Merdeka.com - Tidak dipungkiri lagi bila Jakarta merupakan kota dengan kemacetan memprihatinkan di Indonesia. Bagi sebagian orang hal ini sangat menyebalkan sekaligus membosankan. Saat macet, biasanya seseorang jadi mudah emosi karena terlalu lama menunggu. Nah, agar acara menunggu makin menyenangkan, Anda bisa melakukan sesuatu untuk menambah penghasilan, lho!
Membuat Blog
Saat dalam kemacetan, cobalah memanfaatkan waktu untuk membuat blog dan mengisinya dengan keseharianmu yang menarik. Tidak perlu bingung dengan baterai smartphone yang cepat habis, sebab ada Xiaomi Redmi yang memiliki kapasitas baterai yang tahan lama. Anda bisa mendapatkannya di sini nih. Cobalah untuk aktif di blog dan ikutan kompetisi menulis yang hadiahnya bisa memberikan penghasilan lebih.
Membuat Online Shop
Online shop bisa menjadi pilihan utama untuk membuka peluang bisnis. Sambil menikmati kemacetan di Jakarta, sebaiknya kembangkan online shop milik Anda. Kemacetan tidak akan lagi membosankan, jika Anda memiliki banyak waktu untuk mengembangkan usaha dengan penghasilan yang menggiurkan.
Menjadi Freelance Writer
Memiliki kemampuan menulis berbahasa Inggris bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang melalui situs freelance. Carilah klien yang mau membayar karya tulis buatan Anda. Seringkali para klien meminta contoh tulisan sebagai bahan review sebelum memutuskan membayar jasa menulis.
Gabung di Forum Online
Untuk memanfaatkan waktu macet, cobalah untuk buka forum online yang akan memudahkan Anda untuk mengembangkan bisnis. Lumayan kan, sebelum ke kantor bisa mengerjakan bisnis sampingan terlebih dahulu.
Bergabung di Program Survey Online
Bermain gadget saat macet merupakan cara ampuh untuk membasmi rasa bosan. Di waktu ini, cobalah untuk bergabung dengan program survey online untuk mendapatkan penghasilan. Imbalan survey ini pada umumnya berupa uang tunai yang dapat diuangkan setelah mencapai batas tertentu. Namun ada pula yang memberi imbalan berupa voucher belanja menarik.
Bila setiap kemacetan dapat dilewati dengan mengerjakan hal seperti pada ulasan di atas, tentu kegiatan menunggu akan menjadi lebih menyenangkan. Semoga bermanfaat!
Sumber : http://www.merdeka.com/gaya/5-cara-dapatkan-penghasilan-dari-kemacetan-jakarta.html
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label macet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label macet. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 September 2015
5 Cara dapatkan penghasilan dari kemacetan Jakarta
Label:
baterai
,
bisnis
,
blog
,
diuangkan
,
forum
,
freelance
,
gadget
,
imbalan
,
kemacetan
,
klien
,
macet
,
online
,
penghasilan
,
redmi
,
shop
,
smartphone
,
survey
,
tahan lama
,
xiaomi
Selasa, 28 Juli 2015
Ahok Siap Berlakukan 'Lima Tertib' Ibu Kota
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok mengatakan Pemprov DKI akan berlakukan prinsip lima tertib di Ibu Kota Jakarta. Lima tertib tersebut meliputi tertib lalu lintas, tertib sampah, tertib hunian, tertib pajak dan tertib demonstrasi.
Ahok mengatakan semua ketertiban untuk kebaikan warga. Dia mencontohkan banyak warga Jakarta yang tidak menggunakan helm ketika berkendara.
"Misalnya contoh tertib lalu lintas, berapa banyak kecelakaan anak-anak bawa motor lawan arus ga pake helm ini membahayakan nyawa dia dan nyawa orang lain," kata Ahok, ketika menghadiri upacara di lapangan Pandam Jaya/Jayakarta, Cililitan, Jakarta Timur pada Senin (27/7).
Untuk tertib sampah, Ahok mengatakan banyak warga Jakarta yang mengeluhkan banjir setiap hujan. Menurutnya, hal tersebut karena banyaknya sampah yang menumpuk di saluran air.
"Terus tertib sampah kita selalu ngeluh banjir. Ujan dokit tergenang. Gimana enggak tergenang, semua got setinggi tanah kok. Ciliwung yang gitu indah mampet. Kita minta TNI turun untuk beresin," kata Ahok.
Ahok juga mengingikan adanya tertib hunian. Dirinya mengeluhkan hunian rumah susun yang diperjual belikan. Dalam tertib hunian salah satunya membahas keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima). Menurut Ahok, para PKL tidak dapat untung karena harus membayar tempat jualan ke preman.
Kemudian tertib pajak dan tertib demonstrasi. Ahok mencontohkan parkir liar yang berada di Jakarta. Menurutnya, jika harus dipunguti dari hasil parkir Pemprov Jakarta dapat 1,8 Triliun. Tapi nyatanya, Pemprov DKI hanya dapat 20 Miliar. Untuk tertib demontrasi, Ahok mengingkan masyarakat yang demo di Jakarta tidak mengganggu kegiatan masyarakat.
"Anda mau demo ya demo aja jangan sok muter-muter di bunderan HI bikin macet. Bikin macet ini rugi ekonomi berapa triliun nanti. Belum lagi ngerusak pot, nakut-nakutin orang. Ini enggak bener orang langsung enggak berani kerja pada ngumpet," kata Ahok.
Sumber : http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150727094107-20-68274/ahok-siap-berlakukan-lima-tertib-ibu-kota/
Ahok mengatakan semua ketertiban untuk kebaikan warga. Dia mencontohkan banyak warga Jakarta yang tidak menggunakan helm ketika berkendara.
"Misalnya contoh tertib lalu lintas, berapa banyak kecelakaan anak-anak bawa motor lawan arus ga pake helm ini membahayakan nyawa dia dan nyawa orang lain," kata Ahok, ketika menghadiri upacara di lapangan Pandam Jaya/Jayakarta, Cililitan, Jakarta Timur pada Senin (27/7).
Untuk tertib sampah, Ahok mengatakan banyak warga Jakarta yang mengeluhkan banjir setiap hujan. Menurutnya, hal tersebut karena banyaknya sampah yang menumpuk di saluran air.
"Terus tertib sampah kita selalu ngeluh banjir. Ujan dokit tergenang. Gimana enggak tergenang, semua got setinggi tanah kok. Ciliwung yang gitu indah mampet. Kita minta TNI turun untuk beresin," kata Ahok.
Ahok juga mengingikan adanya tertib hunian. Dirinya mengeluhkan hunian rumah susun yang diperjual belikan. Dalam tertib hunian salah satunya membahas keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima). Menurut Ahok, para PKL tidak dapat untung karena harus membayar tempat jualan ke preman.
Kemudian tertib pajak dan tertib demonstrasi. Ahok mencontohkan parkir liar yang berada di Jakarta. Menurutnya, jika harus dipunguti dari hasil parkir Pemprov Jakarta dapat 1,8 Triliun. Tapi nyatanya, Pemprov DKI hanya dapat 20 Miliar. Untuk tertib demontrasi, Ahok mengingkan masyarakat yang demo di Jakarta tidak mengganggu kegiatan masyarakat.
"Anda mau demo ya demo aja jangan sok muter-muter di bunderan HI bikin macet. Bikin macet ini rugi ekonomi berapa triliun nanti. Belum lagi ngerusak pot, nakut-nakutin orang. Ini enggak bener orang langsung enggak berani kerja pada ngumpet," kata Ahok.
Sumber : http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150727094107-20-68274/ahok-siap-berlakukan-lima-tertib-ibu-kota/
Rabu, 22 Juli 2015
Asiknya Keliling Kota Naik Bus Tingkat Saat Jakarta Lengang
TEMPO.CO, Jakarta - Pada pekan liburan lebaran, kondisi lalu lintas Jakarta lengang, karena ditinggalkan sebagian penghuninya yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri.
Jakarta yang biasanya macet dan berdebu pun menjelma menjadi kota yang terasa ramah bagi warganya. Kesempatan seperti ini biasanya tidak dilewatkan bagi masyarakat untuk menikmati kelengangan Jakarta sebelum cuti bersama berakhir hari ini, Selasa (21 Juli 2015).
Bus tingkat pun menjadi favorit warga untuk mengelilingi berbagai landmark kota Jakarta. Selain tidak dipungut biaya, bus-bus tersebut melewati jalan-jalan di koridor utama kota Jakarta seperti museum, Monas, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, hotel, dan pusat perbelanjaan.
Di setiap pos perhentian bis yang tersebar di beberapa titik, antrean warga antusias menunggu bus yang sudah beroperasi sejak Februari 2014 itu sudah terbentuk. Cukup panjang.
Termasuk rombongan keluarga Enjah dari Bandung. Dia mengaku puas bisa menikmati Jakarta dari lantai dua bus tanpa harus terhambat macet.
"Saya sama anak dan cucu ingin keliling kota Jakarta selagi enggak macet. Rasanya puas dan terbayar," ujar Enjah yang sebelumnya sudah mengunjungi Monas.
Kepuasan juga dirasakan Safitri yang mengaku bisa mengunjungi beberapa tempat dengan gratis menggunakan bus tingkat.
"Bisa pindah ke beberapa tempat tanpa dipungut biaya," kata Safitri, yang datang dari Depok bersama suami dan kedua anaknya.
"Sekarang liburan Lebaran jadi terasa murah apalagi Jakarta lagi lenggang jadi bisa nikmati Jakarta saat tidak macet," tambah Safitri yang baru pertama kali menggunakan bus tingkat.
Lima Armada
Sebanyak lima armada bus tingkat dengan kelir biru berkapasitas 60 dan 68 kursi itu dikerahkan selama libur lebaran dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
"Kemarin puncak ramainya penumpang," ujar petugas bus tingkat, Anggi, yang menambahkan penumpang bus tingkat membludak selama libur Lebaran.
Bus tingkat juga menjadi alternatif hiburan warga. Salah satu pengunjung Monas, Kina dan anaknya memilih naik bus tingkat karena harus menunggu empat jam untuk naik ke puncak Monas.
"Daripada tunggu lama saya pikir mending jalan-jalan dulu naik bus tingkat, nanti bisa mampir ke Museum Nasional juga," ujar Kina.
"Akhirnya bisa naik bus tingkat, anak saya sudah dari dulu ajak naik ini terus," kata dia.
Sumber : http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/07/21/090685367/asiknya-keliling-kota-naik-bus-tingkat-saat-jakarta-lengang
Jakarta yang biasanya macet dan berdebu pun menjelma menjadi kota yang terasa ramah bagi warganya. Kesempatan seperti ini biasanya tidak dilewatkan bagi masyarakat untuk menikmati kelengangan Jakarta sebelum cuti bersama berakhir hari ini, Selasa (21 Juli 2015).
Bus tingkat pun menjadi favorit warga untuk mengelilingi berbagai landmark kota Jakarta. Selain tidak dipungut biaya, bus-bus tersebut melewati jalan-jalan di koridor utama kota Jakarta seperti museum, Monas, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, hotel, dan pusat perbelanjaan.
Di setiap pos perhentian bis yang tersebar di beberapa titik, antrean warga antusias menunggu bus yang sudah beroperasi sejak Februari 2014 itu sudah terbentuk. Cukup panjang.
