Jakarta - Tiga ide dari inovator muda terpilih bertanding dalam kompetisi Jakarta Urban Challege untuk mencari solusi efektif bagi mobilitas dan transportasi di Jakarta. Satu diantaranya yang dinilai paling inovatif dalam mengatasi kemacetan Ibu Kota dipilih menjadi pemenang.
"Juri memilih 3 finalis yang dianggap paling inovatif dan memberi solusi baru. Juara 1 mendapat 10 ribu dollar, juara 2 mendapat 6 ribu dollar dan juara 3 mendapat 4 ribu dollar," ujar Chairmant New Cities Foundation Jhon Rossant saat mengumumkan pemenang lomba di Ciputra Artwork, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2015).
John mengumumkan, Squee Mobile App sebagai pemenang pertama Jakarta Urban Challenge. Kelompok ini meluncurkan sebuah aplikasi pemberi saran rute perjalanan yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Nantinya, kendaraan-kendaraan bermotor ini juga bisa diarahkan melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
"Dengan pendekatan kota Jakarta, Squee menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi. Kami percaya, rute jalan tikus kami lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor lewat kampung-kampung," kata salah satu anggota Squee, Arlene Nathania kepada wartawan.
Pemenenang kedua ditempati oleh kelompok Jalan Aman (Safe Passage) yang mengeluarkan aplikasi mobile berfokus pada keamanan dari komuter wanita di Ibu Kota. Mereka juga dapat berbagi informasi mengenai lokasi dan melapor bila mengalami tindak kejahatan kepada sesama pengguna.
John menilai aplikasi ini sangat berguna terutama bagi para komuter di kota-kota besar yang memiliki mobilitas tinggi. "Ini proyek yang bagus," kata Newyorker tersebut saat memberikan komentarnya.
Pemenang ketiga jatuh kepada Cyclist Urban System. Kelompok ini meluncurkan aplikasi bagi pengendara sepeda di Jakarta, di mana mereka dapat memarkir sepedanya, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda, informasi rute dan masih banyak lagi.
Menurut John aplikasi ini bermanfaat untuk mendorong warga di Jakarta beralih ke sepeda sebagai kendaraan alternatif. Selain sehat, juga bisa membantu mengurangi polusi udara dari gas karbondioksida.
Hal ini sejalan dengan tujuan dari diadakannya lomva Jakarta Urban Challege agar dapat memperbaiki kemacetan, mengurangi emisi dari efek rumah kaca, mengurangi polusi udara dan memperbaiki keamanan serta aksesibilitas.
Adapun penjurian dilakukan oleh tim dari New Cities Foundation dan Connect4Climate. Mereka terdiri dari Country Manager International Finance Corporation Yuan Xu, Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Sarwo Handayani, Ketua New Cities Foundation John Rossant, Deputi Gubernur untuk Industri, Perdagangan dan Transportasi DKI Sutanto Soehodho, Kepala Deputi Metropolitan Kompas Muda Neli Triana serta Pemenang Nobel Perdamaian dan Pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Hadir pula dalam pengumuman pemenang lomba sekaligus untuk menutup rangkaian kegiatan New Cities Summit Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Selama pengumuman berlangsung, Ahok tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada 3 kelompok muda terpilih.
"Saya ingin mengetahui lebih jauh aplikasi mereka untuk bisa diaplikasikan ke Smart City," kata Ahok sambil berbisik di atas panggung kepada John.
"Selamat kepada para pemenang," sambungnya sembari menutup acara.
Sumber : http://news.detik.com/berita/2938896/inovatif-squee-mobile-app-juarai-lomba-jakarta-urban-challenge-2015
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label rute. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rute. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Juni 2015
Inovatif! Squee Mobile App Juarai Lomba Jakarta Urban Challenge 2015
Label:
ahok
,
aplikasi
,
challege
,
cities
,
foundation
,
ibu kota
,
jakarta
,
john
,
kampung-kampung
,
kendaraan bermotor
,
komuter
,
new
,
pemenang
,
rossant
,
rute
,
sepeda
,
squee
,
transportasi
,
urban
Jumat, 12 Juni 2015
Tiga Usulan Menyiasati Kemacetan Ibu Kota Jakarta
JAKARTA, KOMPAS - Publik Jakarta punya segudang usulan untuk menyiasati masalah kotanya. Jakarta Urban Challenge, kompetisi untuk mencari solusi masalah mobilitas dan kemacetan Jakarta, bisa jadi indikatornya. Hingga pendaftaran ditutup 8 Mei 2015, sebanyak 226 usulan masuk ke meja panitia.
Proposal dipilih berdasarkan tujuan mengatasi kemacetan, mengurangi emisi efek rumah kaca, mengurangi polusi udara, serta memperbaiki keamanan dan mobilitas warga Jakarta. Sejumlah juri internasional terlibat dalam penilaian, antara lain Ketua New Cities Foundation John Rossant serta peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkesempatan menyerahkan hadiah kepada tiga pemenang pada penutupan New Cities Summit 2015 di Jakarta, Rabu (10/6). Mereka menerima hadiah total 20.000 dollar AS pada kompetisi yang diselenggarakan New Cities Foundation dan Connect4Climate itu.
Aplikasi mobil "Squee" yang dikembangkan Arlene Nathania dan kawan-kawan memenangi kompetisi itu. Squee menggabungkan pejalan kaki dan pesepeda bepergian bersama melewati rute yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
Arlene mengatakan, Squee menggunakan pendekatan perkotaan Jakarta. Aplikasi ini menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi yang awalnya terlihat tidak berkaitan.
Tim Squee percaya bahwa "jalan tikus" yang dibagi bisa menjadi alternatif bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda menempuh rute lebih singkat. Aplikasi ini menjanjikan dapat meningkatkan aksesibilitas, kebebasan bergerak, dan nilai sosial.
Sementara gagasan "Jalan Aman" dipilih sebagai juara kedua. Aplikasi mobil ini fokus pada keamanan komuter perempuan. Aplikasi juga memungkinkan pengguna berbagi informasi mengenai lokasi mereka, melaporkan penyerangan, dan menyediakan informasi transportasi yang aman kepada pengguna lain.
"Hampir semua dari kita adalah wanita, dan proposal Jalan Aman disusun berdasarkan pengalaman pribadi ketika bepergian di jalan Jakarta yang menantang dan bahkan menakutkan," kata Paulista Surjadi yang mewakili tim Jalan Aman.
Paulista berharap idenya dapat berkontribusi pada perbaikan mobilitas dengan memberikan solusi yang tepat sasaran, khususnya komuter perempuan sebagai kelompok komuter yang paling terkena dampak.
Gagasan lain disampaikan tim Cyclist Urban System (CUS) yang menawarkan rencana menciptakan "pusat pengendara sepeda" di Jakarta. Usulan tim ini terpilih sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.
Ucha Kautsar dari CUS mengatakan, usulannya memungkinkan pengendara sepeda dapat memarkir sepeda mereka, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda mereka, mendapatkan pertolongan pertama dan informasi rute, serta menyewa sepeda.
"Selain berolahraga, kita sering bersepeda untuk menuju tempat tertentu. Kami percaya CUS dapat mendorong seseorang bersepeda jika kita bisa menyediakan akses mudah untuk fasilitas parkir sepeda, locker, dan kamar mandi untuk pesepeda," kata Ucha.
Diundang gubernur
Kepada para pemenang, Basuki berjanji akan mengundang mereka untuk bertemu dan menelaah apakah usulan mereka bisa diaplikasikan di Jakarta. Dia menyatakan akan menerapkannya untuk membantu publik Jakarta jika terbukti efektif.
Beberapa peserta New Cities Summit mengapresiasi sejumlah finalis. Menurut Rossant, banyaknya proposal yang masuk menjadi indikasi bahwa Jakarta punya modal sumber daya manusia dan kreativitas untuk mengatasi masalahnya. Deden Rukmana, peserta dari Asosiasi Profesor dan Koordinator Studi Urban dan Program Perencanaan, menilai, teknologi informasi membantu para peserta menawarkan solusi bagi warga kotanya. Ide-ide positif perlu didengar dan dipertimbangkan pemerintah kota.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/11/16410951/Tiga.Usulan.Menyiasati.Kemacetan.Ibu.Kota.Jakarta
Proposal dipilih berdasarkan tujuan mengatasi kemacetan, mengurangi emisi efek rumah kaca, mengurangi polusi udara, serta memperbaiki keamanan dan mobilitas warga Jakarta. Sejumlah juri internasional terlibat dalam penilaian, antara lain Ketua New Cities Foundation John Rossant serta peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank Muhammad Yunus.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkesempatan menyerahkan hadiah kepada tiga pemenang pada penutupan New Cities Summit 2015 di Jakarta, Rabu (10/6). Mereka menerima hadiah total 20.000 dollar AS pada kompetisi yang diselenggarakan New Cities Foundation dan Connect4Climate itu.
Aplikasi mobil "Squee" yang dikembangkan Arlene Nathania dan kawan-kawan memenangi kompetisi itu. Squee menggabungkan pejalan kaki dan pesepeda bepergian bersama melewati rute yang lebih singkat dan bebas kendaraan bermotor melewati kampung-kampung perkotaan Jakarta.
Arlene mengatakan, Squee menggunakan pendekatan perkotaan Jakarta. Aplikasi ini menggabungkan kampung-kampung perkotaan dengan sistem transportasi yang awalnya terlihat tidak berkaitan.
Tim Squee percaya bahwa "jalan tikus" yang dibagi bisa menjadi alternatif bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda menempuh rute lebih singkat. Aplikasi ini menjanjikan dapat meningkatkan aksesibilitas, kebebasan bergerak, dan nilai sosial.
Sementara gagasan "Jalan Aman" dipilih sebagai juara kedua. Aplikasi mobil ini fokus pada keamanan komuter perempuan. Aplikasi juga memungkinkan pengguna berbagi informasi mengenai lokasi mereka, melaporkan penyerangan, dan menyediakan informasi transportasi yang aman kepada pengguna lain.
"Hampir semua dari kita adalah wanita, dan proposal Jalan Aman disusun berdasarkan pengalaman pribadi ketika bepergian di jalan Jakarta yang menantang dan bahkan menakutkan," kata Paulista Surjadi yang mewakili tim Jalan Aman.
Paulista berharap idenya dapat berkontribusi pada perbaikan mobilitas dengan memberikan solusi yang tepat sasaran, khususnya komuter perempuan sebagai kelompok komuter yang paling terkena dampak.
Gagasan lain disampaikan tim Cyclist Urban System (CUS) yang menawarkan rencana menciptakan "pusat pengendara sepeda" di Jakarta. Usulan tim ini terpilih sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.
Ucha Kautsar dari CUS mengatakan, usulannya memungkinkan pengendara sepeda dapat memarkir sepeda mereka, berganti pakaian, membeli minuman, memperbaiki sepeda mereka, mendapatkan pertolongan pertama dan informasi rute, serta menyewa sepeda.
"Selain berolahraga, kita sering bersepeda untuk menuju tempat tertentu. Kami percaya CUS dapat mendorong seseorang bersepeda jika kita bisa menyediakan akses mudah untuk fasilitas parkir sepeda, locker, dan kamar mandi untuk pesepeda," kata Ucha.
Diundang gubernur
Kepada para pemenang, Basuki berjanji akan mengundang mereka untuk bertemu dan menelaah apakah usulan mereka bisa diaplikasikan di Jakarta. Dia menyatakan akan menerapkannya untuk membantu publik Jakarta jika terbukti efektif.
Beberapa peserta New Cities Summit mengapresiasi sejumlah finalis. Menurut Rossant, banyaknya proposal yang masuk menjadi indikasi bahwa Jakarta punya modal sumber daya manusia dan kreativitas untuk mengatasi masalahnya. Deden Rukmana, peserta dari Asosiasi Profesor dan Koordinator Studi Urban dan Program Perencanaan, menilai, teknologi informasi membantu para peserta menawarkan solusi bagi warga kotanya. Ide-ide positif perlu didengar dan dipertimbangkan pemerintah kota.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2015/06/11/16410951/Tiga.Usulan.Menyiasati.Kemacetan.Ibu.Kota.Jakarta
Rabu, 03 Juni 2015
Westbike Messenger, Mengurai Kemacetan Jakarta dengan Sepeda
Mengantarkan dokumen, barang, dan segala jenis paket dengan segera di belantara Jakarta hanya mungkin dilakukan dengan sepeda motor. Akan tetapi, memilih sepeda motor sebagai moda transportasi pengantar belum tentu bijak untuk menghadapi kemacetan di jalan raya.
Sepeda motor meninggalkan jejak karbon berupa sisa gas buang dan bobotnya relatif berat sehingga tidak memungkinkan diangkat-angkat. Hal itu kerap membuat sepeda motor terjebak dan menjadi bagian dari kemacetan. Maka, kembali pada metode pengantaran paket pada masa lalu dengan sepeda yang cenderung ramah lingkungan karena nihil gas buang dicoba Westbike Messenger Services (WMS) sejak Oktober 2013.
Sebagian aktivitas WMS dengan 15 pengendara (rider) sepeda itu terekam pada Kamis (28/5) petang di salah satu pojok Lantai 2 Pasar Santa, Jakarta Selatan.
Hamzah Mutaqqien (23), salah seorang pengendara yang turut merintis bisnis tersebut, bersama Chief Operating Officer WMS Hendi Rachmat dan Co-Founder WMS Duenno Ludissa tengah duduk-duduk santai seusai menjalani aktivitas hari itu.
Tas paket dengan tempelan sejumlah badge menemaninya. "Mental diperlukan," ujar Hamzah yang akrab disapa Jeje saat ditanya apa yang mesti dimiliki seorang pengendara.
