Tampilkan postingan dengan label timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label timur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Kanal Banjir Timur, Sampahmu Terancam Abadi...

JAKARTA, KOMPAS.com - Timbunan sampah yang menumpuk di sepanjang aliran Kanal Banjir Timur (BKT) dipastikan sulit diatasi. Selain karena sulitnya mengubah perilaku warga yang kerap membuang sampah di sembarang tempat, anggaran pemerintah untuk mengatasi timbunan sampah pun tergolong minim.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Banjir Kanal Timur Monang Ritonga mengatakan, pemerintah hanya menggelontorkan dana sebesar Rp 3 miliar per tahunnya untuk mengangkut sampah yang berada di aliran kanal. Jika dikalkulasikan, anggaran tersebut tidak mencukupi untuk mengatasi sampah di kanal sepanjang 23,5 km.

"Anggaran kami cuma Rp 3 miliar per tahunnya untuk bersih-bersih. Itu juga tidak hanya untuk bersih-bersih sampah, tapi ada juga eceng gondok, kangkung-kangkungan dan teknis operasional lainnya," ujar Monang saat dihubungi wartawan, Rabu (31/10/2012).

Monang menyebutkan, masalah sampah di KBT sudah pada tahap mengkhawatirkan. Bayangkan saja, 34 meter kubik sampah mengepung KBT setiap harinya. Jika dikalkulasikan, itu berarti terdapat 1.020 meter kubik sampah tiap bulan atau 12.240 meter kubik tiap tahunnya.

Timbunan berbagai jenis sampah tersebut, lanjut Monang, sebagian besar memang tidak dibuang ke KBT secara langsung oleh warga. Namun, warga membuang sampah ke kali yang terhubung dengan kanal yang selanjutnya mengalir ke kanal sepanjang 23,5 kilometer. Sisanya, teronggok di tepi-tepi kanal sehingga membuat pemandangan semakin tak sedap.

"Sampah-sampah ini kebanyakan berasal dari kali-kali yang ada di hulu Kanal Banjir Timur, yaitu Kali Buaran, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Cakung, dan Kali Kramat," tutur Monang.

Meski menghadapi kondisi sulit, pihak UPT tak menyerah. Pihaknya tetap memaksimalkan tiga unit ekskavator dan tiga truk untuk melakukan pengerukan sampah di sepanjang kanal yang berhulu di Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, dan bermuara di Marunda, Jakarta Utara itu.

Kondisi memprihatinkan KBT akibat kepungan sampah memang patut menjadi sorotan. Sebagai kanal raksasa penanggul banjir Ibu Kota, KBT selayaknya bersih dari sampah. Jangan sampai pembangunan megaproyek KBT senilai ratusan triliun tersebut malah menjadi masalah baru.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/31/16205428/Kanal.Banjir.Timur.Sampahmu.Terancam.Abadi

Selasa, 30 Oktober 2012

Kanal Banjir Timur Akan Jadi Ikon Jakarta

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Jakarta Timur, Andriyansyah, mengungkapkan dalam waktu dekat, bantaran Kanal Banjir Timur (KBT) akan ditanami pohon langka dan tanaman buah-buahan langka.

Hal ini dilakukan dalam upaya menjadikan KBT sebagai ikon Jakarta.

"Kami mengajak masyarakat, baik di sepanjang KBT maupun yang melintas untuk menjaga kebersihan. Ini akan dibuat jalur trek sepeda. BKT juga akan ada pendidikan untuk tanaman langka, buah-buahan langka," jelas Andriyansyah usai penutupan Festival BKT di Jakarta Timur, Minggu (28/10/2012) malam.

Lebih lanjut, Andriyansyah, menuturkan penanaman tanaman langka ini akan dilakukan bersama istri anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II sepanjang 1,3 kilometer di bantaran KBT.

"Tanggal 1 Desember nanti sudah kick off. Ada tiga lokasi. Beliau-beliau (istri menteri KIB II) menanam pohon langka dan buah-buahan langka, dan pohon unggulan untuk produk ekonomi, dengan lebar 100-120 meter," katanya.

Menurut Andriyansyah, ke depan pihaknya telah memiliki konsep untuk BKT yang dilengkapi semacam kegiatan ekonomi seperti delapan rest area besar dan 28 rest area kecil. Konsep ini direncanakan akan dibangun Dinas Pertamanan.