Termasuk rombongan keluarga Enjah dari Bandung. Dia mengaku puas bisa menikmati Jakarta dari lantai dua bus tanpa harus terhambat macet.
"Saya sama anak dan cucu ingin keliling kota Jakarta selagi enggak macet. Rasanya puas dan terbayar," ujar Enjah yang sebelumnya sudah mengunjungi Monas.
Kepuasan juga dirasakan Safitri yang mengaku bisa mengunjungi beberapa tempat dengan gratis menggunakan bus tingkat.
"Bisa pindah ke beberapa tempat tanpa dipungut biaya," kata Safitri, yang datang dari Depok bersama suami dan kedua anaknya.
"Sekarang liburan Lebaran jadi terasa murah apalagi Jakarta lagi lenggang jadi bisa nikmati Jakarta saat tidak macet," tambah Safitri yang baru pertama kali menggunakan bus tingkat.
Lima Armada
Sebanyak lima armada bus tingkat dengan kelir biru berkapasitas 60 dan 68 kursi itu dikerahkan selama libur lebaran dari pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
"Kemarin puncak ramainya penumpang," ujar petugas bus tingkat, Anggi, yang menambahkan penumpang bus tingkat membludak selama libur Lebaran.
Bus tingkat juga menjadi alternatif hiburan warga. Salah satu pengunjung Monas, Kina dan anaknya memilih naik bus tingkat karena harus menunggu empat jam untuk naik ke puncak Monas.
"Daripada tunggu lama saya pikir mending jalan-jalan dulu naik bus tingkat, nanti bisa mampir ke Museum Nasional juga," ujar Kina.
"Akhirnya bisa naik bus tingkat, anak saya sudah dari dulu ajak naik ini terus," kata dia.
Sumber : http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/07/21/090685367/asiknya-keliling-kota-naik-bus-tingkat-saat-jakarta-lengang
Jumat, 06 Februari 2015
Macet di Jakarta Bikin Bergidik, Ahok: Ini PR 30-40 Tahun
Jakarta - Kemacetan di Jakarta menjadi santapan sehari-hari warga yang melintas di Ibukota Indonesia ini. Bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat, bahkan oleh seorang Ahok pun.
"Emang iya (macet). Kalau kamu tidak punya sistem transportasi berbasis rel pasti macet. Jepang yang punya saja masih macet apalagi kita, makanya kita lagi bangun," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2015).
Masuk sebagai kota termacet di dunia, Ahok mengatakan butuh puluhan tahun agar kemacetan Jakarta bisa teratasi. Untuk sementara, menurut Ahok, silakan saja nikmati kemacetan yang semakin tidak mengenal waktu itu.
"Ini PR 30-40 tahun. Kita harus tahan saja, belum lagi yang ngeyel, untung saya tensi masih bagus kalau nggak stroke saya," kelakarnya.
Seirama dengan Ahok, Kadishub DKI Jakarta Benjamin Bukit kemacetan terjadi karena jumlah pertumbuhan kendaraan tidak berbanding lurus dengan pertambahan ruas jalan. Tidak sampai 1 persen setiap tahunnya.
“Kita tidak bisa mengerem laju pertumbuhan kendaraan. Luas jalan kota tahu sendiri dan setiap tahun cuma 0,01 persen.
Sumber : http://news.detik.com/read/2015/02/04/143421/2823436/10/macet-di-jakarta-bikin-bergidik-ahok-ini-pr-30-40-tahun
"Emang iya (macet). Kalau kamu tidak punya sistem transportasi berbasis rel pasti macet. Jepang yang punya saja masih macet apalagi kita, makanya kita lagi bangun," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2015).
Masuk sebagai kota termacet di dunia, Ahok mengatakan butuh puluhan tahun agar kemacetan Jakarta bisa teratasi. Untuk sementara, menurut Ahok, silakan saja nikmati kemacetan yang semakin tidak mengenal waktu itu.
"Ini PR 30-40 tahun. Kita harus tahan saja, belum lagi yang ngeyel, untung saya tensi masih bagus kalau nggak stroke saya," kelakarnya.
Seirama dengan Ahok, Kadishub DKI Jakarta Benjamin Bukit kemacetan terjadi karena jumlah pertumbuhan kendaraan tidak berbanding lurus dengan pertambahan ruas jalan. Tidak sampai 1 persen setiap tahunnya.
“Kita tidak bisa mengerem laju pertumbuhan kendaraan. Luas jalan kota tahu sendiri dan setiap tahun cuma 0,01 persen.
Sumber : http://news.detik.com/read/2015/02/04/143421/2823436/10/macet-di-jakarta-bikin-bergidik-ahok-ini-pr-30-40-tahun
Label:
ahok
,
balai kota
,
benjamin
,
emang
,
jakarta
,
kadishub
,
kelakar
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kota
,
macet
,
ngeyel
,
pertambahan
,
pertumbuhan
,
punya
,
santapan
,
seirama
,
tensi
,
termacet
Rabu, 04 Februari 2015
10 Kota Termacet di Dunia, Jakarta Nomor 1
WARTA KOTA, PALMERAH—Di manakah kota yang paling macet di dunia? Mengacu pada Castrol’s Magnatec Stop-Start index, maka jawabannya adalah Jakarta, Ibu Kota Indonesia.
Menurut indeks tersebut, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Indeks ini mengacu dari data navigasi pengguna Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut kemudian dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahun di 78 negara.
Bukan hanya Jakarta, kota di Indonesia yang masuk dalam daftar ini. Surabaya, Ibu Kota provinsi Jawa Timur berada di peringkat keempat sebagai kota termacet di dunia. Rata-rata, terjadi 29.880 kemacetan setiap tahun di Surabaya.
Istanbul, Turki menjadi kota kedua yang paling macet di dunia. Sedikitnya terjadi 32.520 kemacetan per tahun. Mexico City, Meksiko, berada di urutan ketiga dengan 30.840 kemacetan setiap tahun.
Tampere, Finlandia, menjadi kota yang paling lancar di dunia. Rata-rata hanya terjadi 6.240 berhenti-jalan. Rotterdam, Belanda, di mana mayoritas penduduknya bersepeda, berada di peringkat kedua setelah Tampere dengan 6.360 kemacetan per tahun.
Berikut ini daftar kota termacet di dunia menurut Castrol’s Magnatec Stop-Start index.
10. Buenos Aires, Argentina - 23,760
9. Guadalajara, Mexico - 24,840
8. Bangkok, Thailand - 27,480
7. Roma, Italia - 28,680
6. Moskow, Rusia - 28,680
5. St. Petersburg, Rusia - 29,040
4. Surabaya, Indonesia - 29,880
3. Mexico City, Mexico - 30,840
2. Istanbul, Turki - 32,520
1. Jakarta, Indonesia - 33,240
Berikut ini daftar kota paling tidak macet di dunia.
10. Kosice, Slovakia - 7,440
9. Lopenhagen, Denmark - 7,440
8. Brno, Republik Ceska - 7,320
7. Porto, Portugal - 7,200
6. Antwerp, Belgia - 7,080
5. Brisbane, Australia - 6,960
3. Abu Dhabi, Uni Emirat Arab - 6,840
3. Bratislava, Slovakia - 6,840
2. Rotterdam, Belanda - 6,360
1. Tampere, Finlandia - 6,240
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2015/02/04/10-kota-termacet-di-dunia-jakarta-nomor-1
Menurut indeks tersebut, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Indeks ini mengacu dari data navigasi pengguna Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut kemudian dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahun di 78 negara.
Bukan hanya Jakarta, kota di Indonesia yang masuk dalam daftar ini. Surabaya, Ibu Kota provinsi Jawa Timur berada di peringkat keempat sebagai kota termacet di dunia. Rata-rata, terjadi 29.880 kemacetan setiap tahun di Surabaya.
Istanbul, Turki menjadi kota kedua yang paling macet di dunia. Sedikitnya terjadi 32.520 kemacetan per tahun. Mexico City, Meksiko, berada di urutan ketiga dengan 30.840 kemacetan setiap tahun.
Tampere, Finlandia, menjadi kota yang paling lancar di dunia. Rata-rata hanya terjadi 6.240 berhenti-jalan. Rotterdam, Belanda, di mana mayoritas penduduknya bersepeda, berada di peringkat kedua setelah Tampere dengan 6.360 kemacetan per tahun.
Berikut ini daftar kota termacet di dunia menurut Castrol’s Magnatec Stop-Start index.
10. Buenos Aires, Argentina - 23,760
9. Guadalajara, Mexico - 24,840
8. Bangkok, Thailand - 27,480
7. Roma, Italia - 28,680
6. Moskow, Rusia - 28,680
5. St. Petersburg, Rusia - 29,040
4. Surabaya, Indonesia - 29,880
3. Mexico City, Mexico - 30,840
2. Istanbul, Turki - 32,520
1. Jakarta, Indonesia - 33,240
Berikut ini daftar kota paling tidak macet di dunia.
10. Kosice, Slovakia - 7,440
9. Lopenhagen, Denmark - 7,440
8. Brno, Republik Ceska - 7,320
7. Porto, Portugal - 7,200
6. Antwerp, Belgia - 7,080
5. Brisbane, Australia - 6,960
3. Abu Dhabi, Uni Emirat Arab - 6,840
3. Bratislava, Slovakia - 6,840
2. Rotterdam, Belanda - 6,360
1. Tampere, Finlandia - 6,240
Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2015/02/04/10-kota-termacet-di-dunia-jakarta-nomor-1
Senin, 27 Oktober 2014
Akibat Macet, Investor Asing Tak Ada yang Mau Berbisnis di Jakarta
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang, DKI Jakarta akan semakin padat menjadi pusat bisnis. Namun investor asing bisa pindah ke kota lain setelah melihat kepadatan volume jalan yang semakin macet.
Deputi gubernur Bidang industri, perdagangan dan transportasi pemprov DKI Jakarta Sutanto Soehodho memaparkan bahwa selama terjadi kemacetan parah di Ibu Kota, banyak investor akan berpikir dua kali untuk menanam modal di Jakarta.
"Mungkin nggak ada orang yang mau berbisnis ke jakarta kalau macet," ujar Sutanto, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Jumat (24/10/2014).
Untuk mengatasi hal tersebut, Sutanto memaparkan bahwa Jakarta membutuhkan infrastruktur yang memadai. Dalam hal ini jalan tol dan jembatan layang diperlukan untuk memperlancar volume kendaraan.
"Kalau infrastruktur dibangun dengan baik, tentunya bisnis itu hidup. Jadi kita harus bangun infrastrutkur," ungkap Sutanto.
Sutanto juga mengingatkan yang menghidupkan Jakarta bukan hanya infrastruktur, namun juga sumber daya manusianya. Sutanto membayangkan Ibu Kota punya pekerjaan rumah besar untuk membangun infrastruktur dan manusianya.
"Ya kita ingin segera membangun cepat. Tentu local goverment," papar Sutanto.
Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/24/akibat-macet-investor-asing-tak-ada-yang-mau-berbisnis-di-jakarta
Deputi gubernur Bidang industri, perdagangan dan transportasi pemprov DKI Jakarta Sutanto Soehodho memaparkan bahwa selama terjadi kemacetan parah di Ibu Kota, banyak investor akan berpikir dua kali untuk menanam modal di Jakarta.
"Mungkin nggak ada orang yang mau berbisnis ke jakarta kalau macet," ujar Sutanto, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Jumat (24/10/2014).
