JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT Jakarta Tollroad Development Frans Sunito berjanji, enam ruas jalan tol yang nantinya akan beroperasi di Jakarta akan berbeda dari jalan tol yang ada saat ini. Sebab, jalan tol tersebut tidak akan memiliki banyak pintu masuk dan keluar.
Tujuannya, kata Frans, agar jalan tol tersebut tidak menimbulkan titik-titik kemacetan. Sebab, ia menilai bahwa selama ini pintu masuk dan keluar tol merupakan salah satu penyebab kemacetan. [Baca: "Sudah Rasio Jalan Cuma 6 Persen, Sarana Transportasinya Juga Jelek"]
"Kalau jalan tol dalam kota yang sekarang ini kan sedikit-sedikit pintu masuk atau keluar, rata-rata tiap 7 kilometer ada. Dari Grogol ke Slipi saja ada berapa. Kalau yang ini (enam ruas jalan tol) enggak seperti itu karena tol-nya cuma untuk orang yang jarak jauh, misalnya dari Grogol ke Bekasi," kata dia di Balai Kota, Selasa (19/5/2015).
Frans yakin, keberadaan enam ruas jalan tol tidak hanya akan dapat memperlancar arus lalu lintas, tetapi juga memperlancar arus distribusi logistik yang akan menghubungkan kawasan timur dan barat Ibu Kota.
Tidak hanya itu, lanjut Frans, enam ruas jalan tol nantinya juga akan dilengkapi dengan layanan bus ulang alik, yakni bus yang beroperasi di atas jalan tol.
"Kami akan sediakan tempat-tempat pemberhentian bus ulang alik. Bus ini akan modar-mandir di jalan tol dari ujung ke ujung," ujar dia.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/05/19/18313481/Kurangi.Macet.Jalan.Tol.di.Jakarta.Akan.Dibuat.dengan.Sedikit.Pintu
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label titik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label titik. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Mei 2015
Kurangi Macet, Jalan Tol di Jakarta Akan Dibuat dengan Sedikit Pintu
Label:
alik
,
balai kota
,
bus
,
frans
,
grogol
,
ibu kota
,
jakarta
,
jalan tol
,
jarak jauh
,
kemacetan
,
nantinya
,
pintu masuk
,
rata-rata
,
ruas
,
tempat
,
titik
,
tol
,
ujung
,
ulang
Rabu, 01 Oktober 2014
Biopori, Minimalisir Banjir dan Genangan Air
TANJUNG PRIOK (Pos Kota) - Guna mengantisipasi banjir maupun genangan air, di pesisir utara Jakarta berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara. Salah satunya dengan memperbanyak lubang biofori, bukan hanya itu, pemerintah juga meminta kepada warganya yang mempunyai lahan kosong atau halaman rumah diusulkan agar dibuatkan lubang biofori.
Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono menjelaskan, pembuatan lubang biofori merupakan teknologi tepat guna untuk meminimalisir banjir dan genangan air. “Dengan adanya lubang biofori dirumah maka dapat meningkatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman dan dapat mengatasi menipiskan resapan air tanah” ujarnya.
Heru Budi Hartono berharapan Pemko Jakarta Utara nantinya di setiap kecamatan memiliki 7 Ribu lubang biofori pertahun. Jika itu terlaksana maka Jakarta Utara akan memiliki 42 Ribu lubang Biofori.
“Saya yakin jika setiap tahun wilayah Jakarta Utara memiliki 42 ribu lubang biofori kedepan tidak akan terjadi banjir. Maka dari itu saya berharap semua lapisan masyarakat untuk mendukung program ini,” harap Heru Budi Hartono.
Sementara itu, Koramil Koja, Jakarta Utara saat ini sedang menggalak program pembuatan biofori sebanyak 7 Ribu. Sumur resapan di bangun disejumlah lahan kosong yang ada di wilayah tersebut.
Pembangunan ini dilakukan karena 70 persen wilayah Koja berada di permukaan air laut sehingga jika terjadi hujan pasti akan menimbulkan genangan dan banjir.
“Saat ini kami sedang giat-giatnya melakukan pembuatan lubang biofori. Kami berharap kedepan wilayah Koja tidak rawan banjir lagi,”kata Danramil Koja Kapten (Inf) Tri Edi S.
Pembuatan biofori ini kata Tri Edi sudah dilaksanakan sejak bulan lalu. Ia juga bekerja sama dengan masing-masing kelurahan. ” Jadi setiap kelurahan sudah memiliki titik lubang biofori. Sudah 6 ribu lubang serapan yang kami buat” katanya.
Lokasi titik lubang biofori baru itu ada di Stadion Rawabadak, Islamic Center, Jalan Mundu, Kantor Disnakertrans Jakut dan Kampung Rawa Indah dan lokasi lainnya.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/09/30/biophori-minimalisir-banjir-dan-genangan-air/
Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono menjelaskan, pembuatan lubang biofori merupakan teknologi tepat guna untuk meminimalisir banjir dan genangan air. “Dengan adanya lubang biofori dirumah maka dapat meningkatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman dan dapat mengatasi menipiskan resapan air tanah” ujarnya.
Heru Budi Hartono berharapan Pemko Jakarta Utara nantinya di setiap kecamatan memiliki 7 Ribu lubang biofori pertahun. Jika itu terlaksana maka Jakarta Utara akan memiliki 42 Ribu lubang Biofori.
“Saya yakin jika setiap tahun wilayah Jakarta Utara memiliki 42 ribu lubang biofori kedepan tidak akan terjadi banjir. Maka dari itu saya berharap semua lapisan masyarakat untuk mendukung program ini,” harap Heru Budi Hartono.
Sementara itu, Koramil Koja, Jakarta Utara saat ini sedang menggalak program pembuatan biofori sebanyak 7 Ribu. Sumur resapan di bangun disejumlah lahan kosong yang ada di wilayah tersebut.
Pembangunan ini dilakukan karena 70 persen wilayah Koja berada di permukaan air laut sehingga jika terjadi hujan pasti akan menimbulkan genangan dan banjir.
“Saat ini kami sedang giat-giatnya melakukan pembuatan lubang biofori. Kami berharap kedepan wilayah Koja tidak rawan banjir lagi,”kata Danramil Koja Kapten (Inf) Tri Edi S.
Pembuatan biofori ini kata Tri Edi sudah dilaksanakan sejak bulan lalu. Ia juga bekerja sama dengan masing-masing kelurahan. ” Jadi setiap kelurahan sudah memiliki titik lubang biofori. Sudah 6 ribu lubang serapan yang kami buat” katanya.
Lokasi titik lubang biofori baru itu ada di Stadion Rawabadak, Islamic Center, Jalan Mundu, Kantor Disnakertrans Jakut dan Kampung Rawa Indah dan lokasi lainnya.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/09/30/biophori-minimalisir-banjir-dan-genangan-air/
Jumat, 26 September 2014
Cegah Banjir, DKI Bikin 3.620 Sumur Resapan
Jakarta, HanTer - Pemprov DKI melalui Dinas Perindustrian dan Energi berencana membuat 3.620 titik sumur resapan. Dengan anggaran sebesar Rp40 miliar, diharapkan, keberadaan sumur resapan tersebut dapat bermanfaat dalam mengurangi banjir dan genangan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI, Haris Pindratno mengatakan, meski hanya berupa teknologi sederhana, pembangunan sumur resapan dianggap cukup tepat untuk mengatasi persoalan banjir di Ibukota.
“Anggaran yang disediakan Rp100 miliar, tapi yang terpakai hanya Rp40 miliar karena kami lebih banyak membuat sumur resapan tipe dangkal," katanya, kepada Harian Terbit, di Jakarta, Rabu (24/9) kemarin.
Haris menerangkan, proses pembuatan sumur resapan diprediksi rampung akhir tahun Desember. Ia menilai, terhambat proses lelang di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang dan Jasa DKI, menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan sumur resapan tersebut.
“Sumur resapan yang dibuat sebanyak 3.500 titik untuk tipe dangkal dan 120 titik dengan kedalaman 60 meter," tuturnya.
Sementara tahun 2013 lalu, Dinas Perindustrian dan Energi DKI membuat 1.949 titik sumur resapan yang menelan anggaran hingga Rp 150miliar. Artinya harga sumur resapan berkisar Rp 80 juta per titik.
Disisi lain, Komite Nasional Lembaga Swadaya Masyarakat (KN-LSM) Indonesia mengapresiasi penghematan anggaran yang telah dilakukan Dinas Perindustrian dan Energi DKI dalam membuat sumur resapan.
Diharapkan, penghematan ini ditiru Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov DKI.
"Atas prestasinya mampu menghemat anggaran, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Haris Pindratno layak mendapatkan apresiasi. Kami berencana memberikan penghargaan khusus bulan Oktober mendatang. Penghargaan khusus ini diharapkan dapat memacu SKPD lain untuk bersama-sama menghemat anggaran," kata Sekretaris KN-LSM Indonesia, Latas Leonardus Panjaitan.
Sumber : http://www.harianterbit.com/read/2014/09/25/8830/18/18/Cegah-Banjir-DKI-Bikin-3.620-Sumur-Resapan
Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI, Haris Pindratno mengatakan, meski hanya berupa teknologi sederhana, pembangunan sumur resapan dianggap cukup tepat untuk mengatasi persoalan banjir di Ibukota.
“Anggaran yang disediakan Rp100 miliar, tapi yang terpakai hanya Rp40 miliar karena kami lebih banyak membuat sumur resapan tipe dangkal," katanya, kepada Harian Terbit, di Jakarta, Rabu (24/9) kemarin.
Haris menerangkan, proses pembuatan sumur resapan diprediksi rampung akhir tahun Desember. Ia menilai, terhambat proses lelang di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang dan Jasa DKI, menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan sumur resapan tersebut.
“Sumur resapan yang dibuat sebanyak 3.500 titik untuk tipe dangkal dan 120 titik dengan kedalaman 60 meter," tuturnya.
Sementara tahun 2013 lalu, Dinas Perindustrian dan Energi DKI membuat 1.949 titik sumur resapan yang menelan anggaran hingga Rp 150miliar. Artinya harga sumur resapan berkisar Rp 80 juta per titik.
Disisi lain, Komite Nasional Lembaga Swadaya Masyarakat (KN-LSM) Indonesia mengapresiasi penghematan anggaran yang telah dilakukan Dinas Perindustrian dan Energi DKI dalam membuat sumur resapan.
Diharapkan, penghematan ini ditiru Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov DKI.
"Atas prestasinya mampu menghemat anggaran, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Haris Pindratno layak mendapatkan apresiasi. Kami berencana memberikan penghargaan khusus bulan Oktober mendatang. Penghargaan khusus ini diharapkan dapat memacu SKPD lain untuk bersama-sama menghemat anggaran," kata Sekretaris KN-LSM Indonesia, Latas Leonardus Panjaitan.
