Tampilkan postingan dengan label bertambah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bertambah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2012

Macet Total di Jakarta Bakal Terjadi Tahun 2014

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Dwi Sigit Nurmantyas mengatakan tahun 2014 nanti, Jakarta akan stagnan dan macet total.

Sigit menjelaskan, tahun 2014 nanti pihaknya memprediknya Jakarta akan stag pasalnya jumlah kendaraan akan semakin bertambah sementara panjang jalan baik itu jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kabupaten tidak bertambah.

"Saat ini, kendaraan yang tercatat di Samsat Polda Metro ada 14.097.800, ya hampir 15.000.000 juta. Sementara panjang jalan keseluruhan tidak bertambah yakni 7.714.280 km," tutur Sigit, Minggu (29/7/2012).

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kabag Pembinaan Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto.

"Jakarta ini sudah over kapasitas. Jumlah kendaraan sudah mencapai 15 juta. Nanti 2014 diprediksi macet total," ucap Budiyanto.

Budiyanto mengatakan, dalam sehari STNK yang Samsat Polda Metro mencapai enam ribu STNK. Seribu STNK untuk kendaraan roda empat dan lima ribu STNK untuk kendaraan roda dua.

"Sudah pasti kemacetan akan bertambah karena volume kepemilikan kendaraan pribadi meningkat," kata Budiyanto.

Sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/07/29/macet-total-di-jakarta-bakal-terjadi-tahun-2014

Senin, 19 Maret 2012

Dialek Jakarta Asli dan Umum

DALAM Yavanologi 1985, Muhadjir menyatakan 40% dari kosakata dialek Jakarta berasal dari bahasa Jawa. Wayan Bawa (1981) mengemukakan, sekitar 25% dialek Jakarta berasal dari kosakata bahasa Bali, terutama pada kata-kata yang berakhiran in. Jauh sebelumnya, van der Tuuk berpendapat, dialek Jakarta merupakan sejenis "bahasa Bali rendah".

Sebaliknya A. Teeuw (1961) dan Hans Kähler (1966) menyatakan, dilihat dari kosakatanya dialek Jakarta adalah sejenis dialek Melayu dengan unsur-unsur dari Bali, Jawa, Sunda, Arab, Cina, Belanda, Portugis, dan Inggris (Abdul Chaer, "Dialek Jakarta: Siapa Punya", 1986). Contohnya beken, permak, onderdil, dan persekot (Belanda); apdol, waris, dan tapsir (Arab); serta hoki, jigo, dan loteng (Cina).

Menurut Chaer, istilah dialek Jakarta sangat kompleks. Di dalamnya terkandung pengertian berbagai macam ragam bahasa yang diperbedakan secara sosial, regional, dan etnis. Dialek Melayu Jakarta mempunyai dua subdialek. Pertama, Dialek Jakarta Asli (DJA), yang diturunkan secara langsung dari Dialek Melayu Jakarta. Kedua, Dialek Jakarta Umum (DJU), yang diturunkan melalui bahasa Indonesia.

Namun batas antara DJA dan DJU sangat kabur. Penutur DJA akan menolak kalau kata-kata seperti jigo dan apdol disebut sebagai kata-kata dialek Jakarta. Sebaliknya para penutur DJU akan menerima kata-kata tersebut sebagai kosakata dialek Jakarta. Karena itu kosakata yang dimiliki DJA jauh lebih sedikit dibandingkan DJU. Jumlah kosakata DJA tidak akan bertambah selama para penuturnya menutup diri terhadap pengaruh dari luar. Sedangkan kosakata DJU akan semakin bertambah sesuai dengan perkembangan budaya dalam masyarakat Jakarta.

Sulitnya, kata Chaer, kita tidak tahu pasti asal-usul kosakata dalam dialek Jakarta. Umpamanya kata babi dalam dialek Jakarta, terdapat juga dalam bentuk dan makna yang sama dalam bahasa Jawa, Madura, dan Batak. Lantas dari manakah asal kata babi itu, kita sulit menjawabnya. Ada kemungkinan hanya kebetulan belaka, menyerap dari bahasa lain, dan sama-sama berasal dari bahasa sumber yang lebih tua. Seyogyanya ada penelitian kebahasaan, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai dialek Jakarta ini.

Sumber : http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2012/03/16/10064390/Dialek.Jakarta.Asli.dan.Umum