Tampilkan postingan dengan label situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label situs. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

Duel Anggaran Jakarta: Publik Aktif Kawal APBD

JAKARTA—Lima puluh ribu rupiah per sendok makan untuk sebuah sekolah menengah kejuruan di Jakarta Selatan. Rp26 juta untuk garpu dan peralatan makan lain. Plus, papan catur dengan total harga Rp200 juta.

Itulah sebagian dari perincian anggaran daerah DKI Jakarta yang tengah ramai diperdebatkan. Perincian tersebut bisa dilihat di situs KawalAPBD.org. Situs itu menerbitkan dua versi APBD, yakni versi yang diajukan oleh DPRD serta versi dari Gubernur Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Setiap kubu bersikeras versi mereka harus menjadi versi final. Masyarakat kini bisa melihat sendiri anggaran versi mana yang lebih pas melalui situs KawalAPBD yang digawangi Ainun Najib, 29 tahun. Bersama seorang rekan, ia mengambil data kedua anggaran—yang sudah diedarkan secara online oleh pemerintah—lalu mendampingkan keduanya untuk melihat apa saja perbedaannya.

“Kami melihat datanya tersedia online, dan kami tahu datanya bisa divisualisasikan serta dipresentasikan dengan cara yang [mudah dilihat],” kata Najib, yang sehari-hari bekerja di situs biro perjalanan.

Masyarakat bisa mengomentari tiap-tiap alokasi anggaran. Seperti di Facebook, ada juga tombol “like” dan “dislike”. Situs ini memungkinkan warga Jakarta merasa lebih terlibat dalam pembelanjaan uang negara, ujar Najib.

Ia belum memutuskan, akan diapakan komentar-komentar yang sudah masuk dari masyarakat. Meski demikian, Najib sedang berpikir untuk meluncurkan beberapa fitur baru. Sementara itu, debat soal anggaran DKI masih berlanjut. Keputusan akhir ada di tangan Kementerian Dalam Negeri, yang mengaku masih menanti kedua pihak mengajukan anggaran yang disetujui bersama. Saat ini, prosesnya masih tertunda mengingat Gubernur Ahok terserang penyakit demam berdarah.

Pengguna situs itu telah mengkritik alokasi dana yang diajukan DPRD, misalnya tentang dana Rp4,2 miliar untuk alat UPS (uninterruptible power supply) di sekolah-sekolah. Beberapa pengguna pun mengajukan usul tentang bagaimana anggaran itu sebaiknya dibelanjakan.

Situs KawalAPBD mencerminkan keinginan anak muda Indonesia akan keterbukaan dan transparansi di pemerintahan, kata Philips Vermonte, peneliti politik di Centre for Strategic and International Studies. Salah satu contohnya adalah situs Kawal Pemilu, yang mulai aktif setelah pemilu presiden tahun lalu. Situs itu memungkinkan masyarakat ikut memantau dan menguji silang penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum. Najib juga terlibat dalam pembentukan situs itu.

“[Anak muda] sudah muak dengan cara politikus bekerja, jadi mereka menunjukkan cara-cara baru untuk mengupayakan transparansi,” ujar Vermonte.

Najib menyatakan semangat KawalAPBD adalah “memperbanyak data pemerintah yang mudah diakses dan dipresentasikan kepada masyarakat.” Ia menambahkan, “Kami sudah tahu, berkat Kawal Pemilu, bahwa warga mau berpartisipasi.”

KawalAPBD.org menggabungkan data dari dua versi anggaran untuk menentukan perbedaan apa saja yang ada antara keduanya. Jika ada alokasi yang tepat sama, situs itu menggabungkannya dalam satu baris.

“Jika tidak sama persis, kami mencoba mencari [alokasi] yang mirip lalu mengukur seberapa banyak kemiripannya,” tutur Najib.

Tim tersebut menemukan bahwa anggaran versi DPRD memiliki 6.000 item lebih banyak daripada versi yang diajukan Gubernur Ahok.

Najib mengacungkan jempol kepada pemerintah Jakarta yang semakin giat mengabarkan aktivitas mereka via dunia maya.

“Kami harap ada semakin banyak data pemerintah yang dipaparkan ke masyarakat … dan kami harap daerah lain juga melakukan hal yang sama.”