Sumber : http://www.harianterbit.com/read/2014/09/25/8830/18/18/Cegah-Banjir-DKI-Bikin-3.620-Sumur-Resapan
Jumat, 18 Juli 2014
Ini Cara Agar MRT Tak Banjir dan Tahan Gempa Saat Gali Stasiun Bawah Tanah
Jakarta - PT MRT Jakarta akan memulai menggali dan membangun stasiun bawah tanah Mass Rapid Transit (MRT) di titik Senayan dan Setiabudi. Sebelumnya pekerjaan yang sama sudah dimulai di titik Bundaran HI pada April lalu. Kedalaman titik gali tersebut bervariasi dari mulai 20-23 meter di bawah tanah. Bagaimana caranya agar lokasi kerja tersebut tetap kering dan bebas dari banjir?
Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami menyatakan pihaknya sudah mempersiapkan solusi untuk kemungkinan tersebut. "Kami evaluasi mulai dari metode dan teknis. Untuk pekerjaan sipil nanti salah satunya adalah dengan dewatering. Kami siapkan pompa-pompanya saat penggalian besar," kata Dono saat jumpa pers di Hotel Crowne, Jakarta, Kamis (17/7/2014).
Dia berujar untuk penggalian di kedalaman 20-30 meter nantinya yang akan lebih banyak diangkat berbentuk lumpur. Namun pembangunan MRT yang mengadopsi teknologi Jepang itu juga akan memampung lumpurnya hingga airnya turun.
"Airnya nanti kita salurkan ke drainase. Dewatering pakai pompa itu standar, di setiap pekerjaan bawah tanah kita juga sediakan pompanya. Kalau misalnya kondisi hujan, jumlah pompa bisa ditambah. Intinya kita akan menjaga agar area kerjanya tetap kering," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, M. Nasir, mengatakan pola pengerjaan stasiun bawah tanah yakni dengan mengalihkan median jalan terlebih dulu selebar sekitar 30 meter. Setelah itu akan dibuat Guide Wall atau dinding penahan, lalu pihaknya akan menggali tanah secara bertahap hingga kedalaman yang diperlukan. Setelah terowongan tempat relnya jadi, pekerjaan selanjutnya membuat stasiun di sisi Barat dan Timur jalan.
Selain antisipasi banjir saat penggalian pihaknya juga mengklaim sudah mengantisipasi terjadinya bencana gempa dan banjir jika MRT dan stasiun bawh tanahnya sudah rampung.
"Kita desain tahan gempa secara periodik hingga 100 tahun. Kemudian pintu stasiunnya di atas tanah juga kita bangun setinggi 1,5 meter untuk antisipasi banjir yang mungkin terjadi. Kalaupun misalnya banjir di Sudirman-Thamrin meluap sampai mulut pintu kita siapkan pintu otomatis di bawah sehingga air tidak akan masuk ke terowongan sehingga MRT masih bisa tetap jalan," ujarnya
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/07/17/214423/2640625/10/ini-cara-agar-mrt-tak-banjir-dan-tahan-gempa-saat-gali-stasiun-bawah-tanah
Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami menyatakan pihaknya sudah mempersiapkan solusi untuk kemungkinan tersebut. "Kami evaluasi mulai dari metode dan teknis. Untuk pekerjaan sipil nanti salah satunya adalah dengan dewatering. Kami siapkan pompa-pompanya saat penggalian besar," kata Dono saat jumpa pers di Hotel Crowne, Jakarta, Kamis (17/7/2014).
Dia berujar untuk penggalian di kedalaman 20-30 meter nantinya yang akan lebih banyak diangkat berbentuk lumpur. Namun pembangunan MRT yang mengadopsi teknologi Jepang itu juga akan memampung lumpurnya hingga airnya turun.
"Airnya nanti kita salurkan ke drainase. Dewatering pakai pompa itu standar, di setiap pekerjaan bawah tanah kita juga sediakan pompanya. Kalau misalnya kondisi hujan, jumlah pompa bisa ditambah. Intinya kita akan menjaga agar area kerjanya tetap kering," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, M. Nasir, mengatakan pola pengerjaan stasiun bawah tanah yakni dengan mengalihkan median jalan terlebih dulu selebar sekitar 30 meter. Setelah itu akan dibuat Guide Wall atau dinding penahan, lalu pihaknya akan menggali tanah secara bertahap hingga kedalaman yang diperlukan. Setelah terowongan tempat relnya jadi, pekerjaan selanjutnya membuat stasiun di sisi Barat dan Timur jalan.
Selain antisipasi banjir saat penggalian pihaknya juga mengklaim sudah mengantisipasi terjadinya bencana gempa dan banjir jika MRT dan stasiun bawh tanahnya sudah rampung.
"Kita desain tahan gempa secara periodik hingga 100 tahun. Kemudian pintu stasiunnya di atas tanah juga kita bangun setinggi 1,5 meter untuk antisipasi banjir yang mungkin terjadi. Kalaupun misalnya banjir di Sudirman-Thamrin meluap sampai mulut pintu kita siapkan pintu otomatis di bawah sehingga air tidak akan masuk ke terowongan sehingga MRT masih bisa tetap jalan," ujarnya
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/07/17/214423/2640625/10/ini-cara-agar-mrt-tak-banjir-dan-tahan-gempa-saat-gali-stasiun-bawah-tanah
Label:
air
,
antisipasi
,
banjir
,
bawah
,
dewatering
,
dono
,
gempa
,
jakarta
,
kering
,
lumpur
,
meter
,
mrt
,
pintu
,
pompa
,
pt
,
stasiun
,
tanah
,
terowongan
,
titik
Rabu, 25 Juni 2014
Idealnya, Tiap RW di DKI Punya TPS Sampah
JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap kelurahan bahkan Rukun Warga di DKI Jakarta, idealnya punya tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Saat ini baru 20-an persen titik penjemputan sampah yang sudah berupa TPS sampah. Lagi-lagi, lahan jadi kendala untuk memenuhi kebutuhan TPS sampah.
"TPS itu semua kelurahan harusnya ada. Bahkan setiap RW harusnya punya," kata Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Saptastri Edinigtyas Kusumadewi, saat ditemui wartawan, di kantor Dinas Kebersihan DKI Jakarta di Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur, Selasa (24/6/2014) malam.
Saptastri mengatakan saat ini tercatat sekitar 1.000 titik penjemputan sampah di DKI Jakarta. Dari jumlah itu, sebut dia, hanya 210 tempat penjemputan yang berupa TPS sampah. Selebihnya, sebut dia, adalah tempat pengumpulan sampah atau kontainer.
Menurut Saptastri, mewujudkan TPS sampah di setiap RW bukan perkara mudah. Di DKI, sebut dia, ada 2.700 RW. Kendala yang dihadapi untuk mewujudkan idealitas TPS sampah itu, kata dia, adalah lahan.
"Memang harus cari tanah, ada instruksi gubernur untuk membebaskan lahan. Sambil pararel, tentunya kalau belum dapat, harus menyewa," ujar wanita dengan sapaan Tyas ini. Menurut dia, setiap TPS sampah butuh lahan sekitar 300 meter persegi.
Selain luasan lahan, TPS sampah juga harus ramah lingkungan. "Artinya, memenuhi prinsip ekologi," ujar Saptastri. Sempitnya lahan di DKI, kata dia, menyebabkan lokasi TPS sampah terpaksa berdampingan dengan pemukiman warga.
Upaya yang bisa dilakukan dengan kondisi TPS sampah tersebut, lanjut Saptastri, adalah dengan menanam beragam tanaman yang bisa mengurangi bau sampah. "Tanaman pecegah bau itu misalnya bambu atau bunga melati, untuk di sekelilingnya. Di negara maju seperti ini sudah ada," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/25/0401461/Idealnya.Tiap.RW.di.DKI.Punya.TPS.Sampah
"TPS itu semua kelurahan harusnya ada. Bahkan setiap RW harusnya punya," kata Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Saptastri Edinigtyas Kusumadewi, saat ditemui wartawan, di kantor Dinas Kebersihan DKI Jakarta di Cililitan, Kramatjati, Jakarta Timur, Selasa (24/6/2014) malam.
Saptastri mengatakan saat ini tercatat sekitar 1.000 titik penjemputan sampah di DKI Jakarta. Dari jumlah itu, sebut dia, hanya 210 tempat penjemputan yang berupa TPS sampah. Selebihnya, sebut dia, adalah tempat pengumpulan sampah atau kontainer.
Menurut Saptastri, mewujudkan TPS sampah di setiap RW bukan perkara mudah. Di DKI, sebut dia, ada 2.700 RW. Kendala yang dihadapi untuk mewujudkan idealitas TPS sampah itu, kata dia, adalah lahan.
"Memang harus cari tanah, ada instruksi gubernur untuk membebaskan lahan. Sambil pararel, tentunya kalau belum dapat, harus menyewa," ujar wanita dengan sapaan Tyas ini. Menurut dia, setiap TPS sampah butuh lahan sekitar 300 meter persegi.
Selain luasan lahan, TPS sampah juga harus ramah lingkungan. "Artinya, memenuhi prinsip ekologi," ujar Saptastri. Sempitnya lahan di DKI, kata dia, menyebabkan lokasi TPS sampah terpaksa berdampingan dengan pemukiman warga.
Upaya yang bisa dilakukan dengan kondisi TPS sampah tersebut, lanjut Saptastri, adalah dengan menanam beragam tanaman yang bisa mengurangi bau sampah. "Tanaman pecegah bau itu misalnya bambu atau bunga melati, untuk di sekelilingnya. Di negara maju seperti ini sudah ada," ujarnya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/25/0401461/Idealnya.Tiap.RW.di.DKI.Punya.TPS.Sampah
Label:
bau
,
dki
,
edinigtyas
,
jakarta
,
kantor dinas
,
kata kepala
,
kebersihan
,
kelurahan
,
kendala
,
lahan
,
punya
,
rw
,
sampah
,
saptastri
,
sebut
,
tanaman
,
titik
,
tps
,
tyas
Senin, 16 Juni 2014
Hujan Deras, 19 Ruas Jalan Jakarta Terendam Banjir
TEMPO.CO, Jakarta -- Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi sejak Ahad siang hingga petang, 15 Juni 2014, membuat titik genangan air bertambah. Genangan air itu merendam jalan Ibu Kota Jakarta.
