Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemiskinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

Ojek Aplikasi Berhasil Turunkan Kemiskinan di Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan, angka kemiskinan di Jakarta tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Meski demikian, menurunnya angka kemiskinan bukan disebabkan kinerja pemerintah dalam hal penyerapan anggaran, melainkan lebih kepada banyak terciptanya lapangan pekerjaan di sektor informal.

"Angka kemiskinan menurun karena lapangan kerja terbuka luas. Hanya sayangnya masih kebanyakan di sektor informal yang masih berperan. Informal kita kan kuat. Seharusnya, sektor-sektor formal digenjot juga supaya penyerapan APBD lebih cepat lagi," kata Kepala BPS DKI Jakarta Nyoto Widodo di kantornya, Kamis (1/10/2015).

Berdasarkan data yang dilansir BPS DKI, penurunan angka kemiskinan di Jakarta tahun ini mengacu pada jumlah penduduk miskin pada Maret 2015 yang mereka sebut hanya 398.920 jiwa atau setara 3,93 persen dari total jumlah penduduk di DKI Jakarta.

Jumlah tersebut lebih kecil 0,16 persen dari jumlah penduduk miskin pada September 2014 yang masih mencapai 412.790 jiwa atau setara 4,09 persen dari total jumlah penduduk.

Nyoto menyebut sejumlah usaha informal yang ia sebut berhasil mengurangi angka kemiskinan, yakni bisnis di bidang makanan dan layanan ojek berbasis aplikasi.

"Kuliner itu kan enggak pernah sepi di Jakarta, termasuk itu (ojek aplikasi). Walaupun katanya dimasalahkan, secara ekonomi itu meng-generate pertumbuhan ekonomi. Berapa banyak orang yang tertampung di Go-Jek, GrabBike, Uber," ujar dia.

Nyoto menekankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk lebih menggenjot penyerapan anggaran pada triwulan terakhir tahun ini. Sebab, kata dia, penyerapan anggaran sangat membantu pertumbuhan ekonomi.

"Jadi, belanja pemerintah itu memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Teorinya begitu. Di samping belanja masyarakat, belanja pemerintah juga. Kalau sekarang penyerapan anggaran Pemerintah DKI rendah, pertumbuhannya tidak akan meningkat dengan cepat," ucap Nyoto.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2015/10/01/20373771/Ojek.Aplikasi.Berhasil.Turunkan.Kemiskinan.di.Jakarta

Jumat, 29 Juni 2012

Ah, Kampanye Pengentasan Angka Kemiskinan Sudah Basi!

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi Henri Saparini menilai bahwa yang dibutuhkan pemimpin Jakarta mendatang bukan lagi mengentaskan angka kemiskinan. Hal terpenting di masa mendatang adalah membuka lapangan kerja agar warga tidak terjerumus ke dalam jurang kemiskinan.

Pada seminar bertajuk "Pilkada untuk Siapa" yang diselenggarakan di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu (27/6/2012), Henri menerangkan bahwa angka kemiskinan di Jakarta terbilang kecil. Namun, warga yang berada di ambang batas angka kemiskinan cukup besar.

"Angka kemiskinan hanya sekitar tiga persen karena dasar perhitungan penghasilan Rp 355.000 setiap bulan. Karena itu, angka kemiskinan di Jakarta masih kecil dibanding rata-rata nasional dan daerah lain," papar Direktur Econit ini.

Namun, lanjut Henri, angka pengangguran di Jakarta tergolong tinggi. Jika tidak dicari jalan keluar, ia khawatir banyak warga yang justru sedang mengarah ke dalam ceruk kemiskinan. Atas dasar itu, ia menilai, prioritas Gubernur DKI Jakarta mendatang bukan lagi mengentaskan angka kemiskinan, melainkan solusinya, yaitu upaya menyediakan lapangan kerja.

Henri mengatakan, prioritas tersebut tentu dapat menyelamatkan orang yang mendekati standar miskin yang ada. Salah satu unsur paling kritis adalah munculnya generasi pengangguran pascakeluar dari bangku sekolah tingkat atas.

Akademisi yang menjadi panelis debat cagub DKI Jakarta tiga hari lalu ini menilai, menambah jumlah sekolah kejuruan juga bukan solusi masalah tenaga siap kerja.

"Dalam pemaparan visi misi, salah satu cagub ada yang membanggakan kualitas SMK-nya. Tapi faktanya, 18 persen lulusan SMK menjadi pengangguran," ujarnya.

Yang lebih penting, menurut Henri, adalah menyiapkan sistem pendidikan yang memiliki link dengan dunia kerja. Ia juga menilai, pemimpin Jakarta harus memiliki kreativitas untuk mempromosikan setiap setiap aspek yang menjadi keunggulan Ibu Kota.

