Metrotvnews.com: Jakarta Fair 2013 yang berlangsung di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat mulai 6 Juni hingga 7 Juli menyajikan berbagai kuliner khas nusantara. Salah satu ciri khas yang selalu ada tiap tahunnya adalah makanan khas betawi, yaitu kerak telor. Di sini, pengunjung dapat menemui para pedagang kerak telor lengkap dengan tungku dan gerobak yang unik.
Tak tanggung-tanggung, panitia Jakarta Fair mendatangkan lebih dari 240 pedagang kerak telor dari seluruh penjuru DKI Jakarta. Seperti jagoan silat yang keluar kandangnya, para pedagang kerak telor ini mengeluarkan jurus ampuhnya lewat bahan-bahan khas yang mampu menggoyang lidah penikmat kerak telor.
Mereka tersebar di area Gambir Expo, selasar Hall E, di depan Hall B-3, Hall C-3, di sisi utara Hall D-3, seputar danau Gambir Expo. Pintu F, pintu 2B, dan masih banyak lagi. Setiap hari pada jam buka Jakarta Fair pukul 15.30-23.00 WIB, para pedagang kerak telor ini dikerubuti pengunjung yang ingin menikmati jajanan khas betawi ini.
Mulai langka
Maklum, kerak telor amat sulit dijumpai di hari biasa. Sehingga, momen Jakarta Fair menjadi paling pas untuk berburu kerak telor.
Oman, salah satu pedagang kerak telor di depan Hall E, kerak telor saat ini hanya bias ditemui dalam ajang-ajang tertentu seperti pernikahan, ulang tahun, dan hari besar. “Makanan ini tidak bisa ditemui setiap hari,” tutur Oman, Sabtu (8/6).
Menurut pria yang telah berdagang kerak telor selama lebih dari 20 tahun itu, ajang Jakarta Fair menjadi pintu rezeki bagi dirinya. Pada pembukaan Jakarta Fair pada Kamis (6/6) lalu, dia mendapatkan omzet sebesar Rp3,4 juta. Dia menjual kerak telor biasa seharga Rp15 ribu dan kerak telor special seharga Rp30 ribu.
Lain lagi dengan Kosasih. Pemuda tamatan SMK Penerbangan ini telah tujuh tahun berjualan kerak telor. Dia berjualan di seputar panggung Gambir Expo, bergantian dengan saudaranya menjaga stan. “Saya gentian dengan adik,” ujarnya seraya menyebutkan harga kerak telor dagangannya Rp15 ribu.
Kosasih tidak menampik ada suka duka dan untung rugi dalam berjualan usaha ini. Namun, yang jelas, selama tiga hari pembukaan Jakarta Fair, dirinya mendapatkan pemasukan yang lumayan besar, tanpa mau menyebutkan nominalnya secara pasti. “Hari pertama dan hari kedua di atas Rp3 juta,” ucapnya riang.
Direktur Marketing PT Jakarta International Expo Ralph Scheunemann menjelaskan panitia Jakarta Fair mengundang lebih dari 240 pedagang kerak telor. Mereka dibagi ke dalam tiga shift, di mana masing-masing shift berjualan selama 10 hari. “Terdapat lebih 80 titik lokasi yang diperuntukkan bagi pedagang kerak telor yang tergolong usaha kecil-mikro ini,” pungkasnya
Sumber : http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/06/09/470/159974/240-Pedagang-Kerak-Telor-Banjir-Rejeki-di-Jakarta-Fair-2013
langkahmu cepat seperti terburu.. berlomba dengan waktu.. apa yang kau cari belumkah kau dapati.. di angkuh gedung gedung tinggi.. (courtesy of Iwan Fals)
- jakarta
- dki
- kemacetan
- banjir
- jalan
- sampah
- transportasi
- kendaraan
- pemprov
- ahok
- jokowi
- warga
- dinas
- pembangunan
- ibu kota
- lalu lintas
- proyek
- basuki
- bus
- kebersihan
- macet
- rp
- air
- masyarakat
- mrt
- kota
- transjakarta
- pemerintah
- sungai
- kawasan
- jalur
- tjahaja
- mobil
- sistem
- aplikasi
- pengguna
- program
- waduk
- balai kota
- busway
- jam
- angkutan
- pt
- penumpang
- ribu
- anggaran
- indonesia
- kelurahan
- petugas
- kali
- rencana
Tampilkan postingan dengan label kerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerak. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Juni 2013
Senin, 11 Juni 2012
Festival Betawi di Hutan Srengseng, Macet di Luar, Kusut di Dalam
JAKARTA, KOMPAS.com — Datang ke Festival Budaya Betawi di Hutan Srengseng rupanya harus siap berjibaku dengan macet dan kusut, baik di luar maupun di dalam area tempat acara berlangsung. Macet di jalan di depan kawasan Hutan Srengseng terjadi akibat sejumlah kendaraan parkir di bahu jalan. Padahal, jalanan tersebut hanya muat dilalui dua mobil.