Sebelumnya, ada sepuluh titik genangan air yang terpantau Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) DKI Jakarta. Namun, hingga petang ini terdapat 19 titik genangan air. (baca: BMKG: Waspadai Hujan Lebat dan Petir)
Berikut 19 titik genangan air berdasarkan pantauan Pusdalops BPBD DKI:
1. Jalan DI Panjaitan, tepatnya di depan kantor Samsat Jakarta Timur, genangan setinggi 10-20 sentimeter.
2. Depan Stasiun Tanjung Barat, genangan 10-20 sentimeter
3. Jalan Raya Pancoran arah Pasar Minggu dan sebaliknya, genangan 10 sentimeter.
4. Jalan MT Haryono di sekitar halte bus Transjakarta BKPM, genangan 20-30 sentimeter.
5. Jalan Kav Polri, Ragunan, genangan setinggi 40-50 sentimeter.
6. Jalan Condet Raya, genangan 30-40 cm, (depan Ponpes Al-Hawi), Jakarta Timur.
7. Jalan Arteri Pondok Indah, genangan 10-15 sentimeter.
8. Jalan Pisangan Lama, Jatinegara, genangan setinggi 10-20 sentimeter.
9. Jalan Raya Fatmawati dekat perempatan Radio Dalam, genangan 10-30 sentimeter.
10. Jalan Raya Moch. Kahfi II dekat pertigaan Warung Silah, genangan 10-30 sentimeter.
11. Jalan Tomang Raya, genangan 5-10 sentimeter.
12. Jalan Menteng Dalam, genangan 20-25 sentimeter.
13. Jalan Raya Kembangan Utara depan SDN 02, genangan 10-20 sentimeter.
14. Jalan H. Ipin, Pondok Labu, genangan 10-50 sentimeter.
15. Jalan raya depan WTC Mangga Dua, genangan 10-30 sentimeter.
16. Jalan Kemang Timur 5, genangan 10-30 sentimeter.
17. Jalan RC Veteran depan RS DR Suyoto, genangan 10-20 sentimeter.
18. Jalan Melinjo RT 06/05, Jakarta Selatan, genangan 10-40 sentimeter.
19. Jalan Raya Antasari, Cipete, genangan 10-20 sentimeter.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/06/15/083585177/Hujan-Deras-19-Ruas-Jalan-Jakarta-Terendam-Banjir
Sebelumnya, ada sepuluh titik genangan air yang terpantau Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) DKI Jakarta. Namun, hingga petang ini terdapat 19 titik genangan air. (baca: BMKG: Waspadai Hujan Lebat dan Petir)
Berikut 19 titik genangan air berdasarkan pantauan Pusdalops BPBD DKI:
1. Jalan DI Panjaitan, tepatnya di depan kantor Samsat Jakarta Timur, genangan setinggi 10-20 sentimeter.
2. Depan Stasiun Tanjung Barat, genangan 10-20 sentimeter
3. Jalan Raya Pancoran arah Pasar Minggu dan sebaliknya, genangan 10 sentimeter.
4. Jalan MT Haryono di sekitar halte bus Transjakarta BKPM, genangan 20-30 sentimeter.
5. Jalan Kav Polri, Ragunan, genangan setinggi 40-50 sentimeter.
6. Jalan Condet Raya, genangan 30-40 cm, (depan Ponpes Al-Hawi), Jakarta Timur.
7. Jalan Arteri Pondok Indah, genangan 10-15 sentimeter.
8. Jalan Pisangan Lama, Jatinegara, genangan setinggi 10-20 sentimeter.
9. Jalan Raya Fatmawati dekat perempatan Radio Dalam, genangan 10-30 sentimeter.
10. Jalan Raya Moch. Kahfi II dekat pertigaan Warung Silah, genangan 10-30 sentimeter.
11. Jalan Tomang Raya, genangan 5-10 sentimeter.
12. Jalan Menteng Dalam, genangan 20-25 sentimeter.
13. Jalan Raya Kembangan Utara depan SDN 02, genangan 10-20 sentimeter.
14. Jalan H. Ipin, Pondok Labu, genangan 10-50 sentimeter.
15. Jalan raya depan WTC Mangga Dua, genangan 10-30 sentimeter.
16. Jalan Kemang Timur 5, genangan 10-30 sentimeter.
17. Jalan RC Veteran depan RS DR Suyoto, genangan 10-20 sentimeter.
18. Jalan Melinjo RT 06/05, Jakarta Selatan, genangan 10-40 sentimeter.
19. Jalan Raya Antasari, Cipete, genangan 10-20 sentimeter.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/06/15/083585177/Hujan-Deras-19-Ruas-Jalan-Jakarta-Terendam-Banjir
Label:
air
,
bpbd
,
dki
,
genangan
,
hujan deras
,
jakarta
,
jalan
,
jalan arteri
,
jalan raya
,
petang
,
pondok
,
pusdalops
,
raya
,
sentimeter
,
setinggi
,
silah
,
suyoto
,
titik
,
wtc
Rabu, 28 Mei 2014
PT JM Akui Rute Monorel Tak Efektif, tetapi Bisa Jadi Solusi Macet
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur PT Jakarta Monorail (JM) Jhon Aryananda mengakui bahwa rute monorel Jakarta merupakan rute yang tidak efektif menjaring penumpang karena tidak menghubungkan titik asal ke titik tujuan. Namun, dia tak sepakat pada penilaian bahwa rute monorel Jakarta hanya akan menjadi rute makan siang mall to mall.
Menurut dia, monorel tetap akan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta karena daerah-daerah yang akan dilalui merupakan kawasan macet. Namun, tentu saja, itu pun harus ditunjang dengan transportasi umum lainnya yang mampu mendukung layanan tersebut.
"Tidak ada transportasi massal yang bisa berdiri sendiri. Misal dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B naik apa? Masa pakai mobil pribadi lagi? Jadi, harus ada integrasi transportasi publik. Dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B," katanya dalam acara Kompasiana Nangkring bareng PT JM, di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (24/5/2014).
Menurut Jhon, pemerintahlah yang bertugas dan memiliki wewenang untuk menyediakan angkutan umum yang layak jalan. Ia opimistis hal tersebut dapat direalisasikan.
"Itulah tugas dan wewenang dari Pemerintah Provinsi DKI yang dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan untuk merencanakan semua itu. Bagaimana menyediakan bus-bus sedang yang berangkat dari perumahan," paparnya.
Menurut rencana, ada dua rute yang nantinya akan dilayani monorel Jakarta. Yang pertama jalur hijau (Kuningan-Gatot Subroto-SCBD-Senayan-Pejompongan-kembali ke Kuningan) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2016.
Jalur kedua ialah jalur biru (Mal Taman Anggrek-Tomang-Cideng-Tanah Abang-Karet-Mal Ambassador-Tebet-Kampung Melayu) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2017.
Banyak pengamat yang menilai, kedua rute tersebut tidak akan efektif menjaring penumpang karena hanya akan berputar-putar di dalam kota. Seharusnya, kata mereka, monorel melayani rute yang menghubungkan kawasan-kawasan perumahan di pinggiran Jakarta ke kawasan perkantoran di tengah kota.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/24/1530062/PT.JM.Akui.Rute.Monorel.Tak.Efektif.tetapi.Bisa.Jadi.Solusi.Macet
Menurut dia, monorel tetap akan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta karena daerah-daerah yang akan dilalui merupakan kawasan macet. Namun, tentu saja, itu pun harus ditunjang dengan transportasi umum lainnya yang mampu mendukung layanan tersebut.
"Tidak ada transportasi massal yang bisa berdiri sendiri. Misal dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B naik apa? Masa pakai mobil pribadi lagi? Jadi, harus ada integrasi transportasi publik. Dari rumah ke poin A, kemudian dari poin A ke poin B," katanya dalam acara Kompasiana Nangkring bareng PT JM, di Kuningan City, Jakarta, Sabtu (24/5/2014).
Menurut Jhon, pemerintahlah yang bertugas dan memiliki wewenang untuk menyediakan angkutan umum yang layak jalan. Ia opimistis hal tersebut dapat direalisasikan.
"Itulah tugas dan wewenang dari Pemerintah Provinsi DKI yang dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan untuk merencanakan semua itu. Bagaimana menyediakan bus-bus sedang yang berangkat dari perumahan," paparnya.
Menurut rencana, ada dua rute yang nantinya akan dilayani monorel Jakarta. Yang pertama jalur hijau (Kuningan-Gatot Subroto-SCBD-Senayan-Pejompongan-kembali ke Kuningan) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2016.
Jalur kedua ialah jalur biru (Mal Taman Anggrek-Tomang-Cideng-Tanah Abang-Karet-Mal Ambassador-Tebet-Kampung Melayu) yang ditargetkan akan beroperasi pada 2017.
Banyak pengamat yang menilai, kedua rute tersebut tidak akan efektif menjaring penumpang karena hanya akan berputar-putar di dalam kota. Seharusnya, kata mereka, monorel melayani rute yang menghubungkan kawasan-kawasan perumahan di pinggiran Jakarta ke kawasan perkantoran di tengah kota.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/05/24/1530062/PT.JM.Akui.Rute.Monorel.Tak.Efektif.tetapi.Bisa.Jadi.Solusi.Macet
Label:
ditargetkan
,
efektif
,
jakarta
,
jalur
,
jhon
,
jm
,
kompasiana
,
kuningan
,
kuningan-gatot
,
mall
,
monorel
,
penumpang
,
perumahan
,
poin
,
rute
,
subroto-scbd-senayan-pejompongan-kembali
,
titik
,
transportasi
,
wewenang
Kamis, 06 Maret 2014
Pengendara di Bawah Ancaman Lubang Jalan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puluhan mobil pribadi dan angkutan umum berjalan pelan selepas fly over Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Mobil-mobil itu harus mengantre lantaran jalanan di underpass bypass menuju Pasar Gembrong, Jakarta Timur, rusak parah.
Jalan di underpass itu bergelombang. Aspal jalan banyak yang mengelupas, sehingga banyak krikil yang betebaran. Jalan yang licin memaksa mobil-mobil dan pengendara sepeda motor memperlambat laju kendaraan, sehingga antrean kendaraan mencapai puluhan meter. Parahnya, antrean jalan juga terjadi di arah sebaliknya, yakni dari Pom Bensin Pasar Gembrong hingga Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Timur.
Kemacetan itu diperparah karena Jalan Kampung Melayu Kecil, Bukit Duri Tanjakan, menuju Kuningan dan Dr Saharjo sedang dalam perbaikan. Iwan, salah satu pengendara, mengaku kesal lantaran jalan tersebut belum diperbaiki sejak musim hujan pada Desember 2013.
Jalan rusak juga tersebar di sekitar Jalan Dewi Sartika menuju Kampung Melayu dan Matraman. Di tempat langganan banjir itu juga belum ada tanda-tanda perbaikan jalan. Dari data yang diterima ROL dari Dinas Pekerjaan Umum untuk wilayah kota administrasi Jakarta Timur, titik jalan rusak sebanyak 3.548 yang terdiri atas 142 lokasi, DPU juga mencatat sudah memperbaiki jumlah titik jalan rusak sebanyak 3.479 titik.
"Jika ngebut, kalau tidak celaka, ya motor rusak," kata seorang pengendara motor, Anton, kepada ROL di Mampang, Selasa (4/2).
Pria yang hampir setiap hari melewati Jalan Mampang Pramatan itu mengeluhkan rusaknya jalan. Bukannya diperbaiki, kata Anton, jalan yang rusak malah semakin bertambah.