Untuk mengatasi hal tersebut, Sutanto memaparkan bahwa Jakarta membutuhkan infrastruktur yang memadai. Dalam hal ini jalan tol dan jembatan layang diperlukan untuk memperlancar volume kendaraan.
"Kalau infrastruktur dibangun dengan baik, tentunya bisnis itu hidup. Jadi kita harus bangun infrastrutkur," ungkap Sutanto.
Sutanto juga mengingatkan yang menghidupkan Jakarta bukan hanya infrastruktur, namun juga sumber daya manusianya. Sutanto membayangkan Ibu Kota punya pekerjaan rumah besar untuk membangun infrastruktur dan manusianya.
"Ya kita ingin segera membangun cepat. Tentu local goverment," papar Sutanto.
Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/24/akibat-macet-investor-asing-tak-ada-yang-mau-berbisnis-di-jakarta
Label:
bisnis
,
dki
,
goverment
,
ibu kota
,
infrastruktur
,
infrastrutkur
,
investor
,
jakarta
,
jalan tol
,
luwansa
,
macet
,
manusia
,
mea
,
rumah besar
,
soehodho
,
sumber daya
,
sutanto
,
tribunnews
,
volume
Jumat, 24 Oktober 2014
Jakarta Jadi Kota Paling Macet di Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dari data Kementerian Perhubungan, DKI Jakarta memiliki ratio volume kemacetan 10-20 km/jam Vc ratio 0,85. Dalam hal itu berarti ibukota telah menjadi kota paling parah kemacetannya di negara ini.
"Ya Jakarta bisa dikatakan paling macet di Indonesia," ujar Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman di Jakarta, Selasa (21/10/2014).
Dibandingkan kota lain, jarak tempuh sebuah kendaraan roda empat dalam 24 jam, rata-rata mencapai 10 sampai 20 km per jam saja. Karena kendaraan di Jakarta sudah terlalu penuh, sedangkan volume jalan sudah melebihi kapasitas dari yang bisa ditampung.
"VC ratio-nya mencapai 0,85 persen, artinya volume kendaraan yang ada di Jakarta telah mendekati kapasitas jalan yang sudah dibangun," ungkap Yugi.
Karena hal tersebut Yugi mengungkapkan pemerintah melakukan berbagai cara untuk bisa mengatasi hal tersebut. Salah satu caranya dengan menggunakan ERP dan menambah armada angkutan transportasi umum.
"Kota Jakarta perlu perhatian khusus untuk lalu lintasnya," jelas Yugi.
Selain Jakarta, dari data Kementerian Perhubungan ada 10 kota yang memiliki kemacetan terparah di Indonesia:
1. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
2. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
3. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
4. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
5. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
6. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
7. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
8. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
9. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
10. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/21/jakarta-jadi-kota-paling-macet-di-indonesia
"Ya Jakarta bisa dikatakan paling macet di Indonesia," ujar Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman di Jakarta, Selasa (21/10/2014).
Dibandingkan kota lain, jarak tempuh sebuah kendaraan roda empat dalam 24 jam, rata-rata mencapai 10 sampai 20 km per jam saja. Karena kendaraan di Jakarta sudah terlalu penuh, sedangkan volume jalan sudah melebihi kapasitas dari yang bisa ditampung.
"VC ratio-nya mencapai 0,85 persen, artinya volume kendaraan yang ada di Jakarta telah mendekati kapasitas jalan yang sudah dibangun," ungkap Yugi.
Karena hal tersebut Yugi mengungkapkan pemerintah melakukan berbagai cara untuk bisa mengatasi hal tersebut. Salah satu caranya dengan menggunakan ERP dan menambah armada angkutan transportasi umum.
"Kota Jakarta perlu perhatian khusus untuk lalu lintasnya," jelas Yugi.
Selain Jakarta, dari data Kementerian Perhubungan ada 10 kota yang memiliki kemacetan terparah di Indonesia:
1. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
2. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
3. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
4. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
5. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
6. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
7. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
8. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
9. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
10. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/21/jakarta-jadi-kota-paling-macet-di-indonesia
Label:
data
,
indonesia
,
jakarta
,
jam
,
kapasitas
,
kemacetan
,
kementrian
,
kendaraan
,
km
,
kota
,
macet
,
perhubungan
,
ratio
,
terparah
,
transportasi
,
umum
,
vc
,
volume
,
yugi
Selasa, 21 Oktober 2014
Kemacetan Jakarta sudah sulit terurai
Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan kemacetan di Jakarta sulit terurai. Tercatat kemacetan di ibu kota negara ini, berdasarkan data Direktorat BTSP Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, volume to capacity (VC) ratio mencapai 0,85 persen. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 kilometer per jam. Saat ini, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
"Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjalan itu," katanya saat acara 'Diskusi mengenai ERP' di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10).
Selain Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Di luar jawa, daerah yang bakal macet parah, du Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. "Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia," jelas dia.
Kemacetan di DKI Jakarta, kata dia, semakin semrawut. Jakarta jadi satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih. "Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu," ungkapnya.
Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia menurut Kementerian Perhubungan.
1. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
2. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
3. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
4. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
6. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
7. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
9. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
11. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/kemacetan-jakarta-sudah-sulit-terurai.html
Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 kilometer per jam. Saat ini, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,7.
"Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjalan itu," katanya saat acara 'Diskusi mengenai ERP' di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10).
Selain Jakarta, kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Di luar jawa, daerah yang bakal macet parah, du Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. "Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia," jelas dia.
Kemacetan di DKI Jakarta, kata dia, semakin semrawut. Jakarta jadi satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih. "Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu," ungkapnya.
Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia menurut Kementerian Perhubungan.
1. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
2. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
3. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
4. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
6. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
7. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
9. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61
10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
11. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/kemacetan-jakarta-sudah-sulit-terurai.html
Label:
bekasi
,
depok
,
jakarta
,
jam
,
kecepatan
,
kemacetan
,
kementerian
,
km
,
kondisi
,
krusial
,
lalu lintas
,
lintas
,
macet
,
makassar
,
palembang
,
perhubungan
,
ratio
,
vc
,
volume
Kamis, 11 September 2014
Bayar Rp 28 Juta/Jam, Taksi Ini Tawarkan Bebas Macet di Jakarta
MedanBisnis - Jakarta .Sudut kota DKI Jakarta dan sekitarnya selalu diwarnai kemacetan setiap hari. Akibatnya mobilitas orang menjadi terganggu khususnya bagi kalangan pebisnis yang menghargai waktu.
Melihat kondisi ini, ada perusahaan taksi yang menawarkan jasa angkutan bebas macet. Taksi bebas macet ini memakai moda helikopter. Jasa taksi udara ini ditawarkan oleh PT Whitesky Aviation. Untuk sekali naik, konsumen dikenakan biaya US$ 2.800 per jam atau sekitar Rp 28 juta.
"Ongkos sewa per jam minimum per hari sewanya 2 jam. Per jam US$ 2.800. Itu dapat fasilitas fuel dan lounge," kata Sales Executive Officer Whitesky Aviation Rossiano I. Sukur kepada detikFinance pada acara pameran transportasi di Smesco Tower, Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Whitesky menyediakan 5 unit helikopter jenis Bell 407 dan Bell 409. Sebanyak 2 unit disiagakan di Jakarta dan 3 unit di Balikpapan Kalimantan Timur. Sekali terbang, taksi udara mampu membawa 4 penumpang.
Untuk area Jakarta, taksi udara menyasar kalangan pebisnis dan perusahaan. "Balikpapan untuk mining and plantation company. Kita sudah kontrak. Kalau Jakarta kebanyakan buat bisnis," sebutnya.
Taksi udara ini juga bisa difungsikan sebagai ambulans darurat untuk keperluan evakuasi udara (medical evacuation).
Untuk menyewa taksi udara, konsumen bisa menghubungi pihak operator 2 jam sebelum penggunaan. Taksi ini juga bisa mendarat pada fasilitas helipad yang ada di atas gedung-gedung kota Jakarta.
Selain menawarkan jasa sewa helikopter, Whitesky juga menawarkan jasa foto udara memakai pesawat baling-baling tipe Cessna 402. Biaya sewa pesawat ini lebih murah ketimbang taksi udara yakni senilai US$ 1.710 per jam.
"Itu untuk survey geothermal, Pemda juga sewa untuk foto kota dari atas," katanya.
Sumber : http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/09/10/116786/bayar_rp_28_juta_jam_taksi_ini_tawarkan_bebas_macet_di_jakarta
Melihat kondisi ini, ada perusahaan taksi yang menawarkan jasa angkutan bebas macet. Taksi bebas macet ini memakai moda helikopter. Jasa taksi udara ini ditawarkan oleh PT Whitesky Aviation. Untuk sekali naik, konsumen dikenakan biaya US$ 2.800 per jam atau sekitar Rp 28 juta.
"Ongkos sewa per jam minimum per hari sewanya 2 jam. Per jam US$ 2.800. Itu dapat fasilitas fuel dan lounge," kata Sales Executive Officer Whitesky Aviation Rossiano I. Sukur kepada detikFinance pada acara pameran transportasi di Smesco Tower, Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Whitesky menyediakan 5 unit helikopter jenis Bell 407 dan Bell 409. Sebanyak 2 unit disiagakan di Jakarta dan 3 unit di Balikpapan Kalimantan Timur. Sekali terbang, taksi udara mampu membawa 4 penumpang.
Untuk area Jakarta, taksi udara menyasar kalangan pebisnis dan perusahaan. "Balikpapan untuk mining and plantation company. Kita sudah kontrak. Kalau Jakarta kebanyakan buat bisnis," sebutnya.
Taksi udara ini juga bisa difungsikan sebagai ambulans darurat untuk keperluan evakuasi udara (medical evacuation).
Untuk menyewa taksi udara, konsumen bisa menghubungi pihak operator 2 jam sebelum penggunaan. Taksi ini juga bisa mendarat pada fasilitas helipad yang ada di atas gedung-gedung kota Jakarta.
Selain menawarkan jasa sewa helikopter, Whitesky juga menawarkan jasa foto udara memakai pesawat baling-baling tipe Cessna 402. Biaya sewa pesawat ini lebih murah ketimbang taksi udara yakni senilai US$ 1.710 per jam.
"Itu untuk survey geothermal, Pemda juga sewa untuk foto kota dari atas," katanya.
Sumber : http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/09/10/116786/bayar_rp_28_juta_jam_taksi_ini_tawarkan_bebas_macet_di_jakarta
Selasa, 02 September 2014
"Jakarta Harus Dibangun seperti Chicago"
JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi macet Jakarta yang sudah tidak masuk akal membutuhkan penanganan cepat, dan tepat. Jakarta, mau tidak mau, harus mengacu pada Chicago. Kota di Amerika Serikat ini punya masalah serupa dengan Jakarta, yakni kemacetan dan keserawutan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengutarakan hal tersebut terkait rencana besar menjadikan Jakarta sebagai kota dengan konektivitas tinggi, kepada Kompas.com, Jumat (29/8/2014).
"Kapasitas infrastruktur jalan Jakarta sangat terbatas, sementara pertumbuhan bangkitan manusia dan kendaraan semakin tinggi. Jakarta tuh bangun gedung-gedung dulu baru jalan. Chicago juga sama saja, bangun rumah, hotel, pusat belanja, dan apartemen tinggi-tinggi, tapi jalan diabaikan," ujar Basuki yang akrab disapa Ahok.