Sumber : http://indo.wsj.com/posts/2015/03/11/duel-anggaran-jakarta-publik-aktif-kawal-apbd/

Senin, 09 Maret 2015

Pantau RAPBD DKI Jakarta Lewat "KawalAPBD.org"

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah situs yang dibuat untuk mengawal RAPBD DKI muncul di jagat maya. Situs tersebut mengajak netizen untuk bersama-sama mencari anggaran siluman DPRD DKI Jakarta.

Situs web beralamat di http://kawalapbd.org tersebut dibuat oleh Pahlevi Fikri Auliya di tengah maraknya dugaan penggelembungan anggaran yang dilakukan oleh anggota dewan DPRD DKI Jakarta dalam RAPBD.

Konfirmasi tersebut didapat KompasTekno melalui akun Twitter Ainun Nadjib, penggagas situs Kawal Pemilu yang terbukti sangat berguna dalam mengawal jumlah suara saat rekapitulasi suara Pemilu Presiden 2014 lalu.

"Pantau RAPBD DKI Jakarta di KawalAPBD.org karya @_fikri_auliya," demikian tweet Ainun Najib sembari me-mention akun milik Fikri, Kamis (5/3/2015) malam.

Menurut Ainun, data di situs Kawal APBD tersebut didapat dari website Pemprov DKI yang berupa file PDF. Dari file PDF tersebut, Ainun dan Fikri mengambil teks-nya kemudian diproses dan dimuat di situs Kawal APBD.

Kawal APBD memuat seluruh usulan anggaran yang dibuat oleh SKPD (satuan kerja perangkat daerah), dan membandingkan antara versi DPRD dan Pemda.

Netizen pun bisa turut berkontribusi memeriksa biaya anggaran tersebut dan memberikan komentar. Metode yang disebut dengan crowdsourcing (urun daya) ini mirip dengan metode yang dilakukan Ainun dalam situs Kawal pemilu sebelumnya.

Menurut pantauan KompasTekno, Jumat (6/5/2015), komentar paling banyak adalah tentang anggaran pengadaan UPS (uninterruptible power supply) untuk sekolah-sekolah di DKI Jakarta yang dianggarkan hingga Rp 6 miliar.

Pengunjung bernama Mohamad Fiqri pun berkomentar dengan memberikan tautan harga perangkat UPS di situs e-commerce Ebay yang diurutkan dari harga terendah hingga tertinggi.

Harga UPS di situs Ebay yang lebih rendah dibandingkan harga UPS yang dianggarkan oleh DPRD DKI Jakarta untuk satu sekolah pun menggelitik rasa penasarannya.

"Itu 6 Milyar untuk berapa UPS ya? kalaupun beli produk sejenis itu, memangnya di sekolah tersebut ada Datacenter hingga harus membeli UPS dengan spesifikasi tersebut?" demikian tulis Fiqri.

Selain UPS, pengadaan buku Trilogi Ahok yang dianggarkan sebesar Rp 10 miliar pun bisa dilihat di situs tersebut.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2015/03/06/10124177/Pantau.RAPBD.DKI.Jakarta.Lewat.KawalAPBD.org

Jumat, 01 Maret 2013

Kini, Warga Dapat Mengakses APBD DKI Melalui Situs Web

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memenuhi janjinya untuk memublikasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta 2013. Mulai Kamis (28/2/2013), anggaran tersebut telah ditayangkan situs web www.jakarta.go.id.

Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informasi Masyarakat DKI Jakarta Eko Hariadi mengatakan, akses APBD DKI melalui situs web itu merupakan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal transparansi dan keterbukaan. "Dengan bisa diaksesnya APBD melalui website, masyarakat jadi bisa ikut mengawasi dan mengawal penggunaan anggaran," kata Eko di Balaikota Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Informasi yang disampaikan dalam situs web tersebut terkait dengan anggaran secara makro dan program unggulan Pemprov DKI Jakarta tahun anggaran 2013. Seluruh informasi mengenai APBD, seperti kode rekening serta jumlah anggaran yang dialokasikan untuk sebuah kegiatan, terpampang dalam situs web tersebut. Sementara itu, untuk poster yang akan ditempel di setiap kantor RW baru bisa direalisasikan pekan depan.