Pantauan ROL di sepanjang Jalan Mampang Prapatan arah Kuningan, terlihat lubang-lubang dengan ukuran bervariasi. Tak heran jika kemacetan terjadi di sejumlah titik lantaran para pengendara melambatkan laju kendaraanya.
"Kalau jam kerja bisa pelan-pelan, untuk ngindarin lubang. Tapi, kalau sepi bahaya juga yang ngebut," kata Rony, tukang ojek yang biasa mangkal di depan Hotel Maharani, Mampang.
Saat hujan, titik jalan yang berlubang itu akan tertutup air dan menggenang, sehingga berbahaya bagi pengendara. Sedangkan, saat cuaca terik, lubang-lubang itu akan mengeluarkan krikil kecil, sehingga membuat jalan terasa licin dan penuh debu.
Kemacetan di DKI juga tidak sepenuhnya karena lubang jalan, seperti yang terjadi di traffic light Asemka, Jakarta Barat. Guna menghindari kemacetan panjang, Direktorat Lalu Lintas melakukan rekayasa di Asemka sejak 26 Februari 2014. Memasuki Selasa (4/3), uji coba tersebut dinilai sukses. "Sirkulasinya bagus kok," kata Kepala Bagian Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budianto, Selasa (4/3).
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/03/05/n1ys9q-pengendara-di-bawah-ancaman-lubang-jalan
Jalan di underpass itu bergelombang. Aspal jalan banyak yang mengelupas, sehingga banyak krikil yang betebaran. Jalan yang licin memaksa mobil-mobil dan pengendara sepeda motor memperlambat laju kendaraan, sehingga antrean kendaraan mencapai puluhan meter. Parahnya, antrean jalan juga terjadi di arah sebaliknya, yakni dari Pom Bensin Pasar Gembrong hingga Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Timur.
Kemacetan itu diperparah karena Jalan Kampung Melayu Kecil, Bukit Duri Tanjakan, menuju Kuningan dan Dr Saharjo sedang dalam perbaikan. Iwan, salah satu pengendara, mengaku kesal lantaran jalan tersebut belum diperbaiki sejak musim hujan pada Desember 2013.
Jalan rusak juga tersebar di sekitar Jalan Dewi Sartika menuju Kampung Melayu dan Matraman. Di tempat langganan banjir itu juga belum ada tanda-tanda perbaikan jalan. Dari data yang diterima ROL dari Dinas Pekerjaan Umum untuk wilayah kota administrasi Jakarta Timur, titik jalan rusak sebanyak 3.548 yang terdiri atas 142 lokasi, DPU juga mencatat sudah memperbaiki jumlah titik jalan rusak sebanyak 3.479 titik.
"Jika ngebut, kalau tidak celaka, ya motor rusak," kata seorang pengendara motor, Anton, kepada ROL di Mampang, Selasa (4/2).
Pria yang hampir setiap hari melewati Jalan Mampang Pramatan itu mengeluhkan rusaknya jalan. Bukannya diperbaiki, kata Anton, jalan yang rusak malah semakin bertambah.
Pantauan ROL di sepanjang Jalan Mampang Prapatan arah Kuningan, terlihat lubang-lubang dengan ukuran bervariasi. Tak heran jika kemacetan terjadi di sejumlah titik lantaran para pengendara melambatkan laju kendaraanya.
"Kalau jam kerja bisa pelan-pelan, untuk ngindarin lubang. Tapi, kalau sepi bahaya juga yang ngebut," kata Rony, tukang ojek yang biasa mangkal di depan Hotel Maharani, Mampang.
Saat hujan, titik jalan yang berlubang itu akan tertutup air dan menggenang, sehingga berbahaya bagi pengendara. Sedangkan, saat cuaca terik, lubang-lubang itu akan mengeluarkan krikil kecil, sehingga membuat jalan terasa licin dan penuh debu.
Kemacetan di DKI juga tidak sepenuhnya karena lubang jalan, seperti yang terjadi di traffic light Asemka, Jakarta Barat. Guna menghindari kemacetan panjang, Direktorat Lalu Lintas melakukan rekayasa di Asemka sejak 26 Februari 2014. Memasuki Selasa (4/3), uji coba tersebut dinilai sukses. "Sirkulasinya bagus kok," kata Kepala Bagian Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budianto, Selasa (4/3).
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/03/05/n1ys9q-pengendara-di-bawah-ancaman-lubang-jalan
Label:
antrean
,
asemka
,
gembrong
,
jakarta
,
jalan
,
kampung
,
kemacetan
,
krikil
,
kuningan
,
licin
,
lubang
,
lubang-lubang
,
mampang
,
mobil-mobil
,
ngebut
,
pengendara
,
rol
,
titik
,
underpass
Kamis, 30 Januari 2014
Peta Resmi Google Sajikan Titik Banjir Jakarta
JAKARTA, KOMPAS.com - Sama seperti tahun lalu, Google, melalui layanan Crisis Response, kembali menyajikan informasi seputar banjir, termasuk peta sebaran titik-titik banjir.
Bedanya, layanan Google kali ini tampaknya akan memberikan informasi dengan cakupan yang lebih luas, yaitu dari seluruh wilayah Indonesia, tidak dari wilayah Ibu Kota Jakarta saja.
Google sendiri menamakan layanan tersebut sebagai "Banjir Indonesia 2014". Pengguna internet dapat mengakses laman ini untuk mengetahui daerah mana saja yang terkena dampak banjir.
"Banjir di berbagai wilayah Indonesia pada Januari 2014 menimbulkan banyak kerusakan dan memaksa puluhan ribu penduduk untuk meninggalkan rumah mereka," tulis Google di bagian "About" atau "Tentang" pada layanan ini.
Hingga berita ini dinaikkan, menurut pengamatan KompasTekno, Google baru menyajikan informasi titik banjir di wilayah Jakarta saja. Daerah-daerah yang terkena dampak banjir ditandai dengan pointer berwarna hijau dan biru.
Warna hijau merupakan titik posko banjir DKI Jakarta. Sementara, warna biru melambangkan wilayah RW (rukun warga) terdampak banjir.
Data titik banjir tersebut didapatkan oleh Google melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain informasi daerah yang terkena dampak banjir, Google juga menyajikan informasi seputar peringatan lalu lintas dari pengguna aplikasi peta Waze, informasi jalan raya, dan curah hujan.
Dengan adanya informasi di Google Crisis Response ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan bisa mengakses informasi terkini dengan cepat dan mudah lewat jaringan internet.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2014/01/29/1542200/Peta.Resmi.Google.Sajikan.Titik.Banjir.Jakarta
Bedanya, layanan Google kali ini tampaknya akan memberikan informasi dengan cakupan yang lebih luas, yaitu dari seluruh wilayah Indonesia, tidak dari wilayah Ibu Kota Jakarta saja.
Google sendiri menamakan layanan tersebut sebagai "Banjir Indonesia 2014". Pengguna internet dapat mengakses laman ini untuk mengetahui daerah mana saja yang terkena dampak banjir.
"Banjir di berbagai wilayah Indonesia pada Januari 2014 menimbulkan banyak kerusakan dan memaksa puluhan ribu penduduk untuk meninggalkan rumah mereka," tulis Google di bagian "About" atau "Tentang" pada layanan ini.
Hingga berita ini dinaikkan, menurut pengamatan KompasTekno, Google baru menyajikan informasi titik banjir di wilayah Jakarta saja. Daerah-daerah yang terkena dampak banjir ditandai dengan pointer berwarna hijau dan biru.
Warna hijau merupakan titik posko banjir DKI Jakarta. Sementara, warna biru melambangkan wilayah RW (rukun warga) terdampak banjir.
Data titik banjir tersebut didapatkan oleh Google melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain informasi daerah yang terkena dampak banjir, Google juga menyajikan informasi seputar peringatan lalu lintas dari pengguna aplikasi peta Waze, informasi jalan raya, dan curah hujan.
Dengan adanya informasi di Google Crisis Response ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan bisa mengakses informasi terkini dengan cepat dan mudah lewat jaringan internet.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2014/01/29/1542200/Peta.Resmi.Google.Sajikan.Titik.Banjir.Jakarta
Senin, 27 Januari 2014
Banjir Jakarta, 23 Tewas 27.912 Jiwa Masih Mengungsi
Liputan6.com, Jakarta : Banjir di sebagian wilayah Jakarta memang sudah mulai surut. Namun dampak dari bencana tersebut masih sangat dirasakan oleh warga di 5 wilayah Ibukota. Hingga saat ini, ribuan warga masih mengungsi.
"Saat ini jumlah pengungsi sebanyak 27.912 jiwa yang tersebar di 137 titik lokasi pengungsian," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwonugroho melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Minggu (26/1/2014).
Tak hanya memaksa warga DKI mengungsi, banjir juga menyebabkan puluhan warga meninggal. "Jumlah korban jiwa sebanyak 23 orang meninggal dunia," jelas Sutopo.
Berikut perincian data yang dikelauarklan oleh BNPB terkait bencana banjir yang menerjang Jakarta :
Jakarta Timur:
- Ketinggian air rata-rata 30 cm. Area yang terdampak : 5 kecamatan, 10 kelurahan, 48 RW, 312 RT, 12.507 KK, 41.434 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak ; 15.242 jiwa, yang tersebar di 46 titik lokasi pengungsian.
jakarta Selatan:
- Ketinggian air rata-rata: 15 - 30 cm. Area yang tedampak : 2 kecamatan, 4 kelurahan, 16 RW, 95 RT, 4.285 KK, 16.094 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak: 6.946 jiwa, yang tersebar di 24 titik lokasi pengungsian.
Jakarta Pusat:
- Ketinggian air rata-rata: 0 cm. Area yang terdampak: 1 kecamatan, 1 kelurahan, 7 RW, 113 RT, 5.474 KK, tidak ada korban jiwa. Tidak ada pengungsi.
Jakarta Barat:
- Ketinggian air rata-rata: 10 - 20 cm. Area yang terdampak 5 kecamatan, 11 kelurahan, 49 RW, 194 RT, 15.977 KK, 50.879 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 4.842 jiwa, yang tersebar di 60 titik lokasi pengungsian.
Jakarta Utara:
- Ketinggian air rata-rata 20 - 60 cmArea yang terdampak ; 1 kecamatan, 3 kelurahan, 16 RW, 138 RT. Jumlah pengungsi sebanyak 882 jiwa, yang tersebar di 7 titik lokasi pengungsian.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/810414/banjir-jakarta-23-tewas-27912-jiwa-masih-mengungsi
"Saat ini jumlah pengungsi sebanyak 27.912 jiwa yang tersebar di 137 titik lokasi pengungsian," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwonugroho melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Minggu (26/1/2014).
Tak hanya memaksa warga DKI mengungsi, banjir juga menyebabkan puluhan warga meninggal. "Jumlah korban jiwa sebanyak 23 orang meninggal dunia," jelas Sutopo.
