Senin, 13 Oktober 2014

Kutu Vespa lahir karena parahnya kemacetan Jakarta

Jakarta (ANTARA News) - Penat dengan kemacetan Jakarta yang semakin parah, sekelompok pengguna skuter membentuk satu komunitas yang berjuluk Kutu Vespa Club (Kuves).

Para anggota Kuves memilih menggunakan skuter untuk aktivitas sehari-hari dan memutuskan menyimpan mobilnya di garasi untuk menyiasati kemacetan di ibukota.

"Bisa menikmati panasnya terik matahari saat melakukan aktivitas sehari-hari di atas Vespa, merupakan pengalaman yang luar biasa, hal ini menjadi semangat yang dapat dirasakan oleh semua anggota," kata Ketua Kuves Sentot Soepartono dalam pernyataannya di Jakarta baru-baru ini.

Sentot menambahkan, hal tersebut yang membuat Kuves kompak untuk memarkirkan mobil di rumah, dan mengganti dengan Vespa untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Apalagi klub yang punya anggota 40 orang ini adalah para pekerja yang punya mobilitas tinggi.

"Selain bentuknya yang unik, Vespa mudah dikendarai. Tinggal gas langsung ngacir seperti Kutu," jelasnya.

Uniknya, klub ini punya kesamaan, semua Vespa dipasang lampu hazard. "Sehingga saat riding lampu hazard yang menyala menjadi ciri khas kala rombongan Kuves sedang rolling thunder," ungkap Sentot yang akrab dipanggil Kapten Soe.

Untuk urusan Touring dan kegiatan klub masih belum banyak, pasalnya klub ini baru dideklarasikan pada 17 Agustus 2014. Tapi, semangat persaudaraan tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Kami sengaja belum melakukan touring dan kegiatan lainnya, karena ingin berkonsentrasi untuk saling mengenal satu sama lain dengan seluruh anggota Kuves," katanya.

Tapi, bukan berarti klub ini berjalan tanpa kegiatan. "Kami sudah merencakan untuk touring jarak yang cukup jauh, selain itu juga sedang direncanakan menggelar kegiatan sosial yang bisa berguna bagi masyarakat," ujar Yusuf Arief, Sekjen Kuves.

Bagi yang ingin bergabung dengan klub ini, bisa menyambangi markas mereka di Jalan Bangka 1 no 4A, Jakarta Selatan. Telepon 0816-1642-393.

"Enggak ada persyaratan khusus untuk bisa bergabung di klub kami, yang penting punya Vespa saja," tutup Yusuf, yang mengendarai Vespa GT200 tahun 2007 itu.

Sumber : http://otomotif.antaranews.com/berita/458236/kutu-vespa-lahir-karena-parahnya-kemacetan-jakarta

Jumat, 10 Oktober 2014

Walhi: "Giant Sea Wall" Bukan Solusi Atasi Banjir Rob

Jakarta - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta menilai pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa bukan solusi untuk mengatasi banjir rob di wilayah utara Jakarta. Justru banjir rob dan masalah perairan di teluk Jakarta merupakan konsekuensi dari kesemrawutan tata kelola sumber daya dan penataan ruang kawasan pesisir Jakarta.

Dewan Daerah Walhi Jakarta Ubaidillah mengatakan, masalah banjir rob di teluk Jakarta tidak bisa diatasi dengan pembangunan tanggul laut. Sebab, banjir rob hanya salah satu konsekuensi dari kesemrawutan dalam tata kelola sumber daya dan penataan ruang kawasan pesisir Jakarta.

“Selain rob, masalah lainnya yang ada di teluk Jakarta, adalah seperti fenomena perubahan iklim dan kenaikan muka air laut, abrasi pantai, sampah dan limbah, serta instrusi air laut,” kata Ubaidillah, Kamis (9/10).

Selain itu, ada masalah lain yang harus diperhatikan, yaitu penurunan tanah, hancurnya ekosistem pantai laut, pemukiman kumuh, krisis air bersih, kandungan logam berat yang terdapat pada tangkapan ikan dan budidaya kerang nelayan tradisional, hingga ancaman hilangnya cagar budaya serta situs sejarah.