Satpol PP yang bertugas mengatur lalu lintas tampaknya juga tidak dapat mengatasi kemacetan tersebut. Sementara di dalam Hutan Srengseng, ribuan pengunjung telah memadati jalan-jalan setapak di dalam kawasan. Sejak pagi pukul 09.00 pengunjung terus mengalir, terutama karena menunggu kedatangan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang baru datang sekitar pukul 11.30.
Sebagian jalan setapak di dalam kawasan Hutan Srengseng penuh dengan pedagang kaki lima. Sebagian besar berdagang makan an, seperti bakso, mi ayam, ketoprak, siomay, atau jenis-jenis jajanan lainnya. Sebagian lagi berjualan mainan dan aksesori pakaian. Ada juga pedagang makan an tradisional, tetapi jumlah dan keragamannya kalah dengan jenis jajanan lainnya.
Hanya ada kerak telor, dodol, dan bir pletok. Jumlah pedagang kerak telor bisa dibilang cukup banyak dibanding dodol dan bir pletok yang hanya dititipjualkan di sedikit tenda Sudin DKI Jakarta.
Pedagang kaki lima tumplek di ruas jalan setapak dari jalur masuk menuju danau buatan. Di jalan setapak yang hanya selebar 1,5 meter itu, pengunjung memang paling banyak lewat. Akibatnya, jadi sulit bergerak karena yang hendak lewat terpaksa tertahan mereka yang hendak berbelanja. Jalan setapak menuju ke sekitar danau, yang sudah penuh dengan pedagang kaki lima, juga harus berbagi tempat dengan pedagang mainan odong-odong yang menggelar rel kereta odong-odong di sejumlah titik.
Semua pedagang tampak berusaha berebut spot yang paling dekat dengan tempat orang lalu lalang. Sampah tentu saja bertebaran di mana-mana, baik di jalan setapak di sekitar kawasan maupun di antara pepohonan Hutan Srengseng yang menjadi paru-paru kota di Jakarta Barat.
Sungguh sulit mencari tempat sampah karena hanya tersedia di beberapa sudut. Jadi, tidak heran bila pengunjung merasa cuek dan tidak bersalah untuk meninggalkan begitu saja sampah plastik bekas makan an dan minuman di mana-mana. Di bawah kursi, di jalan setapak, di pinggir danau, diselipkan di pagar, atau bahkan dilempar sekuat tenaga ke dalam area pepohonan di kawasan hutan lindung.
Acara budaya ini, seingat Kompas, selalu sama kondisinya dari tahun ke tahun. Sungguh sayang, kesan kotor dan ruwet begitu terasa di ajang yang sebenarnya telah dapat menarik ribuan pengunjung untuk mengenal hutan kota. Di hari biasa, kebiasaan berwisata atau menghabiskan akhir pekan ke hutan atau taman kota masih kalah dengan pergi ke mal.
Seandainya lebih ditata tentu lebih ciamik. Misalnya, dengan menempatkan pedagang kaki lima di satu lokasi. Juga memperbanyak tempat sampah yang dilengkapi anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, yang juga kurang adalah papan pengumuman informasi jadwal acara bagi pengunjung, lengkap dengan denahnya.