Jakarta, misalnya, merupakan kota dengan berbagai warga dari hampir semua suku bangsa Nusantara berkumpul. Potensi ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menjadikan Jakarta sebagai tempat promosi awal warisan budaya yang ada di seluruh Indonesia. Nyatanya, yang lebih sering terjadi adalah pecahnya konflik antarsuku.

"Di luar negeri terjadwal setiap bulannya terkait komunitas apa yang akan memamerkan kemampuannya. Turis asing dapat melihat jadwal tersebut dan menentukan waktu kunjungannya," kata Henri.

Ia berpandangan, pemimpin Jakarta mendatang seharusnya mampu meningkatkan potensi wisata tersebut. Selain itu, masalah kemacetan pun perlu diatasi karena sangat menghambat produktivitas warga.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/06/28/06083315/Ah.Kampanye.Pengentasan.Angka.Kemiskinan.Sudah.Basi

Jumat, 16 Maret 2012

Ampun, Warga Miskin Jakarta Meningkat

INILAH.COM, Jakarta - Masalah kemiskinan di Ibukota merupakan permasalahan serius. Tak heran jika program pengentasan kemiskinan juga selalu digembar-gemborkan dalam janji politik calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pemilukada DKI Jakarta.

Beberapa poin pengentasan kemiskinan diserukan pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2007 silam, yakni mendorong perbaikan kampung bagi permukiman warga miskin, lapangan kerja bagi warga miskin, merevisi Perda No 11/1988 tentang Ketertiban Umum dan perda lainnya yang tidak berpihak kepada warga miskin, hingga alokasi dana APBD DKI untuk pembangunan yang manfaatnya bisa di nikmati warga.

Tak hanya itu, janji memerangi kemiskinan dan kebodohan dengan menggratiskan biaya pengobatan bagi pasien warga miskin atau janji pendidikan gratis hingga SMA , dianggap cukup jitu dan cerdas dalam menarik simpati masyarakat. Namun, apakah janji-janji tersebut telah terealisasi? Belum.

Angka penduduk miskin di Jakarta ini berdasar survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, per Maret 2011, malah makin bertambah sebesar 51.240 jiwa. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan jumlah orang miskin selama pertahun. Pada data per Maret 2011, tercatat jumlah orang miskin menjacapi 363.420 jiwa. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2010 dengab periode yang sama, sebanyak 312.180 jiwa.

Bahkan BPS memprediksi garis kemiskinan pada tahun 2012 akan lebih tinggi daripada angka kemiskinan sebelumnya. Ini karena angka kemiskinan mendekati angka inflasi yang terjadi sepanjang tahun. Ditengarai, peningkatan ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah kapita per bulan garis kemiskinan di tahun 2011, serta pola hidup masyarakat yang cenderung berubah-ubah.

Terkait kemiskinan, BPS DKI telah melakukan survei di enam wilayah DKI Jakarta, hasilnya garis kemiskinan tahun 2011 sebesar Rp355.480 per kapita per bulan. Jumlah ini lebih tinggi dari garis kemiskinan pada tahun 2010 yang hanya mencapai Rp331.169 per kapita per bulan.

Kenaikan garis kemiskinan ini disebabkan kenaikan laju inflasi dari tahun sebelumnya. Laju inflasi pada Maret 2010 hanya mencapai 3,49 persen, menjadi 5,95 persen pada Maret 2011. “Laju inflasi tinggi di tahun 2011, dikarenakan adanya kenaikan harga-harga makanan dan minuman. Itu yang memacu kenaikan garis kemiskinan,” kata Kepala BPS DKI Jakarta, Agus Suherman.

Akibatnya, lanjut Agus, jumlah pengeluaran penduduk DKI Jakarta pun semakin meningkat sehingga mencapai Rp 355.480 per kapita per bulan atau paling tidak warga harus mengeluarkan uang sekitar Rp 11.000 per harinya. Dengan komposisi garis kemiskinan yaitu garis kemiskinan makanan sebesar Rp 229.147 atau 64,46 persen dan garis kemiskinan non makanan sebesar Rp 117.682 atau 35,54 persen.

Tingginya angka kemiskinan yang terjadi inilah, Agus berharap Pemprov DKI Jakarta untuk bekerja lebih keras lagi dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Ibukota. "Seluruh dinas terkait kemiskinan harus menciptakan terobosan program pengentasan kemiskinan yang baru, untuk mendampingi program pengentasan kemiskinan yang sudah ada," jelasnya. [mah]

Sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1840825/anggaran-tak-sedikit-kemiskinan-tetap-tinggi