Berikut perincian data yang dikelauarklan oleh BNPB terkait bencana banjir yang menerjang Jakarta :
Jakarta Timur:
- Ketinggian air rata-rata 30 cm. Area yang terdampak : 5 kecamatan, 10 kelurahan, 48 RW, 312 RT, 12.507 KK, 41.434 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak ; 15.242 jiwa, yang tersebar di 46 titik lokasi pengungsian.
jakarta Selatan:
- Ketinggian air rata-rata: 15 - 30 cm. Area yang tedampak : 2 kecamatan, 4 kelurahan, 16 RW, 95 RT, 4.285 KK, 16.094 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak: 6.946 jiwa, yang tersebar di 24 titik lokasi pengungsian.
Jakarta Pusat:
- Ketinggian air rata-rata: 0 cm. Area yang terdampak: 1 kecamatan, 1 kelurahan, 7 RW, 113 RT, 5.474 KK, tidak ada korban jiwa. Tidak ada pengungsi.
Jakarta Barat:
- Ketinggian air rata-rata: 10 - 20 cm. Area yang terdampak 5 kecamatan, 11 kelurahan, 49 RW, 194 RT, 15.977 KK, 50.879 Jiwa. Jumlah pengungsi sebanyak 4.842 jiwa, yang tersebar di 60 titik lokasi pengungsian.
Jakarta Utara:
- Ketinggian air rata-rata 20 - 60 cmArea yang terdampak ; 1 kecamatan, 3 kelurahan, 16 RW, 138 RT. Jumlah pengungsi sebanyak 882 jiwa, yang tersebar di 7 titik lokasi pengungsian.
Sumber : http://news.liputan6.com/read/810414/banjir-jakarta-23-tewas-27912-jiwa-masih-mengungsi
Selasa, 21 Januari 2014
Penanganan banjir Jakarta terkendala pengesahan APBD 2014
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan salah satu kendala penanganan banjir kali ini, yaitu terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2014 yang masih belum disahkan.
"Seperti kita ketahui, sampai dengan saat ini, APBD masih belum juga disahkan. Ini tentu jadi kendala bagi kami dalam melakukan langkah-langkah antisipasi banjir," kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Wiriyatmoko dalam konferensi pers di Balai Kota, Jakarta Pusat, Minggu.
Menurut Wiriyatmoko, sampai dengan saat ini, pihaknya masih mendapatkan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengantisipasi banjir di wilayah ibu kota.
Selain itu, sambung dia, untuk bantuan kebutuhan bayi dan balita, seperti susu, bubur bayi serta biskuit pengganti ASI, maka pihaknya memperoleh bantuan dari Kementerian Kesehatan.
"APBD DKI 2014 harusnya cepat disahkan. Kalau besok status tanggap darurat benar-benar diberlakukan, maka mau tidak mau, kami harus siapkan anggaran khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan," ujar Wiriyatmoko.
Berdasarkan data dari BPBD DKI, banjir yang terjadi di Kota Jakarta saat ini telah merendam sekitar 17,40 persen dari total wilayah, sedangkan saat banjir tahun lalu mencapai 17,73 persen.
"Kondisi ini sudah mendekati situasi banjir tahun lalu. Apalagi, ditambah dengan terganggunya roda perekonomian, seperti banjir yang merendam Stasiun Tanah Abang, sehingga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat," tutur Wiriyatmoko.
Saat ini, dia menambahkan terdapat 134 titik banjir dan genangan yang tersebar di wilayah DKI dengan total pengungsi mencapai 40.057 jiwa. Pihak BPBD telah mengerahkan sebanyak 1.539 personel di 300 titik rawan banjir.
Jika dibandingkan dengan 2013, banjir dan genangan terdapat di sebanyak 124 kelurahan dan 508 RW. Sedangkan, pada saat ini, banjir telah merendam sebanyak 89 kelurahan dan 371 RW.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/414833/penanganan-banjir-jakarta-terkendala-pengesahan-apbd-2014
"Seperti kita ketahui, sampai dengan saat ini, APBD masih belum juga disahkan. Ini tentu jadi kendala bagi kami dalam melakukan langkah-langkah antisipasi banjir," kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Wiriyatmoko dalam konferensi pers di Balai Kota, Jakarta Pusat, Minggu.
Menurut Wiriyatmoko, sampai dengan saat ini, pihaknya masih mendapatkan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengantisipasi banjir di wilayah ibu kota.
Selain itu, sambung dia, untuk bantuan kebutuhan bayi dan balita, seperti susu, bubur bayi serta biskuit pengganti ASI, maka pihaknya memperoleh bantuan dari Kementerian Kesehatan.
"APBD DKI 2014 harusnya cepat disahkan. Kalau besok status tanggap darurat benar-benar diberlakukan, maka mau tidak mau, kami harus siapkan anggaran khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan," ujar Wiriyatmoko.
Berdasarkan data dari BPBD DKI, banjir yang terjadi di Kota Jakarta saat ini telah merendam sekitar 17,40 persen dari total wilayah, sedangkan saat banjir tahun lalu mencapai 17,73 persen.
"Kondisi ini sudah mendekati situasi banjir tahun lalu. Apalagi, ditambah dengan terganggunya roda perekonomian, seperti banjir yang merendam Stasiun Tanah Abang, sehingga mengganggu aktivitas perekonomian masyarakat," tutur Wiriyatmoko.
Saat ini, dia menambahkan terdapat 134 titik banjir dan genangan yang tersebar di wilayah DKI dengan total pengungsi mencapai 40.057 jiwa. Pihak BPBD telah mengerahkan sebanyak 1.539 personel di 300 titik rawan banjir.
Jika dibandingkan dengan 2013, banjir dan genangan terdapat di sebanyak 124 kelurahan dan 508 RW. Sedangkan, pada saat ini, banjir telah merendam sebanyak 89 kelurahan dan 371 RW.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/414833/penanganan-banjir-jakarta-terkendala-pengesahan-apbd-2014
Label:
apbd
,
balai kota
,
banjir
,
bayi
,
bnpb
,
bpbd
,
dki
,
genangan
,
jakarta
,
kebutuhan
,
kelurahan
,
kendala
,
langkah-langkah
,
rw
,
sekretaris daerah
,
titik
,
total
,
wilayah
,
wiriyatmoko
Senin, 20 Januari 2014
Kerugian Banjir di Jakarta Utara Rp 100 M per Hari
TEMPO.CO , Jakarta - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, kerugian akibat banjir yang melanda Ibu Kota sejak Minggu, 13 Januari 2014 lalu ditaksir telah menelan kerugian hingga ratusan miliar rupiah. "Jika dilihat dari sebaran lokasi banjirnya, banyak kawasan bisnis dan industri yang lumpuh sehingga kerugian yang ditimbulkan sangat besar," ujarnya kepada Tempo, 19 Januari 2014.
Sebetulnya, kata Sarman, sewaktu banjir mulai melanda pada akhir pekan lalu, hanya wilayah pemukiman penduduk yang tergenang. Namun memasuki hari ketiga, intensitas hujan yang terus meningkat ditambah air kiriman dari daerah lain di luar Jakarta mengakibatkan titik sebaran banjir semakin banyak. "Kawasan bisnis dan industri pun kena sehingga aktivitas ekonomi lumpuh."
Salah satu wilayah dengan titik banjir yang berdampak pada terhambatnya kegiatan industri dan bisnis adalah Jakarta Utara. "Di sana ada 3 titik kawasan bisnis yang kami anggap paling parah terkena banjir yakni Tanjung Priok, Kelapa Gading, dan kawasan Mangga Dua." Sarman memperkirakan, setiap hari kerugian yang ditimbulkan akibat terhentinya aktivitas ekonomi di ketiga titik itu mencapai Rp 100 miliar rupiah.
Di kawasan Mangga Dua, kata Sarman, terdapat ribuan pedagang dan pengusaha yang terpaksa menutup toko ataupun kantornya karena banjir. "Penutupan ini menimbulkan kerugian berupa berkurangnya omzet." Berdasarkan pemantauan selama sepekan, dia menilai jumlah kerugian di Kawasan Mangga Dua yang memiliki 6 pusat perdagangan mencapai Rp 50 miliar per hari. "Asumsinya, ada 20 ribu toko dengan omzet rata-rata Rp 5 juta per hari." Nilai perkiraan kerugian yang sama juga dialami para pengusaha di wilayah Kelapa Gading.
Sedangkan, banjir yang menggenangi kawasan Tanjung Priok dan daerah lain yang menjadi akses menuju pelabuhan dinilai menimbulkan kerugian dari sisi logistik sebesar Rp 9 miliar per hari. "Akibat banjir, lalu lintas dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok macet parah maka cost yang ditanggung pengusaha logistik menjadi semakin besar."
Tidak hanya biaya logistik yang membengkak, banjir pun membuat aktivitas perekonomian di daerah lain terganggu. "Tanjung Priok kan pintu ekspor, impor, dan distribusi barang domestik terbesar, karena terhambat banji pasti dampaknya merembet dan kerugian jauh lebih besar," kata Sarman. "Nilainya bisa triliunan."
Meski demikian, nilai perkiraan kerugian ini barulah taksiran sementara. "Kami belum menerima ada laporan dari para pengusaha soal jumlah kerugian," ujar Sarman. Selain kerugian omzet yang menurun, dia menambahkan, banjir pun tentunya merusak fasilitas usaha.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/01/20/083546419/Kerugian-Banjir-di-Jakarta-Utara-Rp-100-M-per-Hari
Sebetulnya, kata Sarman, sewaktu banjir mulai melanda pada akhir pekan lalu, hanya wilayah pemukiman penduduk yang tergenang. Namun memasuki hari ketiga, intensitas hujan yang terus meningkat ditambah air kiriman dari daerah lain di luar Jakarta mengakibatkan titik sebaran banjir semakin banyak. "Kawasan bisnis dan industri pun kena sehingga aktivitas ekonomi lumpuh."
Salah satu wilayah dengan titik banjir yang berdampak pada terhambatnya kegiatan industri dan bisnis adalah Jakarta Utara. "Di sana ada 3 titik kawasan bisnis yang kami anggap paling parah terkena banjir yakni Tanjung Priok, Kelapa Gading, dan kawasan Mangga Dua." Sarman memperkirakan, setiap hari kerugian yang ditimbulkan akibat terhentinya aktivitas ekonomi di ketiga titik itu mencapai Rp 100 miliar rupiah.
Di kawasan Mangga Dua, kata Sarman, terdapat ribuan pedagang dan pengusaha yang terpaksa menutup toko ataupun kantornya karena banjir. "Penutupan ini menimbulkan kerugian berupa berkurangnya omzet." Berdasarkan pemantauan selama sepekan, dia menilai jumlah kerugian di Kawasan Mangga Dua yang memiliki 6 pusat perdagangan mencapai Rp 50 miliar per hari. "Asumsinya, ada 20 ribu toko dengan omzet rata-rata Rp 5 juta per hari." Nilai perkiraan kerugian yang sama juga dialami para pengusaha di wilayah Kelapa Gading.