Mental yang dimaksud Jeje ialah tatkala harus berhadapan dengan kendaraan bermotor yang menyemut dan seolah tidak peduli dengan kehadiran pengendara sepeda. Mental itu juga yang dibutuhkan tatkala dalam jangka waktu kurang dari dua tahun ia sudah dua kali ditabrak hingga terpental.
Pertama, ditabrak metromini di kawasan Blok M Plaza. Kedua, ditabrak sepeda motor di kawasan Kemayoran.
Mental itu pula yang membuat para pengendara seperti Jeje tetap bangun dan kembali mengayuh sepeda tanpa harus memusingkan urusan ganti rugi atau biaya pengobatan. Itu karena yang paling penting ialah bagaimana paket-paket yang diantarkan itu bisa sampai tepat waktu.
"Kalau paket telat sampai, itu sangat minim (jarang) terjadi karena kami sudah memperhitungkan waktunya," ujar Jeje.
Seluruh wilayah Jakarta, kecuali wilayah utara, memungkinkan dijelajahi para pengendara sepeda itu demi mengantarkan paket dalam waktu bisa kurang dari dua jam. Wilayah utara dikecualikan, menurut Hendi, atas dasar keamanan bagi para pengendara sepeda karena truk-truk besar mendominasi jalan raya di kawasan tersebut.
Pemilihan rute, keahlian bersepeda, dan kemampuan mengendarai sepeda di sela-sela kendaraan bermotor menjadi kunci dalam mencapai ketepatan waktu pengantaran. Sepeda yang dipergunakan adalah jenis fixie (fixed-gear bicycle) tanpa rem milik setiap rider.
Karena itulah, kecepatan mengayuh sepeda tidak semata-mata menjadi kunci. Yang tak kalah penting adalah keterampilan mengendarai sepeda dan kemampuan dalam membaca situasi serta pemilihan jalan. Jeje mengatakan, dalam satu hari, seorang pengendara paling sedikit menempuh rute 50 kilometer.
Setiap pengendara sudah paham betul rute yang hendak mereka lalui dan paling hanya mengecek aplikasi Google Maps untuk sejumlah rute yang sangat baru. Mereka beroperasi sesuai jam kantor dan berakhir sekitar pukul 17.00.
Sebagian besar pengendara adalah mahasiswa. Hendi mengatakan, dari 15 pengendara, 12 orang merupakan mahasiswa, sedangkan tiga lainnya telah menyelesaikan kuliah dan menjadi anggota staf tetap.
Awalnya mereka sesama anggota komunitas. Belakangan, mereka direkrut secara terbuka, lewat pengumuman via media sosial.
Hubungan di antara mereka juga relatif erat. Jalinan komunikasi yang ada seperti layaknya dalam sebuah komunitas, termasuk dengan yang sudah tidak lagi menjadi pengirim paket.
Adya Maulana (20), mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Atma Jaya, pernah bergabung selama tiga bulan bersama WMS pada masa liburan kuliah. Petang itu, ia bertandang sekalipun tidak lagi menjadi pengantar paket bersama WMS.
Jeje yang turut mendirikan WMS masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Universitas YAI. Akan tetapi, saat ini ia memilih mengambil cuti kuliah agar bisa lebih fokus mengembangkan bisnis WMS.
Berkembang dengan jumlah permintaan semakin banyak, itulah yang kini dirasakan Hendi dengan 15 pengendara. Jumlah itu sudah bertambah banyak dibandingkan saat ia memulai bisnis pengantaran paket dengan sepeda itu bersama dua pengendara saja.
Ia berencana untuk merekrut lebih banyak pengendara dan itu tidak terbatas pada laki-laki. Saat ini pun sudah ada seorang pengendara perempuan bernama Mawar yang turut bergabung sebagai pengantar paket.
Jika Anda gila menggenjot sepeda, punya KTP, dan ingin mengantongi penghasilan sekitar Rp 3 juta sebulan, mungkin bergabung bersama WMS bisa jadi pilihan. Tentu saja ada sejumlah tahapan seleksi, seperti wawancara, yang akan sangat menentukan apakah calon bakal lulus atau tidak.
Ini masih ditambah bahwa visi yang diusung WMS bukan semata aktif sebagai pengendara sepeda dalam konteks menjadi pengantar paket. Hendi sudah mulai berpikir untuk menggabungkan penyedia layanan jasa serupa di sejumlah kota di Indonesia dalam bentuk asosiasi. Jika tak ada aral melintang, Desember mendatang, ia akan melangsungkan ajang Indonesia Commuter Race.
Hal tersebut bakal jadi bekal pengalaman berharga sebelum mengadakan kompetisi bagi para pengendara sepeda di tingkat Asia Pasifik yang menggunakan moda transportasi itu untuk mengantarkan paket titipan. Ide tersebut diperoleh Hendi setelah sejumlah pengendara WMS ikut dalam ajang Cycle Messenger World Championships di Melbourne, Australia, April lalu.
Setelah sejumlah pencapaian tersebut, Hendi masih mempunyai catatan terkait bisnis pengantaran paket dengan sepeda yang praktis dan aman bagi lingkungan karena tidak menghasilkan gas buang itu. Ia menyatakan, sejauh ini, sebagian besar kliennya yang memberikan perhatian penuh adalah perusahaan asal luar negeri dan kantor kedutaan besar negara sahabat di Jakarta.
Sementara itu, kesadaran tentang lingkungan pada sebagian kalangan di dalam negeri dinilai masih belum utuh. Ini tentu membuat Hendi dan WMS semakin tertantang, serupa ketika ia bersama rekan-rekannya membangkitkan lagi kegairahan bersepeda fixie bersama WMS.
Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/05/30/Westbike-Messenger%2c-Mengurai-Kemacetan-Jakarta-den
Sepeda motor meninggalkan jejak karbon berupa sisa gas buang dan bobotnya relatif berat sehingga tidak memungkinkan diangkat-angkat. Hal itu kerap membuat sepeda motor terjebak dan menjadi bagian dari kemacetan. Maka, kembali pada metode pengantaran paket pada masa lalu dengan sepeda yang cenderung ramah lingkungan karena nihil gas buang dicoba Westbike Messenger Services (WMS) sejak Oktober 2013.
Sebagian aktivitas WMS dengan 15 pengendara (rider) sepeda itu terekam pada Kamis (28/5) petang di salah satu pojok Lantai 2 Pasar Santa, Jakarta Selatan.
Hamzah Mutaqqien (23), salah seorang pengendara yang turut merintis bisnis tersebut, bersama Chief Operating Officer WMS Hendi Rachmat dan Co-Founder WMS Duenno Ludissa tengah duduk-duduk santai seusai menjalani aktivitas hari itu.
Tas paket dengan tempelan sejumlah badge menemaninya. "Mental diperlukan," ujar Hamzah yang akrab disapa Jeje saat ditanya apa yang mesti dimiliki seorang pengendara.
Mental yang dimaksud Jeje ialah tatkala harus berhadapan dengan kendaraan bermotor yang menyemut dan seolah tidak peduli dengan kehadiran pengendara sepeda. Mental itu juga yang dibutuhkan tatkala dalam jangka waktu kurang dari dua tahun ia sudah dua kali ditabrak hingga terpental.
Pertama, ditabrak metromini di kawasan Blok M Plaza. Kedua, ditabrak sepeda motor di kawasan Kemayoran.
Mental itu pula yang membuat para pengendara seperti Jeje tetap bangun dan kembali mengayuh sepeda tanpa harus memusingkan urusan ganti rugi atau biaya pengobatan. Itu karena yang paling penting ialah bagaimana paket-paket yang diantarkan itu bisa sampai tepat waktu.
"Kalau paket telat sampai, itu sangat minim (jarang) terjadi karena kami sudah memperhitungkan waktunya," ujar Jeje.
Seluruh wilayah Jakarta, kecuali wilayah utara, memungkinkan dijelajahi para pengendara sepeda itu demi mengantarkan paket dalam waktu bisa kurang dari dua jam. Wilayah utara dikecualikan, menurut Hendi, atas dasar keamanan bagi para pengendara sepeda karena truk-truk besar mendominasi jalan raya di kawasan tersebut.
Pemilihan rute, keahlian bersepeda, dan kemampuan mengendarai sepeda di sela-sela kendaraan bermotor menjadi kunci dalam mencapai ketepatan waktu pengantaran. Sepeda yang dipergunakan adalah jenis fixie (fixed-gear bicycle) tanpa rem milik setiap rider.
Karena itulah, kecepatan mengayuh sepeda tidak semata-mata menjadi kunci. Yang tak kalah penting adalah keterampilan mengendarai sepeda dan kemampuan dalam membaca situasi serta pemilihan jalan. Jeje mengatakan, dalam satu hari, seorang pengendara paling sedikit menempuh rute 50 kilometer.
Setiap pengendara sudah paham betul rute yang hendak mereka lalui dan paling hanya mengecek aplikasi Google Maps untuk sejumlah rute yang sangat baru. Mereka beroperasi sesuai jam kantor dan berakhir sekitar pukul 17.00.
Sebagian besar pengendara adalah mahasiswa. Hendi mengatakan, dari 15 pengendara, 12 orang merupakan mahasiswa, sedangkan tiga lainnya telah menyelesaikan kuliah dan menjadi anggota staf tetap.
Awalnya mereka sesama anggota komunitas. Belakangan, mereka direkrut secara terbuka, lewat pengumuman via media sosial.
Hubungan di antara mereka juga relatif erat. Jalinan komunikasi yang ada seperti layaknya dalam sebuah komunitas, termasuk dengan yang sudah tidak lagi menjadi pengirim paket.
Adya Maulana (20), mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Atma Jaya, pernah bergabung selama tiga bulan bersama WMS pada masa liburan kuliah. Petang itu, ia bertandang sekalipun tidak lagi menjadi pengantar paket bersama WMS.
Jeje yang turut mendirikan WMS masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Universitas YAI. Akan tetapi, saat ini ia memilih mengambil cuti kuliah agar bisa lebih fokus mengembangkan bisnis WMS.
Berkembang dengan jumlah permintaan semakin banyak, itulah yang kini dirasakan Hendi dengan 15 pengendara. Jumlah itu sudah bertambah banyak dibandingkan saat ia memulai bisnis pengantaran paket dengan sepeda itu bersama dua pengendara saja.
Ia berencana untuk merekrut lebih banyak pengendara dan itu tidak terbatas pada laki-laki. Saat ini pun sudah ada seorang pengendara perempuan bernama Mawar yang turut bergabung sebagai pengantar paket.
Jika Anda gila menggenjot sepeda, punya KTP, dan ingin mengantongi penghasilan sekitar Rp 3 juta sebulan, mungkin bergabung bersama WMS bisa jadi pilihan. Tentu saja ada sejumlah tahapan seleksi, seperti wawancara, yang akan sangat menentukan apakah calon bakal lulus atau tidak.
Ini masih ditambah bahwa visi yang diusung WMS bukan semata aktif sebagai pengendara sepeda dalam konteks menjadi pengantar paket. Hendi sudah mulai berpikir untuk menggabungkan penyedia layanan jasa serupa di sejumlah kota di Indonesia dalam bentuk asosiasi. Jika tak ada aral melintang, Desember mendatang, ia akan melangsungkan ajang Indonesia Commuter Race.
Hal tersebut bakal jadi bekal pengalaman berharga sebelum mengadakan kompetisi bagi para pengendara sepeda di tingkat Asia Pasifik yang menggunakan moda transportasi itu untuk mengantarkan paket titipan. Ide tersebut diperoleh Hendi setelah sejumlah pengendara WMS ikut dalam ajang Cycle Messenger World Championships di Melbourne, Australia, April lalu.
Setelah sejumlah pencapaian tersebut, Hendi masih mempunyai catatan terkait bisnis pengantaran paket dengan sepeda yang praktis dan aman bagi lingkungan karena tidak menghasilkan gas buang itu. Ia menyatakan, sejauh ini, sebagian besar kliennya yang memberikan perhatian penuh adalah perusahaan asal luar negeri dan kantor kedutaan besar negara sahabat di Jakarta.
Sementara itu, kesadaran tentang lingkungan pada sebagian kalangan di dalam negeri dinilai masih belum utuh. Ini tentu membuat Hendi dan WMS semakin tertantang, serupa ketika ia bersama rekan-rekannya membangkitkan lagi kegairahan bersepeda fixie bersama WMS.
Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/05/30/Westbike-Messenger%2c-Mengurai-Kemacetan-Jakarta-den
Label:
bisnis
,
fixie
,
gas buang
,
hendi
,
jalan raya
,
jeje
,
kendaraan bermotor
,
kuliah
,
mental
,
moda
,
paket
,
pengantar
,
pengantaran
,
pengendara
,
rider
,
rute
,
sepeda
,
sepeda motor
,
wms
Selasa, 12 Mei 2015
APTB Dilarang Masuk Jakarta, Penumpang Protes
TEMPO.CO , Jakarta: Pegiat akun Twitter @NaikUmum, Andreas Lucky Lukwira, mengatakan kebijakan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) yang dilarang tidak boleh masuk ke Jakarta menyulitkan penumpang. Alasannya, APTB merupakan salah satu opsi moda transportasi jika jarak kedatangan bus atau headway Transjakarta jauh.
"Kami berharap APTB tetap ada untuk menambah pilihan angkutan," ujar Andreas, Rabu, 6 Mei 2015.
Kelak bus APTB hanya diizinkan mengangkut penumpang hingga daerah perbatasan. Musababnya, PT Transportasi Jakarta dan pengelola APTB gagal mencapai kesepakatan bergabung ke badan usaha milik DKI itu dengan pembayaran per kilometer. Operator APTB meminta pembayaran Rp 18 ribu per kilometer, sedangkan PT Transportasi Jakarta menawarkan Rp 14-15 ribu.