Jalan keluarnya, lanjut Ahok, Chicago membangun jalur lingkar tak sebidang berbasis rel (elevated loop line). "Untuk mengatasi macet, Jakarta harus seperti Chicago. Bangun loop line-loop line dengan berdasarkan back bone yang sudah ada baik dari Utara Selatan, maupun Timur dan Barat. Ambisi kita adalah membangun integrated connectivity transportation," kata Ahok.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, tambah dia, harus disediakan fasilitas park and ride yang besar dan representatif. Fasilitas park and ride ini akan terkoneksi dengan MRT atau busway.
"Hanya dengan cara itu, Jakarta bisa keluar dari masalah akut kemacetan. Mau bagaimana lagi? Bangunan-bangunan tinggi, gedung-gedung pencakar langit kadung dibangun," tandas Ahok.
Sebelumnya diberitakan untuk mengatasi kemacetan dan terbatasnya kapasitas jalan, Pemprov DKI Jakarta menggenjot pembangunan infrastruktur melalui megaproyek jalur lingkar layang bersama PT Kereta Api Indonesia.
Pemerintah pusat bertanggung jawab pada pembangunan fisik rel, Pemprov DKI pada sarana dan prasarana pendukung, dan PT KAI pada pengadaan kereta. Proyek pembangunan akan menelan biaya hingga Rp 9 triliun untuk seluruh jalur lingkar sepanjang 27 kilometer.
Sebanyak Rp 2,5 triliun untuk lintas timur (Kampung Bandan-Senen-Pondok Jati) sejauh 10 kilometer, sedangkan sisanya untuk lintas barat (Manggarai-Tanah Abang-Angke-Kampung Bandan) yang memiliki jarak 17 kilometer.
Sumber : http://properti.kompas.com/read/2014/08/29/174025121/.Jakarta.Harus.Dibangun.seperti.Chicago
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengutarakan hal tersebut terkait rencana besar menjadikan Jakarta sebagai kota dengan konektivitas tinggi, kepada Kompas.com, Jumat (29/8/2014).
"Kapasitas infrastruktur jalan Jakarta sangat terbatas, sementara pertumbuhan bangkitan manusia dan kendaraan semakin tinggi. Jakarta tuh bangun gedung-gedung dulu baru jalan. Chicago juga sama saja, bangun rumah, hotel, pusat belanja, dan apartemen tinggi-tinggi, tapi jalan diabaikan," ujar Basuki yang akrab disapa Ahok.
Jalan keluarnya, lanjut Ahok, Chicago membangun jalur lingkar tak sebidang berbasis rel (elevated loop line). "Untuk mengatasi macet, Jakarta harus seperti Chicago. Bangun loop line-loop line dengan berdasarkan back bone yang sudah ada baik dari Utara Selatan, maupun Timur dan Barat. Ambisi kita adalah membangun integrated connectivity transportation," kata Ahok.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, tambah dia, harus disediakan fasilitas park and ride yang besar dan representatif. Fasilitas park and ride ini akan terkoneksi dengan MRT atau busway.
"Hanya dengan cara itu, Jakarta bisa keluar dari masalah akut kemacetan. Mau bagaimana lagi? Bangunan-bangunan tinggi, gedung-gedung pencakar langit kadung dibangun," tandas Ahok.
Sebelumnya diberitakan untuk mengatasi kemacetan dan terbatasnya kapasitas jalan, Pemprov DKI Jakarta menggenjot pembangunan infrastruktur melalui megaproyek jalur lingkar layang bersama PT Kereta Api Indonesia.
Pemerintah pusat bertanggung jawab pada pembangunan fisik rel, Pemprov DKI pada sarana dan prasarana pendukung, dan PT KAI pada pengadaan kereta. Proyek pembangunan akan menelan biaya hingga Rp 9 triliun untuk seluruh jalur lingkar sepanjang 27 kilometer.
Sebanyak Rp 2,5 triliun untuk lintas timur (Kampung Bandan-Senen-Pondok Jati) sejauh 10 kilometer, sedangkan sisanya untuk lintas barat (Manggarai-Tanah Abang-Angke-Kampung Bandan) yang memiliki jarak 17 kilometer.
Sumber : http://properti.kompas.com/read/2014/08/29/174025121/.Jakarta.Harus.Dibangun.seperti.Chicago
Jumat, 15 Agustus 2014
Aplikasi Uber Berharap Bisa Kurangi Macet di Jakarta
VIVAnews - Bagi yang tinggal di kota besar, macet dan polusi menjadi makanan sehari-hari. Jika merasa bosan dengan itu semua, baiknya download aplikasi pemesan kendaraan, Uber. Jika banyak pengguna, mungkin macet dan polusi bisa berkurang perlahan.
Selain macet dan polusi, banyak juga kekhawatiran akan tindak kejahatan yang terjadi ketika menggunakan transportasi umum. Atas dasar tersebut aplikasi Uber meluncurkan secara resmi keberadaannya di Indonesia.
Uber memberikan fasilitas kepada pelanggannya untuk bisa menikmati alat transportasi bersih, nyaman, aman, elegan, dan berkelas. Uber sendiri merupakan perusahaan teknologi yang menghubungkan penumpang dengan transportasi, sehingga memungkinkan penumpang dapat berpergian dengan permintaan yang dikirim melalui aplikasinya.
"Semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas Uber, maka akan banyak orang pula yang menyimpang kendaraan pribadinya sehingga dapat mengurangi kemacetan, polusi, dan kepadatan," ujar Mike Brown selaku Regional General Manager, Southeast Asia, di The Plaza Jakarta, Rabu 13 Agustus 2014.
Tajuk presentasi Brown, 'Uber, Everyone's Private Driver' mengesankan aplikasi ini memungkinkan siapapun bisa berkendara dengan elegan, bisa memiliki kendaraan dan sopir pribadi. Mike menuturkan bahwa Uber memungkinkan penggunanya dapat berkendara dan dilayani dengan baik, dimanapun dan kapanpun, sesuai permintaan.
Banyak yang menyangka kalau Uber merupakan penyedia taksi. Namun, Uber membantahnya. Mereka tidak menyediakan dan mengoperasikan kendaraan maupun sopir sendiri. Melainkan sebuah perusahaan yang menyediakan aplikasi di ponsel untuk perusahaan transportasi berlisensi. Dengat kata lain, Uber membantu menghubungkan mereka dengan penumpang, meskipun Uber bekerjasama dengan perusahaan taksi dan penyewaan kendaraan.
Pada kesempatan yang sama, Chan Park sebagai Head of Expansion Asia menjelaskan Uber bermitra dengan sejumlah perusahaan rental mobil profesional yang telah banyak melayani, seperti eksekutif perusahaan ternama.
"Jadi kami menjamin keamanan penumpang yang telah meminta kendaraan melalui aplikasi Uber," ungkap Park.
Di Kendaraan Terpasang GPS
Selain itu juga, kendaraan terpasang GPS yang memberikan informasi mengenai setiap lokasi keberadaan kendaraan Uber beserta penumpangnya.
Dengan hal itu, kata Park, penumpang akan aman dan tetap berkelas karena akan menggunakan kendaraan mobil yang elegan seperti Mercedez-Benz E-Class, Toyota Camry, Hyundai Sonata, Nissan Teana, Toyota Innova, dan Toyota Alphard.
"Ke semua mobil tersebut berwana hitam, yang mencirikan premium. Penumpang masih tetap berkelas meskipun menggunakan transportasi umum," papar Mike.
Mengenai jumlah armada yang dikerahkan, Mike enggan untuk memberitahukan kepada awak media, begitu pula jumlah unduhan yang sudah dilakukan di Indonesia.
"Itu menjadi rahasia perusahaan. Jadi, kami minta maaf karena tidak bisa berbagi data tersebut," ucapnya.
Penumpang yang ingin menikmati layanan tersebut, bisa terlebih dahulu mengunduh aplikasi Uber di App Store maupun Play Store. Setelah itu, penumpang bisa memesan kendaraan di aplikasi tersebut. Untuk tarifnya, Uber mamasang kisaran Rp500 menit dan Rp2.850 per kilometernya.
"Kendaraan akan datang kisaran waktu 7-10 menit. Kendaraan akan lebih lama atau bisa lebih cepat, namun kisaran waktu yang kami catat segitu," jelas Park.
Untuk pembayarannya, Uber menggunakan kartu kredit dan kartu debit. Hal itu yang dikatakan Uber sebagai kenyamanan bagi konsumennya karena repot membayar dengan uang cash. Konsumen akan mendapatkan bon perjalanannya melalui email.
Dengan peluncuran ini, Mike mengharapkan sebanyak-banyak orang dapat beralih menggunakan kendaraan Uber.
"Saat ini kami fokus untuk di Jakarta terlebih dahulu, sebelum memperluas ke kota lainnya di Indonesia," paparnya.
Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/528615-aplikasi-uber-berharap-bisa-kurangi-macet-di-jakarta
Selain macet dan polusi, banyak juga kekhawatiran akan tindak kejahatan yang terjadi ketika menggunakan transportasi umum. Atas dasar tersebut aplikasi Uber meluncurkan secara resmi keberadaannya di Indonesia.
Uber memberikan fasilitas kepada pelanggannya untuk bisa menikmati alat transportasi bersih, nyaman, aman, elegan, dan berkelas. Uber sendiri merupakan perusahaan teknologi yang menghubungkan penumpang dengan transportasi, sehingga memungkinkan penumpang dapat berpergian dengan permintaan yang dikirim melalui aplikasinya.
"Semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas Uber, maka akan banyak orang pula yang menyimpang kendaraan pribadinya sehingga dapat mengurangi kemacetan, polusi, dan kepadatan," ujar Mike Brown selaku Regional General Manager, Southeast Asia, di The Plaza Jakarta, Rabu 13 Agustus 2014.
Tajuk presentasi Brown, 'Uber, Everyone's Private Driver' mengesankan aplikasi ini memungkinkan siapapun bisa berkendara dengan elegan, bisa memiliki kendaraan dan sopir pribadi. Mike menuturkan bahwa Uber memungkinkan penggunanya dapat berkendara dan dilayani dengan baik, dimanapun dan kapanpun, sesuai permintaan.
Banyak yang menyangka kalau Uber merupakan penyedia taksi. Namun, Uber membantahnya. Mereka tidak menyediakan dan mengoperasikan kendaraan maupun sopir sendiri. Melainkan sebuah perusahaan yang menyediakan aplikasi di ponsel untuk perusahaan transportasi berlisensi. Dengat kata lain, Uber membantu menghubungkan mereka dengan penumpang, meskipun Uber bekerjasama dengan perusahaan taksi dan penyewaan kendaraan.
Pada kesempatan yang sama, Chan Park sebagai Head of Expansion Asia menjelaskan Uber bermitra dengan sejumlah perusahaan rental mobil profesional yang telah banyak melayani, seperti eksekutif perusahaan ternama.
"Jadi kami menjamin keamanan penumpang yang telah meminta kendaraan melalui aplikasi Uber," ungkap Park.
Di Kendaraan Terpasang GPS
Selain itu juga, kendaraan terpasang GPS yang memberikan informasi mengenai setiap lokasi keberadaan kendaraan Uber beserta penumpangnya.