Selain itu, Festival BKT akan dilangsungkan sebagai iven tahunan. Dan akan dilangsungkan bukan hanya di bantaran di wilayah Jakarta Timur, tapi bisa juga di bantaran BKT wilayah Jakarta Utara.

"Nanti kami evaluasi lagi. Ini baru iven pertama kali. Ini momen yang sangat bagus. Yang jelas Insya Allah ini jadi iven tahunan. Banyak pertimbangan nanti," ujarnya.

Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/10/29/kanal-banjir-timur-akan-jadi-ikon-jakarta

Senin, 29 Oktober 2012

Berita Foto: Festival Kanal Banjir Timur

JAKARTA, KOMPAS.com - Ratusan tenda putih berjejer di sepanjang Jalan Jenderal RS Soekanto, Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur. Tenda yang berisikan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan sponsor itu ikut memeriahkan Festival Kanal Banjir Timur. Festival tersebut secara resmi dibuka hari ini, Jumat (26/10/2012).

Festival yang akan berlangsung selama tiga hari hingga Minggu (28/10/2012) tersebut resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Jakarta Timur Krisdianto. Ribuan warga tampak datang dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor untuk meramaikan dan ingin mengetahui acara apa yang sedang berlangsung tersebut. Mereka terlihat antusias dan penasaran melihat festival tersebut. Mereka ini tidak hanya warga dari Jakarta timur, tetapi juga warga di wilayah lain di Jakarta.

Terdapat panggung hiburan yang didirikan oleh panitia untuk menghibur warga yang datang dengan alunan musik dan jumpa artis Ibu Kota. Festival ini sangat menarik perhatian warga yang melintas di sekitar Kanal Banjir Timur sehingga banyak warga menepikan kendaraannya untuk melihat acara yang sedang berlangsung. Hal itu mengakibatkan arus lalu lintas di jalan sekitar lokasi menjadi lambat.

Dalam acara ini panitia juga menampilkan pentas budaya Betawi maupun nasional, seperti festival tanjidor, tarian nasional, topeng Betawi, dan tradisi palang pintu. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dijadwalkan akan ikut menghadiri festival tersebut pada Minggu lusa bersamaan dengan dilaksanakannya peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/26/2102107/Berita.Foto.Festival.Kanal.Banjir.Timur

Senin, 08 Oktober 2012

Kampanye Rebut Jalur Khusus Sepeda di Kanal Timur

JAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan pesepeda yang tergabung dalam Rombongan Bekasi (Robek) melakukan aksi damai "Rebut Lajur Sepeda BKT" di jalur Kanal Banjir Timur, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012) ini.

Robek yang juga merupakan bagian dari Bike to Work (B2W) Indonesia berkumpul di McDonald's, Simpang Radin Inten, sebelum memulai aksinya di sepanjang 6,7 kilometer trase kering Kanal Banjir Timur ke arah barat menuju Cipinang.

Pesepeda memenuhi jalur, beriringan mengikuti marka berupa garis warna kuning dan garis putih sambung di bahu jalan. Selain berkampanye bahwa lajur tersebut bukan untuk kendaraan bermotor, Bike to Work Indonesia juga menyampaikan pesan bahwa sepeda adalah alat transportasi alternatif yang ramah lingkungan.

Aksi yang dimulai pukul 06.00 WIB tersebut berakhir pukul 08.00 WIB di muara Kali Cipinang, yang merupakan pertemuan awal dengan Kanal Banjir Timur. Sebagian pesepeda melanjutkan aktivitas dengan bersepeda menuju kantor dan sebagian berbalik arah, beristirahat, memanfaatkan parkir khusus sepeda yang sudah jadi.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/05/11270537/Kampanye.Rebut.Jalur.Khusus.Sepeda.di.Kanal.Timur

Jumat, 07 September 2012

Warga Sambut Jalur Sepeda di KBT, tapi...

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembuatan jalur khusus sepeda di trase kering Kanal Banjir Timur (KBT), Jakarta Timur, disambut baik oleh para pengguna sepeda. Program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut dianggap mengakomodasi kebutuhan penggemar sepeda akan keselamatan di jalan.