Andreas menuturkan, pelayanan APTB sudah memadai jika dibandingkan dengan bus Transjakarta. Dari segi headway, ia berujar, APTB juga lebih unggul ketimbang Transjakarta. Hal ini bisa dibuktikan terutama pada rute yang melintas di koridor IX Pinang Ranti-Pluit. Kedatangan Bus APTB lebih sering dibandingkan bus Transjakarta.
Andreas mengatakan penumpang kesulitan mengandalkan bus Transjakarta di jam sibuk. Dari pengalamannya, dalam lima tahun terakhir penerapan rupiah per kilometer justru membuat pengemudi tak berorientasi kepada penumpang. "Seringkali saya melihat TJ istirahat atau isi BBG di jam sibuk, padahal shelter sedang padat," ujar Andreas.
Dwi Satria Utama, 26 tahun, juga melayangkan protes. Penumpang APTB rute Bekasi-Tanah Abang ini mengatakan larangan APTB masuk ke Jakarta merugikan penumpang lantaran waktu tempuh yang semakin lama dan ongkos yang semakin mahal karena membayar tiket sebanyak dua kali.
Sebagai gambaran, penumpang APTB dari Bekasi akan turun di daerah Cawang untuk beralih ke bus Transjakarta. Untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Abang, penumpang juga harus transit lagi di Halte Semanggi. "Waktu tempuh yang semakin lama itu sangat merugikan," kata dia.
Rio, sapaan Dwi, menyarankan Pemerintah DKI mempertimbangkan kembali larangan itu. Alasannya, APTB merupakan salah satu moda transportasi bagi para penglaju. "Transjakarta sampai saat ini juga belum bisa diandalkan," kata Rio.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/05/07/083664207/APTB-Dilarang-Masuk-Jakarta-Penumpang-Protes
"Kami berharap APTB tetap ada untuk menambah pilihan angkutan," ujar Andreas, Rabu, 6 Mei 2015.
Kelak bus APTB hanya diizinkan mengangkut penumpang hingga daerah perbatasan. Musababnya, PT Transportasi Jakarta dan pengelola APTB gagal mencapai kesepakatan bergabung ke badan usaha milik DKI itu dengan pembayaran per kilometer. Operator APTB meminta pembayaran Rp 18 ribu per kilometer, sedangkan PT Transportasi Jakarta menawarkan Rp 14-15 ribu.
Andreas menuturkan, pelayanan APTB sudah memadai jika dibandingkan dengan bus Transjakarta. Dari segi headway, ia berujar, APTB juga lebih unggul ketimbang Transjakarta. Hal ini bisa dibuktikan terutama pada rute yang melintas di koridor IX Pinang Ranti-Pluit. Kedatangan Bus APTB lebih sering dibandingkan bus Transjakarta.
Andreas mengatakan penumpang kesulitan mengandalkan bus Transjakarta di jam sibuk. Dari pengalamannya, dalam lima tahun terakhir penerapan rupiah per kilometer justru membuat pengemudi tak berorientasi kepada penumpang. "Seringkali saya melihat TJ istirahat atau isi BBG di jam sibuk, padahal shelter sedang padat," ujar Andreas.
Dwi Satria Utama, 26 tahun, juga melayangkan protes. Penumpang APTB rute Bekasi-Tanah Abang ini mengatakan larangan APTB masuk ke Jakarta merugikan penumpang lantaran waktu tempuh yang semakin lama dan ongkos yang semakin mahal karena membayar tiket sebanyak dua kali.
Sebagai gambaran, penumpang APTB dari Bekasi akan turun di daerah Cawang untuk beralih ke bus Transjakarta. Untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Abang, penumpang juga harus transit lagi di Halte Semanggi. "Waktu tempuh yang semakin lama itu sangat merugikan," kata dia.
Rio, sapaan Dwi, menyarankan Pemerintah DKI mempertimbangkan kembali larangan itu. Alasannya, APTB merupakan salah satu moda transportasi bagi para penglaju. "Transjakarta sampai saat ini juga belum bisa diandalkan," kata Rio.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/05/07/083664207/APTB-Dilarang-Masuk-Jakarta-Penumpang-Protes
Label:
abang
,
andreas
,
aptb
,
bus
,
dwi
,
headway
,
jakarta
,
jam sibuk
,
kedatangan
,
kilometer
,
larangan
,
moda
,
pembayaran
,
penumpang
,
rio
,
rute
,
tempuh
,
transjakarta
,
transportasi
Rabu, 22 April 2015
Imbas KAA, Pegawai Kantoran Terpaksa Jalan Kaki di Sudirman
TEMPO.CO, Jakarta - Penutupan ruas jalan dalam rangka peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan pada hari ini, Rabu, 22 April 2015. Di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, penutupan ruas dilakukan mulai Jalan Sisingamangaraja. Arus kendaraan di perempatan lalu lintas CSW yang menuju Jalan Jenderal Sudirman dialihkan ke Jalan Trunojoyo.
Penutupan ruas jalan juga berimbas ke pengguna angkutan umum. Anindita Wijaya, 27 tahun, mengatakan bus APTB rute Bekasi-Tanah Abang hanya melayani hingga Semanggi. Dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kantornya di gedung Wisma Nugra Santana, Dukuh Atas. "Lumayan jauh juga jaraknya," ujar Anindita kepada Tempo, Rabu 22 April 2015.
Pantauan Tempo, dari ruas Jalan M.H. Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman lengang. Tak ada lagi kendaraan yang melintas di dua ruas itu. Meski begitu, kendaraan yang ingin menyeberang masih diperbolehkan. Contohnya, kendaraan yang datang dari arah Tanah Abang menuju Jalan Kebon Sirih dan dari Jalan Budi Kemuliaan menuju Jalan Medan Merdeka Selatan.
Sementara itu, sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi pejalan kaki. Kebanyakan dari mereka merupakan penumpang Kereta Rel Listrik yang turun di Stasiun Sudirman. Bus Transjakarta juga tak beroperasi di wilayah itu. Yang tidak beroperasi akibat penutupan ruas jalan adalah bus koridor I rute Blok M-Kota, koridor II rute Pulogadung-Harmoni, dan koridor IX Pinang Ranti-Pluit.
Hal sama dialami Taufan Pramudito, 25 tahun. Karyawan swasta yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat itu sengaja berangkat lebih pagi untuk meluangkan waktu berjalan kaki.
Pengguna KRL itu mengubah stasiun tempat turun dari Tanah Abang menjadi Gondangdia. Dia kemudian berjalan kaki melalui Jalan Kebon Sirih menuju kantornya. "Manajemen menginformasikan agar kami berangkat lebih pagi karena ada penutupan jalan," ujar Taufan.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/04/22/083659790/Imbas-KAA-Pegawai-Kantoran-Terpaksa-Jalan-Kaki-di-Sudirman
Penutupan ruas jalan juga berimbas ke pengguna angkutan umum. Anindita Wijaya, 27 tahun, mengatakan bus APTB rute Bekasi-Tanah Abang hanya melayani hingga Semanggi. Dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kantornya di gedung Wisma Nugra Santana, Dukuh Atas. "Lumayan jauh juga jaraknya," ujar Anindita kepada Tempo, Rabu 22 April 2015.
Pantauan Tempo, dari ruas Jalan M.H. Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman lengang. Tak ada lagi kendaraan yang melintas di dua ruas itu. Meski begitu, kendaraan yang ingin menyeberang masih diperbolehkan. Contohnya, kendaraan yang datang dari arah Tanah Abang menuju Jalan Kebon Sirih dan dari Jalan Budi Kemuliaan menuju Jalan Medan Merdeka Selatan.
Sementara itu, sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi pejalan kaki. Kebanyakan dari mereka merupakan penumpang Kereta Rel Listrik yang turun di Stasiun Sudirman. Bus Transjakarta juga tak beroperasi di wilayah itu. Yang tidak beroperasi akibat penutupan ruas jalan adalah bus koridor I rute Blok M-Kota, koridor II rute Pulogadung-Harmoni, dan koridor IX Pinang Ranti-Pluit.
Hal sama dialami Taufan Pramudito, 25 tahun. Karyawan swasta yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat itu sengaja berangkat lebih pagi untuk meluangkan waktu berjalan kaki.
Pengguna KRL itu mengubah stasiun tempat turun dari Tanah Abang menjadi Gondangdia. Dia kemudian berjalan kaki melalui Jalan Kebon Sirih menuju kantornya. "Manajemen menginformasikan agar kami berangkat lebih pagi karena ada penutupan jalan," ujar Taufan.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2015/04/22/083659790/Imbas-KAA-Pegawai-Kantoran-Terpaksa-Jalan-Kaki-di-Sudirman
Kamis, 09 Oktober 2014
Rute MRT Bisa Diperpanjang hingga Depok atau Bintaro
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan, jalur mass rapid transit (MRT) yang menghubungkan rute Lebak Bulus-Kampung Bandan masih bisa diperpanjang hingga ke luar kota, seperti ke Bintaro atau Depok.
"Jadi, jalur MRT selatan ke utara itu dibangun fleksibel. Kalau ada yang meminta ditambah panjang rutenya, ya bisa-bisa saja. Bisa saja dari Lebak Bulus ditambah sampai ke Bintaro atau ke Depok. Kita siap," kata Dono di Balaikota Jakarta, Rabu (8/10/2014).
Meski demikian, Dono menyatakan, sampai saat ini PT MRT masih fokus untuk membangun rute Lebak Bulus-Kampung Bandan. Ditargetkan, ruas Lebak Bulus-Bundaran HI mulai beroperasi pada 2017, sementara ruas Bundaran HI-Kampung Bandan pada 2020.
"Jadi (jalur MRT) kalau mau disambung ke mana saja masih bisa. Namun, kami masih fokus menyelesaikan Lebak Bulus-Kampung Bandan, apalagi kan kita ini tergolong telat (membangun MRT)," ujar Dono.
Sebagai informasi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah beberapa kali menyatakan bahwa rute MRT Lebak Bulus-Kampung Bandan terlalu pendek karena hanya melayani dalam kota Jakarta. Ia menilai, seharusnya rute MRT bisa melayani hingga kota-kota penyangga.
Menurut Ahok, apabila jalur MRT dapat melayani sampai kota-kota penyangga, maka kemacetan akan semakin berkurang. Sebab, banyak warga Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok yang bekerja di Jakarta.
"Seharusnya, MRT itu jalurnya bisa sampai Bogor dan Bekasi karena jalur yang sedang dibangun sekarang tanggung banget, hanya sampai Lebak Bulus," ujar Ahok.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/08/18035651/Rute.MRT.Bisa.Diperpanjang.Hingga.Depok.atau.Bintaro
"Jadi, jalur MRT selatan ke utara itu dibangun fleksibel. Kalau ada yang meminta ditambah panjang rutenya, ya bisa-bisa saja. Bisa saja dari Lebak Bulus ditambah sampai ke Bintaro atau ke Depok. Kita siap," kata Dono di Balaikota Jakarta, Rabu (8/10/2014).
Meski demikian, Dono menyatakan, sampai saat ini PT MRT masih fokus untuk membangun rute Lebak Bulus-Kampung Bandan. Ditargetkan, ruas Lebak Bulus-Bundaran HI mulai beroperasi pada 2017, sementara ruas Bundaran HI-Kampung Bandan pada 2020.
"Jadi (jalur MRT) kalau mau disambung ke mana saja masih bisa. Namun, kami masih fokus menyelesaikan Lebak Bulus-Kampung Bandan, apalagi kan kita ini tergolong telat (membangun MRT)," ujar Dono.
Sebagai informasi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah beberapa kali menyatakan bahwa rute MRT Lebak Bulus-Kampung Bandan terlalu pendek karena hanya melayani dalam kota Jakarta. Ia menilai, seharusnya rute MRT bisa melayani hingga kota-kota penyangga.
Menurut Ahok, apabila jalur MRT dapat melayani sampai kota-kota penyangga, maka kemacetan akan semakin berkurang. Sebab, banyak warga Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok yang bekerja di Jakarta.
"Seharusnya, MRT itu jalurnya bisa sampai Bogor dan Bekasi karena jalur yang sedang dibangun sekarang tanggung banget, hanya sampai Lebak Bulus," ujar Ahok.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/08/18035651/Rute.MRT.Bisa.Diperpanjang.Hingga.Depok.atau.Bintaro
Selasa, 19 Agustus 2014
Baru 5 Hari Operasi, Layanan Uber Dinyatakan Sebagai Taksi Gelap
Liputan6.com, Jakarta Layanan panggil kendaraan berbasis aplikasi, Uber, baru saja diluncurkan sekitar 5 hari lalu yakni pada 13 Agustus 2013. Lewat layanan Uber, calon penumpang dapat langsung memilih rute dan jenis kendaraan yang mereka kehendaki dan posisi kendaraan tersebut akan terpantau melalui GPS.
Bahkan, pengguna juga mendapatkan opsi perjalanan melalui tampilan interface pada aplikasi Uber, yang di antaranya adalah rute perjalanan, pemilihan tipe kendaraan, dan informasi tarif. [Baca Juga: Uber, Layanan Transportasi Roda Empat Pribadi Ramaikan Jakarta]
Layanan yang khusus ada di Jakarta ini sementara sebagian besar akan mengambil rute di wilayah pusat bisnis dan sekitarnya. Tarif minimal dikenakan Rp 30 ribu, sedangkan untuk rute tertentu, tarif flat diberlakukan. Rute dari SCBD ke Bandara Soekarno Hatta contohnya, tarifnya flat Rp 200 ribu.