Sedangkan, banjir yang menggenangi kawasan Tanjung Priok dan daerah lain yang menjadi akses menuju pelabuhan dinilai menimbulkan kerugian dari sisi logistik sebesar Rp 9 miliar per hari. "Akibat banjir, lalu lintas dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok macet parah maka cost yang ditanggung pengusaha logistik menjadi semakin besar."
Tidak hanya biaya logistik yang membengkak, banjir pun membuat aktivitas perekonomian di daerah lain terganggu. "Tanjung Priok kan pintu ekspor, impor, dan distribusi barang domestik terbesar, karena terhambat banji pasti dampaknya merembet dan kerugian jauh lebih besar," kata Sarman. "Nilainya bisa triliunan."
Meski demikian, nilai perkiraan kerugian ini barulah taksiran sementara. "Kami belum menerima ada laporan dari para pengusaha soal jumlah kerugian," ujar Sarman. Selain kerugian omzet yang menurun, dia menambahkan, banjir pun tentunya merusak fasilitas usaha.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/01/20/083546419/Kerugian-Banjir-di-Jakarta-Utara-Rp-100-M-per-Hari
Senin, 02 Desember 2013
Aplikasi Cerdas Pemantau Macet
TEMPO.CO, Jakarta - Mahasiswa Teknik Informatika ITB 2010 membuat aplikasi cerdas pemantau macet. Aplikasi bernama Smart Traffic Controller itu menyuguhkan kondisi real time kemacetan di jalan, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Aplikasi itu buatan Rizal Panji Islami dan Okharyadi Saputra. Mereka mengandalkan sistem Global Positioning System (GPS) pada telepon seluler pintar pengguna aplikasi. Dari GPS itu, terpantau posisi pengendara dan jalan mana saja yang dilalui.
Indikasi adanya hambatan di jalan atau kemacetan, berdasarkan dari menurunnya laju kendaraan. "Misalnya ketika berjalan lancar 40 km/jam, lalu turun menjadi 10 km/jam atau sampai diam di jalan raya tak seperti biasanya, kita bisa menghindari jalur itu," kata Rizal. Aplikasi tersebut dikhususkan bagi pengendara roda empat atau lebih.
Data seperti itu dari lebih satu orang pengguna, kemudian diolah server. Hasilnya menjadi peringatan adanya hambatan atau kemacetan. Di layar ponsel atau tablet, kemacetan itu berupa titik bulat hijau di atas peta.
Makin banyak pengguna yang mengalami kondisi seperti itu, informasi kemacetannya semakin akurat. Pada kondisi kendaraan antre karena lampu merah, server mengabaikan data itu. Kendaraan yang diam karena sedang diparkir juga tak masuk hitungan.
Di peta wilayah Jakarta, misalnya, Tempo melihat ada lima titik bulat berwarna hijau berkedip-kedip di layar laptop juga telepon seluler pintar. Sedangkan di Bandung pada saat bersamaan, ada sebelas titik serupa yang menyala. Pantauan lalu lintas itu pada Kamis, 28 November 2013, pukul 11.38 WIB.
Di Jakarta, titik hijau itu antara lain menyala di atas peta jalan tol Jakarta-Merak, Jalan Sultan Iskandar Muda dekat persimpangan dengan Jalan Penjernihan, serta di Palmerah. Sedangkan di Bandung, sebaran titik kemacetan di waktu yang sama terpantau di kawasan Dago, seperti Jalan Cisitu, Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Tubagus Ismail.
Selain itu, aplikasi yang menjadikan mereka terpilih sebagai Most Valuable Team di ajang Compfest di Universitas Indonesia, Oktober 2013, tersebut punya menu Route Access. Pilihan itu menunjukkan jarak terpendek dari titik berangkat ke tempat tujuan, lengkap dengan perkiraan waktu tempuh dengan kecepatan tertentu. Adapun menu Golden Way, akan menuntun pengendara ke jalur alternatif dan lowong jika jalan utama macet. Dua menu lainnya, yaitu biodata pengguna dan log out untuk keluar dari aplikasi.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/12/02/061533848/Aplikasi-Cerdas-Pemantau-Macet
Aplikasi itu buatan Rizal Panji Islami dan Okharyadi Saputra. Mereka mengandalkan sistem Global Positioning System (GPS) pada telepon seluler pintar pengguna aplikasi. Dari GPS itu, terpantau posisi pengendara dan jalan mana saja yang dilalui.
Indikasi adanya hambatan di jalan atau kemacetan, berdasarkan dari menurunnya laju kendaraan. "Misalnya ketika berjalan lancar 40 km/jam, lalu turun menjadi 10 km/jam atau sampai diam di jalan raya tak seperti biasanya, kita bisa menghindari jalur itu," kata Rizal. Aplikasi tersebut dikhususkan bagi pengendara roda empat atau lebih.
Data seperti itu dari lebih satu orang pengguna, kemudian diolah server. Hasilnya menjadi peringatan adanya hambatan atau kemacetan. Di layar ponsel atau tablet, kemacetan itu berupa titik bulat hijau di atas peta.
Makin banyak pengguna yang mengalami kondisi seperti itu, informasi kemacetannya semakin akurat. Pada kondisi kendaraan antre karena lampu merah, server mengabaikan data itu. Kendaraan yang diam karena sedang diparkir juga tak masuk hitungan.
Di peta wilayah Jakarta, misalnya, Tempo melihat ada lima titik bulat berwarna hijau berkedip-kedip di layar laptop juga telepon seluler pintar. Sedangkan di Bandung pada saat bersamaan, ada sebelas titik serupa yang menyala. Pantauan lalu lintas itu pada Kamis, 28 November 2013, pukul 11.38 WIB.
Di Jakarta, titik hijau itu antara lain menyala di atas peta jalan tol Jakarta-Merak, Jalan Sultan Iskandar Muda dekat persimpangan dengan Jalan Penjernihan, serta di Palmerah. Sedangkan di Bandung, sebaran titik kemacetan di waktu yang sama terpantau di kawasan Dago, seperti Jalan Cisitu, Sangkuriang, Dayang Sumbi, dan Tubagus Ismail.
Selain itu, aplikasi yang menjadikan mereka terpilih sebagai Most Valuable Team di ajang Compfest di Universitas Indonesia, Oktober 2013, tersebut punya menu Route Access. Pilihan itu menunjukkan jarak terpendek dari titik berangkat ke tempat tujuan, lengkap dengan perkiraan waktu tempuh dengan kecepatan tertentu. Adapun menu Golden Way, akan menuntun pengendara ke jalur alternatif dan lowong jika jalan utama macet. Dua menu lainnya, yaitu biodata pengguna dan log out untuk keluar dari aplikasi.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/12/02/061533848/Aplikasi-Cerdas-Pemantau-Macet
Rabu, 09 Oktober 2013
Tangkap Basah Pembuang Sampah, Satpol PP Menyamar
JAKARTA, KOMPAS.com — Ada saja cara petugas Satpol PP Kelurahan Kebon Bawang, Jakarta Utara, agar warga tidak sembarangan membuang sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) liar. Caranya, mereka menyamar, mengawasi dari jarak 10-20 meter dari lokasi, dan membawa kamera.
Kepala Satuan Petugas Satpol PP Kelurahan Kebon Bawang Solihin mengatakan, di setiap titik TPS liar, ditempatkan dua petugas Satpol PP. Selain bersembunyi di antara pepohonan dan warung rokok, para petugas itu juga melakukan patroli.
"Petugas yang sudah dibekali kamera tak hanya diam di satu tempat, tapi mereka juga mobile dan mengenakan pakaian bebas. Ini dilakukan untuk melancarkan aksi penyamaran," ujar Solihin saat dihubungi, Selasa, (8/10/2013).
Solihin mengatakan, petugas biasanya sudah mengetahui tanda-tanda warga yang hendak membuang sampah di TPS liar. Biasanya, kata dia, warga yang mau membuang sampah membawa kantong plastik ukuran sedang maupun besar. Biasanya, plastik itu diikat kuat supaya sampahnya tak berserakan.
Ketika mengetahui gerak-gerik warga yang hendak membuang sampah, kata Solihin, petugas kemudian sedikit mendekatinya. Hingga akhirnya, warga kedapatan membuang sampah, petugas langsung menangkap bersama barang bukti berupa sampah.
"Setelah tertangkap tangan, mereka kita beri teguran dan diperingatkan bahwa tak boleh buang sampah di sini," ujar Solihin.
Solihin menuturkan, bukan hanya pejalan kaki yang membuang sampah di lokasi itu, melainkan juga pengendara motor. Namun, untuk menangkap pelaku pembuang sampah yang menggunakan sepeda motor, petugas juga mencegatnya saat hendak kabur.
Solihin menjelaskan, dari ketiga titik tersebut, biasanya warga membuang sampah di waktu tertentu. Misalnya, di TPS liar yang di depan Puskesmas Kecamatan Tanjungpriok, warga rentan membuang sampah pada pukul 22.00-02.00, jembatan Jalan Bugis pada pukul 17.00-22.00, dan Saringan Kali Swasembada pukul 04.00-10.00.
Tindakan yang diambil oleh aparat Kelurahan Kebon Bawang rupanya tak sepenuhnya didukung oleh warganya. Rahmat (23), warga Swasembada X Kelurahan Kebon Bawang, menyebut hal itu hanya menimbulkan rasa malu bagi warga yang melanggar.
"Kalau ada cara lain, yah kan bisa dilakukan. Cari cara yang lebih elegan kan ada. Misalnya, petugas terus melakukan sosialisasi dan memasang spanduk. Bila perlu, kirimkan petugas untuk menjaganya," kata Rahmat
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/08/1846356/Tangkap.Basah.Pembuang.Sampah.Satpol.PP.Menyamar
Kepala Satuan Petugas Satpol PP Kelurahan Kebon Bawang Solihin mengatakan, di setiap titik TPS liar, ditempatkan dua petugas Satpol PP. Selain bersembunyi di antara pepohonan dan warung rokok, para petugas itu juga melakukan patroli.
"Petugas yang sudah dibekali kamera tak hanya diam di satu tempat, tapi mereka juga mobile dan mengenakan pakaian bebas. Ini dilakukan untuk melancarkan aksi penyamaran," ujar Solihin saat dihubungi, Selasa, (8/10/2013).
Solihin mengatakan, petugas biasanya sudah mengetahui tanda-tanda warga yang hendak membuang sampah di TPS liar. Biasanya, kata dia, warga yang mau membuang sampah membawa kantong plastik ukuran sedang maupun besar. Biasanya, plastik itu diikat kuat supaya sampahnya tak berserakan.
Ketika mengetahui gerak-gerik warga yang hendak membuang sampah, kata Solihin, petugas kemudian sedikit mendekatinya. Hingga akhirnya, warga kedapatan membuang sampah, petugas langsung menangkap bersama barang bukti berupa sampah.