Raditya Aditama (37), salah seorang penggemar sepeda, mengungkapkan hal tersebut. Warga Kavling DKI, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu mengatakan, jalur sepeda dapat mengurangi risiko kecelakaan. Pasalnya, pria yang bekerja di wilayah Kuningan itu merasakan diskriminasi yang tinggi saat melintas di jalan umum, terutama dengan motor.

"Ya senang, mengurangi risiko. Setiap hari kan pulang pergi ke kantor naik sepeda, jaraknya 11 kilometer. Dari rumah lewat sini (KBT), lima kilometer safe-lah, enam kilometer sisanya baru fight lagi," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Rabu (6/9/2012) sore.

Pria yang sudah setahun terakhir pergi pulang dari rumah ke kantor dengan sepeda lipatnya itu berharap, jalur sepeda tersebut benar-benar dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. Terlebih bagi kendaraan bermotor, untuk tidak memanfaatkan jalur tersebut sebagai jalan pintas. Pasalnya, hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan para penggemar sepeda.

"Kalau masalah motor, memang sepertinya enggak cukup kalau cuma dipasang rambu. Pasti dilanggar, harus ada palang. Itu saja masih sering dilewati juga sih," ujarnya.

Senada dengan Radit, demikian juga yang dirasakan David Herio (23), warga Duren Sawit, Jakarta Timur. Meski tak setiap hari melewati jalur itu dengan sepeda, dia bersama teman-temannya kerap melakukan aktivitas di sepanjang jalur KBT pada hari Minggu pagi. Dengan adanya jalur itu, dia tak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk melepas keringat.

"Di sini sudah enak, kalau Minggu jadi pilihan juga buat olahraga. Jadi enggak perlu jauh-jauh ke Senayan cuma buat sepedaan dan ngejar car free day di sana," ujarnya.

Meski demikian, masih banyak hal yang perlu diperhatikan pemerintah agar tempat tersebut menjadi tujuan favorit warga. Misalnya, masih terlihatnya pengendara motor yang melintas. Belum lagi kurangnya fasilitas kamar mandi serta penjual minuman dan makanan ringan yang sembarangan mendirikan lapak. Pasalnya, hal itu bisa membuat kesan kumuh.

"Yang paling parah motor sih memang. Sampai pernah kan orang kampung pinggiran KBT bakar satu motor gara-gara nabrak orang kampung lagi melintas mau nyari angkot buat kerja, kan bahaya banget," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, sepanjang 23,5 km trase kering KBT, Jakarta Timur, akan menjadi surganya pengendara sepeda. Senin lalu, petugas Dinas Perhubungan pun telah memasang rambu-rambu khusus jalur sepeda. Pembangunan jalur sepeda itu akan dilakukan secara bertahap dan diprediksi rampung pada Desember 2012 mendatang.

Untuk sementara, Dishub baru menyiapkan rambu dan marka sepanjang 6,7 km mulai dari Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, sampai Pondok Kopi. Itu pun baru satu sisi saja, yaitu trase kering yang bersebelahan dengan Jalan Basuki Rachmat, sementara sisi yang satunya belum.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/06/14373085/Warga.Sambut.Jalur.Sepeda.di.KBT.Tapi

Jumat, 03 Agustus 2012

Hujan Tak Kunjung Turun, KBT Dipenuhi Sampah

JAKARTA, KOMPAS.com - Kanal banjir timur di Jakarta Timur hingga Jakarta Utara saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Sepanjang musim kemarau, banyak sampah yang tersangkut di area tersebut.

Air yang mengalir di KBT kini tampak berbuih dan berwarna hitam. Warga di sekitar KBT juga mencium bau tak sedap dari saluran air tersebut. Pelaksana Kebersihan UPT Kanal Banjir Timur Sarma Marpaung mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin membersihkan sampah di tempat tersebut. Ia mengatakan, banyaknya sampah itu juga diakibatkan aliran air yang kecil karena kemarau.

"Kami sedikit kesulitan. Saat ini aliran air kecil karena hujan yang tak menentu. Akibatnya, sampah banyak yang tersangkut di tengah-tengah," ujar Sarma saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/8/2012).