Di Indonesia, varian kendaraan yang disediakan oleh Uber antara lain Toyota Innova, Hyundai Sonata dan Toyota Alphard. Selain janji penambahan pilihan varian lain, turut dikatakan kualitas para sopir mereka yang dikatakan berbintang lima.
Ketika dipanggil, estimasi kedatangan kendaraan ke lokasi penumpang ditargetkan memakan waktu sekitar lima hingga tujuh menit.
Namun, tak seperti perjalanan dengan taksi, ongkos perjalanan tak dapat dibayarkan secara tunai kala menumpang. Semua transaksi dilakukan via aplikasi dengan metode pembayaran kartu kredit. [Baca Juga: Mudahnya Pesan Jasa Transportasi via Aplikasi Uber]
Mereka percaya jika dengan membayar melalui kartu kredit ini pun justru akan menekan penggunaan kendaraan pribadi. Namun sayangnya, pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta melalui Kadishub yaitu Muhammad Akbar menjelaskan jika jasa sewa mobil berkeliling Jakarta yang disediakan oleh Uber dinyatakan ilegal. [Baca Juga: Kadishub DKI Tegaskan Layanan 'Sewa Mobil' Uber Ilegal]
Selama lima hari beroperasi, mobil sewaan Uber masih menggunakan plat hitam dan juga tidak melakukan uji KIR. Lebih lanjut, Akbar mengungkapkan jika Dinas Perhubungan DKI jakarta tidak pernah menerima pengajuan izin operasional di ibukota.
"Biar sistem pembayaran rental Uber melalui kartu kredit, tetap saja. Karena layanan Uber harus mengurus izin operasionalnya terlebih dahulu. Kalau dia (Uber) mau legal, harus dapat izin angkutan umum dulu," ujar Akbar di Balaikota Jakarta.
Menurutnya, jika mengacu pada ketentuan yang ada, kendaraan yang digunakan untuk mengangkut penumpang dengan tarif tertentu, maka jasa itu masuk kategori angkutan umum. Maka Uber, dikatakan Akbar, sebelum menyediakan layanan sewa mobil seharusnya memenuhi beberapa persyaratan angkutan umum di Jakarta, yakni uji KIR serta berpelat kuning.
"Saya sudah tahu tentang kegiatan yang dilakukan oleh Uber, dan jika melakukan kegiatan operasional seperti itu termasuk dalam kategori taksi gelap," pungkasnya.
Sumber : http://otomotif.liputan6.com/read/2092719/baru-5-hari-operasi-layanan-uber-dinyatakan-sebagai-taksi-gelap
Bahkan, pengguna juga mendapatkan opsi perjalanan melalui tampilan interface pada aplikasi Uber, yang di antaranya adalah rute perjalanan, pemilihan tipe kendaraan, dan informasi tarif. [Baca Juga: Uber, Layanan Transportasi Roda Empat Pribadi Ramaikan Jakarta]
Layanan yang khusus ada di Jakarta ini sementara sebagian besar akan mengambil rute di wilayah pusat bisnis dan sekitarnya. Tarif minimal dikenakan Rp 30 ribu, sedangkan untuk rute tertentu, tarif flat diberlakukan. Rute dari SCBD ke Bandara Soekarno Hatta contohnya, tarifnya flat Rp 200 ribu.
Di Indonesia, varian kendaraan yang disediakan oleh Uber antara lain Toyota Innova, Hyundai Sonata dan Toyota Alphard. Selain janji penambahan pilihan varian lain, turut dikatakan kualitas para sopir mereka yang dikatakan berbintang lima.
Ketika dipanggil, estimasi kedatangan kendaraan ke lokasi penumpang ditargetkan memakan waktu sekitar lima hingga tujuh menit.
Namun, tak seperti perjalanan dengan taksi, ongkos perjalanan tak dapat dibayarkan secara tunai kala menumpang. Semua transaksi dilakukan via aplikasi dengan metode pembayaran kartu kredit. [Baca Juga: Mudahnya Pesan Jasa Transportasi via Aplikasi Uber]
Mereka percaya jika dengan membayar melalui kartu kredit ini pun justru akan menekan penggunaan kendaraan pribadi. Namun sayangnya, pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta melalui Kadishub yaitu Muhammad Akbar menjelaskan jika jasa sewa mobil berkeliling Jakarta yang disediakan oleh Uber dinyatakan ilegal. [Baca Juga: Kadishub DKI Tegaskan Layanan 'Sewa Mobil' Uber Ilegal]
Selama lima hari beroperasi, mobil sewaan Uber masih menggunakan plat hitam dan juga tidak melakukan uji KIR. Lebih lanjut, Akbar mengungkapkan jika Dinas Perhubungan DKI jakarta tidak pernah menerima pengajuan izin operasional di ibukota.
"Biar sistem pembayaran rental Uber melalui kartu kredit, tetap saja. Karena layanan Uber harus mengurus izin operasionalnya terlebih dahulu. Kalau dia (Uber) mau legal, harus dapat izin angkutan umum dulu," ujar Akbar di Balaikota Jakarta.
Menurutnya, jika mengacu pada ketentuan yang ada, kendaraan yang digunakan untuk mengangkut penumpang dengan tarif tertentu, maka jasa itu masuk kategori angkutan umum. Maka Uber, dikatakan Akbar, sebelum menyediakan layanan sewa mobil seharusnya memenuhi beberapa persyaratan angkutan umum di Jakarta, yakni uji KIR serta berpelat kuning.
"Saya sudah tahu tentang kegiatan yang dilakukan oleh Uber, dan jika melakukan kegiatan operasional seperti itu termasuk dalam kategori taksi gelap," pungkasnya.
Sumber : http://otomotif.liputan6.com/read/2092719/baru-5-hari-operasi-layanan-uber-dinyatakan-sebagai-taksi-gelap
Rabu, 28 Mei 2014
PT JM Akui Rute Monorel Tak Efektif, tetapi Bisa Jadi Solusi Macet
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur PT Jakarta Monorail (JM) Jhon Aryananda mengakui bahwa rute monorel Jakarta merupakan rute yang tidak efektif menjaring penumpang karena tidak menghubungkan titik asal ke titik tujuan. Namun, dia tak sepakat pada penilaian bahwa rute monorel Jakarta hanya akan menjadi rute makan siang mall to mall.
Menurut dia, monorel tetap akan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta karena daerah-daerah yang akan dilalui merupakan kawasan macet. Namun, tentu saja, itu pun harus ditunjang dengan transportasi umum lainnya yang mampu mendukung layanan tersebut.
"Tidak ada transportasi massal yang bisa berdiri sendiri. Misal dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B naik apa? Masa pakai mobil pribadi lagi? Jadi, harus ada integrasi transportasi publik. Dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B," katanya dalam acara Kompasiana Nangkring bareng PT JM, di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (24/5/2014).
Menurut Jhon, pemerintahlah yang bertugas dan memiliki wewenang untuk menyediakan angkutan umum yang layak jalan. Ia opimistis hal tersebut dapat direalisasikan.
"Itulah tugas dan wewenang dari Pemerintah Provinsi DKI yang dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan untuk merencanakan semua itu. Bagaimana menyediakan bus-bus sedang yang berangkat dari perumahan," paparnya.
Menurut rencana, ada dua rute yang nantinya akan dilayani monorel Jakarta. Yang pertama jalur hijau (Kuningan-Gatot Subroto-SCBD-Senayan-Pejompongan-kembali ke Kuningan) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2016.
Jalur kedua ialah jalur biru (Mal Taman Anggrek-Tomang-Cideng-Tanah Abang-Karet-Mal Ambassador-Tebet-Kampung Melayu) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2017.
Banyak pengamat yang menilai, kedua rute tersebut tidak akan efektif menjaring penumpang karena hanya akan berputar-putar di dalam kota. Seharusnya, kata mereka, monorel melayani rute yang menghubungkan kawasan-kawasan perumahan di pinggiran Jakarta ke kawasan perkantoran di tengah kota.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/24/1530062/PT.JM.Akui.Rute.Monorel.Tak.Efektif.tetapi.Bisa.Jadi.Solusi.Macet
Menurut dia, monorel tetap akan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta karena daerah-daerah yang akan dilalui merupakan kawasan macet. Namun, tentu saja, itu pun harus ditunjang dengan transportasi umum lainnya yang mampu mendukung layanan tersebut.
"Tidak ada transportasi massal yang bisa berdiri sendiri. Misal dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B naik apa? Masa pakai mobil pribadi lagi? Jadi, harus ada integrasi transportasi publik. Dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B," katanya dalam acara Kompasiana Nangkring bareng PT JM, di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (24/5/2014).
Menurut Jhon, pemerintahlah yang bertugas dan memiliki wewenang untuk menyediakan angkutan umum yang layak jalan. Ia opimistis hal tersebut dapat direalisasikan.
"Itulah tugas dan wewenang dari Pemerintah Provinsi DKI yang dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan untuk merencanakan semua itu. Bagaimana menyediakan bus-bus sedang yang berangkat dari perumahan," paparnya.
Menurut rencana, ada dua rute yang nantinya akan dilayani monorel Jakarta. Yang pertama jalur hijau (Kuningan-Gatot Subroto-SCBD-Senayan-Pejompongan-kembali ke Kuningan) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2016.
Jalur kedua ialah jalur biru (Mal Taman Anggrek-Tomang-Cideng-Tanah Abang-Karet-Mal Ambassador-Tebet-Kampung Melayu) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2017.
Banyak pengamat yang menilai, kedua rute tersebut tidak akan efektif menjaring penumpang karena hanya akan berputar-putar di dalam kota. Seharusnya, kata mereka, monorel melayani rute yang menghubungkan kawasan-kawasan perumahan di pinggiran Jakarta ke kawasan perkantoran di tengah kota.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/24/1530062/PT.JM.Akui.Rute.Monorel.Tak.Efektif.tetapi.Bisa.Jadi.Solusi.Macet
Label:
ditargetkan
,
efektif
,
jakarta
,
jalur
,
jhon
,
jm
,
kompasiana
,
kuningan
,
kuningan-gatot
,
mall
,
monorel
,
penumpang
,
perumahan
,
poin
,
rute
,
subroto-scbd-senayan-pejompongan-kembali
,
titik
,
transportasi
,
wewenang
Senin, 21 April 2014
Jokowi: MRT dan TransJ akan Bersinergi Atasi Kemacetan Jakarta
Jakarta - Pembangunan MRT untuk melayani ruas Bundaran HI-Lebak Bulus masih terus berlangsung. Gubernur Jokowi mengatakan MRT akan bersinergi dengan TransJ untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
"PT MRT dan PT TransJakarta sudah bertemu tiap hari, tiap bulan. Mereka sudah tahu nantinya akan sepertinya kalau MRT masih dibutuhkan bisa beriringan di atas dan di bawah tanah. Tapi kalau enggak bisa ya busnya bisa dialihan ke koridor yang lain," kata Jokowi di rumah dinasnya di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (20/4/2014).
Hal itu diungkapkan Jokowi saat wartawan bertanya mengenai rute MRT yang tumpang tindih dengan rute TransJ Koridor I (Blok M-Kota).
Jokowi mencontohkan di Polandia yang penduduknya 1,8 juta memiliki MRT, bus, trem dan semuanya terpakai.
"Sedangkan di Jakarta dan Jabodetabek yang penduduknya 28 juta belum ada apa-apanya. Kita baru berbicara MRT dari selatan ke utara, padahal kebutuhnnya banyak sekali," katanya.
Saat ini pembangunan proyek MRT masih terus berlangsung. Pembangunan proyek ini sempat membuat lalu lintas Jl Sudirman tersendat. Terminal Lebak Bulus juga akan terkena imbas proyek ini dengan disulap menjadi depo MRT.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/04/20/163158/2560032/10/jokowi-mrt-dan-transj-akan-bersinergi-atasi-kemacetan-jakarta
"PT MRT dan PT TransJakarta sudah bertemu tiap hari, tiap bulan. Mereka sudah tahu nantinya akan sepertinya kalau MRT masih dibutuhkan bisa beriringan di atas dan di bawah tanah. Tapi kalau enggak bisa ya busnya bisa dialihan ke koridor yang lain," kata Jokowi di rumah dinasnya di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (20/4/2014).
Hal itu diungkapkan Jokowi saat wartawan bertanya mengenai rute MRT yang tumpang tindih dengan rute TransJ Koridor I (Blok M-Kota).
Jokowi mencontohkan di Polandia yang penduduknya 1,8 juta memiliki MRT, bus, trem dan semuanya terpakai.
"Sedangkan di Jakarta dan Jabodetabek yang penduduknya 28 juta belum ada apa-apanya. Kita baru berbicara MRT dari selatan ke utara, padahal kebutuhnnya banyak sekali," katanya.
Saat ini pembangunan proyek MRT masih terus berlangsung. Pembangunan proyek ini sempat membuat lalu lintas Jl Sudirman tersendat. Terminal Lebak Bulus juga akan terkena imbas proyek ini dengan disulap menjadi depo MRT.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/04/20/163158/2560032/10/jokowi-mrt-dan-transj-akan-bersinergi-atasi-kemacetan-jakarta
Selasa, 08 April 2014
DKI sediakan bus tingkat gratis atasi kemacetan
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana menyediakan fasilitas transportasi umum berupa bus tingkat gratis sebagai solusi kemacetan lalu lintas yang timbul akibat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).
"Kami tahu bahwa pembangunan MRT ini pasti berdampak pada kemacetan, karena ruas jalan pun ikut berkurang. Makanya, kami mau sediakan bus tingkat gratis sebagai solusinya," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin.
Menurut pria yang akrab disapa Ahok itu, pengadaan bus tingkat gratis tersebut akan dilakukan pada rute Blok M hingga Kota.
