Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

Pakar: Proyek Deep Tunnel Jakarta Berbahaya

DEPOK- Pakar Kelautan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri meminta agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengkaji ulang proyek terowongan raksasa pencegah banjir (Deep Tunnel). Sebab menurutnya hal itu tak sesuai dan membahayakan karakter tanah di Jakarta yang sangat lembek atau tanah aluvial.

Rokhmin menambahkan karakter tanah di DKI Jakarta cukup gembur. Sehingga jika dibuat Deep Tunnel akan menimbulkan resiko untuk terjadinya patahan (cracking). Ia khawatir jika proyek tersebut terus dikerjakan maka tanah Jakarta akan amblas besar.

"Sampai berapa meter tanah digali pun belum dapat struktur tanah lapisan yang paling keras. Kalau bangun Deep Tunnel lama-lama bisa bahaya. Harus dikaji ulang proyek itu," tegasnya dalam diskusi di Kampus Universitas Gunadarma, Depok, Kamis (12/12/2013).

Rokhmin menambahkan, semestinya Jakarta sebagai daerah hilir harus menyetor dana hibah kepada wilayah hulu agar bersinergi mengatasi banjir. "Harus ada benefitnya, Bogor dan Depok sebagai hulu, hilir yang makmur PAD-nya harus disetor ke hulu," jelasnya.

Mantan Menteri Kelautan itu juga mengkritisi masalah proyek reklamasi pantai di wilayah pesisir di Indonesia. Ia menilai proyek tersebut cukup dilakukan hanya di DKI Jakarta saja.

"Cukup DKI saja lihat daya dukungnya, reklamasi memang bisa selesaikan masalah di pesisir. Tapi kan akibatnya mobil bertambah banyak. Belum masalah air tanah dan penduduk yang makin banyak, siapapun gubernurnya di DKI tak akan bisa menyetop orang datang, selama daerah lain tak dibangun. Reklamasi cukup di DKI saja, tingkatkan value dari lahan yang sudah ada saja," tutup Rokhmin.

Sumber : http://jakarta.okezone.com/read/2013/12/12/500/911465/pakar-proyek-deep-tunnel-jakarta-berbahaya

Senin, 02 September 2013

Lebaran Betawi, Jokowi: Biar Anak Cucu Tahu Budaya Betawi

Liputan6.com, Jakarta : Perhelatan Lebaran Betawi yang dilaksanakan sekitar sebulan setelah Ramadan, digelar tahun ini. Acara yang digelar selama 2 hari, Sabtu sampai Minggu ini dimaksudkan agar Lebaran Betawi menjadi wadah pembelajaran budaya bagi generasi muda. Untuk itu, Pemprov DKI akan menggelar dengan waktu lebih lama.

"Tahun depan mulai dirancang mungkin 3-2 hari, bisa seminggu acara ini untuk pengenalan budaya Betawi sebagai karakter dan identitas kota," ujar Jokowi di kawasan Monas, Minggu (1/9/2013).

Sebab, menurutnya, para pemuda DKI penting untuk tidak hanya tahu tapi juga memahami budaya aslinya sendiri. Dengan adanya kegiatan Lebaran Betawi yang menawarkan berbagai jenis kebudayaan Betawi dari makanan, pakaian, kesenian, dan lainnya.

Jokowi berharap bisa menambah pengetahuan para generasi muda agar melek budaya. Selain itu, kegiatan tersebut juga bentuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan Betawi,

"Nggak akan tau kalau nggak ada acara-acara seperti ini, anak cucu kita. Ini memang sebuah acara yang secara budaya merupakan karakter dan identitas kota. Saya tadi udah pesen agar ini dilestarikan karena masyarakat membutuhkan. Jadi ngerti," kata mantan walikota Surakarta itu.

Tidak hanya rencana penambahan hari perhelatan Lebaran Betawi, Pemprov DKI juga akan mengundang semua anak-anak muda Jakarta untuk turut hadir pada kegiatan tersebut.

"Oleh sebab itu yang diundang nanti lebih banyak anak-anak, remaja-remaja, anak-anak muda. Sehingga nanti bisa dijelaskan dari generasi yang lalu. Ini pakaian Betawi, Ujung Serong dan Sadariah, ini kebaya Betawi, ini makanan-makanan khas Betawi yang semuanya ada," tukas Jokowi.

Sumber : http://news.liputan6.com/read/680592/lebaran-betawi-jokowi-biar-anak-cucu-tahu-budaya-betawi

Jumat, 07 Juni 2013

Warga Betawi: Jokowi-Ahok Kembalikan PRJ ke Sejarah

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski baru sebatas wacana, pemindahan Pekan Raya Jakarta (PRJ) dari Kemayoran ke area Monumen Nasional oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disambut baik oleh warga, khusus masyarakat Betawi.

Adji Virdian (24), warga Betawi yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengatakan, dirinya setuju jika PRJ dipindahkan ke Monas. Menurut dia, jika hal itu terjadi, Gubernur DKI Joko Widodo dan Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama menghargai sejarah HUT Jakarta.

"Kan, memang sejarahnya pertama kali PRJ itu di Monas. Diadakan di sana karena Monas, kan, ikon Jakarta. Makanya setuju banget mau diadain di Monas lagi," ujar pria yang bekerja di perusahaan konstruksi ini, Kamis (6/6/2013) siang.

Adji mengakui gelaran PRJ pada tahun-tahun terakhir sangat jauh dari roh HUT Jakarta terdahulu. Produk-produk berbasis masyarakat serta kesenian Betawi bergeser ke pinggir dan diganti dengan beragam stan industri raksasa. Pasar rakyat akhirnya berubah menjadi pasar modern.

"Kalau di Monas, kan, lebih kelihatan PRJ-nya daripada di Kemayoran yang lebih kelihatan pameran hanya untuk kalangan high class-nya. Lihat saja tiket masuknya yang Rp 35.000," ujar Adji.

Tidak hanya Adji, hal senada diungkapkan warga Betawi lainnya, Asrul Hasanudin (28). Pria yang tinggal di kawasan Batuampar, Condet, itu mengaku pasti turut dalam kemeriahan PRJ jika diselenggarakan di Monas. Menurut Asrul, suasana PRJ bisa membawa dirinya ke masa kecilnya.

"Gua ke PRJ Kemayoran cuma dua kali, tapi dulu gua lebih sering ke PRJ Monas waktu kecil sama bokap gua. Pasti berasa nostalgialah. Apalagi kalau tiket masuknya gratis," ujarnya semringah.

Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa menghidupkan kembali roh yang telah lama sirna dari HUT Jakarta. Karakter Betawi yang menjelma dalam PRJ di Monas itu, lanjut Asrul, menjadi semangat baru bagi warga Jakarta demi membangun Jakarta yang diidam-idamkan.

Wacana perpindahan PRJ dari area Kemayoran ke pelataran Monas diwacanakan Pemprov DKI, beberapa waktu lalu. Pemprov DKI melihat PRJ kehilangan roh karakter Betawi atas keberadaan stan-stan industri raksasa, menggeser produk kebudayaan Betawi. Pemprov DKI melihat perlu digelar HUT Jakarta yang memiliki ciri Betawi.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/06/06/18574873/Warga.Betawi..JokowiAhok.Kembalikan.PRJ.ke.Sejarah