Kondisi tersebut diperburuk dengan bertambahnya volume sampah dari Kali Cipinang. Menurut Sarma, jumlah sampah dari Kali Cipinang saat ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Jika kondisi volume air tinggi, biasanya sampah akan lebih mudah untuk diangkut. Hanya saja, kata Sarma, aliran air yang kecil membuat sampah tersangkut dan berada di tengah saluran. "Kita menurunkan petugas pembersih untuk membawa sampah dari tengah ke pinggir, sebelum akhirnya kita angkut ke bak penampungan," ujar Sarma.

Ia mengatakan, pembersihan dengan cara seperti itu akan terus dilakukan setiap hari selama sampah masih ada di sepanjang aliran dan di bantaran KBT. Pembersihan sampah akan lebih mudah dilakukan bila debit air tinggi. Sarma juga berharap agar warga turut menjaga kebersihan sepanjang aliran KBT dengan tidak membuang sampah ke kali.

Dari pantauan Kompas.com, sejumlah pekerja tampak melakukan pengangkutan sampah di KBT dengan karung-karung plastik. Karung tersebut diisi dengan sampah lalu diangkut ke pinggir KBT dan dibawa ke bak penampung.

Sementara itu, di kawasan Cipinang Besar Selatan, di mana KBT berbatasan langsung dengan Kali Cipinang, sebuah bambu panjang digunakan sebagai sekat penahan agar sampah tidak mengalir ke KBT. Sebuah alat berat pun disiagakan di sisinya untuk mengangkut sampah dari sekat tersebut.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/02/18331245/Hujan.Tak.Kunjung.Turun.KBT.Dipenuhi.Sampah

Rabu, 18 April 2012

Genangan Air Perparah Kemacetan di Jakarta

JAKARTA (Suara Karya): Hujan lebat disertai angin kencang kembali melanda wilayah DKI Jakarta, Selasa (17/4) sore. Genangan di jalan raya muncul di banyak lokasi akibat saluran air (drainase) yang tidak berfungsi. Pohon tumbang yang terjadi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan di Jalan Raya Joglo (tidak jauh dari menara TVRI), Jakarta Barat, membuat arus lalu lintas menjadi macet.

Lalu lintas di Tol Tomang arah Kebon Jeruk juga macet. Penyebabnya karena genangan setinggi 20 cm di Km 2. "Imbas kemacetan dari Harmoni arah Tomang dan dari arah Semanggi ke Senayan," kata Hadiman, warga Jalan Cipinang Muara I, Pondok Bambu, Jakarta Timur, yang terjebak berjam-jam di daerah tersebut.

Kemacetan terjadi sejak sore hari bertepatan dengan jam pulang kerja. Imbas kemacetan itu pun merembet ke mana-mana. Jalur ke arah Bandara Soekarno-Hatta pun mengalami kemacetan parah.

Begitu juga di sebelah timur Jakarta, kendaraan roda empat dan dua dari Bekasi menuju Jakarta, baik yang melewati jalan arteri maupun tol, bergerak tersendat. Di tol, dari Bekasi menuju Jakarta, pengendara harus menahan rasa kesal karena terjebak macet berjam-jam.

"Saya dari Bekasi Timur ke Mampang di Jakarta Selatan makan waktu dua jam. Di Bekasi tidak hujan, tapi di Jakarta ternyata hujan sehingga menimbulkan kemacetan yang berdampak sampai Bekasi," kata Ruslan, salah seorang warga Bekasi yang berkantor di Jakarta Selatan.

Pengendara yang memilih jalur luar tol, mulai dari Semanggi hingga ke arah Slipi, mendapati arus lalu lintas yang sangat padat. Pasalnya, banyak kendaraan yang melambatkan lajunya akibat genangan. "Derasnya hujan dan angin kencang membuat jarak pandang pengendara menjadi terbatas," kata petugas TMC Polda Metro Jaya, Aiptu Kasno, kemarin.

Kasno mengatakan, hujan deras turun di kawasan Depok, Bintaro, Jagakarsa, Ragunan, Cilandak, Pasar Minggu, Mampang, Pondok Indah, Ciputat, Kuningan. Di Lebak Bulus ada pohon angsana yang tumbang, mengakibatkan lalu lintas di kawasan itu tersendat.

Angin kencang mengakibatkan pohon beringin tumbang tidak jauh dari menara TVRI, di Jalan Joglo Raya, Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Tak ada korban dalam peristiwa itu. Namun, tumbangnya pohon yang melintang di jalan membuat arus lalu lintas di kawasan tersebut macet parah.