Konsepnya pun nanti hampir mirip seperti operasional bus tingkat pariwisata.
"Saat ini kami masih berada dalam proses pengadaan. Rencananya, nanti akan ada sumbangan berupa 23 armada bus tingkat dari pengusaha. Sekarang, kami hitung dulu berapa kira-kira total armada yang dibutuhkan," ujar Ahok.
Selain menyediakan bus tingkat gratis, dia menuturkan pihaknya juga akan membuat kebijakan berupa larangan melintas di sepanjang rute Blok M-Kota dan sebaliknya untuk kendaraan bermotor roda dua.
"Kebijakan ini mau kami coba terapkan setelah bus tingkat gratis itu tersedia. Logikanya begini, kalau sudah ada bus gratis, diharapkan tidak ada lagi pengendara motor yang melintas di ruas jalan tersebut," tutur Ahok.
Dalam mendukung kebijakan tersebut, dia mengungkapkan pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah pengelola gedung agar memberlakukan tarif parkir sepeda motor maksimal Rp5.000 per hari.
"Kemudian, kalau sampai kelebihan jamnya, maka digratiskan sampai besok pagi. Metode-metode seperti inilah yang kami harapkan bisa diterapkan oleh pengelola gedung. Jadi, ikut mendorong penggunaan transportasi umum juga gitu lho," tambah Ahok.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/428196/dki-sediakan-bus-tingkat-gratis-atasi-kemacetan
"Kami tahu bahwa pembangunan MRT ini pasti berdampak pada kemacetan, karena ruas jalan pun ikut berkurang. Makanya, kami mau sediakan bus tingkat gratis sebagai solusinya," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin.
Menurut pria yang akrab disapa Ahok itu, pengadaan bus tingkat gratis tersebut akan dilakukan pada rute Blok M hingga Kota.
Konsepnya pun nanti hampir mirip seperti operasional bus tingkat pariwisata.
"Saat ini kami masih berada dalam proses pengadaan. Rencananya, nanti akan ada sumbangan berupa 23 armada bus tingkat dari pengusaha. Sekarang, kami hitung dulu berapa kira-kira total armada yang dibutuhkan," ujar Ahok.
Selain menyediakan bus tingkat gratis, dia menuturkan pihaknya juga akan membuat kebijakan berupa larangan melintas di sepanjang rute Blok M-Kota dan sebaliknya untuk kendaraan bermotor roda dua.
"Kebijakan ini mau kami coba terapkan setelah bus tingkat gratis itu tersedia. Logikanya begini, kalau sudah ada bus gratis, diharapkan tidak ada lagi pengendara motor yang melintas di ruas jalan tersebut," tutur Ahok.
Dalam mendukung kebijakan tersebut, dia mengungkapkan pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah pengelola gedung agar memberlakukan tarif parkir sepeda motor maksimal Rp5.000 per hari.
"Kemudian, kalau sampai kelebihan jamnya, maka digratiskan sampai besok pagi. Metode-metode seperti inilah yang kami harapkan bisa diterapkan oleh pengelola gedung. Jadi, ikut mendorong penggunaan transportasi umum juga gitu lho," tambah Ahok.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/428196/dki-sediakan-bus-tingkat-gratis-atasi-kemacetan
Selasa, 25 Februari 2014
Mendulang Berkah Macet Jakarta, Tiap Bulan Kirimi Istri Rp 2 Juta
KEMACETAN di Jakarta tak melulu membuat stres warga. Terlebih, mereka yang berada di kalangan bawah.
Hiruk pikuk keramaian kota yang dulu disebut Batavia ini ternyata membawa berkah bagi puluhan juta kaum urban yang mencoba peruntungan. Salah satunya menjadi pengojek sepeda onthel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
----------
ASEP ANANJAYA
-----------
Jalan raya di depan pintu Utara Stasiun Kota Tua, penuh sesak setiap saat. Angkutan kota (angkot), bajaj, bus, motor saling mencari celah. Mereka nyaris bersentuhan dengan gerobak pedagang di pinggir jalan.
Sebentar-sebentar membunyikan klakson. Sementara di ujung kanan, antrean bus Transjakarta tertambat di lintasan jalur busway. Menunggu lampu di perempatan menyala hijau.
Jelang pukul 16.00, matahari dari arah barat sedang terik-teriknya. Sutarlani masih berdiri tegak memegang erat kedua setang sepeda onthel. Berkaos lengan panjang, mengenakan rompi, pria kelahiran 51 tahun silam ini menanti seseorang yang keluar dari mulut pintu stasiun.
Di barisan yang sama berjajar kawan-kawan pengojek yang lain, Lamin, Senen, Jamil, Somad, Lamadi, Wito dan Tukiman.
Usia rata-rata mereka lebih muda, kisaran 30-40 tahun. Asal mereka dari Bogor, Pati, Purwodadi, Ngawi, juga sekampung dengan Sutarlani di Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Jawa Tengah.
”Setiap hari di sini juga begini, macet,” kata Sutarlani. Sambil tersenyum pria berkulit sawo matang itu membetulkan topi rimbanya yang miring.
Padatnya lalu lintas di jalan itu justru membawa berkah. Menurutnya, jauh sebelum tahun 80-an onthel selalu diandalkan, selain angkot, bajaj dan becak. Mengangkut penumpang kereta yang ingin meneruskan perjalanan ke berbagai perkantoran di Kota Tua atau sebaliknya.
Jok penumpang sepeda onthel memang tidak seempuk angkot maupun bajaj. Namun, hingga kini jasa antar onthel masih diminati.
Terpenting bagi penumpang tidak terjebak macet dan harus berputar jauh. Meskipun onthel Phoenix milik Sutarlani kian usang, sepeda pabrikan China itu masih membawa berkah.
"Karena onthel gak ada rutenya, bisa lawan arus, dan lewat jalan ’tikus’, ongkosnya juga murah,” kata Sutarlani yang tinggal mengontrak di Jalan Budi Mulya, Pademangan Barat, Jakarta Utara.
Lebih dari 30 tahun onthel Sutarlani melayani jasa antar. Pelanggannya masih sama, pekerja kantoran di kawasan jalan belakang ujung utara Jakarta Kota. Dalam waktu beberapa menit onthel mengantarkan mereka ke tujuan Jalan Tongkol, Teh, Kerapu, Roa Malaka, Pasar Ikan, hingga Lodan, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa.
”Penumpangnya, ya orang-orang yang berangkat dan pulang kerja, menghindari macet. Rute terjauh sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa juga sampai Ancol, dan Tanjung Priok,” ucap pengojek onthel asal Sragen, Jawa Tengah yang sudah 30 tahun mangkal di depan Stasiun Jakarta Kota.
Bertahan hidup di Jakarta cukup keras. Kata bapak bertinggi badan tak lebih dari 160 centimeter itu, kalau gak telaten bisa kalah sama yang lain.
Menjadi pengojek onthel tentu bukan pilihan awal Sutarlani mengadu nasib di Jakarta. Sebelumnya, dari kampung ikut sodara jadi kuli bangunan. Pernah juga ikut juragan China yang punya pabrik sama restoran, tapi tidak juga kerasan. Bermodal sepeda yang dibelinya seharga Rp 250 ribu, menarik onthel menjadi pilihan hidup.
”Meski seharian narik cuma dapet cepek (Rp 100), batin gak capek, paling pahit udah ngantar gak dibayar, orangnya kabur, ” tutur Sutarlani mengenang.
Entah berapa lama lagi otot kaki Sutarlani mampu mengayuh engkol onthel. Membawa penumpang tentu jauh lebih berat. Andalannya sebelum berangkat kerja selalu minum susu. Sutarlani pun berhenti merokok, sejak paru-parunya sakit berkepanjangan.
”Tambah tidur yang cukup, minum jamu tiap malam, tenaga buat besok pasti fit, bedanya sekarang sudah harus pakai kacamata,” ujarnya berseloroh dengan logat Jawa-nya yang kental.
Pendapatan rata-rata para pengojek onthel terbilang lumayan. Per hari narik onthel dari pukul 07.00-18.00, Sutarlani bisa dapat Rp 250 ribu. Masih bisa menafkahi istrinya Supini (41), serta menyekolahkan dua anaknya. Satu anak perempuannya di kelas 2 Aliyah (setingkat SMA), satunya lagi anak laki-laki masih kelas 5 sekolah dasar (SD).
Tiap bulan masih bisa transfer uang Rp 2 juta ke kampung. Tiap tiga bulan sekali, ia juga masih bisa pulang kampung. ”Anak yang pertama, laki-laki baru saja lulus SMA, lagi mau cari kerja, yang sudah punya anak itu dari istri pertama,” katanya.
Sedang asyik berkisah, satu penumpang dari arah stasiun menghampiri Sutarlani. Pria itu memintanya mengantar ke Pelabuhan Sunda Kelapa. ”Rp 15 ribu harga pas untuk sekali jalan, rutenya agak jauh,” katanya.
Melalui celah sempit kendaraan lain, Sutarlani perlahan menuntun onthelnya melawan arus. Sementara si penumpang berusaha duduk tenang di bangku bonceng.
Begitu mendapat ruang gerak, Sutarlani melompat naik ke sadel. Otot kakinya yang bersandal jepit mengajak onthel bergerak menuju belakang Gedung BNI. Kemudian menyeberang ke Jalan Kemukus, depan kantor Kecamatan Taman Sari.
Dari situ menyeberang masuk ke Jalan Kunir 7, terus ke jalan Cengkeh. Sampai di Jalan Tongkol, masuk ke Jalan Krapu, belok kanan sedikit sampai di jalan Lodan, pintu utama pelabuhan sudah kelihatan di sisi kiri jalan.
”Bagusnya gak ada tanjakan, jalannya lurus lurus saja,” tuturnya menyebutkan jalan pintas onthel dari Stasiun Kota menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.
Jalan arah pulangnya, lanjut Sutarlani, ia biasa melintasi Menara Syahbandar dan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan. Kemudian melintas masuk di depan Galangan VOC di Jalan Kakap terus lanjut ke Roa Malaka sampai ke Jalan Kali Besar Barat ketemu Jembatan Kota Intan. Berlanjut ke Taman Fatahillah.
”Rute itu juga biasa digunakan untuk mengantar turis-turis asing berkeliling wisata Kota Tua,” terangnya juga.
Tahun 1980, awal kakek bercucu dua itu menggenjot engkol onthel. Jalanan Jakarta tidak seramai sekarang. Belum banyak mobil pribadi, masih cukup lowong baginya bersanding dengan becak, bajaj, bemo, maupun bus. Jarak antar penumpang juga bisa lebih jauh lagi, ke gang-gang kecil di kawasan Harmoni.
Sebab itu ia bisa beberapa kali berganti pangkalan. Mulai di Glodok, Pinangsia, Pasar Perniagaan, Jalan Asemka dan di sepanjang jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk.
”Ngantar penumpang paling jauh itu sekali-kalinya, ke pelabuhan Muara Angke, tahun ‘82 dibayar cuma cuma gopek (Rp 500), capeknya minta ampun, pulangnya sampai kesasar,” cetusnya juga.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/02/25/218420/Mendulang-Berkah-Macet-Jakarta,-Tiap-Bulan-Kirimi-Istri-Rp-2-Juta-
Hiruk pikuk keramaian kota yang dulu disebut Batavia ini ternyata membawa berkah bagi puluhan juta kaum urban yang mencoba peruntungan. Salah satunya menjadi pengojek sepeda onthel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
----------
ASEP ANANJAYA
-----------
Jalan raya di depan pintu Utara Stasiun Kota Tua, penuh sesak setiap saat. Angkutan kota (angkot), bajaj, bus, motor saling mencari celah. Mereka nyaris bersentuhan dengan gerobak pedagang di pinggir jalan.
Sebentar-sebentar membunyikan klakson. Sementara di ujung kanan, antrean bus Transjakarta tertambat di lintasan jalur busway. Menunggu lampu di perempatan menyala hijau.
Jelang pukul 16.00, matahari dari arah barat sedang terik-teriknya. Sutarlani masih berdiri tegak memegang erat kedua setang sepeda onthel. Berkaos lengan panjang, mengenakan rompi, pria kelahiran 51 tahun silam ini menanti seseorang yang keluar dari mulut pintu stasiun.
Di barisan yang sama berjajar kawan-kawan pengojek yang lain, Lamin, Senen, Jamil, Somad, Lamadi, Wito dan Tukiman.
Usia rata-rata mereka lebih muda, kisaran 30-40 tahun. Asal mereka dari Bogor, Pati, Purwodadi, Ngawi, juga sekampung dengan Sutarlani di Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi, Sragen, Jawa Tengah.
”Setiap hari di sini juga begini, macet,” kata Sutarlani. Sambil tersenyum pria berkulit sawo matang itu membetulkan topi rimbanya yang miring.
Padatnya lalu lintas di jalan itu justru membawa berkah. Menurutnya, jauh sebelum tahun 80-an onthel selalu diandalkan, selain angkot, bajaj dan becak. Mengangkut penumpang kereta yang ingin meneruskan perjalanan ke berbagai perkantoran di Kota Tua atau sebaliknya.
Jok penumpang sepeda onthel memang tidak seempuk angkot maupun bajaj. Namun, hingga kini jasa antar onthel masih diminati.
Terpenting bagi penumpang tidak terjebak macet dan harus berputar jauh. Meskipun onthel Phoenix milik Sutarlani kian usang, sepeda pabrikan China itu masih membawa berkah.
"Karena onthel gak ada rutenya, bisa lawan arus, dan lewat jalan ’tikus’, ongkosnya juga murah,” kata Sutarlani yang tinggal mengontrak di Jalan Budi Mulya, Pademangan Barat, Jakarta Utara.