Banyak pengunjung yang ketika ditanya tidak tahu apa saja acara-acara kesenian yang akan berlangsung. Jawaban mereka rata-rata sama, "Ke sini (acara festival) lihat ondel-ondel, jalan-jalan, jajan, lalu pulang."
Sumber : http://oase.kompas.com/read/2012/06/09/13370692/Festival.Betawi.di.Hutan.Srengseng.Macet.di.Luar.Kusut.di.Dalam
Satpol PP yang bertugas mengatur lalu lintas tampaknya juga tidak dapat mengatasi kemacetan tersebut. Sementara di dalam Hutan Srengseng, ribuan pengunjung telah memadati jalan-jalan setapak di dalam kawasan. Sejak pagi pukul 09.00 pengunjung terus mengalir, terutama karena menunggu kedatangan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang baru datang sekitar pukul 11.30.
Sebagian jalan setapak di dalam kawasan Hutan Srengseng penuh dengan pedagang kaki lima. Sebagian besar berdagang makan an, seperti bakso, mi ayam, ketoprak, siomay, atau jenis-jenis jajanan lainnya. Sebagian lagi berjualan mainan dan aksesori pakaian. Ada juga pedagang makan an tradisional, tetapi jumlah dan keragamannya kalah dengan jenis jajanan lainnya.
Hanya ada kerak telor, dodol, dan bir pletok. Jumlah pedagang kerak telor bisa dibilang cukup banyak dibanding dodol dan bir pletok yang hanya dititipjualkan di sedikit tenda Sudin DKI Jakarta.
Pedagang kaki lima tumplek di ruas jalan setapak dari jalur masuk menuju danau buatan. Di jalan setapak yang hanya selebar 1,5 meter itu, pengunjung memang paling banyak lewat. Akibatnya, jadi sulit bergerak karena yang hendak lewat terpaksa tertahan mereka yang hendak berbelanja. Jalan setapak menuju ke sekitar danau, yang sudah penuh dengan pedagang kaki lima, juga harus berbagi tempat dengan pedagang mainan odong-odong yang menggelar rel kereta odong-odong di sejumlah titik.
Semua pedagang tampak berusaha berebut spot yang paling dekat dengan tempat orang lalu lalang. Sampah tentu saja bertebaran di mana-mana, baik di jalan setapak di sekitar kawasan maupun di antara pepohonan Hutan Srengseng yang menjadi paru-paru kota di Jakarta Barat.
Sungguh sulit mencari tempat sampah karena hanya tersedia di beberapa sudut. Jadi, tidak heran bila pengunjung merasa cuek dan tidak bersalah untuk meninggalkan begitu saja sampah plastik bekas makan an dan minuman di mana-mana. Di bawah kursi, di jalan setapak, di pinggir danau, diselipkan di pagar, atau bahkan dilempar sekuat tenaga ke dalam area pepohonan di kawasan hutan lindung.
Acara budaya ini, seingat Kompas, selalu sama kondisinya dari tahun ke tahun. Sungguh sayang, kesan kotor dan ruwet begitu terasa di ajang yang sebenarnya telah dapat menarik ribuan pengunjung untuk mengenal hutan kota. Di hari biasa, kebiasaan berwisata atau menghabiskan akhir pekan ke hutan atau taman kota masih kalah dengan pergi ke mal.
Seandainya lebih ditata tentu lebih ciamik. Misalnya, dengan menempatkan pedagang kaki lima di satu lokasi. Juga memperbanyak tempat sampah yang dilengkapi anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, yang juga kurang adalah papan pengumuman informasi jadwal acara bagi pengunjung, lengkap dengan denahnya.
Banyak pengunjung yang ketika ditanya tidak tahu apa saja acara-acara kesenian yang akan berlangsung. Jawaban mereka rata-rata sama, "Ke sini (acara festival) lihat ondel-ondel, jalan-jalan, jajan, lalu pulang."
Sumber : http://oase.kompas.com/read/2012/06/09/13370692/Festival.Betawi.di.Hutan.Srengseng.Macet.di.Luar.Kusut.di.Dalam
Langganan:
Postingan
(
Atom
)