Jatmiko (45), warga RT 02/06, Kelurahan Joglo, mengungkapkan, tumbangnya pohon beringin setinggi tujuh meter hingga tercabut dari akarnya itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. "Melihat kondisi tumbangnya pohon beringin tersebut, kemungkinan karena usianya sudah tua dan banyak akarnya yang sudah lapuk. Jadi, ketika hujan disertai angin kencang, akar pohon itu tak dapat menahan beban pohon hingga tumbang dan menutup Jalan Joglo Raya," katanya.

Wakil Camat Kembangan, Edy Mulyanto, mengatakan, pihak Kelurahan Joglo dibantu petugas Satpol PP berhasil menyingkirkan pohon itu dengan peralatan seadanya, seperti gergaji kayu dan golok. Keterbatasan alat membuat proses evakuasi berjalan lambat hingga berdampak pada macetnya arus lalu lintas dari arah Joglo menuju Cileduk dan sebaliknya.

"Demi mempercepat proses evakuasi, Sudin Pertamanan Jakarta Barat bekerja ekstra keras. Besarnya pohon beringin tersebut, diperlukan gergaji mesin untuk memotongnya. Tapi yang jelas, tidak ada korban saat pohon tersebut tumbang," ucapnya menegaskan.

Sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat juga tergenang 10 cm-15 cm. Akibatmya, arus lalu lintas tersendat karena banyak kendaraan, terutama kendaraan roda dua, berusaha menghindari genangan air.

Pengamatan Suara Karya di lapangan, genangan terjadi di Jalan KH Mas Mansyur, Jalan Letjen Suprapto, Jalan Bendungan Hilir Raya, Jalan Rasuna Said, Kuningan tepatnya depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jalan Pejompongan. Arus lalu lintas di wilayah itu macet parah karena kejadian tersebut saat jam pulang kantor.

Kasatlantas Polres Jakarta Pusat, AKBP I Gusti Ketut Suarta, mengatakan, lalu lintas tersendat karena di sejumlah jalan raya terjadi genangan, namun tidak menyebabkan kemacetan panjang. "Volume kendaraan bertambah saat jam pulang kantor," katanya. (Yon Parjiyono)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=301394

Senin, 16 April 2012

Masakan Betawi dalam Kenangan

Sejumlah masakan Betawi tinggal tersisa dalam kenangan. Kuliner lokal itu berangsur lenyap seturut dengan memudarnya sebagian tradisi masyarakat Betawi.

Anda tahu sayur babanci? Tidak perlu merasa bersalah jika tidak tahu sebab banyak orang Betawi pun yang tidak tahu. Supiati (52), warga Betawi yang tinggal di Ujungmenteng, Cakung, Jakarta Timur, misalnya, hanya pernah mendengar nama masakan itu dari ibu mertuanya.

”Namun, sampai sekarang saya enggak tahu bagaimana bentuknya. Ibu juga susah ngejelasinnya dan cuma bilang, ’Itu sayur santen yang ada anunya’.” Sekadar catatan, kata anu biasa digunakan orang Betawi sebagai kata ganti apa saja.

Ya, babanci memang sudah langka kalau tidak mau disebut punah. Untuk memperkenalkan kembali masakan tersebut, chef Bara Pattiradjawane mendemonstrasikan cara mememasak babanci di depan ratusan peserta kelas masak di acara Chef and Food Festival Localicious yang diselenggarakan Kompas di Kota Baru Parahyangan, Bandung.

Meski disebut sayur, tidak ada sayuran yang digunakan. Masakan ini berbahan daging, santan, kelapa sangrai, dan kelapa muda. Bumbunya terdiri dari kunyit, jahe, kemiri, terasi, ketumbar, jintan, bawang merah, bawang putih, laos, salam, dan cabai.

Sekilas rupa babanci seperti soto dengan kuah lebih kental. Namun ketika masuk ke mulut, rasanya lebih dekat ke gulai atau kari. ”Masakan ini memang enggak jelas maunya. Soto bukan, gulai juga bukan. Makanya, orang menyebutnya sayur banci,” ujar Bara.

Ciri khas masakan ini adalah taburan serutan kasar kelapa muda di atasnya. Daging kelapa muda yang segar membuat rasa sayur yang berbumbu kental ini jadi lebih ringan. Tekstur kelapa muda yang lembut juga bisa mengimbangi tekstur daging yang kasar.