Lebih dari 30 tahun onthel Sutarlani melayani jasa antar. Pelanggannya masih sama, pekerja kantoran di kawasan jalan belakang ujung utara Jakarta Kota. Dalam waktu beberapa menit onthel mengantarkan mereka ke tujuan Jalan Tongkol, Teh, Kerapu, Roa Malaka, Pasar Ikan, hingga Lodan, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa.
”Penumpangnya, ya orang-orang yang berangkat dan pulang kerja, menghindari macet. Rute terjauh sampai Pelabuhan Sunda Kelapa, bisa juga sampai Ancol, dan Tanjung Priok,” ucap pengojek onthel asal Sragen, Jawa Tengah yang sudah 30 tahun mangkal di depan Stasiun Jakarta Kota.
Bertahan hidup di Jakarta cukup keras. Kata bapak bertinggi badan tak lebih dari 160 centimeter itu, kalau gak telaten bisa kalah sama yang lain.
Menjadi pengojek onthel tentu bukan pilihan awal Sutarlani mengadu nasib di Jakarta. Sebelumnya, dari kampung ikut sodara jadi kuli bangunan. Pernah juga ikut juragan China yang punya pabrik sama restoran, tapi tidak juga kerasan. Bermodal sepeda yang dibelinya seharga Rp 250 ribu, menarik onthel menjadi pilihan hidup.
”Meski seharian narik cuma dapet cepek (Rp 100), batin gak capek, paling pahit udah ngantar gak dibayar, orangnya kabur, ” tutur Sutarlani mengenang.
Entah berapa lama lagi otot kaki Sutarlani mampu mengayuh engkol onthel. Membawa penumpang tentu jauh lebih berat. Andalannya sebelum berangkat kerja selalu minum susu. Sutarlani pun berhenti merokok, sejak paru-parunya sakit berkepanjangan.
”Tambah tidur yang cukup, minum jamu tiap malam, tenaga buat besok pasti fit, bedanya sekarang sudah harus pakai kacamata,” ujarnya berseloroh dengan logat Jawa-nya yang kental.
Pendapatan rata-rata para pengojek onthel terbilang lumayan. Per hari narik onthel dari pukul 07.00-18.00, Sutarlani bisa dapat Rp 250 ribu. Masih bisa menafkahi istrinya Supini (41), serta menyekolahkan dua anaknya. Satu anak perempuannya di kelas 2 Aliyah (setingkat SMA), satunya lagi anak laki-laki masih kelas 5 sekolah dasar (SD).
Tiap bulan masih bisa transfer uang Rp 2 juta ke kampung. Tiap tiga bulan sekali, ia juga masih bisa pulang kampung. ”Anak yang pertama, laki-laki baru saja lulus SMA, lagi mau cari kerja, yang sudah punya anak itu dari istri pertama,” katanya.
Sedang asyik berkisah, satu penumpang dari arah stasiun menghampiri Sutarlani. Pria itu memintanya mengantar ke Pelabuhan Sunda Kelapa. ”Rp 15 ribu harga pas untuk sekali jalan, rutenya agak jauh,” katanya.
Melalui celah sempit kendaraan lain, Sutarlani perlahan menuntun onthelnya melawan arus. Sementara si penumpang berusaha duduk tenang di bangku bonceng.
Begitu mendapat ruang gerak, Sutarlani melompat naik ke sadel. Otot kakinya yang bersandal jepit mengajak onthel bergerak menuju belakang Gedung BNI. Kemudian menyeberang ke Jalan Kemukus, depan kantor Kecamatan Taman Sari.
Dari situ menyeberang masuk ke Jalan Kunir 7, terus ke jalan Cengkeh. Sampai di Jalan Tongkol, masuk ke Jalan Krapu, belok kanan sedikit sampai di jalan Lodan, pintu utama pelabuhan sudah kelihatan di sisi kiri jalan.
”Bagusnya gak ada tanjakan, jalannya lurus lurus saja,” tuturnya menyebutkan jalan pintas onthel dari Stasiun Kota menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.
Jalan arah pulangnya, lanjut Sutarlani, ia biasa melintasi Menara Syahbandar dan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan. Kemudian melintas masuk di depan Galangan VOC di Jalan Kakap terus lanjut ke Roa Malaka sampai ke Jalan Kali Besar Barat ketemu Jembatan Kota Intan. Berlanjut ke Taman Fatahillah.
”Rute itu juga biasa digunakan untuk mengantar turis-turis asing berkeliling wisata Kota Tua,” terangnya juga.
Tahun 1980, awal kakek bercucu dua itu menggenjot engkol onthel. Jalanan Jakarta tidak seramai sekarang. Belum banyak mobil pribadi, masih cukup lowong baginya bersanding dengan becak, bajaj, bemo, maupun bus. Jarak antar penumpang juga bisa lebih jauh lagi, ke gang-gang kecil di kawasan Harmoni.
Sebab itu ia bisa beberapa kali berganti pangkalan. Mulai di Glodok, Pinangsia, Pasar Perniagaan, Jalan Asemka dan di sepanjang jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk.
”Ngantar penumpang paling jauh itu sekali-kalinya, ke pelabuhan Muara Angke, tahun ‘82 dibayar cuma cuma gopek (Rp 500), capeknya minta ampun, pulangnya sampai kesasar,” cetusnya juga.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/02/25/218420/Mendulang-Berkah-Macet-Jakarta,-Tiap-Bulan-Kirimi-Istri-Rp-2-Juta-
Kamis, 12 Desember 2013
Jalur Kereta di Jakarta Akan Ditata
TEMPO.CO, Bogor-Pemerintah akan menata jalur perkeretaapian di wilayah DKI Jakarta untuk mengurai kemacetan lalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan. Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan pemerintah akan membangun kereta layang jalur melingkar atau elevated loop line untuk kereta listrik di dalam Kota Jakarta. Proyek senilai Rp 9,5 triliun ini dimulai pada 2014 dan didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Kementerian Perhubungan akan berbagi tugas dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengerjakan proyek tersebut. Bambang menyatakan, selain pemerintah pusat, proyek ini menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota di sekitar Jakarta. Setelah proyek kereta layang selesai, dia menegaskan tak akan ada lagi perlintasan sebidang yang merupakan perpotongan antara jalan raya dan jalur kereta api.
Pembangunan kereta layang jalur melingkar ini rencananya terbagi dalam dua lintasan. Lintas pertama adalah sepanjang 10 kilometer dari timur dengan rute Kampung Bandan-Rajawali-Kemayoran-Pasar Senen-Kramat-Pondok Jati. Sedangkan lintasan dua dari barat sepanjang 10 kilometer dengan rute Manggarai-Tanah Abang-Kampung Banda.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta agar pembangunan rel layang dipercepat. “Menteri Perhubungan mengatakan proyek ini bisa memakan waktu lima tahun, saya minta agar dua tahun selesai,” kata Ahok—sapaan Basuki.
Dengan durasi pembangunan selama lima tahun, dampak kemacetan akan bertambah kurang-lebih 47 persen. Bila pembangunan memakan waktu dua tahun, kemacetan bisa melonjak 60-70 persen. Namun Ahok memilih waktu penyelesaian yang lebih cepat. “Lebih macet atau tidak, tetap saja kami dimaki-maki,” tuturnya.
Di wilayah yang tidak dilintasi kereta layang, menurut Ahok, pemerintah akan membangun terowongan dan jalan layang. Proyek ini akan dibangun di perlintasan yang ramai arus kendaraan dan penyeberangan.
Menurut Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, ada 15 perlintasan sebidang yang akan dibangun kereta layang atau terowongan. Dari 15 titik tersebut, sebagian besar adalah perlintasan sebidang kelas 1 atau perlintasan besar.
Di perlintasan yang cukup lebar, menurut Mangindaan, akan dibangun terowongan karena lebih singkat dan cepat. Sedangkan beberapa perlintasan yang tergolong kelas 3 akan dibangun kereta layang. “Tak ada pilihan kecuali kereta layang atau terowongan, terutama di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok,” katanya.
Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo menyatakan pembangunan jalan layang dan terowongan mendesak dilakukan. Setiap hari ada 575 perjalanan kereta di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. V V Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Selamat Nurdin, meminta pemerintah DKI Jakarta segera mengajukan pembangunan flyover dan underpass sebagai program prioritas. “Mumpung anggaran 2014 masih dibahas, program itu bisa didahulukan,” ujarnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/fokus/2013/12/11/2888/Jalur-Kereta-di-Jakarta-Akan-Ditata
Kementerian Perhubungan akan berbagi tugas dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengerjakan proyek tersebut. Bambang menyatakan, selain pemerintah pusat, proyek ini menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota di sekitar Jakarta. Setelah proyek kereta layang selesai, dia menegaskan tak akan ada lagi perlintasan sebidang yang merupakan perpotongan antara jalan raya dan jalur kereta api.
Pembangunan kereta layang jalur melingkar ini rencananya terbagi dalam dua lintasan. Lintas pertama adalah sepanjang 10 kilometer dari timur dengan rute Kampung Bandan-Rajawali-Kemayoran-Pasar Senen-Kramat-Pondok Jati. Sedangkan lintasan dua dari barat sepanjang 10 kilometer dengan rute Manggarai-Tanah Abang-Kampung Banda.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta agar pembangunan rel layang dipercepat. “Menteri Perhubungan mengatakan proyek ini bisa memakan waktu lima tahun, saya minta agar dua tahun selesai,” kata Ahok—sapaan Basuki.
Dengan durasi pembangunan selama lima tahun, dampak kemacetan akan bertambah kurang-lebih 47 persen. Bila pembangunan memakan waktu dua tahun, kemacetan bisa melonjak 60-70 persen. Namun Ahok memilih waktu penyelesaian yang lebih cepat. “Lebih macet atau tidak, tetap saja kami dimaki-maki,” tuturnya.
Di wilayah yang tidak dilintasi kereta layang, menurut Ahok, pemerintah akan membangun terowongan dan jalan layang. Proyek ini akan dibangun di perlintasan yang ramai arus kendaraan dan penyeberangan.
Menurut Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, ada 15 perlintasan sebidang yang akan dibangun kereta layang atau terowongan. Dari 15 titik tersebut, sebagian besar adalah perlintasan sebidang kelas 1 atau perlintasan besar.
Di perlintasan yang cukup lebar, menurut Mangindaan, akan dibangun terowongan karena lebih singkat dan cepat. Sedangkan beberapa perlintasan yang tergolong kelas 3 akan dibangun kereta layang. “Tak ada pilihan kecuali kereta layang atau terowongan, terutama di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok,” katanya.
Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo menyatakan pembangunan jalan layang dan terowongan mendesak dilakukan. Setiap hari ada 575 perjalanan kereta di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. V V Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Selamat Nurdin, meminta pemerintah DKI Jakarta segera mengajukan pembangunan flyover dan underpass sebagai program prioritas. “Mumpung anggaran 2014 masih dibahas, program itu bisa didahulukan,” ujarnya.
Sumber : http://www.tempo.co/read/fokus/2013/12/11/2888/Jalur-Kereta-di-Jakarta-Akan-Ditata
Label:
ahok
,
basuki
,
depok
,
dki
,
jakarta
,
jalan layang
,
jalur
,
kemacetan
,
kereta
,
layang
,
lintasan
,
mangindaan
,
pembangunan
,
perhubungan
,
perlintasan
,
proyek
,
rute
,
terowongan
Senin, 09 Desember 2013
Menanti APTB, Kok Lama Banget Datangnya...
JAKARTA, KOMPAS.com - Sedikitnya 113 bus penjelajah kawasan penyangga Jakarta dikerahkan untuk mengurangi kepadatan kendaraan penyebab kemacetan di Jakarta. Namun, setahun sejak pertama kali diluncurkan, kemauan semua pihak untuk mewujudkan cita-cita itu masih ditunggu.
Tangan kurus Rudi Gunawan (27) susah payah mengeluarkan 10 kodi daster dari badan bus angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB) Tanah Abang-Bekasi, Sabtu (7/12). Dibalut karung plastik putih, tumpukan daster itu dua kali lebih besar daripada tubuhnya.
Sadar tidak cukup kuat, lelaki dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter tersebut menyeret karung itu begitu saja. Bruk! Daster dijatuhkan dari ketinggian setengah meter. Di tengah bunyi klakson pengguna jalan yang tak sabar, Rudi buru-buru menarik karung itu ke pinggir jalan.
”Tidak ada halte di sini. Harus serba cepat sebelum pengguna jalan lain marah besar,” ujar Rudi di persimpangan jalan dekat Kampus Unisma, Bekasi.
Rudi sepertinya sudah terbiasa dengan bunyi klakson dan umpatan pengguna jalan lain. Sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan APTB rute Tanah Abang-Bekasi, ia memilih rute sepanjang 30 kilometer ini sebagai transportasi utama. Namun, tetap saja sopir seenaknya menurunkan penumpang. APTB ini pun kerap jadi sasaran kekesalan pengguna jalan.
Namun, Rudi tidak peduli. APTB Tanah Abang-Bekasi, satu dari 12 rute APTB yang diluncurkan DKI Jakarta sejak 2012, meringankan pengeluaran dan tenaganya.
Ia hanya mengeluarkan biaya Rp 70.000 pergi pulang Tanah Abang-Bekasi. Pengeluaran terbesar adalah biaya tambahan mengangkut daster, Rp 35.000. Sisanya membayar tiket APTB Rp 28.000 dan ongkos angkutan umum di Bekasi untuk dua orang. ”Lebih hemat Rp 30.000. Dulu saya harus sewa mobil karena belum ada bus Bekasi-Tanah Abang,” katanya.