Dengan hal itu, kata Park, penumpang akan aman dan tetap berkelas karena akan menggunakan kendaraan mobil yang elegan seperti Mercedez-Benz E-Class, Toyota Camry, Hyundai Sonata, Nissan Teana, Toyota Innova, dan Toyota Alphard.
"Ke semua mobil tersebut berwana hitam, yang mencirikan premium. Penumpang masih tetap berkelas meskipun menggunakan transportasi umum," papar Mike.
Mengenai jumlah armada yang dikerahkan, Mike enggan untuk memberitahukan kepada awak media, begitu pula jumlah unduhan yang sudah dilakukan di Indonesia.
"Itu menjadi rahasia perusahaan. Jadi, kami minta maaf karena tidak bisa berbagi data tersebut," ucapnya.
Penumpang yang ingin menikmati layanan tersebut, bisa terlebih dahulu mengunduh aplikasi Uber di App Store maupun Play Store. Setelah itu, penumpang bisa memesan kendaraan di aplikasi tersebut. Untuk tarifnya, Uber mamasang kisaran Rp500 menit dan Rp2.850 per kilometernya.
"Kendaraan akan datang kisaran waktu 7-10 menit. Kendaraan akan lebih lama atau bisa lebih cepat, namun kisaran waktu yang kami catat segitu," jelas Park.
Untuk pembayarannya, Uber menggunakan kartu kredit dan kartu debit. Hal itu yang dikatakan Uber sebagai kenyamanan bagi konsumennya karena repot membayar dengan uang cash. Konsumen akan mendapatkan bon perjalanannya melalui email.
Dengan peluncuran ini, Mike mengharapkan sebanyak-banyak orang dapat beralih menggunakan kendaraan Uber.
"Saat ini kami fokus untuk di Jakarta terlebih dahulu, sebelum memperluas ke kota lainnya di Indonesia," paparnya.
Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/528615-aplikasi-uber-berharap-bisa-kurangi-macet-di-jakarta
Senin, 04 Agustus 2014
Jakarta Kembali (Macet) Normal Senin Pagi Ini
JAKARTA (Pos Kota) – Arus lalulintas pada sejumlah jalan protokol di beberapa wilayah Jakarta dan sekitarnya, Senin (4/8/2014) pagi kembali (macet) normal. Jalanan sudah mulai dipadati kendaraan bermotor, baik roda dua, mobil pribadi, angkutan barang (truk) dan sebagainya.
Dalam pantauan poskotanews.com. arus lalulintas di kawasan Bekasi, Jl Kalimalang (KH Noer Ali), kawasan BKT Duren Sawit, Jalan Raya Bekasi, Jalan Jatinegara Barat, Jalan Matraman Raya, Jalan Salemba Raya, Jalan Gunung Sahari, kawasan Pasar Baru, Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, mulai padat dan merayap.
“Jakarta kembali normal dalam kondisi macet di mana-mana,” ucap satu pengendara di Jl Matraman Raya.
Sebagai mana dimaklumi, hari ini (Senin/4/8/2014), merupakan hari pertama masuk kerja di kalangan pegawai negeri dan swasta, setelah libur bersama pasca Lebaran. Hal ini dibuktikan arus balik dari berbagai arah menuju Jakarta dan sekitarnya, Minggu (3/4) merupakan puncak arus balik.
“Hari ini hari pertama masuk kerja pasca libur lebaran,” ujar satu pegawai swasta di kawasan pertokoan Glodok, Jakarta Barat.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/08/04/jakarta-kembali-macet-normal-senin-pagi-ini/
Dalam pantauan poskotanews.com. arus lalulintas di kawasan Bekasi, Jl Kalimalang (KH Noer Ali), kawasan BKT Duren Sawit, Jalan Raya Bekasi, Jalan Jatinegara Barat, Jalan Matraman Raya, Jalan Salemba Raya, Jalan Gunung Sahari, kawasan Pasar Baru, Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, mulai padat dan merayap.
“Jakarta kembali normal dalam kondisi macet di mana-mana,” ucap satu pengendara di Jl Matraman Raya.
Sebagai mana dimaklumi, hari ini (Senin/4/8/2014), merupakan hari pertama masuk kerja di kalangan pegawai negeri dan swasta, setelah libur bersama pasca Lebaran. Hal ini dibuktikan arus balik dari berbagai arah menuju Jakarta dan sekitarnya, Minggu (3/4) merupakan puncak arus balik.
“Hari ini hari pertama masuk kerja pasca libur lebaran,” ujar satu pegawai swasta di kawasan pertokoan Glodok, Jakarta Barat.
Sumber : http://poskotanews.com/2014/08/04/jakarta-kembali-macet-normal-senin-pagi-ini/
Label:
arus
,
arus balik
,
bekasi
,
bkt
,
jakarta
,
jalan
,
jl
,
kawasan
,
lalulintas
,
lebaran
,
libur
,
macet
,
masuk kerja
,
matraman
,
normal
,
pasca
,
pegawai negeri
,
raya
,
swasta
Senin, 21 Juli 2014
Tol JORR W2 Utara operasi, macet di tol dalam kota bisa menurun
Merdeka.com - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto direncanakan akan meresmikan pengoperasian tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) west 2 (JORR W2) Utara ruas Ciledug-Ulujami, pagi ini. Pengoperasin tol sepanjang 2,1 kilometer tersebut diyakini dapat mengurangi sekitar 20 persen-25 persen kemacetan di tol dalam kota.
"Kita berharap volume lalu lintas 75.000 kendaraan per hari di awal-awal, ya sekitar 2 atau 3 bulan. Setelah itu bisa lebih besar," kata Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga David Wijayatno kepada merdeka.com, Minggu (20//7) malam.
Tarif tol tersebut ditetapkan Rp 8.500. "Kalau masuk lewat kebon jeruk hanya bayar Rp 8.500 sudah bisa menikmati JORR W2 utara plus JORR. Jadi bisa keluar sampai kampung rambutan, Cikunir atau Jati Asih dikenakan tarif sama," jelas David.
Dampak dari pengoperasian ruas Ciledug-Ulujami, Jasa Marga mengubah tarif Golongan I pada tol JORR. Seperti:
Serpong-Pondok Aren dan sebaliknya Rp 5.000
Serpong-Ulujami dan sebaliknya Rp 7.500
Serpong-JORR dan sebaliknya Rp 16.000
Serpong-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 18.000
Pondok Aren-Ulujami dan sebaliknya Rp 2.500
Pondok Aren-JORR dan sebaliknya Rp 11.000
Pondok Aren-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 13.000
Ulujami-JORR dan sebaliknya Rp 8.500
Ulujami-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500.
JORR-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/tol-jorr-w2-utara-operasi-macet-di-tol-dalam-kota-bisa-menurun.html
"Kita berharap volume lalu lintas 75.000 kendaraan per hari di awal-awal, ya sekitar 2 atau 3 bulan. Setelah itu bisa lebih besar," kata Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga David Wijayatno kepada merdeka.com, Minggu (20//7) malam.
Tarif tol tersebut ditetapkan Rp 8.500. "Kalau masuk lewat kebon jeruk hanya bayar Rp 8.500 sudah bisa menikmati JORR W2 utara plus JORR. Jadi bisa keluar sampai kampung rambutan, Cikunir atau Jati Asih dikenakan tarif sama," jelas David.
Dampak dari pengoperasian ruas Ciledug-Ulujami, Jasa Marga mengubah tarif Golongan I pada tol JORR. Seperti:
Serpong-Pondok Aren dan sebaliknya Rp 5.000
Serpong-Ulujami dan sebaliknya Rp 7.500
Serpong-JORR dan sebaliknya Rp 16.000
Serpong-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 18.000
Pondok Aren-Ulujami dan sebaliknya Rp 2.500
Pondok Aren-JORR dan sebaliknya Rp 11.000
Pondok Aren-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 13.000
Ulujami-JORR dan sebaliknya Rp 8.500
Ulujami-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500.
JORR-Meruya Utara dan sebaliknya Rp 10.500
Sumber : http://www.merdeka.com/uang/tol-jorr-w2-utara-operasi-macet-di-tol-dalam-kota-bisa-menurun.html
Selasa, 08 Juli 2014
Hujan Lagi, Banjir Lagi, Macet Lagi
JAKARTA – Hujan deras kembali mengguyur wilayah Jakarta Senin sore (7/7). Akibatnya, sejumlah ruas jalan tergenang. Dampaknya, arus kendaraan yang sehari-hari macet tersebut bertambah parah macetnya.
Berdasarkan data yang dihimpun tim Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) DKI Jakarta, ada 24 ruas jalan yang tergenang banjir. Khusus di beberapa wilayah di Jakarta Selatan, ketinggian air berkisar 10-40 cm.
Beberapa ruas jalan yang banjir tersebut, antara lain, Jalan Panglima Polim di Jakarta Selatan dengan ketinggian air 20 cm. Lalu, Jalan Arteri Pondok Indah tergenang 30 cm, Jalan Gedung Hijau tergenang 30-40 cm, Jalan Prapanca 10-15 cm, Jalan Bintaro Sektor 1 depan masjid 30 cm, Jalan Panglima Polim arah Cipete 20 cm, Jalan Iskandar Muda depan Gandaria City 30 cm, Jalan Bangka 30 cm, depan Giant Bintaro Sektor II 30-40 cm, Jalan Gatot Subroto (depan Kemenakertrans) 20 cm, depan Kuningan City arah Rasuna Said 25 cm, dan belakang gedung MPR/DPR 15-20 cm.
“Pantauan terakhir kami lakukan sekitar pukul 20.00,’’ terang Kepala BPBD DKI Bambang Musyawardana kepada Jawa Pos tadi malam.
Sedangkan di wilayah Jakarta Pusat, tutur dia, ketinggian air lebih rendah, yaitu berkisar 10-15 cm. Beberapa ruas jalan itu adalah depan Gereja Theresia, Jalan Cikini Raya depan Taman Ismail Marzuki, Jalan KH Mas Mansyur Pejompongan, depan Atmajaya, Gedung BRI Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Salemba Tengah, dan depan Kementerian Pertahanan, Menteng. ’’Genangan tertinggi di Jakarta Pusat hanya di depan Kemenhan dan depan Atmajaya,’’ ungkapnya.
Ketinggian banjir di wilayah Jakarta Barat tercatat paling tinggi, yaitu sekitar 50 cm. Beberapa ruas jalan yang tergenang, antara lain, Jalan S. Parman, Grogol, Persimpangan Pos Pengumben, Patra Raya, Duri Kepa, depan RS Siloam Kebon Jeruk, dan dekat traffic light McD Green Garden.
Sementara itu, wilayah di Jakarta Timur yang tergenang adalah Jalan Matraman arah Pramuka dengan ketinggian air sekitar 30 cm. “Di Jakarta Utara, sampai saat ini (tadi malam, Red) belum terpantau ada genangan,’’ ujar Bambang itu.
Sumbeh : http://www.jpnn.com/read/2014/07/08/244894/Hujan-Lagi,-Banjir-Lagi,-Macet-Lagi-
Berdasarkan data yang dihimpun tim Pusat Pengendali Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) DKI Jakarta, ada 24 ruas jalan yang tergenang banjir. Khusus di beberapa wilayah di Jakarta Selatan, ketinggian air berkisar 10-40 cm.