Sayur besan

Selain babanci, sayur besan juga sudah jarang ditemukan. Namun nasibnya lebih baik ketimbang babanci. Setidaknya sayur berkuah santan itu masih ada yang menjajakan. Satu dari sangat sedikit warung Betawi yang menyediakan sayur besan adalah Warung Nasi Uduk Mpok Iyoh di pertigaan Jalan Pahlawan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Sayur itu juga sempat dijajakan, bahkan menjadi andalan, Warung Besan di Jalan Kalimalang, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Namun, sejak November 2011, sayur besan dihapus dari menu karena permintaan konsumen kian merosot. ”Mungkin orang sudah enggak kenal sama sayur besan,” kata penjaga warung tersebut.

Sayur besan yang dijual Mpok Iyoh berkuah santan encer. Isinya kacang panjang, kentang, suun, daun bawang, dan terubuk atau bunga tebu. Rasanya gurih dan manis dengan jejak ebi yang sangat kuat. Mpok Iyoh mengatakan, kunci rasa sayur besan terletak pada ebi. Bumbu lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, santan, salam, sereh, dan lengkuas ditambahkan sebagai penunjang.

Mpok Iyoh mengatakan, pelanggan sayur besan buatannya kebanyakan orang Betawi. ”Mereka hanya bisa dapetin di sini, di tempat lain udah enggak ada,” tutur Iyoh yang menjual sayur besan seharga Rp 8.000 per mangkuk.

Semur andil

Sayur besan sebenarnya memang bukan sejenis sayur yang dijajakan di warung. Orang Betawi biasanya membuat sayur ini dalam acara khusus, seperti prosesi perkawinan adat Betawi. ”Sayur ini disajikan untuk menghormati besan, makanya disebut sayur besan,” ujar Supiati.

Sekarang, Supiati melanjutkan, tidak semua orang Betawi menjamu besannya dengan sayur besan. Pasalnya, orang Betawi sudah kawin campur dengan suku lain. ”Kalau Betawi sama Betawi kawin, baru dah ada sayur besan,” ujar Supiati.

Bahan untuk membuat sayur besan juga tidak mudah ditemukan. ”Terubuk, misalnya, sudah langka banget. Saya harus cari sampai Parung, Bogor,” kata Mpok Iyoh.

Selain sayur besan, semur kerbau andil (atau semur andil) juga terkait dengan tradisi orang Betawi, terutama yang tinggal di pinggiran Jakarta, seperti Cakung, Srengseng, Bekasi, Ciputat, dan Depok. Dulu, orang Betawi punya tradisi patungan atau andilan uang untuk membeli kerbau beberapa bulan sebelum bulan Ramadan. Biasanya satu kerbau ditanggung sekitar 20 keluarga.

Kerbau itu dipelihara bersama dan biasanya disembelih satu-dua hari menjelang Lebaran. Daging kerbau itu dibagikan ke warga senilai jumlah uang yang mereka sumbangkan. Itu sebabnya masakannya disebut semur andil.

Rasa masakan ini sama dengan semur daging sapi, yakni manis, gurih, dan hangat karena mengandung banyak rempah seperti lada serta biji pala. Namun, daging kerbau memiliki aroma sedikit tajam dibandingkan dengan daging sapi. Seratnya pun lebih kasar dan liat sehingga tidak mudah hancur meski dihangatkan berkali-kali.

”Kita bisa makan semur andil satu bulan penuh sejak Lebaran. Semur diangetin terus sampai kering,” kata Supiati.

Hingga tahun 1990-an, kata Supiati, hampir setiap kampung Betawi di Ujungmenteng, patungan kerbau menjelang Lebaran. Namun, karena uang patungan untuk membeli kerbau semakin tinggi, akhirnya banyak yang memilih membeli daging sapi sendiri-sendiri. ”Tahun lalu masih ada satu kampung yang patungan kerbau, tetapi enggak tahu tahun depan,” ucap Supiati.

Seiring dengan hilangnya tradisi patungan kerbau, masakan semur andil pun lambat laun lenyap. Sama seperti sayur besan dan babanci.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/04/14/07535836/Masakan.Betawi.dalam.Kenangan