Misterius
Sementara itu, pada hari yang sama, awak APTB Tanah Abang- Bogor harus menanggung kekesalan penumpang. Baru menginjakkan kaki di dalam bus, Neneng (50), warga Pasar Ciawi, Bogor, melontarkan kekesalan.
”Saya sudah 2 jam menunggu, kok baru muncul. Katanya paling lama 30 menit sekali,” ujar Neneng.
Diberondong kekesalan itu, sopir dan kondektur bus seperti sudah menyiapkan jawaban. Dengan santai, mereka menjawab bahwa Jakarta-Bogor yang macet saat akhir pekan, semrawutnya lalu lintas di Tanah Abang, hingga baru tiga bus yang beroperasi menjadi penyebab.
Kompas yang mencoba rute ini dari Tanah Abang mengalami hal yang sama dengan Neneng. APTB Tanah Abang-Ciawi seperti misteri. Tak jelas jadwal kedatangannya. Ironisnya, petugas dinas perhubungan dan warga setempat juga tidak tahu pasti kapan bus akan datang.
Dua jam menunggu, APTB itu datang juga. Selain Neneng, tidak banyak orang di dalam bus dengan 38 kursi tersebut. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 16.45.
Alasan awak bus tidak sepenuhnya keliru. Sore itu, kemacetan rute Tanah Abang-Ciawi menggila. Truk barang tumpang tindih dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Pengendara sepeda motor yang nekat melawan arus menambah ruwetnya jalan. Jalur transjakarta yang seharusnya steril dipenuhi kendaraan pribadi. Sanksi hingga Rp 500.000 sepertinya tidak membuat jeri.
Kontras dengan jalanan yang padat, kehadiran APTB Tanah Abang-Ciawi seperti belum diminati. Hanya setengah dari total kursi yang diisi penumpang.
”Saya baru sekali naik bus ini. Ternyata menunggunya lama,” ujar Akhmad, penumpang lain, sembari menyeka keringat.
Kekesalannya berlanjut saat perjalanan APTB ternyata berhenti di persimpangan jalan dekat lampu merah Ciawi. Penumpang turun beradu tempat dengan antrean mobil, motor, hingga truk bertonase besar.
”Tiketnya memang Rp 16.000, tapi ampun, saya kapok. Jadwalnya tidak teratur. Berhentinya juga di lampu merah,” kata Akhmad saat tiba di Ciawi sekitar pukul 19.05.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.10 saat Endi dan dua temannya, warga Ciampea, Bogor, tiba di perempatan Ciawi. Ia berencana pergi ke Cempaka Mas, Jakarta Pusat.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/09/0743530/Menanti.APTB.Kok.Lama.Banget.Datangnya
Tangan kurus Rudi Gunawan (27) susah payah mengeluarkan 10 kodi daster dari badan bus angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB) Tanah Abang-Bekasi, Sabtu (7/12). Dibalut karung plastik putih, tumpukan daster itu dua kali lebih besar daripada tubuhnya.
Sadar tidak cukup kuat, lelaki dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter tersebut menyeret karung itu begitu saja. Bruk! Daster dijatuhkan dari ketinggian setengah meter. Di tengah bunyi klakson pengguna jalan yang tak sabar, Rudi buru-buru menarik karung itu ke pinggir jalan.
”Tidak ada halte di sini. Harus serba cepat sebelum pengguna jalan lain marah besar,” ujar Rudi di persimpangan jalan dekat Kampus Unisma, Bekasi.
Rudi sepertinya sudah terbiasa dengan bunyi klakson dan umpatan pengguna jalan lain. Sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan APTB rute Tanah Abang-Bekasi, ia memilih rute sepanjang 30 kilometer ini sebagai transportasi utama. Namun, tetap saja sopir seenaknya menurunkan penumpang. APTB ini pun kerap jadi sasaran kekesalan pengguna jalan.
Namun, Rudi tidak peduli. APTB Tanah Abang-Bekasi, satu dari 12 rute APTB yang diluncurkan DKI Jakarta sejak 2012, meringankan pengeluaran dan tenaganya.
Ia hanya mengeluarkan biaya Rp 70.000 pergi pulang Tanah Abang-Bekasi. Pengeluaran terbesar adalah biaya tambahan mengangkut daster, Rp 35.000. Sisanya membayar tiket APTB Rp 28.000 dan ongkos angkutan umum di Bekasi untuk dua orang. ”Lebih hemat Rp 30.000. Dulu saya harus sewa mobil karena belum ada bus Bekasi-Tanah Abang,” katanya.
Misterius
Sementara itu, pada hari yang sama, awak APTB Tanah Abang- Bogor harus menanggung kekesalan penumpang. Baru menginjakkan kaki di dalam bus, Neneng (50), warga Pasar Ciawi, Bogor, melontarkan kekesalan.
”Saya sudah 2 jam menunggu, kok baru muncul. Katanya paling lama 30 menit sekali,” ujar Neneng.
Diberondong kekesalan itu, sopir dan kondektur bus seperti sudah menyiapkan jawaban. Dengan santai, mereka menjawab bahwa Jakarta-Bogor yang macet saat akhir pekan, semrawutnya lalu lintas di Tanah Abang, hingga baru tiga bus yang beroperasi menjadi penyebab.
Kompas yang mencoba rute ini dari Tanah Abang mengalami hal yang sama dengan Neneng. APTB Tanah Abang-Ciawi seperti misteri. Tak jelas jadwal kedatangannya. Ironisnya, petugas dinas perhubungan dan warga setempat juga tidak tahu pasti kapan bus akan datang.
Dua jam menunggu, APTB itu datang juga. Selain Neneng, tidak banyak orang di dalam bus dengan 38 kursi tersebut. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 16.45.
Alasan awak bus tidak sepenuhnya keliru. Sore itu, kemacetan rute Tanah Abang-Ciawi menggila. Truk barang tumpang tindih dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Pengendara sepeda motor yang nekat melawan arus menambah ruwetnya jalan. Jalur transjakarta yang seharusnya steril dipenuhi kendaraan pribadi. Sanksi hingga Rp 500.000 sepertinya tidak membuat jeri.
Kontras dengan jalanan yang padat, kehadiran APTB Tanah Abang-Ciawi seperti belum diminati. Hanya setengah dari total kursi yang diisi penumpang.
”Saya baru sekali naik bus ini. Ternyata menunggunya lama,” ujar Akhmad, penumpang lain, sembari menyeka keringat.
Kekesalannya berlanjut saat perjalanan APTB ternyata berhenti di persimpangan jalan dekat lampu merah Ciawi. Penumpang turun beradu tempat dengan antrean mobil, motor, hingga truk bertonase besar.
”Tiketnya memang Rp 16.000, tapi ampun, saya kapok. Jadwalnya tidak teratur. Berhentinya juga di lampu merah,” kata Akhmad saat tiba di Ciawi sekitar pukul 19.05.
Jarum jam menunjukkan pukul 19.10 saat Endi dan dua temannya, warga Ciampea, Bogor, tiba di perempatan Ciawi. Ia berencana pergi ke Cempaka Mas, Jakarta Pusat.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/09/0743530/Menanti.APTB.Kok.Lama.Banget.Datangnya
Label:
abang
,
abang-bekasi
,
abang-ciawi
,
aptb
,
bus
,
ciawi
,
daster
,
jakarta
,
jalan
,
karung
,
kekesalan
,
lampu merah
,
neneng
,
pengguna
,
penumpang
,
rp
,
rudi
,
rute
,
tanah
Senin, 25 November 2013
Bike Sharing... Sewa Sepeda Asyik Lawan Macet Jakarta
Liputan6.com, Jakarta : Bike Sharing bisa jadi alternatif melawan macet Jakarta. Warga bisa asyik bersepeda setiap hari, tidak hanya pada akhir pekan. Konsep Bike Sharing ditawarkan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) kepada Pemprov DKI.
Dengan Bike Sharing, menurut Direktur ITDP Yoga Adiwinarto, masyarakat dapat menyewa unit sepeda untuk rute dan waktu tertentu dengan manajemen yang lebih profesional dan modern.
"Teknisnya, di tiap dekat halte transportasi umum, ada terminal-terminal sepeda. Minimal, di dalam satu terminal itu ada 20 unit sepeda yang masyarakat umum bisa menyewa," kata Yoga dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (23/11/2013).
Nantinya, untuk menyewa sepeda, warga harus lebih dulu membeli kartu semacam e-ticketing yang berisi data identitas pemegang kartu serta jumlah saldo. Kemudian, saat akan memakai sepeda, kartu tinggal ditempelkan ke alat pemindai di terminal sepeda. Kunci pengaman sepeda pun akan terlepas dan dapat digunakan.
Di terminal sepeda tersebut, lanjut Yoga, juga akan ditampilkan rute sepeda agar masyarakat tidak sulit mencari rute yang tepat untuk dilalui.
"Rencananya, bahkan kartu e-ticketing penyewaan sepeda itu juga terintegrasi dengan Transjakarta dan yang lainnya," ujarnya.
Yoga menilai konsep 'Bike Sharing' sesuai jika diterapkan di ibukota. Sebab, arus lalu lintas Jakarta kerap padat dengan mobilitas warganya yang sangat tinggi. Apabila konsep tersebut diterapkan di kawasan perkantoran, para pekerja dapat menggunakan sepeda untuk makan siang atau rapat di gedung yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja sendiri.
"Investasi konsep ini pun jauh lebih murah daripada pengadaan bus. Untuk 2.000 sepeda dan 100 terminal lengkap dengan alat dan jalurnya, hanya sekitar Rp 40,296 miliar," demikian Yoga.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/754442/bike-sharing-sewa-sepeda-asyik-lawan-macet-jakarta
Dengan Bike Sharing, menurut Direktur ITDP Yoga Adiwinarto, masyarakat dapat menyewa unit sepeda untuk rute dan waktu tertentu dengan manajemen yang lebih profesional dan modern.
"Teknisnya, di tiap dekat halte transportasi umum, ada terminal-terminal sepeda. Minimal, di dalam satu terminal itu ada 20 unit sepeda yang masyarakat umum bisa menyewa," kata Yoga dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (23/11/2013).
Nantinya, untuk menyewa sepeda, warga harus lebih dulu membeli kartu semacam e-ticketing yang berisi data identitas pemegang kartu serta jumlah saldo. Kemudian, saat akan memakai sepeda, kartu tinggal ditempelkan ke alat pemindai di terminal sepeda. Kunci pengaman sepeda pun akan terlepas dan dapat digunakan.
Di terminal sepeda tersebut, lanjut Yoga, juga akan ditampilkan rute sepeda agar masyarakat tidak sulit mencari rute yang tepat untuk dilalui.
"Rencananya, bahkan kartu e-ticketing penyewaan sepeda itu juga terintegrasi dengan Transjakarta dan yang lainnya," ujarnya.
Yoga menilai konsep 'Bike Sharing' sesuai jika diterapkan di ibukota. Sebab, arus lalu lintas Jakarta kerap padat dengan mobilitas warganya yang sangat tinggi. Apabila konsep tersebut diterapkan di kawasan perkantoran, para pekerja dapat menggunakan sepeda untuk makan siang atau rapat di gedung yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja sendiri.
"Investasi konsep ini pun jauh lebih murah daripada pengadaan bus. Untuk 2.000 sepeda dan 100 terminal lengkap dengan alat dan jalurnya, hanya sekitar Rp 40,296 miliar," demikian Yoga.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/754442/bike-sharing-sewa-sepeda-asyik-lawan-macet-jakarta
Senin, 11 November 2013
Jakarta Macet, Apakabar 17 Langkah Pemerintah?
TEMPO.CO, Jakarta--Pada 2 September 2010 Pemerintah pusat mengambil alih penanganan kemacetan lalu lintas di Jakarta. Pemerintah mengeluarkan instruksi Wakil Presiden Boediono yang berisi 17 langkah untuk menangani kemacetan di Jakarta.
Wapres Boediono menunjuk Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Kuntoro Mangkusubroto sebagai koordinator dan mengawasi pelaksanaan 17 langkah itu.
Alasan instruksi Wapres menurut data dari Unit Kerja Presiden karena kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 12,8 triliun per tahun. Jumlah itu dari penambahan biaya operasional kendaraan, biaya kesehatan akibat polusi dan depresi, serta penurunan produktivitas. Bagaimana pelaksanaan 17 langkah mengatasi kemacetan itu dan apa masalanya?
==> 1. Pemberlakuan electronic road pricing (ERP).
REALISASI :
Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, persiapan ERP selesai Maret 2014.
MASALAH :
- Kementerian Keuangan sampai tahun 2011 belum menyelesaikan RUU. Bahkan pihak Kementerian menyangsingkan keberhasilan ERP Deputi Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Sutanto Soehodho, menyatakan pengurusan RUU belum dilakukan karena tingkat keberhasilannya diragukan. "Hongkong gagal memberlakukan ERP. London juga mengalami kesulitan yang sama pada awalnya yaitu ada pro dan kontra. Singapura berhasil karena negaranya kecil,” ujar Sutanto (11/1/2011)
- Belum ada peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas yang menjelaskan jalan berbayar
- Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang Pungutan Retribusi Kendaraan Bermotor belum mencantumkan sepeda motor sebagai kendaraan dikenai bayaran.
==> 2. Sterilisasi busway.
REALISASI :
- Untuk mengurangi kendaraan penerobos jalur busway, seperator ditinggikan sekitar 50 cm dari sebelumnya hanya 20 cm. Peniggian separator dianggarkan sekitar Rp 80-85 miliar (RAPBD 2012). Peninggian dimulai bulan Juli 2012 koridor III (Kalideres-Pasar Baru), Koridor V (Kampung Melayu-Ancol), dan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas).