Banyaknya persoalan tersebut, lanjutnya, disebabkan tata kelola kawasan pesisir Jakarta yang mengabaikan daya dukung lingkungan dan peruntukan ruang yang tidak adil.

“Kalau diperhatikan faktanya, panjang pantai Jakarta sepanjang 32 kilometer yang membentang dari barat ujung Kamal Muara, Penjaringan hingga ke Timur ujung Cilincing, lahan didominasi oleh pusat industri, pelabuhan, tempat rekreasi komersil dan hunian eksklusif,” ujarnya.

Akibatnya, Jakarta tidak lagi memiliki pantai publik gratis. Penguasan lahan teluk Jakarta hanya untuk industri, tempat rekreasi komersil dan hunian superblock telah menyisakan sedikit lahan konservasi hutan mangrove/bakau yang terletak di bagian barat pantai.

Hutan Mangrove ada di dua area, yaitu di Muara angke seluas 25 hektar dan di Pantai Indak Kapuk seluas 90 hektare yang dikelola oleh Suaka Margasatwa BKSDA.

Melihat kondisi seperti itu, Ubaidillah menyatakan diperlukan kemauan politik yang kuat dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mencari solusi dalam upaya pemulihan pantai secara keseluruhan. Dengan proyeksi peruntukan ruang yang proporsional bagi kebutuhan konservasi.

“Kebutuhan konservasi dan restorasi pantai akan menyetabilkan lahan dari abrasi. Memimalisasi penurunan tanah, mencegah semakin jauhnya instrusi air laut, menahan gelombang pasang rob, menetralisasi pencemaran dan sebagai muara sumber air baku, tempat tumbuh kembang kehidupan biota laut serta melestarikan kehidupan kearifan lokal,” jelas Ubaidillah.

Sumber : http://www.beritasatu.com/megapolitan/216113-walhi-giant-sea-wall-bukan-solusi-atasi-banjir-rob.html

Kamis, 09 Oktober 2014

Rute MRT Bisa Diperpanjang hingga Depok atau Bintaro

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan, jalur mass rapid transit (MRT) yang menghubungkan rute Lebak Bulus-Kampung Bandan masih bisa diperpanjang hingga ke luar kota, seperti ke Bintaro atau Depok.

"Jadi, jalur MRT selatan ke utara itu dibangun fleksibel. Kalau ada yang meminta ditambah panjang rutenya, ya bisa-bisa saja. Bisa saja dari Lebak Bulus ditambah sampai ke Bintaro atau ke Depok. Kita siap," kata Dono di Balaikota Jakarta, Rabu (8/10/2014).

Meski demikian, Dono menyatakan, sampai saat ini PT MRT masih fokus untuk membangun rute Lebak Bulus-Kampung Bandan. Ditargetkan, ruas Lebak Bulus-Bundaran HI mulai beroperasi pada 2017, sementara ruas Bundaran HI-Kampung Bandan pada 2020.

"Jadi (jalur MRT) kalau mau disambung ke mana saja masih bisa. Namun, kami masih fokus menyelesaikan Lebak Bulus-Kampung Bandan, apalagi kan kita ini tergolong telat (membangun MRT)," ujar Dono.

Sebagai informasi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah beberapa kali menyatakan bahwa rute MRT Lebak Bulus-Kampung Bandan terlalu pendek karena hanya melayani dalam kota Jakarta. Ia menilai, seharusnya rute MRT bisa melayani hingga kota-kota penyangga.

Menurut Ahok, apabila jalur MRT dapat melayani sampai kota-kota penyangga, maka kemacetan akan semakin berkurang. Sebab, banyak warga Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok yang bekerja di Jakarta.

"Seharusnya, MRT itu jalurnya bisa sampai Bogor dan Bekasi karena jalur yang sedang dibangun sekarang tanggung banget, hanya sampai Lebak Bulus," ujar Ahok.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/08/18035651/Rute.MRT.Bisa.Diperpanjang.Hingga.Depok.atau.Bintaro