Beberapa ruas jalan yang banjir tersebut, antara lain, Jalan Panglima Polim di Jakarta Selatan dengan ketinggian air 20 cm. Lalu, Jalan Arteri Pondok Indah tergenang 30 cm, Jalan Gedung Hijau tergenang 30-40 cm, Jalan Prapanca 10-15 cm, Jalan Bintaro Sektor 1 depan masjid 30 cm, Jalan Panglima Polim arah Cipete 20 cm, Jalan Iskandar Muda depan Gandaria City 30 cm, Jalan Bangka 30 cm, depan Giant Bintaro Sektor II 30-40 cm, Jalan Gatot Subroto (depan Kemenakertrans) 20 cm, depan Kuningan City arah Rasuna Said 25 cm, dan belakang gedung MPR/DPR 15-20 cm.
“Pantauan terakhir kami lakukan sekitar pukul 20.00,’’ terang Kepala BPBD DKI Bambang Musyawardana kepada Jawa Pos tadi malam.
Sedangkan di wilayah Jakarta Pusat, tutur dia, ketinggian air lebih rendah, yaitu berkisar 10-15 cm. Beberapa ruas jalan itu adalah depan Gereja Theresia, Jalan Cikini Raya depan Taman Ismail Marzuki, Jalan KH Mas Mansyur Pejompongan, depan Atmajaya, Gedung BRI Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Salemba Tengah, dan depan Kementerian Pertahanan, Menteng. ’’Genangan tertinggi di Jakarta Pusat hanya di depan Kemenhan dan depan Atmajaya,’’ ungkapnya.
Ketinggian banjir di wilayah Jakarta Barat tercatat paling tinggi, yaitu sekitar 50 cm. Beberapa ruas jalan yang tergenang, antara lain, Jalan S. Parman, Grogol, Persimpangan Pos Pengumben, Patra Raya, Duri Kepa, depan RS Siloam Kebon Jeruk, dan dekat traffic light McD Green Garden.
Sementara itu, wilayah di Jakarta Timur yang tergenang adalah Jalan Matraman arah Pramuka dengan ketinggian air sekitar 30 cm. “Di Jakarta Utara, sampai saat ini (tadi malam, Red) belum terpantau ada genangan,’’ ujar Bambang itu.
Sumbeh : http://www.jpnn.com/read/2014/07/08/244894/Hujan-Lagi,-Banjir-Lagi,-Macet-Lagi-
Selasa, 24 Juni 2014
Pengamat: Jakarta Itu Kota Metropolitan, Bukan Kampung Raksasa
JAKARTA - Pengamat Perkotaan Nirwono Joga menilai, permasalahan darurat yang dialami Jakarta seperti banjir adn macet belum diselesaikan dengan baik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Tagline HUT DKI tahun ini kan Jakarta Baru, Jakarta Maju. Tapi saya lihat sekarang ibu kota itu Jakarta Setengah Baru," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Minggu 22 Juni 2014 malam.
Pasalnya masih banyak yang harus dikerjakan oleh Pemprov DKI untuk mendapatkan progress yang terlihat oleh masyarakat.
"Ada program yang terealisasi ada pula yang masih jadi PR buat gubernur sekarang dan bawahannya," tukasnya.
Menurut Joga yang dapat diapresiasi adalah penggunaan Kartu Jakarta Sehat, Kartu Jakarta Pintar, Kampung Deret, Waduk Ria-Rio, Waduk Pluit, dan Seleksi dan Promosi Terbuka (SPT) atau yang lebih dikenal dengan lelang jabatan.
Sementara itu yang masih terus menjadi perhatian ialah yang tiap tahun dan terus-menerus dilontarkan ialah Banjir dan Macet setelah itu Normalisasi Kali dan Situ, Penataan Kampung Kumuh, Penataan PKL.
"Jakarta itu kota metropolitan, bukan kampung raksasa, masih banyak PR kedepan. Saya berharap 2017 harus ada perubahan signifikan. Karena kalau gitu-gitu aja nanti saya ketemu anda ngomonginnya terus banjir dan macet," tukasnya.
Sumber : http://metro.sindonews.com/read/876133/31/pengamat-jakarta-itu-kota-metropolitan-bukan-kampung-raksasa
"Tagline HUT DKI tahun ini kan Jakarta Baru, Jakarta Maju. Tapi saya lihat sekarang ibu kota itu Jakarta Setengah Baru," ujarnya saat dihubungi Sindonews, Minggu 22 Juni 2014 malam.
Pasalnya masih banyak yang harus dikerjakan oleh Pemprov DKI untuk mendapatkan progress yang terlihat oleh masyarakat.
"Ada program yang terealisasi ada pula yang masih jadi PR buat gubernur sekarang dan bawahannya," tukasnya.
Menurut Joga yang dapat diapresiasi adalah penggunaan Kartu Jakarta Sehat, Kartu Jakarta Pintar, Kampung Deret, Waduk Ria-Rio, Waduk Pluit, dan Seleksi dan Promosi Terbuka (SPT) atau yang lebih dikenal dengan lelang jabatan.
Sementara itu yang masih terus menjadi perhatian ialah yang tiap tahun dan terus-menerus dilontarkan ialah Banjir dan Macet setelah itu Normalisasi Kali dan Situ, Penataan Kampung Kumuh, Penataan PKL.
"Jakarta itu kota metropolitan, bukan kampung raksasa, masih banyak PR kedepan. Saya berharap 2017 harus ada perubahan signifikan. Karena kalau gitu-gitu aja nanti saya ketemu anda ngomonginnya terus banjir dan macet," tukasnya.
Sumber : http://metro.sindonews.com/read/876133/31/pengamat-jakarta-itu-kota-metropolitan-bukan-kampung-raksasa
Jumat, 16 Mei 2014
Macet Jakarta Meluas ke Jalan Kampung
JAKARTA – Kemacetan di Jakarta saat ini makin parah. Tidak hanya terjadi di jalan-jalan protokol atau jalan utama, kemacetan di wilayah ibu kota mulai meluas dan menyebar ke jalan-jalan kampung.
Berdasar data terbaru dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, kemacetan di ibu kota saat ini naik sekitar 9,5 persen dibandingkan tahun lalu. Selain jalur-jalur utama, jalan-jalan sekunder atau gang-gang kecil di kawasan padat kini juga tidak luput dari kemacetan.
Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebut, tahun lalu total kendaraan yang hilir-mudik di jalan-jalan ibu kota mencapai 16.043.689 unit. Sejak awal tahun ini terdapat penambahan 75 kendaraan baru setiap hari. Jika pertambahan itu tidak segera diantisipasi, jumlah total kendaraan di Jakarta akhir tahun ini bakal naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Pertambahan kendaraan tersebut membuat kemacetan kian sulit teratasi.
Ironisnya, meski jumlah kendaraan terus bertambah, luas jalan di Jakarta semakin ’’menyusut’’. Tahun ini jalan di wilayah ibu kota tercatat hanya sepanjang 7.650 km dan selebar 40,1 km. Padahal, jalan tersebut setiap hari dilintasi sekitar 21 juta unit kendaraan dari dalam atau luar Jakarta. Jumlah kendaraan yang tinggi itu tak sebanding dengan daya tampung jalan. Akibatnya, kemacetan tidak bisa dihindari, terutama saat jam-jam sibuk.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Mertro Jaya Kombespol Restu Mulya Budyanto mengatakan, pihaknya akan berupaya memaksimalkan anggota satlantas di lapangan untuk mengatasi problem kemacetan tersebut. Mereka akan dikerahkan untuk mengatur kendaraan agar tidak saling serobot.
Dia meyakini langkah masih bisa sedikit mengurai kepadatan arus lalu lintas. Selain itu, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemprov DKI. Dia beralasan masalah kemacetan lalu lintas tak hanya menjadi tanggung jawab polisi. ’’Kita akan berbicara dengan semua pihak yang terkait. Kemacetan lalu lintas adalah masalah bersama,’’ katanya Rabu (14/5).
Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW) Edison Siahaan membenarkan bahwa kemacetan di Jakarta disebabkan oleh terus bertambahnya jumlah kendaraan. Sayangnya, kata dia, hal itu tidak disertai dengan peran asosiasi industri kendaraan bermotor.
Menurut dia, seharusnya kalangan industri itu ikut membantu pemprov dalam mengatasi kemacetan. Sebab, mereka meraup keuntungan tidak sedikit dari penjualan kendaraan bermotor kepada warga di Jakarta.
Dengan meningkatnya jumlah kendaraan di wilayah ibu kota, terang dia, kalangan industri dan agen tunggal pemegang merek (ATPM) seharusnya mewujudkan ketertiban dan kelancaran berlalu lintas. Salah satu caranya adalah menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk kegiatan yang riil. Kegiatan tersebut bisa berupa sosialisasi peningkatan kesadaran warga terhadap ketertiban lalu lintas.
’’Para pengusaha jangan hanya mencari keuntungan. Mereka juga harus bertanggung jawab dengan mengeluarkan dana CSR untuk kepentingan tertib lalu lintas,’’ tutur Edison.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/05/15/234580/Macet-Jakarta-Meluas-ke-Jalan-Kampung-
Berdasar data terbaru dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, kemacetan di ibu kota saat ini naik sekitar 9,5 persen dibandingkan tahun lalu. Selain jalur-jalur utama, jalan-jalan sekunder atau gang-gang kecil di kawasan padat kini juga tidak luput dari kemacetan.
Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebut, tahun lalu total kendaraan yang hilir-mudik di jalan-jalan ibu kota mencapai 16.043.689 unit. Sejak awal tahun ini terdapat penambahan 75 kendaraan baru setiap hari. Jika pertambahan itu tidak segera diantisipasi, jumlah total kendaraan di Jakarta akhir tahun ini bakal naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Pertambahan kendaraan tersebut membuat kemacetan kian sulit teratasi.
Ironisnya, meski jumlah kendaraan terus bertambah, luas jalan di Jakarta semakin ’’menyusut’’. Tahun ini jalan di wilayah ibu kota tercatat hanya sepanjang 7.650 km dan selebar 40,1 km. Padahal, jalan tersebut setiap hari dilintasi sekitar 21 juta unit kendaraan dari dalam atau luar Jakarta. Jumlah kendaraan yang tinggi itu tak sebanding dengan daya tampung jalan. Akibatnya, kemacetan tidak bisa dihindari, terutama saat jam-jam sibuk.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Mertro Jaya Kombespol Restu Mulya Budyanto mengatakan, pihaknya akan berupaya memaksimalkan anggota satlantas di lapangan untuk mengatasi problem kemacetan tersebut. Mereka akan dikerahkan untuk mengatur kendaraan agar tidak saling serobot.
Dia meyakini langkah masih bisa sedikit mengurai kepadatan arus lalu lintas. Selain itu, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemprov DKI. Dia beralasan masalah kemacetan lalu lintas tak hanya menjadi tanggung jawab polisi. ’’Kita akan berbicara dengan semua pihak yang terkait. Kemacetan lalu lintas adalah masalah bersama,’’ katanya Rabu (14/5).
Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW) Edison Siahaan membenarkan bahwa kemacetan di Jakarta disebabkan oleh terus bertambahnya jumlah kendaraan. Sayangnya, kata dia, hal itu tidak disertai dengan peran asosiasi industri kendaraan bermotor.
Menurut dia, seharusnya kalangan industri itu ikut membantu pemprov dalam mengatasi kemacetan. Sebab, mereka meraup keuntungan tidak sedikit dari penjualan kendaraan bermotor kepada warga di Jakarta.