"Untuk poster masih memerlukan waktu satu pekan lagi karena pencetakannya lebih lama," ujarnya.

APBD DKI 2013 telah ditetapkan sebesar Rp 49,98 triliun dengan rincian aspek penerimaan yang terdiri atas pendapatan daerah sebesar Rp 41,53 triliun dan penerimaan pembiayaan sebesar Rp 8,45 triliun. Adapun aspek pengeluaran terdiri dari belanja daerah sebesar Rp 45,57 triliun dan pengeluaran pembiayaan Rp 4,4 triliun. "Seluruh anggaran untuk program unggulan Pemprov DKI Jakarta juga dapat diakses," kata Eko.

Pada tahun 2013, Pemprov DKI memiliki 20 program unggulan, antara lain pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT), normalisasi sungai dan saluran drainase, serta penataan pembangunan situ, waduk, dan tanggul pengaman pantai. Pemprov DKI juga mengedepankan pembangunan flyover dan underpass; optimalisasi, perluasan, serta penambahan jaringan jalan dan missing link; pembangunan Terminal Bus Pulogebang; peningkatan pengelolaan bus transjakarta; pembangunan mass rapid transit (MRT); penataan trayek dan peremajaan angkutan umum berupa pengadaan bus sedang untuk peremajaan angkutan umum reguler; serta pelayanan kesehatan masyarakat melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS).

Program unggulan lainnya adalah peningkatan pelayanan pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP), pembangunan rumah susun dan infrastrukturnya, penataan kampung dan kantong kumuh, pembangunan dan pengembangan ruang terbuka hijau (RTH), peningkatan pengelolaan air limbah domestik, dan pembangunan dan pengembangan lingkungan cagar budaya. Selanjutnya, peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan di tingkat kelurahan, peningkatan sarana dan prasarana komunikasi dan informatika, penataan pedagang kaki lima (PKL) di lima wilayah kota, dan peningkatan sarana-prasarana olahraga dan pemuda melalui pembangunan Stadion BMW.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/28/22411174/Kini.Warga.Dapat.Mengakses.APBD.DKI.Melalui.Situs.Web

Selasa, 12 Juni 2012

Jakarta Masuk 10 Kota Paling Dibenci Wisatawan Asing

JAKARTA memang bukanlah kota wisata utama di Indonesia. Popularitasnya kalah pamor dibandingkan Kuta, Bali. Namun yang mengejutkan, Jakarta ternyata masuk 10 kota yang paling dibenci oleh turis asing, versi situs wisata CNNGo.

Situs CNNGo baru saja mengeluarkan daftar 10 kota yang paling dibenci oleh wisatawan dunia. Ternyata, Kota Jakarta termasuk di dalamnya. Di antara 10 negara, Jakarta menempati peringkat ketujuh sebagai kota yang paling dibenci.

"Jakarta, dari perspektif wisatawan, adalah kota yang penuh tuntutan, kejutan, dan kesulitan," tulis seorang ekpatriat yang akhirnya mencintai Jakarta setelah enam bulan menetap kepada TripAdvisor. Lebih lanjut, seperti dituliskan CNNGo, Kota Jakarta yang luas namun penuh kemacetan, polusi, kemiskinan, serta wisata yang hanya berpusat di mal membuatnya tidak disukai wisatawan.

"Rata-rata wisatawan asing tiba di Jakarta hanya sebagai batu loncatan sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali, Yogyakarta, ataupun Sumatera," seperti disitat CNNGo, Senin (11/6/2012).

"Rata-rata turis menghabiskan waktu 7,84 hari di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik Indonesia. Namun nyatanya, mereka hanya butuh waktu 7,84 detik untuk memutuskan bahwa Jakarta bukanlah kota yang tepat untuk diapresiasi," lanjutnya.

Dalam daftar 10 kota paling dibenci wisatawan dunia, Jakarta menempati peringkat ketujuh. Peringkat pertama diduduki oleh Kota Tijuana di Meksiko. Turut masuk dalam daftar ini adalah Kota Sydney, Melbourne, Paris, Timbuktu, Los Angeles, Lima, New Delhi, Kairo, dan Belize.

Sumber : http://travel.okezone.com/read/2012/06/11/407/645079/jakarta-masuk-10-kota-paling-dibenci-wisatawan-asing