- Proses penilangan hanya berlangsung periodik saja. Baru akan diterapkan denda untuk mobil satu juta rupiah dan motor 500 ribu.
MASALAH :
- Peninggian separator belum diterapkan disemua koridor. Sebagai contoh koridor POndok Indah belum diterapkan.
- Masih dibahas peraturan penunjang untuk teknis penilangan karena belum ada peraturannya
==> 3. Kebijakan perparkiran dan penegakan hukum terhadap kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dilalui jalur Transjakarta.
REALISASI :
- Pada 8 Oktober 2012 Pemrov mengumumkan kenaikan tarif parkir di luar badan jalan (off street). Terakhir naik pada tahun 2004. Tarif diterapkan di 130.000 tempat off street yang dituangkan dalam Pergub No 120/2012.
- Untuk kendaraan yang parkir diluar zona parkir Pemrov melakukan tindakan pencabutan pentil
MASALAH :
- Pemrov baru mengusulkan ke DPRD untuk tarif parkir yang tinggi untuk kendaraan yang parkir di badan jalan. Pemrov mengusulkan Rp 8000/jam
==> 4. Memperbaiki fasilitas jalan. Pemerintah DKI sudah menerapkan multiyears contract untuk perbaikan jalan.
==> 5. Jalur Transjakarta ditambah dua jalur serta akan beroperasi akhir tahun ini dan tahun depan akan tambah dua jalur lagi.
REALISASI :
Koridor 9 mulai sejak Desember 2010, Koridor 10 sejak Desember 2010, Koridor 11 sejak Desember 2011, Koridor 12 sejak Februari 2013,
==> 6. Menetapkan harga gas khusus untuk transportasi.
REALISASI :
Hasil dari pertemuan Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD0M) Jero Wacik menghasilkan cara mengatasi masalah yang sering dialami kendaraan umum berbahan bakar gas di Jakarta. Jero Wacik menjanjikan akan menyediakan stasiun pengisian gas bergerak dan pemberian fasilitas stasiun mobile di pool busway dan taksi. Untuk Taksi baru juga akan berbahan bakar gas. Kedepannya akan dibangun tiga SPBG didanai APBD dan 17 didanai APBN.
==> 7. Restrukturisasi angkutan yang tidak efisien, termasuk angkutan kecil selain bus.
REALISASI :
Gubernur Jokowi merencanakan baru pada Desember 2013 sampai 2014 akan ada pengadaan 4000 bus. Jumlah itu terdiri 3.000 bus sedang dan 1.000 bus Transjakarta.
==> 8. Mengoptimalkan kereta api Jabodetabek dengan membangun rel routing dan peningkatan pelayanan, serta menambah gerbong untuk jalur-jalur yang padat.
REALISASI : Sudah berjalan dengan sistem perubahan rute kereta api di Jakarta-Bogor-Bekasi
==> 9. Polisi ditekankan untuk tertibkan angkutan di titik tunggu penumpang.
REALISASI : Belum ada
==> 10. Mempercepat pembangunan mass rapid transit (MRT) yang ditargetkan 2011 mulai konstruksi.
REALISASI :
Baru pada 10 Oktober 2013, Gubernur Jokowi meresmikan MRT rute Lebak Bulus-Bundaran HI.
==> 11. Pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek
REALISASI : Belum ada
==> 12. Merevisi rencana induk transportasi terpadu.
RERALISASI : Belum ada
==> 13. Proyek double-double track jalur kereta api, terutama ke arah Cikarang.
REALISASI : Proyek masih dalam pengerjaan yang ditargetkan pada November 2015 bisa beroperasi
==> 14. Mempercepat proyek lingkar dalam kereta api yang akan diintegrasikan dengan sistem angkutan massal di Jakarta. Jadi ada kerja sama antara PT Kereta Api, Direktorat Jenderal Kereta Api, dan Gubernur DKI Jakarta.
REALISASI :
Proyek ini sempat diatur dalam Perpres No.83 tahun 2011 namun terkendala karena salinglempar tanggungjawan antara Pemrov dan pemerintah pusat. Namun pada Mei 2013 diawali surat Gubernur Jokowi kepada Bappenas dan Kementerian Perhubungan akhirnya disepakati proyek dimulai 2014 dengan target selesai 2018. Pemerintah pusat menyiapkan dana awal sekitar Rp 700 miliar.
Nantinya Lintas Barat sejauh 14.3 km dengan rute Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan. Dan Lintas Timur sejauh 11.2 km dengan rute Kampung Bandan-Pondok Jati-Manggarai.
==> 15. Jalan tol tambahan berupa enam ruas jalan tol layang.
REALISASI :
Gubernur Jokowi membuat "gantung" proyek ini dengan alasan banyak pihak belum setuju dan dianggap akan lebih menambah kemacetan.
==> 16. Untuk jangka menengah-panjang, pemerintah pusat akan menyusun kebijakan membatasi penggunaan kendaraan bermotor.
REALISASI :
Gubernur Jokowi menyatakan pembatasan kendaraan bermotor dalam bentuk pembatasan plat ganjil genap baru terlaksana setelah realisasi peremajaan bus kota. Baru pada bulan Desember 2013 didatangkan sekitar 1000 bus trans Jakarta.
==> 17. Lahan parkir dekat stasiun kereta api bisa meningkatkan jumlah pengguna kereta api.
REALISASI :
Pihak PT Kereta Api Indonesia baru bisa merealisasikan pada program sterilisasi stasiun yang dimulai pada bulan Maret 2013. Tujuan sterilisasi untuk mencapai target 1,2 juta penumpang pada 2018. Jumlah stasiun yang ditarget mencapai 49 di Jabotabek. Dengan pembersihan stasiun dari pedagang kaki lima maka tercipta lahan parkir stasiun.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/08/083527989/Jakarta-Macet-Apakabar-17-Langkah-Pemerintah
Wapres Boediono menunjuk Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Kuntoro Mangkusubroto sebagai koordinator dan mengawasi pelaksanaan 17 langkah itu.
Alasan instruksi Wapres menurut data dari Unit Kerja Presiden karena kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp 12,8 triliun per tahun. Jumlah itu dari penambahan biaya operasional kendaraan, biaya kesehatan akibat polusi dan depresi, serta penurunan produktivitas. Bagaimana pelaksanaan 17 langkah mengatasi kemacetan itu dan apa masalanya?
==> 1. Pemberlakuan electronic road pricing (ERP).
REALISASI :
Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, persiapan ERP selesai Maret 2014.
MASALAH :
- Kementerian Keuangan sampai tahun 2011 belum menyelesaikan RUU. Bahkan pihak Kementerian menyangsingkan keberhasilan ERP Deputi Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Sutanto Soehodho, menyatakan pengurusan RUU belum dilakukan karena tingkat keberhasilannya diragukan. "Hongkong gagal memberlakukan ERP. London juga mengalami kesulitan yang sama pada awalnya yaitu ada pro dan kontra. Singapura berhasil karena negaranya kecil,” ujar Sutanto (11/1/2011)
- Belum ada peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas yang menjelaskan jalan berbayar
- Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang Pungutan Retribusi Kendaraan Bermotor belum mencantumkan sepeda motor sebagai kendaraan dikenai bayaran.
==> 2. Sterilisasi busway.
REALISASI :
- Untuk mengurangi kendaraan penerobos jalur busway, seperator ditinggikan sekitar 50 cm dari sebelumnya hanya 20 cm. Peniggian separator dianggarkan sekitar Rp 80-85 miliar (RAPBD 2012). Peninggian dimulai bulan Juli 2012 koridor III (Kalideres-Pasar Baru), Koridor V (Kampung Melayu-Ancol), dan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas).
- Proses penilangan hanya berlangsung periodik saja. Baru akan diterapkan denda untuk mobil satu juta rupiah dan motor 500 ribu.
MASALAH :
- Peninggian separator belum diterapkan disemua koridor. Sebagai contoh koridor POndok Indah belum diterapkan.
- Masih dibahas peraturan penunjang untuk teknis penilangan karena belum ada peraturannya
==> 3. Kebijakan perparkiran dan penegakan hukum terhadap kendaraan yang parkir di bahu jalan yang dilalui jalur Transjakarta.
REALISASI :
- Pada 8 Oktober 2012 Pemrov mengumumkan kenaikan tarif parkir di luar badan jalan (off street). Terakhir naik pada tahun 2004. Tarif diterapkan di 130.000 tempat off street yang dituangkan dalam Pergub No 120/2012.
- Untuk kendaraan yang parkir diluar zona parkir Pemrov melakukan tindakan pencabutan pentil
MASALAH :
- Pemrov baru mengusulkan ke DPRD untuk tarif parkir yang tinggi untuk kendaraan yang parkir di badan jalan. Pemrov mengusulkan Rp 8000/jam
==> 4. Memperbaiki fasilitas jalan. Pemerintah DKI sudah menerapkan multiyears contract untuk perbaikan jalan.
==> 5. Jalur Transjakarta ditambah dua jalur serta akan beroperasi akhir tahun ini dan tahun depan akan tambah dua jalur lagi.
REALISASI :
Koridor 9 mulai sejak Desember 2010, Koridor 10 sejak Desember 2010, Koridor 11 sejak Desember 2011, Koridor 12 sejak Februari 2013,
==> 6. Menetapkan harga gas khusus untuk transportasi.
REALISASI :
Hasil dari pertemuan Jokowi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD0M) Jero Wacik menghasilkan cara mengatasi masalah yang sering dialami kendaraan umum berbahan bakar gas di Jakarta. Jero Wacik menjanjikan akan menyediakan stasiun pengisian gas bergerak dan pemberian fasilitas stasiun mobile di pool busway dan taksi. Untuk Taksi baru juga akan berbahan bakar gas. Kedepannya akan dibangun tiga SPBG didanai APBD dan 17 didanai APBN.
==> 7. Restrukturisasi angkutan yang tidak efisien, termasuk angkutan kecil selain bus.
REALISASI :
Gubernur Jokowi merencanakan baru pada Desember 2013 sampai 2014 akan ada pengadaan 4000 bus. Jumlah itu terdiri 3.000 bus sedang dan 1.000 bus Transjakarta.
==> 8. Mengoptimalkan kereta api Jabodetabek dengan membangun rel routing dan peningkatan pelayanan, serta menambah gerbong untuk jalur-jalur yang padat.
REALISASI : Sudah berjalan dengan sistem perubahan rute kereta api di Jakarta-Bogor-Bekasi
==> 9. Polisi ditekankan untuk tertibkan angkutan di titik tunggu penumpang.
REALISASI : Belum ada
==> 10. Mempercepat pembangunan mass rapid transit (MRT) yang ditargetkan 2011 mulai konstruksi.
REALISASI :
Baru pada 10 Oktober 2013, Gubernur Jokowi meresmikan MRT rute Lebak Bulus-Bundaran HI.
==> 11. Pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek
REALISASI : Belum ada
==> 12. Merevisi rencana induk transportasi terpadu.
RERALISASI : Belum ada
==> 13. Proyek double-double track jalur kereta api, terutama ke arah Cikarang.
REALISASI : Proyek masih dalam pengerjaan yang ditargetkan pada November 2015 bisa beroperasi
==> 14. Mempercepat proyek lingkar dalam kereta api yang akan diintegrasikan dengan sistem angkutan massal di Jakarta. Jadi ada kerja sama antara PT Kereta Api, Direktorat Jenderal Kereta Api, dan Gubernur DKI Jakarta.
REALISASI :
Proyek ini sempat diatur dalam Perpres No.83 tahun 2011 namun terkendala karena salinglempar tanggungjawan antara Pemrov dan pemerintah pusat. Namun pada Mei 2013 diawali surat Gubernur Jokowi kepada Bappenas dan Kementerian Perhubungan akhirnya disepakati proyek dimulai 2014 dengan target selesai 2018. Pemerintah pusat menyiapkan dana awal sekitar Rp 700 miliar.
Nantinya Lintas Barat sejauh 14.3 km dengan rute Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan. Dan Lintas Timur sejauh 11.2 km dengan rute Kampung Bandan-Pondok Jati-Manggarai.
==> 15. Jalan tol tambahan berupa enam ruas jalan tol layang.
REALISASI :
Gubernur Jokowi membuat "gantung" proyek ini dengan alasan banyak pihak belum setuju dan dianggap akan lebih menambah kemacetan.
==> 16. Untuk jangka menengah-panjang, pemerintah pusat akan menyusun kebijakan membatasi penggunaan kendaraan bermotor.
REALISASI :
Gubernur Jokowi menyatakan pembatasan kendaraan bermotor dalam bentuk pembatasan plat ganjil genap baru terlaksana setelah realisasi peremajaan bus kota. Baru pada bulan Desember 2013 didatangkan sekitar 1000 bus trans Jakarta.
==> 17. Lahan parkir dekat stasiun kereta api bisa meningkatkan jumlah pengguna kereta api.
REALISASI :
Pihak PT Kereta Api Indonesia baru bisa merealisasikan pada program sterilisasi stasiun yang dimulai pada bulan Maret 2013. Tujuan sterilisasi untuk mencapai target 1,2 juta penumpang pada 2018. Jumlah stasiun yang ditarget mencapai 49 di Jabotabek. Dengan pembersihan stasiun dari pedagang kaki lima maka tercipta lahan parkir stasiun.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/08/083527989/Jakarta-Macet-Apakabar-17-Langkah-Pemerintah
Label:
busway
,
erp
,
gubernur
,
jakarta
,
jalur
,
jokowi
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kendaraan bermotor
,
kereta api
,
koridor
,
parkir
,
pemerintah pusat
,
pemrov
,
proyek
,
realisasi
,
rute
,
stasiun
,
sterilisasi
Langganan:
Postingan
(
Atom
)