 ini, sudah ada 11 koridor yang dioperasikan. Meski sudah 8 tahun beroperasi di Jakarta, namun masih ada masalah yang kerap mendera. Misalnya soal keluhan busway yang tidak steril, terkadang penumpang harus menunggu lama datangnya bus, atau terlalu berdesakannya penumpang di dalam bus.

Kendati sudah ada busway namun kemacetan masih menjadi masalah klasik Ibukota. Para cagub-cawagub DKI yang akan berkontestasi pada 11 Juli mendatang pun berlomba-lomba menyampaikan rencana solusi mengatasi kemacetan Ibukota. Mari kita tunggu 'obat manjur' gubernur-wagub DKI terpilih nantinya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/06/26/133223/1951068/10/dulu-trem-sekarang-busway-menyusuri-jakarta?9922032