Dengan meningkatnya jumlah kendaraan di wilayah ibu kota, terang dia, kalangan industri dan agen tunggal pemegang merek (ATPM) seharusnya mewujudkan ketertiban dan kelancaran berlalu lintas. Salah satu caranya adalah menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk kegiatan yang riil. Kegiatan tersebut bisa berupa sosialisasi peningkatan kesadaran warga terhadap ketertiban lalu lintas.
’’Para pengusaha jangan hanya mencari keuntungan. Mereka juga harus bertanggung jawab dengan mengeluarkan dana CSR untuk kepentingan tertib lalu lintas,’’ tutur Edison.
Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/05/15/234580/Macet-Jakarta-Meluas-ke-Jalan-Kampung-
Label:
csr
,
data
,
dihindari
,
ditlantas
,
industri
,
jakarta
,
jalan
,
jalan protokol
,
kampung
,
kendaraan
,
kepadatan
,
ketertiban
,
macet
,
meluas
,
mengurangi
,
pemprov
,
pertambahan
,
polda
,
warga
Jumat, 11 April 2014
Pemprov DKI Ajak Programmer Membuat Solusi Macet Jakarta Lewat #HackJak
– Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar kata “Jakarta”? Sebagian kita mungkin akan menjawab: macet Jakarta, banjir Jakarta, dan kepadatan Jakarta.
Tak heran memang, pasalnya sejumlah kondisi pelayanan publik di Jakarta masih memerlukan pembenahan yang berkelanjutan. Sebagai contoh transportasi publik, macet yang disebabkan banyaknya kendaraan yang memenuhi ruas jalan ibu kota. Yang menyedihkan, rata-rata laju kendaraan di Jakarta hanya di bawah 18-20 km/jam, jauh lebih lambat bila dibandingkan Bangkok (Thailand) dan Tokyo (Jepang). Apalagi jumlah pengguna kendaraan umum di Jakarta juga terhitung masih rendah, hanya sekitar 14%.
Untuk menyiasati permasalahan di atas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) menggelar kegiatan HackJakarta, Jakarta Open Data Challenge (#HACKJAK) yang akan digelar pada 26-27 April 2014. Acara ini berkolaborasi dengan Southeast Asia Technology Transparency Initiative (SEATTI).
#HACKJAK merupakan hackathon pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berkomitmen terhadap prinsip “open data”. Kegiatan ini mengundang sejumlah pengembang software, programmer ataupun desainer web di seluruh Indonesia guna membangun prototype aplikasi berbasis teknologi informasi. Aplikasi yang dihasilkan dari kegiatan #HACKJAK tersebut nantinya diharapkan dapat membantu mewujudkan Jakarta Baru yang lebih baik.
“Orang bisa tahu bikin bangunan itu habisnya berapa, belanja kursi berapa, ini sesuatu yang bisa membuat ibu-ibu rumah tangga saja bisa tahu, sehingga membaca laporan keuangan tidak perlu bisa membaca neraca, tidak perlu bisa baca laporan keuangan. Ini penting karena pengawasan DKI diserahkan kepada rakyat DKI,” ucap Basuki Tjahaja Purnama (Wakil Gubernur DKI Jakarta) saat mendiskusikan kegiatan ini di Balai Kota, Selasa (8/4).
Pria yang akrab disapa Ahok itu juga mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan HackJakarta. Pemprov DKI menyediakan hadiah khusus bagi pembuat aplikasi yang akan membantu langsung pekerjaan Wakil Gubernur.
Tara Hidayat (Deputi-IV Unit Kerja Presiden, bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/UKP-PPP atau UKP4) mengungkapkan bahwa UKP4 membantu dari sisi penyediaan data-data tersebut untuk dibuka, harapannya data ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sementara itu Shita Laksmi (Program Manager SEATTI) mengatakan, #HACKJAK terbuka bagi seluruh pengembang software, baik individu ataupun perusahaan start up di Indonesia. Disediakan dua jenis data yang akan disediakan sebagai materi hackhaton, yaitu data trayek angkutan umum darat dan data anggaran DKI tahun 2014. Shita berharap, melalui #HACKJAK, akan tersedia berbagai aplikasi inovatif yang menggunakan data tersebut dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Baik pihak Pemprov DKI maupun SEATTI yakin bahwa acara ini dapat terselenggara sebagai wujud komitmen sebuah pemerintahan terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas. Acara ini juga didukung oleh sejumlah organisasi yang peduli terhadap pemanfaatan data terbuka di Jakarta, seperti Daily Social dan Web Foundation.
Bila Anda tertantang mengikuti HackJakarta, silakan mengakses informasi lebih lanjut melalui situs www.dailysocial.net.
Selamat membangun Jakarta Baru!
Sumber : http://www.infokomputer.com/2014/04/berita/berita-reguler/hackjak-pemprov-dki-ajak-programmer-solusi-macet-jakarta/
Tak heran memang, pasalnya sejumlah kondisi pelayanan publik di Jakarta masih memerlukan pembenahan yang berkelanjutan. Sebagai contoh transportasi publik, macet yang disebabkan banyaknya kendaraan yang memenuhi ruas jalan ibu kota. Yang menyedihkan, rata-rata laju kendaraan di Jakarta hanya di bawah 18-20 km/jam, jauh lebih lambat bila dibandingkan Bangkok (Thailand) dan Tokyo (Jepang). Apalagi jumlah pengguna kendaraan umum di Jakarta juga terhitung masih rendah, hanya sekitar 14%.
Untuk menyiasati permasalahan di atas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI) menggelar kegiatan HackJakarta, Jakarta Open Data Challenge (#HACKJAK) yang akan digelar pada 26-27 April 2014. Acara ini berkolaborasi dengan Southeast Asia Technology Transparency Initiative (SEATTI).
#HACKJAK merupakan hackathon pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berkomitmen terhadap prinsip “open data”. Kegiatan ini mengundang sejumlah pengembang software, programmer ataupun desainer web di seluruh Indonesia guna membangun prototype aplikasi berbasis teknologi informasi. Aplikasi yang dihasilkan dari kegiatan #HACKJAK tersebut nantinya diharapkan dapat membantu mewujudkan Jakarta Baru yang lebih baik.
“Orang bisa tahu bikin bangunan itu habisnya berapa, belanja kursi berapa, ini sesuatu yang bisa membuat ibu-ibu rumah tangga saja bisa tahu, sehingga membaca laporan keuangan tidak perlu bisa membaca neraca, tidak perlu bisa baca laporan keuangan. Ini penting karena pengawasan DKI diserahkan kepada rakyat DKI,” ucap Basuki Tjahaja Purnama (Wakil Gubernur DKI Jakarta) saat mendiskusikan kegiatan ini di Balai Kota, Selasa (8/4).
Pria yang akrab disapa Ahok itu juga mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan HackJakarta. Pemprov DKI menyediakan hadiah khusus bagi pembuat aplikasi yang akan membantu langsung pekerjaan Wakil Gubernur.
Tara Hidayat (Deputi-IV Unit Kerja Presiden, bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/UKP-PPP atau UKP4) mengungkapkan bahwa UKP4 membantu dari sisi penyediaan data-data tersebut untuk dibuka, harapannya data ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sementara itu Shita Laksmi (Program Manager SEATTI) mengatakan, #HACKJAK terbuka bagi seluruh pengembang software, baik individu ataupun perusahaan start up di Indonesia. Disediakan dua jenis data yang akan disediakan sebagai materi hackhaton, yaitu data trayek angkutan umum darat dan data anggaran DKI tahun 2014. Shita berharap, melalui #HACKJAK, akan tersedia berbagai aplikasi inovatif yang menggunakan data tersebut dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Baik pihak Pemprov DKI maupun SEATTI yakin bahwa acara ini dapat terselenggara sebagai wujud komitmen sebuah pemerintahan terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas. Acara ini juga didukung oleh sejumlah organisasi yang peduli terhadap pemanfaatan data terbuka di Jakarta, seperti Daily Social dan Web Foundation.
Bila Anda tertantang mengikuti HackJakarta, silakan mengakses informasi lebih lanjut melalui situs www.dailysocial.net.
Selamat membangun Jakarta Baru!
Sumber : http://www.infokomputer.com/2014/04/berita/berita-reguler/hackjak-pemprov-dki-ajak-programmer-solusi-macet-jakarta/
Label:
acara
,
aplikasi
,
data
,
disediakan
,
dki
,
hackjak
,
hackjakarta
,
jakarta
,
kegiatan
,
laporan keuangan
,
macet
,
open
,
pemprov
,
pengembang
,
seatti
,
shita
,
software
,
ukp
,
web
Senin, 07 April 2014
Menimbang Larangan Sepeda Motor di Jalan Protokol
TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya belum mengetahui ihwal rencana pembatasan penggunaan sepeda motor di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota. Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Sambodo Purnomo mengatakan, rencana itu perlu dibicarakan dan dikaji bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Pembatasan sepeda motor belum tentu efektif kurangi macet,” katanya saat dihubungi, Ahad, 6 April 2014.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menerapkan zona larangan motor di sejumlah ruas jalan utama. Beberapa ruas di antaranya adalah Jalan Rasuna Said (Menteng-Mampang), Gatot Subroto (Kartini-Slipi), dan Sudirman (Blok M-Bundaran HI). Motor yang akan memasuki zona tersebut wajib memakirkan motornya di tempat yang disediakan. Pemprov pun menyiapkan bus untuk mengangkut para pemotor tersebut. (Baca: Jakarta Bakal Larang Sepeda Motor di Jalan Protokol)
Sambodo mengatakan, secara kuantitas, keberadaan sepeda motor di Jakarta memang lebih banyak dari pada kendaraan roda empat. Pertumbuhan pengguna sepeda motor pun cukup pesat, yakni hampir 1 juta unit setiap tahunnya. “Jadi secara persentase, jumlah pemotor itu mencapai 70 persen dari total kendaraan di Ibu Kota,” katanya.
Tapi, pembatasan sepeda motor di sejumlah ruas jalan yang sudah ditentukan belum bisa dipastikan tingkat keefektifannya. Jika diterapkan, dia mengatakan ruas Jalan Rasuna Said, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Gatot Subroto, memang bisa cukup terasa pengaruhnya. Kemacetan kawasan itu pun bisa saja berkurang secara signifikan.
Hanya saja, pelarangan itu bisa jadi hanya memindahkan titik kemacetan di kawasan tersebut. Dia mengatakan bisa saja ruas jalan yang ada di sekitarnya malah ‘kebanjiran’ sepeda motor yang tidak bisa melalui kawasan tersebut. "Tapi kalau mau bebas macet yang dibatasi seluruh kendaraan, bukan cuma sepeda motor,” kata dia.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/04/07/083568430/Menimbang-Larangan-Sepeda-Motor-di-Jalan-Protokol
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menerapkan zona larangan motor di sejumlah ruas jalan utama. Beberapa ruas di antaranya adalah Jalan Rasuna Said (Menteng-Mampang), Gatot Subroto (Kartini-Slipi), dan Sudirman (Blok M-Bundaran HI). Motor yang akan memasuki zona tersebut wajib memakirkan motornya di tempat yang disediakan. Pemprov pun menyiapkan bus untuk mengangkut para pemotor tersebut. (Baca: Jakarta Bakal Larang Sepeda Motor di Jalan Protokol)
Sambodo mengatakan, secara kuantitas, keberadaan sepeda motor di Jakarta memang lebih banyak dari pada kendaraan roda empat. Pertumbuhan pengguna sepeda motor pun cukup pesat, yakni hampir 1 juta unit setiap tahunnya. “Jadi secara persentase, jumlah pemotor itu mencapai 70 persen dari total kendaraan di Ibu Kota,” katanya.