"Setelah tertangkap tangan, mereka kita beri teguran dan diperingatkan bahwa tak boleh buang sampah di sini," ujar Solihin.
Solihin menuturkan, bukan hanya pejalan kaki yang membuang sampah di lokasi itu, melainkan juga pengendara motor. Namun, untuk menangkap pelaku pembuang sampah yang menggunakan sepeda motor, petugas juga mencegatnya saat hendak kabur.
Solihin menjelaskan, dari ketiga titik tersebut, biasanya warga membuang sampah di waktu tertentu. Misalnya, di TPS liar yang di depan Puskesmas Kecamatan Tanjungpriok, warga rentan membuang sampah pada pukul 22.00-02.00, jembatan Jalan Bugis pada pukul 17.00-22.00, dan Saringan Kali Swasembada pukul 04.00-10.00.
Tindakan yang diambil oleh aparat Kelurahan Kebon Bawang rupanya tak sepenuhnya didukung oleh warganya. Rahmat (23), warga Swasembada X Kelurahan Kebon Bawang, menyebut hal itu hanya menimbulkan rasa malu bagi warga yang melanggar.
"Kalau ada cara lain, yah kan bisa dilakukan. Cari cara yang lebih elegan kan ada. Misalnya, petugas terus melakukan sosialisasi dan memasang spanduk. Bila perlu, kirimkan petugas untuk menjaganya," kata Rahmat
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/08/1846356/Tangkap.Basah.Pembuang.Sampah.Satpol.PP.Menyamar
Senin, 07 Oktober 2013
Antisipasi banjir, 2.000 sumur dibuat dengan anggaran Rp 130 M
Salah satu cara antisipasi banjir tahunan di ibu kota, Pemprov DKI Jakarta membangun 2.000 sumur resapan di lima wilayah Jakarta. Untuk membangun sumur resapan itu, dana sebesar Rp 130 miliar telah disiapkan. Anggaran itu berasal dari APBD.
Pengerjaan 2.000 sumur resapan tersebut dilakukan oleh Dinas Energi. Hal ini berdasarkan Perda nomor 10 Tahun 2008 tentang struktur organisasi perangkat pemerintah daerah.
"Iya bener, kita kerjakan di lima wilayah kota. Tugas pokoknya itu di Dinas Energi, dulu dinas pertambangan, kemudian dinas pertambangan enggak ada makanya dialihkan ke dinas energi. Di Perda aturannya gitu, Perda Nomor 10 tahun 2008 tentang struktur organisasi perangkat daerah," ujar Kepala Dinas Energi dan Perindustrian Andi Baso saat dihubungi wartawan, Minggu (6/10).
Andi mengatakan, pengerjaan sumur resapan telah dimulai sejak awal tahun atau usai banjir besar akibat jebolnya tanggul Latuharhari pertengahan Januari lalu. Kemudian, pengerjaan pertama dilakukan di depan Gedung Blok G Balai Kota Jakarta pada Maret lalu.
Adapun target selesai akhir tahun ini. Apabila jika tidak memungkinkan maka akan diperpanjang 50 hari. "Kita usahakan Desember mudah-mudahan bisa selesai, bisa diperpanjang 50 hari kalau diperlukan karena masalah di lapangan," ucapnya.
Beberapa titik yang dikerjakan adalah Monas, sepanjang Jalan Kebun Sirih, Jalan Rasuna Said atau daerah-daerah yang berpotensi sebabkan genangan air tinggi. Istana pun juga dilakukan pembangunan sumur resapan, tetapi hanya sisi selatan Istana saja.
"Pokoknya daerah-daerah yang langganan banjir. Sisi selatan Istana, utara enggak boleh. Ya katanya itu daerah sakral kata tuan-tuan di negara ini sok tahu saja mereka itu," katanya.
Peran Dinas Pekerjaan Umum (PU) di sini hanya berkoordinasi titik-titik genangan yang diperlukan untuk dibuatkan sumur resapan. Adapun pengerjaannya dilakukan oleh rekanan dengan 20 paket.
"Rekanan pengerjaan, ada berapa paket lupa, lebih dari 20 paket rekanan. Bagi-bagi supaya lebih cepet pengerjaan," ucapnya.
Program pembangunan 2.000 sumur resapan dilakukan sebagai salah satu cara mengatasi banjir. Walaupun, secara garis besar tidak dapat menyelesaikan banjir.
"Iya salah satu cara lain atasi banjir. Tapi itu tidak menyelesaikan banjir hanya membantu saja agar genangan tidak tinggi. Kan air tanah terus berkurang supaya turun terus permukaan tanah. Kan banyak yang mengatakan air tanah berkurang makanya kita lakukan pembangunan sumur resapan," terangnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah Kepala Dinas PU Manggas Rudi Siahaan mengaku ada program 2.000 titik sumur resapan injeksi yang dikerjakan oleh Dinas Energi. Dinas PU hanya berperan memberikan 2.00 titik lokasi genangan air.
"Emang kita kerjasama dengan Pak Andi, karena anggaran dan kontrak kerjasama di dinas energi. Titiknya sebagian dari saya 2.00 itu dari PU, kita sampaikan ke Pak Andi," ucap Manggas.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/antisipasi-banjir-2000-sumur-dibuat-dengan-anggaran-rp-130-m.html
Pengerjaan 2.000 sumur resapan tersebut dilakukan oleh Dinas Energi. Hal ini berdasarkan Perda nomor 10 Tahun 2008 tentang struktur organisasi perangkat pemerintah daerah.
"Iya bener, kita kerjakan di lima wilayah kota. Tugas pokoknya itu di Dinas Energi, dulu dinas pertambangan, kemudian dinas pertambangan enggak ada makanya dialihkan ke dinas energi. Di Perda aturannya gitu, Perda Nomor 10 tahun 2008 tentang struktur organisasi perangkat daerah," ujar Kepala Dinas Energi dan Perindustrian Andi Baso saat dihubungi wartawan, Minggu (6/10).
Andi mengatakan, pengerjaan sumur resapan telah dimulai sejak awal tahun atau usai banjir besar akibat jebolnya tanggul Latuharhari pertengahan Januari lalu. Kemudian, pengerjaan pertama dilakukan di depan Gedung Blok G Balai Kota Jakarta pada Maret lalu.
Adapun target selesai akhir tahun ini. Apabila jika tidak memungkinkan maka akan diperpanjang 50 hari. "Kita usahakan Desember mudah-mudahan bisa selesai, bisa diperpanjang 50 hari kalau diperlukan karena masalah di lapangan," ucapnya.
Beberapa titik yang dikerjakan adalah Monas, sepanjang Jalan Kebun Sirih, Jalan Rasuna Said atau daerah-daerah yang berpotensi sebabkan genangan air tinggi. Istana pun juga dilakukan pembangunan sumur resapan, tetapi hanya sisi selatan Istana saja.
"Pokoknya daerah-daerah yang langganan banjir. Sisi selatan Istana, utara enggak boleh. Ya katanya itu daerah sakral kata tuan-tuan di negara ini sok tahu saja mereka itu," katanya.
Peran Dinas Pekerjaan Umum (PU) di sini hanya berkoordinasi titik-titik genangan yang diperlukan untuk dibuatkan sumur resapan. Adapun pengerjaannya dilakukan oleh rekanan dengan 20 paket.
"Rekanan pengerjaan, ada berapa paket lupa, lebih dari 20 paket rekanan. Bagi-bagi supaya lebih cepet pengerjaan," ucapnya.
Program pembangunan 2.000 sumur resapan dilakukan sebagai salah satu cara mengatasi banjir. Walaupun, secara garis besar tidak dapat menyelesaikan banjir.
"Iya salah satu cara lain atasi banjir. Tapi itu tidak menyelesaikan banjir hanya membantu saja agar genangan tidak tinggi. Kan air tanah terus berkurang supaya turun terus permukaan tanah. Kan banyak yang mengatakan air tanah berkurang makanya kita lakukan pembangunan sumur resapan," terangnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah Kepala Dinas PU Manggas Rudi Siahaan mengaku ada program 2.000 titik sumur resapan injeksi yang dikerjakan oleh Dinas Energi. Dinas PU hanya berperan memberikan 2.00 titik lokasi genangan air.
"Emang kita kerjasama dengan Pak Andi, karena anggaran dan kontrak kerjasama di dinas energi. Titiknya sebagian dari saya 2.00 itu dari PU, kita sampaikan ke Pak Andi," ucap Manggas.
Sumber : http://www.merdeka.com/jakarta/antisipasi-banjir-2000-sumur-dibuat-dengan-anggaran-rp-130-m.html
Label:
air tanah
,
andi
,
banjir
,
daerah-daerah
,
dinas
,
diperpanjang
,
energi
,
genangan
,
istana
,
manggas
,
paket
,
pengerjaan
,
perda
,
pu
,
rekanan
,
resapan
,
sumur
,
titik
,
ucap
Senin, 22 Juli 2013
Sampah dan Banjir seperti Dua Mata Koin di Jakarta
INILAH.COM, Jakarta - Sampah dan banjir masih menjadi persoalan yang tidak bisa dipisahkan dari ibu kota Jakarta. Sampah yang kerap menumpuk di pintu air sebagai salah satu penyebab Jakarta dilanda banjir. Misalnya, tumpukan sampah menggunung di Pintu air Manggarai.
Calon anggota DPD RI dari Jakarta, Rommy mengatakan persoalan sampah dan banjir di Jakarta bagaikan dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan.
"Pertanyaan yang mengusik saya adalah mengapa produksi sampah tidak berbanding positif dengan pembersihan sampah yang terus menerus menyebabkan persoalan sampah dan banjir menjadi dua mata koin yang tak terpisah," kata Rommy melalui rilisnya, di Jakarta, Jumat (19/7/2013).
Untuk itu, dia mengimbau seluruh warga Jakarta agar mengampanyekan kepada anak-anak agar tidak menjadi tukang nyampah namun menjadi tukang kelola sampah.
"Saya kira upaya Jokowi-Ahok yang sudah mati-matian ngurusin soal sampah akan sia-sia jika kesadaran warga rendah. Jadi yang pertama itu, soal kesadaran," kata Rommy.
Sehingga tidak menjadi alasan jika gaji belum dibayar empat bulan, pekerja harian pengangkut sampah mogok kerja, lalu sampah menggunung. Sebab fokus pada penanggulangan sampah yang dana operasional angkutnya saja bisa mencapai Rp2 miliar per hari.
Selain warga DKI Jakarta, kata Rommy, warga Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) juga harus diingatkan soal produksi sampah dan pengelolaannya. Sebab Jakarta sering dapat kiriman sampah dan banjir dari Depok, Bekasi. "Jadi, kalau bisa harus ada kebijakan serius dengan daerah," tegasnya.
Selain itu, karena DKI tidak punya pulau tersendiri untuk tempat pembuangan sampah (seperti yang dimiliki Singapura, misalnya), maka DKI sudah saatnya membuat titik baru pembuangan dan pengelolaan sampah.
"DKI perlu memikirkan sentra-sentra baru pembuangan dan pengelolaan sampah yang bisa dipusatkan di beberapa titik di DKI, dan jangan dipusatkan semua di Bantar Gebang," harap Rommy.
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/2011922/sampah-dan-banjir-seperti-dua-mata-koin-di-jakarta
Calon anggota DPD RI dari Jakarta, Rommy mengatakan persoalan sampah dan banjir di Jakarta bagaikan dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan.
"Pertanyaan yang mengusik saya adalah mengapa produksi sampah tidak berbanding positif dengan pembersihan sampah yang terus menerus menyebabkan persoalan sampah dan banjir menjadi dua mata koin yang tak terpisah," kata Rommy melalui rilisnya, di Jakarta, Jumat (19/7/2013).
Untuk itu, dia mengimbau seluruh warga Jakarta agar mengampanyekan kepada anak-anak agar tidak menjadi tukang nyampah namun menjadi tukang kelola sampah.
"Saya kira upaya Jokowi-Ahok yang sudah mati-matian ngurusin soal sampah akan sia-sia jika kesadaran warga rendah. Jadi yang pertama itu, soal kesadaran," kata Rommy.
Sehingga tidak menjadi alasan jika gaji belum dibayar empat bulan, pekerja harian pengangkut sampah mogok kerja, lalu sampah menggunung. Sebab fokus pada penanggulangan sampah yang dana operasional angkutnya saja bisa mencapai Rp2 miliar per hari.
Selain warga DKI Jakarta, kata Rommy, warga Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) juga harus diingatkan soal produksi sampah dan pengelolaannya. Sebab Jakarta sering dapat kiriman sampah dan banjir dari Depok, Bekasi. "Jadi, kalau bisa harus ada kebijakan serius dengan daerah," tegasnya.
Selain itu, karena DKI tidak punya pulau tersendiri untuk tempat pembuangan sampah (seperti yang dimiliki Singapura, misalnya), maka DKI sudah saatnya membuat titik baru pembuangan dan pengelolaan sampah.
"DKI perlu memikirkan sentra-sentra baru pembuangan dan pengelolaan sampah yang bisa dipusatkan di beberapa titik di DKI, dan jangan dipusatkan semua di Bantar Gebang," harap Rommy.
Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/2011922/sampah-dan-banjir-seperti-dua-mata-koin-di-jakarta
Label:
banjir
,
bekasi
,
depok
,
dipisahkan
,
dipusatkan
,
dki
,
jakarta
,
kesadaran
,
koin
,
pembuangan
,
pengelolaan
,
persoalan
,
pintu air
,
rommy
,
sampah
,
soal
,
titik
,
tukang
,
warga
Selasa, 02 Juli 2013
"Pak Ogah Malah Menambah Kemacetan"
JAKARTA, KOMPAS.com — Munculnya "pak ogah" merupakan salah satu dari sekian masalah lalu lintas mendasar yang selalu tak terselesaikan. Padahal, Pemerintah Pemprov DKI dan pihak kepolisian selalu mengeluarkan program penertiban lalu lintas setiap tahunnya.
Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Sambodo Purnomo mengatakan, keberadaan pak ogah di sejumlah titik terkadang membantu polisi mengatur lalu lintas. Namun mayoritas, kata dia, keberadaan pak ogah justru malah menambah kemacetan.
"Karena mereka mendahulukan yang membayar. Alhasil, malah menambah macet," kata Sambodo kepada Warta Kota, Jumat (21/6/2013).
Menurut Sambodo, dari perkiraan pihaknya di lapangam ada sekitar seratusan titik di ryas jalan di Jakarta yang kerap dimanfaatkan pak ogah untuk mengatur lalu lintas dan mendapatkan imbalan. Di beberapa titik rawan macet yang rutin dijaga polisi, dipastikan tidak akan ada pak ogah.
"Mereka ada di titik yang tidak dijaga polisi," ujarnya.
Ketiadaan polisi di sejumlah titik itu, tuturnya, karena tidak adanya personel untuk ditempatkan di sana. Karenanya, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta di antaranya Dishub DKI, Dinas Sosial, dan Satpol PP DKI untuk menertibkan keberadaan pak ogah tersebut.
"Di waktu yang tepat kita akan tertibkan mereka. Sebelumnya akan dikoordinasikan dengan pemprov, setelah rangkaian kegiatan Pam, kenaikan BBM, HUT DKI dan HUT Bhayangkara," ujar Sambodo.
Keberaaan pak ogah ini juga banyak dikeluhkan para pengendara motor dan pengendara mobil. Mereka kesal karena ketika melaju lurus terpaksa harus menginjak rem mendadak akibat polisi cepek menyetop mereka secara tiba-tiba, mendahulukan kendaraan yang memutar. Ada juga pengendara motor yang malah menyerempet pak ogah karena kesal. (kar/bum/m15)
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/07/01/1115182/.Pak.Ogah.Malah.Menambah.Kemacetan
Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Sambodo Purnomo mengatakan, keberadaan pak ogah di sejumlah titik terkadang membantu polisi mengatur lalu lintas. Namun mayoritas, kata dia, keberadaan pak ogah justru malah menambah kemacetan.
"Karena mereka mendahulukan yang membayar. Alhasil, malah menambah macet," kata Sambodo kepada Warta Kota, Jumat (21/6/2013).
Menurut Sambodo, dari perkiraan pihaknya di lapangam ada sekitar seratusan titik di ryas jalan di Jakarta yang kerap dimanfaatkan pak ogah untuk mengatur lalu lintas dan mendapatkan imbalan. Di beberapa titik rawan macet yang rutin dijaga polisi, dipastikan tidak akan ada pak ogah.
"Mereka ada di titik yang tidak dijaga polisi," ujarnya.
Ketiadaan polisi di sejumlah titik itu, tuturnya, karena tidak adanya personel untuk ditempatkan di sana. Karenanya, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta di antaranya Dishub DKI, Dinas Sosial, dan Satpol PP DKI untuk menertibkan keberadaan pak ogah tersebut.
"Di waktu yang tepat kita akan tertibkan mereka. Sebelumnya akan dikoordinasikan dengan pemprov, setelah rangkaian kegiatan Pam, kenaikan BBM, HUT DKI dan HUT Bhayangkara," ujar Sambodo.
Keberaaan pak ogah ini juga banyak dikeluhkan para pengendara motor dan pengendara mobil. Mereka kesal karena ketika melaju lurus terpaksa harus menginjak rem mendadak akibat polisi cepek menyetop mereka secara tiba-tiba, mendahulukan kendaraan yang memutar. Ada juga pengendara motor yang malah menyerempet pak ogah karena kesal. (kar/bum/m15)
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/07/01/1115182/.Pak.Ogah.Malah.Menambah.Kemacetan
Label:
bum
,
dishub
,
dki
,
hut
,
jakarta
,
keberadaan
,
kesal
,
lalu lintas
,
lapangam
,
macet
,
motor
,
ogah
,
pemprov
,
pengendara
,
polisi
,
ryas
,
sambodo
,
tertibkan
,
titik
Selasa, 09 April 2013
Ada Tempat Sampah, Warga Pilih Buang Sembarangan
JAKARTA, KOMPAS.com — Kesadaran sebagian warga Jakarta untuk membuang sampah di tempat yang disediakan sangat rendah. Hal itu membuat titik tumpukan sampah banyak muncul tidak pada tempatnya, tak terkecuali di Jakarta Selatan.
Beberapa titik sampah di Jakarta Selatan terdapat di sepanjang Jalan M Saidi, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan pun pada Senin (8/4/2013) pagi melakukan pembersihan sampah di jalan tersebut.
"Titik jalan ini mendapat perhatian khusus dari tim penilai Adipura karena ada beberapa titik pembuangan sampah ilegal," kata Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan Zaenal Syarifudin, Senin siang.
Menurut Zaenal, dari kegiatan tersebut dapat dilihat, meskipun ada depo sampah di jalan tersebut, masyarakat tetap membuat tempat pembuangan ilegal. Sejumlah depo yang telah disediakan dan pengangkutannya juga tidak pernah terlambat tidak membuat warga sadar dan lebih memilih membuang sampah yang terdekat dari rumahnya.
Ada tiga titik pembuangan sampah liar yang dibersihkan oleh petugas. Dari hasil pembersihan tersebut, sampah yang diangkut sebanyak 30 meter kubik atau sekitar 6,5 ton.
"Ada empat truk dan 10 mobil operasional sampah kecil yang diturunkan untuk mengangkutnya," ujar Zaenal.
Untuk itu, Zaenal meminta kepada pejabat lingkungan, seperti camat, lurah, dan RT/RW, agar bisa mengarahkan warganya untuk peduli lingkungan. Para pengurus lingkungan juga diminta mencarikan lahan untuk pembuangan sampah yang baik. Nantinya, kata dia, pihak suku dinas kebersihan yang akan menyediakan fasilitas pengangkutannya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/08/1424180/Ada.Tempat.Sampah.Warga.Pilih.Buang.Sembarangan
Beberapa titik sampah di Jakarta Selatan terdapat di sepanjang Jalan M Saidi, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan pun pada Senin (8/4/2013) pagi melakukan pembersihan sampah di jalan tersebut.
"Titik jalan ini mendapat perhatian khusus dari tim penilai Adipura karena ada beberapa titik pembuangan sampah ilegal," kata Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan Zaenal Syarifudin, Senin siang.
Menurut Zaenal, dari kegiatan tersebut dapat dilihat, meskipun ada depo sampah di jalan tersebut, masyarakat tetap membuat tempat pembuangan ilegal. Sejumlah depo yang telah disediakan dan pengangkutannya juga tidak pernah terlambat tidak membuat warga sadar dan lebih memilih membuang sampah yang terdekat dari rumahnya.
Ada tiga titik pembuangan sampah liar yang dibersihkan oleh petugas. Dari hasil pembersihan tersebut, sampah yang diangkut sebanyak 30 meter kubik atau sekitar 6,5 ton.
"Ada empat truk dan 10 mobil operasional sampah kecil yang diturunkan untuk mengangkutnya," ujar Zaenal.
Untuk itu, Zaenal meminta kepada pejabat lingkungan, seperti camat, lurah, dan RT/RW, agar bisa mengarahkan warganya untuk peduli lingkungan. Para pengurus lingkungan juga diminta mencarikan lahan untuk pembuangan sampah yang baik. Nantinya, kata dia, pihak suku dinas kebersihan yang akan menyediakan fasilitas pengangkutannya.
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/08/1424180/Ada.Tempat.Sampah.Warga.Pilih.Buang.Sembarangan
Label:
depo
,
dinas
,
ilegal
,
jakarta
,
jalan
,
kebersihan
,
kepala suku
,
lingkungan
,
pembersihan
,
pembuangan
,
pengangkutan
,
petukangan
,
saidi
,
sampah
,
selatan
,
suku
,
titik
,
warga
,
zaenal
Langganan:
Postingan
(
Atom
)