Tapi, pembatasan sepeda motor di sejumlah ruas jalan yang sudah ditentukan belum bisa dipastikan tingkat keefektifannya. Jika diterapkan, dia mengatakan ruas Jalan Rasuna Said, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Gatot Subroto, memang bisa cukup terasa pengaruhnya. Kemacetan kawasan itu pun bisa saja berkurang secara signifikan.
Hanya saja, pelarangan itu bisa jadi hanya memindahkan titik kemacetan di kawasan tersebut. Dia mengatakan bisa saja ruas jalan yang ada di sekitarnya malah ‘kebanjiran’ sepeda motor yang tidak bisa melalui kawasan tersebut. "Tapi kalau mau bebas macet yang dibatasi seluruh kendaraan, bukan cuma sepeda motor,” kata dia.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/04/07/083568430/Menimbang-Larangan-Sepeda-Motor-di-Jalan-Protokol
Senin, 17 Maret 2014
Kalau Jokowi Jadi Presiden, Jakarta Akan Ditelantarkan? Tenang, Ini Janji PDIP
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P, Ahmad Basara mengatakan tidak ada pasal atau norma hukum dilanggar dalam pencapresan Joko Widodo atau Jokowi kendati nantinya melepaskan amanat jabatan Gubernur DKI Jakarta yang baru setahun dilaksanakannya.
Menurutnya, jika terpilih menjadi presiden, justru Jokowi akan memiliki kewenangan lebih besar untuk menyelesaikan berbagai permasalahan akut di Jakarta, seperti kemacetan dan banjir, yang belum tuntas ia selesaikan selama menjadi gubernur.
"Mengenai tanggung jawabnya di DKI Jakarta, kita harus ingat DKI adalah ibukota negara, bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Dalam posisi sebagai ibukota negara, kalau Jokowi menjadi presiden, tentu kewenangannya lebih besar untuk membenahi Jakarta ini," kata Basara di Monas, Jakarta, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Basara, tidak alasan untuk menilai Jokowi bila menjadi presiden dan melepaskan jabatan Gubernur DKI Jakarta, maka tanggung jawabnya dalam menyelesaikan masalah-masalah di ibukota ditinggalkan. "Itu pandangan dan pemikiran yang keliru. Justru dengan jabatan presiden, kewenangan untuk membenahi Jakarta ini akan lebih besar lagi," tandasnya.
Basara mencontohkan seorang presiden atau wakil presiden punya kewenangan lebih besar dalam mengeluarkan suatu kebijakan secara nasional.
"Contoh konkret, ketika Jokowi mengambil kebijakan memprioritaskan transportasi massal di Jakarta, tiba-tiba Wakil Presiden men-launching mobil murah, yang mana mobil murah itu akan menambah macet di jakarta. Artinya, kewenangan pemerintah pusat lebih tinggi untuk membenahi masalah-masalah yang ada di Jakarta, termasuk macet dan banjir," tuturnya.
Basara menambahkan, Jokowi mencetak sejarah jika terpilih menjadi presiden.
"Maka untuk pertama kalinya dalam sejrah Republik Indonesia, seorang Gubernur atau mantan Gubernur DKI Jakarta menjadi presiden Republik Indonesia. Pasti semangat membangun Jakarta itu akan muncul dalam diri Jokowi jika kelak Tuhan memberkati dia menjadi presiden," kata Basara yang juga Sekretaris Fraksi PDIP dan anggota Komisi I DPR RI itu.
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/16/kalau-jokowi-jadi-presiden-akan-telantarkan-jakarta-tenang-ini-janji-pdip
Menurutnya, jika terpilih menjadi presiden, justru Jokowi akan memiliki kewenangan lebih besar untuk menyelesaikan berbagai permasalahan akut di Jakarta, seperti kemacetan dan banjir, yang belum tuntas ia selesaikan selama menjadi gubernur.
"Mengenai tanggung jawabnya di DKI Jakarta, kita harus ingat DKI adalah ibukota negara, bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Dalam posisi sebagai ibukota negara, kalau Jokowi menjadi presiden, tentu kewenangannya lebih besar untuk membenahi Jakarta ini," kata Basara di Monas, Jakarta, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Basara, tidak alasan untuk menilai Jokowi bila menjadi presiden dan melepaskan jabatan Gubernur DKI Jakarta, maka tanggung jawabnya dalam menyelesaikan masalah-masalah di ibukota ditinggalkan. "Itu pandangan dan pemikiran yang keliru. Justru dengan jabatan presiden, kewenangan untuk membenahi Jakarta ini akan lebih besar lagi," tandasnya.
Basara mencontohkan seorang presiden atau wakil presiden punya kewenangan lebih besar dalam mengeluarkan suatu kebijakan secara nasional.
"Contoh konkret, ketika Jokowi mengambil kebijakan memprioritaskan transportasi massal di Jakarta, tiba-tiba Wakil Presiden men-launching mobil murah, yang mana mobil murah itu akan menambah macet di jakarta. Artinya, kewenangan pemerintah pusat lebih tinggi untuk membenahi masalah-masalah yang ada di Jakarta, termasuk macet dan banjir," tuturnya.
Basara menambahkan, Jokowi mencetak sejarah jika terpilih menjadi presiden.
"Maka untuk pertama kalinya dalam sejrah Republik Indonesia, seorang Gubernur atau mantan Gubernur DKI Jakarta menjadi presiden Republik Indonesia. Pasti semangat membangun Jakarta itu akan muncul dalam diri Jokowi jika kelak Tuhan memberkati dia menjadi presiden," kata Basara yang juga Sekretaris Fraksi PDIP dan anggota Komisi I DPR RI itu.
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/16/kalau-jokowi-jadi-presiden-akan-telantarkan-jakarta-tenang-ini-janji-pdip
Rabu, 26 Februari 2014
Macet Senyap di Sore Hari Ala Tokyo
Tokyo, - Kota metropolitan sebesar Tokyo juga mengalami rutinitas kemacetan setiap harinya. Namun berbeda dengan Jakarta, kepadatan lalu lintas di ibukota Jepang ini cenderung 'kedap suara'.
"Ya memang di Tokyo setiap sore macet," ujar Deden, seorang warga negara Indonesia yang sudah tujuh tahun tinggal di Tokyo, ketika ditemui di kawasan Daiba, Senin (25/2/2014).
Pada sore hari ini, kemacetan salah satunya terjadi di ruas jalan tol yang menghubungkan Daiba ke Ginza Tokyo. Satu titik kawasan yang berada di pinggiran ke kawasan pusat kota itu.
Namun macet di Tokyo ini berbeda dengan macet Jakarta. Di DKI, kemacetan selalu dibarengi dengan 'pernak-pernik' negatif yang menyertainya seperti sahut-sahutan suara klakson, trotoar yang menjadi lajur dadakan pemotor dan bahkan gerakan kendaraan melawan arus. Tidak begitu halnya dengan di Tokyo.
Di kota yang berada di wilayah Pulau Honshu ini, kemacetan cenderung senyap. Hanya ada suara mesin menderu, tanpa ada tambahan bunyi-bunyian lain.
Para pengemudi kendaraan juga menjaga jarak dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Tak ada pemandangan saling serobot lajur.
Hal yang sama juga terjadi di lajur non tol. Pemotor-pemotor -- yang merupakan minoritas -- di Tokyo tetap menggunakan lajur kiri. Meski ada celah menganga antar mobil, mereka tetap tak 'tergoda'
Dan macet di Tokyo tak berlangsung lama. Kepadatan juga tidak terjadi di semua ruas jalan. Hanya ruas jalan tertentu saja.
Kepadatan pun tak berlangsung lama. Hanya sekitar 15-20 menit, kendaraan-kendaraan terlibat dalam keadaan padat merayap, setelah itu lancar.
"Ya masih sangat bisa diperhitungkan waktu tempuh meski ada kemacetan," kata Deden.
Berdasarkan pantauan, kemacetan lebih terjadi karena volume kendaraan yang menumpuk di suatu ruas jalan, sedang di ujung jalan tersebut ada lampu merah. Ketika traffic light sudah berwarna hijau, macet akan terurai.
Selama masa kemacetan singkat itu, para pengendara di Tokyo juga tidak ada satu pun yang terlihat nyelonong atau menerobos lampu merah. Boleh dibilang semua tertib.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/02/25/155758/2507970/10/1/macet-senyap-di-sore-hari-ala-tokyo
"Ya memang di Tokyo setiap sore macet," ujar Deden, seorang warga negara Indonesia yang sudah tujuh tahun tinggal di Tokyo, ketika ditemui di kawasan Daiba, Senin (25/2/2014).
Pada sore hari ini, kemacetan salah satunya terjadi di ruas jalan tol yang menghubungkan Daiba ke Ginza Tokyo. Satu titik kawasan yang berada di pinggiran ke kawasan pusat kota itu.
Namun macet di Tokyo ini berbeda dengan macet Jakarta. Di DKI, kemacetan selalu dibarengi dengan 'pernak-pernik' negatif yang menyertainya seperti sahut-sahutan suara klakson, trotoar yang menjadi lajur dadakan pemotor dan bahkan gerakan kendaraan melawan arus. Tidak begitu halnya dengan di Tokyo.
Di kota yang berada di wilayah Pulau Honshu ini, kemacetan cenderung senyap. Hanya ada suara mesin menderu, tanpa ada tambahan bunyi-bunyian lain.
Para pengemudi kendaraan juga menjaga jarak dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Tak ada pemandangan saling serobot lajur.
Hal yang sama juga terjadi di lajur non tol. Pemotor-pemotor -- yang merupakan minoritas -- di Tokyo tetap menggunakan lajur kiri. Meski ada celah menganga antar mobil, mereka tetap tak 'tergoda'
Dan macet di Tokyo tak berlangsung lama. Kepadatan juga tidak terjadi di semua ruas jalan. Hanya ruas jalan tertentu saja.
Kepadatan pun tak berlangsung lama. Hanya sekitar 15-20 menit, kendaraan-kendaraan terlibat dalam keadaan padat merayap, setelah itu lancar.
"Ya masih sangat bisa diperhitungkan waktu tempuh meski ada kemacetan," kata Deden.
Berdasarkan pantauan, kemacetan lebih terjadi karena volume kendaraan yang menumpuk di suatu ruas jalan, sedang di ujung jalan tersebut ada lampu merah. Ketika traffic light sudah berwarna hijau, macet akan terurai.
Selama masa kemacetan singkat itu, para pengendara di Tokyo juga tidak ada satu pun yang terlihat nyelonong atau menerobos lampu merah. Boleh dibilang semua tertib.
Sumber : http://news.detik.com/read/2014/02/25/155758/2507970/10/1/macet-senyap-di-sore-hari-ala-tokyo
Label:
daiba
,
deden
,
jalan
,
kawasan
,
kedap suara
,
kemacetan
,
kendaraan
,
kendaraan-kendaraan
,
kepadatan
,
klakson
,
lajur
,
lampu merah
,
macet
,
ruas
,
senyap
,
sore
,
suara
,
tokyo
,
warga negara
Langganan:
Postingan
(
Atom
)